Anda di halaman 1dari 16

PANDUAN MAHASISWA KEPERAWATAN

KUMPULAN ASUHAN
KEPERAWATAN
(Askep Sialadenitis)

2012

t yG
a iGr lAa .nW
g gO
a .RwDo P
r dRpEr Se S
s s. .Cc O
o mM
W W W . S A K T wY wA wI R. sLaAk N

Page 1

Definisi Sialadenitis
Sialadenitis adalah infeksi berulang-ulang di glandula submandibularis yang dapat
diserati adanya batu (sialolith) atau penyumbatan. Biasanya sistem duktus menderita
kerusakan, jadi serangan tunggal sialadentis submandibularis jarang terjadi. Kelenjar ini
terasa panas, membengkak, nyeri tekan dan merupakan tempat serangan nyeri hebat sewaktu
makan. Pembentukan abses dapat terjadi didalam kelenjar maupun duktus. Sering terdapat
batu tunggal atau multiple (Gordon, 1996).
Sialadenitis merupakan keadaan klinis yang lebih sering daripada pembengkakan
parotid rekuren dan berhubungan erat dengan penyumbatan batu duktus submandibularis.
Penyumbatan tersebut biasanya hanya sebagian dan oleh karena itu gejala yang timbul berupa
rasa sakit postpradial dan pembengkakan. Kadang-kadang infeksi sekunder menimbulkan
sialadenitis kronis pada kelenjar yang tersumbat tersebut, tetapi keadaan ini jarang terjadi.
Kadang-kadang pembengkakan rekuren disebabkan oleh neoplasma yang terletak dalam
kelenjar sehingga penyumbatan duktus (Gordon,1996).

Etiologi Sialadenitis
Sialadenitis biasanya terjadi setelah obstruksi tetapi dapat berkembang tanpa
penyebab yang jelas. Peradangan kronis dapat terjadi pada parenkim kelenjar atau duktus
seperti

batu

(sialolithiasis)

yang

disebabkan

karena

infeksi

(sialodochitis)

dari

Staphylococcus aureus, Streptococcus viridians atau pneumococcus. Selain itu terdapat


komponen obstruksi skunder dari kalkulus air liur dan trauma pada kelenjar. Faktor risiko
yang dapat mengakibatkan sialadenitis antara lain dehidrasi, terapi radiasi, stress, malnutrisi
dan hiegine oral yang tidak tepat misalnya pada orang tua, orang sakit, dan operasi (Gordon,
1996).

Klasifikasi Sialadenitis
a. Sialadenitis akut
Sialadenitis akut akan terlihat secara klinik sebagai pembengkakan atau pembesaran
glandula dan salurannya dengan disertai nyeri tekan dan rasa tidak nyaman serta sering juga
diikuti dengan demam dan lesu. Diagnosis dari keadaan sumbatan biasanya lebih mudah
ditentukan dengan berdasar pada keluhan subjektif dan gambaran klinis. Penderita yang
terkena sialadenitis akut seringkali dalam kondisi menderita dengan pembengkakan yang
besar dari glandula yang terkena. Regio yang terkena sangat nyeri bila dipalpasi dan sedikit
terasa lebih hangat dibandingkan daerah dekatnya yang tidak terkena. Pemeriksaan muara
www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 2

duktus akan menunjukkan adanya peradangan, dan jika terliaht ada aliran saliva, biasanya
keruh dan purulen.
Pasien biasanya demam dan hitung darah lengkap menunjukkan leukositosis yang
merupakan tanda proses infeksi akut. Pemijatan glandula atau duktus (untuk mengeluarkan
secret) tidak dibenarkan dan tidak akan bisa ditolerir oleh pasien. Probing (pelebaran duktus)
juga merupakan kotraindikasi karena kemungkinan terjadinya inokulasi yang lebih dalam
atau masuknya organism lain, yang merupakan tindakan yang harus dihindarkan. Sialografi
yaitu pemeriksan glandula secara radiografis mensuplai medium kontras yang mengandung
iodine, juga sebaiknya ditunda. Bila terdapat bahan purulen, dilakukan kultur aerob dan
abaerob (Gordon, 1996).

b. Sialadenitis kronis
Infeksi atau sumbatan kronis membutuhkan pemeriksaan yang lebih menyeluruh,
yang meliputi probing, pemijatan glandula dan pemeriksaan radiografi. Palpasi pada glandula
saliva mayor yang mengalami keradangan kronis dan tidak nyeri merupakan indikasi dan
seringkali menunjukkan adanya perubahan atrofik dan kadang-kadang fibrosis noduler.
Sialadenitis kronis seringkali timbul apabila infeksi akut telah menyebabkan kerusakan atau
pembentukan jaringan parut atau pembentukan jaringan parut atau perubahan fibrotic pada
glandula.
Tampaknya glandula yang terkena tersebut rentan atau peka terhadap proses infeksi
lanjutan. Seperti pada sialadenotis akut, perawatan yang dipilih adalah kultur saliva dari
glandula yang terlibat dan pemberian antibiotic yang sesuai. Probing atau pelebaran duktus
akan sangat membantu jika sialolit ini menyebabkan penyempitan duktus sehingga
menghalangi aliran bebas dari saliva. Bila kasus infeksi kronis ini berulang-ulang terjadi,
maka diperlukan sialografi dan pemerasan untuk mengevaluasi fungsi glandula. Jika terlihat
adanya kerusakan glandula yang cukup besar, perlu dilakukan ekstirpasi glandula.
Pengambilan submandibularis tidak membawa tingkat kesulitan bedah dan kemungkinan
timbulnya rasa sakit sebagaimana pengambilan glandula parotidea. Karena kedekatannya
dengan n. facialis dan kemungkinan cedera selama pembedahan, maka glandula parotidea
yang mengalami gangguan biasanya dipertahankan lebih lama dari pada jika kerusakan
mengenai glandula submandibula (Gordon, 1996).
c. Sialadenetis supuratif
Sialadenitis supuratif akut lebih jarang terjadi pada glandula submandibularis, dan
jika ada, seringkali disebabkan oleh sumbatan duktus dari batu saliva atau oleh benturan
www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 3

langsung pada duktus. Dilakukan pemeriksaan kultur dari sekresi purulen dan terapi
antibiotic. Jika batu terletak pada bagian distal duktus (intraoral), batu harus dikeluarkan. Jika
sialolit terletak pada duktus proksimal. Kadang-kadang glandula harus dipotong untuk
mengontrol infeksi akut (Gordon, 1996).

Manifestasi Klinis Sialadenitis


Gejala yang timbul biasanya unilateral dan terdiri dari pembengkakan dan rasa sakit,
serta trismus ringan. Pada tahap ini belum dapat dilakukan penentuan diagnosa yang dapat
ditentukan bila telah terjadi serangan berulang kali. Pembengkakan terjadi selama 2-10 hari
dan serangan terulang kembalisetelah beberapa minggu atau bulan. Pembengkakan yang
rekurens dan nyeri didaerah kelenjar submandibula (Haskel, 1990).
Demam terjadi jika timbul infeksi, menggigil, dan nyeri unilateral dan pembengkakan
berkembang. Kelenjar ini tegas dan lembut difus, dengan eritema dan edema pada kulit di
atasnya. Nanah sering dapat dinyatakan dari saluran dengan menekan kelenjar yang terkena
dampak dan harus berbudaya. Focal pembesaran mungkin menunjukkan abses. Sekresi air
liur yang sangat kental dapat dikeluarkan dari duktus dengan melakukan penekanan pada
kelenjar. Kelenjar ini dapat terasa panas dan membengkak (Haskel, 1990).

Patofisiologi Sialadenitis
Infeksi dari sialadenitis pada kelenjar submandibular memberikan manifestasi nyeri
lokal dan bengkak. Kondisi kronis dari sialadenitis menjadikan bentuk supuratif dan dapat
mengakibatkan pembentukan abses submandibular sehingga menifestasi demam dan trimus
yang mungkin juga menunjukkan keterlibatan pada parapharyngeal. Kondisi sialadenitis
memberikan berbagai masalah keperawatan pada pasien. Adanya respon inflamasi sistemik
dari abses memberikan manifestasi peningkatan suhu tubuh. Manifestasi respon
ketidaknyamanan nyeri dan trimus memberikan manifestasi nyeri serta ketidakseimbangan
pemenuhan nutrisi.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 4

WOC

invasi
staphylococus
invasi staphylococus
vindans,haemophilus
influenzae,
streptococcus pyogens,
dan escherichia coli ke
kelenjar saliva

Sialadenitis

Dehidrasi pascaoperasi,
terapi radiasi, dan
umunosupresi ( misal
DM, Transplantasi
organ, kemoterapi, HIV)

Respon inflamasi
lokal
Respons Inflamasi
sistemik

Sensitivitas serabut
saraf

Hipertermi

Nyeri

intake nutrisi tidak


adekuat akibat dari
trismus rahang

ketidakseimbangan
nutrisi

Penatalaksanaan Sialadenitis
Pada semua keadaan, lubang masuk duktus harus diperlebar dengan beberapa probe
lakrimal. Batu pada duktus dapat dikeluarkan dengan membuat insisi ke duktus dari mukosa
mulut. Batu yang terletak lebih di dalam, memerlukan insisi linear eksternal.
Bila faktor penyebab tidak dapat dihilangkan, sebaiknya usahakan untuk
memperbesar aliran dengan cara mengunyah permen karet. Periode akut dapat dikontrol
dengan kombinasi antibiotic dan massage kelenjar. Pada keadaan yang lebih parah, gejala
yang ada dapat dikontrol dengan pengikatan duktus atau parotidektomi permukaan.
Pengikatan duktus hanya dilakukan bila ada hiposekresi yang hebat, mialnya bila
sindrom sicca atau kerusakan kelenjar telah sangat besar. Bila kecepatan sekresi tinggi,
parotidektomi merupakan indikasi. Kadang-kadang terjadi infeksi akut pada kelenjar yang
tersumbat, dan perawatan dengan antibiotic (terutama penisilin) diperlukan sebelum
perawatan yang lebih menyeluruh dilakukan.
Langkah pertama adalah untuk memastikan Anda memiliki cukup cairan dalam tubuh
Anda. Anda mungkin harus menerima cairan intravena (melalui pembuluh darah).
Berikutnya, Anda akan diberikan antibiotik untuk menghancurkan bakteri. Setelah saldo
www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 5

cairan telah dipulihkan, dokter gigi Anda dapat merekomendasikan permen asam tanpa gula
atau permen. Mereka dapat merangsang tubuh memproduksi air liur lebih banyak. Jika
infeksi tidak membaik, Anda mungkin memerlukan pembedahan untuk membuka dan
tiriskan kelenjar. Jika sialadenitis disebabkan oleh batu di saluran, batu itu mungkin perlu
dihilangkan dengan operasi (Haskel, 1990).

Pemeriksaan Penunjang Sialadenitis


Hasil pemeriksaan menunjukkan pembengkakan elastic yang nyeri serta pre-aurikular,
dengan kulit di atasnya normal. Lubang masuk duktus meradang dan jumlah sekresi ludah
berkurang, sedang massage kelenjar dapat menghasilkan kotorsn flokulen kental disertai
aliran ludah yang deras. Radiograf pada bidang postero-anterior bagian depan duktus, dengan
film yang diletakkan pada pipi dapat menunjukkan batu, bila batu tersebut memang ada.
Sialograf harus dilakukan pada setiap keadaan diantara serangan akut yang satu ke
serangan berikut, dan dapat menunjukkan pembesaran duktus utama, penyempitan, cacat
radiolusen (baturadiolusen), sialektasis (sindrom sicca), atau pada keadan yang sangat parah,
ketidak teraturan yang menyeluruh. Keadaan abnormal terbatas pada cabang duktus dan
daerah-daerah yang berhubungan dengannya.
Pemeriksaan

jumlah

ludah

yang

berkurang

memang

dianjurkan,

untuk

membandingkan aliran dari kelenjar ini dengan kelenjar lain, tetapi cara pemeriksaan ini
masih dalam penelitian. Kanula Lashley dipasang pada tiap duktus atau ludah ditampung
setelah paien mengunyah permen karet atau setelah dilakukan penyuntikan pilokarpin secara
intravena. Kecepatan aliran ludah yang normal 1 ml per menit dan pada sebagian besar
keadaan tersebut biasanya bersifat bilateral.
Bila terdapat sindrom sicca, dapat terjadi penurunan sekresi yang simetris. Prognosa
keadaan ini berhubungan dengan kecepatan sekresi, prognosa lebih baik bila volume sekresi
normal atau sedikit berkurang.
Pembengkakan rekuren (submandibula) disebabkan oleh neoplasma yang terletak
dalam kelenjar yang menimbulkan penyumbatan duktus. Hasil pemeriksaan menunjukkan
kelenjar submandibula yang membesar, keras, dan pembengkakan dapat dilihat dengan
meminta pasien mengingat makanan yang disenanginya atau mengisap jeruk. Hasil
pemeriksaan juga menunjukkan berkurangnya aliran ludah dari duktus yang terserang.
Hasil pemeriksaan radiograf yang oblique dan oklusal dari dasar mulut menunjukkan
adanya batu. Perawatan dari keadaan ini meliputi pengeluaran batu bila batu terletak di atas
otot milohoid atau memotong kelenjar bila batu terletak di bawah daerah yang masih dapat
www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 6

dicapai secara intra-oral. Pemotongan kelenjar juga perlu dilakukan bila gejala yang hebat
timbul berulang kali. Keadaan ini, seperti terlihat pada hasil sialograf, berhubungna dengan
kerusakan kelenjar yang sangat luas dan sialektasis yang mungkin berasal dari infeksi atau
penyempitan duktus (Gordon, 1996).

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 7

ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian
Dalam mengevaluasi pasien dengan sialadenitis ,langkah-langkah yang harus diambil dalam
urutan sebagai berikut : pengkajian riwaya, pemeriksaan fisik, budaya, penyelidikan
laboratorium, radiografi, dan jika diidikasikan dengan melakukan aspirasi jarum halus
biopsi(FNAB).
Pengkajian anamnesis biasanya didapatkan adanya keluhan demam,nyeri pada
mandibula, kehilangan nafsu makan, dan kaku rahang(sulit membuka mulut).Ada riwayat
pascaoperasi

terapi

radiasi,dan

imunosupresi(misalnya

diabetes

melitus,transplatasi

organ,kemoterapi,humanimunodeficiency virus).Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya


pembesaran pada submandibular.
Dari semua uji radiologis yang tersedia,salah satu yang sederhana adalah polos
konvensional radiografi.Anteroposterior,lateral,dan intraoral occlusal pandangan lateral untuk
menilai adanya kelainan pada bagian submandibula.
Computed tomography scan merupakan modalitas yang sangat baik dalam
membedakan intrinsik versus penyakit kelenjar ekstrinsik.Hal ini juga sangat berharga dalam
menentukan pembentukan asbes.Pada pengkajian diagnostik CT Scan di dapatkan
pembesaran kelenjar submandibula.
Pengkajian Penatalaksanaan Medis
1. Istirahat di tempat tidur selama masa panas dan pembengkakan mas saliva.
2. Dalam kasus akut sialadenitis ,hidrasi yang memadai harus terjamin dan
ketidakseimbangan elektrolit diperbaiki.
3. Simtomatik diberikan kompres hangat dan juga diberikan analgetika.Dapat digunakan
obat pereda panas dan nyeri (antipiretik dan analgesik) misalnya parasetamol dan
sejenisnya.
4. Antibiotik,klindamisin (900 mg secara IV atau 300 mg PO) selama 7-10 hari
(Yoskovitch,2009).
5. Terapi bedah.Pertimbangan insisi dan drainase versus eksisi kelenjar pada kasus yang
tahan dengan terapi antibiotik, terapi insisi dan drainase dengan adanya pembentukan
abses serta terapi eksisi kelenjar pada kasus akut sialadenitis yang bersifat rekuren
(Yoskovitch,2009).

Diagnosis Keperawatan

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 8

1. Perubahan pemenuhan nutrisi b.d ketidakadekuatan asupan nutrisi sekunder dari


nyeri,ketidaknyamanan oral.
2. Hipertermi b.d respon inflamasi sistemik dari supurasi abses submandibular.
3. Nyeri b.d respon sensitivitas saraf sekunder dari respon inflamasi lokal.

Rencana Keperawatan
1. Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d ketidak adekuatan intake
nutrisi,respon sekunder dari nyeri,ketidaknyamanan oral.
Tujuan : Dalam waktu 1x24 jam pemenuhan status nutrisi dapat dimengerti pasien.
Kriteria evaluasi :
a. Pasien mampu menjelaskan kembali pendidikan kesehatan yang diberikan.
b. Pasien mampu termotivasi untuk melaksanakan anjuran yang telah diberikan.
Intervensi

Rasional

Kaji pengetahuan keluarga pasien tentang Tingkat

pengetahuan

status nutrisi.

sosial

kondisi

menggunakan
dengan

perawat

ekonomi
pendekatan

kondisi

mengetahui

dipengaruhi

individu

tingkat

dapat

pasien.Perawat
yang

sesuai

pasien.Dengan

pengetahun

lebih

oleh

terarah

tersebut
dalam

memberikan pendidikan yang sesuai dengan


pengetahuan pasien secara efisiensi dan
efektif.
Evaluasi

adanya

alergi

kontraindikasi makanan.

makanan

dan Beberapa pasien mungkin mengalami alergi


terhadap

beberapa

komponen

makanan

tertentu dan beberapa penyakit lain seperti


diabetes melitus,hipertensi,gout,dan lainnya
memberikan manifestasi terhadap persiapan
komposisi makanan yang diberikan.
Mulai dengan makanan kecil dan tingkatan Kandungan makanan dapat mengakibatkan
sesuai dengan toleransi.

ketidaktoleransian GI sehingga memerlukan


perubahan pada kecepatan atau tipe formula.

Berikan diet secara rutin.

Pemberian rutin tiga kali sehari dengan


ditunjang pemberian reseptor penghambat H2

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 9

memiliki arti peningkatan efisiensi dan


efktivitas dalam persiapan materiala makanan
dan

makanan

masih

dalam

keadaan

hangat,serta memudahkan perawat dan ahli


gizi dalam memantau kemempuan makanan
dari pasien.
Hal ini dengan pemberian diet secara rutin
akan memberikan kondisi normal terhadap
fungsi gastrointestinal dalam melakukan
aktivitas rutin selama dirawat dan setelah
pasien pulang kerumah.
Kolaborasi

dengan

tim

medis

untuk

pemberian :
a. Pemakaian

penghambat

(Seperti cimetidin/ranitidin)

H2 Cimetidin

penghambat

,menurunkan

histamin

produksi

asam

H2
gaster

,meningkatkan PH gaster ,menurunkan iritasi


pada

mukosa

gaster

,penting

untuk

penyembuhan dan pencegahan lesi.

Sukralfat atau antasid

Antasida untuk mempertahankan PH gaster


pada tingkat 4,5.

2. Nyeri b.d respon sensivitas saraf lokal sekunder dari respon inflamasi lokal
Tujuan : Dalam waktu 1x24 jam terjadi penurunan tingkat nyeri atau teradaptasi.
Kriteria evaluasi :
b. Pasien menyatakan nyeri berkurang atau teradaptasi.
c. Secara umum pasien terlihat rileks dan tanda ketidaknyamanan pada gigi dan gusi
tidak direflesikan.

Intervensi

Rasional

Kaji nyeri dengan pendekatan PQRST

Keluhan nyeri yang dikemukakan oleh setiap


individu bersifat subjektif yaitu ngilu,nyeri

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 10

kadang timbul ,dan berdenyut.


Kaji dampak nyeri dengan respon fisiologis

Kecemasan dan rasa nyeri merupakan dua hal


yang sangat berpengaruh terhadap perilaku
pasien dalam perawatan gigi.
Pengalaman rasa nyeri pada saat perawatan
gigi

menjadi

perhatian

terhadap

kesejahteraannya dan memotivasi pasien agar


segera memeriksakan gigi yang bermasalah
sehingga

dapat

melaksanakan

tindakan

preventif dengan baik.


Kaji kemampuan kontrol nyeri pasien

Banyak

faktor

fisiologi

(motivasi

,afektif,kognitif,dan
emosional)mempengaruhi persepsi nyeri.
Lakukan manajemen nyeri keperawatan :
Istirahat secara fisiologis akan menurunkan

a. Istirahatkan pasien

kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk


memenuhi kebutuhan metabolisme basal.

b. Ajarkan teknik relaksasi pernapasan Meningkatkan asupan oksigen sehingga akan


dalam pada saat nyeri muncul.

menurunkan nyeri sekunder dan iskemia


pada daerah mulut.

c. Ajarkan teknik distraksi pada saat Distraksi

(pengalihan

perhatian)

dapat

menurunkan stimulus internal.

nyeri.

Manajemen nyeri pada saat nyeri berupa


d. Lakukan manajemen sentuhan.

sentuhan

dukungan

psikologis

dapat

membantu menurunkan nyeri.


Masase ringan dapat meningkatkan aliran
darah dan membantu suplai darah dan
oksigen ke area nyeri.

e. Tingkatkan pengetahuan tentang : Pengetahuan yang akan dirasakan membantu

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 11

sebab-sebab

nyeri

dan mengurangi nyerinya dan dapat membantu

menghubungkan berapa lama nyeri mengembangkan kepatuhan pasien terhadap


akan berlangsung.
Kolaborasi

dengan

rencana terapeutik.

dokter

pemberian Analgetik memblok lintasan nyeri sehingga

analgetik.

nyeri akan berkurang.

3. Hipertermi b.d respons inflamasi sistemik


Tujuan : Dalam waktu 1x24 jam terjadi penurunan suhu tubuh.
Kriteria evaluasi :
a. Pasien mampu menjelaskan kembali pendidikan kesehatan yang diberikan.
b. Pasien mampu termotivasi untuk melaksanakan penjelasan yang telah diberikan.
Intervensi
Kaji

pengetahuan

pasien

Rasional
dan

tentang cara mengukur suhu tubuh.

keluarga Sebagai

data

dasar

untuk

memberikan

intervensi selanjutnya.

Anjurkan keluarga untuk membatasi aktivitas Penurunan aktivitas akan menurunkan laju
pasien.

metabolisme yang tinggi pada fase akut


parotitis

,dengan

demikian

membantu

menurunkan suhu tubuh.


Atur lingkungan yang kondusif.

Kondisi ruang kamar yang tidak panas,tidak


bising,dan sedikit pengunjung memberikan
efektivitas

terhadap

proses

penyembuhan.Pada suhu ruangan kamar


yang tidak panas akan terjadi perpindahan
suhu

tubuh

ruangan.Proses

dari

tubuh

pengeluaran

pasien
ini

ke

disebut

dengan radiasi dan konveksi.Proses radiasi


merupakan pengeluaran suhu tubuh yang
paling efektif,dimana sekitar 60% suhu tubuh
dapat berpindah melalui radiasi,sedangkan
melalui konveksi 15%.Perawat melakukan
intervensi penting agar suhu ruangan kamar
tidak boleh berubah suhu menjadi dingin
secara tiba-tiba karena memberikan resiko

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 12

penurunan suhu tubuh yang begitu cepat dan


berpengaruh terhadap tingkat toleransi anak.
Beri

kompres

dengan

air

dingin

(air Secara konduksi dan konveksi panas tubuh

biasa)pada daerah aksila ,lipat paha ,dan akan berpindah dari tubuh material yang
temporal bila terjadi panas.

dingin.
Area yang digunakan adalah tempat dimana
pembuluh darah arteri besar berada sehingga
meningkatkan

efetivitas

dari

proses

konduksi.
Anjurkan

keluarga

untuk

memakaikan Pengeluaran

suhu

tubuh

dengan

cara

pakaian yang dapat menyerap keringat seperti evaporasi berkisar 22% dari pengeluaran
katun.

suhu tubuh.Pakaian yang mudah menyerap


keringat sangat efektif meningkatkan efek
dari evaporasi.

Anjurkan keluarga untuk melakukan masase Masase dilakukan untuk meningkatkan aliran
pada ekstermitas.

darah ke perifer dan terjadi vasodilatasi


perifer

yang

akan

evaporasi.Penggunaan

meningkatkan
cairan

efek

penghangat

seperti minyak kayu putih dapat digunakan


untuk meningkatkan efektivitas intervensi
masase.
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Antipiretik bertujuan untuk memblok respon
obat antipiretik.

panas sehingga suhu tubuh pasien dapat lebih


cepat menurun.

Evaluasi
Evaluasi yang diharapkan setelah diberikan intervensi adalah sebagai berikut :
1. Pemenuhan nutrisi yang optimal.
2. Terjadi penurunan respon nyeri.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 13

3. Suhu tubuh kembali normal.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 14

PENUTUP

Simpulan
Sialadenitis adalah infeksi berulang-ulang di glandula submandibularis yang
dapat diserati adanya batu atau penyumbatan. Biasanya sistem duktus menderita kerusakan,
jadi serangan tunggal sialadentis submandibularis jarang terjadi. Kelenjar ini terasa panas,
membengkak, nyeri tekan dan merupakan tempat serangan nyeri hebat sewaktu makan.
Pembentukan asbes dapat terjadi didalam kelenjar maupun duktus. Sering terdapat batu
tunggal atau multiple.
Peradangan kronis pada Sialadenitis dapat terjadi pada parenkim kelenjar atau
duktus seperti batu (sialolithiasis) yang disebabkan karena infeksi (sialodochitis) dari
Staphylococcus aureus, Streptococcus viridians atau pneumococcus. Selain itu terdapat
komponen obstruksi skunder dari kalkulus air liur dan trauma pada kelenjar. Faktor risiko
yang dapat mengakibatkan sialadenitis antara lain dehidrasi, terapi radiasi, stress, malnutrisi
dan hiegine oral yang tidak tepat.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 15

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Sialadenitis. http://en.wikipedia.org/wiki/Sialadenitis, diakses tanggal 23


Oktober 2010
Doenges. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: Penerbit buku Kedokteran
EGC
Greenberg. 2005. Teks Atlas Kedokteran Kedaruratan. Jakarta: Erlangga
Ngastiyah. 2007. Perawatan Pada Anak. Jakarta: EGC
Nelson. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15. Jakarta: EGC
Pedersen, Gordon W. 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Jakarta: EGC
Haskel, R. 1990. Penyakit Mulut. Jakarta: EGC
Lewis, Michel A.O. 1998. Tinjauan Klinis Penyakit Mulut. Jakarta: Widya Medika
Lynch, Malcolm A. 1997. Oral Medicine. United States of America: Lippincott Raven
Publishe

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 16