Anda di halaman 1dari 5

Hasil dan Pembahasan

:
a. Hasil
Tabel 1. Perhitungan Denyut Jantung Daphnia sp. Pada Berbagai Suhu
Lingkungan Yang Berbeda
N
o

Suhu
Awal
(oC)

10

15

20

25

Pengulan
gan
1. 29
2. 29
3. 26
1. 30
2. 31
3. 29
1. 38
2. 36
3. 36
1. 42
2. 45
3. 44

RataRata

Suhu
Akhir
(oC)

28

20

30

25

37

30

44

35

Pengulan
gan
1. 49
2. 44
3. 47
1. 47
2. 53
3. 60
1. 57
2. 55
3. 66
1. 67
2. 62
3. 65

RataRata
47

Koefisi
en
Aktifita
s
1,68

53

1,77

59

1,59

65

1,48

Grafik 1. Hubungan antara jumlah denyut Daphnia sp. Perdetik dengan suhu awal
lingkungan.
Keterangan :
Sumbu X
: Suhu awal
Sumbu Y
: Rata-rata denyut jantung

Grafik 2. Hubungan antara suhu lingkungan dengan koefisien aktifitas Daphnia sp.
Analisis Data
:
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan pada praktikum pengaruh suhu
terhadap denyut jantung Daphnia sp.

Diketahui berdasarkan hasil data yang telah

diperoleh bahwa suhu mempengaruhi frekuensi denyut jantung Daphnia sp. Pada suhu
awal yakni suhu 100C dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali dalam kurung waktu
masing-masing 15 detik. Dalam mengukur denyut jantung Daphnia sp. Pada hitungan
pertama didapatkan 29, hitungan kedua sebesar 29 dan hitungan ketiga sebesar 26.
Didapatkan rata-ratanya sebesar 28. Pada suhu 150C pada perhitungan pertma didapatkan
denyut jantungnya sebesar 30 kali, perhitungan kedua 31, dan perhitungan ketiga 29, pada
suhu 150C didapatkan rata-ratanya sebesar 30. Pada suhu 200C, di perhitungan pertama
didapatkan frekuensi denyut jantungnya sebesar 38, pengulangan kedua dan pengulangan
ketiga sebesar 36. Didapatkan rata-rata frekuensi denyut jantung Daphnia sp. Suhu 200C
sebesar 37. Pada suhu 250C juga dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali terhadap
perhitungan denyut jantung Daphina sp. Pada perhitungan pertama denyut jantungnya
sebesar 42, pengulangan kedua sebesar 45, pengulangan ketiga 44. Didapatkan rataratanya sebesar 44. Berdasarkan gambar grafik 1. Didapatkan peningkatan denyut jantung
pada Daphnia sp.
Berdasarkan uraian diatas merupakan pengukuran suhu awal terhadap denyut
jantung Daphnia sp. Pada percobaan pengukuran suhu akhir. Suhu akhir dimulai pada
suhu 200C. Pada perhitungan pertama didapatkan denyut jantungnya sebesar 49 kali
selama 15 detik. Pengulangan kedua sebesar 44, dan pengulangan ketiga sebesar 47.
Didapatkan rata rata pada suhu 200C sebesar 1,68. Pada suhu 250C perhitungan petama
didapatkan denyut jantungnya sebesar 47, pengulangan kedua sebesar 53, pengulangan
ketiga sebesar 60. Didapatkan rata-rata pada suhu 25 0C ialah sebesar 53. Pada suhu 300C

pada perhitungan denyut pertama didapatkan sebesar 57, pengulangan kedua sebesar 55,
dan pengulangan ketiga sebesar 66. Didapatkan rata-rata sebesar 59. Pada suhu 350C
perhitungan pertama didapatkan sebesar 67, pertihungan pengulangan kedua sebesar 62,
dan epngulangan ketiga sebesar 65. Didapatkan rata-ratanya sebesar 65. Koefisien
aktifitas yang telah dihitung dari rata-rata akhir dibagi dengan rata-rata awal, yakni pada
suhu 100C koefisien aktifitasnya sebesar 1,68. Suhu 150C koefisien aktifitasnya sebesar
1,77. Suhu 200C koefisien aktifitasnya sebesar 1,59. Suhu 25 0C koefisien aktifitasnya
sebesar 1,48. Berdasarkan gambar grafik 2. Terjadi peningkatan koefisien aktifitas dari
suhu 100C ke 150C selanjutnya denyut jantung mengalami penurunan hingga suhu 250C.
Pembahasan
:
Daphnia sp. merupakan jenis hewan zooplankton yang hidup di air tawar, terkadang
ada pada kolam-kolam maupun pada danau. Kehidupan Daphnia sp. dipengaruhi oleh
beberapa faktor ekologi perairan antara lain: suhu, oksigen terlarut dan pH. Daphnia sp.
dapat beradaptasi dengan baik pada perubahan lingkungan hidupnya dan termasuk dalam
ketegori hewan yang tahan terhadap fluktuasi suhu harian atau tahunan. Daphnia sp.
dapat hidup baik di daerah tropis maupun di daerah subtropis. Kisaran suhu yang dapat
ditolerir oleh Daphnia sp. bervariasi atau bermacam-macam sesuai adaptasinya pada
lingkungan-lingkungan tertentu. Berdasarkan data hasil percobaan diatas dapat
disimpulkan bahwa Daphnia sp. termasuk hewan yang poikiloterm (berdarah dingin),
dalam artian suhu tubuh hewan tersebut akan naik turun mengikuti suhu lingkungannya.
Pada Daphnia sp dalam hidupnya memiliki kisaran toleransi suhu. Kisaran toleransi
pada Daphnia sp. ialah pada suhu suhu 22 31oC dan pH 6,5 7,4. Karena pada suhu
tersebut Daphnia sp. mengalami ini perkembangan larva menjadi dewasa dalam waktu
empat hari (Djarijah, 1995).
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa semakin tinggi
suhu, maka detak jantung Daphnia sp. juga semakin tinggi. Hal ini telah sesuai dengan
teori yang menyatakan bahwa semakin tinggi suhu maka detak jantung Daphnia sp
semakin cepat pula. Pada Daphnia sp, denyut jantungnya akan semakin bertambah
bersamaan dengan pertambahan suhu pada lingkungan (air) tersebut. Dengan demikian
hal ini merupakan hasil reaksi fisiologi Daphnia sp. terhadap perubahan suhu lingkungan.
Bersamaan dengan peningkatan suhu pada lingkungan air tersebut maka Daphnia sp akan
semakin meningkatkan konsumsi oksigennya yang akan berguna untuk menyesuaikan diri
dengan peningkatan laju metabolismenya. Metabolisme tubuhnya akan meningkat dengan
pesat hal ini sesuai dengan hukum kimia bahwa peningkatan suhu akan meningkatkan

kecepatan suatu reaksinya. Peningkatan metabolisme akan mengakibatkan kecepatan


pernafasan Daphnia sp juga akan bertambah Hal ini telah sesuai dengan teori yang
dikemukakan oleh Waterman (1960) bahwa pada lingkungan dengan suhu tinggi akan
meningkatkan metabolisme dalam tubuh sehingga laju respirasi meningkat dan
berdampak pada peningkatan denyut jantung Daphnia sp.
Terdapat beberapa faktor pula yang dapat meningkatkan frekuensi denyut jantung
pada Daphnia sp. Faktor-faktor tersebut diantaranya ialah Ukuran serta umur, dimana
spesies yang lebih besar cenderung mempunyai denyut jantung yang lebih lambat. Saat
sedang mengamati denyut jantung Daphnia sp di bawah sinar dari mikroskop juga
mempengaruhi frekuensi denyut jantungnya bahwa pada keadaan gelap denyut jantung
Daphnia sp. mengalami penurunan sedangkan pada keadaan terang atau terkena cahaya
di bawah sinar cahaya dari mikroskop denyut jantung Daphnia sp. mengalami
peningkatan. Obat-obat (senyawa kimia), zat kimia menyebabkan aktivitas denyut
jantung Daphnia sp. menjadi meningkat.
Pada percobaan suhu akhir yang dimulai dari suhu 20 oC hingga 35oC, kemudian
berdasarkan data yang diperoleh yakni dari data koefisien aktifitas Daphnia sp.
didapatkan koefisien nya menurun dari awal hingga akhir dari 1,68 hingga koefisiennya
menurun menjadi 1,48. Hal ini menyatakan bahwa aktivitas metabolisme Daphnia akan
semakin naik seiring bersamaan dengan naiknya suhu hingga pada titik tertentu dimana
terjadi kerusakan jaringan, kemudian akan diikuti oleh aktivitas yang menurun yang pada
akhirnya mengakibatkan terjadinya kematian. Penyebab terjadinya penurunan detak
jantung Daphnia saat suhu dinaikkan 10oC dari suhu awal dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor, diantaranya adalah sistem ketahanan tubuh Daphnia. Saat suhu
dinaikkan dari suhu awal, Daphnia mengalami kejutan atau shock yang mengakibatkan
aktivitas metabolisme di dalam tubuh semakin tinggi. Pada titik tertentu itulah kerja
enzim pada Daphnia sp. mulai rusak, sehingga pada kondisi perhitungan selanjutnya
mengalami penurunan karena kerja enzim tersebut sudah mencapai titik optimal, yang
mengakibatkan metabolismenya terganggu sehingga koefisien aktifitas dari Daphnia sp.
menurun.