Anda di halaman 1dari 4

Ada beberapa metode:

1. Direct inoculation of culture medium


Meliputi pengujian langsung dari sampel dalam media
pertumbuhan. Menurut British Farmakope:
a. media tioglikolat cair yang mengandung glukosa dan Na
Tioglikolat cocok untuk pembiakan aerob. Suhu inkubasi 30-35oC.
b. Soya bean casein digest medium
Media ini membantu pertumbuhan bakteri anaerob dan fungsi.
Suhu inkubasi 30-35oC, sedang fungi 20-25oC.
2. Membran filtrasi
Teknik yang banyak direkomendasikan farmakope, meliputi
filtrasi cairan melalui membran steril. Filter lalu ditanam dalam media.
Masa inkubasi 7-14 hari karena mungkin organisme perlu adaptasi dulu.
3. Introduction od concentrate culture medium
Medium yang pekat langsung dimasukkan dalam wadah sampel
yang akan ditumbuhkan. Tidak banyak digunakan, hanya dipakai bila ada
kecurigaan akan adanya bakteri.
Uji pirogen
1. Secara kualitatif: Rabbit test
Berdasarkan respon demam pada kelinci. Digunakan kelinci
karena kelinci menunjukkan respon terhadap pirogen sesuai dengan
keadaan manusia. Kenaikan suhu diukur melalui rektal.
2. Secara kuantitatif: LAL test
Cara uji in vitro dengan menggunakan sifat membentuk gel dari
lisat amebasit dari limulus polifemus. Uji ini 5-10 kali lebih sensitif dari
Rabbit test.
Kondisi LAL-test:
a. pH larutan 6-7
b. suhu 37oC
c. kontrol negatif: aquadest (pelarut)
d. kontrol positif (pirogen/endotoksin)
e. keuntungan: cepat, mudah, praktis
Uji sterilitas dilakukan untuk memperkirakan jumlah mikroba
aerob viabeldi dalam semua jenia perbekalan farmasi, mulai dari
bahan baku hinga
sediaan jadi dan untuk menetapkan apakah bahan atau produk fa
rmasi yang harus sterilmemenuhi syarat berkenaan dengan uji
sterilitas seperti yang tertera pada masing-masing monografi
bahan atau produk. Untuk menyatakan bahwa perbekalanfarmasi
tersebut bebas dari spesies mikroba tertentu. Pengerjaan harus
dilakukan
secara aseptic. Jika tidak dinyatakan lain, inkubasi adalah
menempatkan wadah
di dalam ruang terkendali secara termostatik pada suhu antara 30
Tahap pertamaPada interval waktu tertentu dan pada akhir
periode inkubasi, amati isisemua wadah akan adanya pertumbuhan mikroba
seperti kekeruhan dan atau pertumbuhan pada permukaan. Jika tidak terjadi
pertumbuhan, maka bahan ujimemenuhi syarat.Jika ditemukan
pertumbuhan mikroba, tetapi peninjauan dalampemantauan fasilitas
pengujian sterilitas, bahan yang digunakan, prosedurpengujian dan kontrol
negatif menunjukan tidak memadai atau teknik aseptik yang salah
digunakan dalam pengujian, tahap pertama dinyatakan tidakabsah dandapat
diulang. Jika pertumbuhan mikroba teramati tetapi tidak terbukti uji
tahappertama tidak absah, lakukan tahap kedua.
Tahap keduaJumlah spesimen yang diseleksi minimal 2 kali
jumlah tahap pertama.Volume minimal tiap spesimen yang diuji dan media
dan perioda inkubasi samaseperti yang tertera pada tahap pertama. Jika
tidak ditemukan pertumbuhanmikroba, bahan yang diuji memenuhi syarat.
Jika ditemukan pertumbuhan, hasilyang diperoleh membuktikan bahwa
bahan uji tidak memenuhi syarat. Jika dapatdibuktikan bahwa uji pada
tahap kedua tidak absah karena kesalahan atau teknik aseptik tidak
memadai, maka tahap kedua dapat diulang.Sediaan obat dan alat kesehatan
seharusnya bersifat steril, bebas darikuman.
Terutama sediaan obat yang langsung kontak dengan mukosa
ataulangsung masuk ke aliran darah seperti tetes mata, injeksi, cairan infus,
salepmata, dan tablet implant.Demikian juga dengan alat-alat kesehatan
seperti kasa, dispossible syringe, danbenang bedah. Standar ini dibuat
dengan tujuan agar tidak terjadi infeksi padapasien yang menggunakan
sediaan obat maupun alat kesehatan tersebut akibatkontaminasi kuman
patogen.Sediaan steril memiliki beberapa sifat bentuk takaran yang unik,
sepertibebas dari mikroorganisme, bebas dari pirogen, bebas dari partikulat
dan standaryang sangat tinggi dalam hal kemurnian dan kualitas;
bagaimanapun, tujuanutama pembuatan sediaan steril adalah mutlak tidak
adanya kontaminasi mikroba.
Tidak seperti syarat banyak sediaan yang lain, syarat sterilitas
adalah nilai yang mutlak. Sebuah sediaan baik steril maupun
non steril. Secara historis, pertimbangan sterilitas bersandar
pada uji sterilitas lengkap yang resmi, namunsediaan akhir
pengujian sterilitas mengalami banyak batasan [1-4].
Metode Farmakope harus digunakan untuk validasi danperforma
ui sterilitas.Untuk produk injeksi, air untuk injeksi, produk antara, dan
produk jadiharus dipantau adanya endotoksin menggunakan metode

farmakope yang telahditetapkan dan divalidasi untuk setiap jenis


produk.Area bersih untuk pembuatan sediaan steril digolongkan
berdasarkankarakteristik lingkungan yang dipersyratkan.

I. Pendahuluan
Salah satu bentuk sediaan steril adalah injeksi. Injeksi adalah sediaan steril
berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau
disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan yang disuntikkan dengan
cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir.
Dimasukkan ke dalam tubuh dengan menggunakan alat suntik.
Suatu sediaan parenteral harus steril karena sediaan ini unik yang
diinjeksikan atau disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa ke dalam
kompartemen tubuh yang paling dalam. Sediaan parenteral memasuki
pertahanan tubuh yang memiliki efesiensi tinggi yaitu kulit dan membran
mukosa sehingga sediaan parenteral harus bebas dari kontaminasi mikroba
dan bahan-bahan beracun dan juga harus memiliki kemurnian yang dapat
diterima.

II. Definisi
Injeksi atau parenteral adalah sediaan farmasetis steril berupa larutan,
emulsi, suspensi, atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan
lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek
jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir atau
menembus suatu atau lebih lapisan kulit atau membran mukosa
menggunakan alat suntik.

III. Rute-rute Injeksi


1. Parenteral Volume Kecil
a. Intradermal

Istilah intradermal (ID) berasal dari kata "intra" yang berarti


lipis dan "dermis" yang berarti sensitif, lapisan pembuluh darah
dalam kulit. Ketika sisi anatominya mempunyai derajat
pembuluh darah tinggi, pembuluh darah betul-betul kecil.
Makanya penyerapan dari injeksi disini lambat dan dibatasi
dengan efek sistemik yang dapat dibandingkan karena
absorpsinya terbatas, maka penggunaannya biasa untuk aksi
lokal dalam kulit untuk obat yang sensitif atau untuk
menentukan sensitivitas terhadap mikroorganisme.
b.Intramuskular

Istilah intramuskular (IM) digunakan untuk injeksi ke dalam


obat. Rute intramuskular menyiapkan kecepatan aksi onset
sedikit lebih normal daripada rute intravena, tetapi lebih besar
daripada rute subkutan.
c. Intravena

Istilah intravena (IV) berarti injeksi ke dalam vena. Ketika tidak


ada absorpsi, puncak konsentrasi dalam darah terjadi dengan
segera, dan efek yang diinginkan dari obat diperoleh hampir
sekejap.
d.Subkutan

Subkutan (SC) atau injeksi hipodermik diberikan di bawah kulit.


Parenteral diberikan dengan rute ini mempunyai perbandingan
aksi onset lambat dengan absorpsi sedikit daripada yang
diberikan dengan IV atau IM.
e. Rute intra-arterial

disuntikkan langsung ke dalam arteri, digunakan untuk rute


intravena ketika aksi segera diinginkan dalam daerah perifer
tubuh.
f. Intrakardial

disuntikkan langsung ke dalam jantung, digunakan ketika


kehidupan terancam dalam keadaan darurat seperti gagal
jantung.
g. Intraserebral

injeksi ke dalam serebrum, digunakan khusus untuk aksi lokal


sebagaimana penggunaan fenol dalam pengobatan trigeminal
neuroligia.
h. Intraspinal

injeksi ke dalam kanal spinal menghasilkan konsentrasi tinggi


dari obat dalam daerah lokal. Untuk pengobatan penyakit
neoplastik seperti leukemia.
i. Intraperitoneal dan intrapleural

Merupakan rute yang digunakan untuk pemberian berupa vaksin


rabies. Rute ini juga digunakan untuk pemberian larutan dialisis
ginjal.
j. Intra-artikular

Injeksi yang digunakan untuk memasukkan bahan-bahan seperti


obat antiinflamasi secara langsung ke dalam sendi yang rusak
atau teriritasi.
k.Intrasisternal dan peridual

Injeksi ke dalam sisterna intracranial dan durameter pada urat


spinal. Keduanya merupakan cara yang sulit dilakukan, dengan
keadaan kritis untuk injeksi.
l. Intrakutan (i.c)

Injeksi yang dimasukkan secara langsung ke dalam epidermis di


bawah stratum corneum. Rute ini digunakan untuk memberi
volume kecil (0,1-0,5 ml) bahan-bahan diagnostik atau vaksin.
m. Intratekal
Larutan yang digunakan untuk menginduksi spinal atau anestesi lumbar
oleh larutan injeksi ke dalam ruang subarachnoid. Cairan serebrospinal
biasanya diam pada mulanya untuk mencegah peningkatan volume cairan
dan pengaruh tekanan dalam serabut saraf spinal. Volume 1-2 ml biasa
digunakan. Berat jenis dari larutan dapat diatur untuk membuat anestesi
untuk bergerak atau turun dalam kanal spinal, sesuai keadaan tubuh pasien.

2. Parenteral Volume Besar


Untuk pemberian larutan volume besar, hanya rute intravena dan
subkutan yang secara normal digunakan.
a. Intravena

Keuntungan rute ini adalah


(1) jenis-jenis cairan yang disuntikkan lebih banyak dan bahkan bahan
tambahan banyak digunakan IV daripada melalui SC,
(2) cairan volume besar dapat disuntikkan relatif lebih cepat
(3) efek sistemik dapat segera dicapai
(4) level darah dari obat yang terus-menerus disiapkan
(5) kebangkitan secara langsung untuk membuka vena untuk pemberian
obat rutin dan menggunakan dalam situasi darurat disiapkan.
Kerugiannya adalah meliputi :

gangguan kardiovaskuler dan pulmonar dari peningkatan


volume cairan dalam sistem sirkulasi mengikuti pemberian cepat
volume cairan dalam jumlah besar

perkembangan potensial trombophlebitis

kemungkinan infeksi lokal atau sistemik dari kontaminasi


larutan atau teknik injeksi septik, dan (4) pembatasan cairan
berair.
b.Subkutan

Penyuntikan subkutan (hipodermolisis) menyiapkan sebuah


alternatif ketika rute intravena tidak dapat digunakan. Cairan
volume besar secara relatif dapat digunakan tetapi injeksi harus
diberikan secara lambat. Dibandingkan dengan rute intravena,
absorpsinya lebih lambat, lebih nyeri dan tidak menyenangkan,
jenis cairan yang digunakan lebih kecil (biasanya dibatasi untuk
larutan isotonis) dan lebih terbatas zat tambahannya.

IV. Keuntungan injeksi

1. Respon fisiologis yang cepat dapat dicapai segera bila


diperlukan, yang menjadi pertimbangan utama dalam kondisi
klinik seperti gagal jantung, asma, shok.

2. Terapi parenteral diperlukan untukobat-obat yang tidak efektif


secara oral atau yang dapat dirusak oleh saluran pencernaan,
seperti insulin, hormon dan antibiotik.

3. Obat-obat untuk pasien yang tidak kooperatif, mual atau tidak


sadar harus diberikan secara injeksi.

4. Bila memungkinkan, terapi parenteral memberikan kontrol


obat dari ahli karena pasien harus kembali untuk pengobatan
selanjutnya. Juga dalam beberapa kasus, pasien tidak dapat
menerima obat secara oral.

5. Penggunaan parenteral dapat menghasilkan efek lokal untuk


obat bila diinginkan seperti pada gigi dan anestesi.

6. Dalam kasus simana dinginkan aksi obat yang diperpanjang,


bentuk parenteral tersedia, termasuk injeksi steroid periode
panjang secara intra-artikular dan penggunaan penisilin periode
panjang secara i.m.

7. Terapi parenteral dapat memperbaiki kerusakan serius pada


keseimbangan cairan dan elektrolit.

8. Bila makanan tidak dapat diberikan melalui mulut, nutrisi


total diharapkan dapat dipenuhi melalui rute parenteral.

9. Aksi obat biasanya lebih cepat.

10. Seluruh dosis obat digunakan.

11. Beberapa obat, seperti insulin dan heparin, secara lengkap


tidak aktif ketika diberikan secara oral, dan harus diberikan
secara parenteral.

12. Beberapa obat mengiritasi ketika diberikan secara oral, tetapi


dapat ditoleransi ketika diberikan secara intravena, misalnya
larutan kuat dektrosa.

13. Jika pasien dalam keadaan hidrasi atau shok, pemberian


intravena dapat menyelamatkan hidupnya.

V. Kerugian Injeksi

1. Bentuk sediaan harus diberikan oleh orang yang terlatih dan


membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan
pemberian rute lain.

2. Pada pemberian parenteral dibutuhkan ketelitian yang cukup


untuk pengerjaan secara aseptik dari beberapa rasa sakit tidak
dapat dihindari.

3. Obat yang diberikan secara parenteral menjadi sulit untuk


mengembalikan efek fisiologisnya.

4. Yang terakhir, karena pada pemberian dan pengemasan,


bentuk sediaan parenteral lebih mahal dibandingkan metode rute
yang lain.

5. Beberapa rasa sakit dapat terjadi seringkali tidak disukai oleh


pasien, terutama bila sulit untuk mendapatkan vena yang cocok
untuk pemakaian i.v.

6. Dalam beberapa kasus, dokter dan perawat dibutuhkan untuk


mengatur dosis.

7. Sekali digunakan, obat dengan segera menuju ke organ


targetnya. Jika pasien hipersensitivitas terhadap obat atau
overdosis setelah penggunaan, efeknya sulit untuk dikembalikan
lagi.

8. Pemberian beberapa bahan melalui kulit membutuhkan


perhatian sebab udara atau mikroorganisme dapat masuk ke
dalam tubuh. Efek sampingnya dapat berupa reaksi phlebitis,
pada bagian yang diinjeksikan.

VI. Komposisi Injeksi

1. Bahan aktif

2. Bahan tambahan
a. Antioksidan : Garam-garam sulfurdioksida, termasuk bisulfit,
metasulfit dan sulfit adalah yang paling umum digunakan sebagai
antioksidan. Selain itu digunakan :Asam askorbat, Sistein, Monotiogliseril,
Tokoferol.
b. Bahan antimikroba atau pengawet : Benzalkonium klorida,
Benzil alcohol, Klorobutanol, Metakreosol, Timerosol, Butil phidroksibenzoat, Metil p-hidroksibenzoat, Propil p-hidroksibenzoat, Fenol.
c. Buffer : Asetat, Sitrat, Fosfat.
d. Bahan pengkhelat : Garam etilendiamintetraasetat (EDTA).
e. Gas inert : Nitrogen dan Argon.
f. Bahan penambah kelarutan (Kosolven) : Etil alcohol, Gliserin,
Polietilen glikol, Propilen glikol, Lecithin
g. Surfaktan : Polioksietilen dan Sorbitan monooleat.
h. Bahan pengisotonis : Dekstrosa dan NaCl
i. Bahan pelindung : Dekstrosa, Laktosa, Maltosa dan Albumin
serum manusia.
j. Bahan penyerbuk : Laktosa, Manitol, Sorbitol, Gliserin.

3. Pembawa
a. Pembawa air
b. Pembawa nonair dan campuran
Minyak nabati : Minyak jagung, Minyak biji kapas, Minyak
kacang, Minyak wijen
Pelarut bercampur air : Gliserin, Etil alcohol, Propilen glikol,
Polietilenglikol 300.

VII. Syarat-syarat Injeksi

1. Bebas dari mikroorganisme, steril atau dibuat dari bahanbahan steril di bawah kondisi yang kurang akan adanya
kombinasi mikroorganisme (proses aseptik).

2. Bahan-bahan bebas dari endotoksin bakteri dan bahan


pirogenik lainnya.

3. Bahan-bahan yang bebas dari bahan asing dari luar yang tidak
larut.

4. Sterilitas

5. Bebas dari bahan partikulat

6. Bebas dari Pirogen

7. Kestabilan

8. Injeksi sedapat mungkin isotonis dengan darah.

VIII. Wadah Injeksi

Ada dua tipe utama wadah untuk injeksi yaitu dosis tunggal dan
dosis ganda. Wadah dosis tunggal yang paling sering digunakan
adalah ampul dimana kisaran ukurannya dari 1-100 ml. pada
kasus tertentu, wadah dosis ganda dan sebagainya berupa vial
serum atau botol serum. Kapasitas vial serum 1-50 ml,
bentuknya mirip ampul tetapi disegel dengan pemanasan.
Ditutup dengan penutup karet spiral. Botol serum juga dapat
sebagai botol tipe army dengan kisaran ukuran dari 75-100 ml
dan memiliki mulut yang lebar dimana ditutup dengan penutup
karet spiral. Labu atau tutup yang lebih besar mengandung 2502000 ml, digunakan untuk cairan parenteral yang besar seperti
NaCl isotonis.

1. Gelas

Gelas digunakan untuk sediaan parenteral dikelompokkan dalam


tipe I, Tipe II, dan Tipe III (tabel 8). Tipe I adalah mempunyai
derajat yang paling tinggi, disusun hampir ekslusif dan
barosilikat (silikon dioksida), membuatnya resisten secara kimia
terhadap kondisi asam dan basa yang ekstrim. Gelas tipe I,
meskipun paling mahal, ini lebih disukai untuk produk
terbanyak yang digunakan untuk pengemasan beberapa
parenteral. Gelas tipe II adalah gelas soda-lime (dibuat dengan
natrium sulfit atau sulfida untuk menetralisasi permukaan
alkalinoksida), sebaliknya gelas tipe III tidak dibuat dari gelas
soda lime. Gelas tipe II dan III digunakan untuk serbuk kering

dan sediaan parenteral larutan berminyak. Tipe II dapat


digunakan untuk produk dengan pH di bawah 7,0 sebaik sediaan
asam dan netral. USP XXII memberikan uji untuk tipe-tipe gelas
berbeda.
Formulator harus mengetahuidan sadar bahwa masing-masing
tipe gelas adalah berbeda dan level bahan tambahannya (boron,
sodium, potassium, kalsium, besi, dan magnesium) yang berefek
terhadap sifat kimia dan fisika. Oleh karena itu, formulator
sebaiknya mempunyai semua informasi yang diperlukan dari
pembuatan gelas untuk memastikan bahwa formulasi gelas
adalah konsisten dan dari batch dan spesifikasi bahan tambahan
adalah konsisten ditemukan.
Wadah gelas ambar digunakan untuk produk yang sensitif
terhadap cahaya. Warna ambar dihasilkan dengan penambahan
besi dan mangan oksida untuk formulasi gelas. Namun
demikian, dapat leach ke dalam formulasi dan mempercepat
reaksi oksidasi.
2. Karet
Formulasi karet digunakan dalam sediaan parenteral volume
kecil untuk penutup vial dan catridge dan penutup untuk
pembedahan. Formulasi ini betul-betul kompleks. Tidak hanya
mereka mengandung basis polimer karet, tetapi juga banyak
bahan tambahan seperti bahan pelunak, pelunak, vulkanishing,
pewarna, aktivator dan percepatan, dan antioksidan. Banyak
bahan-bahan tambahan ini tidak dikarakteristikkan untuk isi atau
pemurnian dan dapat bersumber dari masalah degradasi fisika
dan kimia dalam produk parenteral. Seperti gelas, formulator
harus bekerja dengan tertutup dengan pembuat karet untuk
memilih formulasi karet yang tepat dengan spesifikasi tetap dan
karakteristik untuk mempertahankan kestabilan produk.
Paling banyak polimer karet digunakan dalam penutup sediaan
parenteral volume kecil adalah alami dan butil karet dengan
silikon dan karet neopren digunakan jarang. Butil karet lebih
disukai karena ini diinginkan sedikit bahan tambahan,
mempunyai penyerapan uap air rendah (oleh karena itu, baik
untuk serbuk kering steril sensitif terhadap kelembaban) dan
sifat sederhana dengan penghormatan penyerapan gas dan
reaktivitas dengan produk farmasetik.
Masalah dengan penutup karet termasuk leaching bahan ke
dalam produk, penyerapan bahan aktif atau pengawet
antimikroba oleh elastomer dan coring karet oleh pengulangan
insersi benang. Coring menghasilkan partikel karet yang berefek
terhadap kualitas dan keamanan potensial produk.
Silikonisasi penutup karet adalah umum dilakukan untuk
memfasilitasi pergerakan karet melalui peralatan sepanjang
proses dan peletakan ke dalam vial. Akan tetapi, silikon tidak
bercampur dengan obat hidrofilik, khususnya protein. Kontak
yang luar biasa dengan karet tersilikonisasi dapat menghasilkan
agregasi protein. Pembuatan elastomer mempunyai
perkembangan formulasi yang tidak menginginkan penggunaan
silikon untuk menggunakan dalam operasi produksi kecepatan
tinggi.
3. Plastik
Pengemasan plastik adalah sangat penting untuk bentuk sediaan
mata yang diberikan oleh botol plastic fleksibel, orang yang
bersangkutan memeras untuk mengeluarkan tetesan larutan
steril, suspensi atau gel. Wadah plastic parenteral volume kecil
lain dari produk mata menjadi lebih luas dipakai karena
pemeliharaan harga, eliminasi kerusakan gelas dari kenyamanan
penggunaan. Seperti formulasi karet, formulasi plastik dapat
berinteraksi dengan produk, menyebabkan masalah fisika dan
kimia. Formulasi plastik adalah sedikit. Kompleks daripada
karet dan cenderung mempunyai potensial lebih rendah untuk
bahannya. Paling umum digunakan plastik polimer untuk
sediaan mata adalah polietilen densitas rendah. Untuk sediaan
parenteral volume kecil yang lain, formulasi polyolefin lebih
luas digunakan sebaik polivinil klorida, polipropilen, poliamida
(nilon), polikarbonat dan kopolimer (seperti etilen-vinil asetat).
Tabel 9- Komponen karet Dapat Diautoklaf Digunakan Dalam
Sediaan Parenteral Volume Kecil
4. Container / wadah
Tipe wadah yang paling umum digunakan untuk sediaan
parenteral volume kecil adalah gelas atau vial polietilen dengan
penutup karet dan besi. Gelas ampul digunakan paling banyak
untuk sistem pengemasan parenteral volume kecil, tetapi jarang
digunakan sekarang karena masalah aprtikel gelas ketika leher
ampul dibuka. Masing-masing pembedahan dan wadah catridge
mempunyai peningkatan popularitas dan penggunaan karena
kenyamanan mereka dibandingkan vial dan ampul. Vial dan
ampul menginginkan kemunduran produk dari kemasan. Injeksi,
sebaliknya produk-produk dalam pembedahan dan catridge

adalah siap untuk diberikan. Keduanya digunakan untuk


parenteral volume besar (LVP).
Wadah plastik digunakan untuk penggunaan produk mata. Salep
dengan tube logam digunakan untuk kemasan salep mata steril.
IX. Cara Pengisian Ampul.
Untuk pengisian ampul, jarum hipodermik panjang adalah
penting karena lubangnya kecil. Jarum harus dimasukkan ke
dalam ampul sampai di bawah. Leher ampul, tetapi tidak cukup
jauh untuk masuk ke dalam larutan yang dimasukkan ke dalam
ampul. Jarum harus dikeluarkan dari ampul tanpa menggunakan
tetes larutan pada dinding primer dari leher ampul. Metode ini
digunakan untuk mencegah pengurangan dan pengotoran jika
ampul disegel
X. Cara Penyegelan Ampul
Ampul dapat ditutup dengan melelehkan bagian gelas dari leher
ampul sehingga membentuk segel penutup atau segel tarik.
Segel penutup dibuat dengan melelehkan sebagian gelas pada
bagian atas leher ampul bulatan gelas dan menutup bagian yang
terbuka. Segel tarik dibuat dengan memanaskan leher dari suatu
ampul yang berputar di daerah ujungnya kemudian menarik
ujungnya hingga membentuk kapiler kecil yang dapat diputar
sebelum bagian yang meleleh tersebut ditutup.
DEFINISI
Sterilisasi Umum : proses atau kegiatan membebaskan suatu
bahan atau benda dari semua bentuk kehidupan.
Sterilisasi dalam Budidaya Pakan Alami : upaya membebaskan
peralatan dan media dari organisme termasuk plankton yang
tidak dikehendaki.
Sterilisasi adalah suatu proses untuk membunuh semua jasad
renik yang ada, sehingga jika ditumbuhkan di dalam suatu
medium tidak ada lagi jasad renik yang dapat berkembang biak.
Sterilisasi harus dapat membunuh jasad renik yang paling tahan
panas yaitu spora bakteri.
Sterilisasiadalah suatu proses penghancuran secara lengkap
semua mikroba hidup dan spora-sporanya.
Sterilisasi Uap
Dilakukan dengan autoklaf menggunakan uap air dalam tekanan
sebagai pensterilnya. Bakteri akan terkoagulasi dan dirusak pada
temperature yang lebih rendah dibandingkan bila tidak ada
kelembapan.
Mekanisme penghancuran bakteri oleh uap air panas adalah
karena terjadinya denaturasi dan koagulasi beberapa protein
esensial dari organism tersebut.
AUTOKLAF AUTOCLAVE
Suhu 1210C dan tekanan 15 psi
Jika tekanan 0 psi, air mendidih pada suhu 1000C, autoklaf yang
diletakkan di ketinggian sama, menggunakan tekanan 15 psi
maka air akan mendidih pada suhu 1210C.
Jika dilaboratorium terletak pada ketinggian tertentu, maka
pengaturan tekanan perlu disetting ulang.
Misalnya autoklaf diletakkan pada ketinggian 2700 kaki dpl,
maka tekanan dinaikkan menjadi 20 psi supaya tercapai suhu
1210C untuk mendidihkan air.
Sterilisasi Panas Kering
Dilakukan dengan menggunakan oven pensteril. Karena panas
kering kurang efektif untuk membunuh mikroba dibandingkan
dengan uap air panas maka metode ini memerlukan temperature
yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang. Sterilisasi
panas kering biasanya ditetapkan pada temperature 160-1700C
dengan waktu 1-2 jam.
digunakan untuk senyawa-senyawa yang tidak efektif untuk
disterilkan dengan uap air panas, karena sifatnya yang tidak
dapat ditembus atau tidak tahan dengan uap air.
Senyawa-senyawa tersebut meliputi minyak lemak, gliserin
(berbagai jenis minyak), dan serbuk yang tidak stabil dengan
uap air. Metode ini juga efektif untuk mensterilkan alat-alat
gelas dan bedah.Karena suhunya sterilisasi yang tinggi sterilisasi
panas kering tidak dapat digunakan untuk alat-alat gelas yang
membutuhkan keakuratan (contoh:alat ukur) dan penutup karet
atau plastik.C.
Sterilisasi media kultur
Menggunakan autoclave
Langkah :
Cuci peralatan dg air tawar dan detergen
Masukkan media dalam botol atau erlenmeyer yang telah dicuci
Tutup dengan kapas atau gabus
Di atas kapas tutup dg alumunium foil
Masukkan dalam autoclave, operasikan
Hot Air Method (Oven)
Digunakan untuk peralatan gelas : cawan petri, pipet ukur dan
labu erlenmyer.

Alat gelas yang disterilisasi dengan udara panas tidak akan


timbul kondensasi sehingga tidak ada tetes air (embun) didalam
alat gelas.
Bungkus alat-alat gelas dengan kertas payung atau aluminium
foil
Atur pengatur suhu oven menjadi 1800C dan alat disterilkan
selama 2-3 jam.
Sterilisasi Gas
Sterilisasi gas digunakan dalam pemaparan gas atau uap untuk
membunuh mikroorganisme dan sporanya.
Meskipun gas dengan cepat berpenetrasi ke dalam pori
danserbuk padat. Sterilisasi adalah fenomena permukaan dan
mikroorganisme yang terkristal akan dibunuh.
Sterilisasi gas biasanya digunakan untuk bahan yang tidak bisa
difiltrasi, tidak tahan panas dan tidak tahan radiasi atau cahaya.
Gaseous Chemosterilizers
Contoh :
Propilen oksida (C3H6O)
Gas klorin (Cl2)
Klorin dioksida (ClO2)
Ozon (O3)
Etilen oksida (C2H4O)
Keterangan :
Digunakan untuk bahan yang sensitif terhadap panas
atau kelembaban
Tidak korosif terhadap bahan, dapat digunakan untuk
plastik
Mahal, toksik, karsinogenik
Sterilisasi dingin ( perendaman )
Yaitu dengan cara merendam dengan menggunakan zat kimia
seperti desinfektan

PenyiPem anasn ar a n

FD
G
M
B
M
C
P
iie
a
h
kn
h
s
k
e
m
ig
a
r
m
a
y
sin
o
n
fn
i
s
a
ia
s
lr
a
ta
n
e
n
r

23415 ... DSN ypoi srn pi n- odfig silesat pebfi rollsets ea fi rb ls tl er a r fit cilotu rn pa t ui no n i t a p p a r a t u s
FU
PC
iBA
rLan
lSan
iiatth
t
nrnruiea
gasknbr
in
ksi
pa
ilo
hkt
ai
nk
DE
in
tz
ui
tm
uV
pi
Mt
ea
dm
i
an
D
i
l
a
k
u
k
a
n

U
B

P
L

F
a

nr i
a

tt n

h
n

ru
a

s
g

a
n

k i
k

p
a