Anda di halaman 1dari 31

FISIOLOGI PERNAPASAN

FISIOLOGI PERNAPASAN

Udara secara bergantian bergerak masuk dan keluar


paru, sehingga dapat terjadi pertukaran antara atmosfer
(lingkungan eksternal) dan kantung udara (alveolus) paru.
Pertukaran ini dilaksanakan oleh kerja mekanis
pernapasan, atau ventilasi. Kecepatan ventilasi diatur
sedemikian rupa, sehingga aliran udara antara atmosfer
dan alveolus disesuaikan dengan kebutuhan metabolic
tubuh untuk menyerap O2 dan mengeluarkan CO2
Oksigen dan CO2 dipertukarkan antara udara dialveolus
dan darah di dalam kapiler pulmonalis melalui proses
difusi.
Oksigen dan CO2 diangkut oleh darah antara paru dan
jaringan.
Pertukaran O2 dan CO2 terjadi antara jaringan dan
darah melalui proses difusi melintasi kapiler sistemik.

PERNAPASAN NORMAL
Pada keadaan istirahat, frekuensi pernapasan
manusia normal berkisar antara 12-15 kali per
menit. Satu kali bernapas sekitar 500 ml udara,
atau 6-8 liter udara permenit dimasukkan dan
dikeluarkan dari paru. Udara ini akan bercampur
dengan gas yang terdapat dalam alveoli, dan
selanjutnya O2 masuk kedalam darah kapiler
paru, sedangkan CO2 masuk kedalam alveoli,
melalui proses difusi sederhana. Dengan cara
ini 250 mL CO2 akan dikeluarkan.

Sifat-Sifat Gas
Tekanan bagian gas sebanding dengan suhu
dan jumlah molekul gas per volume.
P = nRT
(dari persamaan gas ideal)

dimana :
P = Tekanan
n = jumlah molekul
RT = Konstanta gas
V = Volume

Fungsi pernapasan juga melakukan fungsi nonrespirasi yaitu :

Menyediakan jalan untuk mengeluarkan air dan


panas. Udara atmosfer yang dihirup dilembabkan dan
dihangatkan oleh jalan napas sebelum udara tersebut
dikeluarkan. Pelembaban udara yang dihirup ini
penting dilakukan agar dinding alveolus tidak
mongering. Oksigen dan CO2 tidak dapat berdifusi
melintasi membran yang kering.
Berperan meningkatkan aliran balik vena.
Berperan dalam memelihara keseimbangan asam
basa normal dengan mengubah jumlah CO2 penghasil
asam (H+) yang dikeluarkan.
Mempertahankan tubuh dari invasi bahan asing.

Mengeluarkan, memodifikasi,
mengaktifkan, atau menginaktifkan
berbagai bahan yang melewati sirkulasi
paru.
Hidung bagian system penghidu.

Alveolus.
Adalah tempat pertukaran gas adalah suatu
kantung udara kecil, berdinding tipis, dan dapat
mengembang yang dikelilingi oleh kapiler paru.
Paru memiliki struktur ideal untuk melaksanakan
fungsinya melakukan pertukaran gas. Ingatlah
menurut hukum difusi Fick, semakin pendek
jarak yang ditempuh melewati tempat difusi
terjadi, semakin tinggi kecepatan difusi.
Demikian juga, semakin besar luas permukaan
tempat berlangsungnya difusi, semakin tinggi
kecepatan difusi.

FISIOLOGI PERNAPASAN
Tujuan dari pernapasan adalah untuk menyediakan
oksigen bagi seluruh jaringan tubuh dan membuang
karbon dioksida ke atmosfir. Untuk mencapai tujuan ini,
sistim pernapasan menjalankan fungsi :
1. Ventilasi paru, yaitu masuk keluarnya udara dari
atmosfir ke alveoli paru.
2. Difusi oksigen dan karbondioksida antara darah dan
alveoli

Mekanika pernapasan
Paru-paru dapat dikembang kempiskan melalui
dua cara :
1. Diafragma bergerak turun naik untuk
memperbesar atau memperkecil rongga
dada (diameter vertikal)
2. Naik dan turunnya tulang rusuk untuk
memperbesar atau memperkecil diameter

Otot Pernapasan
Otot Inspirasi : diafragma, intercostal eksterna,
sternokleido-mastoideus, skalenus
Otot ekspirasi : intercostal interna, otot
abdomen (rectus & obliqus abdominis

Tekanan pleura
Tekanan di dalam rongga sempit antara pleura paru
(viseralis) dan pleura dinding dada (parietalis).
Normalnya tekanan ini pada saat akhir ekspirasi (mulai
inspirasi) adalah -5 cm H20, yang merupakan kekuatan
yang tetap mempertahankan pengembangan paru pasa
saat istirahatnya. Selama inspirasi, pengembangan
rangka dada akan mendorong permukaan paru
dengan kekuatan yang sedikit lebih besar dan
mengakibatkan tekanan pleura menjadi lebih negatif

Tekanan alveolus
Adalah tekanan di bagian dalam alveoli paru.
Agar udara bisa masuk selama inspirasi maka
tekanan dalam alveolus harus turun sampai
nilainya sedikit dibawah tekanan atmosfir yaitu
-1 cm H20,agar 0,5 liter udara dapat masuk.
Selama ekspirasi tekanan alveolus meningkat
sekitar +1 cm H20 dan mendorong 0,5 liter
udara keluar.

Surfaktan
Merupakan campuran beberapa phosfolipid,
protein dan ion. Dihasilkan oleh sel epitel
alveolar tipe II. Fungsi surfaktan ini melawan
tegangan permukaan sehingga alveoli
tidak mengempis/kollaps. Pada RDS yang
biasanya terjadi pada bayi prematur,
akibatnya kurangnya surfaktan

Barier Gas-Darah
Bagian yang membatasi udara alveoli dari darah
kapiler. Barier ini disebut pula membrana respiratorius
yaitu suatu membran yang mempunyai beberapa
lapisan
1. Selapis cairan yang membatasi alveolus dan
mengandung campuran fosfolipd (surfaktan).
2. Lapisan epitel alveolar yaitu sel-sel epitel yang
sangat tipis

O2
ERITROSIT

C02

JALAN UDARA PERNAPASAN (JUP)

Fungsi Jalan Udara Pernapasan


Sebagai pintu masuk ke JUP adalah rongga
hidung. Terdapat 3 fungsi dari rongga hidung
(air conditioning function):
1. Memanaskan udara
2. Melembabkan udara
3. Menyaring udara

Refleks batuk
Refleks batuk adalah sangat essensial untuk
kehidupan, oleh karena batuk adalah suatu jalan
untuk membersihkan JUP dari benda-benda asing.
Bronchi dan trachea sangat sensitif sehingga setiap
benda asing yang menyebabkan iritasi akan
menimbulkan refleks batuk. Laring dan carina (titik
dimana trachea terbagi menjadi bronchi) adalah
khususnya sensitif.

Refleks Bersin
Refleks ini menyerupai refleks batuk, kecuali ini
berlaku untuk rongga hidung saja. Stimulus berupa
iritasi pada rongga hidung dan impuls afferen
berjalan pada nervus V ke medulla. Terjadilah
seurutan reaksi dimana sejumlah besar udara akan
dilewatkan dengan cepat melalui hidung dan juga
melalui mulut sehingga akan membersihkan rongga
hidung dari benda-benda asing.

Difusi gas pada paru


Difusi dalam hal ini adalah prosesO2
berpindahnya gas O2
dari alveoli ke kapiler paru, dan berpindahnya CO2
dari kapiler paru ke alveoli. Menurut hukum Fick,ERITROSIT
kecepatan suatu gas melewati membran adalah
C02
sesuai rumus :
Vgas = A.D. (P1 - P2)
T

Pulmonary
capillary blood

Hemoglobin facilitates
a large net transfer
of oxygen
Alveolus
Oxygen

No hemoglobin

PAO2=PCO2

O2 bound to hemoglobin
helps maintain P-P
gradient

PAO2 >PCO2

Fully saturated
hemoglobin

PAO2=PCO2

Transport Oksigen
Setelah oksigen masuk dari alveoli ke dalam paru-paru
maka oksigen diangkut dalam ikatan dengan
hemoglobin ke kapiler jaringan dimana oksigen akan
dilepaskan untuk digunakan oleh sel-sel. Adanya
hemoglobin dalam sel darah merah mengizinkan
darah mengangkut oksigen lebih banyak dibandingkan
bila oksigen hanya terlarut dalam cairan darah.
Oksigen yang dibawah ke perifer akan
mengoksigenasi jaringan-jaringan tubuh, dan hal ini

Karbondioksida yang terbentuk pada jaringan akan


memasuki kapiler jaringan dan diangkut oleh darah
kembali ke paru-paru. Tekanan CO2 jaringan akan
meningkat akibat hasil metabolisme, dan tekanan CO2
ini (PCO2) akan lebih tinggi dari PCO2 darah, sehingga
CO2 jaringan akan berdifusi ke dalam darah. Seperti
juga oksigen, karbondioksida juga terikat dengan suatu
bahan kimia dalam darah yang meningkatkan
transport CO2 15-20 kali lipat.Transport CO2 dapat
melewati 3 cara yaitu terikat dengan bikarbonat dan
ini yang terutama, terikat dengan

Regulasi aktifitas pernapasan


1. Kontrol kimiawi
- CO2 : via CSF dan konsentrasi ion H+ cairan
interstitiel otak
- O2 dan ion H : via carotid dan aortic bodies
2. Non kimiawi
- Vagus afferent dari JUP dan paru
- Afferent dari pons, hipothalamus, dan sistem
limbic
- Afferent dari proprioceptors
- Afferent dari baroreseptor

Chemoreseptor batang otak


(kemoreseptor sentral)
Letaknya di medulla bagian ventral & dorsal
Memonitor konsentrasi ion H+ CSF, dan ion
H+cairan interstitiel otak
CO2 darah dgn cepat melewati sawar darah otak
ke CSF H2CO3
H+ + HCO3 Konsentrasi H+ yg tinggi memacu ventilasi

Carotid dan aortic bodies


(kemoreseptor perifer)
Peka terhadap perubahan konsentrasi CO2, O2, dan
ion H+ darah
Kadar pCO2 darah yang terutama merangsang
pernapasan, sebaliknya kekurangan pO2 dan ion
H+ tidak sekuat pengaruh pCO2
Perubahan asam-basa darah juga dikompensasi
oleh respirasi melalui sistem ini (misalnya
hiperventilasi-Kussmaul saat asidosis)

Pengaruh faktor nonkimiawi


terhadap pernapasan
Reseptor bronkial dan reseptor pulmoner yang terdiri atas
reseptor adaptasi cepat dan adaptasi lambat yg keduanya
merupakanserabut saraf bermielin. Terdapat juga reseptor
via c fiber (tdk bermielin)
Dari JUP dan paru : pengaruh vagal yang memendekkan
pernapasan (Hering-Breuer refleks) via reseptor adaptasi
lambat. HB refleks inflasi : ekspirasi meningkat ; HB
refleks deflasi : ekspirasi menurun
J (Juxtacapillary) reseptor (c fiber) distimulasi oleh
hiperventilasi apneu, takipneu, bradikardia
Irritant receptor di trakea (via reseptor adaptasi cepat
batuk, bronkokonstriksi, sekresi mukus hyperventilasi