Anda di halaman 1dari 3

Praktikum pembuatan asam sitrat ini dilakukan dengan dua metode yaitu

metode kultivasi cair dan metode kultivasi dengan substrat padat. Pada metode
kultivasi kultivasi cair substrat yang digunakan adalah ekstrak tauge 20 % b/v
sebagai media propagasi. Ekstrak tauge tersebut selanjutnya dicampurkan dengan
(NH4)2SO4 dan KH2PO4 sebagai sumber nitrogen dan sumber mineral. Sedangkan
sumber karbon digunakan adalah gula pasir. Menurut Kubicek dan Rohr (1989)
gula pasir (sukrosa) baik untuk dijadikan sebagai sumber glukosa oleh A. niger
karena memiliki ikatan intervase miselium ekstraseluler yang kuat dan aktif pada
pH rendah sehingga hidrolisis sukrosa relatif lebih cepat. Dedak digumakan dalam
kultivasi padat yang berfungsi sebagai sumber vitamin, asam amino dan mineral.
Hasil pengamatan yang dilakukan pada kultivasi cair menunjukkan kondisi
pH selama kultivasi mengalami penurunan, namun pada hari terakhir pengamatan
mengalami penaikan yakni dari pH 2 menjadi 3. Sedangkan pada kultivasi padat,
pH yang dihasilkan selama kultivasi adalah fluktuatif, teutama mengalami
kenaikan cukup tinggi pada pengamatan terakhir yaitu dari pH 4 menjadi 6.
Kondisi pH media juga mempengaruhhi produksi asam sitrat dari A. niger karena
beberapa enzim yang berperan dalam siklus asam sitrat sensitif terhadap pH.
Selama fermentasi, pH untuk produksi asam sitrat yang optimal adalah sekitar 2.
Jika kondisi tersebut tidak diperoleh hasil produksi akan berkurang. Selain itu,
menurut Papagianni (1995), pH mempengaruhi morfologi dan produktivitas asam
sitrat dari A. niger dari hasil data kuantitatif. Hal tersebut terbukti dengan
meningkatnya pH pada saat pengamatan membuat total asam yang dihasilkan
menjadi menurun. Total asam yang dihasilkan tersebut berhubungan erat dengan
pH. Hubungan pH dengan total asam adalah berbanding terbalik. Selain itu,
produksi asam sitrat akan terus meningkat sampai nutrisi yang terkandung pada
media habis.
Pada kultivasi cair, gula pasir ditambahkan dan digunakan oleh mikroba
sebagai sumber glukosa. Selain itu, gula merupakan medium pertumbuhan yang
baik untuk mikroba. Semakin lama pengamatan, seharusnya komsentrasi gula
yang dihasilkan semakin kecil. Hal tersebut karena, sebagai sumber karbon, gula
dikonsumsi terus-menerus oleh mikroba dalam hal ini A. niger untuk terus tumbuh
dan memproduksi asam sitrat sehingga konsentrasinya semakin menurun
(Papagianni 1995). Namun, pengamatan menunjukan hasil yang bebeda. Pada hari
terakhir pengamatan, seharusnya konsentrasi gulanya semakin menurun, tetapi
yang terjadi adalah konsentrasi gulanya mengalami kenaikan. Kenaikan
konsentrasi gula tersebut dapat terjadi karena A. niger sudah mencapai batas
maksimum pertumbuhan untuk mengonsumsi gula untuk menghasilkan asam
sitrat (Kubicek dan Rohr 1989). Selain itu, kesalah juga mungkin terdapat pada
saat pengamatan yaitu kurangnya ketelitian dan kecermatan praktikan juga kondisi
alat yang digunakan dalam keadaan yang kurang baik.
Produktivitas proses fermentasi dapat dinyatakan dalam bentuk yield. Pada
praktikum ini dilakukan perhitungan yield pembentukkan produk terhadap
pertumbuhan biomassa, yield pertumbuhan biomassa terhadap pemakaian substrat,
dan yield pembentukkan produk terhadap pemakaian substrat. Secara teoritis
ketiga perhitungan yield akan menghasilkan garis persamaan linear dengan
kemiringan positif. Dengan kata lain semakin tinggi angka pertumbuhan biomassa
maka semakin tinggi produk yang terbentuk, semakin tinggi pemakaian substrat

maka semakin tinggi pertumbuhan biomassa, serta pemakaian substrat yang tinggi
maka produk yang dihasilkan semakin tinggi pula.
Data yang diperoleh menghasilkan persamaan regresi linier y = bx + a.
Persamaan pertama adalah y p/x = 0.637x + 4,2209 yang menunjukkan nilai yield
produk yang terbentuk terhadap pertumbuhan biomassa sebesar 0.637 mg
produk/mg substrat dilihat dari kemiringan garisnya. Berdasarkan data tersebut
dapat diketahui bahwa setiap penambahan biomassa yang dihasilkan sebesar 1 mg
akan terjadi penaikan jumlah asam sitrat yang dihasilkan sebesar 0.637 mg. Data
tersebut tidak sesuai dengan literatur yang mengatakan bahwa semakin tinggi
jumlah biomassa yang dihasilkan maka akan menurunkan jumlah asam sitrat yang
dihasilkan (Yuwono 2010). Oleh karena itu produksi biomassa dalam pembuatan
asam sitrat harus dibatasi sehingga akan didapatkan nilai rendemen yang tinggi.
Biomassa yang berlebihan dapat menyebabkan produktivitas asam sitrat yang
dihasilkan menjadi turun akibat kekurangan nutrisi yang diperoleh.
Untuk yield pertumbuhan biomassa terhadap pemakaian substrat didapati
persamaan garis y x/s = 11.685x 1.2441 artinya yield yang diperoleh sebesar
11.685 mg biomassa/ mg substrat. Persamaan tersebut menunjukkan bahwa
hubungan pemakaian substrat dengan pertumbuhan biomassa berbanding terbalik.
Artinya, pertumbuhan biomassa yang meningkat menyebabkan penurunan jumlah
substrat. Hal tersebut sudah sesuai dengan literatur, karena substrat dikonsumsi
oleh biomassa (A. niger) sebagai nutrisi untuk tumbuh sehingga mampu untuk
memproduksi asam sitrat dengan maksimal (Kubicek dan Rohr 1989).
Kemudian dari data didapati juga persamaan garis y p/s = 10.872x + 1,17
yang menunjukkan nilai yield produk yang terbentuk terhadap pemakaian substrat
sebesar 10.872 mg produk/ mg substrat. Setiap 1 mg substrat akan menghasilkan
10.872 mg produk. Hubungan substrat dengan produk adalah berbanding terbalik.
Substrat digunakan sebagai media pertumbuhan untuk A. niger untuk
memproduksi asam sitrat. Produksi asam sitrat oleh A. niger akan terus meningkat
sampai mencapai batas maksimum pertumbuhan dan tidak ada lagi substrat yang
dapat dikonsumsi (Kubicek dan Rohr 1989).
Data dari kurva pertumbuhan diperoleh nilai R sebesar 0.7957 hal ini
menunjukkan bahwa error dan penyimpangannya cukup tinggi, karena nilai
tersebut menyatakan nilai ketelitian yang berarti hanya 79.57%. %. Pada kurva
yield produk dibandingkan biomassa menunjukkan nilai R sebesar 0.6706,
ketelitian yang ada hanya 67.06%. Untuk kurva yield produk dibandingkan
substrat diperoleh nilai R sebesar 0.8302, sehingga ketelitiannya sebesar 83.02%.
Sedangkan untuk kurva yield pertumbuhan biomassa terhadap penggunaan
substrat diperoleh nilai R sebesar 0.8475 dengan nilai ketelitian sebesar 84.75%.
Semua nilai R yang diperoleh tidak memenuhi persyaratan secara statistika. Nilai
R yang diperoleh juga menunjukkan bahwa nilai error dan penyimpangan dalam
bentuk persamaan tersebut sangat tinggi. Hal tersebut karena nilai ketelitian dalam
statistika yang dapat dipercaya berkisar 95-(~100)%. Sehingga dapat dikatakan
bahwa pengamatan yang dilakukan menghasilkan data yang kurang valid karena
besarnya error yang terjadi. Error yang terjadi dapat diakibatkan oleh praktikan
ataupun kondisi alat yang digunakan.

Simpulan
Hasil pengamatan menunjukkan nilai pH yang diperoleh pada kultivasi
cair mengalai penurunan, namun pada pengamatan hari terakhir yaitu hari ke-5
mengalami penaikan. Sedangkan pada kultivasi padat, nilai pH yang diperoleh
adalah fluktuatif. Sama halnya dengan nilai total asam yang diperoleh, karena
nilai pH dan nilai total asam berbanding lurus. Konsentrasi gula yang dihasilkan
mengalami penurunan, namun pada hari ke-5 pengamatan mengalami penaikan.
Data yang diperoleh tersebut tidak sesuai dengan literatur, karena seharusnya
semakin hari produksi asam sitrat yang diperoleh semakin besar selama substart
masih tersedia untuk memproduksi asam sitrat. Substart yang digunakan salah
satunya adalah gula pasir sebagai sumbe glukosa dan sumber karbon. Semakin
tinggi produksi asam sitrat maka semakin tinggi pula pH yang dihasilkan, tetapi
semakin kecil konsentrasi gulanya karena gula dikonsumsi oleh mikroba untuk
memproduksi asam sitrat.
Rendemen yang diperoleh adalah semakin tinggi pemakaian substrat maka
semakin tinggi pertumbuhan biomassa (yx/s), serta pemakaian substrat yang
tinggi maka produk yang dihasilkan semakin tinggi (yp/s). Sedangkan hasil
pengamatan rendemen produk yang dihasilkan berdasarkan pertumbuhan
biomassa (yp/x) belum sesuai dengan literatur. Hasil yang diperoleh adalah
semakin besar jumlah bimassa yang ditambahkan akan meningkatkan produksi
asam sitrat. Menurut literatur seharusnya jumlah biomassa yang diberikan harus
dibatasi karena dapat menurunkan produktivitas. Rendemen yang dihasilkan
tersebut memiliki nilai ketelitian yang tidak dapat diterima karena nilainya
dibawah 95%. Artinya, error yang terjadi saat pengamatan cukup besar. Error
yang terjadi dapat disebabkan oleh kondisi alat dan bahan yang kurang baik
ataupun ketepatan, ketelitian, dan kecermatan praktikan yang melaksanakan
pengamatan itu kurang.
Kubicek C.P dan M. Rohr. 1989. Citric Acid Fermentation. Crit Rev Biotechnol 4:
331- 73.
Papagianni M. 1995. Morphology and citric acid production of Aspergillusniger
in submerged culture. PhD Thesis, University of Strathclyde.
Yuwono Triwibowo. 2010. Biologi Molekular. Jakarta: Penerbit Erlangga