Anda di halaman 1dari 97

HUBUNGAN ANTARA SIKAP TERHADAP MEROKOK

DENGAN KEBIASAAN MEROKOK PADA REMAJA


(Penelitian Pada Siswa Laki-laki di SMA Negeri 1 Jasinga
Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat
Tahun Pelajaran 2004/2005)

SKRIPSI

Diajukan Dalam Rangka Penyelesaian Studi Strata 1 Untuk Mencapai


Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

Nama : Iqbal Soamole


NIM : 1314000026

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2004
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................... i


ABSTRAK ................................................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................... iii
KATA PENGANTAR ................................................................................. iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................ vi
DAFTAR ISI ................................................................................................ vii
DAFTAR TABEL ........................................................................................ ix
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xi

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................... 1
B. Permasalahan........................................................................ 5
C. Penegasan Istilah .................................................................. 6
D. Tujuan Penelitian.................................................................. 7
E. Manfaat Penelitian ............................................................... 7
F. Sistematika Skripsi............................................................... 8

BAB II. LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS


A. Landasan Teori
1. Kebiasaan Merokok Pada Remaja................................... 10
a. Pengertian merokok ................................................... 10
b. Aspek-aspek dalam merokok ..................................... 14
c. Pengertian remaja ...................................................... 19
d. Kebiassaan merokok pada remaja .............................. 22
2. Sikap Remaja Terhadap Merokok................................... 27
a. Pengertian sikap......................................................... 28
b. Komponen sikap........................................................ 33
c. Pembentukan dan perubahan sikap............................. 36
d. Pengukuran sikap....................................................... 45
3. Hubungan Antara Sikap Remaja Terhadap Merokok
Dengan Kebiasaan Merokok Pada Remaja...................... 48
B. Hipotesis ............................................................................. 52

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN


A. Jenis Penelitian .................................................................. 53
B. Variabel Penelitian.............................................................. 53
C. Populasi dan Sampel ........................................................... 55
1. Populasi.......................................................................... 55
2. Sampel ........................................................................... 55
D. Metode dan Alat Pengumpulan Data ................................... 56
1. Metode pengumpul data ................................................. 56

vii
2. Alat pengumpul data ...................................................... 57
E. Uji Instrumen...................................................................... 67
1. Validitas......................................................................... 67
2. Reliabilitas..................................................................... 68
F. Analisis data ....................................................................... 69

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Penelitian................................................................... 73
1. Hasil uji coba instrumen................................................. 73
2. Deskriptif sikap remaja terhadap merokok ..................... 76
3. Deskriptif kebiasaan merokok pada remaja .................... 80
4. Hasil uji pra syarat ......................................................... 84
5. Uji hipotesis................................................................... 85
B. Pembahasan ........................................................................ 86

BAB V. PENUTUP
A. Simpulan.......................................................................... 91
B. Saran................................................................................ 91

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 92


LAMPIRAN - LAMPIRAN

viii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Merokok merupakan kegiatan yang masih banyak dilakukan oleh banyak

orang, walaupun sering ditulis di surat-surat kabar, majalah dan media masa lain

yang menyatakan bahayanya merokok. Bagi pecandunya, mereka dengan bangga

menghisap rokok di tempat-tempat umum, kantor, rumah, jalan-jalan, dan

sebagainya. Di tempat-tempat yang telah diberi tanda “dilarang merokok”

sebagian orang ada yang masih terus merokok. Anak-anak sekolah yang masih

berpakaian seragam sekolah juga ada yang melakukan kegiatan merokok.

Merokok merupakan salah satu masalah yang sulit dipecahkan. Apalagi

sudah menjadi masalah nasional, dan bahkan internasional. Hal ini menjadi sulit,

karena berkaitan dengan banyak faktor yang saling memicu, sehingga seolah-

olah sudah menjadi lingkaran setan. Di tinjau dari segi kesehatan merokok harus

dihentikan karena menyebabkan kanker dan penyumbatan pembuluh darah yang

mengakibatkan kematian, oleh karena itu merokok harus dihentikan sebagai

usaha pencegahan sedini mungkin. Dari segi pemerintahan, pemerintah

memperoleh pajak pemasukan rokok yang tidak sedikit jumlahnya, dan mampu

banyak menyerap tenaga kerja. Jika pabrik rokok ditutup harus mencarikan

pemasukan dana dari sumber lain dan mengalihkan para pekerja pabrik rokok

1
2

yang tidak sedikit jumlahnya (sulit pemecahannya). Di pihak perokok sendiri,

mereka merasakan nikmatnya begitu nyata, sampai dirasa memberikan rasa

kesegaran dan kepuasan tersendiri sehingga setiap harinya harus menyisihkan

uang untuk merokok. Kelompok lain, khususnya remaja pria, mereka

menganggap bahwa merokok adalah merupakan ciri kejantanan yang

membanggakan, sehingga mereka yang tidak merokok malah justru diejek.

Survei yang diadakan oleh Yayasan Jantung Indonesia tahun 1990 yang

dikutip oleh Mangku Sitepoe (2000: 19) menunjukkan data pada anak-anak

berusia 10-16 tahun sebagai berikut : angka perokok <10 tahun (9%), 12 tahun

(18%), 13 tahun (23%), 14 tahun (22%), dan 15-16 tahun (28%). Mereka yang

menjadi perokok karena dipengaruhi oleh teman-temannya sejumlah 70%, 2% di

antaranya hanya coba-coba. Selain itu, menurut data survei kesehatan rumah

tangga 2002 seperti yang tercatatat dalam koran harian Republika tanggal 5 juni

2003, menyebutkan bahwa jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai 75%

atau 141 juta orang. Sementara itu, dari data WHO jumlah perokok di dunia ada

sebanyak 1,1 miliar orang, dan 4 juta orang di antaranya meninggal setiap tahun.

Dewasa ini di Indonesia kegiatan merokok seringkali dilakukan individu

dimulai di sekolah menengah pertama, bahkan mungkin sebelumnya. Kita sering

melihat di jalan atau tempat yang biasanya dijadikan sebagai tempat

“nongkrong” anak-anak tingkat sekolah menengah banyak siswa yang merokok.

Pada saat anak duduk di sekolah menengah atas, kebanyakan pada siswa laki-
3

laki merokok merupakan kegiatan yang menjadi kegiatan sosialnya. Menurut

mereka merokok merupakan lambang pergaulan bagi mereka.

Siswa SMU yang berada dalam masa remaja yang merasa dirinya harus

lebih banyak menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok sebaya dari

pada norma-norma orang dewasa. Dalam hal ini remaja menganggap merokok

sebagai lambang pergaulannya. Khususnya siswa laki-laki bahwa merokok

sebagai suatu tuntutan pergaulan bagi mereka. Seperti halnya yang diungkapkan

oleh Hurlock (1999: 223) bahwa bagi remaja rokok dan alkohol merupakan

lambang kematangan. Hal tersebut disampaikan oleh Hurlock berdasarkan

fenomena di Amerika. Tetapi menurut norma yang berlaku di Indonesia lebih

memandang bahwa remaja khususnya remaja yang masih berada diusia sekolah

melakukan aktivitas merokok diidentikan sebagai anak yang nakal.

Hampir semua orang mulai merokok dengan alasan yang sedikit sekali

kaitannya dengan kenikmatan. Dalam pikiran remaja, rokok merupakan lambang

kedewasaan. Sebagai seorang remaja mereka menggunakan berbagai cara agar

terlihat dewasa. Untuk membuktikannya mereka melakukan dengan sadar

melakukan kebiasaan orang dewasa yakni merokok. Seperti halnya yang

diungkapkan oleh Hariyadi (1997: 12) bahwa remaja ingin mencoba melakukan

apa yang sering dilakukan oleh orang dewasa, dengan sembunyi-sembunyi

remaja pria mencoba merokok karena seringkali mereka melihat orang dewasa

melakukannya.
4

Pada masa remaja, ada sesuatu yang lain yang sama pentingnya dengan

kedewasaan, yakni solidaritas kelompok, dan melakukan apa yang dilakukan

oleh kelompok. Apabila dalam suatu kelompok remaja telah melakukan kegiatan

merokok maka individu remaja merasa harus melakukannya juga. Individu

remaja tersebut mulai merokok karena individu dalam kelompok remaja tersebut

tidak ingin dianggap sebagai orang asing, bukan karena individu tersebut

menyukai rokok.

Sitepoe (2000: 20) menyebutkan bahwa alasan utama menjadi perokok

adalah karena ajakan teman-teman yang sukar ditolak, selain itu juga, ada juga

pelajar pria mengatakan bahwa pria menjadi perokok setelah melihat iklan

rokok. Ini berarti bahwa tindakan merokok diawali dari adanya suatu sikap, yaitu

kecenderunga seseorang untuk menerima atau menolak, setuju atau tidak setuju

terhadap respon yang datang dari luar dalam hal ini adalah rokok. Orang melihat

rokok atau melihat orang lain merokok, lalu respon apa yang muncul di dalam

pikiran atau perassaanya, bisa saja orang tertarik (setuju) atau tidak tertarik

(tidak setuju), hal ini akan terjadi pada setiap orang. Orang yang setuju, ada

kecenderungan akan melakukannya atau menirunya, bagi yang tidak setuju tentu

kencenderungannya akan menghindari. Namun ada kecenderungan lain, yaitu

dalam hati ia tidak setuju, tetapi kenyataannya ia melakukannya (merokok). Hal

ini tentu ada faktor lain yang mempengaruhinya. Di sinilah terjadinya

kontradiksi antara sikap dan perbuatan.


5

Penelitian akan dilakukan di SMA Negeri 1 Jasinga Kabupaten Bogor

Propinsi Jawa Barat. Berdasarkan hasil penelitian sementara di lapangan didapat

data dari hasil penyebaran angket kebiasaan merokok pada remaja sebagai studi

pendahuluan yang disebarkan kepada 404 siswa laki-laki di SMA Negeri 1

Jasinga Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat didapat bahwa 61,14% siswa laki-

laki tersebut melakukan aktivitas merokok.

Berkaitan dengan fenomena di atas, maka peneliti bermaksud untuk

mengadakan penelitian di lapangan dengan judul “ Hubungan Antara Sikap

Remaja Terhadap Merokok Dengan Kebiasaan Merokok Pada Remaja

(Penelitian Pada Siswa Laki-laki di SMA Negeri 1 Jasinga Kabupaten Bogor

Pada Tahun Pelajaran 2004/2005)”.

B. PERMASALAHAN

Berdasarkan latar belakang di atas yang menjadi permasalahan dalam

penelitian ini adalah :

1. Bagaimanakah sikap remaja terhadap merokok?

2. Seperti apakah kebiasaan merokok pada remaja?

3. Apakah ada hubungan antara sikap remaja terhadap merokok dengan

kebiasaan merokok pada remaja ?


6

C. PENEGASAN ISTILAH.

Dalam hal ini penegasan istilah dimaksudkan untuk lebih menjelaskan

istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian dan juga sebagai pedoman atau

pegangan teori dalam penelitian ini.

1. Sikap.

Sikap merupakan kumpulan dari berpikir, keyakinan dan

pengetahuan., disamping itu juga memiliki evaluasi negatif maupun positif

yang bersifat emosional yang disebabkan oleh komponen afeksi. Pengetahuan

dan perasaan yang merupakan kluster dalam sikap akan menghasilkan tingkah

laku tertentu (Mar’at , 1981: 13)

2. Remaja.

Remaja adalah periode transisi antara masa anak-anak kemasa

dewasa, atau masa usia belasan tahun (Sarwono, 2002: 2).

3. Kebiasaan.

Kebiasaan adalah suatu perbuatan yang dilakukan berulang-ulang

(Corey, 2001: 26).

4. Merokok.

Merokok adalah membakar tembakau yang kemudian dihisap asapnya

baik menggunakan rokok maupun menggunakan pipa (Sitepoe, 2002: 20)


7

D. TUJUAN PENELITIAN.

Tujuan penelitian dimaksudkan untuk mengetahui arah tujuan yang

dicapai dengan penelitian yang dilakukan, maka dalam penelitian ini tujuannya

adalah :

1. Untuk mengetahui sikap remaja terhadap merokok.

2. Untuk mengetahui tentang kebiasaan merokok pada remaja

3. Untuk mengetahui hubungan antara sikap remaja terhadap merokok dengan

kebiasaan merokok pada remaja.

E. MANFAAT PENELITIAN

1. Manfaat Teoritis.

Bagi pengembangan ilmu diharapkan dapat menjadi tambahan untuk

mengembangkan ilmu dibidang perkembangan peserta didik pada umumnya

dan dibidang bimbingan dan konseling khususnya.

2. Manfaat Praktis.

Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan

pertimbangan dalam menentukan kebijaksanaan dalam pembinaan para siswa

pada umumnya dan pada siswa yang merokok pada khususnya, bagi para

konselor sekolah, guru atau lembaga yang terlibat dalam pembinaan siswa.

a. Bagi guru pembimbing dapat membantu memecahkan masalah yang

dialami siswa dengan memberikan layanan bimbingan dan konseling

khususnya yang berkaitan dengan masalah merokok


8

b. Bagi siswa dapat memperoleh informasi sebagai salah satu sarana untuk

dapat membentuk sikap untuk tidak terpengaruh berprilaku merokok.

F. SISTEMATIKA SKRIPSI

Sistematika penulisan skripsi merupakan garis besar penyusunan skripsi

yang bertujuan untuk memudahkan pikiran dalam memahami secara keseluruhan

isi skripsi. Sistematika skripsi terdiri atas tiga bagian yaitu bagian pendahuluan,

bagian isi, dan bagian akhir.

Bagian pendahuluan, bagian ini berisi tentang halaman judul, abstrak,

halaman pengesahan, halaman motto dan persembahan, daftar tabel dan daftar

lampiran.

Bagian isi, bagian ini terdiri dari pendahuluan, landasan teroi, merode

penelitian, dan pembahasannya, serta penutup.

Bab I, pada bab ini terdiri atas pendahuluan berisi tentang alasan

pemilihan judul, permasalahan, penegasan istilah, tujuan penelitian, manfaat

penelitian dan sistematika skripisi.

Bab II, pada bab ini terdiri atas landasan teori yang berisikan tentang

kebiasaan merokok pada remaja, sikap remaja terhadap merokok, dan hubungan

antara sikap terhadap merokok dengan kebiasaan merokok. Selain landasan teori

bab II ini juga memuat hipotesis.


9

Bab III. pada bab ini terdiri dari metode penelitian berisi tentang jenis

penelitian, populasi, sampel, variabel penelitian, metode pengumpulan data, dan

metode analisis data.

Bab IV, pada bab ini terdiri atas hasil penelitian dan pembahasan berisi

tentang hasil penelitian dan hasil pembahasannya.

Bab V, pada bab ini terdiri atas penutup berisi tentang simpulan dan

saran yang berkaitan dengan penelitian.

Bagian Akhir, pada bagian akhir skripsi ini memuat daftar pustaka dan

beberapa lampiran yang mendukung isi skripsi.


BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

Teori merupakan komponen yang penting dalam suatu penelitian.

Untuk memahami dan menerangkan fenomena sosial yang menjadi pusat

perhatian peneliti maka teori dijadikan sebagai kerangka berfikir. Disamping itu,

teori juga digunakan untuk menentukan jalannya pemecahan masalah. Dengan

demikian teori yang menjadi dasar teoritik untuk memperkuat kerangka berfikir

dalam penelitian dan hipotesis yang dibuat. Penelitian ini berusaha mengkaji

tentang hubungan anatara sikap remaja terhadap merokok dengan kebiasaan

merokok pada remaja.

Pada bab II ini terdiri atas landasan teori yang berisikan tentang

perilaku merokok pada remaja, sikap remaja terhadap merokok, dan hubungan

antara sikap terhadap merokok dengan perilaku merokok. Selain landasan teori

bab II ini juga memuat hipotesis.

A. LANDASAN TEORI

1. KEBIASAAN MEROKOK PADA REMAJA.

a. Pengertian Merokok

Meski semua orang tahu akan bahaya yang ditimbulkan akibat

merokok, perilaku merokok tidak pernah surut dan tampaknya

merupakan perilaku yang masih dapat ditolerir oleh masyarakat. Hal ini

dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan rumah,

10
kantor, angkutan umum maupun di jalan-jalan. Hampir setiap saat dapat

disaksikan dan di jumpai orang yang sedang merokok

Merokok adalah membakar tembakau yang kemudian dihisap

asapnya, baik menggunakan rokok maupun menggunakan pipa (Sitepoe,

2000: 20). Merokok merupakan suatu aktivitas yang sudah tidak lagi

terlihat dan terdengar asing lagi bagi kita. Sekarang banyak sekali bisa

kita temui orang-orang yang melakuka akitivitas merokok yang disebut

sebagai perokok.

Seseorang dikatakan sebagai perokok sangat berat, berat atau

biasa saja dapat dikateahui dari seberapa batang rokok yang ia habiskan

setiap harinya. Seperti halnya yang diutarakan sebagai berikut :

Mereka yang dikatakan perokok sangat berat adalah bila mengkonsumsi


rokok lebih dari 31 batang perhari dan selang merokoknya lima menit
setelah bangun pagi. Perokok berat merokok sekitar 21-30 batang sehari
dengan selang waktu sejak bangun pagi berkisar antara 6 - 30 menit.
Perokok sedang menghabiskan rokok 11 – 21 batang dengan selang
waktu 31-60 menit setelah bangun pagi. Perokok ringan menghabiskan
rokok sekitar 10 batang dengan selang waktu 60 menit dari bangun pagi
(http//www.e-psikologi/merokok+remaja.com)

Conrad and Miller dalam Sitepoe (2000: 17) menyatakan bahwa

‘Seseorang akan menjadi perokok melalui dorongan psikologis dan

dorongan fisiologis’. Dorongan psikologis biasanya pada anak remaja

adalah untuk menunjukkan kejantanan (bangga diri), mengalihkan

kecemasan dan menunjukkan kedewasaan. Dorongan fisiologis adalah

nikotin yang dapat menyebabkan ketagihan sehingga seseorang ingin

terus merokok.

11
Di Indonesia, anak-anak remaja mulai merokok kebanyakan

karena kemauan sendiri, melihat teman-temannya merokok, dan diajari

atau dipaksa merokok oleh teman-temannya. Merokok pada remaja

karena kemauan sendiri disebabkan oleh keinginan menunjukkan bahwa

dirinya telah dewasa. Umumnya mereka bermulai dari perokok pasif

(menghisap asap rokok orang lain yang merokok) lantas jadi perokok

aktif. Mungkin juga semula hanya mencoba-coba kemudian menjadi

ketagihan akibat adanya nikotin di dalam rokok. Hampir disetiap tempat

berkumpul remaja atau anak-anak sekolah usia sekolah menengah kita

menemukan para remaja merokok.

Setiap individu dan masyarakat dunia tahu bahwa merokok itu

merugikan kesehatan karena dapat menimbulkan dan mendorong

berbagai penyakit. Namun demikian, merokok tetap diminati bahkan

telah menjadi salah satu bagian dari kehidupan perokok dengan berbagai

alasan. Ada yang mengatakan merokok itu adalah sarana pergaulan,

merokok itu memberi ketenangan, atau rokok itu mendorong kreativitas,

dan banyak lagi alasan lainnya. Rokok tetap menjadi pilihan bebas dari

setiap individu dalam menentukan sikap menjadi perokok atau tidak.

Dari semua unsur yang dihasilkan oleh rokok jika dilihat dari

segi kesehatan tidak ada yang bermanfaat. Tetapi sampai saat ini pun

jumlah perokok tidak semakin berkurang bahkan bertambah. Asap

adalah hasil yang diperoleh dari membakar rokok, ada dua jenis asap

rokok yaitu :

12
Asap rokok yang dihisap melalui mulut disebut main stream smoke,
sedangkan asap rokok yang terbentuk pada ujung rokok yang terbakar
serta asap rokok yang dihembuskan keudara oleh perokok disebut
sidestream smoke, sidestream smoke mengakibatkan seseorang
menjadi perokok pasif
(Sitepoe, 2000: 20).

Sebenarnya apa yang dihasilkan oleh rokok yaitu asap rokok

yang sering dinikmati oleh para perokok tidak sama sekali ada

manfaatnya malah begitu banyak bahayanya, seperti apa yang

disampaikan oleh Sitepoe (2000: 20) yaitu :

“Asap rokok yang dihisap mengandung 4000 jenis bahan kimia dengan
berbagai jenis daya kerja terhadap tubuh. Beberapa bahan kimia yang
terdapat di dalam rokok dan mampu memberikan efek yang
mengganggu kesehatan antara lain nikotin, tar, gas karbon monoksida,
dan berbagai logam berat. Oleh karena itu, seseorang akan terganggu
kesehatannya bila merokok secara terus menerus”

Sehubungan dengan hal itu, merokok tidaklah membunuh

manusia secara cepat, tetapi racunnya memasuki tubuh kita sedikit demi

sedikit. Mula-mula orang yang menggunakan rokok (tembakau) itu

biasanya akan merasakan sedikit pusing atau sakit kepala, batuk atau

muntah. Akan tetapi secara berangsur-angsur badan mengalami

penyesuaian (adaptasi), yaitu terbiasa dengan racun ini, maka rasa

pusing, batuk, mabuk/muntah tidak ada lagi. Sementara itu siracun terus

juga melakukan kegiatan yaitu sedikit demi sedikit merusak jaringan

tubuh kita dengan tidak diketahui (dirasakan). Hal ini akan berlanjut

terus selama orang itu merokok. Keadaan inilah yang kita tidak sadari

bahwa sebenarnya dengan merokok ini berarti telah menimbun racun di

dalam tubuh kita, walau pun tidak merasakan sakit.

13
Dari uraian di atas kita dapat mengetahui pengertian tentang

merokok. Tetapi dapat disimpulkan bahwa pengertian merokok adalah

menghisap rokok, di mana rokok itu sendiri adalah gulungan tembakau

(kira-kira sebesar kelingking) yang dibungkus (daun/ kertas rokok) yang

jika di bakar akan menghasilkan asap dan asap itu sendiri yang dinikmati

dari aktivitas merokok.

b. Aspek-aspek dalam merokok.

Selain pengertian tentang merokok yang telah disampaikan di

atas, akan disampaikan pula aspek-aspek tentang merokok yang

meliputi tujuan merokok, lingkungan yang dapat mempengaruhi

individu untuk merokok, dan manfaat serta kerugian dari merokok.

1) Tujuan merokok.

Kebanyakan dari para perokok pemula sedikit sekali yang

memulai merokok karena kenikmatan. Biasanya para perokok

khususnya pada saat remaja laki-laki melakukan aktivitas merokok

bertujuan untuk menunjukkan dirinya sebagai laki-laki sejati atau

sebagai orang dewasa. Seperti yang disampaikan oleh Sitepoe

(2000: 17) bahwa merokok adalah “Sebagai rangsangan seksual,

sebagai suatu ritual untuk menunjukkan kejantanan (bangga diri)

dan menunjukkan kedewasaan”.

Ada beberapa hal mengapa orang melakukan aktivitas

merokok, diantaranya mereka bertujuan sebagai berikut :

a) Mengalihkan kecemasan.

14
b) Menghilangkan kejenuhan.

c) Menunjukkan kedewasaan

(Sitepoe, 2000: 17)

d) Mengurangi stress (tekanan perasaan yang kurang enak)

e) Mempererat pergaulan antar kawan (terutama bila semua

kawan merokok.

f) Mengurangi nafsu makan, guna mencegah kegemukan

(PMI, 1996: 40).

2) Lingkungan yang dapat mempengaruhi individu merokok.

Faktor penyebab remaja merokok biasanya kebayakan

dari faktor lingkungan. Faktor lingkungan bisa sa ja dari faktor

keluarga, tempat tinggal atau bahkan lingkungan pergaulan. Seprti

yang di sampaikan oleh Darvil dan Powell (2002: 121) bahwa

“Remaja cenderung merokok karena memiliki teman-teman atau

keluarga yang merokok”.

Ada lingkungan yang menganggap merokok merupakan

suatu hal yang kurang pantas dilakukan oleh para remaja. Tetapi,

ada juga lingkungan di mana merokok pada remaja adalah suatu

hal yang wajar atau bahkan jika remaja laki-laki tidak merokok

akan dibilang remaja laki-laki yang aneh. Selain itu, ada juga

remaja laki-laki yang merokok disebabkan karena ia melihat

ayahnya merokok.

15
Bagi remaja solidaritas kelompok adalah suatu hal yang

penting. Remaja cenderung untuk melakukan apa yang sering

dilakukan kelompok. Apabila dalam suatu kelompok remaja

merokok adalah suatu aktivitas yang sering dilakukan maka,

remaja yang tergabung di dalamnya cenderung untuk melakukan

aktivitas merokok.

3) Manfaat dan kerugian merokok.

Sebagaimana halnya berbagai aktivitas, merokok ada

manfaat dan kerugiannya. Namun jika kita kaji lebih dalam

merokok banyak mengandung kerugiannya dari pada manfaatnya.

Tetapi, meskipun demikian jumlah perokok tiap tahunnya semakin

meningkat.

a) Manfaat merokok.

Meskipun di dalam bungkus rokok itu sendiri tertulis

peringatan bahwa merokok dapat menyebabkan serangan

jantung, kanker, impotensi, serta gangguan kehamilan dan

janin, tetapi seperti tidak di pedulikan oleh para perokok.

Kebanyakan para perokok mengatakan mulut terasa asam jika

tidak merokok terlebih lagi setelah makan. Beberapa hal

dianggap sebagai manfaat dari merokok adalah sebagai berikut:

Mengurangi stress, tekanan perasaan yang kurang enak,


secara tidak langsung menjadikan remaja lebih berani.
Menimbulkan perasaan nikmat.
Mempererat pergaulan antar kawan, terutama bila semua
kawan merokok.
Meningkatkan keberanian dan perasaan "Jantan", "Jagoan",
dan "Macho".

16
Mengurangi nafsu makan, sehingga bisa mencegah
kegemukan.
(PMI, 1996: 40).

Dari kelima manfaat yang ditimbulkan dari merokok

khususnya bagi para remaja yang digunakan sebagai alasannya

merokok cenderung pada hal mengurangi stress, mempererat

pergaulan dan meningkatkan keberanian dan perasaan jantan.

Jika kita kaji lebih dalam lagi sebenarnya merokok tidak

ada manfaatnya, seperti yang diungkapkan di atas sebenarnya

tidak ada benarnya. Misalnya saja meningkatkan keberanian

dan perasaan “jantan”, sering kita dengar atau kita sendiri

pernah merasakan bahwa ada yang mengatakan jika laki-laki

tidak merokok berarti “banci”, sedangkan kita ketahui bahwa

banci (laki-laki yang berprilaku seperti perempuan) itu sendiri

semuanya merokok. Jadi apa benar dengan merokok laki-laki

dapat disebut sebagai laki-laki yang “jantan” atau “macho”.

b) Kerugian merokok.

Sebenarnya jika kita mengetahui apa yang dihasilkan dari

merokok adalah suatu hal yang belum jelas ada manfaatnya

bahkan tidak ada manfaatnya tetapi banyak sekali kerugiannya.

Terlebih lagi dari segi kesehatan, merokok sangat berbahaya

bagi kesehatan.

Dalam bungkus rokok itu sendiri pun dicantumkan

peringatan pemerintah bahwa merokok dapat menyebabkan

17
serangan jantung, paru-paru, kanker, impotensi serta gangguan

kehamilan dan janin. Di bawah ini akan disampaikan kerugian

dari merokok antara lain :

Rokok mengandung 4000 jenis bahan racun yang berbahaya


bagi kesehatan, anatara lain yang telah dikenal baik adalah
karbon monoksida (CO) yang bisa mematikan, nikotin yang
mendorong pengjapuran jantung dan pembuluh darah, tar
yang dapat menyumbat dan mengurangi fungsi saluran nafas
dan menyebabkan kanker, serta berbagai racun bahan kimia
yang bisa menyebabkan racun pada hati, otak dan pembentuk
kanker.
Rokok menurunkan konsentrasi, misalnya sewaktu
mengemudi, berpikir dan sebagainya.
Rokok menurunkan kebugaran.
d) Rokok bukan hanya meracuni para perokok sendiri, namun
juga orang disekitarnya (sebagai perokok pasif) dengan
bahay yang sama.
Rokok menimbulkan ketergantungan dan perasaan
"kehilangan sesuatu" kalau rokok tidak tersedia, yang
berakibat pada penurunan prestasi belajar dan bekerja.
Rokok memboroskan.
Rokok dapat meyulut kebakaran
(PMI, 1996: 40).

Selain beberapa hal di atas juga ada beberapa kerugian

lainnya dari merokok yaitu ;

Merokok dan menyebabkan penyakit pada alat pencernan.


Merokok meningkatkan tekanan darah.
Merokok meningkatkan prevalensi gondok.
Merokok dapat menyebabkan gangguan pada pembuluh darah.
Merokok dapat memperpendek usia.
Merokok menghambat buang air kecil.
Merokok menimbulkan amblyopia atau penglihatan menjadi
kabur.
Merokok bersifat adiksi (ketagihan).
Merokok membuat lebih cepat tua dan memperburuk wajah.
Rokok penyebab polusi udara dalam ruangan.
(Sitepoe, 2000: 38-41)

Beberapa kerugian tentang merokok yang telah di

sampaikan di atas sebenarnya lebih memperjelas bahwa

merokok itu banyak sekali kerugiannya. Sering kita dengar

18
istilah merokok dapat menyebabkan kematian. Sebenarnya

merokok bukan penyebab kematian, melainkan merokok dapat

memicu suatu penyakit yang dapat menyebabkan kematian.

Begitu banyaknya kerugian yang ditimbulkan akibat merokok

semoga saja para perokok menyadari akan-kerugian-kerugian

itu dan meninggalkan aktivitas merokok.

c. Pengertian Remaja

Seringkali dengan gampang orang mendefinisikan remaja

sebagai periode transisi antara masa anak-anak kemasa dewasa, atau

disebut juga usia belasan. Hurlock (1999: 206) menyatakan bahwa

“Secara psikologis masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi

dengan masyarakat dewasa”.

Remaja merupakan peralihan antara masa kehidupan anak dan

masa kehidupan orang dewasa. Bila ditinjau dari segi tubuhnya, mereka

terlihat sudah dewasa tetapi jika mereka diperlakukan sebagai orang

dewasa ternyata belum dapat menunjukkan sikap dewasa.

Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin


adolescere (kata bendanya adolescentia yang berarti remaja primitive)
yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Anak dianggap
sudah dewasa bila sudah mampu mengadakan reproduksi. Istilah
adolescence seperti yang digunakan saat ini mempunyai arti yang lebih
luas, mencakup kematangan mental, sosial dan fisik (Hurlock, 1999:
206)

Dalam ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu yang terkait (seperti

Biologi dan Ilmu Faal) remaja dikenal sebagai suatu tahap

perkembangan fisik di mana alat-alat kelamin manusia mencapai

kematangannya (Sarlito, 2002:6). Dalam pengertian ini remaja

19
dipandang dari sudut fisik dimana individu disebut remaja apabila

individu tersebut secara fisik telah mampu untuk melakukan reproduksi.

Selain itu juga, Sugeng (1995: 11-12) mengatakan “Bahwa

remaja merupakan masa peralihan antara masa kehidupan anak dan masa

kehidupan dewasa dan remaja sering menunjukkan kegelisahan,

pertentangan, dan keinginan mencoba segala sesuatu.” Dalam hal ini

remaja dikatakan sebagai individu yang masih belum jelas identitas

dirinya atau juga disebut dengan individu yang masih mencari jati

dirinya. Misalnya saja remaja mempunyai rasa keingin tahuan yang

tinggi, jarang sekali remaja yang memgang prisip atas dirinya.

Pada tahun 1974, WHO memberi definisi tentang remaja yang

lebih bersifat konseptual. Dalam definisi tersebut dikemukakan 3 kriteria

yang biologik, psikologik, dan sosial ekonomi, sehingga secara lengkap

definisi tersebut berbunyi sebagai berikut :

1) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda


seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
2) Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari
kanak-kanak menjadi dewasa.
3) Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh pada
keadaan yang relative lebih mandiri .
(Muangman (1980) yang dikutip oleh Sarlito, 2002: 9).

Mendefinisikan remaja untuk masyarakat Indonesia

menggunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah. Untuk

definisi remaja di Indonesia diartikan dengan pertimbangan-

pertimbangan sebagai berikut :

1) Usia 11 tahun adalah usia di mana pada umumnya tanda-tanda

seksual sekunder mulai nampak (kriteria fisik)

20
2) Di banyak masyarakat Indonesia, usia 11 tahun sudah dianggap

usia akil balig, baik menurut adat maupun agama, sehingga

masyarakat tidak lagi memperlakukan mereka sebagai anak-anak.

3) Mulai ada tanda-tanda menyempurnakan perkembangan jiwa

seperti tercapainya identitas diri, tercapainya fase genital dari

perkembangan psikoseksual dan tercapainya puncak

perkembangan kognitif maupun moral.

4) Orang-orang yang sampai batas usia 24 tahun belum dapat

memnuhi persyaratan kedewasaan secara rasional maupun

psikologik, masih dapat digolongkan remaja.

Remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Remaja

tidak termasuk kedalam golongan anak-anak, tetapi juga tidak termasuk

golongan dewasa. Remaja berada di antara masa kanak-kanak dan

dewasa. Biasanya masa remaja dianggap telah mulai ketika anak secara

seksual menjadi matang, dan kemudian berakhir pada saat ia mencapai

usia yang secara hukum disebut usia dewasa yaitu ± 24 tahun.

Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa

remaja adalah individu yang berusia belasan tahun (12-21 tahun) yang

tergolong dalam masa transisi antara masa anak-anak menuju masa

dewasa. Dalam masa transisi inilah remaja cenderung untuk ingin

disebut sebagai orang yang sudah dewasa. Agar terkesan sebagai orang

yang sudah dewasa remaja cenderung melakukan kebiasaan yang sering

21
dilakukan oleh orang dewasa, salah satu contohnya adalah bagi remaja

laki-laki dengan merokok.

d. Kebiasaan Merokok Pada Remaja

Pada umumnya remaja itu selalu ingin bertualang, mencoba

sesuatu yang belum pernah dialaminya. Mereka ingin mencoba melakukan

apa yang sering dilakukan oleh orang dewasa. Dengan sembunyi-

sembunyi remaja pria mencoba merokok karena seringkali mereka melihat

orang dewasa melakukannya, seolah-olah mereka ingin membuktikan

bahwa mereka mampu berbuat seperti orang dewasa (Sugeng, 1995: 12).

Menurut Hurlock (1999: 223) bahwa “Pada usia remaja rokok dan

minuman alkohol digunakan sebagai lambang kematangan”. Begitu

banyaknya fenomena sekarang ini yang dapat kita lihat bawa para remaja

terlebih lagi remaja laki-laki sudah melakukan aktivitas merokok atau

menjadi perokok.

Harus kita sedihkan bahwa merokok bagi para remaja khususnya

remaja yang masih berusia sekolah menengah sudah menjadi hal biasa dan

dapat dibanggakan bagi mereka, bahkan banyak dari mereka yang sudah

menjadi perokok aktif. Di Indonesia, anak-anak berusia muda mulai

merokok disebabkan beberapa faktor diantaranya yaitu karena kemauan

sendiri, melihat teman-temannya, dan diajari atau dipaksa merokok oleh

teman-temannya (Sitepoe, 2000: 17).

Merokok juga merupakan salah satu yang dilakukan oleh para

remaja untuk menyatakan bahwa mereka diterima dan teridentifikasi

22
menjadi suatu kelompok tertentu. Remaja cenderung merokok jika

mereka:

1) Memiliki teman-teman atau keluarga yang merokok.

2) Sukar mengatakan "tidak", terutama kepada teman-teman atau orang-

orang yang ingin buat mereka terkesan.

3) Tidak mengetahui resikonya.

(Darvill dan Powell, 2002: 121).

Dewasa ini banyak remaja (laki-laki) melakukan aktivitas

merokok. Seperti yang dikemukakan Abu Al-Ghifari (2003: 113) “Bagi

remaja modern merokok merupakan satu jenis pilihan aktivitas yang

populer dilakukan untuk memanfaatkan waktu senggang”. Bagi mereka

merokok bukanlah suatu hal yang tabu tetapi sudah menjadi suatu hal yang

biasa dilakukan di lingkungan sosial mereka.

Merokok sudah menjadi kebiasaan bagi remaja di Indonesia.

Kebiasaan adalah suatu perbuatan yang dilakukan berulang-ulang (Corey,

2001: 26). Tidak ada aspek khusus dalam pembentukan kebiasaan, tetapi

Corey (2001) menggolongkan kedalam dua faktor penentu kebiasaan yaitu

paradigma tentang diri sendiri dan paradigma tentang kehidupan.

Untuk kebiasaan merokok pada remaja sendiri akan ditinjau

beberapa hal mengapa remaja memiliki kebiasaan merokok, diantaranya:

1). Alasan remaja merokok.

Begitu banyak sebab atau alasan yang disampaikan para

remaja mengapa dia melakukan aktivitas merokok. Sebagian besar

23
para remaja melakukan aktivitas merokok dikarenakan ia ingin

terkesan dewasa, gagah atau “Macho”.

Faktor pendorong remaja mulai melakukan aktivitas merokok, antara lain :


1) Rasa ingin tahu sampai menjadi ketergantungan.
2) Untuk meningkatkan kesan "kejagoan".
3) Hasrat berkelompok dengan kawan senasib dan sebaya.
4) Adanya stress atau konflik batin atau masalah yang sulit diselesaikan.
5) Dorongan sosial dari lingkungan yang "mendesak" remaja untuk merokok
atau kalau tidak dianggap tidak solider dengan lingkungan sosialnya.
6) Ketidak tahuan akibat bahaya merokok
(PMI, 1996: 41).
Merokok pada anak-anak karena kemauan sendiri disebabkan

ingin menunjukkan bahwa dirinya dewasa (Sitepoe, 2000: 17). Alasan-

alasan yang menyebabkan seseorang merokok dan membuat merokok

menjadi sesuatu yang menggairahkan bisa bermacam-macam dan

bersifat pribadi. Seperti yang dikemukakan oleh Abu Al-Ghifari (2003:

113)

“Alasan remaja laki-laki merokok adalah mereka membayangkan


bahwa dengan merokok maka mereka dianggap sudah dewasa, tidak
lagi anak kecil, dan bisa memasuki kelompok teman sebaya sekaligus
kelompok yang mempunyai ciri gaya tertentu yaitu merokok”.

Alasan utama lainnya remaja merokok adalah karena ajakan

atau paksaan teman atau pengaruh lingkungan yang sukar ditolak.

Bergabung dengan suatu kelompok tertentu bagi remaja masa kini

mungkin merupakan hal yang penting. remaja ingin diidentifikasikan

sebanyak mungkin dengan teman-teman sebaya mereka.

2) Lingkungan remaja yang mempengaruhi remaja merokok.

Merokok pada remaja tidak begitu saja dikarenakan karena

faktor remaja itu sendiri, selain itu juga disebabkan oleh faktor

24
lingkungan yang mempengaruhi. Dalam hal ini, ada tiga lingkungan

yang dapat mempengaruhi remaja merokok di antara :

a) Lingkungan keluarga.

Tidak sedikit remaja yang merokok dikarenakan di dalam

lingkungan keluarganya ada yang merokok. Misalnya saja, seorang

remaja laki-laki merokok dikarenakan melihat ayahnya suka

merokok. Ia sangat kagum dengan ayahnya sehingga ia ingin

seperti ayahnya dan remaja tersebut suka mengimitasikan tingkah

ayahnya sampai pada kebiasaan buruk ayahnya yaitu merokok.

Selain hal tersebut, ada juga orang tua yang tidak keberatan anak

remaja laki-lakinya merokok.

b) Lingkungan tempat tinggal.

Selain lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal

pun dapat mempengaruhi remaja merokok. Bila dalam suatu

lingkungan tempat tinggal merokok bukan merupakan suatu hal

yang kurang baik, bahkan sampai anak kecil pun merokok terlebih

lagi para remaja.

Dalam lingkungan tempat tinggal di mana merokok pada

remaja masih di anggap suatu hal yang tabu, maka para remaja

akan merasa canggung bila merokok. Tetapi, bila lingkungan

tempat tinggal mendukung remaja untuk merokok maka perilaku

merokok pada remaja ini tidak akan bisa dikendalikan bahkan akan

menciptakan banyak perokok.

25
c) Lingkungan pergaulan remaja.

Lingkungan yang ketiga ini adalah lingkungan yang

sangat menentukan pada remaja. Remaja cenderung mendengarkan

atau melakukan apa yang dibenarkan dalam kelompoknya, dan

remauja cenderung melawan pada orang dewasa (orang tua).

Meskipun orang tua melarang remaja tersebut merokok, tetapi bila

ia bergaul dengan sekelompok remaja yang merokok, maka

kemungkinan besar remaja itu akan merokok.

3) Moment-moment saat merokok.

Tidak semua perokok pada remaja melakukan aktivitas

merokok terus menerus atau dengan seenaknya. Biasanya remaja

mempunyai moment-moment (waktu-waktu)) tertentu untuk

melakukan aktivitas merokok. Mereka melakukan aktivitas merokok

mungkin hanya pada saat berkumpul dengan temannya, atau pada saat

suasana tertentu misalnya berkemah atau mendaki gunung.

Bagi remaja yang bukan benar-benar pecandu rokok, ia tidak

melakukan aktivitas merokok jika tidak ada moment khusus. Misalnya

saja merokok pada saat berkumpul dengan teman, mungkin

dikarenakan ia ingin menghargai teman lainnya yang merokok atau

tidak ingin dikucilkan oleh teman-temannya.

4) Hal yang diperoleh remaja dari merokok.

Begitu banyaknya bahaya yang diakibatkan rokok, namum

ironisnya tak menyurutkan orang untuk tetap merokok. Ada dua hal

26
yang diperoleh dari merokok, yakni dalam bentuk fisik dan psikis. Hal

yang yang diperoleh tersebut dapat berupa keuntungan atau bahkan

kerugian dari merokok. Sebagai contoh hal yang diperoleh dari

merokok secara fisik, terkadang orang merasa lebih segar jika ia

merokok., atau contoh lain yaitu ada yang merasa pusing kalau

merokok. Selain fisik hal yang diperoleh dari merokok juga dapat

berbentuk psikis, misalnya dengan merokok dapat menambah

konsentrasi atau bahkan dengan merokok dapat mengalami kesulitan

untuk berkonsentrasi (Corey, 2001: 18). Kesemuanya itu dapat

dianggap sebagai suatu persepsi remaja terhadap rokok yang akhirnya

dapat membentuk sikapnya terhadap merokok itu sendiri.

Tindakan merokok diawali dari adanya suatu sikap, yaitu

kecenderungan seseorang untuk menerima atau menolak, setuju atau tidak

setuju terhadap respon yang dating dari luar, dalam hal ini adalah rokok.

2. SIKAP REMAJA TERHADAP MEROKOK.

Ketika kita berada di lingkungan dan situasi sosial terlebih lagi

kita berada dalam interaksi sosial jarang bagi kita untuk berada dalam

keadaan netral. Keadaan netral tanpa rasa suka dan tidak suka terhadap

mitra interaksi atau keadaan apapun. Kita juga mungkin tidak terlepas dari

perasaan senang atau tidak senang dari persepsi dan prilaku kita sendiri

bahkan orang lain.

27
Selalu saja ada mekanisme mental yang mengevaluasi,

membentuk pandangan, mewarnai perasaan, dan akan ikut menentukan

kecenderungan prilaku kita terhadap orang lain atau sesuatu yang sedang

kita hadapi, bahkan terhadap diri kita sendiri. Pandangan dan perasaan kita

terpengaruh oleh ingatan kita akan masa lalu, oleh apa yang kita ketahui

dan kesan kita apa yang sedang kita hadapi saat ini.

Begitu pula dengan sikap remaja terhadap rokok. Sikap remaja

terhadap rokok tidak begitu saja muncul pada para remaja, mungkin sikap

yang dimiliki oleh para remaja itu disebabkan oleh hasil evaluasinya

terhadap orang yang merokok yang akhirnya membentuk sebuah

pengalaman baru yang mewarnai perasaannya yang akhirnya ikut

menentukan kecenderungan berprilaku bahwa remaja itu akan ikut

merokok atau menghindari dari aktivitas merokok.

Itulah fenomena sikap, fenomena sikap yang timbulnya tidak saja

ditentukan oleh keadaan objek yang sedang kita hadapi tetapi juga oleh

kaitannya dengan pengalaman-pengalaman masa lalu, oleh situasi di saat

sekarang, dan harapan kita untuk masa yang akan datang. Lalu, apakah

sikap itu sebenarnya?

a. Pengertian Sikap

Sikap lebih dikenal oleh kalangan awam dengan istilah

keadaan psikis penilaian terhadap objek tertentu. Sebenarnya sikap

lebih tepat diartikan sebagai keadaan psikis seseorang mengenai

penilaian, perasaan, dan kecenderungan berprilaku terhadap objek

28
tertentu. Untuk lebih memperjelas mengenai pengertian sikap di bawah

ini ada beberapa pengertian mengenai sikap.

Sikap mempunyai objek tertentu (orang, perilaku, konsep,

situasi, benda, dan sebagainya) dan mengandung penilaian (setuju-

tidak setuju, suka-tidak suka) (Sarlito, 1997: 232). Sikap yang

dikemukakan oleh Sarlito ini hanya memfokuskan sikap sebagai

penilaian terhadap objek tertentu. Misalnya, sikap terhadap merokok,

dalam hal ini sikap hanya mengandung penilaian setuju atau tidak

setuju, suka atau tidak suka terhadap merokok.

Pengertian lain mengenai sikap seperti yang diungkapkan oleh

Mar’at dan Secord & Backman membicarakan sikap dengan

memenuhi komponen sikap yaitu kognitif (berpikir), afektif

(penilaian/perasaan) dan konatif (kecenderungan berprilaku) seperti

yang disampaikan dibawah ini :

Sikap merupakan kumpulan dari berpikir, keyakinan dan pengetahuan.,


disamping itu juga memiliki evaluasi negatif maupun positif yang
bersifat emosional yang disebabkan oleh komponen afeksi. Pengetahuan
dan perasaan yang merupakan kluster dalam sikap akan menghasilkan
tingkah laku tertentu
(Mar’at , 1981: 13)

Secord & Backman (1964) dalam Azwar (2003: 5) mendefinisikan


sikap sebagai keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi),
pemikiran (kognisi) dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang
terhadap suatu aspek dilingkungan sekitarnya.

Kedua pengertian sikap di atas lebih berorientasi pada

kumpulan komponen-komponen kognitif yang merupakan aspek

berpikir, komponen afektif yang merupakan komponen perasaan atau

penilaian, dan komponen kongnisi atau aspek sebagai kesiapan dari

29
berprilaku yang saling berinteraksi dalam memahami, merasakan dan

berprilaku terhadap suatu objek.

Selain beberapa pengertian di atas ada juga pengertian sikap

lainnya seperti yang diungkapkan oleh Berkowtz dan Sugeng seperti

diungkapkan di bawah ini :

Berkowitz (1972) dalam Alo Liliweri (1997: 124) menarik suatu


kesimpulan bahwa sikap adalah suatu respon yang evaluatis yang
dinamis dan terbuka terhadap kemungkinan perubahan dikarenakan
interaksi seseorang dengan lingkungannya.

Sikap merupakan kesiapan (predisposisi) individu untuk


berespon/bertindak terhadap objek sebagai manifestasi dari sistem nilai
dan moral yang ada di dalamnya
(Sugeng, 1995: 77).

Pengertian sikap yang disampaikan oleh Berkowitz dan

Hariyadi ini lebih memandang sikap pada sistem penilaian yang

bersifat dapat berubah bergantung pada pengaruh dari luar atau sistem

norma yang dapat membentuk moral yang dimiliki. Tetapi

berdasarkan pengertian Sugeng sikap dapat juga sebagai landasan

untuk berprilaku terhadap objek atau kesiapan (predisposisi) berespon

terhadap objek yang disebabkan dari adanya sistem nilai tersebut.

Dari definisi di atas terlihat bahwa ada beberapa hal yang

sama, dari beberapa pengertian mengenai sikap, hampir semuanya

berpendapat bahwa sikap itu tidak terlepas dari adanya penilaian,

perasaan, dan predisposisi prilaku.

Berdasarkan pengertian-pengertaian diatas, dapat ditarik

kesimpulan bahwa sikap merupakan kesiapan (predisposisi) untuk

merespon terhadap objek baik dalam bentuk respon positif atau

30
negatif. Sikap merupakan suatu bentuk kepercayaan, keyakinan,

perasaan, dan kecenderungan bertindak yang ditunjukan pada objek

tertentu yang sedang dihadapi. Selanjutnya sikap juga bergantung

dengan penilaian, yaitu diterima atau ditolaknya objek tertentu. Jika ia

menilai baik terhadap suatu objek, ia bersikap menyetujuinya terhadap

objek tersebut, sedangkan bila suatu objek itu dinilai jelek menurut

dirinya, maka ia bersikap tidak menyetujuinya. Jika individu menerima

suatu objek yang positif berarti ia memiliki suatu sikap yang positif

dan jika individu tidak menerima suatu hal yang negative berarti ia

bersikap positif. Begitu pula sebaliknya. jika individu bersikap

menerima terhadap suatu hal yang negatif maka ia dikatakan memiliki

sikap yang negatif .

Dalam penelitian ini bertitik tolak pada pengertian sikap yang

disampaikan oleh Mar’at bahwa:

“Sikap merupakan kumpulan dari berpikir, keyakinan dan pengetahuan.,


disamping itu juga memiliki evaluasi negatif maupun positif yang
bersifat emosional yang disebabkan oleh komponen afeksi. Pengetahuan
dan perasaan yang merupakan kluster dalam sikap akan menghasilkan
tingkah laku tertentu (1981: 13)”

Tindakan merokok diawali dari adanya suatu sikap, yaitu

kecenderungan seseorang untuk menerima atau menolak, setuju atau

tidak setuju terhadap respon yang datang dari luar dalam hal ini adalah

rokok. Orang melihat rokok atau melihat orang lain merokok, lalu

respon apa yang meuncul di dalam pikiran atau perasaanya. Bisa saja

31
orang tertarik (setuju atau tidak tertarik (tidak setuju) tau bahkan

berespon masa bodoh.

Amatilah contoh tentang sikap terhadap rokok, yang

diperlihatkan dengan digram 1. Diagram memperlihatkan sikap

seseorang terhadap rokok. Fokus keseluruhan sikap adalah objek sikap

yakni rokok. Di sekeliling objek adalah unsur yang dianggap relevan.

Beberapa di antaranya adalah orang, seperti orang tua atau teman

sekamar, yang lain adalah keadaan pribadi seperti bau badan, dan yang

lainnya adalah sifat-sifat sederhana objek itu sendiri (rokok).


Mengurangi
kegelisahan
sosial
Orang tua tidak - Memudahkan
suka merokok belajar
+
-

Teman sekamar Berbahaya


tidak suka +
merokok
+

Mahal
+

(Sears, dkk, 1999:139)

32
Gambar 1. Gambaran skematik sikap terhadap rokok. Objek inti
dikelingi oleh sekelompok kognisi, yang semuanya berkaitan dengan
objek tersebut. Tanda-tanda itu menunjukkan komponen afektif dari
keseluruhan sikap terhadap rokok dan perasaanya terhadap kognisi
terpisah yang dikaitkan dengan rokok. Tanda positif menunjukkan
perasaan positif atau menyenangkan dan tanda negatif menunjukkan
perasaan negatif atau tidak menyenangkan.

Dengan melihat bahwa adanya hubungan antara sikap dan

tingkah laku, maka harus dilihat bahwa sikap sebagai suatu sistem

antara komponen-komponen sikap.

b. Komponen Sikap.

Sikap mengandung 3 bagian (domain), ketiga domain sikap itu

adalah kognitif, afektif, dan konatif (Sarlito, 1997: 234).

1) Aspek Kognatif.

Komponen kognitif merupakan representasi apa yang

dipercayai oleh individu pemilik sikap (Saifuddin, 2003: 25).

Selain itu, Mar’at (1981: 13) mempertegas dengan

memberikan pengertian bahwa “Komponen kognisi berhubungan

dengan beliefs, ide dan konsep”.

Untuk memperjelas, dincontohkan pada perilaku merokok

pada siswa (SMA) laki-laki sebagai suatu objek sikap. Dalam hal

ini, komponen kognitif sikap terhadap perilaku merokok pada

siswa (SMA) laki-laki adalah apa saja yang dipercayai seseorang

mengenai merokok pada siswa tersebut. Sering kali isyu atau

pendapat pada masyarakat umum sesuatu yang telah terpolakan

jika para pelajar melaukan aktivitas merokok, maka para pelajar

tersebut cenderung digolongkan atau dikategorikan kedalam para

33
siswa yang nakal. Terlepas dari pada itu, bagi para remaja seperti

yang diungkapkan sebelumnya bahwa merokok itu adalah lambang

kematangan, lambang pergaulan, dan lambang kedewasaan.

Sekali kepercayaan tersebut telah terbentuk maka ia akan

menjadi dasar pengetahuan seseorang mengenai apa yang

diharapkan dari objek tertentu (Saifuddin, 2003: 25). Kepercayaan

sebagai komponen kognitif tidak selalu akurat, kadang-kadang

kepercayaan itu terbentuk justru dikarenakan kurang atau tidak

adanya informasi yang benar mengenai objek yang dihadapi.

2) Aspek Afektif.

Komponen afektif berhubungan dengan kehidupan

emosional seseorang (Mar’at, 1981: 13).

Komponen afektif menyangkut masalah emosional

subjektif seseorang terhadao suatu objek sikap. Secara umum,

komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap

sesuatu (Saifuddin, 2003: 26).

Sebagai contoh, dua orang mempunyai sikap negatif

terhadap rokok, yang satu tidak menyukai rokok dan ketidak

sukaannya ini dikarenakan dengan ketakutan akan bahaya yang

diakibatkan bahan-bahan kimia yang terdapat dalam rokok.

Sedangkan orang yang kedua ketidak sukaannya disebabkan oleh

rasa benci karena rasa sebal dan ingin muntah dikarenakan asap

atau bau rokok.

34
Pada umumnya, reaksi emosional yang merupakan

komponen afektif ini banyak dipengaruhi oleh kepercayaan atau

apa yang kita percayai yang dianggap benar dan berlaku bagi objek

tersebut. Bila kita percaya bahwa merokok membawa dampak

negatif dan ancaman terhadap kesehatan, maka akan terbentuk

perasaan tidak suka atau negatif terhadap rokok.

3) Aspek Konatif/Komponen Perilaku.

Komponen konatif yang merupakan kecenderungan

bertingkah laku (Mar’at, 1981: 13).

Komponen perilaku atau komponen konatif dalam

struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau

kecenderungan berperilaku yang bada dalam diri seseorang

berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya (Saifuddin, 2003:

27).

Bagaimana orang berperilaku dalam situasi tertentu dan

terhadap stimulus tersebut. Sebagai contoh, orang melihat rokok

atau melihat orang lain merokok lalu respon apa yang muncul

dalam pikiran atau perasaannya, bisa saja orang tersebut tertarik,

tidak tertarik atau mungkin masa bodoh, hal ini akan terjadi pada

setiap orang, orang yang setuju ada kecenderungan akan

melakukan atau menirunya, bagi yang tidak setuju akan ada

kecenderungan untuk menghindarinya.

35
c. Pembentukan dan perubahan sikap.

Pembentukan sikap tidak terjadi dengan sendirinyaatau

dengan sembarang saja. Seperti yang diungkapkan oleh Saifuddin

(2003: 30) bahwa ”Sikap sosial terbentuk dari interaksi sosial yang

dialami oleh individu”

Bagaimanakah sikap dapat terbentuk atau berubah?,

Pembahasan mengenai pembentukan dan perubahan sikap hampir

selalu dipusatka pada cara-cara manipulasi atau pengendalian situasi

dan lingkungan untuk menghasilkan perubahan sikap kearah yang

dikehendaki. Dasar-dasar manipulasi itu diperoleh dari pemahaman

menengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan

proses perubahan sikap, terutama yang berkaitan dengan pembentukan

stimulus tertentu untuk menghadirkan respon yang dikehendaki.

1) Pembentukan sikap

Mc Cuire dalam Mar’at (1981: 25) berpendapat bahwa

‘Masalah yang penting dalam psikologi sosial adalah memahami

dan mengerti pembentukan suatu sikap dan perubahannya’. Oleh

karena itu, untuk mengetahui sikap remaja terhadap merokok

terlebih dahulu kita harus tahu faktor apa saja yang menentukan

dalam merubah atau membentuk sikap remaja terhadap rokok.

Sebagaimana yang telah disampaikan di atas bahwa sikap

terbentuk dari adanya interaksi soaial. Dalam interaksi sosialnya,

36
individu bereaksi membentuk pola sikap tertentu terhadap objek

yang dihadapinya.

Faktor-faktor yang membentuk sikap :

a) Pengalaman pribadi.

Apa yang telah dan sedang kita alami akan membentuk

dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial

(Saifuddin, 2003: 30). Ini berarti bahwa apa yang kita telah

alami dan sedang kita alami bisa membentukan suatu respon

yang akan menjadi salah satu dasar terbetujnya sikap. Untuk

mempunyai respond an penghayatan seseorang harus

mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan objek tersebut.

Apakah respon dan penghayatan tersebut akan membentuk

sikap positif atau negatif tergantung pada berbagai faktor yang

ikut menentukan. Sehubungan dengan hal ini, Middlebrook

dalam Saifuddin (2003: 31) mengatakan bahwa ‘Tidak adanya

pengalaman sama sekali dengan objek psikologis cenderung

akan membentuk sikap negatife terhdap objek tersebut’

Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap,

pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat

(Saifuddin, 2003: 31).karena itu, sikap akan lebih mudah

terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam

situasi yang melibatkan faktor emosional.

37
Pengalaman pribadi mengenai merokok yang dialami

oleh para remaja bisa saja berbeda antara remaja yang satu

dengan yang lainnya, dan hal tersebut yang mungkin

membedakan alasan remaja yang satu dengan lainnya mengapa

para remaja itu merokok. Bisa saja pengalaman yang didapat

para remaja itu lewat teman-teman sepermainannya, misalkan

di dalam lingkungan permainannya jika remaja laki-laki tidak

merokok maka akan dianggap tidak jantan atau disebut dengan

istilah “Sayur” dan lain sebagainya. Hal yang seperti ini

mungkin dapat mempengaruhi remaja tersebut akhirnya

melakukan aktivitas merokok atau bahkan menolaknya karena

remaja tersebut menganggap merokok hanya dilakukan oleh

orang-orang yang tidak percaya diri.

b) Kebudayaan.

Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan

mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap

(Saifuddin, 2003: 33). Apabila kita atau para remaja hidup

dalam lingkungan atau kebudayaan yang menganggap merokok

sebagai suatu hal yang wajar dilakukan oleh para remaja, maka

kemungkinan besar kita bahkan remaja akan mempunyai sikap

bahwa perilaku merokok pada remaja merupakan suatu hal

yang wajar dilakukan dan bukan suatu hal yang tabu.

38
Begitu juga sebaliknya, jika kita atau para remaja itu

sendiri tinggal dilingkungan atau kebudayaan yang

menganggap perilaku merokok pada remaja itu suatu hal yang

kurang baik. Apabila keadaan lingkungan atau kebudayaan

seperti itu, kemungkinan besar kita tau para remaja tersebut

akan mempunyai sikap bahwa jika merokok dilakukan oleh

para remaja khususnya usia sekolah maka remaja tersebut

dikategorikan sebagai anak yang kurang baik atau nakal

c) Orang lain yang dianggap penting.

Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu di antara

komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita

(Saifuddin, 2003: 32). Pada umunya, individu cenderung untuk

memiliki sikap yang yang searah dengan seseorang yang

dianggapnya penting. Kecenderungan ini dapat disebabkan

karena keinginan untuk menghidari konflik dengan orang yang

dianggap penting tersebut.

Pada masa anak-anak dan remaja, orang tua merupakan

figur yang sangat berarti bagi anak. Sikap yang dimiliki orang

tua cenderung untuk ditanamkan pada anaknya. Seperti yang di

ungkapkan oleh Middlebrook dalam Saifuddin (2003: 32)

bahwa ‘Sikap orang tua dan sikap anak cenderung untuk selalu

sama sepanjang hidup’.

39
Misalnya saja, orang tua menganggap merokok pada usia

remaja adalah suatu hal yang tidak bagus dilakukan oleh para

remaja dan kebanyakan orang tua melarang anaknya untuk

merokok jika belum dewasa. Hal tersebut kemungkinan besar

akan tertanam pada anak dan sianak akan bersikap yang sama

bahwa merokok tidak baik untuk ia lakukan.

Meskipun biasanya ada remaja yang merokok tetapi tanpa

sepengetahuan orang tuanya, hal tersebut kemungkinan ia

lakukan karena untuk menghindari konflik. Konflik yang

dimaksudkan adalah konflik antara remaja tersebut dengan

orang tuanya dan remaja tersebut dengan teman-temannya. Di

salah satu sisi ia dilarang oleh orang tuanya merokok, tetapi di

sisi lain ia takut dikucilkan oleh teman-teman sepergaulannya

jika tidak merokok. Dan ini mungkin terjadi kontra antara

sikapnya terhadap rokok denga perilakunya.

d) Media massa.

Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa

seperti televise, radio, surat kabar, majalah, dan sebagainya

mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan

kepercayaan orang. Seperti halnya diungkapkan oleh Saifuddin

(2003: 34) bahwa “Dalam penyampaian informasi sebagai

tugas pokoknya, media massa membawa pesan yang berisi

sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang”.

40
Dalam Sitepeo (2000: 20) disebutkan bahwa alasan utama

remaja menjadi perokok adalah ajakan teman-teman yang sukar

ditolak, selain itu juga ada yang mengatakan menjadi perokok

karena melihat iklan rokok. Ini berarti, penyampaian informasi

atau sugesti yang diberikan media massa dapat membentuk

atau merubah sikap yang dimiliki.

e) Institusi lembaga pendidikan dan lembaga agama.

Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu

sistem mempunyai pengaruh dalam bentuk dalam bentuk sikap

dikarenakan keduanya meletakan dasar pengertian dan konsep

moral dalam diri individu (Saifuddin, 2003:36)

Biasanya orang dalam mengambil keputusan atau sikap

jika tidak ada jalan lain akan bertitik tolak pada agama.

Misalnya saja ada orang yang menganggap bahwa merokok

tidak hanya mengganggu kesehatannya bahkan juga kesehatan

orang lain yang berada di sekitarnya. Bagi mereka yang

beranggapan seprti itu maka tidak ada keraguan untuk bersikap

menolak terhadap merokok.

f) Faktor emosi dalam diri individu.

Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi

lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. Saifuddin

(2003: 36) berpendapat bahwa “Kadang-kadang sikap

merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi

41
semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk

mekanisme pertahanan ego”.

Suatu contoh bentuk sikap yang didasari oleh faktor

emosional adalah prasangka. Harding dkk dalam Saifuddin

(2003: 37) mendefinisikan prasangka sebagai sikap yang tidak

toleran, tidak “fair”, atau tidak favorabel terhadap sekelompok

orang.

Misalnya saja prasangka sekelompok orang yang

menganggap remaja yang melakukan aktivitas merokok

terlebih lagi remaja yang masih berada dalam usia sekolah

menengah adalah remaja yang tidak baik prilakunya. Oleh

karena itu, terkadang ada segelintir orang yang memvonis

remaja terlebih lagi remaja usia sekolah menegah menganggap

remaja tersebut remaja yang nakal apalagi siswa yang masih

menggunakan seragam sekolah.

2) Perubahan sikap.

Sikap adalah suatu betuk keadaan psikologis yang tidak

begitu saja terbentuk atau pun tetap saja keadaannya. Tatkalanya

sikap berubah sesuai dengan keadaan yang mempengaruhinya.

Langkah-langkah dalam perubahan sikap menurut model

dari Hosland-Janis-Kelley menggambarkan proses terjadinya

perubahan sikap.

42
STIMULUS ORGANISME:

PERHATIAN

PENGERTIAN

PENERIMAAN

Gambar 2. Langkah-langkah perubahan sikap menurut Hoslan, Janis dan


Kelley (Mar’at, 1981: 29).

Pada ilustrasi gambar 2. terlihat bahwa perhatian dan

pemahaman subjek terhadap stimulus yang dapat berupa

komunikasi atau pesan yang disampaikan akan menentukan apa

yang akan dipelajari oleh subjek mengenai isi pesan tersebut,

sedangkan proses-proses lain dianggap menentukan apakah isi

yang dipelajari itu akan diterima oleh subjek ataukah tidak.

Faktor-faktor yang menghambat dan menunjang perubahan sikap :

Faktor-faktor yang menghambat :

- Stimulus bersifat indeferent, sehingga faktor perhatian kurang


berperan terhadap stimulus yang diberikan.
- Tidak memberikan harapan atau masa depan (arti psikologik)
- Adanya penolakan terhadap stimulus tersebut, sehingga tidak ada
pengertian terhadap stimulus tersebut (menentang)
(Mar’at, 1981: 28)

43
Faktor-faktor yang menunjang :
- Dasar utama terjadinya perubahan sikap adalah adanya imbalan dan
hukuman, di mana individu mengasosiasikan reaksinya yang disertai
dengan imbalan dan hukuman.
- Stimulus mengandung harapan bagi individu sehingga dapat
terjadinya perubahan dalam sikap.
- Stimulus mengandung prasangka bagi individu yang mengubah sikap
semula
(Mar’at’ 1981: 28)

Selain faktor-faktor yang diungkapkan di atas, ada juga faktor-faktor

lain yang berhubungan dengan perubahan sikap.

Variable yang mempengaruhi Proses perantara internal Efek komunikasi

yang tampak

FAKTOR-FAKTOR PERUBAHAN
SUMBER SIKAP
- Keahlian
- Dapat dipercaya
- Disukai " "
- Status
- Ras
- agama

"
FAKTOR-FAKTOR
PESAN
- Urutan argumentasi
- Satu sisi atau dua sisi. "
- Tipe daya tarik "
- Kesimpulan implisit
atau eksplisit.

"
FAKTOR-FAKTOR
SUBJEK PENERIMA
- Kemudahan Dibujuk
- Sikap semula
- Intelegensi
- Harga diri
- Kepribadian

Gambar 3. Pendekatan Komunikasi Dan Persuasi Menurut Model Studi Yale


(Saifuddin, 2003: 65).

44
d. Pengukuran sikap.

Salah satu aspek yang sangat pentingguna memahami sikap dan

prilaku manusia adalah masalah pengungkapan atau pengukuran sikap. Seperti

yang telah dikemukakan di atas bahwa sikap merupakan respon penilaian yang

dapat berbentuk negatif atau positif. Hal ini berarti bahwa dalam sikap

terkandung adanya rasa suka atau tidak suka terhadap sesuatu sebagai objek

sikap.

Berbagai teknik dan metode telah dikembangkan oleh para ahli guna

mengungkapkan sikap manusia dan memberikan interpretasi yang valid.

Berawal dari metode-metode langsung yang sederhana sampai pada metode

yang lebih komplit, terus berkembang sejalan dengan perkembangan konsepsi

mengenai sikap itu sendiri dan perkembangan psikometri sebagai dasar

metode pengukuran dalam psikologi.

Berikut ini adalah uraian mengenai beberapa di antara banyak

metode pengungkapan sikap yang secara hitorik telah dilakukan orang.

a. Observasi perilaku.

Kalau seseorang menampakan perilaku yang konsisten

(berulang) misalnya seorang remaja suka merokok meskipun masih

menggunakan seragam sekolah, bukankah kita berkesimpulan bahwa ia

bersikap menerima kebiasaan merokok pada remaja meski masih

menggunakan seragam.

Oleh karena itu, sangat masuk akal tampaknya apabila sikap bisa

ditafsirkan dari bentuk perkau yang tampak. Hal ini juga telah

45
disampaikan dari definisi di atas bahwa sikap sebagai pre-disposisi dari

perilaku.

Tetapi, kadang-kadang ada juga perilaku yang ditampakan

berbeda dengan sikap yang dimiliki oleh individu. Ini dikarenakan ia

menyembunyikan sikap yang sebenarnya mungkin dengan berbagai

alasan. Misalnya, ada remaja yang tidak suka merokok tetapi ia ketika

berkumpul dengan teman-temannya ikut merokok dikarenakan ia tidak

mau dikucilkan oleh teman-temannya.

Dengan demikian, perilaku yang kita amati mungkin saja dapat

menjadi indikator sikap dalam konteks situasional tertentu akan tetapi kita

juga harus berhati-hati apabila hanya didasarkan pengamatan perilaku kita

bisa tertipu dengan sikap sebenarnya yang dimiliki.

b. Penanyaan langsung.

Asumsi yang mendasari metode penanyaan langsung guna

pengungkapan sikap pertama adalah asumsi bahwa individu merupakan

orang yang paling tahu mengenai dirinya sendiri dan kedua adalah asumsi

bahwa manusia akan mengungkapkan secara terbuka apa yang

dirasakannya. Oleh karena itu, dalam metode ini jawaban yang diberikan

oleh mereka yang ditanyai dijadikan indicator sikap mereka.

Pengungkapan sikap dengan penanyaan langsung memiliki

keterbatasan dan kelemahan yang mendasar, misalnya individu tidak tahu

hal yang sebenarnya tentang dirinya atau bahkan ia tidak memberikan

jawaban yang sebenarnya yang dirasakannya.

46
c. Skala sikap.

Metode pengungkapan sikap yang sering digunakan sampai

sekarang ini adalah sikap. Skala sikap sampai saat ini masih dianggap

sebagai metode pengungkapan sikap yang paling dapat diandalkan dan

sederhana, seperti yang diungkapkan oleh Saifuddin :

“Metode pengukapan sikap dalam bentuk self-report yang hingga kini


dianggap sebagai paling dapat diandalkan adalah dengan menggunakan
daftar pernyataan-pernyataan yang harus dijawab oleh individu yang
disebut sebagai skala sikap” (2003 : 95)

Salah satu sifat skala sikap adalah isi pernyataan yang dapat

berupa pernyataan langsung yang jelas tujuannya ukurnya, akan tetapi

dapat pula berupa pernyataan tidak langsung yang tujuan ukurnya kurang

jelas bagi responden. Respon individu terhadap pernyataan-pernyataan

sikap yang berupa jawaban setuju atau tidak setuju itulah yang menjadi

indikator sikap seseorang.

d. Pengukuran terselubung.

Metode pengukuran terselubung sebenarnya berorientasi kembali

ke metode observasi perilaku yang telah dikemukakan di atas, akan tetapi

sebagai objek pengamatan bukan perilaku tampak yang disadari atau

sengaja diilakukan oleh seseorang melainkan reaksi-reaksi fisiologis yang

terjadi di luar kendali orang yang bersangkutan.

Dalam penelitian ini metode yang digunakan dalam pengukuran

sikap adalah dengan menggunakan skala sikap. Alasan utama menggunakan

skala sikap dikarenakan skala sikap diperkirakan mampu meghemat waktu

dan tenaga serta biaya, dibanding dengan metode pengukuran sikap yang

47
lainnya skala sikap dipandang paling dapat diandalkan dibanding metode

pngumpul data mengenai sikap yang lainnya. Untuk lebih jelasnya mengenai

skala sikap yang digunakan dalam penelitian ini diterangkan dalam bab

selanjutnya.

3. HUBUNGAN ANTARA SIKAP TERHADAP MEROKOK DENGAN


KEBIASAAN MEROKOK

Sebelum membahas tentang hubungan sikap merokok dengan

kebiasan merokok, terlebih dahulu kita dalami tentang kebiasaan

kebiasaan.

Menurut Sumadi (2001: 290) Kebiasaan (habit) adalah respon

yang berulang-ulang terjadi kalau individu menghadapi kondiisi atau

situasi yang sejenis. Selain pengertian itu, ada juga yang mengatakan

bahwa kebiasaan adalah suatu bentuk karakter tingkah laku yang menjadi

dorongan otomatis yang di peroleh atau dipelajari. Hal tersebut di

ungkapkan oleh Hall (1988:211) :

The habit is a character of behaviour to cause think to push


the respons otomatic of anything get and learning.

Selain itu juga Hall (1988: 211) mengungkapkan bahwa

kebiasaan adalah suatu rangsang yang dipelajari dengan komplek yang

menyakut satu kesatuan yang takterpisahkan dari perilaku-perilaku yang

sederhana. Ada pun yang dikatakan Hall adalah sebagai berikut :

Habit is a respons whence the to be able from learning to


complex one on one to impossibility separate of the simple
behaviour’s

48
Setelah didapat pengertian lebih jelas bahwa kebiasaan adalah

juga termasuk dalam perilaku, atau setidaknya kebiasaan timbul

dikarenakan seringnya perilaku dilakukan yang menjadikan suatu hal yang

secara otomatis dilakukan. Kebanyakan individu tidak sadar akan

kebiasaan, seperti berjalan sendiri.

Dikarenakan kebiasaan juga merupakan suatu perilaku (yang

sering dilakukan), maka akan di bahas terlebih dahulu mengenai hubungan

antara sikap dengan perilaku.

Pada mulanya secara sederhana diasumsikan bahwa sikap

seseorang menentukan perilakunya (Sears, dkk, 1999: 149). Hal yang

sama disampaikan oleh Saifuddin (2003: 10) bahwa sikap selalu dikaitkan

dengan perilaku yang berada dalam batas kejiwaan dan kenormalan yang

merupakan respon atau reaksi terhadap stimulus dari lingkungan. Dalam

hal ini sikap tidak dapat terlepas dari perilaku, artinya dimana seseorang

bersikap menolak suatu objek ia akan cenderung untuk menghindari objek

tersebut atau bahkan sebalinya jika seseorang menerima objek tersebut

cenderung individu tersebut untuk melakukannya atau mendekati objek

tersebut. Misalnya seseorang yang bersikap menolak terhadap merokok,

cenderung ia akan menghindar dari aktivitas merokok bahkan mungkin

menghindari orang yang sedang merokok.

Semakin komplek situasinya dan semakin banyak faktor yang akan


ikut menjadi pertimbangan dalam bertidak maka semakin sulitlah
memprediksikan perilaku dan semakin sulit pula menafsirkannya sebagai
indikator sikap seseorang. Respon perilaku tidak saja ditentukan oleh sikap
individu tetapi oleh norma subjektif yang berada dalam inidivu tersebut
(Saifuddin, 2003: 19).

49
Selain beberapa pengertian di atas, Mar’at (1981: 12)

memberikan gambaran pula bahwa sikap belum merupakan suatu tindakan

atau aktivitas, akan tetapi berupa “pre-disposisi” tingkah laku.

# #

# # Reaksi
$ Tingkah laku
(terbuka)
!

(Mar’at, 1981: 12)

Keterangan :
: garis/arah kecenderungan dari sikap.
: garis tanpa proses seperti rekasi refleks
Gambar 4. Dapat lebih dijelaskan bahwa sikap merupakan kesiapan untuk
bereaksi terhadap objek dilingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan
terhadap objek dilingkungan tertentu sebagai suatu pengahayatan terahadap objek
tersebut.

Semakin besar relevansi spesifik sikap terhadap perilaku semakin

tinggi korelasi antara kedua hal tersebut (Sears, dkk, 1999: 151).

Kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku. Maksudnya,

bagaimana orang berperilaku dalam situasi tertentu dan terhadap stimulus

akan banyak ditentukan oleh bagaimana kepercayaan dan perasaanya

terhadap stimulus tersebut.

Kecenderunga berperilaku secara konsisten, selaras dengan

kepercayaan dan perasaan ini membentuk sikap individual. Karena itu,

adalah logis untuk mengaharapkan bahwa sikap seseorang akan

dicerminkannya dalam bentuk tendensi perilaku terhadap objek

(Saifuddin, 2003: 27). Pada remaja laki-laki percaya bahwa merokok

50
memberi kesan “Jantan” atau gagah bagi mereka. Untuk itu, besar

kemungkinan bahwa perasaan dan kepercayaan tersebut menjadikan

mereka sebagai perokok.

Berikut akan digambarkan dengan diagram secara sederhana

hubungan antara sikap dengan kebiasaan.

STIMULUS SIKAP
(Individu, Situasi, Kelompok sosial)

KEBIASAAN perilaku
(hal yang sering dilakukan)

Tindakan merokok diawali dari adanya suatu sikap, yaitu

Kecenderungan seseorang untuk menerima atau menolak, setuju atau tidak

setuju terhadap respon yang datang dari luar, dalam hal ini adalah rokok.

Orang melihat rokok atau melihat orang lain merokok, lalu respon apa

yang muncul didalam pikiran atau perasaannya. Bisa saja orang itu tertarik

(setuju), tidak tertarik (tidak setuju atau malah tidak peduli , hal ini akan

terjadi pada setiap orang. Namun ada Kecenderungan lain, yaitu didalam

hati ia tidak setuju, tetapi kenyataanya ia melakukannya (merokok). Hal

ini tentu ada faktor lain yang mempengaruhinya. Di sinilah terjadinya

kontradiksi antara sikap dan perbuatan (tingkah laku).

51
B. HIPOTESIS.

Hipotesis merupakan anggapan dasar yang kemudian membuat

suatu teori yang masih harus diuji kebenarannya. Hipotesis akan ditolak jika

salah atau palsu dan akan diterima jika fakta-fakta membenarkannya

(Arikunto, 1996: 98). Dengan demikian hipotesis adalah suatu teori sementara

yang kebenarannya masih perlu diuji.

Ada pun hipotesis dalam penelitian ini adalah “Ada hubungan antara

sikap remaja terhadap merokok dengan kebiasaan merokok pada remaja”.

52
53

BAB III

METODE PENELITIAN

Agar penelitian ini mampu menghasilkan kesimpulan yang obyektif

ilmiah, maka penulis memandang perlu dan penting untuk menetapkan langkah-

langkah tertentu yang tertuang dalam metodologi penelitian.

Dalam metode penelitian ini akan diungkapkan tentang jenis

penelitian, variabel penelitian, populasi dan sampel, alat pengumpul data, validitas

dan reliabilitas, serta metode analisis data.

A. JENIS PENELITIAN.

Untuk menentukan jenis penelitian yang akan dilakukan harus

didasarkan pada tujuan penelitian, pendekatan, bidang ilmu, tempat dan

sebagainya.

Penelitian ini termasuk pada jenis penelitian korelasional. Penelitian

korelasional adalah penelitian untuk mencari hubungan antara dua variabel.

Penelitian ini termasuk jenis penelitian korelasional dikarenakan penelitian ini

berteujuan untuk mengetahui hubungan dua variabel yaitu sikap remaja

terhadap merokok dengan perilaku merokok pada remaja.

B. VARIABEL PENELITIAN.

Istilah “variabel” merupakan istilah yang tidak pernah ketinggalan

dalam setiap jenis penelitian. Suharsimi (1996: 97) menyebutkan bahma


54

“Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu

penelitian”.

1. Jenis Variabel.

Ada berbagai jenis variabel dalam penelitian, tetapi dalam penelitian

ini menggunakan jenis variabel bebas dan variabel tergantung. Ada pun

variabel-variabel tersebut adalah sebagai berikut :

a. Variabel bebas dengan simbol X, yaitu yang diselidiki pengaruhnya.

Sebagai variabel bebas dalam penelitian ini adalah “Sikap remaja

terhadap merokok”.

b. Variabel tergantung dengan simbol Y, yaitu variabel muncul akibat

variabel bebas. Sebagai variabel tergantung dalam penelitian ini adalah

“Kebiasaan merokok pada remaja”.

2. Definisi Opersional Variabel

Variabel dalam penelitian ini akan dijelaskan sebagai berikut :

a. Sikap remaja terhadap merokok adalah kesiapan yang kompleks dari

remaja untuk memperlakukan dan bertindak terhadap merokok, baik

positif atau negatif , menerima atau menolak, kesiapan tersebut

meliputi aspek kognitif, afektif dan konatif. Kesiapan dari remaja

tersebut berbeda-beda tergantung pada tujuan, lingkungan yang dapat

mempengaruhi dan pandangannya terhadap manfaat dan kerugian

merokok.

b. Kebisaan merokok pada remaja adalah Suatu rangsangan yang

dipelajari remaja dengan komplek (seperti merokk) yang menyangkut


55

satu kesatuan yang tak terpisahkan dari perilaku-perilaku yang

sederhana (misalnya bergadang,”nongkrong” bareng teman)

C. POPULASI DAN SAMPEL

1. Populasi

Menurut Suharsimi (1996: 115) populasi adalah keseluruhan obyek

penelitian. Berdasarkan lokasi penelitian yaitu di SMA Negeri 1 Jasinga

Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat, maka yang menjadi populasi dalam

penelitian ini adalah seluruh siswa laki-laki di SMA Negeri 1 Jasinga

Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat.

Keseluruhan subjek yang menjadi populasi dalam penelitian ini ditetapkan

dengan berstatus sebagai berikut :

a. Siswa tersebut berstatus pada tahun pelajaran 2004/2005 sebagai siswa

di SMA Negeri 1 Jasinga Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat.

b. Siswa-siswa tersebut berjenis kelamin laki-laki.

c. Siswa-siswa tersebut adalah siswa yang biasa merokok.

Berdasarkan data yang diperoleh maka, perincian jumlah populasi

penelitian adalah 90 siswa.

2. Sampel.

Menurut Suharsimi (1996: 117) sampel adalah sebagian

atau wakil populasi yang diteliti. Ada pun yang dijadikan sampel

dalam penelitian ini adalah sebagian dari populasi siswa laki-laki di

SMA Negeri 1 Jasinga Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat yang


56

melakukan aktivitas merokok dengan jumlah populasi sebanyak 90

siswa

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini

adalah total sampling. Dalam penelitian ini semua anggota populasi

dijadikan sebagai sampel penelitian. Alasan penelitian menggunakan

penelitian populasi dikarenakan jumlah populasi yang diteliti dianggap

tidak terlalu banyak dan dapat dijangkau peneliti. Oleh karena itu,

jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 90 siswa.

D. METODE DAN ALAT PENGUMPUL DATA

Pengumpulan data merupakan langkah yang amat penting dalam

suatu penelitian, karena data yang diperoleh digunakan untuk menguji

hipotesis yang telah dirumuskan. Berikut ini akan disajikan metode dan alat

untuk mengumpulkan data yang digunakan dalam penelitian ini.

1. Metode Pengumpul Data.

Dalam penelitian ini metode pengumpul data yang digunakan adalah

skala psikologi dan angket. Skala psikologi adalah suatu alat ukur untuk

mengukur aspek atau atribut psikologi (Saifuddin, 1999: 3). Alasan

menggunakan skala psikologi sebagai metode pengumpul data karena

sikap remaja terhadap merokok sebagai data yang akan diungkap

merupakan aspek atau atribut dalam bidang psikologi sehingga

membutuhkan alat ukur yang dapat mengungkapkan konsep psikologi.


57

Sedangkan metode angket digunakan sebagai metode pengumpul data

tentang kebiasaan merokok pada remaja.

2. Alat Pengumpul Data.

Karena menggunakan dua metode pengumpul data, maka dalam

penelitian ini pun menggunakan dua alat pengumpul data yang merupakan

turunan dari metode pengumpul data di atas. Dua alat pengumpul data

yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala sikap dan angket.

Alasan menggunakan skala sikap untuk mengumpulkan data

tentang sikap remaja terhadap merokok adalah seperti yang telah

dikemukakan dalam bab sebelumnya bahwa skala sikap dianggap sebagai

pengumpul data mengenai sikap yang paling dapat diandalkan dikarenakan

dapat menghemat waktu, biaya dan kemungkinan untuk mendapatkan data

yang menyimpang sangat kecil kemungkinannya dibanding dengan alat

pengumpul data mengenai sikap yang lainnya.

Selain skala sikap, angket juga digunakan sebagai alat pengmpul

data dalam penelitian ini. Dikarenakan jumlah sampel dalam penelitian ini

cukup banyak maka angket dinilai lebih tepat untuk dipilih sebagai alat

pengumpul data. Alasan menggunakan angket dikarenakan angket dinilai

mampu untuk menghemat waktu, tenaga serta biaya.

a. Skala sikap remaja terhadap merokok.

Skala sikap (attitude scales) berupa kumpulan pernyataan-

pernyataan mengenai suatu objek sikap (Saifuddin, 2003: 95).


58

Dari respon subjek pada setiap pernyataan dapat dijadikan

sebagai kesimpulan dari intensitas sikap seseorang. Pada beberapa

bentuk skala dapat pula diungkapkan mengenai keluasan serta

konsistensi sikap.

Untuk model atau teknik yang digunakan dalam skala sikap

dalam penelitian ini adalah penskalaan model Linkert. Alasan memilih

model linkert dikarenakan model penskalaan ini dinilai lebih praktis

dan untuk penghitungan nilai skala kategori jawaban lebih mudah.

Dalam penskalaan model Linkert dikenal lima pilihan jawaban

atas pernyataan yang ada yaitu “sangat tidak setuju” (STS), “tidak

setuju” (TS), “tidak dapat menentukan” atau “entahlah” (E), “setuju”

(S), dan “sangat setuju” (ST). Sementara dalam penelitian ini guna

menghindari respon yang pasif dan cenderung memilih posisi aman

tanpa memberi jawaban yang pasti, maka pilihan jawaban “entahlah”

(E) tidak dijadikan sebagai salah satu pilihan, sehingga responden

memilih jawaban dengan empat kategori yaitu “sangat setuju” (SS),

“setuju” (S), “tidak setuju” (TS), dan “sangat tidak setuju” (STS).

Setiap jenis respon mendapat nilai sesuai dengan arah

pernyataan yang bersangkutan, antara lain :

Arah dari pernyataan SS S TS STS

Positif 1 2 3 4

Negatif 4 3 2 1
59

Untuk melakukan penskalaan dengan metode ini, sejumlah

pernyataan sikap telah ditulis berdasarkan kaidah penulisan pernyataan

dan didasarkan pada rancangan skala yang telah ditetapkan dalam kisi-

kisi instrumen penelitian. Rancangan atau kisi-kisi-kisi instrumen

skala sikap ini sebagai berikut :


60
61
62

b. Angket tentang kebiasaan merokok pada remaja.

Sebagian besar penelitian umumnya menggunakan angket

sebagai metode yang dipilih untuk mengumpulkan data. Angket dalam

penlitian ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang kebiasaan

merokok paeda remaja.

Untuk angket kebiasaan merokok pada remaja yang digunakan

dalam penelitian ini menggunakan angket tertutup, ada pun pilihan

jawaban yang disediakan adalah :

a. SS untuk sangat sesuai

b. S untuk sesuai

c. TS untuk tidak sesuai, dan

d. STS untuk sangat tidak sesuai

Setiap jenis respon mendapat nilai sesuai dengan arah

pernyataan yang bersangkutan, antara lain :

Arah dari pernyataan SS S TS STS

Positif 4 3 2 1

Negatif 1 2 3 4

Metode angket mempunyai kelebihan dan kelemahan antara lain :

Kelebihan :

a. Dalam waktu singkat dapat diperoleh data yang relatif cepat.

b. Menghemat tenaga, waktu dan biaya.


63

c. Dalam mengisi angket responden dapat memilih waktu

senggangnya sehingga tidak terlalu terganggu.

d. Secara psikologis responden tidak merasa terpaksa dan dapat

menjawab lebih terbuka.

Kelemahan :

a. Kemungkinan responden tidak dapat berhadapan langsung dengan

peneliti, maka bila ada hal-hal yang kurang jelasakan sulit

mendapat penjelasan lebih lanjut.

b. Dalam angket pernyataan telah disusun sedemikian rupa sehingga

pernyataan-pernyataan itu bersifat kaku, tidak dapat diubah atau

disesuaikan dengan situasi yang ada.

c. Biasanya tidak semua angket yang dikeluarkan akan kembali

semua. Hal ini harus menjadi pertimbangan peneliti. Angket yang

dikeluarkan harus dilebihi untuk menjaga angket yang tidak

kembali, selain itu peneliti juga hrus mengontrol angket yang

dikeluarkan.

Untuk mengatasi kelemahan angket maka ditempuh langkah-

langkah sebagai berikut :

a. Peneliti memberikan langsung angket kepada responden.

b. Pengisian angket dilakukan secara bersamaan dengan ditunggui

oleh peneliti.

c. Responden diberikan batas waktu tertentu dan pengisian angket

yang dinilai peneliti cukup senggang dalam mengisi angket


64

Istrumen adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan

data. Instrumen dalam penelitian ini adalah seperangkat pernyataan

yang digunakan untuk memperoleh data dan informasi mengenai diri

responden yang diteliti sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian .

Untuk itu terlebih dahulu dibuat kisi-kisi penelitian agar instrumen

yang dibuat benar-benar dapat mengukur atau memperoleh data sesuai

dengan maksud dan tujuan penelitian. Ada pun kisi-kisi instrumen

angket adalah sebagai berikut :


65
66
67

E. UJI INSTRUMEN.

Sebelum instrumen digunakan untuk mengumpulkan data maka

dilakukan terlebih dahulu uji instrumen dengan menggunakan uji validitas

atau reliabilitas.

1. Validitas

Validitas adalah suatu alat ukur yang menunjukkan tingkat

kevalidan atau kesahihan dari suatu instrumen. Instrumen dikatakan valid

apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkapkan

data dari variabel yang diteliti secara tepat (Suharsimi, 1996: 158).

a. Jenis validitas

Dalam penelitian ini menggunakan validitas konstrak,

validitas konstrak adalah tipe validitas yang menunjukkan sejauhmana

tes mengungkap suatu trait atau konstrak teoritik yang hendak

diukurnya (Azwar, 1997: 47).

b. Uji validitas

Uji validitas dilakukan terhadap setiap item tes atau angket

yang dibuat berpangkal pada konstruksi teoritis mengenai faktor-faktor

yang akan diukur atau dikenal dengan validitas konstruk. Uji validitas

akan dilakukan dengan menggunakan koefisien korelasi product

moment dengan menggunakan bantuan komputer dari program excel

for windows. Ada pun rumus korelasi product moment adalah senagai

berikut :
68

r N XY − ( X )( Y)

{N ) }{N )2 }
XY =
X2− ( X
2
Y2− ( Y

Keterangan :
r xy : koefisien korelasi antara x dan y
x : skor item
y : skor total
x : jumlah skor item
y : jumlah skor total
x2 : jumlah kuadrat item
2
y : jumlah kuadrat total
xy : jumlah perkalian skor butir dengan skor total
N : jumlah responden
(Sudjana, 2001: 369).

Setelah diperoleh harga r xy selanjutnya dikonsultasikan

dengan nilai r tabel. Apabila r xy lebih besar atau sama dengan r tabel,

maka item atau angket dikatakan valid.

2. Reliabilitas

Tujuan dari analisis reliabilitas adalah agar dapat

mengungkapkan data yang dapat dipercaya dan istrumen tidak bersifat

tendensius untuk mengarahkan responden dalam memilih dan menjawab

tertentu (Suharsimi, 1996: 142). Dengan demikian data yang diperoleh

benar-benar sesuai dengan kenyataan yang ada.

Rumus yang digunakan untuk mengukur reliabilitas adalah

rumus alpha. Alasan menggunakan rumus alpha adalah dari sekian

banyaknya teknik untuk mencarii reliabilitas, hanya rumus alpha yang

dapat digunakan untuk mencari reliabilitas instrumen yang skornya


69

bertingkat. Untuk tes yang dibelah menjadi lebih dari dua belahan yang

masing-masing berisi aitem dalam jumlah sama banyak (Saifuddin, 1997:

78), rumus alpha yang digunakan untuk menghitung reliabilitas adalah

sebagai berikut :

2
k b
r11 = 1−
k −1 t
2

Keterangan :
r 11 : Reliabilitas instrumen
k : Banyaknya butir pertanyaan
σ b : Jumlah varian butir
2

σt2 : varian total


(Saifuddin, 1997: 78)

F. ANALISIS DATA

Setelah data terkumpul, data diproses untuk dianalisis sesuai dengan

tujuan penelitian. Ada pun analisis data dengan menggunakan metode

statistik. Metode statistik dugunakan untuk menguji hipotesis. metode analisis

data yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumus persentase dan rumus

korelasi product moment pearson. Ada pun rumus persentase digunakan untuk

mengetahui gambaran bagaimana sikap remaja terhadap merokok dan

gambaran tentang kebiasaan merokok pada remaja, sedangkan rumus korelasi

product moment itu sendiri digunakan untuk mengetahui apakah ada

hubungan antara sikap remaja terhadap merokok dengan kebiasaan merokok

pada remaja.
70

1. Rumus persentase.

Rumus persentase digunakan untuk mengetahui gambaran mengenai

sikap remaja terhadap merokok dan juga untuk mengetahui gambaran

kebiasaan merokok pada remaja yang dipersentasikan dan disajikan tetap

berupa persentase. Sesudah sampai ke persentase lalu ditafsirkan dengan

kalimat yang bersifat kualitatif. Kategori sangat baik dan baik diartikan

dengan sikap remaja yang menerima terhadap merokok selain itu juga,

diartikan sebagai perilaku yang baik dengan gambaran remaja tidak

melakukan atau sering melakukan perilaku merokok dan kategori kurang

baik dan tidak baik diartikan dengan sikap remaja yang tidak menerima

terhadap merokok dan diartikan sebagai remaja yang suka melakukan

perilaku merokok. Ada pun rumus persentase yang digunakan dalam

penelitian adalah sebagai berikut:

P = N x 100%
i

Keterangan :
P : Jumlah persentase.
N : Jumlah skor nyata
i : Jumlah skor ideal (Arikunto, 1996: 246)

2. Rumus Normalitas.

Rumus normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data yang

digunakan berupa data berdistribusi normal atau tidak. Ada pun rumus

yang digunakan untuk menentukan normalitas adalah rumus chi kuadrat,

yaitu :
71

2. Rumus Korelasi Product momet :

Rumus korelasi produt moment dalam penelitian ini digunakan untuk

menguji hipotesis. Rumus product moment digunakan untuk mengetahui

apakah variabel 1 dan 2 saling berhubungan, dengan kata lain rumus

korelasi product moment digunakan untuk mengetahui apakah ada

hubungan antara sikap remaja terhadap merokok dengan kebiasaan

merokok pada remaja. Alasan menggunakan rumus product moment

dikarenakan dua variabel yang diteliti bersifat kontinyu. Selain itu juga,

rumus korelasi product moment dianggap teknik yang paling stabil dan

hasil dari penghitungannya kecil kemungkinan untuk error. Ada pun

rumus korelasi product moment sebagai berikut :

r N XY − ( X )( Y)

{N ) }{N )2 }
XY =
X2− ( X
2
Y2− ( Y

Keterangan :
r xy : koefisien korelasi antara x dan y
x : skor item
y : skor total
x : jumlah skor item
y : jumlah skor total
x 2 : jumlah kuadrat item
y 2 : jumlah kuadrat total
xy : jumlah perkalian skor butir dengan skor total
N : jumlah responden
(Sudjana, 1996: 369).
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Sebelum penelitian dilakukan, peneliti telah menguji cobakan instrumen

yaitu skala sikap terhadap merokok dan angket kebiasaan merokok kepada 30

siswa laki-laki yang melakukan kebiasaan merokok untuk mengetahui validitas

dan reliabilitas dalam memenuhi persyaratan penting sebagai instrumen

pengumpulan data yang dapat diandalkan. Setelah diujicobakan (try out),

instrumen yang telah diperbaiki digunakan untuk mengambil data sebanyak 90

Siswa laki-laki di SMA Negeri 1 Jasinga Kabupaten Bogor Pada Tahun Pelajaran

2004/2005 sebagai sampel dalam penelitian.

1. Hasil Ujicoba Instrumen

Setelah data dikumpulkan dan dilakukan penyekoran terhadap pilihan

jawaban, maka langkah selanjutnya adalah melakukan uji validitas dan

reliabilitas instrumen penelitian. Hasil uji validitas dan reliabilitas instrumen

adalah sebagai berikut.

a. Validitas

1) Skala tentang sikap remaja terhadap merokok

Berdasarkan uji coba instrumen yang dianalisis dengan

menggunakan rumus product moment pada taraf signifikasi 5% dan N –

73
30 dan dikonsultasikan dengan r tabel 0,361. Apabila r hitung > r tabel,

maka item tersebut dinyatakan valid.

Dari 108 pernyataan yang telah disebarkan terdapat 26 item yang

dinyatakan tidak valid, yaitu item nomor 2, 5, 10, 11, 14, 20, 25, 32, 38,

41, 44, 51, 53, 58, 60, 61, 74, 75, 81, 82, 95, 99, 102, 105, 107, dan 108.

2) Angket kebiasaan merokok pada remaja

Berdasarkan uji coba instrumen yang dianalisis dengan

menggunakan rumus product moment pada taraf signifikasi 5% dan N =

30 dan dikonsultasikan dengan r tabel 0,361. Apabila r hitung > r tabel,

maka item/soal tersebut dinyatakan valid.

Dari 75 pernyataan / item yang telah disebarkan terdapat 66 item

yang dinyatakan valid, yaitu item nomor 4, 11, 26, 31, 36, 44, 49, 55,

dan 69.

Dari hasil uji validitas tersebut didapat tiap indikator penelitian

sudah ada yang mewakili dan dirasa cukup bagi peneliti untuk dapat

mengungkap data. Oleh karena itu, untuk item-item yang tidak valid

tidak digunakan atau dibuang.

b. Reliabilitas

1) Skala sikp siswa terhadap merokok

Penentuan tahap minimal reliabilitas sebuah instrumen adalah

berdasarkan kepada pendapat Saifudin Azwar (2000: 96) yaitu pada

umumnya reliabilitas telah dianggap memuaskan bila koefisiennya

74
mencapai minimal r11 = 0,900. namun demikian, kadang-kadang suatu

koefisien yang tidak setinggi itupun masih dapat dianggap reliabel

dalam kasus tertentu.

Selain itu, menurut Sudjana dan Ibrahim (1996: 122) merincikan

batas minimal reliabilitas yaitu untuk pengukuran ilmu-ilmu sosial dan

pendidikan indeks relabilitas 0,75 sudah dianggap cukup mengingat sifat

ilmu sosial dan pendidikan berbeda dengan ilmu-ilmu eksakta.

Berdasarkan pendapat dua ahli tersebut, maka dapat disimpulkan

bahwa batas indeks minimal reliabilitas adalah antara 0,75 hingga

dengan 1,0 dan reliabilitas yang mendekati 1,0, merupakan indeks

reliabilitas tertinggi.

Dari hasil ujicoba instrumen yang dianalisis menggunakan rumus

alpha, diperoleh r hitung = 0,9349. Hasil ini menunjukkan bahwa nilai

rhitung = 0,9349 ini telah mencapai tahap minimal reliabiltas sebuah

instrumen. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa instrumen skala

sikap remaja terhadap merokok (variabel X) adalah reliabel dan dapat

digunakan untuk melaksanakan penelitian. (lihat lampiran untuk melihat

cara perhitungan reliabilitas).

2) Angket kebiasaan merokok pada remaja

Berdasarkan hasil ujicoba instrumen (Variabel Y) dengan

menggunakan rumus alpha, nilai yang didapati adalah 0,9290. Hasil ini

menunjukkan bahwa r hitung 0,9290 ini telah mencapai tahap minimal

75
reliabilitas sebauh instrumen. Oleh itu, instrumen kebiasaan merokok

pada remaja dapat digunakan untuk melaksanakan penelitian.

2. Deskriptif Sikap Remaja terhadap Merokok

Gambaran tentang sikap remaja terhadap merokok pada siswa laki-laki

di SMA Negeri 1 Jasinga Kabupaten Bogor Pada Tahun Pelajaran 2004/2005,

menurut pendapat para siswa dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Sikap Remaja Terhadap Merokok

Skor Interval % Kriteria F %


82.0 – 143.5 25.00 – 43.75 Sangat Tidak Setuju 9 10.00
143.5 – 205.0 43.75 – 62.50 Tidak Setuju 62 68.89
205.0 – 266.5 62.50 – 81.25 Setuju 19 18.89
266.5 – 328.0 81.00 – 100.00 Sangat Setuju 0 0.00
Jumlah 90 100
Sumber: data yang diolah

Dari tabel perhitungan pada lampiran XVII, dapat diketahui bahwa

besarnya rata-rata sikap siswa terhadap merokok mencapai skor 191,7. Rata-

rata skor tersebut pada interval 205.0-266.4 yang berada dalam kategori baik.

Pada tabel tersebut di atas, menunjukkan bahwa 10 % atau 9 siswa memiliki

sikap yang sangat baik, sebagian besar siswa (69%) atau 62 siswa memiliki

sikap yang baik terhadap merokok, sedangkan 19% atau 19 siswa memiliki

sikap yang tidak baik terhadap merokok. Kategori baik disini diartikan

sebagai penolakan terhadap merokok.

76
Secara lebih rinci, hasil analisis deskriptif tentang sikap remaja

terhadap merokok meliputi aspek tujuan merokok, lingkungan yang dapat

mempengaruhi, manfaat merokok, dan kerugiam merokok dapat dilihat pada

tabel-tabel berikut ini.

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi sikap siswa terhadap tujuan merokok

Skor Interval % Kriteria F %


19.0 – 33.3 25.00 – 43.75 Sangat Tidak Setuju 18 20.00
33.3 – 47.5 43.75 – 62.50 Tidak Setuju 53 58.89
47.5 – 61.8 62.50 – 81.25 Setuju 19 21.11
61.8 – 76.0 81.00 – 100.00 Sangat Setuju 0 0.00
Jumlah 90 100
Sumber: data yang diolah

Berdasarkan tabel tersebut, menunjukkan bahwa sebagian besar siswa

(8,89%) atau 53 siswa memiliki tujuan untuk merokok dalam kategori baik,

dan selebihnya 21.11% siswa memiliki tujuan yang tidak baik dan 20 % nya

atau 18 siswa dapat diakatakan memiliki tujuan yang sangat baik. Hal ini

menunjukkan bahwa para siswa tersebut tidak memiliki kebanggaan diri

dengan merokok dan tidak menggunakan rokok sebagai media untuk

mengurangi stress atau tekanan perasaan.

Ditinjau dari lingkungan yang dapat mempengaruhi remaja merokok

diperoleh hasil seperti disajikan pada tabel berikut.

77
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi lingkungan yang dapat mempengaruhi remaja
merokok

Skor Interval % Kriteria F %


28.0 – 48.9 25.00 – 43.75 Sangat Tidak 13 14.44
Setuju
49.0 – 69.9 43.75 – 62.50 Tidak Setuju 50 55.56
70.00 – 91.00 62.50 – 81.25 Setuju 27 30.00
91.00 – 112.00 81.00 – 100.00 Sangat Setuju 0 0.00
Jumlah 90 100
Sumber: data yang diolah

Tabel tersebut, menunjukkan bahwa 14,44% atau 13 siswa menyikapi

bahwa lingkungan di mana mereka tinggal merupakan lingkungan yang

sangat baik, 55.56% atau 50 siswa, menyatakan ligkungan dimana mereka

berada memberikan pengaruh yang baik terhadap kebiasaan merokok, dan

30%nya atau 27 siswa tersebut menyatakan lingkungan mempengaruhi

kebiasaan merokok dalam kategori tidak baik. Secara umum menunjukkan

bahwa lingkungan siswa yang meliputi lingkunga keluarga, lingkungan

tempat tinggal dan lingkungan pergaulan memberikan pengaruh yang baik

bagi mereka. dalam artian bahwa mereka memberi tanggapan bahwa

lingkungan di mana mereka tinggal sebenarnya tidak begitu mempengaruhi

mereka untuk melakukan kebiasaan merokok.

Dilihat dari manfaat merokok, sebagian besar siswa (28.89%) atau 26

siswa dikategorikan dalam sikap terhadap merokok adalah baik, 37,78%

78
memiliki sikap baik,, dan 33,33% memiliki sikap sikap tidak baik. Hasil

selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi sikap siswa terhadap manfaat merokok

Skor Interval % Kriteria F %


17.0 – 29.7 25.00 – 43.75 Sangat Tidak 26 28.89
Setuju
29.8 – 42.4 43.75 – 62.50 Tidak Setuju 34 37.78
42.5 – 55.2 62.50 – 81.25 Setuju 30 33.33
55.3 – 68.0 81.00 – 100.00 Sangat Setuju 0 0.00
Jumlah 90 100
Sumber: data yang diolah

Tabel di atas menunjukkan bahwa perbedaan sikap siswa terhadap

manfaat merokok sangat tipis ini berarti bahwa masih banyak siswa yang

menganggap merokok tidak menghambat mereka untuk dapat bergaul secara

baik maupun tidak mengganggu psikisnya.

Selanjutnya, dilihat dari segi kerugian merokok, sebagian besar siswa

(24,44%) memiliki sikap yang sangat baik (menganggap rokok itu sangat

merugikan), 45,56% siswa memiliki sikap yang baik (menganggap rokok itu

merugikan), dan 30.00% siswa memiliki sikap yang tidak baik (menganggap

bahwa merokok tidak begitu merugikan). Hal ini menunjukkan bahwa para

siswa tersebut telah memiliki sikap yang baik atas kerugian merokok, dengan

merokok mereka menganggap dapat merugikan kesehatan atau fisik serta

79
dapat merugikan ditinjau dari aspek ekonomi. Untuk lebih jelasnya dapat

dilihat dalam tabel di bawah ini :

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi pendapat siswa tentang kerugian merokok

Skor Interval % Kriteria F %


58.5 – 72.0 25.00 – 43.75 Sangat Tidak 2 2.22
Setuju
45.0 – 58.4 43.75 – 62.50 Tidak Setuju 66 73.33
31.5 – 44.9 62.50 – 81.25 Setuju 18 20.00
18.0 – 31.4 81.00 – 100.00 Sangat Setuju 4 4.44
Jumlah 90 100
Sumber: data yang diolah

3. Deskriptif kebiasaan merokok pada remaja

Hasil penelitian, menunjukkan bahwa sebagain besar siswa laki-laki di

SMA Negeri 1 Jasinga Kabupaten Bogor Pada Tahun Pelajaran 2004/2005

yaitu 76.67% memiliki kebiasaan merokok dalam kategori tinggi dan 23.33%

siswa memiliki kebiasaan yang tinggi. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada

tabel berikut.

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Kebiasaan merokok

Skor Interval % Kriteria F %


214.5 – 264.0 81.00 – 100.00 Sangat Sering 0 0.00
165.0 – 214.4 62.50 – 81.25 Sering 69 76.67
115.5 – 164.9 43.75 – 62.50 Jarang 21 23.33
66.0 –115.4 25.00 – 43.75 Tidak Pernah 0 0.00
Jumlah 90 100

80
Sumber: data yang diolah

Rata-rata skor kebiasaan merokok siswa tersebut sebesar 172.7. Rata-

rata tersebut berada pada interval 165.0 – 214.4 dan masuk dalam kategori

tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa para remaja tersebut sering merokok.

Dilihat dari alasan siswa merokok menunjukkan bahwa 70.00% siswa

memiliki alasan yang tinggi dalam merokok, 23.33% dalam kategori rendah,

4.44% dalam kategori sangat rendah dan 2.22% dalam kategori sangat tinggi.

Lebih jelasnya hasil tersebut dapat dilihat tabel berikut.

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi alasan remaja merokok

Skor Interval % Kriteria F %


32.5– 40.0 81.00 – 100.00 Sangat Sering 2 2.22
25.0 – 32.4 62.50 – 81.25 Sering 63 70.00
17.5 – 24.9 43.75 – 62.50 Jarang 21 23.33
10.0 –17.4 25.00 – 43.75 Tidak Pernah 4 4.44
Jumlah 90 100
Sumber: data yang diolah

Secara umum menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mempunyai

alasan yang tinggi dalam merokok, dari hasil perhitungan persentase atas

alasan remaja merokok faktor kebanggaan diri merupakan alasan yang paling

tinggi bagi remaja untuk melakukan aktivitas merokok ( lihat lampiran XVI).

Dilihat lingkungan yang dapat mempengaruhi remaja merokok,

sebagian besar siswa (65.56%) menyatakan lingkungan dimana mereka berada

termasuk dalam kategori tinggi (mendukung mereka untuk merokok), 30.00%

81
dikategorikan rendah, dan 4.44% dikategorikan sangat rendah. Lebih jelasnya

hasil tersebut dapat disajikan pada tabel berikut :

Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi lingkungan yang mempengaruhi remaja


merokok

Skor Interval % Kriteria F %


32.5– 40.0 81.00 – 100.00 Sangat Sering 2 2.22
25.0 – 32.4 62.50 – 81.25 Sering 63 70.00
17.5 – 24.9 43.75 – 62.50 Jarang 21 23.33
10.0 –17.4 25.00 – 43.75 Tidak Pernah 4 4.44
Jumlah 70 100
Sumber: data yang diolah

Rata-rata skor lingkungan yang mempengaruhi remaja merokok sebesar

54.2 (lihat pada lampiran XVIII). Rata-rata skor tersebut berada pada interval

25.0 - 32.4 dalam kategori tinggi. Secara umum menunjukkan bahwa

lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal dan lingkungan pergaulan

siswa mendukung memungkinkan mereka untuk merokok. Dari ketiga

lingkungan tersebut yang paling mempengaruhi remaja memiliki kebiasaan

merokok adalah lingkungan keluarga ( lihat lampiran XVI)

Dilihat dari momoent-moment saat melakukan kebiasaan merokok,

sebagian besar siswa (82.22%) dikategorikan tinggi, dan 17,78 siswa

dikategorikan rendah. Lebih jelasnya hasil tersebut dapat disajikan pada tabel

berikut :

Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi momoent-moment saat melakukan kebiasaan


merokok pada remaja

82
Skor Interval % Kriteria F %
52.0 – 64.0 81.00 – 100.00 Sangat Sering 0 0.00
40.0 – 51.9 62.50 – 81.25 Sering 74 82.22
28.0 – 39.9 43.75 – 62.50 Jarang 16 17.78
16.0 –27.9 25.00 – 43.75 Tidak Pernah 0 0.00
Jumlah 90 100
Sumber: data yang diolah

Berdasarkan hasil tersebut di atas menunjukkan bahwa secara umum

para remaja tersebut tidak melakukan kebiasaan merokok dengan semaunya,

tetapi ia melakukan kebiasaan merokok hanya pada moment-moment tertentu

saja.

Dilihat dari hal yang diperoleh dari merokok, sebagian besar siswa

(67,78%) dikategorikan tinggi, 25.56% siswa dikategorikan rendah dan 6.67%

siswa dikategorikan sangat rendah. Lebih jelasnya hasil tersebut dapat

disajikan pada tabel berikut :

Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi hal yang diperoleh dari merokok

Skor Interval % Kriteria F %


45.5 – 59.0 81.00 – 100.00 Sangat Sering 0 0.00
35.0 – 45.4 62.50 – 81.25 Sering 61 67.78
24.5 – 34.9 43.75 – 62.50 Jarang 23 25.56
14.0 – 24.4 25.00 – 43.75 Tidak Pernah 6 6.67
Jumlah 90 100
Sumber: data yang diolah

83
Berdasarkan hasil tersebut di atas menunjukkan bahwa secara umum

para siswa merasa memperoleh kepuasan fisik dan psikis dari kegiatan

merokok yang mereka lakukan.

Dilihat dari jumlah merokok yang dikonsumsi, sebagian besar siswa

(57.78%) dikategorikan tinggi, 26.67% siswa dikategorikan rendah dan 6.67%

siswa dikategorikan sangat rendah. Lebih jelasnya hasil tersebut dapat

disajikan pada tabel berikut :

Tabel 4.11 Distribusi Frekuensi jumlah rokok yang dikonsumsi

Skor Interval % Kriteria f %


16.3 – 20.0 81.00 – 100.00 Sangat Sering 0 0.00
12.5 – 16.2 62.50 – 81.25 Sering 52 57.78
8.8 –12.4 43.75 – 62.50 Jarang 24 26.67
5.0 – 8.7 25.00 – 43.75 Tidak Pernah 6 6.67
Jumlah 90 100
Sumber: data yang diolah

Berdasarkan hasil tersebut di atas menunjukkan bahwa secara umum

para siswa mengkonsumsi rokok dalam jumlah yang banyak dan frekuensi

yang sering.

4. Hasil Uji Prasyarat

Hubungan antara sikap remaja terhadap merokok dengan kebiasaan

merokok pada remaja dapat dilihat dari hasil analisis korelasi. Sebelum

analisis tersebut diuraikan, terlebih dahulu diuji normalitasnya sebagai syarat

84
berlakunya analisis tersebut. Hasil uji normalitas data menggunakan chi

square dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.12 Hasil Uji Normalitas Data

Variabel χ2 hitung dk χ2 tabel Kriteria


Sikap remaja terhadap
2.7688 4 9.49 Normal
merokok

Kebiasaan merokok pada 2.0462 4 9.49 Normal


remaja

Berdasarkan tabel tersebut, terlihat bahwa χ2hitung untuk variabel sikap

remaja terhadap merokok sebesar 2,7688 dan kebiasaan merokok pada remaja

sebesar 2.0462. Kedua nilai tersebut kurang dari χ2tabel dengan taraf kesalahan

5% dan dk = 4 yaitu 9.49. Hal ini berarti bahwa data yang diperoleh

berdistribusi normal, sehingga analisis selanjutnya menggunakan analisis

korelasi lebih cocok digunakan, karena syarat kenormalan data terpenuhi,

untuk lebih jelasnya lihat lampiran XX dan XXI.

5. Uji Hipotesis

Hipotesis kerja (Ha) yang akan diuji kebenarannya dalam penelitian

ini seperti dinyatakan pada bab II adalah “Ada hubungan antara sikap remaja

terhadap merokok dengan kebiasaan merokok pada remaja siswa laki-laki di

SMA Negeri 1 Jasinga Kabupaten Bogor Pada Tahun Pelajaran 2004/2005”.

Untuk keperluan pengujian hipotesis secara statistik dirumuskan hipotesis

85
nihil (Ho) yaitu “Tidak ada hubungan antara sikap remaja terhadap merokok

dengan kebiasaan merokok pada remaja siswa laki-laki di SMA Negeri 1

Jasinga Kabupaten Bogor Pada Tahun Pelajaran 2004/2005”.

Guna menguji hipotesis tersebut digunakan analisis korelasi.

Berdasarkan hasil analisis korelasi antara sikap remaja terhadap merokok

dengan kebiasaan merokok pada remaja pada lampiran diperoleh rxy sebesar

- 0, 127. Untuk α = 5% dengan N = 90 diperoleh rtabel = 0,207. Karena rhitung

< rtabel, berarti bahwa koefisien koerelasi tersebut tidak signifikan sehingga

hipotesis nihil (Ho) yang berbunyi “Tidak ada hubungan antara sikap remaja

terhadap merokok dengan kebiasaan merokok pada remaja siswa laki-laki di

SMA Negeri 1 Jasinga Kabupaten Bogor Pada Tahun Pelajaran 2004/2005”

diterima dan yang ditolak adalah hipotesis kerja (Ha) yang berbunyi yaitu

“Ada hubungan antara sikap remaja terhadap merokok dengan kebiasaan

merokok pada remaja siswa laki-laki di SMA Negeri 1 Jasinga Kabupaten

Bogor Pada Tahun Pelajaran 2004/2005”

B. Pembahasan

Merokok merupakan suatu aktivitas yang sudah tidak lagi terlihat dan

terdengar asing lagi bagi kita. Sekarang banyak sekali kita menemui orang-orang

yang melakukan akitivitas merokok yang disebut sebagai perokok. Anak-anak

remaja mulai merokok kebanyakan karena kemauan sendiri, melihat teman-

86
temannya merokok, dan diajari atau dipaksa merokok oleh teman-temannya.

Merokok pada remaja karena kemauan sendiri disebabkan oleh keinginan

menunjukkan bahwa dirinya telah dewasa. Umumnya mereka bermulai dari

perokok pasif (menghisap asap rokok orang lain yang merokok) lantas jadi

perokok aktif. Mungkin juga semula hanya mencoba-coba kemudian menjadi

ketagihan akibat adanya nikotin di dalam rokok.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa rata-rata

memiliki sikap terhadap merokok yang baik yaitu 68,89% atau 62 siswa dari 90

siswa yang menjadi sampel dan hanya 21,11% saja yang memiliki sikap terhadap

merokok yang masuk dalam kategori tidak baik. Kategori baik pada sikap siswa

terhadap merokok tersebut menunjukkan bahwa para siswa tersebut tidak setuju

dengan merokok.dengan kata lain juga, para siswa memiliki sikap tidak merasa

bangga saat melakukan kegiatan merokok, mereka juga menyakini bahwa dengan

merokok tidak dapat menghilangkan stress atau tekanan perasaan yang sedang

mereka alami.

Meskipun hasil penelitian menunjukkan bahwa para siswa tersebut tidak

setuju dengan merokok, tetapi para siswa tersebut masih sering melakukan

kebiasaan merokok. Ini bisa terjadi karena inkonsistensis antar komponen sikap.

Inkosistensi juga dapat terjadi pada interaksi komponen-komponen sikap. Teori

mengatakan bahwa apabila salah satu saja di antara ketiga komponen sikap tidak

konsisten dengan yang lain, maka akan terjadi ketidak selarasan antara sikap

dengan perilku (Azwar, 2003: 28).

87
Dari hasil penelitian menunjukkan komponen kognitif (kepercayaan)

akan bahaya merokok disadari oleh para siswa, selain itu juga ketidak sukaan atas

merokok (komponen afeksi) mendukup sikap tidak setuju terhadap merokok,

tetapi kecenderungan berprilaku (konasi) merokok karena faktor coba-coba atau

dorongan teman menyebabkan terjadinya inkosistensi antar komponen sikap yang

menyebabkan terjadinya ketidak selarasan antara sikap yang tidak setuju terhadap

merokok, tetapi mereka masih sering melakukan kebiasaan merokok.

Selain dari dorongan diri sendiri, kebiasaan merokok pada remaja juga

dipengaruhi oleh faktor lingkungan baik itu lingkugan keluarga, lingkungan

tempat tinggal maupun lingkungan pergaulan. Hasil penelitian ini menunjukkan

bahwa sikap remja terhadap ketiga lingkungan tersebut termasuk dalam kategori

baik terhadap kebiasaan merokok pada remaja. Hal ini menunjukkan bahwa para

remaja tersebut menyadari, bahwa lingkungan dimana mereka tinggal tersebut

belum mengijinkan bagi remaja untuk merokok.

Pengetahuan remaja akan kerugian merokok sudah baik, mereka telah

mengetahui bahwa dengan merokok dapat mengganggu kesehatan yang

disebabkan oleh nikotin, tar, gas karbon monoksida, dan berbagai logam berat

yang terkandung dalam rokok. Mereka mengetahui, seseorang akan terganggu

kesehatannya bila merokok secara terus menerus.

Untuk kebiasaan merokok itu sendiri, berdasarkan hasil penelitian

menunjukkan bahwa para remaja siswa laki-laki di SMA Negeri 1 Jasinga

Kabupaten Bogor Pada Tahun Pelajaran 2004/2005 memiliki kebiasaan merokok

yang dikategorikan tinggi. Sebagian besar dari mereka memiliki kebiasaan

88
merokok atas dasar keinginan dari dalam dirinya sendiri dan ada pula yang dari

dorongan teman. Selain di dorong keinginan dari dalam diri sendiri, ternyata

lingkungan juga menjadi pendorong bagi remaja melakukan kebiasaan merokok

dalam kategori tinggi, hal ini menunjukkan bahwa lingkungan dimana remaja

tinggal sangat memungkinkan bagi mereka untuk merokok. Faktor lingkungan

tersebut di antaranya adalah lingkungan keluarga, tempat tinggal atau bahkan

lingkungan pergaulan. Pernyataan tersebut dipertegas oleh pendapat Darvil dan

Powell (2002: 121) yang menyatakan bahwa “remaja cenderung merokok karena

memiliki teman-teman atau keluarga yang merokok”. Walaupun lingkungan

menganggap merokok merupakan suatu hal yang kurang pantas dilakukan oleh

remaja, tetapi dalam suatu lingkungan pergaulan mereka akan dianggap aneh jika

tidak merokok. Hal inilah yang sering kali menyebabkak menyebabkan kebiasaan

merokok pada remaja terpupuk dengan baik.

Selain dorongan dari lingkungan, kebiasaan merokok pada remaja juga


dipengaruhi adanya kesempatan untuk merokok. Berdarkan hasil penelitian ini
menunjukan bahwa lingkungan sekolah di mana mereka belajar memungkinkan
mereka untuk merokok, pada lingkungan pergaulan juga memungkinkan mereka
untuk merokok. Adanya kesempatan bagi para remaja untuk merokok dengan
tanpa adanya teguran dari pihak lain akan mendukung mereka untuk tetap
melakukan kebiasaan merokoknya. Terlebih lagi para remaja tersebut melakukan
kebiasaan merokok hanya pada saat moment tertentu, misalnya saja remaja
tersebut merokok hanya pada saat berkumpul dengan teman-temannya.
Ditinjau dari masing-masing remaja, kebiasaan merokok mereka yang
miliki dilakukan atas dasar motif yang berbeda. Secara umum berdasarkan

89
penelitian ini menunjukkan bahwa yang diperoleh remaja dari merokok ditinjau
pada aspek fisik maupun psikis sudah masuk dalam kategori tinggi. Hal ini
menunjukkan bahwa dengan merokok para remaja tersebut merasa lebih segar
jika merokok, dapat mengurangi stress dengan merokok, mempererat pergaulan
dan meningkatkan keberanian atau perasaan jantan bahkan merasa menjadi lelaki
dewasa. Walaupun kebiasaan merokok yang dilakukan oleh para remaja siswa
laki-laki di SMA Negeri 1 Jasinga Kabupaten Bogor Pada Tahun Pelajaran
2004/2005 belum dalam taraf kecanduan, akan tetapi ditinjau dari jumlah dan
frekuensi dalam merokok telah masuk dalam kategori baik (sering).
Walaupun dalam kenyataanya para remaja siswa laki-laki di SMA
Negeri 1 Jasinga Kabupaten Bogor Pada Tahun Pelajaran 2004/2005 telah
memiliki sikap terhadap kebiasaan merokok yang baik, akan tetapi mereka tetap
melakukan kebiasaan merokok. Hal ini ditunjukkan dari hasil analisis korelasi
yang menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara sikap remaja
terhadap merokok dengan kebiasaan merokok pada remaja. Kebiasaan merokok
yang mereka miliki bukan dilandasi atas sikap mereka yang menerima terhadap
merokok. Kondisi inilah yang menyebabkan sulitnya penanganan pada remaja-
remaja yang mengalami kenakalan berupa merokok dikarenakan kebiasaan
merokok tersebut justru dilakukan oleh para remaja yang telah memiliki sikap
yang baik terhadap merokok berkaitan dengan keuntungan dan kerugian yang
ditimbulkan. Sehingga adanya peringatan akan keuntungan dan kerugian dari

90
merokok tidak dapat menurunkan kebiasaan merokok mereka. Pendapat tersebut
sejalan dengan pendapat Saifuddin (2003: 19) yang menyatakan bahwa respon
perilaku tidak saja ditentukan oleh sikap individu tetapi oleh norma subjektif yang
berada dalam inidivu tersebut. Dengan demikian hasil penelitian menunjukkan
bahwa kebiasaan merokok pada remaja tersebut cenderung dilakukan oleh
remaja-remaja yang memiliki sikap baik terhadap merokok. Diantara mereka
sama sekali tidak memperhitungkan kerugian dari merokok. Penelitian ini
menunjukkan bahwa kebiasaan merokok pada remaja bukan disebabkan karena
sikap mereka yang menerima akan merokok, tetapi kebiasaan merokok cenderung
disebabkan karena faktor lingkungan dan adanya moment atau kesempatan untuk
melakukan kebiasaan merokok tersebut.

91
BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang diuraikan pada Bab IV dapat diambil

simpulan:

1. Sikap remaja terhadap merokok pada siswa laki-laki di SMA Negeri 1

Jasinga Kabupaten Bogor Pada Tahun Pelajaran 2004/2005 masuk dalam

kategori baik.

2. Kebiasaan merokok pada remaja siswa laki-laki di SMA Negeri 1 Jasinga

Kabupaten Bogor Pada Tahun Pelajaran 2004/2005 masuk dalam kategori

tinggi yang dapat dikatakan sering merokok.

3. Tidak ada hubungan antara sikap remaja terhadap merokok dengan kebiasaan

merokok pada remaja siswa laki-laki di SMA Negeri 1 Jasinga Kabupaten

Bogor Pada Tahun Pelajaran 2004/2005.

B. Saran

Beberapa saran berkaitan dengan hasil penelitian ini antara lain:

1. Pihak orang tua sebaiknya memperhatikan pergaulan dan perkembangan

anak-anaknya, karena kebiasaan merokok yang dimiliki para siswa tersebut

92
bukan berasal dari sikapnya yang setuju terhadap merokok melainkan karena

faktor lain yang menyebabkan remaja tersebut memiliki kebiasaann merokok.

2. Bagi lembaga Bimbingan dan Konseling di sekolah memerlukan adanya atau

bahkan peningkatan kerja sama dengan instansi terkait sebagai nara sumber

untuk memberikan layanan informasi, yang diharapkan dapat menumbuhkan

keinginan pada diri remaja untuk mengurangi atau meninggalkan kebiasaan

merokoknya.

93
DAFTAR PUSTAKA

Abu Alghifari. 2003. Remaja Korban Mode. Bandung. Mujahid Press

Alo liliweri. 1997. Komunikasi Antar Pribadi. Bandung. PT Citra Aditya Bakti

Corey, Sean. 2001. The 7 Habits of higly effective Teens (7 Kebiasaan remaja
Yang Sangat efektif). Jakarta. Binarupa Aksara

Darvill Wendy & Powell Kesley. 2002. The Puberty Book (Panduan Untuk
Remaja). Jakarta. Gramedia.

Ernest Cadwell. 2001. Berhenti Merokok. Jakarta. PT Aksara

Gerungan. 1996. Psikologi Sosial. Bandung. PT Eresco

Hall F Calvin. 1988. Personality Psychologi (Theory and Method). New York
John Willey & Sons Inc

Hurlock B Elizabeth. 1999. Psikologi Perkembangan. Jakarta. PT Gramedia

Http/ www. e-psikologi/ merokok + remaja. com

Mar’at. 1981. Sikap Manusia dan Pengukurannya. Jakarta. PT Ghalia Indonesia

Moh. Nasir. 1999. Metode Penelitian. Jakarta. PT Ghalia Indonesia

Mukh Doyin . 2002. Bahasa Indonesia (Dalam Penulisan Karya Ilmiah).


Semarang. Nusa Budaya

Saifuddin Azwar. 1997 Reabilitas dan Validitas. Yogyakarta. Pustaka Pelajar

Saifuddin Azwar. 2003. Sikap Manusia dan Perubahannya. Yogyakarta. Pustaka


Pelajar

Saifuddin Azwar. 1999. Skala Psikologi. Yogyakarta. Pustaka Pelajar

Sears O David, dkk. 1999. Psikologi Sosial Jilid I. Erlangga. Jakarta

Sitepoe. 2000. Kekhususan Rokok Indonesia. Jakarta. Gramedia.

Sugeng Hariyadi. 1997. Perkembangan Peserta Didik. Semarang. IKIP Semarang


Press.
Sudajana. 1992 Metode Statistik . Bandung. Tarsito

Sumadi Suryabrata. 1998. Psikologi Kepribadian. Jakarta. PT Rajawali Press

TIM PMI. 1996. Pendidikan Remaja Sebaya Tentang Kesehatan dan


Kesejahteraan Remaja. Jakarta. Mabes Palang Merah Indonesia