Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH TOKSIKOLOGI

KASUS KERACUNAN DOPING AKIBAT


TETHYDROGESTRINONE (THG)

Oleh:
Rofiqoh Asiyah Zulmi

(201310410311007)

Andri Apriandi Rachman

(201310410311025)

Risa Andriani

(201310410311043)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI FARMASI
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah seputar
Keracunan Doping ini sebatas kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki. Kami
mengucapkan terimakasih kepada pihak terkait yang telah membantu kami dalam
menghadapi berbagai tantangan dalam penyusunan makalah ini.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai materi Toksikologi. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di
dalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan.
Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan
datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang membangun.
Terima kasih, dan semoga makalah ini bisa memberikan sumbangsih positif bagi kita
semua.

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................... i
DAFTAR ISI.............................................................................................................. ii
BAB I...................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN....................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................... 2
1.3 Tujuan.............................................................................................................. 2
BAB II..................................................................................................................... 2
TINJAUAN PUSTAKA................................................................................................ 2
1. Doping............................................................................................................... 2
2. Penggolongan Doping............................................................................................ 3
3. Dampak penggunaan Doping................................................................................... 8
4. Alasan pelarangan Doping....................................................................................... 9
BAB III.................................................................................................................. 11
PEMBAHASAN....................................................................................................... 11
Contoh kasus keracunan doping.................................................................................11
Tetrahydrogestrinone (THG)..................................................................................... 11
Efek samping........................................................................................................ 12
1.1 Penatalaksanaan Pada Pesien Keracunan Tetrahydrogestrinone (THG)............................14
1.2 Gejala Lain Ditimbulkan Dari Tetrahydrogestrinone (THG)..........................................14
BAB IV.................................................................................................................. 15
PENUTUP.............................................................................................................. 15
Kesimpulan.......................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 16

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ambisi untuk menang dalam jagat olahraga, baik bagi kebanggaan diri sendiri, keluarga,
maupun negara, menyebabkan atlet, pelatih, atau si orang tua atlet menghalalkan segala cara.
Tersering, cara yang digunakan adalah meminum secara teratur obat, ramuan tetumbuhan,
atau zat tertentu agar otot tubuh menjadi besar dan kuat.
Tak perlu bertanya kepada para pelaku, kita bisa menduga bahwa prestasi, gengsi, ambisi,
bonus, uang, ketenaran, hiruk pikuk tepukan dan puja puji adalah jawaban mengapa seorang
atlet menggunakan doping. Bisa jadi atlet hanyalah alat dari ambisi terselubung sebuah
institusi induk organisasi, atau siapapun yang berada di balik layar, atau bahkan sebuah
negara. Nilai sportifitas dalam beberapa cabang olahraga sering ternoda oleh pemakaian obat
doping yang dikonsumsi atletnya. Persaingan prestasi olahraga yang semakin ketat membuat
sebagian atlet sering menghalalkan berbagai cara.
Sejauh ini, jika seorang olahragawan dicurigai dan pada pemeriksaan berikutnya benarbenar terbukti menggunakan Doping, maka dialah terdakwa utama, mungkin ada kambing
hitam yang ikut berperan namun luput dari jeratan sanksi. Atau, tak jarang pula olahragawan
tersebut memang pengguna doping sejati yang merancangnya secara sistematis demi sebuah
prestasi.
Kita memaklumi, banyak negara menjadikan olahraga bak sebuah industri, melibatkan
uang, melibatkan berbagai pihak dan kepentingan. Di sisi lain, sajian olahraga menjadi makin
menarik, penuh pesona, mampu menyedot perhatian berjuta pasang mata, menciptakan
kelompok-kelompok para fans, melecut gairah, menggugah histeria. Kadang memicu
pertengkaran, perkelahian atau bahkan nyawapun jadi tumbal. Untuk itulah para olahragawan
(dan para ofisial) dituntut selalu tampil prima untuk meraih impian, yakni kemenangan dan
prestasi.
Tak ada yang salah ketika kemenangan, gengsi dan prestasi dikumandangkan. Namun
upaya ke arah itu sepantasnya menggunakan cara-cara jujur dengan menjunjung tinggi nilai
sportivitas sebagai ruh olahraga itu sendiri. Tentu dengan latihan tekun, teratur, terukur,

sistematis dengan memanfaatkan teknologi terkini sejauh tidak melanggar ketentuan induk
organisai olahraga dan tidak merugikan kesehatan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana mekanisme Tetrahydrogestrinone (THG) hingga dapat menimbulkan
keracunan?
2. Bagaimana penatalaksanaan pada pesien keracunan Tetrahydrogestrinone (THG) ?
3. Bagaimana gejala lain yang bisa ditimbulkan dari Tetrahydrogestrinone (THG) ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui efek dari penyalagunaan Tetrahydrogestrinone (THG).
2. Untuk mengetahui penatalaksanaan pada pasien keracunan Tetrahydrogestrinone
(THG) dengan tepat.
3. Untuk mengetahui gejala lain yang bisa ditimbulkan dari Tetrahydrogestrinone (THG)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Doping
Penggunaan obat secara luas untuk meringankan gejala penyakit dapat ditelusuri
kembali pada abad ke-3 SM pada jaman Yunani Kuno, oleh seorang dokter Yunani, Galen.
Menariknya, Galen lah yang melaporkan bahwa stimulan telah digunakan oleh atlet untuk
meningkatkan kinerja fisik mereka. Pada Olimpiade kuno, atlet melakukan diet khusus dan
dilaporkan telah menggunakan berbagai zat untuk meningkatkan kemampuan fisik mereka.
Kata Doping sendiri berasal dari kata dope, bahasa suku Kaffern di Afrika Selatan
yang artinya minuman keras berkonsentrasi tinggi dari campuran akar tumbuhan yang biasa
dipakai suku setempat untuk perangsang (stimulan) pada acara trance adat. Sedangkan
Doping dalam Bahasa Inggris berarti zat campuran opium dan narkotika untuk perangsang.
Kata doping pertama kali dipakai di Inggris pada tahun 1869 untuk balapan kuda di Inggris,
di mana kuda didoping agar menjadi juara.
Menurut UU No.3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, Bab I
Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 22, Doping adalah penggunaan zat dan/atau metode terlarang
untuk meningkatkan prestasi olahraga.
2

Menurut International Congress of Sport Sciences; Olympiade Tokyo 1964 : Doping


adalah pemberian/penggunaan oleh peserta lomba berupa bahan yang asing bagi organisme
melalui jalan apa saja atau bahan fisiologis dalam jumlah yang abnor-mal atau diberikan
melalui jalan yang abnormal, dengan tujuan meningkatkan prestasi.
Sesuai dengan Undang Undang No.3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan
Nasional dalam Bab XVIII pasal 85 ayat (1) diuraikan : Doping dilarang dalam semua
kegiatan olahraga. Ayat (2) : Setiap induk organisasi cabang olah-raga dan/atau
lembaga/organisasi olahraga nasional wajib membuat peraturan doping dan disertai sanksi.
Ayat (3) : Pengawasan doping sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh
Pemerintah.
Di Indonesia, wadah yang melakukan pengawasan doping adalah LADI (Lembaga
Anti Doping Indonesia). Sedangkan pada tingkat dunia, pengawasan dilakukan oleh WADA
(World Anti Doping Agency).

2. Penggolongan Doping
1. Golongan Stimulan
a) Amphetamine
Penggunaan dalam olahraga: Amphetamine digunakan selama kompetisi dengan tujuan
untuk mengurangi kelelahan, meningkatkan respon, meningkatkan kewaspadaan dan
agresi.
Kinerja Farmakologi Ada empat mekanisme amphetamine dalam meningkatkan
penampilan, yaitu:
1. Meningkatkan pengeluaran neurotransmitter seperti noradrenaline, dopamin dan
serotonin.
2. Inhibisi uptake neurotransmitter.
3. Bekerja langsung pada reseptor neurotransmitter.
4. Inhibisi (menghambat) aktivitas mono aminoksidase.
Efek samping Penggunaan amphetamine potensial menimbulkan ketergantungan
tremor, insomnia dan peningkatan agresivitas yang cenderung membahayakan. Efek
pada sistem kardiovaskuler bisa berakibat fatal, terjadi peningkatan suhu tubuh karena
amphetamine bisa mengakibatkan terjadinya redistribusi aliran darah pada kulit yang
menghambat pengeluaran panas dalam tubuh, dan pada penggunaan jangka lama bisa
mempengaruhi kejiwaan dengan
3

timbulnya paranoid tipe schizophrenia.


b) Caffeine
Penggunaan

dalam

olahraga:

Digunakan

untuk

meningkatkan

kewaspadaan,

meningkatkan respon waktu reaksi dan dalam dosis berlebihan bisa meningkatkan
mobilisasi lemak dan glikogen otot.
Kinerja Farmakologi:
Caffeine bekerja dengan menghambat enzim phospodiesterase yang mengaktifkan
cAMP serta bekerja langsung sebagai antagonis reseptor adenosine.
Efek Samping
Efek yang ringan bisa menimbulkan iritabilitas, insomnia, dan gangguan pencernaan.
Efek yang lebih berat bisa menimbulkan ulkus peptikum, delirium, coma, dan
superventrikuler arrhytmia. Di samping itu caffeine juga bisa menimbulkan
ketergantungan. Dalam satu studi dikatakan bahwa kombinasi cafeine dan epedrine
dapat menimbulkan mual, muntah.
c) Cocaine
Penggunaan dalam olahraga: Cocaine tergolong obat yang digunakan dengan tujuan
rekreasional yang menimbulkan sensasi di luar kenyataan. Cocaine dapat mengacaukan
persepsi atlet tentang rasa lelah, sehingga si atlet tidak merasa kelelahan saat
berkompetisi secara ketat.
Kinerja Farmakologi
Bekerja dengan mempengaruhi otak secara kompleks, termasuk di dalamnya dengan
cara menghambat up-take neurotransmitter terutama dopamine sehingga menimbulkan
efek euphoria.
Efek Samping
Efek samping yang sangat kompleks bisa ditimbulkan akibat penggunaan cocaine.
Termasuk di dalamnya efek negatif pada glikogenolisis, psikosis paranoid, hipertensi
yang mengakibatkan iskemia, arrhytmia dan kematian mendadak.
2. Golongan Narkotika
Penggunaan dalam olahraga : Obat-obatan golongan narkotik-analgetik sering
disalahgunakan dengan tujuan untuk mengurangi rasa nyeri. Golongan obat ini sering
dimanfaatkan untuk mengurangi keluhan batuk (seperti misalnya pholcodine,
dextromethorphan) dan keluhan diare (seperti misalnya dhypenoxylate)
Kinerja Farmakologi

Alkaloid opium dan analog sintetisnya berinteraksi dengan reseptor dalam otak yang
secara normal bekerja dengan pengaruh endorphin endogen. Narkotik memiliki kapasitas
untuk mengurangi nyeri dan bahkan mempengaruhi emosi. Penggunaan jangka lama bisa
menimbulkan ketergantungan.
3. Golongan Anabolic Androgenic Steroid
Penggunaan dalam olahraga :
Anabolic Androgenic Steroid digunakan untuk meningkatkan kekuatan dan kecepatan
dengan memperpanjang masa latihan, mempercepat waktu pemulihan, meningkatkan
agresivitas, dengan menambah kekuatan otot. Kombinasi Anabolic Androgenic Steroid
dengan GH (growth hormone), HCG (human chorionic gonadotropin) bisa juga
meningkatkan intensitas lapangan.
Kinerja Farmakologi
Anabolic Androgenic Steroid memiliki dua efek utama:
1) Bersifat anabolic atau menambah ukuran otot.
2) Bersifat androgenic atau efek maskulinitas
Anabolic androgenic steroid bekerja mempengaruhi androgen endogen dengan
meningkatkan sistem protein dan efek antikatabolic. Dehidroepiandrosteron digolongkan
doping karena menjadi prekursor produksi androgen endogen termasuk testosteron,
dihydrotestosteron
dan meningkatkan Insulin Growth-hormon Faktor-1 (IGF-1)
Efek Samping
Efek samping Anabolic Androgenic Steroid meliputi 6 dampak utama yaitu:
1) Cardiovaskuler: terjadi penurunan kolesterol HDL dan peningkatan kolestrol LDL,
meningkatnya resiko arteriosclerosis.
2) Hepatik: hati merupakan target organ dari androgen. Hal ini berkaitan dengan fungsi
metabolisme dalam hati. Hal ini pula yang menyebabkan terjadi hyperthropy hepatosit
pada dosis tinggi, terjadi cholestasis dan yang fatal adalah terjadi tumor hati.
3) Efek reproduksi: untuk laki-laki akan berefek terhadap terjadinya atropi pada testis,
penurunan produksi sperma dan perubahan mobilitas sperma yang bisa mengakibatkan
infertilitas. Sedangkan pada wanita bisa menimbulkan efek ammenorhea.
4) Infeksi : untuk efek semacam ini biasanya sering ditimbulkan oleh penggunaan alat
suntik yang tidak steril sehingga bisa menimbulkan infeksi penyakit lain seperti HIV
dan AIDS.
5) Efek psikologis: efek yang ditimbulkan berupa mania, hipomania dan depresi.
5

6) Efek kosmetik: efek ini lebih dialami oleh wanita daripada pria. Pada wanita akan
menimbulkan jerawat, tumbuh rambut di wajah, pembesaran klitoris, perubahan pada
wajah ditandai dengan melebarnya rahang, gangguan menstruasi, mengecilnya
payudara.
4. Golongan Diuretik
Penggunaan dalam olahraga :
Diuretik tidak memiliki efek untuk meningkatkan penampilan namun digunakan untuk
meningkatkan produksi urin dengan tujuan untuk melarutkan obat-obatan yang digunakan
termasuk mengeluarkan metabolitnya. Diuretik juga digunakan untuk menurunkan berat
badan pada cabang olahraga yang menggunakan berat badan sebagai indikator
pertandingan.
Kinerja Farmakologi :
Diuretik bekerja diginjal untuk meningkatkan produksi urine.
Efek samping
Terjadi dehidrasi dan adanya gangguan keseimbangan elektrolit dalam hal ini terjadi
perubahan level potasium yang justru mengganggu penampilan dan kesehatan.
5. Golongan Bloker
Penggunaan dalam olahraga :
Digunakan untuk mengurangi rasa cemas terutama cabang olahraga yang menuntut
konsentrasi dan ketenangan, seperti cabang panahan, menembak, ski jumping, dll.
Kinerja Farmakologi :
Blocker memiliki cara kerja yang kompleks, Blocker merupakan terapi awal terhadap
angina pectoris, hipertensi, dan beberapa kelainan yang sering dijumpai pada jantung serta
sering juga digunakan untuk mengatasi migraine dan tremor.
Efek samping
Obat golongan ini bisa menimbulkan bronchospasme atau menyebabkan insomnia, mimpi
buruk dan depresi.
6. Golongan Peptida Hormon
Yang termasuk golongan ini adalah Human Chorionic Gonodotropin (HCG), Luteinizing
Hormon (LH), Adrenocorticotropic Hormon (ACTH) dan insulin.
Penggunaan dalam olahraga :
Peptida hormon digunakan untuk meningkatkan kemampuan hormon androgen yang
bertujuan untuk mempengaruhi penampilan.
Kinerja Farmakologi:
6

Golongan peptida hormon akan mempengaruhi level androgen hormon. Seperti testosteron
akan dipengaruhi oleh HCG dan LH, pengeluaran cortikosteroid dipengaruhi oleh ACTH
yang kesemuanya akan meningkatkan penampilan.
Efek samping
Belum banyak studi yang menemukan efek samping dari peptida hormon. Namun
demikian ada data menyatakan bahwa efek samping HCG adalah dapat menimbulkan
oedem, sakit kepala, perubahan mood, dan gynecomastia.(pembesaran payudara).

Target dan efek yang ditimbulkan oleh masing-masing golongan doping.

3. Dampak penggunaan Doping


Berikut ini merupakan dampak buruk atau bahaya doping bagi orang yang
mengkonsumsinya :
7

1. Konsumsi obat doping pada atlet dapat meningkatkan prestasi yang melampai batas
kemampuan normal. Keadaan ini tidak wajar dan berbahaya, karena rasa letih merupakan
peringatan dari tubuh bahwa seseorang tersebut telah sampai batas kemampuannya. Jika
dipaksakan bisa menimbulkan exhaustion yang membahayakan kesehatan. Overdose dapat
berbahaya, dapat menimbulkan kekacauan pikiran, delirium, halusinasi, perilaku ganas, dan
juga aritmia jantung yang dapat menimbulkan masalah serius. Untuk mengatasi gejala ini
digunakan sedative misalnya diazepam.
2. Doping dengan suntikan darah akan menimbulkan reaksi alergi, meningkatnya sirkulasi darah
di atas normal, dan mungkin gangguan ginjal. Golongan obat peptide hormonis dan
analognya dapat berakibat si atlet menderita sakit kepala, perasaan selalu letih, depresi,
pembesaran buah dada pada atlet pria, dan mudah tersinggung.
3. Dampak buruk dari suntikan eritropoetin adalah darah menjadi lebih pekat sehingga mudah
menggumpal dan memungkinkan terjadinya stroke (pecahnya pembuluh darah di otak).
4. Pemakaian deuretika yang terlalu berlebihan dapat menyebabkan pengeluaran garam mineral
yang berlebihan. Sehingga mengakibatkan timbulnya kejang otot, mual, sakit kepala, dan
pingsan. Pemakaian yang terlalu sering mungkin akan menyebabkan gangguan ginjal dan
jantung.
5. Pemakaian obat analgesic pada atlit perempuan berfungsi menghilangkan rasa sakit ketika
haid. Namuan dampak buruknya jika salah memilih obat bisa menyebabkan sulit bernapas,
mual, konsentrasi yang hilang, dan mungkin menimbulkan adiksi atau ketagihan.
6. Salah satu jenis obat doping yang paling sering digunakan para atlet adalah obat-obatan
anabolik, seperti hormon androgenik steorid. Jenis hormon ini punya efek berbahaya, baik
bagi atlet pria maupun atlet perempuan karena mengganggu keseimbangan hormon tubuh dan
dapat juga meningkatkan risiko terkena penyakit hati dan jantung. Jika atlit wanita
mengkonsumsi obat ini, dapat menyebabkan tumbuhnya sifat pria, seperti berkumis, suara
berat, dan serak. Selanjutnya, menimbulkan gangguan menstruasi, perubahan pola distribusi
pertumbuhan rambut, mengecilkan ukuran buah dada, dan meningkatkan agresivitas. Bagi
atlet remaja, penggunaan obat ini dapat menyebabkan timbulnya jerawat. Dan yang paling
mengkhawatirkan adalah pertumbuhannya akan berhenti.
7. Beta-blockers membendung penyampaikan rangsangan ke jantung, paru-paru dan aliran
darah, memperlambat rata-rata detak jantung. Itu dilarang dalam olahraga seperti panahan

dan menyelam karena menghindarkan getaran. Efek merugikan yang terjadi antar alain
mimpi buruk, susah tidur, kelelahan, depresi, gula darah rendah dan gagal jantung.
8. HGH atau Human Growth Hormone (hormon pertumbuhan manusia), somatotrophin.
menyamai hormon pertumbuhan dalam darah yang dikendalikan oleh mekanisme kompleks
yang merangsang pertumbuhan, membantu sintesa protein dan menghancurkan lemak. HGH
disalahgunakan oleh saingan untuk merangsang otot dan pertumbuhan jaringan. Efek yang
merugikan termasuk kelebihan kadar glukosa, akumulasi cairan, sakit jantung, masalah sendi
dan jaringan pengikat, kadar lemak tinggi, lemahnya otot, aktivitas thyroid yang rendah dan
cacat.
4. Alasan pelarangan Doping
Banyak organisasi olahraga melarang penggunaan anabolika yang dimuat dalam suatu
daftar khusus dengan alasan terutama mengacu pada ancaman kesehatan (gangguan fungsi
hati dan tumor hati) atas obat peningkat performa, kesamaan kesempatan bagi semua atlet
dan efek olahraga bersih (bebas doping) yang patut dicontoh dalam kehidupan
umum. Selain obat, bentuk lain dari doping ialah doping darah, baik melalui transfusi darah
maupun penggunaan hormon eritropoietin atau steroid anabolik tetrahidrogestrinon.

1. Alasan etis : penggunaan doping melanggar norma fairplay dan sportivitas yang
merupakan jiwa olahraga.
2. Alasan medis : membahayakan keselamatan pemakainya. Atlet akan mengalami :

Kebiasaan (Habituation)

Kecanduan (Addiction)

Ketergantungan obat (Drug Abuse)

Tetrahydrogestrinone (THG) merupakan androgen poten. Banyak digunakan oleh atlet


maupun binaragawan, karena senyawanya sulit dideteksi dan cepat dieliminasi. THG tidak
terdeteksi pada gas chromatography dan mass spectrometry tetapi dapat dideteksi dengan
menggunakan liquid chromataography1.

1
10

BAB III
PEMBAHASAN

Contoh kasus keracunan doping


Seorang atlet pelari cepat Tn.C memiliki kebiasaan mengkonsumsi doping dalam setiap
pertandingan. Tn. C selalu memenangkan setiap pertandingan bahkan mendapatkan medali
emas dalam olimpiade. Tn C biasa mengkonsumsi THG sejak tahun 2000.
Namun setelah dilakukan skrining dalam olimpiade ditemukan bahwa Tn.C mengkonsumsi
THG. Tn.C diminta mengembalikan medali emas dan gelar juara dibatalkan.
Pada tahun 2006 Tn. C mengalami gangguan fungsi hati, hiperglikemia, reproductive
disfunction serta testicular atrophy.
Tetrahydrogestrinone (THG)
Tetrahydrogestrinone (THG) merupakan androgen poten terbesar daripada nandrolon
dan trenbolon. Efek dari androgen adalah memodulasi level sellular dengan
mengubah jaringan target menggunakan steroid-converting enzym.
Dalam jaringan target reproduksi, testosteron dapat diuraikan menjadi prohormon
yang siap untuk diubah menjadi poten androgen DHT (5-dihydrotestosterone) oleh
enzym 5-reductase. Di jaringan lain, seperti jaringan adiposa dan salah satu bagian
dari otak, dengan menggunakan enzym aromatase testosteron diubah menjadi
oestrogen dan oestradiol.
Pada tulang, mekanisme aksi dari anabolisme androgen tidak dapat seluruhnya
diuraikan. Tetapi kedua efek langsung testosteron dan efek pertengahan oleh
oestradiol melalui proses aromatisasi (sintesis oestradiol dengan menggunakan enzym
aromatase) (Orwoll, 1996; Zitzmann and Nieschlag, 2004). Pada otot skeletal
manusia (berdasarkan pemeriksaan mayat kurang dari 12 jam), aktivitas 5-reductase
(tipe 1 atau 2) tidak dapat (Thigpen et al., 1993), jadi testosteron itu sendiri yang
berikatan pada androgen reseptor (juga didukung berdasarkan penelitian dengan
menggunakan sejumlah tikus). Aktivitas aromatase tidak signifikan pada otot skeletal
manusia (Larionov et al., 2003), tetapi pengubahan androgens menjadi oestrogens
dalam jaringan merupakan fisiologis penting untuk menangani beberapa efek
myotrophic yang masih dikembangkan.

11

Perkembangan terakhir, Tetrahydrogestrinone (THG) memiliki aktivitas anabolic dan


androgenic. Point yang paling penting, penggunaan dalam jangka waktu lama pada obat
golongan ini, dapat menyebabkan (virilization) pada wanita dan anak-anak.

Efek samping
yang ditimbulkan pada pemakaian Tetrahydrogestrinone (THG) yang tidak tepat ialah
1. Efek Pada Liver (Gangguan Fungsi)
Kolestasis hati (obstruksi saluran empedu) yang menyebabkan penyakit kuning,
peliosis hepatitis (pemenuhan kantung hati dengan darah), dan tumor hati. Kelainan
ini dikaitkan dengan steroid 17-teraklilasi.
2. Hyperglycemia
Tetrahydrogestrinone (THG) dapat menginduksi atau memperburuk kondisi
hyperglikemia akibat penurunan toleransi glukosa dan meningkatkan resistensi
insulin.

3. Disfungsi Reproduksi
Androgen diperlukan untuk spermatogenesis tetapi penggunaan dosis rendah jangka
panjang dapat menghambat spermatogenesis. Androgen dosis tersebut dapat
menghambat sekresi LH, FSH dan testosteron endogen sehingga kadar testosteron
12

dalam testis tidak cukup untuk berlangsungnya spermatogenesis normal. Hal ini
terjadi karena aromatisasi testosteron menjadi estrogen, penghambat kuat sekresi
gonadotropin. Androgen dosis tinggi juga menghambat sekresi testosteron endrogen
tetapi, kadar plasma yang dicapai jauh di atas normal (dengan segala konsekuensi
efek sampingnya), jadi kadar testosteron dalam testis cukup untuk spermatogenesis.
4. Cardiovascular
Meningkatkan resiko kejadian trombotik seperti infark miokard atau stroke
(meningkatkan LDL, HDL, dan menurunkan apolipoprotein-a1), meningkatkan
hematokrit (karena polisitemia) dan menurunkan plasma fibrinogen kerusakan jantung
(hipertropi ventrikel kiri, fibrosis dan kegagalan hati) serta kematian jantung
mendadak.
5. Gangguan lain
Menyebabkan atrofi payudara pada wanita, ginekosmasti pada pria, meningkatkan
libido pada wanita dan laki-laki yang mungkin sulit untuk dikontrol, hypomania,
depresi berat karena kerusakan impuls. Efek psikologi yang tidak terduga adalah
perilaku kekerasan, termasuk pembunuhan dan kriminalitas (Klotz et al, 2007).

13

1.1 Penatalaksanaan Pada Pesien Keracunan Tetrahydrogestrinone (THG)


Obat-obatan kimia struktur yang didesaian relatif hanya untuk penteral protein efek
anabolic daripada androgenic efek. Hal yang lebih buruk androgenic efek tidak dapat
diuraikan seluruhnya.

1.2 Gejala Lain Ditimbulkan Dari Tetrahydrogestrinone (THG)


Banyak ulasan yang membahas efek yang tidak diinginkan dari pemberian anabolic
steroid (Haupt and Rovere, 1984; Di Pasquale, 1990; Graham and Kennedy, 1990; Landry
and Primos, 1990; Shahidi, 2001; Kicman and Gower, 2003; James and Kicman, 2004).
THG digunakan sebagai dietary suppliment, penggunaan dibatasi hanya 6-12 minggu.
Kemudian diikuti periode variabel selama 4 minggu sampai beberapa bulan ke depan
untuk mengurangi kemungkinan efek yang tidak diinginkan. Tetapi beberapa
binaragawan atau atlet akan tetap menggunakan untuk meningkatkan performanya
meskipun FDA (food drugs adsministration) telah memperingatkan bahwa doping dapat
menimbulkan resiko yang cukup besar untuk kesehatan. Para atlet dan binaragwn
menggunakan THG berdasarkan pengalaman dan pemikiran mereka sendiri. Efek
merugikan lain dari THG jika digunakan secara berlebihan adalah ginekomastia dan
jerawat parah (hirsutisme). Potensi lain yang mungkin tidak disadari oleh atlet adalah
perubahan dari sistem kardiovaskular (Hoffman and Ratamess, 2006). Efek tersebut
tergantung pada jenis kelamin, dosis, durasi pemakaian, serta kerentanan tubuh terhadap
pemejanan THG (faktor genetik, usia, dan gaya hidup). Penggunaan yang berlebihan pada
binaragawan dapat menyebabkan Aksioma. Semakin sering atlet dan binaragawan
mengkonsumsi THG semakin besar kemungkinan kerusakan yang terjadi pada kesehatan
tubuh atlet dan binaragawan. Sulit untuk mengukur prevalensi dari efek samping dari
penggunaan THG.

14

BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Doping adalah suatu zat dilarang dalam penggunaannya khusunya pada olahraga karena
membuat tidak sportifnya para atlet dalam pertandingan. Doping dibagi dalam 6 golongan
diantaranya :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Stimulants (obat perangsang).


Narcotics-analgesic.
Anabolic steroid.
Beta blocker.
Diuretic.
Peptida hormon
Tetrahydrogestrinone (THG) adalah doping dari golongan anabolik steroid yang

apabila pemakain jangka panjang dapat menyebabkan berbagai efek samping seperti
hyperglycemia, gangguan pada CNS, gangguan Cardiovaskuler, disfungsi reproduksi dan
efek samping kompleks lainnya. Obat-obatan kimia struktur yang didesaian relatif hanya
untuk penteral protein efek anabolik daripada androgenik efek. Hal yang lebih buruk
androgenik efek tidak dapat diuraikan seluruhnya. Penggunaan THG sesuai dengan tujuan
terapi dan tidak disalahgunakan dapat memberikan efek yang baik diantaranya jika
digunakan dalam kondisi tertentu seperti osteoporosis, beberapa bentuk anemia dan untuk
mendukung pemulihan setelah operasi besar dan sakit yang serius karena THG dapat
merangsang sel otot dan tulang untuk membuat protein baru. Mereka meningkatkan
kekuatan otot dan mendorong pertumbuhan otot baru.

15

DAFTAR PUSTAKA

IAAF Handbook, 1992-1993, Aturan 55


http://media-online.id/2014/10/efek-pemakaian-doping-pada-atlet.html
http://e-infokes4u.blogspot.com/2008/05/doping-jalan-pintas-yangmembahayakan.html
Budiman, Made.Doping dalam Olahraga.Seminar Nasional FMIPA UNDIKSHA III
Tahun 2013
At Kicman. 2008. Pharmacology Of anabolic Steroids. PubMed British Journal Of
Pharmacology
Farmakologi dan Terapi. 2012. Edisi 5. Jakarta: Departemen Farmakologi Dan
Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas indonesia.

16