Anda di halaman 1dari 11

Nama : Sasprianti Meidika H.

Kelas : 3-C
Tugas 1 Bahasa Indonesia
Bahasa prokem merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa
dalam pergaulan anak-anak remaja. Istilah ini muncul pada akhir tahun 1980-an. Pada saat itu
ia dikenal sebagai 'bahasanya para bajingan atau anak jalanan' disebabkan arti kata prokem
dalam pergaulan sebagai preman.
Bahasa pergaulan identik dengan anak muda yang mempunyai tingkat konsumtif
tinggi dalam menikmati hedonisme, mereka mencari jati diri dengan merubah kemapanan
bahkan dalam struktur bahasa serta cara berfikir, lalu jika diambil contoh setiap kita melihat
film, baik itu dilayar lebar maupun sinetron rata-rata mereka menggunakan bahasa pergaulan
seperti kata-kata yang sering keluar adalah ngga gue lu semua itu merupakan bahasa
pergaulan, jika ditelisik lebih lanjut, bahasa tersebut adalah bahasa daerah di DKI Jakarta
yakni bahasa Betawi, bahasa Betawi yang tercampur dalam penambahan istilah asing serta
pesingkatan kalimat membuat sesuatu yang baru namun lama (jika kita ingat tahun 1990an
ada bahasa namanya bahasa prokem) sehingga budaya populer dalam bahasa ini bisa
dikategorikan kreativitas anak muda yang memandang Bahasa Indonesia sebagai bahasa
kedua.
Bahasa pergaulan adalah bahasa yang khas pada anak muda, mereka mencoba
mengganti tatanan yang baku dengan semangat mereka, sementara itu media massa juga turut
berperan mengakomodir kreativitas mereka, dalam hal ini kita tidak bisa menyalahkan anak
muda kreatif tersebut, jelas mereka mencoba menunjukan eksistensinya. Memang dilema jika
melihat apa yang terjadi dinegeri ini, manusia-manusia kreatif sulit bergerak dinegeri ini,
termasuk anak muda, jika melihat para peneliti di Indonesia mereka lebih suka meneliti diluar
karena diberikan ruang, dana dan kebebasan smentara di indoneisa jarang. Dan jangan kaget
jika melihat anak STM banyak yang tawuran, hal itu dikarenakan bengkel mereka tidak ada
disekolah, sehingga mereka mencarinya dijalan.
Sejarah bahasa gaul sendiri sebenarnya sudah ada sejak tahun 1980-an tetapi pada
waktu itu istilah bahasa prokem (okem). Lalu bahasa tersebut diadopsi kemudian
dimodifikasi sedemikian unik dan digunakan oleh orang-orang tertentu atau kalangankalangan tertentu saja. Pada awalnya bahasa prokem digunaakan oleh para preman yang

kehidupanya dekat dengan kekerasan, kejahatan, narkoba, dan minuman keras. Banyak
istilah-istilah baru yang mereka ciptakan dengan tujuan agar masyarakat awam atau orang
luar komunitas mereka tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan atau yang telah
mereka bicarakan. Mereka merancang kata-kata baru, mengganti kata ke lawan kata, mencari
kata sepadan, menentukan angka-angka, penggantian fonem, penambahan awalan, sisipan,
atau akhiran Pergaulan di kalang waria mengenal apa yang disebut dengan budaya teman
sebaya (peer culture).
Kelompok waria yang sebaya itu umumnya mempunyai nilai serta karakteristik
budaya yang bebeda atau bahkan bertentangan dengan budaya orang lain. Dalam upayanya
memisahkan diri dari budaya lingkungan sekitar, mereka membuat budaya tandingan, budaya
yang khas waria (Alatas, 2006). Budaya khas waria ini kemudian menciptakan sebuah bahasa
yang biasa digunakan oleh kaum waria untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Bahasa
tersebut kemudian disebut dengan bahasa gaul, sesuai dengan pengertian awalnya yakni
bahasa yang digunakan untuk berteman dan bersahabat di tengah masyarakat (KBBI,2008).
Di kalangan waria sendiri kata gaul ini memiliki prestise atau penilaian yang tinggi.
Seseorang waria akan dikatakan gaul apabila ia memiliki sifat yang menarik, dan pergaulan
yang luas. Jadi, seorang waria pasti akan merasa bangga apabila predikat anak gaul
dilekatkan padanya.
Dalam sebuah milis (2006) disebutkan bahwa bahasa gaul memiliki sejarah sebelum
penggunaannya populer seperti sekarang ini. Sebagai bahan teori, berikut adalah sejarah kata
bahasa gaul tersebut:
1. Nih Yee... Ucapan ini terkenal di tahun 1980-an, tepatnya November 1985. pertama
kali yang mengucapkan kata tersebut adalah seorang pelawak bernama Diran.
Selanjutnya dijadikan bahan lelucon oleh Euis Darliah dan popular hingga saat ini.
2. Memble dan Kece. Dalam milis tersebut dinyatakan bahwa kata memble dan kece
merupakan kata-kata ciptaan khas Jaja Mihardja. Pada tahun 1986, muncul sebuah
film berjudul Memble tapi Kece yang diperankan oleh Jaja Mihardja ditemani oleh
Dorce Gamalama.
3. Bow.... Kata ini popular pada pertengahan awal 1990-an. Penutur pertama kata
Bowadalah grup GSP yang beranggotakan Hennyta Tarigan dan Rina Gunawan.
Kemudian kata-kata dilanjutkan oleh Lenong Rumpi dan menjadi popular di

lingkungan pergaulan kalangan artis. Salah seorang artis bernama Titi DJ kemudian
disebut sebagai artis yang benar-benar mempopulerkan kata ini.
4. Nek... Setelah kata Bow... popular, tak lama kemudian muncul kata-kata Nek... yang
dipopulerkan anak-anak SMA di pertengahan 90-an. Kata Nek... pertama kali di
ucapkan oleh Budi Hartadi seorang remaja di kawasan kebayoran yang tinggal
bersama neneknya. Oleh karena itu, lelaki yang latah tersebut sering mengucapkan
kata Nek...
5. Jayus. Pada akhir dekade 90-an dan awal abad 21, ucapan jayus sangat popular. Kata
ini dapat berarti sebagai lawakan yang tidak lucu, atau tingkah laku yang disengaja
untuk menarik perhatian, tetapi justru membosankan. Kelompok yang pertama kali
mengucapkan kata ini adalah kelompok anak SMU yang bergaul di Kitaran Kemang.
Asal mula kata ini dari Herman Setiabudhi. Dirinya dipanggil oleh temantemannya
Jayus. Hal ini karena ayahnya bernama Jayus Kelana, seorang pelukis di kawasan
Blok M. Herman atau Jayus selalu melakukan hal-hal yang aneh-aneh dengan maksud
mencari perhatian, tetapi justru menjadikan bosan teman-temannya. Salah satu
temannya bernama Sonny Hassan atau Oni Acan sering memberi komentar jayus
kepada Herman. Ucapan Oni Acan inilah yang kemudian diikuti temantemannya di
daerah Sajam, Kemang lalu kemudian merambat populer di lingkungan anak-anak
SMU sekitar.
6. Jaim. Ucapan jaim ini di populerkan oleh Bapak Drs. Sutoko Purwosasmito, Sseorang
pejabat di sebuah departemen, yang selalu mengucapkan kepada anak buahnya untuk
menjaga tingkah laku atau menjaga image.
7. Gitu Loh...(GL). Kata GL pertama kali diucapin oleh Gina Natasha seorang remaja
SMP di kawasan Kebayoran. Gina mempunyai seorang kakak bernama Ronny
Baskara seorang pekerja event organizer. Sedangkan Ronny punya teman kantor
bernama Siska Utami. Suatu hari Siska bertandang ke rumah Ronny. Ketika dia
bertemu Gina, Siska bertanya dimana kakaknya, lantas Gina ngejawab di kamar, Gitu
Loh. Esoknya si Siska di kantor ikut-ikutan latah dia ngucapin kata Gitu Loh...di tiap
akhir pembicaraan.

Bahasa gaul pada umumnya digunakan sebagai sarana komunikasi di antara remaja
sekelompoknya selama kurun tertentu. Hal ini dikarenakan, remaja memiliki bahasa
tersendiri dalam mengungkapkan ekspresi diri. Sarana komunikasi diperlukan oleh kalangan
remaja untuk menyampaikan hal-hal yang dianggap tertutup bagi kelompok usia lain atau
agar pihak lain tidak dapat mengetahui apa yang sedang dibicarakannya. Masa remaja
memiliki karakteristik antara lain petualangan, pengelompokan, dan kenakalan. Ciri ini
tercermin juga dalam bahasa mereka. Keinginan untuk membuat kelompok eksklusif
menyebabkan mereka menciptakan bahasa rahasia (Sumarsana dan Partana, 2002:150).
Kosakata bahasa prokem di Indonesia diambil dari kosakata bahasa yang hidup di
lingkungan kelompok remaja tertentu. Pembentukan kata dan maknanya sangat beragam dan
bergantung pada kreativitas pemakainya. Bahasa prokem berfungsi sebagai ekspresi rasa
kebersamaan para pemakainya. Selain itu, dengan menggunakan bahasa prokem, mereka
ingin menyatakan diri sebagai anggota kelompok masyarakat yang berbeda dari kelompok
masyarakat yang lain.
Kehadiran bahasa prokem itu dapat dianggap wajar karena sesuai dengan tuntutan
perkembangan nurani anak usia remaja. Masa hidupnya terbatas sesuai dengan
perkembangan usia remaja. Selain itu, pemakainnya pun terbatas pula di kalangan remaja
kelompok usia tertentu dan bersifat tidak resmi. Jika berada di luar lingkungan kelompoknya,
bahasa yang digunakannya beralih ke bahasa lain yang berlaku secara umum di lingkungan
masyarakat tempat mereka berada. Jadi, kehadirannya di dalam pertumbuhan bahasa
Indonesia ataupun bahasa daerah tidak perlu dirisaukan karena bahasa itu masing-masing
akan tumbuh dan berkembang sendiri sesuai dengan fungsi dan keperluannya masing-masing.
Contoh Bahasa Gaul:
1. ALAY :
Singkatan dari Anak Layangan, yaitu orang-orang kampung yang bergaya
norak. Alay sering diidentikkan dengan hal-hal yang norak dan narsis.
2. KOOL :
Sekilas cara membacanya sama dengan cool (keren), padahal kata ini
merupakan singkatan dari KOalitas Orang Lowclass, yang artinya mirip dengan Alay.
3. LEBAY :

Merupakan hiperbol dan singkatan dari kata berlebihan. Kata ini populer di
tahun 2006an. Kalo tidak salah Ruben Onsu atau Olga yang mempopulerkan kata ini
di berbagai kesempatan di acara-acara di televisi yg mereka bawakan, dan biasanya
digunakan untuk mencela orang yang berpenampilan norak.
4. GARING :
Kata ini merupakan kata dari bahasa Sunda yang berarti tidak lucu. Awalnya
kata-kata ini hanya digunakan di Jawa Barat saja. Namun karena banyaknya
mahasiswa luar pulau yang kuliah di Jawa Barat (Bandung) lalu kembali ke kota
kelahiran mereka, kata ini kemudian dipakai mereka dalam beberapa kesempatan.
Karena seringnya digunakan dalam pembicaraan, akhirnya kata ini pun menjadi
populer di beberapa kota besar di luar Jawa Barat.
5. BONYOK :
Kata ini merupakan singkatan dari Bokap-Nyokap (orang tua). Tidak jelas
siapa yang mempopulerkan kata ini, tapi kata ini mulai sering digunakan diperiode
awal 2000an, ketika bahasa sms mulai populer di kalangan remaja. Bokap (Ayah) dan
Nyokap (Ibu) sendiri merupakan istilah yang telah populer sejak tahun 80an dan
masih digunakan hingga hari ini.
6. LOL :
Kata ini belakangan ini sering dipakai, terutama dalam komunikasi chatting,
baik di YM, FB, Twitter, atau pun komunitas yang lain. Kata itu merupakan singkatan
dari Laugh Out Loud yang berarti Tertawa Terbahak-bahak.
7. GUE :
Adalah bahasa resmi yang kini banyak digunakan oleh kebanyakan orang
(terutama orang dari Suku Betawi) untuk menyebut Saya / Aku. Kata ini merupakan
bahasa Betawi yang telah digunakan secara luas, jauh sebelum bahasa prokem dikenal
orang.
8. LO / LU :Sama seperti Gue kata ini pun sudah digunakan digunakan oleh Suku
Betawi sejak bertahun-tahun lalu dan menjadi kata untuk menyebut Anda / Kamu.

Bahasa sehari hari berikut ini juga termasuk bahasa gaul, namun sudah sering
dipakai dalam keseharian masyarakat Indonesia, sehingga masyarakat terkadang kurang sadar
bahwa bahasa berikut termasuk bahasa gaul / prokem:
Penyengauan kata kerja aktif, pemendekan atau pengguguran awalan dan
membubuhkan -in' di akhir kata :
1. memikirkan (pikir) mikirin
2. menanyakan - nanyain (pengguguran "me-")
Membubuh -in di akhir kata kerja transitif pasif :
1. diajari diajarin
2. dipukuli dipukulin
Membubuh ke- di awal kata kerja tidak transitif, menggantikan ter- :
1. tertangkap ketangkep
2. terpeleset (tergelincir) - kepeleset
Menggugurkan satu atau beberapa huruf dari kata :
1. habis abis
2. tahu - tau
Menyingkatkan dua atau lebih perkataan menjadi satu :
1. terima kasih makasih
2. jaga image (jaga maruah diri) jaim
Menggantikan a dengan e dalam setengah kata (pengaruh Jawa) :
1. benar bener
2. pintar pinter
3. malas - males

Menyingkatkan diftong menjadi huruf eka-suku :


1. kalau kalo
2.

pakai - pak

Pembubuhan / pengguguran konsonan bisu dan hentian glotis pada awal atau akhir kata:
1. pakai - pak atau pakk
2. enggak - nggak, ngga, gak, ga, kaga, ogah, wegah
Menyingkat menjadi tiga huruf pertama sampil menyisip -ok- selepas huruf pertama
(berakhir dengan konsonan terdekat jika huruf ketiga adalah vokal) :
1. bapak bokap
2. jual jokul
3. brak - bokr
Setengah perkataan dipinjam dan disesuaikan begitu saja dari bahasa Inggris kebahasa
Indonesia, contoh :
1. sorry sori
2. friend prn
3. swear suer
4. brother - bruer atau bro
5.

sister - suez atau sis

SUMBER
http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_prokem (Rabu, 24 September 2014, 20:26)
http://www.psychologymania.com/2012/12/sejarah-bahasa-gaul.html (Rabu, 24 September
2014, 20:31)

http://presentasi1030.blogspot.com/2013/04/bahasa-gaul_5546.html (Rabu, 24 September


2014, 20:46)
file:///E:/andie_achmad%20%20BAHASA%20INDONESIA%20VS%20BAHASA
%20PERGAULAN.htm (Rabu, 24 Sepetember 2014, 20:48)

Nama : Sasprianti Meidika H.


Kelas : 3-C
Tugas 2 Bahasa Indonesia
Bahasa Lisan adalah ragam bahasa yang dituturkan dengan indra mulut. Sedangkan
bahasa tulisan adalah ragam bahasa yang dituangkan melalui simbol-simbol atau huruf-huruf.
Tiap dari kedua bahasa tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan.
A. KEUNGGULAN BAHASA LISAN
1. Berlangsung cepat. Terlebih, jika pemilik lisan adalah orang yang terbiasa berbicara
cepat. Jika dibandingkan dengan bahasa tulisan, lisan lebih cepat mengeluarkan kata
dengan mudahnya.
2. Sering berlangsung tanpa alat bantu. Ini merupakan keunggulan yang menjadikannya
berlangsung lebih cepat dibanding tulisan.
3. Kesalahan dapat langsung diperbaiki. Dan pendengar tak perlu menunggu waktu lama
untuk mendengar ralatan pemilik lisan. Bahkan, pendengar relatif memiliki
kesempatan untuk menegurnya atau memperbaikinya. Hal ini tak terjadi pada tulisan,
setidaknya dengan waktu yang singkat.
4. Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik muka. Keduanya memperkaya arti,
makna, maksud dan tujuan. Selain memperkaya, keduanya bisa memperkuat dan
membuat pendengar lebih yakin akan kandungan isi yang dilisankan, entah yakin
untuk mempercayai, atau mendustai.
B. KELEMAHAN BAHASA LISAN
1. Tidak mempunyai bukti otentik. Meskipun asalnya hal ini relatif, namun kabar-kabar
lewat lisan mayoritasnya takkan disematkan bukti-bukti otentik yang menguatkan
kebenaran yang tersampaikan. Penguatan dan pemantapan biasanya mengandalkan
kalimat-kalimat penguat (yang juga hasil dari lisan), nada suara yang meninggi, atau
bahasa tubuh.
2. Dasar hukumnya lemah. Terlebih jika yang berbicara adalah orang yang kurang
dipercaya, atau bukan pakar tema pembicaraan, atau gagal menyampaikan disebabkan

ketidakmantapan nada, salah pemilihan kata atau kalimat, bahasa tubuh yang tidak
meyakinkan atau lainnya. Juga, bahasa lisan lebih instan dan seringkali tidak didasari
pemikiran atau pemilihan yang lebih matang dibanding bahasa tulisan.
3. Sulit disajikan secara matang dan bersih. Karena bertaburnya selipan-selipan yang
mengotori, seperti 'eeeh', atau 'anu', atau 'apa', atau 'hmm' dan semacamnya.
4. Mudah dimanipulasi. Bisa saja seseorang berbicara A siang ini, lalu sorenya -dengan
keperluan darurat atau memang kegoyahan pemilik lisan- ia berbicara Z yang
bertentangan dengan A. Sementara, pendengar meskipun telah mendengarnya di siang
hari, ia tidak bisa membuktikan manipulasi atau -halusnya- perubahan tersebut
dengan bukti otentik, kecuali jika direkam.
C. KEUNGGULAN BAHASA TULISAN
1. Mempunyai bukti otentik. Karena penulis diberi kesempatan menuliskan sumber data
atau kabar sehingga pembaca lebih legawa untuk percaya dan bisa merujuk langsung
pada sumbernya kemudian -jika hendak melakukannya untuk memastikan-.
2. Dasar hukum yang kuat. Karena itulah, ulama Ahli Hadits lebih mengutamakan Hifdz
atau Dhabth dalam kitab dibandingkan hafalan lisan. Hukumnya lebih kuat. Sebabnya
adalah tulisan lebih terjaga dibanding lisan. Hafalan atau simpanan di otak bisa
terkena cacat dan berubah, sedangkan simpanan di kertas, resiko tercacatkannya atau
berubahnya lebih rendah.
3. Dapat disajikan lebih matang atau bersih. Hal ini disebabkan penulisnya memiliki
waktu dan kesempatan untuk memilah kalimat yang lebih baik atau terbaik. Juga,
normalnya penghindaran selipan tak penting seperti 'eeeh' atau 'hmm' terlakukan
dengan baik.
4. Lebih sulit dimanipulasi. Ini jika sudah tersebar.
D. KELEMAHAN BAHASA TULISAN
1. Berlangsung lambat. Penulis tentunya membutuhkan waktu untuk berfikir,
menimbang untuk memilih kata yang tepat atau lebih baik, menulisnya atau kadang
menghapus dan menulis ulang.

2. Selalu memakai alat bantu. Tidak ada jemari yang sudah menjadi alat tulis dan
mengeluarkan tinta. Mengetik pun adalah sebuah perbuatan menulis dengan alat bantu
(yakni: keyboard dan semacamnya) untuk mewujudkan sebuah tulisan.
3. Kesalahan tidak dapat langsung diperbaiki. Tidak langsung diperbaiki melainkan
harus melakukan gerakan penghapusan, seperti menghapus dengan penghapus, atau
menekan tombol tertentu. Berbeda dengan bicara, yang seketika langsung dapat
diralat dan diperbaiki.
4. Tidak dapat dibantu dengan gerak tubuh atau mimik muka. Mungkin untuk saat ini,
bisa dibantu dengan emoticon, namun bagaimanapun, emoticon bisa juga digunakan
untuk memalsukan yang sebenarnya benar atau yang sebenarnya tidak benar.

SUMBER:
https://id-id.facebook.com/menata.akhlaq/posts/510239019047614 (Rabu, 24 September
2014, 20:59)
http://tweety-moeth.blogspot.com/2010/10/kelebihan-dan-kekurangan-ragam-bahasa.html
(Rabu, 24 September 2014, 21:00)