Anda di halaman 1dari 10

Uji Kuantitatif Senyawa Golongan Antibiotik

I. Tujuan Praktikum
Untuk mengidentifikasi kadar Tetrasiklin HCl dengan menggunakan metode
Spektrofotometri UV-Vis
II. No Sampel
III.Landasan Teori

: 6D

3.1 Prinsip Dasar Spektrofotometri UV-Vis


Prinsip kerja dari spektrofotometri UV-Visible adalah penyerapan cahaya oleh
molekul-molekul. Semua molekul dapat menyerap radiasi dalam daerah UV-Visible
(tampak) karena mereka mengandung elektron, baik berpasangan maupun sendiri
yang dapat dieksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi, panjang gelombang bila
mana absorpsi itu terjadi, bergantung pada kekuatan elektron itu terikat dalam
molekul. Elektron dalam suatu ikatan kovalen tunggal terikat dengan kuat dan
diperlukan radiasi berenergi tinggi atau panjang gelombang rendah untuk eksitasinya.
Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari
spectrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan
panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya
yang di transmisikan atau yang di absorpsi. Spektrofotometri juga merupakan suatu
metode analisis yang berdasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh
suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang yang spesifik dengan
menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dan detector vacuum
phototube atau tabung foton hampa. Alat yang digunakan adalah spektrofotometer,
yaitu sutu alat yang digunakan untuk menentukan suatu senyawa baik secara
kuantitatif maupun kualitatif dengan mengukur transmitan ataupun absorban dari
suatu cuplikan sebagai fungsi dari konsentrasi. (Underwood, 388). Secara umum
spektrofotometri dibedakan menjadi empat macam, yaitu :
a. Spektrofotometer ultraviolet
1

b. Spektrofotometer sinar tampak


c. Spektrofotometer infra merah
d. Spektrofotometer serapan atom
Spektrum elektromagnetik terdiri dari urutan gelombang dengan sifat-sifat
yang berbeda. Kawasan gelombang penting di dalam penelitian biokimia adalah ultra
lembayung (UV, 200-400 nm) dan tampak (VIS, 400-800 nm). Cahaya di dalam
kawasan ini mempunyai energi yang cukup untuk mengeluarkan elektron valensi di
dalam molekul tersebut (Soejadi, 1998).
3.2 Karakteristik Tetrasiklin HCl

HCl

Pemerian

:Kuning,higroskopik, kristal,butiran yang akan menghitam


jika terkena udara atau terkena sinar matahari kuat dan tidak

Kelarutan

berbau
: Larut dalam 1:10 air dan 1:100 etanol, praktis tidak di
kloroform dan eter, larut dalam metanol, alkali hidroksi dan
karbonatDilarutkan dalam air perlu dihidrolisis menjadi

tetrasiklinnya.
BM
: 480,9 Melting point : 2300C
pKa
: 3,3 ;7,7 ; 9,7 (250 C)
pH
: 1,8 dan 2,8
Uji kualitatif
: H2SO4 ungu
(Sumber dari Clarkes )
IV.
Alat dan Bahan
5.1 Alat
a. Spektrofotometer uv-vis
5.2 Bahan :
b. Kuvet
a) Tetrasiklin HCl
c. Pipet tetes
b) Aquadest
d. Vial
c) H2SO4
e. Gelas kimia 250 ml
2

f.
g.
h.
i.

Botol semprot
Labu ukur 10 ml, 100 ml
Pipet volume
Gelas ukur 10 ml

V. Prosedur
1. Isolasi Sampel

Sampel Serbuk

Air
Sentrifuge

Residu

Filtrat

dekantasi

Residu

Filtrat

dekantasi

Residu

Filtrat

Filtrat total 40 ml

Uji Kualitatif +H2SO4

Ad 50 ml aquadest

Coklat keunguan
2. Analisis menggunkan Spektrofotometer UV-Vis
Penetapan blanko aquadest
Penentuan Larutan Standar Tetrasiklin HCl
Penentuan Sampel
Absorbansi
3

VI. Data Hasil Pengamatan

a.

Larutan baku Tetrsasiklin HCl dibuat 500 ppm dalam 100 ml.
Deret pengenceran larutan baku Tetrasiklin HCl
a. 30 ppm
V1 x N1
V1 x 500
V1
b. 25 ppm
V1 x N1

= V2 x N2
= 10 x 30
=

= 0,6 ml ad 10 ml Aquadest

= V2 x N2

V1 x 500
V1
c.

= 10 x 25
=

20 ppm
V1 x N1
V1 x 500
V1

= V2 x N2
= 10 x 20
=

d. 18 ppm
V1 x N1
V1 x 500
V1

V1

= 0,4 ml ad 10 ml Aquadest

= V2 x N2
= 10 x 18
=

e. 17 ppm
V1 x N1
V1 x 500

= 0,5 ml ad 10 ml Aquadest

= 0,36 ml ad 10 ml Aquadest

= V2 x N2
= 10 x 17
=

= 0,34 ml ad 10 ml Aquadest

f. 15 ppm
V1 x N1 = V2 x N2
V1 x 500 = 10 x 15
V1 =

= 0,3 ml ad 10 ml Aquadest

b. Penentuan konsentrasi Tetrasiklin HCl


Hasil isolasi = 40 ml di ad 50 ml
50 ml
1ml
ad 10 ml
1 ml
ad 10 ml

10 x
100 x
10 x

VI.

Hasil Pengamatan
a. Data larutan standar Tetrasiklin HCl dan konsentrasi Tetrasiklin HCl
(sampel 6D)

b.

Abs sampel 6D
Abs Standar Tetrasiklin H
Perhitungan kadar Tetrasiklin HCl (sampel 6D)
y = 0,0326x - 0,259
R = 0,9854
Persamaan :
y = bx + a
y = 0,0326x - 0,259
0,291 = 0,0326x - 0,259
0,291 + 0,259 = 0,0326x
x=
= 16,87116 ppm x 100 x
= 1687,116 ppm

= 84,355 mg

% Tetrasiklin HCl =

x 100%
= 42,177 %

VII. Pembahasan
Analisis penentuan kadar Tetrasiklin HCl dalam sampel pada praktikum kali ini
menggunakan

metode

spektrofotometri

UV-Vis.

Dimana

prinsip

dasar

spektrofotometri UV-Vis yaitu analisa kimia berdasarkan serapan oleh molekul


terhadap gelombang elektromagnetik

(cahaya). Sehingga sehubungan dengan

absorbansi dan transmisi, absorbansi adalah cahaya yang dapat diserap oleh sampel
dan transmisi adalah cahaya yang diteruskan panjang gelombang maksimum,
menentukan kurva standar dan menentukan konsentrasi sampel.
Tetrasiklin HCl dapat menyerap radiasi UV ataupun visible karena memiliki
gugus kromofor dan auksokrom dalam strukturnya. Gugus kromofor adalah ikatan
atau gugus fungsi spesifik dalam molekul yang bertanggung jawab atas penyerapan
cahaya pada panjang gelombang tertentu. Gugus kromofor pada tetrasiklin HCl yaitu
4 gugus benzyl (memiliki ikatan rangkap terkonjugasi) dan gugus karbonil serta
gugus hidroksil. Panjang gelombang serapan maksimum ( max) dan koefisien
ekstingsi molar akan bertambah dengan bertambahnya jumlah ikatan rangkap
7

terkonjugasi. Sedangkan gugus auksokrom adalah gugus fungsi dalam suatu molekul
yang dapat mempengaruhi absorpsi radiasi gugus kromofor, jika gugus auksokrom
terdelokalisasi ke gugus kromofor maka intensitas absorbansi akan meningkat dan
terjadi pergeseran batokromik atau hipsokronik.
Dalam penempatan larutan baku pada kuvet (wadah sampel) yang perlu
diperhatikan agar tidak terjadi kesalahan spektrofotometri adalah kuvet harus bersih,
berkas jari tidak boleh menempel pada kuvet karena dapat menyerap radiasi dan
penempatan kuvet harus sama supaya hasilnya sesuai dengan litelatur, nilai
absorbansi dicatat dan dicari korelasi antara absorbansi dengan konsentrasi melalui
pembuatan kurva kalibrasi serta ditentukan persamaan regresi liniernya, Nilai
absorbansi yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya antara 0,2-0,8.
Pada percobaan ini, praktikan mendapatkan sampel Tetrasiklin HCl dengan
nomor 6D. Hal yang pertama dilakukan adalah pengukuran absorbansi larutan standar
Tetrasiklin HCl untuk membuat kurva kalibrasi. Larutan standar adalah larutan analit
yang telah diketahui konsentrasinya. Pembuatan larutan standar Tetrasiklin HCl
dilakukan dengan cara menimbang 50 mg tetrasiklin HCl lalu dilarutkan dalam 100
ml Aquadest sehingga di dapatkan panjang gelombang maksimal Tetrasiklin HCl
sebesar 242 nm, panjang gelombang tersebut dapat terdeteksi pada spektrofotometri
UV. Aquadest digunakan sebagai pelarut karena Tetrasiklin HCl adal dalam bentuk
garamnya yang dapat larut dalam Aquadest. Dibuatlah kurva standar Tetrasiklin HCl
dimana konsentrasi berbanding lurus dengan absorbansi. Dengan persamaan linier
dan regresi yang di dapatkan adalah y = 0,0326x 0,259 dengan nilai R2= 0,9854
Selanjutnya sampel 6D di isolasi dengan menggunakan pelarut aquadest dimana
sampel ditimbang sebanyak 0,2 gram yang dilarutkan dalam aquadest 15 ml
kemudian divortex dengan tujuan agar Aquadest dapat menarik Tetrasiklin HCl.
Kemudian dilakukan proses sentrifugasi selama 10 menit pada 2000 rpm dengan
tujuan untuk memisahkan Tetrasiklin HCl yang sudah tertarik oleh Aquadest dari
sentratnya. Sampel didekantasi dan di ambil filtratnya yang selanjutnya di uji
kualitatif dengan menggunakan H2SO4 yang hasilnya pada filtrat pertama
8

menghasilkan warna coklat keunguan yang menandakan adanya Tetrasiklin


HCldalam filtrate tersebut.

OH

OH

OH

CH3

OH

H3C
HO
NH2

H
N
H3C

+ H

HSO4

CH3
H

H3N

OH
CH3

OH

Tetracyclin

OH

OH

OH

H
CH3

H3C

HO

OH

OH

+ HSO4-

OH

OH

O
NHSO3H

H
N
H3C

-H2O

OH
CH3

OH

OH

H
CH3

OH

O
NH3+

H
N
H3C

OH
CH3

Perlakuan yang sama dilakukan sampai filtrat yang di uji kualitatif tidak
menghasilkan warna coklat keunguan. Didapatlah hasil isolasi sebanyak 40 ml yang
di ad dengan aquadest sebanyak 50 ml dalam labu ukur.
Sampel diuji menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan menggunakan
panjang gelombang 242 nm sesuai dengan panjang gelombang yang didapat dari
larutan standar Tetrasiklin HCl. Didapatlah nilai Abs dari sampel 2,872. Karena nilai
abs sampel tidak masuk dalam rentang 0,2-0,8 maka sampel dilakukan pengenceran
yaitu dengan mengambil 1 ml dari 50 ml dan di ad sebanyak 10 ml Aquadest.
Didapatkanlah nilai abs sebesar 2,737. Pengenceran dilakukan sampai mendapatkann
nilai abs yang masuk dalam rentang 0,2-0,8. Berdasarkan hasil praktikum nilai abs
yang didapatkan sebesar 0,291 setelah melakukan pengenceran sebanyak 100 x.
Kemudian dihitunglah persen kadarnya, berdasarkan hasil perhitungan di dapatkanlah
persen kadar Tetrasiklin HCl (6D) sebesar 42,177 %.
VIII. Kesimpulan

Dari hasil praktikum menghasilkan nilai abs sampel 6D sebesar 0,291 dengan
persen kadar pada sampel Tetrasiklin HCl 6D sebesar 42,177 %
IX. Daftar Pustaka
Abdul ,rohman, Sudjadi.2008.Analisis Obat. Yogyakarta: Gajah Mada University
Press.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.1979.Farmakope Indonesia Edisi III.
Jakarta :Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen
kesehatan Republik Indonesia.
Ebook Clarkes
Sukarti,Tati.2010.Kimia Analitik.Bandung: Widya Padjadjaran.

10