Anda di halaman 1dari 4

Spektrofotometri merupakan istilah umum yang dipakai dalam sains terkait dengan

interaksi berbagai jenis dengan materi. Metode spektroskopi merupakan metode analisa
dengan ruang lingkup sangat besar yang didasarkan atas spektroskopi atom dan molekul.
Metode spektrometri mengacu pada pengukuran intensitas radiasi dengan tranduser
fotoelektrik atau alat elektronik lainnya (Mudrawan, 2009).
Pengabsorpsian sinar ultraviolet atau sinar tampak oleh suatu molekul umumnya
menghasilkan eksitasi elektron bonding, akibatnya panjang gelombang absorpsi maksimum
dapat dikorelasikan dengan jenis ikatan yang ada didalam molekul yang sedang diselidiki.
Oleh karena itu spektroskopi serapan molekul berharga untuk mengidentifikasi gugus-gugus
fungsional yang ada dalam suatu molekul. Akan tetapi yang lebih penting adalah penggunaan
spektroskopi serapan ultraviolet dan sinar tampak untuk penentuan kuantitatif senyawasenyawa yang mengandung gugus-gugus pengabsorpsi.
Metode spektroskopi sinar tampak berdasarkan penyerapan sinar tampak oleh suatu
larutan berwarna. Oleh karena itu metode ini dikenal juga sebagai metode kalorimetri. Hanya
larutan senyawa yang berwarna ynag dapat ditentukan dengan metode ini. Senyawa tak
berwarna dapat dibuat berwarna dengan mereaksikannya dengan pereaksi yang menghasilkan
senyawa berwarna. Contohnya ion Fe3+ dengan ion CNS- menghasilkan larutan berwarna
merah. Lazimnya kalorimetri dilakukan dengan membandingkan larutan standar dengan
cuplikan yang dibuat pada keadaan yang sama. Dengan kalorimetri elektronik (canggih)
jumlah cahaya yang diserap (A) berbanding lurus dengan konsentrasi larutan.
Penentuan kadar besi berdasarkan pada pembentukan senyawa kompleks berwarna
antara besi (II) dengan orto-penantrolin yang dapat menyerap sinar tampak secara maksimal
pada panjang gelombang tertentu. Kadar logam seperti Fe dalam sampel alam maupun
produk yang tersebar dimasyarakat dapat ditentukan dengan menggunakan instrumen ini.
Penentuan kandungan besi dalam suatu sampel dilakukan secara spektrofotometri
menggunakan pengompleks orto-fenantrolin yang memerlukan zat pereduksi untuk
mereduksi Fe3+ menjadi Fe2+. Pereduksi yang sering digunakan NH2OH.HCl
4Fe3+ + 2NH2OH 4Fe2+ + N2O + 6H+ + H2O
Hydroxylamine
Analisis spektrofotometri campuran Fe2+ dan Fe3+ secara umum merupakan metode
tidak langsung yang dilakukan secara bertahap. Ortho-fenantrolin atau o-fenantrolin sebagai
agen pengompleks dapat berikatan dengan Fe2+ dan Fe3+ membentuk kompleks berwarna
berbeda, sehingga diharapkan Fe2+ dan Fe3+ dalam campuran bisa ditentukan secara langsung
sebagai senyawa kompleks dengan metode spektrofotometri. Senyawa kompleks berwarna

merah-orange yang dibentuk antara besi (II) dan 1,10-phenantrolin (orto-phenantrolin) dapat
digunakan untuk penentuan kadar besi dalam sari kacang hijau yang dijual dipasaran. Reagen
yang bersifat basa lemah dapat bereaksi membentuk ion phenanthrolinium, phen H + dalam
medium asam. Pembentukan kompleks besi phenantrolin dapat ditunjukkan dengan reaksi:
3C12H8N2 + Fe2+ [(C12H8N2)3Fe]2+
Orange-red
Fe2+ + 3 phen H+ Fe(phen)32+ + 3H+

+
N

Fe2+

Fe

2+

N
N

Gambar 1. Pembentukan kompleks besi phenantrolin

Tetapan pembentukan kompleks adalah 2.510-6 pada 25oC. Besi (II) terkomplekskan
dengan kuantitatif pada pH 39. pH 3,5 biasa direkomendasikan untuk mencegah terjadinya
endapan dari garambesi, misalnya fosfat. Kelebihan zat pereduksi, seperti hidroksilamin
diperlukan untuk menjamin ion besi berada pada keadaan tingkat oksidasi 2 + (Hendayana et
al, 1994).
Dengan menggunakan penentuan kadar konsentrasi, suatu senyawa dilakukan dengan
membandingkan kekuatan serapan cahaya oleh larutan contoh terhadap terhadap larutan
standar yang telah diketahui kunsentrasinya. Terdapat dua cara standar adisi, pada cara yang
pertama dibuat dahulu sederetan larutan standar, diukur serapannya, kemudian tentukan
konsentrasinya dengan menggunakan cara kalibrasi. Cara yang kedua dilakukan dengan
menambahjkan sejumlah larutan contoh yang sama kedalam larutan standar.
Salah satu metode yang cukup handal pada spektrofotometer adalah adisi standar.
Metode adisi standar merupakan penambahan larutan standar ke dalam sampel. Metoda ini
dipakai secara luas karena mampu meminimalkan kesalahan yang disebabkan oleh perbedaan
kondisi lingkungan (matriks) sampel dan standar. Dalam metoda ini dua atau lebih sejumlah
volume tertentu dari sampel dipindahkan ke dalam labu takar. Satu larutan diencerkan sampat
volume tertentu kemudian diukur absorbansinya tanpa ditambah dengan zat standar,
sedangkan larutan yang lain sebelum diukur absorbansinya ditambah terlebih dulu dengan

sejumlah tertentu tarutan standar dan diencerkan seperti pada larutan yang pertama. Menurut
hukum Beer akan berlaku hal-hal berikut :
Ax = k.Cx

AT = k(Cs + Cx)

Dimana.,
Cx = konsentrasi zat sampel
Cs = konsentrasi zat standar yang ditambahkan ke larutan sampel
Ax = Absorbansi zat sampel (tanpa penambahan zat standar)
Ar = Absorbansi zat sampel + zat standar
Jika kedua persarnaan diatas digabung akan diperoleh:
Cx = Cs x {Ax/(AT - Ax)}
Konsentrasi zat dalam sampel (Cx) dapat dihitung dengan mengukur Ax dan AT dengan
spektrofotometer. Jika dibuat suatu seri penambahan zat standar dapat pula dibuat suatu
grafik antara AT lawan Cs, garis lurus yang diperoleh diekstrapolasi ke AT = 0, sehingga
diperoleh:
Cx = Cs x {Ax/(O - Ax)} ; Cx = Cs x (Ax /-Ax)
Cx = Cs x ( -1) atau Cx = - Cs
Bentuk garis dari metode adisi standar adalah sebagai berikut:

Gambar 2. Kurva adisi standar

Pada praktikum ini akan dilakukan penentuan kadar zat besi dalam sari kacang hijau
kemasan dengan metode adisi standar. Kacang hijau (Phaseolus radiatus L.) dianggap
sebagai sumber bahan makanan padat gizi yang banyak dikonsumsi rakyat Indonesia. Kacang
hijau mengandung vitamin dan mineral. Mineral seperti kalsium, fosfor, besi, natrium dan
kalium banyak terdapat pada kacang hijau (Astawan dalam Rimayani, 2012).

Di masyarakat dikenal dua bentuk kacang hijau yaitu kacang hijau utuh (dengan kulit
biji) dan kacang hijau tanpa kulit biji. Umumnya kacang hijau utuh diolah menjadi bubur,
sementara kacang hijau tanpa kulit biji diolah untuk dijadikan isi kue. Kandungan besi
sebesar 6,7 mg/100 g yang terdapat di dalam kacang hijau (Rukmana dalam Rimayani, 2012)
diyakini dapat memberikan kontribusi terhadap pencegahan anemia.

Hendayana, S., Kadarohman, A., Sumarna, A., dan Supriatna, A., 1994. Kimia Analitik
Instrumen, edisi ke-1 . Semarang: IKIP Press
Muderawan, I Wayan. 2009. Analisis Instrumen. Singaraja: Jurusan Pendidikan Kimia,
UNDIKSHA.
Rimayani, Lisda. 2012. Skripsi Penetapan Kadar Besi dan Kalsium dalam Kacang Hijau
(Phaseolus Radiatus L.) dengan dan Tanpa Kulit Biji yang Terdapat Di Pasaran Secara
Spektrofotometri Serapan Atom. Medan: Universitas Sumatra Utara
Purnama, Yatvika Dwi. 2010. Penentuan Kadar Besi dalam sampel. Diakses dari
tivachemchem.blogspot.com pada tanggal 28 April 2015
Anonim. 2011. Metode Penambahan Standar. Diakses dari oshin-mungil.blogspot.com pada
tanggal 28 April 2015