Anda di halaman 1dari 2

KH Abdul Halim (seorang pendiri PUI)

Tokoh Pembaharu Pendidikan Islam dari Majalengka

Kemunculan Hayatul-Qulub (HQ) pada tahun 1911, dapat dianggap tunas baru bagi pendidikan Islam di
Indonesia. HQ bergerak dalam bidang sosial, ekonomi, dan pendidikan, berpusat di Majalengka.

Dalam bidang sosial dan ekonomi, HQ merekrut anggotanya dari kalangan pedagang dan petani
(pribumi) dengan tujuan membantu mereka dalam persaingan dengan pedagang-pedagang cina,
sekaligus menghambat derasnya arus kapitalisme kaum kolonial.
Sedangkan dalam bidang pendidikan, diadakan pelajaran agama seminggu sekali yang dikhususkan bagi
orang-orang dewasa dengan materi fiqh dan hadits.
Akan tetapi umur HQ tidak berlangsung lama karena sering timbulnya perang mulut bahkan bentrokan
fisik dengan para pedagang cina yang akhirnya pada tahun 1915 seluruh aktivitas HQ dilarang oleh
pemerintah Belanda.
Namun Abdul Halim tidak patah semangat. Pada tanggal 16 Mei 1916, beliau mendirikan Jami'iyyatl'anat
al-Muta'allimin (JM). JM menjadi termasyhur dengan cirinya adalah diterapkannya sistem kelas dengan
lama belajar lima tahun. Juga mengadakan kerjasama dengan Jami'at al-Khair dan al-Irsyad di Jakarta.
Pada bulan Nopember 1916, atas petunjuk dan bantuan HOS Tjokroaminoto (Presiden Sarekat Islam),
nama JM diganti menjadi Persjarikatan Oelama (PO) dan mendapat rechtspersoon (diakui secara resmi
oleh pemerintah Kolonial) pada tahun 1917.
Pada tahun 1919, Abdul Halim dengan organisasi PO-nya dan dibantu KH Muhammad Ilyas (mertua),
Kyai Imam Hasan Basyari, dan H Abdul Ghani mendirikan Kweek School (Sekolah Guru). Lalu pada
tanggal 20 Nopember 1932 Kweek School berganti nama menjadi Madrasah Daroel Oeloem.
Pada tanggal 17 Juli 1932 Abdul Halim mendirikan Santi Asromo dengan ciri khususnya adalah:
Pertama, sistem pondok pesantren dengan menggabungkan pengetahuan agama dan umum, seperti
sejarah dunia dan bahasa Belanda, juga dibekali pelajaran praktek bercocok tanam, tukang kayu,
menenun kain, dll.
Kedua, bertujuan kelak anak-anak dapat mencari rizki yang halal dan mandiri.
Ketiga, wajib tinggal di asrama selama 5 - 10 tahun.
Selain itu Abdul Halim juga ikut merintis berdirinya Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Hingga di sini, kiprah Abdul Halim dalam dunia pendidikan di Indonesia cukup monumental. Ia berhasil
menggabungkan sistem madrasah - pesantren - gubernemen