Anda di halaman 1dari 30

Biogas Sebagai Alternatif Pengolahan Limbah Cair Indutsri Tahu

Dengan Reaktor Upflow Anaerobic Sludge Blunket (UASB)

Dosen :
DR. Eng. MURALIA HUSTIN. ST.MT

OLEH KELOMPOK :

Nurul Masyiah Rani H

(D 121 12 253)

Nur Fauziah Sudirman

(D 121 12 270)

PROGRAM STUDI S 1 TEKNIK LINGKUNGAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2015

KATA PENGANTAR

AssalamualaikumWr. Wb.
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, atasizin Nya makalah kajianBiogas Sebagai Alternatif Pengolahan Limbah Cair
Industri Tahu dengan Reaktor Upflow Anaerobic Sludge Blunket (UASB)
dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Meskipun dalam bentuk
sederhana. Kajian ini diajukan untuk melengkapi mata kuliah Kapita Selekta
Infrastruktur Lingkungan.

Dengan selesainya penulisan makalah ini tidak lepas dari bantuan serta
dukungan dari semua pihak baik moril atau pun materil sehingga makalah ini
dapat terselesaikan dengan baik dan semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat kepada kita semua terlebih lebih bagi kelompok kami yang
mengerjakan makalah ini.

Kami mengharapkan makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi
semua pihak terutama pihak - pihak yang terkait langsung dalam masalah
pengolahan limbah cair. Karena keterbatasan kami, makalah ini mungkin jauh
dari kesempurnaan, untuk itu kritik dan saran membangun terutama dalam hal
perbaikan - perbaikan di masa datang sangat kami harapkan. Akhirnya, cukup
itu dari kami kurang lebihnya kami mohon maaf yang sebesar -besarnya.
WassalamualaikumWr. Wb.
Gowa, 16 Maret 2015

Tim Kelompok

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL....................................................................... i
KATA PENGANTAR..................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR................................................................... iv
DAFTAR TABEL.... v
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.......................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah..................................................................... 2
1.3 Tujuan........................................................................................ 2
II. PEMBAHASAN
2.1 Proses Produksi Tahu. 3
2.2 Limbah Cair Industri Tahu. 5
2.3 Karateristik Limbah Cair Industri Tahu. 6
2.4 Pengendalian Limbah Cair Tahu dengan Sistem Anaerobik. 8
2.5 Proses Transformasi Bahan Organik..... 10
2.6.Potensi Limbah Cair Industri Tahu sebagai Sumber Energi..12
2.7Reaktor Upflow Anaerobic Sludge Blanket15
III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan............................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA...................................................................... 20
LAMPIRAN...... 21

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Diagram proses pembuatan tahu........................................... 4
Gambar 2.2Diagram neraca masa proses pembuatan tahu....................... 5
Gambar 2.3 Neraca massa penguraian bahan organik menjadimetana 12
Gambar 2.4 Reaktor UASB...15

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Karakteristik Limbah Cair Tahu.. 8

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Industri tahu merupakan industri pangan yang populer di masyarakat
khususnya di Indonesia, bahan bakunya banyak dijumpai serta pengolahannya
mudah, bergizi, dan harganya terjangkau sehingga nilai pendapatan masyarakat
meningkat. Namun demikian, muncul pula dampak negatif yaitu polusi
lingkungan karena limbah tahu yang kaya bahan organic dan potensial terjadi
degradasi secara alami. Sehingga industri tahu memerlukan suatu pengolahan
limbah yang bertujuan untuk mengurangi resiko beban pencemaran yang ada.
Teknologi pengolahan limbah cair tahu dapat dilakukan dengan proses
biologis sistem anaerob dan aerob. Teknologi pengolahan limbah cair tahu yang
ada saat ini pada umumnya berupa pengolahan limbah cair dengan sistem
anaerob, hal ini disebabkan karena biaya operasionalnya lebih murah. Produk
samping dari pengolahan limbah yang kaya bahan organik secara anorganik dapat
berpotensi munculnya biogas akibat aktivitas mikroba dalam reaktor pengolah
limbah.
Banyak model reaktor yang telah digunakan untuk mengolah limbah
organik secara anaerob untuk menghasilkan biogas, diantaranya adalah Batch
Digester, Fixed Dome (Chinese) Digester, Floating Dome (Indian) Digester, BegRed Mud (Taiwan, China) Digester, Plug Flow Digester, anaerobic Filter,
Anaerobic Baffled Reactor (ABR), Anaerobic Contact Digester, dan Upflow
Anaerobic Sludge Blanket (UASB) (Mahmud, 2011). Dari berbagai macam
reactor yang ada maka diperlukan reaktor yang efektif dan efisien yang sebagai
teknologi yang efektif untuk mengubah limbah cair industry tahu.
UASB sebagai salah satu digester anaerobik telah banyak dikenal dan
diaplikasikan di berbagai belahan dunia sejak Lettinga memperkenalkan di
Belanda pada tahun 1970-an. UASB merupakan konfigurasi reaktor penanganan

limbah cair domestik yang paling banyak dipelajari. Sistem ini telah beroperasi
dengan bagus dan mampu menghasilkan effluen bermutu baik (Mahmud, 2011)
Dari latar belakang diatas maka judul makalah kami yaitu Biogas Sebagai
alternatif

pengolahan

limbah

cair

industri

tahu

dengan

pendekatan

menggunakan reactor UASB.


I.2. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dari latar belakang yang ada diatas :
Bagaimana pengendalian limbah cair industri tahu serta potensi limbah cair
industri tahu menjadi biogas dengan reactor upflow anaerobic?
I.3. Tujuan
Adapun yang menjadi tujuan dari rumusan masakah yang diatas :
a. Untuk mengetahui proses produksi industri tahu
b. Untuk mengetahui jenis limbah yang dihasilkan dalam proses pembuatan tahu
c. Untuk mengetahui system pengendalian pencemaran limbah cair yang efektif
dan efisien
d. Untuk mengetahui potensi limbah cair industri tahu menghasilkan energi
biogas sebagai pengganti bahan bakar
e. Untuk mengetahui proses pengolahan limbah cari menjadi biogas dengan
menggunakan reaktor UASB (Upflow Anaerobic Sludge Blanket)

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Proses Produksi Tahu


Tahu merupakan makanan yang terbuat dari bahan baku kedelai, dan
prosesnya masih sederhana dan terbatas pada skala rumah tangga. Suryanto
(dalam Herlambang, 2002) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tahu adalah
makanan padat yang dicetak dari sari kedelai (Glycine spp) dengan proses
pengendapan protein pada titik isoelektriknya, tanpa atau dengan penambahan zat
lain yang diizinkan. Pembuatan tahu pada prinsipnya dibuat dengan mengekstrak
protein, kemudian mengumpulkannya, sehingga terbentuk padatan protein. Cara
penggumpalan susu kedelai umumnya dilakukan dengan cara penambahan bahan
penggumpal berupa asam. Bahan penggumpal yang biasa digunakan adalah asam
cuka (CH3COOH), batu tahu (CaSO4nH 2O) dan larutan bibit tahu (larutan
perasan tahu yang telah diendapkan satu malam).
Secara umum tahapan proses pembuatan tahu adalah sebagai berikut :
Kedelai yang telah dipilih dibersihkan dan disortasi. Pembersihan dilakukan
dengan ditampi atau menggunakan alat pembersih.
Perendaman dalam air bersih agar kedelai dapat mengembang dan cukup
lunak untuk digiling. Lama perendaman berkisar 4 - 10 jam.
Pencucian dengan air bersih. Jumlah air yang digunakan tergantung pada
besarnya atau jumlah kedelai yang digunakan.
Penggilingan kedelai menjadi bubur kedelai dengan mesin giling. Untuk
memperlancar penggilingan perlu ditambahkan air dengan jumlah yang
sebanding dengan jumlah kedelai.
Pemasakan kedelai dilakukan di atas tungku dan dididihkan selama 5 menit.
Selama pemasakan ini dijaga agar tidak berbuih, dengan cara menambahkan
air dan diaduk.
Penyaringan bubur kedelai dilakukan dengan kain penyaring. Ampas yang
diperoleh diperas dan dibilas dengan air hangat. Jumlah ampas basah kurang
lebih 70% sampai 90% dari bobot kering kedelai.

Setelah itu dilakukan penggumpalan dengan menggunakan air asam, pada


suhu 50oC, kemudian didiamkan sampai terbentuk gumpalan besar.
Selanjutnya air di atas endapan dibuang dan sebagian digunakan untuk proses
penggumpalan kembali.
Langkah terakhir adalah pengepresan dan pencetakan yang dilapisi dengan
kain penyaring sampai padat. Setelah air tinggal sedikit, maka cetakan
dibuka dan diangin-anginkan.
Diagram proses pembuatan tahu ditujukkan seperti pada gambar 1,
sedangkan diagram neraca masa untuk proses pembuatan tahu ditunhjukkan pada
gambar 2.

Gambar 2.1 Diagram proses pembuatan tahu. (Said et all, 2006)

Gambar 2.2. Diagram neraca masa proses pembuatan tahu (Said et all, 2006)
2.2. Limbah Cair Industri tahu
Limbah tahu adalah limbah yang dihasilkan dalam proses pembuatan tahu
maupun pada saat pencucian kedelai. Limbah yang dihasilkan dari industri tahu
menurut Nurhasan (1991) berupa :
a. Limbah Padat
Buangan padat pabrik tahu berasal dari proses pencucian penyaringan
berupa biji yang jelek, ceceran biji, dan batu kerikil yang terikut dalam biji.
Dari proses penyaringan dihasilkan limbah padat berupa ampas tahu,
sedangkan dari proses pengepresan dihasilkan potongan-potongan tahu yang
tercecer. Limbah padat belum terlalu mencemari lingkungan karena bisa
digunakan untuk membuat tempe dan pakan ternak sapi, kerbau, kambing,
babi, dan ikan.
b. Limbah Cair
Sebagian besar buangan pabrik tahu adalah limbah cair yang mengandung
sisa air dari susu tahu yang tidak tergumpal menjadi tahu, sehingga limbah cair
pabrik tahu masih mengandung zat-zat organik seperti protein, karbohidrat dan
lemak. Selain zat terlarut, limbah cair juga mengandung padatan tersuspensi
atau padatan terendapkan misalnya potongan tahu yang kurang sempurna saat
pemrosesan. Limbah padat belum dirasakan dampaknya terhadap lingkungan

karena dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak, tetapi limbah cair akan
mengakibatkan bau busuk dan bila dibuang langsung ke sungai akan
menyebabkan tercemarnya sungai tersebut.
2.3. Karakteristik Limbah Cair Industri Tahu
Pengetahuan tentang karakteristik limbah sangat penting karena untuk
menentukan teknologi apa yang harus dipilih dalam penanganan limbah. Metode
penanganan limbah yang telah berhasil pada suatu industri belum tentu berhasil
diaplikasikan untuk industri lainnya. Limbah cair pabrik industri merupakan
limbah agroindustri yang mengandung bahan organik dan nutrien tinggi. Lettinga
(dalam Mahmud, 2011) menyatakan bahwa bahan organik tersebut dapat dikenali
melalui karakteristiknya yaitu dapat dioksidasi dan mengandung karbon.
Karakteristik limbah cair tahu antara lain (Nurhasan dan Pramudyanto, 1991) :
a.

Temperatur limbah cair tahu biasanya tinggi (60 80 OC) karena proses
pembuatan tahu butuh suhu tunggi pada saat penggumpalan dan penyaringan.

b.

Warna air buangan transparan sampai kuning muda dan disertai adanya
suspensi warna putih. Zat terlarut dan tersuspensi mengalam penguraian
hayati maupun kimia sehingga berubah warna. Proses ini merugikan karena
air buangan berubah menjadi warna hitam dan busuk yang memberi nilai
estetika kurang baik.

c.

Bau air buangan industri tahu dikarenakan proses pemecahan protein oleh
mikroba alam sehingga timbul bau busuk dari gas H2S.

d.

Kekeruhan pada limbah disebabkan oleh adanya padatan tersuspensi dan


terlarut dalam limbah cair pabrik tahu.

e.

pH rendah.
Limbah cair tahu mengandung asam cuka sisa proses penggumpalan
tahu sehingga limbah cair tahu bersifat asam. Pada kondisi asam ini terlepas
zat-zat yang mudah menjadi gas.

f.

COD dan BOD tinggi.


Pencemaran limbah cair organik pada suatu perairan diukur dengan uji
COD dan BOD (Indriyati, 2005). Angka COD biasanya lebih besar 2 3 kali
angka BOD. Nilai COD menunjukkan banyaknya oksigen yang digunakan

dalam proses oksidasi oleh zat-zat organik yang terkandung dalam limbah
cair yang ekuivalen dengan nilai konsentrasi kalium dikromat (K2Cr2O7)
(Ginting, 1992 dalam Fibria 2007). Angka COD merupakan ukuran bagi
pencemaran air oleh bahan-bahan organik yang secara alamiah dapat
dioksidasikan melalui proses biologis, dan mengakibatkan berkurangnya
oksigen terlarut dalam air. Wagiman (2004) dalam Fibria (2007) menyatakan
bahwa fluktuasi COD berada pada jangkauan antara 10.000 100.000 mg/L.
Malina dan Pohland (1992) dalam Fibria (2007) menyatakan bahwa nilai
COD limbah cair tahu di atas 4.000 mg/L. Jadi, nilai COD limbah cair tahu
berkisar antara 4.000 100.000 mg/L.
Santika (1987) dalam Fibria (2007) menyatakan bahwa limbah cair tahu
secara alami sudah mengandung mikroorganisme karena kandungan bahan
organiknya

tinggi.

Hasil

pengujian

menunjukkan

bahwa

konsentrasi

mikroorganisme limbah cair tahu sangat tinggi yaitu 10-1 mikrobia, yang berarti
limbah tahu di sentra industri tahu Gamping termasuk kategori tercemar berat.
Limbah cair yang dihasilkan mengandung padatan tersuspensi maupun terlarut,
akan mengalami perubahan fisika, kimia, dan hayati yang akan menghasilkan zat
beracun atau menciptakan media untuk tumbuhnya kuman dimana kuman ini
dapat berupa kuman penyakit atau kuman lainnya yang merugikan baik pada tahu
sendiri ataupun tubuh manusia. Bila dibiarkan dalam limbah cair akan berubah
warnanya menjadi coklat kehitaman dan berbau busuk yang bisa mengakibatkan
sakit pernapasan. Apabila limbah cair ini merembes ke dalam tanah yang dekat
dengan sumur maka air sumur itu tidak dapat dimanfaatkan lagi. Apabila limbah
ini dialirkan ke sungai maka akan mencemari sungai dan bila masih digunakan
maka akan menimbulkan penyakit gatal, diare, dan penyakit lainnya
(Nurhasan,1991)
Limbah cair dari tahu yang paling berbahaya apabila dibuang secara
langsung ke lingkungan adalah whey yang merupakan hasil samping proses
penggumpalan dan kandungan bahan organiknya sangat tinggi (Wagiman, 2004
dalam Fibria, 2007) dan pHnya rendah karena mengandung cuka sisa bahan untuk

pembuatan tahu. Secara fisik, whey berwarna kuning, kental, dan berbau
menyengat jika tersimpan lebih dari 24 jam.
Tabel 1. Karakteristik Limbah Cair Tahu (whey)
Parameter

Satuan

Nilai

Ph

4-5

COD

mg/L

30.000 40.000

BOD

mg/L

10.000-15.000

N-NH3

mg/L

30-40

N-total

mg/L

300-350

Protein

0.30-0.40

Padatan tersuspensi

mg/L

6.000-8.000

Sumber : Wagiman, et.all (2004) dalam Fibria (2007)


2.4. Pengendalian Limbah Cair Tahu dengan Sistem Anaerobik
Salah satu dasar pertimbangan dalam pemilihan teknologipengolahan
limbah cair adalah karakteristik limbah cair (Pusteklim,tanpa tahun).Dengan
melihat karakteristik limbah cair tahu di atas, makalimbah cair tahu tergolong
limbah cair yang mengandung bahan organicyang tinggi dan pada umumnya
biodegradable atau mudah diurai olehmikrobia. Kondisi tersebut akan sangat
menguntungkan untuk diolah dengan proses biologis, yaitu memanfaatkan
kehidupan mikrobia untukmenguraikan zat organik. Menurut Metcalf dan Eddy
(2003) dalam Fibria (2007), penangananlimbah secara biologik adalah untuk
menghilangkan bahan-bahan terlarutdan bahan padat koloid yang tidak
mengendap (non settleable colloids olid).
Jenie dan Winiati (1993) dalam Mahmud (2011) menyatakan bahwa sistem
biologicmerupakan sistem utama yang digunakan untuk menangani limbah
organicsecara aerob maupun anaerob. Proses-proses yang berlangsungberdasarkan
pada dasar-dasar mikrobiologi. Mikroorganismemenggunakan limbah sebagai
sumber nutrisi dan menyediakan energyuntuk pembangunan sel.Jadi pengolahan
limbah secara anaerobik sangat cocok untuk mengolah limbahcair yang

mengandung bahan organik kompleks seperti limbah dariindustri makanan,


minuman, bahan kimia dan obat-obatan.
Beberapa alasan yang dipakai untuk penggunaan proses anaerobicdalam
penanganan limbah antara lain : laju reaksi lebih tinggi dibandingaerobik,
kegunaan produk akhir dan stabilisasi bahan organik (Wagiman,2004 dalam
Febria 2007).
Karakteristik proses pengolahan anaerobik dapat dijelaskansebagai berikut
(Pusteklim, 2002 dalam Mahmud, 2011) :
a.

mampu menerima beban organik yang tinggi per satuan volume reaktornya
sehingga volume reaktor relatif lebih kecil dibandingkan dengan proses
aerobic

b.

tanpa energi untuk prosesnya tetapi dapat menghasilkan energy

c.

menghasilkan surplus lumpur yang rendah

d.

pertumbuhan mikroba yang lambat

e.

membutuhkan stabilitas pH pada daerah netral (6,5-7,5)


Menurut Lettinga (1994) dalam Mahmud (2011) faktor-faktor lingkungan

yang sangatberpengaruh pada pengolahan limbah secara anaerobik adalah suhu,


pH,adanya nutrien essensial (makronutrien, nitrogen, phosphor, danmikronutrien),
serta tidak adanya senyawa racun.Bakteri-bakteri anaerobik mesofilik mampu
tumbuh pada suhu 20- 45 0C. Proses digesti akan optimum padasuhu 35 40 0C
untuk range mesofil dan 55 OC untuk termofil. Nilai dankestabilan pH pada
reaktor anaerobik sangat penting karenametanogenesis terjadi pada kisaran pH
netral (6,3 7,8). Senyawaracun yang berpengaruh adalah logam berat, senyawa
kloro-organik,oksigen dan sulfida. Sebagian oksigen masuk saat distribusi
influen,namun selanjutnya digunakan dalam metabolisme oksidatif pada
prosesasidogenesis sehingga tidak ada lagi oksigen terlarut dalam reactor.
Sardjoko (1991) dalam Mahmud (2011) menyatakan bahwapengolahan
limbah secara anaerob mempunyai keuntungan sebagaiberikut :
a. menghasilkan lumpur yang secara biologi sangat stabil
b. memerlukan sedikit unsur hara karena menghasilkan sedikit jaringan sel
c. tidak memerlukan energi untuk aerasi

d. menghasilkan gas metan sebagai produk akhir yang mempunyai nilai ekonomis
e. lumpur anaerob dapat disimpan tanpa pemberian zat makanan
Sedangkan kelemahannya adalah :
a. agak peka terhadap kehadiran senyawa tertentu, seperti CHCl3, CCl4, dan CN
b. diperlukan waktu start up yang relatif lama sebagai akibat pertumbuhan
anaerob yang sangat lambat pada dasarnya merupakan proses pengolahan awal
sehingga memerlukan pengolahan lanjutan untuk bisa dibuang
2.5. Proses Transformasi Bahan Organik
Hasil kontak air limbah dengan bakteri anaerob akan menguraikan bahan
organic yang terdapat pada air limbah dan menghasilkan gas metana dan karbon
dioksida (biogas). Proses pembentukan biogas dapat dibagi menjadi empat
tahapan yaitu: hidrolisis, acidogenesis, asetogenesis (dehidrogenesis) dan
metanogenesis (Sorensen, 2004 dalam Febria, 2007).
a. Proses Hidrolisis
Merupakan tahapan awal dalam proses dekomposisi bahan organik polimer
dalam bentuk makro seperti protein, karbohidrat dan lemak oleh mikroba atau
bakteri pengurai yang memproduksi enzim ekstra seluler (hydrolase) seperti
lipase, protease dan karbohidrase menjadi molekul-molekul yang lebih
sederhana sehingga mudah dikonsumsi oleh mikroorganisme.
b. Proses Acidogenesis
Merupakan tahapan lanjutan setelah proses hidrolisis bahan-bahan organik
dari bentuk polimer menjadi monomer-monomer sederhana, yang selanjutnya
akan dirombak lagi menjadi asam-asam mudah menguap yang melibatkan
bakteri acetogenik (penghasil ion hidrogen dari asam tertentu yang ditandai
dengan meningkatnya konsentrasi VFA (Volatile Fatty Acid) atau asam lemak
yang mudah menguap dalam larutan.
c. Proses Asetogenesis
Tahapan selanjutnya adalah proses asetogenesis atau perombakan senyawasenyawa unikarbon seperti H2/CO2 atau HCOOH yang dikatabolisis oleh
bakteri homoacetogenik maupun senyawa-senyawa multikarbon menjadi asam
acetat

d. Proses Metanogenesis
Tahapan terakhir dalam proses perombakan secara anaerobik adalah
berlangsungnya proses pembentukan gas metana oleh bakteri Methanogenic
seperti Methanobacillus omelianskii yang mengkatabolisis asam acetat dan
senyawa karbon tunggal menjadi biogas.
Mekanisme reaksi pada fermentasi anaerob, yaitu:
Acid forming bacteria menguraikan senyawa glukosa menjadi:
a. C6H12O6 + 2H2O

2CH3COOH + 2CO2 + 4H2


(asam asetat)

b. C6H12O6

CH3CH2CH2COOH + 2CO2 + 2H2


(asam butirat)

c. C6H12O6 + 2H2

2CH3CH2COOH + 2H2O
(asam propionat)

Acetogenic bacteria menguraikan asam propionat dan asam butirat menjadi :


d. CH3CH2COOH

CH2COOH + CO2 + 3H
(asam asetat)

e. CH3CH2CH2COOH

2CH3COOH + 2H2
(asam asetat)

Acetoclastic methane menguraikan asam asetat menjadi :


f. CH3CH2COOH

CH4

+ CO2

(metana)

Methane bacteria mensintesa hidrogen dan karbondioksida menjadi :


g. 2H2 + CO2

CH4 + 2H2O
(metana)

Tiga tahap pertama di atas disebut sebagai fermentasi asam sedangkan


tahap keempat disebut fermentasi metanogenik (Lettinga, 1994 dalam Mahmud,
2011). Tahap asetogenesis terkadang ditulis sebagai bagian dari tahap
asidogenesis. Fermentasi asam cenderung menyebabkan penurunan pH karena
adanya produksi asam lemak volatil dan intermediet-intermediet lain yang
memisahkan dan memproduksi proton. Metanogenesis hanya akan berkembang
dengan baik pada kondisi pH netral sehingga ketidakstabilan mungkin muncul

sehingga aktivitas metanogen dapat berkurang. Kondisi ini biasa disebut souring
(pengasaman) (Lettinga, 1994 dalam Mahmud, 2011).
Berbagai studi tentang digesti anerobik pada berbagai ekosistem
menunjukkan bahwa 70 % atau lebih metana yang terbentuk diperoleh dari asetat
(pers. 1). Jadi asetat merupakan intermediet kunci pada seluruh fermentasi pada
berbagai ekosistem tersebut (Main et al, 1977 dalam Said, 2006). Hanya sekitar 33
% bahan organik yang dikonversi menjadi metana melalui jalur hidrogenotropik
dari reduksi CO2 menggunakan H2 (pers. 2) (Marchaim,1992 dalam Said, 2006).
Konversi bahan organik menjadi metan dapat dilihat pada gambar 3 berikut.

Gambar 2.3 Neraca massa penguraian bahan organik menjadimetana (Said


et all, 2006)
2.6. Potensi Limbah Cair Industri Tahu Sebagai Sumber Energi Alternatif
Biogas
Biogas dikenal sebagai gas rawa atau lumpur dan bisa digunakan sebagai
bahan bakar. Biogas adalah gas mudah terbakar yang dihasilkan dari proses

fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob. Pada umumnya


semua jenis bahan organik bisa diproses untuk menghasilkan biogas (Fibria,
2006).
Whey merupakan bagian limbah cair tahu yang paling berbahaya. Pengolahan
limbah cair tahu secara anaerobik memungkinkan konversi whey menjadi biogas
karena whey mengandung bahan organik cukup tinggi sebagaimana yang
ditunjukkan oleh nilai CODnya. Pembentukan biogas terjadi selama proses
fermentasi berjalan (Setiawan, 2005).
Pembuatan dan penggunaan biogas di Indonesia mulai digalakkan pada awal
tahun 1970-an dengan tujuan memanfaatkan buangan atau sisa yang berlimpah
dari benda yang tidak bermanfaat menjadi yang bermanfaat, serta mencari sumber
energi lain di luar kayu bakar dan minyak tanah. Pembuatan biogas bisa dengan
drum bekas yang masih kuat atau sengaja dibuat dalam bentuk bejana dari tembok
atau bahan-bahan lainnya (Setiawan, 2005).
Biogas dipergunakan dengan cara yang sama seperti penggunaan gas lainnya
yang mudah terbakar dengan mencampurnya dengan oksigen (O2). Untuk
mendapatkan

hasil

pembakaran

yang

optimal

perlu

dilakukan

proses

pemurnian/penyaringan karena biogas mengandung beberapa gas lain yang tidak


menguntungkan (Setiawan, 2005). Biogas dapat digunakan untuk kepentingan
penerangan dan memasak. Lampu atau kompor yang sudah umum dan biasa
dipergunakan untuk gas lain selain biogas tidak cocok untuk pemakaian biogas,
sehingga memerlukan penyesuaian karena bentuk dan sifat biogas berbeda dengan
bentuk dan sifat gas lain yang sudah umum. Pusat Teknologi Pembangunan (PTP)
ITB telah sejak lama membuat lampu atau kompor yang dapat menggunakan
biogas, yang asalnya dari lampu petromak atau kompor yang sudah ada. Kompor
biogas tersebut tersusun dari rangka, pembakar, spuyer, cincin penjepit spuyer dan
cincin pengatur udara, yang kalau sudah diatur akan mempunyai spesifikasi
temperatur nyala api dapat mencapai 560C dengan warna nyala biru muda pada
malam hari, dan laju pemakaian biogas 350 liter/jam. (Suriawiria, 2005 dalam
Mahmud, 2011).

Gas metan mempunyai nilai kalor antara 590 700 K.cal/m3. Sumber kalor
lain dari biogas adalah dari H2 serta CO dalam jumlah kecil, sedang karbon
dioksida dan gas nitrogen tak berkontribusi dalam soal nilai panas. Nilai kalor
biogas lebih besar dari sumber energy lainnya, seperti coalgas (586 K.cal/m3)
ataupun watergas (302 K.cal/m3). Nilai kalor biogas lebih kecil dari gas alam
(967 K.cal/m3). Setiap kubik biogas setara dengan 0,5 kg gas alam cair (liquid
petroleum gases/LPG), 0,5 L bensin dan 0,5 L minyak diesel. Biogas sanggup
membangkitkan tenaga listrik sebesar 1,25 1,50 kilo watt hour (kwh)
(Setiawan,2005).
Biogas merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan sangat tinggi
dan cepat daya nyalanya, sehingga sejak biogas berada pada bejana pembuatan
sampai penggunaannya untuk penerangan ataupun memasak, harus selalu
dihindarkan dari api yang dapat menyebabkan kebakaran atau ledakan (Setiawan,
2005). Pembuatan biogas dimulai dengan memasukkan bahan organik ke dalam
digester, sehingga bakteri anaerob membusukkan bahan organic tersebut dan
menghasilkan gas yang disebut biogas. Biogas yang telah terkumpul di dalam
digester dialirkan melalui pipa penyalur gas menuju tangki penyimpan gas atau
langsung ke lokasi penggunaannya, misalnya kompor. Biogas dapat dipergunakan
dengan cara yang sama seperti cara penggunaan gas lainnya yang mudah terbakar.
Pembakaran biogas dilakukan dengan mencampurnya dengan oksigen (O2).
Untuk mendapatkan hasil pembakaran yang optimal perlu dilakukan proses
pemurnian/penyaringan karena biogas mengandung beberapa gas lain yang tidak
menguntungkan. Keuntungan lain yang diperoleh adalah dihasilkannya lumpur
yang dapat digunakan sebagai pupuk.
Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas sistem biogas antara lain
jenis bahan organik yang diproses, temperatur digester, ruangan tertutup atau
kedap udara, pH, tekanan udara serta kelembaban udara. Komposisi gas yang
terdapat di dalam biogas adalah 40-70 % metana (CH4), 30-60 % karbondioksida
(CO2) serta sedikit hidrogen (H2) dan hidrogen sulfide (H2S) (Anonim,2005).
Dari proses fermentasi dihasilkan campuran biogas yang terdiri atas, metana
(CH4), karbon dioksida, hidrogen, nitrogen dan gas lain seperti H2S. Metana yang

dikandung biogas ini jumlahnya antara 54 70%, sedang karbon dioksidanya


antara 27 43%. Gas-gas lainnya memiliki persentase hanya sedikit saja
(Setiawan, 2005).
2.7. Reaktor UASB (Upflow Anaerobic Sludge Blanket)
Reaktor UASB adalah proses pengolahan air limbah secara anaerobik(
tanpa oksigen). Alat ini berfungsi untuk mengurangi tingkat pencemaran air
limbah dengan menggunakan bantuan bakteri dalam mengurai bahan organic.
Bakteri yang digunakan adalah Methanothrix dan Methanosarcina sp. Proses
penguraian anaerobic akan menghasilkan gas metana dan karbon dioksida.

Gambar 2.4 Reaktor UASB (Mahmud, 2011)


Prinsip Kerja UASB adalah air limbah masuk dari bagian bawah reaktor
lalu dialirkan secara vertikal ke atas dengan kecepatan alir 13 m3/jam. Air limbah
pertama-tama akan melewati suatu lapisan yang dinamakan sludge bed. Air
limbah yang melewati sludge bed akan mengalami kontak dengan bakteri anaerob
(Methanothrix soehngenii dan Methanosarcina sp) yang berbentuk butiran yang

menyusun sludge bed tersebut. Sludge bed juga berfungsi untuk menyaring
padatan solid yang terikut bersama air limbah dan menjadi sumber makanan bagi
bakteri anaerob untuk dapat berkembangbiak.
Biogas yang terbentukkan naik ke atas dan dengan sifat gas yang menekan
ke segala arah akan mengakibatkan pengadukan didalam reactor. Selanjutnya
biogas dikumpulkan di gas collector . Granule yang terikut bersama biogas akan
dibelokkan oleh dinding miring dan kembali kedasar reactor. Air limbah yang
telah melalui proses di UASB selanjutnya akan keluar melalui effluent dan
mengalir ke cooling pond.
Kelompok Kerja AMPL (2004) dalam Mahmud 2011menyatakan bahwa
teknik UASB (Upflow Anaerobic Sludge Bed) pada pengolahan limbah perkotaan
semakin diminati karena biaya operasi rendah, dapat menangani beban cemaran
tinggi, tidak membutuhkan tempat yang luas.
Kelebihan lain dari UASB yaitu timbulnya butiran-butiran lumpur (granules
sludge) dan perangkat pemisah internal 3 fase yang biasa disebut sebagai GSL
(gas-sludge-liquid separator system) device.
Butiran lumpur ini mampu memberikan beberapa keuntungan karena berupa
padatan tebal bio-film, berkekuatan mekanis tinggi, komunitas mikrobia stabil,
aktivitas metanogenik tinggi (0,5-2 g COD/g VSS.d), resistan terhadap kejutan
racun, dan mempunyai kemampuan mengendap tinggi (30-80 m/h) (Anh,2005).
Pengendapan lumpur ini mencegah terjadinya wash out lumpur dari sistem.
Butiran ini merupakan inti dari teknologi UASB dan EGSB. Sebuah butiran
lumpur merupakan sebuah kumpulan mikrobia yang terbentuk selama penanganan
limbah cair. Satu gram (berat kering) materi organic butiran lumpur dapat
mengkatalisa konversi 0,5 1 g COD per hari menjadi metana (Field, 2003 dalam
Mahmud, 2011).
Perangkat internal GSL tiga fase yang terpasang pada bagian atas tangki
UASB mempunyai beberapa fungsi (Anh, 2005 dalam Mahmud, 2011):
a. mengumpulkan, memisahkan, dan mengeluarkan biogas yang terbentuk
b. mengurangi turbulansi (putaran) cairan
c. mengurangi atau mencegah pemindahan partikel lumpur dari sistem ini.

Risiko/kelemahan reaktor UASB yaitu kurang bisa diterapkan di daerah yang


bersuhu agak rendah. Marchaim (1992) dalam Mahmud (2011) menyatakan
bahwa proses UASB ini lebih sering diterapkan di daerah tropis yang biasanya
bersuhu lebih dari 20 oC. Pada suhu di atas 12 oC, efisiensi perubahan COD
sekitar 60 % dan tidak terlalu besar dipengaruhi oleh suhu, tingkat pembebanan,
ataupun HRT. Akan tetapi pada suhu di bawah 12 oC, efisiensinya rendah.
Lettinga et al.(1994) dalam Mahmud (2011) menyatakan bahwa pada suhu di
bawah 20 OC degradasi lipida pada tahap hidrolisis berlangsung lambat.
Kelemahannya yang lain adalah mudah mengalami korosi pada dua keadaan
utama :
a. gas H2S dapat melalui GSL separator dan mengumpul di atas permukaan
air pada reaktor bagian atas. Gas ini akan dioksidasi menjadi sulfat oleh
oksigen di udara menjadi bentuk sulphuric acid yang nanti pada gilirannya
menyebabkan korosi pada beton dan baja
b. di bawah permukaan air : kalsium oksida (CaO) dapat dilarutkan oleh
karbondioksida dalam cairan pada pH rendah.
Pencegahan dilakukan dengan menyusun reaktor UASB dari bahan anti karat
seperti stainless steel atau plastik, atau diberi lapisan permukaan yang tepat.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini , yaitu :
1. Ada beberapa tahapan dalam proses pembuatan tempe dimana dilakukan
pembersihan terlebih dahulu terhadap kedelai yang telah dipilih, kemudian
direndamkan selama 4-10 jam sehingga setelah dapat di giiling menjadi
bubur kedelai dengan penambahan air sesuai dengan jumlah kedelai agar
dapat memperlancar proses penggilingan. Kemudian dilakukan pemasakan
di atas tungku selama 5 menit dengan ditambahkan lagi air agak tidak
berbuih dengan cari diaduk. Setelah itu dilakukan proses penyaringan bubur
kedelai

dengan

kain

penyaring

sehingga

dapat

dilakukan

proses

penggumpalan menggunakan air asam dengan suhu 50 C, kemudian


didiamkan sampai terbentuk gumpalan besar. Selanjutnya air di atas endapan
dibuang dan sebagian digunakan untuk proses penggumpalan kembali.
Langkah terakhir adalah pengepresan dan pencetakan yang dilapisi dengan
kain penyaring sampai padat.
2. Jenis Limbah yang dihasilkan dalam proses pembuatan tahu maupun pada
saat pencucian kedelai yaitu limbah padat yang berupa ampas tahu dalam
proses pencucian dan penyaringan berupa biji yang jelek dan ceceran biji,
dan limbah cair mengandung sisa air dari susu tahu yang tidak tergumbal
menjadi tahu
3. Pengendalian limbah cair tahu dengan sistem anaerobic mampu menerima
beban organic yang tinggi sehingga volume reactor relative lebih kecil
dibandingkan dengan proses aerobic dan menghasilkan gas metan sebagai
produk akhir yang mempunyai nilai ekonomis. Sistem aerobic juga tidak
memerlukan energy untuk aerasi dalam proses untuk menjadi biogas dan
mengahasilkan lumpur yang secara biologi sangat stabil sehingga dapat
disimpan tanpa pemberian zat makanan.

4. Potensi limbah cair menjadi biogas dengan metode anaerobil sangatlah


memungkinkan untuk dikonversi menjadi biogas karena mengandung bahan
organik cukup tinggi sebagaimana yang ditunjukkan oleh nilai CODnya.
Pembentukan biogas terjadi selama proses fermentasi berjalan

Daftar Pustaka
Coniwanti,Pamilia, dkk. 2009. Pembuatan Biogas Dari Ampas Tahu. Jurusan Teknik
Kimia Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya.
Fibria, Kaswinarni. 2007. Kajian Teknis Pengolahan Limbah Padat dan Cair Industri
Tahu. Lembaga Penelitian UNDIP. Semarang
Herlambang, Arie. 2002. Teknologi Pengolahan Limbah Cair Industri. Pusat
Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan dan Badan Pengendalian
Dampak Lingkungan Daerah Samarinda. Jakarta
Mahmud, Hasan. 2011. Biogas :Potensi Dari
www.DuniaDownload.com

Limbah CairIndustri Tahu.

Nurhasan, Pramudyanto,B.B., 1991. Penanganan Air Limbah Pabrik Tahu. Yayasan


Bina Kasta Lestari Bintarti. Semarang
Said, Nusa Idaman; Haryoto; Nugro; dan Arie. 2006. Teknologi Pengolahan Limbah
Tahu-Tempe
Dengan
Proses
Biofilter
Anaerob
Dan
Aerob.www.enviro.bppt.go.id/~Kel-1/
Setiawan, Yuli. 2005. Mengubah Limbah Ternak Jadi Energi. www. iatpi.org
Subekti, Sri. 2011. Pengolahan Limbah Cair Tahu menjadi Biogas Sebagai Bahan
Bakar Alternatif. Universitas Wahid Hasyim. Semarang

LAMPIRAN
MATRIKS REFERENSI
No.

Judul

Penulis

Biogas : Potensi
Dari Limbah Cair
Industri Tahu

Hasan
Mahmud

Kajian Teknis
Pengolahan
Limbah Padat Dan
Cair
Industri Tahu

Kaswinarni
Fibria

Diterbitkan Oleh/
Alamat Web
www.DuniaDownloa
d.com

Universitas
Diponegoro
Semarang

2011

Jenis
Tulisan
Ebook

2007

Tesis

Tahun

Intisari
Limbah cair tahu mengandung bahan organic cukup tinggi,
sehingga bila dibuang langsung ke lingkungan dapat
menurunkan mutu lingkungan tersebut. Pengolahan limbah
cair tahu secara anaerobik diharapkan dapat mengurangi
pencemaran lingkungan dan menghasilkan sumber energy
alternatif secara mudah dan murah. Penggunaan UASB
yang dilengkapi dengan alat penangkap gas dan kran
pengambilan sampel diharapkan dapat digunakan untuk
mengetahui laju produksi biogas, penurunan COD, dan
kenaikan pH limbah cair sehingga dapat dijadikan sebagai
dasar dalam perancangan instalasi penanganan limbah yang
memanfaatkan biogas sebagai energi alternatif yang
diperoleh dari hasil pengolahan limbah secara anaerobik.
Industri tahu saat ini sudah menjamur di Indonesia, dan
rata-rata masih dilakukan dengan teknologi yang sederhana,
sehingga tingkat efisiensi penggunaan air dan bahan baku
masih rendah dan tingkat produksi limbahnya juga relatif
tinggi. Sumber daya manusia yang terlibat pada umumnya
bertaraf pendidikan yang relative rendah, serta belum
banyak yang melakukan pengolahan limbah. Kalaupun
sudah ada yang mempunyai unit pengolahan limbah
hasilnya juga ada yang belum sepenuhnya sesuai yang
diharapkan. Penelitian ini dilakukan pada tiga industri tahu,
yaitu Industri Tahu Tandang Semarang (Anaerob-Aerob),
Sederhana Kendal (Anaerob-Aerob) dan Gagak Sipat

Teknologi
Pengolahan
Limbah TahuTempe Dengan
Proses Biofilter
Anaerob Dan
Aerob

Nusa
Idaman Said;
Haryoto;
Nugro; dan
Arie

www.enviro.bppt.go.
id/~Kel-1/

2006

Jurnal

Boyolali (Anaerob). Penelitian ini bertujuan untuk


mengetahui pengolahan limbah tahu yang efektif dan
efisien serta dampaknya bagi masyarakat dan lingkungan.
Metode yang dipakai pada penelitian ini survai lapangan
dan wawancara. Analisis data yang digunakan adalah
deskriptif analitik dan analisis SWOT. Kesimpulan dari
penelitian ini yaitu pengolahan limbah yang efektif dan
efisien adalah IPAL Industri Tahu Sederhana Kendal,
diperlukan pengoperasian proses IPAL secara kontinyu agar
hasilnya sesuai yang diharapkan dan IPAL yang sesuai
untuk industri kecil tahu adalah IPAL yang biaya investasi
awal dan operasionalnya murah, perawatannya mudah,
proses pengolahan lengkap (anaerob-aerob), kualitas efluen
memenuhi baku mutu air limbah industri tahu, memiliki
nilai ekonomis dan ramah lingkungan.
Industri tahu dan tempe merupakan industri kecil yang
banyak tersebar di kota-kota besar dan kecil. Tempe dan
tahu merupakan makanan yang digemari oleh banyak
orang. Akibat dari banyaknya industri tahu dan tempe,
maka limbah hasil proses pengolahan banyak membawa
dampak terhadap lingkungan. Limbah dari pengolahan tahu
dan tempe mempunyai kadar BOD sekitar 5.000 - 10.000
mg/l, COD 7.000 - 12.000 mg/l. Besarnya beban
pencemaran yang ditimbulkan menyebabkan gangguan
yang cukup serius terutama untuk perairan disekitar industri
tahu dan tempe. Teknologi pengolahan limbah tahu tempe
yang ada saat ini pada umumnya berupa pengolahan limbah
sistem anaerob. Dengan proses biologis anaerob, efisiensi
pengolahan hanya sekitar 70-80 %, sehingga air lahannya
masih mengandung kadar polutan organik cukup tinggi,
serta bau yang ditimbulkan dari sistem anaerob dan

Mengubah Limbah
Ternak Jadi Energi

Yuli
Setiawan

www. iatpi.org

2005

Jurnal

Teknologi

DR. Ir. Arie

Pusat Pengkajian dan

2002

Buku

tingginya kadar fosfat merupakan masalah yang belum


dapat diatasi. Untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan
dengan cara kombinasi proses biologis anaerob-aerob yakni
proses penguraian anaerob dan diikuti dengan proses
pengolahan lanjut dengan sistem biofilter anaerob-aerob.
Dengan kombinasi proses tersebut diharapkan konsentrasi
COD dalan air olahan yang dihasilkan turun menjadi 60
ppm, sehingga jika dibuang tidaklagi mencemari
lingkungan sekitarnya.
Biogas merupakan renewable energy yang dapat dijadikan
bahan bakar alternatif untuk menggantikan bahan bakar
yang berasal dari fosil seperti minyak tanah dan gas alam.
Akhir-akhir ini diversifikasi penggunaan energy menjadi
isu yang sangat penting karena berkurangnya sumber bahan
baku minyak. Pemanfaatan limbah pertanian untuk
memproduksi biogas dapat memperkecil konsumsi sumber
energi komersial seperti minyak tanah juga penggunaan
kayu bakar. Biogas dihasilkan oleh proses pemecahan
bahan limbah organic yang melibatkan aktivitas bakteri
anaerob dalam kondisi anaerobic dalam suatu digester. Pada
dasarnya proses pencernaan anaerob berlangsung atas tiga
tahap yaitu hidrolisis, pengasaman dan metanogenik.Proses
fermentasi memerlukan kondisi tertentu seperti rasio
C:N,temperatur, keasaman juga jenis digester yang
dipergunakan. Di banyak negara berkembangjuga di negara
Eropa dan
Amerika Serikat, biogas sudah umum digunakan sebagai
energy pengganti yang ramah lingkungan. Sementara
diIndonesia yang mempunyai potensi limbah biomasa yang
melimpah, biogasbelum dimanfaatkan secara maksimal.
Dalam buku ini telah disusun panduan umum teknologi

Pengolahan
Limbah Cair
Industri

Herlambang,
M.Si.

Penerapan Teknologi
Lingkungan dan
Badan Pengendalian
Dampak Lingkungan
Daerah Samarinda

Penanganan Air
Limbah Pabrik
Tahu.

Yayasan Bina Kasta


Lestari Bintarti

1991

Buku

Pembuatan Biogas
Dari AmpasTahu

Nurhasan
dan
Pramudyanto
,B.B
PamiliaConi
wanti,
Anthon
Herlanto,
dkk

UniversitasSriwijaya

2009

Jurnal

Pengolahan
LimbahCair Tahu
Menjadi Biogas
sebagai
bahanbakan
alternative

Sri Subekti

Universitas Wahid
Hasyim

2011

Jurnal

pengolalaan dan pengolahan limbah cair serta beberapa


contoh penerapan teknologi pengolahan limbah cair untuk
industry makanan tahu tempe, industry makanan dari bahan
ikan, udang, unggas dan daging, industry perkebunan buah
dan sayuran, industry percetakan, industry jasa perhotelan,
rumah makan dan restoran, industry jasa bengkel kendaraan
bermotor, serta rumah sakit dan puskesmas dan lain-lain.
Dalam buku ini berisi tentang sumber air limbah pabrik
tahu, karakteristik limbah pabrik tahu, dan penanganan air
limbah pabrik tahu secara efektif dan efisien
Dalam buku ini menjelaskan bahwa besarnya potensi
limbah ampas tahu yang dihasilkan di Indonesia yang
tidakdimanfaatkan lebih lanjut, dimana pemanfaatan limbah
ini sebenarnya dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih.
Beberapa manfaat dari biogas yang terbuat dari ampas tahu
adalah mengurangi volume limbah dilingkungan,
mengurangi efek rumah kaca, and menjadi gas alternative
menggantikan LPG yang biasa digunakan untuk masak.
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
rasioperban dingankan dari ampas tahu dengan kandungan
air dan waktu fermentasi.
Dalam jurnal ini menjelaskan bahwa industry tahu
merupakan industry dengan skala kecil, maka
membutuhkan instalasi pengolahan limbah yang alat-alat
nya sederhana, biaya operasionalnya murah, memiliki nilai
ekonomis dan ramah lingkungan. Llimbah tahu harus
dikelola dengan baik dan dipelihara secara rutin. Namun
memerlukan teknologi pengolahan limbah tahu yang efektif
dan efisien beserta kelebihan dan kekurangannya, dan
dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan.

Anda mungkin juga menyukai