Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

APLIKASI PESTISIDA
ACARA 7
DOSIS DAN KONSENTRASI

Oleh
Nama

HENDRA PANGARIBUAN

NPM

E1J012075

Co-Ass

Goklasni Manullang

Shift

Jumat,10:00 Selesai

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam aplikasi pestisida dilapang dikenal adanya istilah dosis dan konsentrasi.
Dosis dalam penggunaan insektisiada dapat diartikan sebagai ;

Jumlah insektisida (liter atau kg) yang digunakan untuk mengendalikan


hama persatuan tertentu yang dilakukan dalam satu kali aplikasi atau
lebih.contoh: dosis Diazinon 60 EC untuk mengendalikan hama serangga
pada areal seluas 1 ha tanaman, dalah 1 liter untuk satu kali aplikasi.
Dosis furadan 3 G untuk mengendalikan serangga hama adalah 25-30
kg/ha
Jumlah larutan insektisida, yaitu larutan yang telah dicampur dengan air
yang digunakan untuk menyemprot hama yang menyerang tanaman
dengan luas tertentu dalam satu aplikasi atau lebih. Contoh: dengan
Diazinon 60 EC diperlukan 500 liter/ha/aplikasi bila digunakan alat
semprot volume tinggi (knapseck sprayer). Namun bila digunakan pompa
volume rendah (Motor sprayer) maka hanya diperlukan 100
liter/ha/aplikasi.
Jumlah bahan aktif insektisida yang dibutuhkan untuk mengendalikan
hama pada kesatuan areal tertentu. Contoh: dosis bahan Diazinon 60 EC
adalah 0,6 kg/ha/aplikasi

Sedangkan konsentrasi dapat pula diartikan sebagai :

Konsentrasi formulasi, yaitu jumlah insektisida yang duhitung dalam gram


atau cc per liter air (ppm). Contoh: konsentrasi formulasi Diazinon 60 EC
2cc/liter air bila digunakan pompa punggung volume tinggi. Sedangkan
bila digunakan mist blower (pompa volume rendah) maka konsentrasinya
adalah 10 cc Diazinon 60 Ec/liter air.
Konsentrasi bahan aktif, yaitu persentase bahan aktif suatu insektisida
yang terdapat dalam larutan jadi ( larutan insektisida dalam air). Contoh :
Konsentrasi bahan aktif Diazinon 60 EC adalah 0,12 % artinya ke dalam 1
liter air dilarutkan bahan aktif sebanyak 60 % x 2 Diazinon 60 EC = 1,2 cc,
atau 0,12/100 cc = 1,2 cc.
Konsentrasi larutan atau konsentrasi insektisida yaitu persentase
kandungan insektisida yang terdapat dalam larutan jadi. Contoh:
konsentrasi larutan insektisida Diazinon 60 EC adalah 0,2 % artinya
kedalam 1 liter air dilarutkan 2 cc Diazinon 60 EC.

B. Tujuan praktikum
Tujuan dari pelaksanaan praktikum ini adalah untuk menghitung dosis dan
konsentari suatu pestisida.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kebiasaan petani dalam menggunakan pestisida kadang-kadang menyalahi aturan,
selain dosis yang digunakan melebihi takaran, petani juga sering mencampur beberapa jenis
pestisida, dengan alasan untuk meningkatkan daya racunnya pada hama tanaman. Tindakan
yang demikian sebenarnya sangat merugikan, karena dapat menyebabkan semakin tinggi
tingkat pencemaran pada lingkungan oleh pestisida (Sugiarto et al., 1999).
Pestisida dapat memasuki perairan melalui hujan maupun saluran irigasi.Kondisi ini
membahayakan ekosistem lingkungan.Sudah banyak diketahui bahwa pestisida bekerja
secara kimiawi dan banyak enzim bekerja secara katalis bagi zat zat kimia. Bahan bahan
kimiawi tersebut termasuk didalamnya pestisida, obat obatan dan zat besi mempengaruhi
kinerja enzim dengan menaikkan maupun menurunkan aktifitas enzim (Gulcin et.al, 2004).
Pestisida merupakan substansi kimia yang digunakan sebagai agen biologi, anti mikrobia,
desinfektan, atau alat pengendali organisme pengganggu.Beberapa pestisida merupakan
polutan bagi bahan organic dan berkontribusi terhadap pencemaran tanah.Pestisida juga
berdampak pada pencemaran air bersih (Hayes, 1990).
Penyemprotan pestisida yang tidak memenuhi aturan akan mengakibatkan banyak
dampak, diantaranya dampak kesehatan bagi manusia yaitu timbulnya keracunan pada petani
yang dapat dilakukan dengan jalan memeriksa aktifitas kholinesterase darah. Faktor yang
berpengaruh dengan terjadinya keracunan pestisida adalah faktor dari dalam tubuh (internal)
dan dari luar tubuh (eksternal). Faktor dari dalam tubuh antara lain umur, jenis kelamin,
genetik, status gizi, kadar hemoglobin, tingkat pengetahuan dan status kesehatan. Sedangkan
faktor dari luar tubuh mempunyai peranan yang besar. Faktor tersebut antara lain banyaknya
jenis pestisida yang digunakan, jenis pestisida, dosis pestisida, frekuensi penyemprotan, masa
kerja menjadi penyemprot, lama menyemprot, pemakaian alat pelindung diri, cara
penanganan pestisida, kontak terakhir dengan pestisida, ketinggian tanaman, suhu
lingkungan, waktu menyemprot dan tindakan terhadap arah angin (WHO, 1991).
Penanganan serangan hama penyakit pada tumbuhan dapat dilakukan dengan berbagai
cara. Salah satu cara yang merupakan andalan petani adalah cara kimiawi dengan
penggunaan pestisida sisntetik. Penggunaannya dengan tidak memperhatikan kaidah-kaidah
dasar penggunaan pestisida secara tepat jenis, tepat sasaran, tepat dosis/konsentrasi, tepat cara
dan waktu aplikasi dapat membahayakan lingkungan dan konsumen.

Toksisitas dibedakan menjadi toksisitas akut, toksisitas kronik, dan toksisitas


subkronik. Toksisitas akut merupakan pengaruh merugikan yang timbul segera setelah
pemaparan dengan dosis tunggal suatu bahan kimia atau pemberian dosis ganda dalam waktu
kurang lebih 24 jam. Toksisitas akut dinyatakan dalam angka LD50, yaitu dosis yang bisa
mematikan (lethal dose) 50% dari binatang uji (umumnya tikus, kecuali dinyatakan lain)
yang dihitung dalam mg/kg berat badan. LD50 merupakan indikator daya racun yang utama,
di samping indikator lain. Dibedakan antara LD50 oral (lewat mulut) dan LD50 dermal
(lewat kulit). LD50 oral adalah potensi kematian yang terjadi pada hewan uji jika senyawa
kimia tersebut termakan, sedangkan LD50 dermal adalah potensi kematian jika hewan uji
kontak langsung lewat kulit dengan racun tersebut (Djojosumarto, 2008).

BABA III
METODOLOGI
A. Alat Dan Bahan
Alat dan bahan yang diperlukan pada acar praktikum ini adalah:

Kertas
Alat Tulis

B. Cara Kerja
Menghitung soal-soal latihan yang diberikan pada saat praktikum.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Soal 1
Untuk mengendaliakan hama Plutella xylostella yang menyerang tanaman kubis
digunakan insektisida Detacrom 500 EC yang mengandung bahan aktif
Profenofos. Konsentrasi larutan yang dianjurkan adalah 50 % dengan dosis
formulasi 1 liter Detacrom 500 EC tiap ha.
Hitung:
1. Berapa banyak konsentrasi formulasinya?
Konsentrasi larutan 50 % = 50 / 100 X 1000 cc = 500 cc Detacrom 500
cc untuk setiap liter air
2. Berapa dosis larutan jadinya?
Dosis formulasi 1 liter Detacrom 500 EC/ ha, maka banyaknya (dosis)
larutan jadi yang diperlukan = 1000 cc/ 500 cc X 1 liter air = 2 liter
Detacrom 500 EC
3. Berapa dosis Ambush 2 EC untuk 2 ha tanaman
Dosis Detacrom 500 EC untuk 2 ha = 2 X1liter Detacrom 500 EC = 2
liter Detacrom 500 EC / 2 ha
4. Berapa % kandungan bahan aktif dalam larutan jadi ?
Dosis bahan aktifnya 50 /100 X 2000 cc = 100 cc Profenofos/ 2ha
5. Bila jarak tanam 0,5 X 1 m, berapa banyak larutan jadi yang diterima
setiap tanaman (crop) kubis, dan berapa banyak bahan aktif profenofos
yang diterima oleh setiap tanaman kubis?
Dalam 1 ha tanaman = 20.000 tanaman, maqka setiap tanaman akan
menerima 2 liter / 20.000 = 2.000 cc / 20.000 tanaman = 0,1 cc
larutan jadi/tanaman. Sehingga jumlah bahan aktif yang diterima
setiap tanaman = 50 % X 0,1 cc/tanaman = 0,05 cc / tanaman

Soal 2
Untuk mengendaliakan hama Plutella xylostella yang menyerang tanaman kubis
digunakan insektisida Deshi 50 EC yang mengandung bahan aktif Permetrin.
Konsentrasi larutan yang dianjurkan adalah 5 % dengan dosis formulasi 1 liter
Deshi 50 EC tiap ha.
Hitung:
1. Berapa banyak konsentrasi formulasinya?
Konsentrasi larutan 5 % = 5 / 100 X 1000 cc = 50 cc Deshi 50 cc untuk
setiap liter air
2. Berapa dosis larutan jadinya?
Dosis formulasi 1 liter Desi 50 EC/ ha, maka banyaknya (dosis) larutan
jadi yang diperlukan = 1000 cc/ 50 cc X 1 liter air = 20 liter permetrin
50 EC/ 2ha
3. Berapa dosis Deshi 50 EC untuk 2 ha tanaman

Dosis Deshi 50 EC untuk 2 ha = 2 X1liter Detacrom 500 EC = 2 liter


Deshi 50 EC / 2 ha
4. Berapa % kandungan bahan aktif dalam larutan jadi ?
Dosis bahan aktifnya 5 /100 X 2000 cc = 100 cc Permetrin/ 2ha
5. Bila jarak tanam 0,5 X 1 m, berapa banyak larutan jadi yang diterima
setiap tanaman (crop) kubis, dan berapa banyak bahan aktif profenofos
yang diterima oleh setiap tanaman kubis?
Dalam 1 ha tanaman = 20.000 tanaman, maqka setiap tanaman akan
menerima 2 liter / 20.000 = 2.000 cc / 20.000 tanaman = 0,1 cc
larutan jadi/tanaman. Sehingga jumlah bahan aktif yang diterima
setiap tanaman = 5 % X 0,1 cc/tanaman = 0,5 cc / tanaman

Soal 3
Untuk mengendaliakan hama Plutella xylostella yang menyerang tanaman kubis
digunakan insektisida Dangke 40 WP yang mengandung bahan aktif Permetrin.
Konsentrasi larutan yang dianjurkan adalah 4 % dengan dosis formulasi 1 liter
Dangke 40 WP tiap ha.
Hitung:
1. Berapa banyak konsentrasi formulasinya?
Konsentrasi larutan 4 % = 4 / 100 X 1000 cc = 40 cc Dangke 40 WP
untuk setiap liter air
2. Berapa dosis larutan jadinya?
Dosis formulasi 1 liter Dangke 40 WP/ ha, maka banyaknya (dosis)
larutan jadi yang diperlukan = 1000 cc/ 40 cc X 1 liter air = 25 liter
metomil 40 WP/ 2ha
3. Berapa dosis Dangke 40 WP untuk 2 ha tanaman
Dosis Dangke 40 WP untuk 2 ha = 2 X1liter Dangke 40 WP = 2 liter
Dangke 40 WP / 2 ha
4. Berapa % kandungan bahan aktif dalam larutan jadi ?
Dosis bahan aktifnya 4 /100 X 2000 cc = 80 cc metomil/ 2ha
5. Bila jarak tanam 0,5 X 1 m, berapa banyak larutan jadi yang diterima
setiap tanaman (crop) kubis, dan berapa banyak bahan aktif metomil yang
diterima oleh setiap tanaman kubis?
Dalam 1 ha tanaman = 20.000 tanaman, maka setiap tanaman akan
menerima 2 liter / 20.000 = 2.000 cc / 20.000 tanaman = 0,1 cc
larutan jadi/tanaman. Sehingga jumlah bahan aktif yang diterima
setiap tanaman = 4 % X 0,1 cc/tanaman = 0,4 cc / tanaman

B. Pembahasan
Dalam praktikum ini digunakan pestisida dengan formulasi WP, dan EC. Formulasi
sangat menentukan bagaimana pestisida dengan bentuk dan komposisi tertentu harus
digunakan, berapa dosis atau takaran yang harus digunakan, berapa frekuensi dan interval
penggunaan, serta terhadap jasad sasaran apa pestisida dengan formulasi tersebut dapat

digunakan secara efektif. Selain itu, formulasi pestisida juga menentukan aspek keamanan
penggunaan pestisida dibuat dan diedarkan dalam banyak macam formulasi, sebagai berikut :
A. Formulasi Padat
a. Wettable Powder (WP), merupakan sediaan bentuk tepung (ukuran partikel beberapa
mikron) dengan kadar bahan aktif relatif tinggi (50 80%), yang jika dicampur dengan
air akan membentuk suspensi. Pengaplikasian WP dengan cara disemprotkan.
b. Soluble Powder (SP), merupakan formulasi berbentuk tepung yang jika dicampur air
akan membentuk larutan homogen. Digunakan dengan cara disemprotkan.
c. Butiran, umumnya merupakan sediaan siap pakai dengan konsentrasi bahan aktif rendah
(sekitar 2%). Ukuran butiran bervariasi antara 0,7 1 mm. Pestisida butiran umumnya
digunakan dengan cara ditaburkan di lapangan (baik secara manual maupun dengan
mesin penabur).
d. Water Dispersible Granule (WG atau WDG), berbentuk butiran tetapi penggunaannya
sangat berbeda. Formulasi WDG harus diencerkan terlebih dahulu dengan air dan
digunakan dengan cara disemprotkan.
e. Soluble Granule (SG), mirip dengan WDG yang juga harus diencerkan dalam air dan
digunakan dengan cara disemprotkan. Bedanya, jika dicampur dengan air, SG akan
membentuk larutan sempurna.
f. Tepung Hembus, merupakan sediaan siap pakai (tidak perlu dicampur dengan air)
berbentuk tepung (ukuran partikel 10 30 mikron) dengan konsentrasi bahan aktif
rendah (2%) digunakan dengan cara dihembuskan (dusting).
B. Formulasi Cair
a. Emulsifiable Concentrate atau Emulsible Concentrate (EC), merupakan sediaan
berbentuk pekatan (konsentrat) cair dengan kandungan bahan aktif yang cukup tinggi.
Oleh karena penggunakan solvent berbasis minyak, konsentrat ini jika dicampur dengan
air akan membentuk emulsi (butiran benda cair yang melayang dalam media cair
lainnya). Bersama formulasi WP, formulasi EC merupakan formulasi klasik yang paling
banyak digunakan saat ini.
b. Water Soluble Concentrate (WCS), merupakan formulasi yang mirip dengan EC, tetapi
karena menggunakan sistem solvent berbasis air maka konsentrat ini jika dicampur air
tidak membentuk emulsi, melainkan akan membentuk larutan homogen. Umumnya
formulasi ini digunakan dengan cara disemprotkan.
c. Aquaeous Solution (AS), merupakan pekatan yang bisa dilarutkan dalam air. Pestisida
yang diformulasi dalam bentuk AS umumnya berupa pestisida yang memiliki kelarutan

tinggi dalam air. Pestisida yang diformulasi dalam bentuk ini digunakan dengan cara
disemprotkan.
d. Soluble Liquid (SL), merupakan pekatan cair. Jika dicampur air, pekatan cair ini akan
membentuk larutan. Pestisida ini juga digunakan dengan cara disemprotkan.
e. Ultra Low Volume (ULV), merupakan sediaan khusus untuk penyemprotan dengan
volume ultra rendah, yaitu volume semprot antara 1 5 liter/hektar. Formulasi ULV
umumnya berbasis minyak karena untuk penyemprotan dengan volume ultra rendah
digunakan butiran semprot yang sangat halus.
Dalam praktikum ini membahas mengenai dosis dan konsentrasi. Ketiga istilah
tersebut sering kita jumpai di label kemasan pestisida. Dosis, konsentrasi, dan volume
semprot itu mengacu pada pemakaian pestisida. Tiga istilah itu merupakan kunci penting
pemakaian pestisida agar tujuan pemakaiannya tercapai secara optimal, yaitu memberantas
hama atau penyakit tanaman dengan tepat dan aman. Agar pemakaian pestisida tidak
melenceng dari apa yang diharapkan sebaiknya ketiga istilah itu dipahami dan dimengerti
dengan benar.
Dosis adalah jumlah pestisida yang dicampurkan atau diencerkan dengan air
digunakan untuk menyemprot hama atau penyakit tanaman dengan luas tertentu. Pengertian
inilah sebenarnya yang dimaksud dengan tulisan dosis pada label kemasan pestisida. Dosis
anjuran pemakaian pestisida sebaiknya dipatuhi. Pemakaiannya secara berlebihan bisa
menyebabkan tanaman merana dan merusak lingkungan. Selain itu juga menyebabkan
populasi hama meledak karena malah merangsang pertumbuhannya. Pemakaian pestisida
dalam dosis rendah pun menyebabkan hama atau penyakit yang dituju tidak mati. Dan
mendorong timbulnya resistensi pada hama atau penyakit yang menyerang tanaman.
Ada tiga macam pembagian konsentrasi, yaitu konsentrasi formulasi, konsentrasi
bahan aktif, dan konsentrasi larutan. Konsentrasi formulasi adalah banyaknya pestisida
dihitung dalam cc atau gram bahan pestisida per liter air yang dicampurkan; sedangkan
konsentrasi bahan aktif adalah persentase bahan aktif yang terdapat dalam larutan jadi
(larutan yang sudah dicampur air). Tidak jauh berbeda dengan dua pengertian di atas,
konsentrasi larutan adalam persentase kandungan pestisida yang terdapat dalam larutan jadi.
Selama ini banyak yang mengartikan volume semprot secara salah. Umumnya mereka
mengartikan volume semprot hanya merupakan volume air pencampur pestisida saja. Padahal
sebenarnya yang dimaksud dengan volume semprot adalah volume akhir, yaitu jumlah
campuran air dengan pestisida yang disemprotkan. Ambil misal fungisida Kasumin 20 AS
yang mempunyai konsentrasi formulasi 2 cc/l air dengan volume semprot 500 l/ha.

Banyaknya fungisida itu untuk penyemprotan luasan 1 ha adalah 1 liter (1000 cc); maka
jumlah air pencampur yang perlu ditambahkan hanya 499 liter. Jadi, total bila keduanya
dijumlahkan menjadi 500 liter. Jumlah yang terakhir itulah yang dimaksud dengan volume
semprot (Ngasih, 2014).

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Dosis adalah jumlah pestisida yang dicampurkan atau diencerkan dengan air digunakan
untuk menyemprot hama atau penyakit tanaman dengan luas tertentu.
2. Konsentrasi formulasi adalah banyaknya pestisida dihitung dalam cc atau gram bahan
pestisida per liter air yang dicampurkan.
3. Pestisida dengan merk dagang Curbix100 SC kelarutannya yaitu larut sempurna.
4. Pestisida dengan formulasi WP (Wettable Powder) kelarutannya yaitu ada endapan,
sedangkan pestisida dengan formulasi EC kelarutannya yaitu seperti emulsi.
5. Dalam mengaplikasikan pestisida perlu memperhatikan dosis, konsentrasi dan volume
semprot.

B. Saran
Agar praktikum berjalan dengan baik, sebaiknya para praktikan lebih serius
dalam mendengarkan asisten dosen saat menerangkan prosedur praktikum. Dan pada
saat melakukan praktikum, sebaiknya praktikan lebih tentram agar tidak menimbulkan
keribuatan.

DAFTAR PUSTAKA
Djojosumarto, P. 2008. Pestisida dan Aplikasinya. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Gulcin, I, S. Beydemir, M.E. Buyukokuroglu. 2004. In vitro and in vivo effects of dantrolene
on carbonic anhydrase enzyme activities, Biol. Pharm. Bull. 27, p. 613616.
Hayes, W.J. 1990. Handbook of Pesticide Toxicology, Classes of Pesticides, vol. 3, Academic
Press, Inc., New York.
IARC. 1991. Occupational Expousures Insecticide Application And Some Pesticide, WHO.
Ngasih.
2014.
Dosis,
Konsentrasi
dan
Volume
Semprot
Pestisida.
http://ngasih.com/2014/07/25/dosis-konsentrasi-dan-volume-semprot-pestisida.
Diakses pada 7 Oktober 2014.
Sugiartoto, A., S. Lolit, Warsono. 1999. Pestisida Berbahaya Bagi Kesehatan. Penerbit
Yayasan Duta Awam, Solo.
Tubumury, G.N.C., Leatemia, J.A., Runthe, R.Y. dan J.V. Hasim. 2012. Residu pestisida
produk sayuran segar di kota Ambon. Agrologia Jurnal Ilmu Budidaya Tanaman.
Volume 1 Nomor 2.