Anda di halaman 1dari 100

OTITIS MEDIA SUPURATIF AKUT

PENDAHULUAN

Otitis media ialah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba Eustachius,

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

antrum mastoid dan sel-sel mastoid.

Otitis media terjadi karena faktor pertahan tubuh yang terganggu, adanya infeksi serta sumbatan
tuba Eustachius yang disebabkan oleh sekret, tampon dan tumor merupakan faktor penyebab utama.
Karena fungsi tuba Eustachius terganggu, pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah juga
terganggu, sehingga kuman masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi peradanganSelain itu otitis
media juga terjadi pada bayi/anak yang mempunyai riwayat infeksi saluran nafas atas (ISPA).
Otitis media dapat menyebabkan komplikasi seperti mastoiditis, meningitis

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

otogenik, dan abses otak. Dasar dalam pengobatan otitis media terdiri dua

yaitu terapi farmakologi seperti antibiotika, obat tetes hidung, dan anakgetika,
sedangkan terapi bedah pula berupa miringotomi.
Pencegahan untuk otitis media dapat dilakukan secara dengan profilaksis
antibiotik, perubahan gaya hidup, operasi, evaluasi imunologi dan pemberian
vaksin. Prognosis otitis media umumnya baik dengan penanggulangan yang

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

tepat dan cepat hingga tidak menyebabkan kematian.

4
Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

1. KATA PENGANTAR

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Pertama-tama penulis mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah

memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya.
Makalah ini merupakan salah satu tugas PBL (Problem Based Learning) Blok 23: Special
Senses yang di berikan oleh Dosen pengajar. Besar harapan penulis agar makalah ini dapat berguna
dan memberikan informasi bagi seluruh pembaca.
Dalam pembuatan makalah ini, penulis menyadari adanya berbagai kekurangan, baik dalam

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

isi materi maupun penyusunan kalimat. Namun demikian, perbaikan merupakan hal yang berlanjut

sehingga kritik dan saran untuk penyempurnaan makalah ini sangat penulis harapkan supaya karya
yang lebih baik dapat dihasilkan.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada tutor dan teman-teman sekalian yang telah
membaca dan mempelajari makalah ini.

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Akhir kata selamat membaca.

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Jakarta, 22 Maret

2011

Emir Afif

9
Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

MATERI

RUMUSAN MASALAH

10

1. Anak menangis dan memegangi telinga kanan.


2. 3 minggu lalu demam, batuk dan pilek.
DEFINISI
Otitis media ialah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba Eustachius,

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

antrum mastoid dan sel-sel mastoid.(1)

11

2. PEMERIKSAAN
Rekam medis-status pasien terdiri dari :
Anamnesis

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Penunjang (Laboratorium / Rontgen)

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

12

Diagnosis Kerja

Diagnosis Banding

Penatalaksanaan

Prognosis

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

3.1 Anamnesis(2)

13

Dilakukan secara allo anamnesis


Data identitas pasien secara lengkap
Riwayat penyakit sekarang
Riwayat penyakit dahulu
Menanyakan riwayat penyakit sebelumnya jika ada

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Riwayat imunisasi

14

Jenis imunisasi yang sudah didapatkan dan yang belum ditanyakan


serta umur mendapatkan imunisasi dan reaksi dari imunisasi.

Keluhan penyakit yang dialami :

Tanyakan apakah ada keluhan :


gangguan pendengaran/pekak (tuli)

bila ada keluhan gangguan pendengaran, perlu ditanyakan apakah keluhan tersebut

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

pada

15

satu atau kedua telinga, timbul tiba-tiba atau bertambah berat secara bertahap dan
sudah
berapa lama diderita.
- adakah riwayat trauma kepala, telinga tertampar, trauma akustik, terpajan bising,
pemakaian obat ototoksik sebelumnya atau pernah menderita penyakit infeksi virus

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

seperti parotitis, influenza berat dan meningitis.

16

suara berdenging/berdengung (tnitus)

dapat berupa berdengung atau berdenging, yang dirasakan di kepala atau di telinga, pada
satu sisi atau kedua telinga.
rasa pusing yang berputar (vertigo)

keluhan ini merupakan gangguan keseimbangan dan rasa ingin jatuh yang disertai rasa

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

mual, muntah, rasa penuh di telinga, telinga berdenging yang mungkin kelainannya

17

terdapat terdapat di labirin. Bila vertigo disertai keluhan neurologis seperti disartri,
gangguan penglihatan kemungkinan letak kelainannya di sentral. Apakah keluhan ini
timbul pada posisi kepala tertentu dan berkurang bila pasien berbaring dn akan
timbul
lagi bila bangun dengan gerakan yang cepat. Kadang-kadang keluhan vertigo akan

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

timbul

18

bila ada kekakuanotot-otot di leher. Penyakit diabetes melitus, hipertensi,


arteriosklerosis,
penyakit jantung, anemia, kanker, sifilis dapat juga menimbulkan keluhan vertigo
dan
tinitus.
rasa nyeri di dalam telinga (otalgia)

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

19

bila ada keluhan dalam telinga perlu ditanyakan apakah pada telinga kiri atau kanan dan
sudah berapa lama. Nyeri alih ke telinga (referred pain) dapat berasal dari rasa nyeri
di
gigi molar atas, sendi mulut, dasar mulut, tonsil atau tulang servikal karena telinga
dipersarafi oleh saraf sensoris yang berasal dari organ-organ tersebut
keluar cairan dari telinga (otore)

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

20

sekret yang keluar dari liang telinga di sebut otore. Ditanyakan apakah sekret ini
keluar dari satu atau kedua telinga, disertai nyeri atau tidak dan sudah berapa lama.
Sekret yang sedikit biasanya berasal dari infeksi telinga luar dan bersifat mukoid
umumnya berasal dari telinga tengah. Bila berbau busuk menandakan adanya
kolesteatom. Bila bercampur darah harus dicurigai adanya infeksi akut yang berat
atau tumor. Bila cairan yang keluar seperti air jernih, harus waspada adanya cairan

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

liquor serebral.

21

Pada anak yang sudah dapat berbicara keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinganya,
keluhan di samping suhu tubuh yang tinggi. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek

sebelumnya.
Pada anak yang lebih besar atau pada orang dewasa, selain rasa nyeri terdapat pula

gangguan pendengaran berupa rasa penuh di telinga atau rasa kurang dengar.
Pada bayi dan anak kecil sering terlihat gejala khas OMA seperti suhu tinggi dapat sampai
39,5C (pada stadium supuratif), anak gelisah, sukar tidur, menjerit tiba-tiba pada waktu

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

tidur, diare, kejang-kejang, dan kadang-kadang memegang telinga yang sakit.

22

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat Pribadi
Riwayat Sosial Ekonomi
3.2 Pemeriksaan Fisik(3)

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Pemeriksaan tanda vital :

23

Suhu tubuh : 39,8C, febril

Tekanan darah

Denyut nadi : 100x/menit takikardi

Frekuensi nafas : 20x/menit

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Inspeksi menggunakan Otoskop:

24

Daun telinga : mula-mula dilihat keadaan dan bentuk daun telinga, daerah belakang
daun telinga (retro aurikuler) apakah terdapat tanda peradangan atau sikatriks bekas
operasi. Dengan menarik daun telinga ke atas dan ke belakang, liang telinga menjadi
lebih lurus dan akan mempermudah untuk melihat keadaan liang telinga dan membran
timpani.

Membran timpani : Pasien duduk dengan posisi badan condong sedikit ke depan dan

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

kepala lebih tinggi sedikit dari kepala pemeriksa untuk memudahkan melihat liang

25

telinga dan membrana timpani. Pemeriksaaan membrana timpani dilakukan dengan


memakai otoskop supaya dapat terlihat dengan lebih jelas. Otoskop dipegang dengan
tangan kanan untuk memeriksa telinga kanan pasien dan dengan tangan kiri bila
memriksa telinga kiri. Supaya posisi otoskop ini stabil maka jari kelingking tangan
yang memegang otoskop ditekankan pada pipi pasien. Pada bayi/anak kecil akan

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

terlihat berwarna merah muda.

26

Auskultasi: dengan stetoskop didengar dan dihitung bunyi pernafasan pasien. Rata-rata
frekuensi normal pernafasan pada anak 2-3 tahun adalah 25-35 x/menit.

3.3 Pemeriksaan Penunjang

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

3.3.1

27

Pemeriksaan Radiologi

Radiologi Konvesional tulang temporal


Setelah memperoleh riwayat lengkap dan pemeriksaan telinga tengah dan mastoid yang cermat
dengan otoskop, maka dapat diputuskan perlu tidaknya pemeriksaan radiologis tulang temporal .

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Radiogram konvensional pada tulang temporal khususnya bermanfaat untuk mempelajari mastoid,

28

telinga tengah, labirin dan kanalis akustikus internus. Posisi yang seringkali digunakan adalah posisi
Law, Schuller, Mayer, Owens, Towne dan Stenvers
3.3.2

Pemeriksaan pendengaran

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Uji penala Rinne

29

Uji Rinne dilakukan dengan menggetarkan garpu tala 512 Hz dengan jari atau mengetukkannya
pada siku dan lutut pemeriksa. Kaki garpu tala tersebut diletakkan pada lubang mastoid telinga yang
diperiksa selama 2-3 detik. Pasien menentukan di tempat mana yang terdengar lebih keras. Jika
bunyi terdengar lebih keras bila garpu tala diletakkan di depan liang telinga berarti telinga yang
diperiksa normal atau menderita tuli sensorineural. Keadaan seperti ini disebut Rinne positif. Bila
bunyi yang terdengar lebih keras di tulang mastoid, maka telinga yang diperiksa menderita tuli

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

konduktif dan biasanya lebih dari 20 dB. Hal ini disebut Rinne negatif.

30

Uji penala Weber


Uji Weber dilakukan dengan meletakkan kaki penala yang telah digetarkan pada garis tengah wajah
atau kepala. Ditanyakan pada telinga mana yang terdengar lebih keras. Pada keadaan normal pasien
mendengar suara di tengah atau tidak dapat membedakan telinga mana yang mendengar lebih keras.

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Bila pasien mendengar lebih keras pada telinga yang sehat) berarti telinga yang sakit menderita tuli

31

sensineural. Bila pasien mendengar lebih keras pada telinga yang sakit (lateralisasi ke telinga yang
sakit) berarti telinga yang sakit menderita tuli konduktif.

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Timpanometri(4)

32

Pemeriksaan ini diperlukan untuk menilai kondisi telinga tengah. Gambaran timpanometri yang
abnormal (adanya cairan atau tekanan negatif di telinga tengah) merupakan petunjuk adanya
gangguan pendengaran konduktif.

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

3. DIAGNOSIS

33

3.1 Working Diagnosis (Diagnosis Kerja) (5,6)


Dari anamnesis diketahui bahwa pasien seorang anak laki-laki berusia 2 tahun datang dengan
keluhan tiba-tiba terbangun di tengah malam sambil menangis dan memegangi telinganya
menunjukkan adanya rasa sakit dari bagian dalam telinganya. Sejak 3 minggu yang lalu anak itu

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

juga menderita demam, batuk dan pilek.

34

Gejala
Terbangun sambil

OMA Oklusi
-

OMA Hiperemis
-

OMA Supuratif
+

OM Efusi
-

+
-

+
+

+
+

+/-

menangis (karena
nyeri) dan
memegang telinga

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

kanan
Riwayat ISPA
Suhu 39,8C

35

Nadi dan

(?)

(?)

(?)

pernapasan cepat
Dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik dan gejala klinik yang ditunjukkan, diagnosis kerja bagi
kasus ini adalah otitis media supuratif akut.

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

3.2 Differential Diagnosis (Diagnosis Banding) (7)

36

Otitis Media Akut Stadium Hiperemis


Pada stadium hiperemis, tampak pembuluh darah melebar di membran timpani atau seluruh
membran timpani tampak hiperemis serta sedikit edema. Sekret yang telah terbentuk mungkin

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terlihat.

37

Otitis Media Akut Stadium Perforasi


Pada stadium perforasi, anak yang tadinya gelisah sekarang menjadi tenang, suhu badan turun dan
anak dapat tertidur nyenyak. Nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar akibat
membran timpani meruptur karena faktor seperti terlambatnya pemberian antibiotika atau virulensi

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

kuman yang tinggi.

38

4. ETIOLOGI(8)
Otitis media terjadi karena faktor pertahan tubuh yang terganggu, adanya infeksi serta sumbatan
tuba Eustachius yang disebabkan oleh sekret, tampon dan tumor merupakan faktor penyebab utama.
Karena fungsi tuba Eustachius terganggu, pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah juga
terganggu, sehingga kuman masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi peradangan. Kuman

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

penyebab utama OMA ialah bakteri piogenik, seperti :

39

Streptococcus haemolyticus

(ii)

Staphylococcus aureus

(iii)

Pneumococcus

(iv)

Haemophilus influenza

(v)

Escherichia coli

(vi)

Streptococcus anhemolyticus

(vii)

Proteus vulgaris

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

(i)

40

(viii)

Pseudomonas auruginosa

Dikatakan juga, bahwa pencetus terjadinya OMA ialah infeksi saluran nafas atas.

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

5. EPIDEMIOLOGI

41

Otitis Media Akut (OMA) sering dideritai pada anak, karena tuba Eustachiusnya masih pendek,
lebih lebar, dan letaknya lebih horizontal. Haemophilus influenza sering ditemukan pada anak
berusia di bawah 5 tahun.

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

6. PATOFISIOLOGI OTITIS MEDIA SUPURATIF AKUT(9)

42

Telinga tengah biasanya steril, meskipun terdapat mikroba di nasofaring dan faring. Secara
fisiologik terdapat mekanisme pencegahan masuknya mikroba ke dalam telinga tengah oleh silia
mukosa tuba Eustachius, enzim dan antibodi. Gejala klinik OMA bergantung pada stadium penyakit
serta umur pasien. Otitis media terbagi atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif
(=otitis media serosa, otitis media sekretoria, otitis media musinosa, otitis media efusi/OME).

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Pembagian tersebut dapat terlihat pada Gambar 1.

43

44
Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Gambar 1. Skema pembagian otitis media


Masing-masing golongan mempunyai bentuk akut dan kronis, yaitu otitis media supuratif akut
(otitis media akut = OMA) dan otitis media supuratif kronik (OMSK / OMP). Begitu pula otitis

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

media serosa terbagi menjadi otitis media serosa akut (barotrauma = aerotitis) dan otitis media

45

serosa kronis. Selain itu, terdapat juga otitis media spesifik, seperti otitis media tuberkulosa atau
otitis media sifilitika. Otitis media yang lain ialah otitis media adhesiva.

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Obtruksi Tuba Eustachius (10)

46

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Gambar 2. Letak tuba Eustachio pada bayi dan anak

47

Tuba Eustachius adalah saluran yang menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasofaring.
Fungsi tuba ini adalah ventilasi, drenase sekret dan menghalangi masuknya sekret dari nasofaring
ke teling atengah. Ventilasi berguna untuk menjaga agar tekanan udara dalam telinga tengah selalu
sama dengan tekanan udara luar. Pada anak, tuba lebih pendek dan kedudukannya lebih horizontal.
Panjang tuba orang dewasa 37,5 mm dan pada anak di bawah 9 bulan adalah 17,5 mm. Obstruksi
tuba dapat terjadi oleh berbagai kondisi, seperti peradangan di nasofaring, peradangan adenoid atau

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

tumor nasofaring.

48

49
Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Gambar 3. Patogenesis terjadi otitis media akut - otitis media efusi - otitis media supuratif
kronik
Perubahan tekanan udara secara tiba-tiba, alergi, infeksi dan sumbatan oleh sekret, tampon, dan
tumor menyebabkan terjadi gangguan pada tuba Eustachius. Tekanan dalam telinga tengah menjadi
negatif sehingga menyebabkan terjadi efusi di dalam telinga tengah. Pada anak yang mempunyai

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

sistem pertahanan tubuh yang baik akan sembuh, namun pada anak yang tetap terganggu fungsi

50

tubanya tetapi bukan disebabkan infeksi akan melanjut menjadi otitis media efusi. Sedangkan pada
adanya disertai infeksi kuman, akan terjadi otitis media akut yang bisa sembuh setelah diberikan
pengobatan, atau terjadinya otitis efusi atau otitis media supuratif kronik / congek jika terjadinya
perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus menerus atau hilang
timbul. Sekret mungkin encer atau kental, bening atau berupa nanah.

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

7. MANIFESTASI KLINIK(11)

51

Pada bayi dan anak kecil gejala khas OMA ialah suhu tubuh tinggi dapat sampai 39,5C (pada
stadium supurasi), anak gelisah dan sukar tidur, tiba-tiba anak menjerit waktu tidur, diare, kejangkejang dan kadang-kadang anak memegang telinga yang sakit. Bila terjadi ruptur membran timpani,
maka sekret mengalir ke liang telinga, suhu tubuh turun dan anak tertidur tenang.

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Perubahan mukosa telinga tengah sebagai akibat infeksi dapat dibagi atas 5 stadium yaitu :

52

(i)

Stadium oklusi Tuba Eustachius

Tanda adanya oklusi tuba Eustachius ialah gambaran retraksi membran timpani akibat terjadinya
tekanan negatif di dalam telinga tengah, akibat absorbsi udara. Kadang-kadang membran timpani
tampak normal (tidak ada kelainan) atau berwarna keruh pucat. Efusi mungkin telah terjadi, tetapi
tidak dapat dideteksi. Stadium ini sukar dibedakan dengan otitis media serosa disebabkan oleh virus

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

atau alergi.

53

(ii)

Stadium Hiperemi (Pre-supuratif)

Pada stadium hiperemis, tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh
membran timpani tampak hiperemis serta edem. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terlihat.

54

(iii)

Stadium Supuratif

Edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial, serta
terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani, menyebabkan membran timpani menonjol
(bulging) ke arah liang telinga luar. Pada keadaan ini pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu
meningkat, serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Apabila tekanan nanah di kavum timpani

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

tidak berkurang, maka terjadi iskemia, akibattekanan pada kapiler-kapiler, serta timbul

55

tromboflebitis pada vena-vena kecil dan nekrosis mukosa dan submukosa. Nekrosis ini pada
membran timpani terlihat terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan berwarna kekuningan. Di
tempat ini akan terjadi ruptur.
Bila tidak dilakukan insisi membran timpani (miringotomi) pada stadium ini, maka kemungkinan

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

besar membran timpani akan ruptur dan nanah keluar ke liang telinga luar. Dengan melakukan

56

miringotomi, luka insisi akan menutup kembali, sedangkan apabila terjadi ruptur, maka lubang
tempat ruptur (perforasi) tidak akan menutup kembali.

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

(iv)

57

Stadium Perforasi

Karena beberapa sebab seperti terlambatnya pemberian antibiotika atau virulensi kuman yang
tinggi, maka dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke
liang telinga luar. Anak yang tadinya gelisah sekarang menjadi tenang, suhu badan turun dan anak
dapat tertidur nyenyak. Keadaan ini disebut otitis media akut stadium perforasi.

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

(v)

58

Stadium Resolusi

Bila membran timpani tetap utuh, maka keadaan membran timpani perlahan-lahan akan normal
kembali. Bila sudah terjadi perforasi, maka sekret akan berkurang dan akhirnya kering. Bila daya
tahan tubuh baik atau virulensi kuman rendah, maka resolusi dapat terjadi walaupun tanpa
pengobatan. Otitis media akut berubah menjadi otitis media supuratif kronis bila perforasi menetap

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

dengan sekret yang keluar terus menerus atau hilang timbul. OMA dapat menimbulkan gejala sisa

59

(sequele) berupa otitis media serosa bila sekret menetap di


perforasi.

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Telinga berair (Otore)

60

kavum timpani tanpa terjadinya

Sekret bersifat purulen atau mukoid tergantung stadium peradangan. Pada OMSK tipe jinak, cairan
yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi iritasi mukosa telinga
tengah oleh perforasi membran timpani dan infeksi. Keluarnya sekret biasanya hilang timbul. Pada
OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adannya sekret telinga. Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid
dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan mukosa secara luas. Sekret

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

yang bercampur darah berhubungan dengan adanya jaringan granulasi dan polip telinga dan

61

merupakan tanda adanya kolesteatom yang mendasarinya. Suatu sekret yang encer berair tanpa
nyeri mengarah kemungkinan tuberkulosis.

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Gangguan pendengaran/pekak (tuli)

62

Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Beratnya ketulian tergantung
dari besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

suara ke telinga tengah. Pada OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif berat.

63

Nyeri telinga (Otalgia)


Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase pus. Nyeri dapat berarti adanya
ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret, terpaparnya durameter atau dinding sinus
lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak. Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

OMSK seperti Petrositis, subperiosteal abses atau trombosis sinus lateralis.

64

Rasa pusing yang berputar (Vertigo)


Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi dinding
labirin oleh kolesteatom. Vertigo yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan udara yang
mendadak atau pada panderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena perforasi

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang oleh perbedaan

65

suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan meyebabkan keluhan vertigo. Vertigo juga bisa
terjadi akibat komplikasi serebelum.
Suara berdenging/berdengung (tinitus)

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

8. KOMPLIKASI (12)

66

Mastoiditis
Merupakan peradangan tulang mastoid, biasanya berasal dari kavum timpani. Perluasan infeksi
telinga bagian tengah yang berulang-ulang dapat menyebabkan timbulnya perubahan pada matoid
berupa penebalan mukosa dan terkumpulnya eksudat. Lama-kelamaan akan terjadi peradangan
tulang (oseitis) dan pengumpulan eksudat/nanah yang makin banyak, yang akhirnya mencari jalan

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

keluar ke arah daerah yang lemah biasanya terletak di belakang telinga, menyebabkan abses

67

subperiosteium. Kelainan pada mastoid dapat berupa reaksi peradangan mukosa, edema dan pada
beberapa tempat terjadi ulserasi. Macam mastoiditis ialah :

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

(i)
(ii)
(iii)
(iv)

68

Mastoiditis + nanah + jaringan granulasi


Mastoiditis + kolesteatoma
Campuran (i) & (ii)
Mastoiditis yang sklerotik

Gejalanya adalah suhu meningkat dan keluar cairan dari telinga yang banyak. Kadang-kadang
tampak pulsasi cairan. Hal ini disebabkan denyutan pembuluh darah yang diteruskan oleh cairan.
Nyeri di belakang telinga, pembengkakan di belakang telinga dan hal ini menunjukkan bahwa
proses peradangan telah melampaui korteks, menyebar ke jaringan lunak di atas tulang mastoideus,
kemudian terjadi abses di belakang telinga. Adanya abses Bezold, yaitu pembengkakan os

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

zigomatikus dan leher, gejala iritasi vestibular berupa vertigo, nistagmus, mual dan muntah.

69

Meningitis otogenik
Merupakan salah satu komplikasi dari peradangan telinga tengah. Penyakit ini terbanyak ditemukan
pada anak. Hal ini disebabkan jarak antara ruang telinga tengah dengan fossa media relatif pendek
pada anak dan dipisahkan oleh masa tipis yang kadang-kadang berpori, tebalnya 3-4 m, disebut
tegmen timpani. Tegmen timpani ini dilalui sutura skuamosa. Pada bayi dan anak, sutura ini masih

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

renggang, sehingga duramater fosa media masih berimpit dengan mukosa telinga tengah. Sutura ini

70

sampai anak umur 2 tahun masih dapat terlihat, malahan kadang-kadang menetap sampai tua.
Penyebabnya ialah kuman yang menyebabkan otitis media, yaitu Streptococcus, Staphyloccoccus,
dan Pneumococcus. Menurut Boies, Streptococcus hemolyticus merupakan kuman penyebab
meningitis otogenik tersering (60%), menyusul Staphylococcus aureus dan albus (30%) dan sisanya
Streptococcus viridans, Haemophilus influenza dan lain-lain. Gejalanya berupa keadaan umum
yang menunjukkan penderita sakit berat, gelisah, mudah terangsang, Suhu tubuh meningkat. Pada

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

anak yang besar nyeri kepala merupakan gejala penting, karena nyeri kepala ini sangat hebat.

71

Menggigil, terutama pada permulaan perjalanan perjalanan penyakit. Didapatkan tanda rangsangan
meningeal berupa kaku kuduk.

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Abses otak

72

Merupakan

komplikasi otitis media dan biasanya terjadi setelah tromboflebitis snius lateral,

petrositis, meningis dan sebagainya. Gejalanya berupa nyeri kepala, demam, muntah, kesadaran
menurun, nadi lambat, kejang dan gejala proses desak ruang intrakranial.
10. PENATALAKSANAAN(13)

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Pengobatan OMA tergantung pada stadium penyakitnya.

73

10.1

Medikamentosa

10.1.1 Terapi Farmakologi

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

74

Antibiotika

Antibiotika diberikan apabila penyebab penyakit adalah kuman dan bukan oleh sebab virus atau
alergi. Antibiotika yang dianjurkan ialah dari golongan penisilin tau ampisilin. Terapi awal
diberikan penisilin intramuskular agar didapatkan konsentrasi yang adekuat di dalam darah bagi
menghindari terjadi mastoiditis yang terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan
kekambuhan. Pemberian antibiotika dianjurkan minimal selama 7 hari. Bila pasien alergi terhadap

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

penisilin, maka diberikan eritromisin.

75

Pada anak, ampisilin diberikan dengan dosis 50-100 mg/kg BB per hari, dibagi dalam 3 dosis, atau
eritromisin 40 mg/kg BB/hari. Bila 3 minggu setelah pengobatan sekret masih tetap banyak,
kemungkinan telah terjadi mastoiditis.

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

76

Obat tetes hidung

Obat tetes hidung diberikan terutama untuk membuka kembali tuba Eustachius, sehingga tekanan
negatif di telinga tengah hilang. Obat yang diberikan adalah HCl efedrin 0,5% dalam larutan
fisiologik untuk anak kurang dari 12 tahun atau HCl efedrin 1% dalam larutan fisiologik untuk anak
yang umur di atas umur 12 tahun dan pada orang dewasa.

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

77

Analgetika

10.1.2 Terapi Bedah

Miringotomi(14)

Miringotomi merupakan tindakan pembedahan kecil yang melibatkan tindakan insisi pada pars

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

tensa membran timpani, agar terjadi drenase sekret dari telinga tengah ke liang telinga luar.

78

Tindakan ini idealnya dilakukan setelah pemberian antibiotika bila membran timpani masih utuh.
Untuk melakukan tindakan minringotomi ini beberapa syarat yang harus diperhatikan, yaitu :
(i) dilakukan secara a-vue (dilihat langsung)
(ii)
anak harus tenang dan dapat dikuasai (sehingga membrane timpani terlihat dengan baik)
Lokasi miringotomi ialah kuadran posterior-inferior. Untuk tindakan ini haruslah memakai lampu
kepala yang mempunyai sinar cukup terang, memakai corong telinga yang sesuai dengan besar

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

liang telinga, dan pisau khusus (miringotom) yang digunakan berukuran kecil dan steril. Dianjurkan

79

untuk melakukan miringotomi dengan narkosis umum dan memakai mikroskop, selain aman, dapat
juga untuk mengisap sekret dari telinga tengah sebanyak-banyaknya. Miringotomo hanya dilakukan
bila jelas tampak adanya nanah di telinga tengah. Dengan miringotomi, gejala-gejala klinis lebih
vepat hilang dan ruptur dapat dihindari.

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

11. PENCEGAHAN(15)

80

1.

Profilaksis antibiotik.
Pengunaan antibiotik dosis rendah selama 6-12 bulan. Namun karena pengunaan antibiotik
dosis rendah dihindari, biasanya cara ini dilakukan pada situasi yang tidak biasa. Misalnya
pada pasien yang akan menjalani tympanostomy tube replacement karena infeksi berulang.
tidak dianjurkan pada pasien dengan otitis media efusi.

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

2. Perubahan gaya hidup.

81

Penghindaran dari asap rokok dapat mencegah lebih sering timbulnya OMA. Pemberian ASI
dan pengurangan penggunaan dot/botol susu juga mengurangi resiko OMA meskipun
mekanismenya belum diketahui.2
3.

Operasi.
Timpanostomi dapat dilakukan kalau sering terjadi infeksi berulang.2

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

4. Evaluasi imunologi.

82

Pasien yang sering relaps perlu diperiksa sistem imunnya. Adanya immunodefisiensi terutama
faktor IgA menaikkan resiko OMA, sinusitis, dan pneumonia.2
5. Vaksin.
Pemberian vaksin untuk influenza dan bakteri pneumococcus dibuktikan mampu menurunkan
angka kejadian OMA. Transfer antibodi pasif dari ibu ke bayi juga sudah dibuktikan sehingga

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

ada baiknya calon ibu untuk divaksin.2

83

12. PROGNOSIS
Prognosis OMA adalah baik. Gejala akan membaik antara 24-72 jam setelah pengobatan.(16) Relaps
biasanya terjadi karena eradikasi yang kurang sempurna. Karena itu pasien dihimbau untuk
mengkonsumsi antibiotik secara tepat dan tetap melakukan kontrol meskipun gejala telah membaik.
(17)

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

13. KESIMPULAN

84

Otitis media merupakan peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba Eustachius,
antrum mastoid dan sel-sel mastoid sehingga dapat menyebabkan gangguan pendengaran/tuli pada
penderita. Usaha pencegahan dan penanggulangan yang tepat dan cepat dapat menghindari atau

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

mencegah dari terjadinya fatal.

85

86
Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

87
Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

88
Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

DAFTAR PUSTAKA

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

1. Prof. Dr. Efiaty Arsyad Soepardi et all, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok

89

Kepala dan Leher. Dalam : Zainul A. Djaafar, Helmi, Ratna D. Restuti , Definisi Otitis Media.
Edisi
Keenam Cetakan ke-IV, 2010 Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; h65.
2. Prof. Dr. Efiaty Arsyad Soepardi et all, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok
Kepala dan Leher. Dalam : Prof. Dr. Efiaty Arsyad Soepardi, Anamnesis Otitis Media. Edisi
Keenam Cetakan ke-IV, 2010 Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; h1-3.

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

3. Siegel LG, Paparella MM, Adams GL, Levine SC. Anamnesis dan pemeriksaan kepala dan leher,

90

penyakit telinga tengah dan mastoid. Dalam: Adams GL, Boies LR, Higler PA. BOIES Buku
Ajar
Penyakit THT. Edisi 6. EGC: Jakarta; 1997. 4-11, 88-117.
4. Prof. Dr. Efiaty Arsyad Soepardi et all, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok
Kepala dan Leher. Dalam : Ronny Suwento, Semiramis Zizlavsky dan Hendarto Hendramin ,
Pemeriksaan Timpanometri. Edisi Keenam Cetakan ke-IV, 2010 Jakarta : Fakultas Kedokteran

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Universitas Indonesia; h35.

91

5. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Penyakit telinga
bagian luar. Dalam: Hasan R, Alatas H, editor. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Volume 2.
Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2000. h918.
6. Prof. Dr. Efiaty Arsyad Soepardi et all, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok
Kepala dan Leher. Dalam : Ronny Suwento, Semiramis Zizlavsky dan Hendarto Hendramin ,
Otitis Media Supuratif Akut. Edisi Keenam Cetakan ke-IV, 2010 Jakarta : Fakultas Kedokteran

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Universitas Indonesia; h35.

92

7. Prof. Dr. Efiaty Arsyad Soepardi et all, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok
Kepala dan Leher. Dalam : Zainul A. Djaafar, Helmi, Ratna D. Restuti, Otitis Media Stadium
Hiperemis dan Perforasi. Edisi Keenam Cetakan ke-IV, 2010 Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; h66-7.
8. Siegel LG, Paparella MM, Adams GL, Levine SC. Etiologi Otitis Media. Dalam: Adams GL,
Boies

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

LR, Higler PA. BOIES Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. EGC: Jakarta; 1997. 4-11, 88-117.

93

9. Prof. Dr. Efiaty Arsyad Soepardi et all, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok
Kepala dan Leher. Dalam : Zainul A. Djaafar, Helmi, Ratna D. Restuti , Patofisiologi Otitis
Media
Supuratif Akut. Edisi Keenam Cetakan ke-IV, 2010 Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; h66-7.

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

10. Prof. Dr. Efiaty Arsyad Soepardi et all, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok

94

Kepala dan Leher. Dalam : Zainul A. Djaafar, Helmi, Ratna D. Restuti , Obstruksi Tuba
Eustachius.
Edisi Keenam Cetakan ke-IV, 2010 Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; h645.

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

11. Prof. Dr. Efiaty Arsyad Soepardi et all, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok

95

Kepala dan Leher. Dalam : Zainul A. Djaafar, Helmi, Ratna D. Restuti, Manifestasi Klinik
Otitis
Media. Edisi Keenam Cetakan ke-IV, 2010 Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia;
h64-5.
12. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Komplikasi

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Otitis

96

Media. Dalam: Hasan R, Alatas H, editor. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Volume 2.
Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2000. h9212.
13. Prof. Dr. Efiaty Arsyad Soepardi et all, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok
Kepala dan Leher. Dalam : Zainul A. Djaafar, Helmi, Ratna D. Restuti, Penatalaksanaan Otitis
Media. Edisi Keenam Cetakan ke-IV, 2010 Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Indonesia;

97

h67-8.
14. Prof. Dr. Efiaty Arsyad Soepardi et all, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok
Kepala dan Leher. Dalam : Zainul A. Djaafar, Helmi, Ratna D. Restuti , Terapi Bedah
Miringotomi .
Edisi Keenam Cetakan ke-IV, 2010 Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

h68-9.

98

15. Siegel LG, Paparella MM, Adams GL, Levine SC. Pencegahan Otitis Media. Dalam: Adams
GL,
Boies LR, Higler PA. BOIES Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. EGC: Jakarta; 1997. 4-11, 88117.
16. Nelson WE, Behram RE, Kliegman R, Arvin AM. Infeksi streptokokus. Ilmu kesehatan anak.

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Jakarta: EGC; 2008.p.929.

99

17. Gelfand SA. Middle ear disorder : otitis media. Essential of audiology, 3rd Ed. New York :
Thieme

Blok 23: Sistem Pengindiraan|

MAKALAH MANDIRI

Medical Publisher Inc.;2009.p.172-6.

100