Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGENDALIAN GULMA
HERBARIUM

Oleh
Nama

HENDRA PANGARIBUAN

NPM

E1J012075

Co-Ass

Rizky S Utami

Shift

Rabu,12:00 - Selesai

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2015

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Defenisi dan Fungsi Herbarium
Herbarium berasal dari kata hortus dan botanicus, artinya kebun botani yang
dikeringkan. Secara sederhana yang dimaksud dengan herbarium adalah spesimen tumbuhan
yang telah diawetkan dengan metode pengawetan kering.
Spesimen segar yang dikumpulkan dari lapangan dalam jumlah banyak tidak dapat sekaligus
diidentifikasi dalam waktu yang singkat. Oleh sebab itu, spesimen diawetkan terlebih dahulu
sebelum dilakukan identifikasi. Selain itu, koleksi herbarium yang telah diidentifikasi
berguna sebagai bahan rujukan dalam identifikasi spesies, secara umum fungsi koleksi
herbarium antara lain :
1. Sebagai sumber utama untuk identifikasi tumbuhan bagi para ahli taksonomi, ekologi,
petugas yang menangani jenis tumbuhan langka, pecinta alam, para petugas yang
bergerak dalam konservasi alam.
2. Sebagai dokumentasi koleksi yang bernilai sejarah dan koleksi taksa baru
Cara Mengoleksi Tumbuhan
Pengambilan spesimen tumbuhan dengan cara yang baik dilapangan merupakan aspek
penting dalam praktek pembuatan herbarium. Spesimen tumbuhan untuk pembuatan
herbarium yang baik harus memeberikan informasi lengkap mengenai tumbuhan tersebut
kepada para ahli peneliti. Spesimen tumbuhan yang diambil harus memiliki seluruh bagian
tumbuhan, akar, batang, daun, bunga, buah, biji, organ metamorfosa dan asesoria.
Langkah-langkah pengambilan spesimen tumbuhan
a) Perlengkapan
Beberapa perlengkapan diperlukan untuk mengoleksi tumbuhan dilapangan antara
lain : parang, gergaji, skop tanah, garpu tanah kecil, gunting tanaman, buku catatan,
label, pensil, lensa tangan, koran bekas atau kertas merang, tali pengikat, kantong
plastik, alkohol, kantong kertas (untuk cryptogamae, buah dan biji), peta, GPS, dan
kamera.
b) Bagian-bagian yang dikoleksi:
Tumbuhan kecil harus dikoleksi seluruh organnya ( akar, batang, daun, bunga,
buah, biji, organa metamorfa, dan organa asesoria)
Tumbuhan besar atau pohon, dikoleksi sebagian cabangnya dengan panjang
30-40 cm yang mempunyai organ lengkap: daun, (minimal punya 3 daun utuk
melihat phylotaksis), bunga, buah, biji, organa metamorfa, dan organa
asesoria; diambil dari satu tumbuhan. Untuk pohon yang sangat tinggi,
pengambilan organ generatifnya bisa dilakukan dengan galah atau ketapel.
Pohon atau perdu kadang-kadang penting untuk mengoleksi kuncup (daun
baru) karena kadang-kadang stipulanya mudah gugur dan brakhte sering
ditemukan hanya pada bagian-bagian yang muda.
Tumbuhan herba dikoleksi seluruh organnya kecuali untuk herba besar seperti
Arecaceae
Koleksi tumbuhan hidup, dianjurkan untuk ditanam dikebun botani dan rumah
kaca.
Contoh:
Epifit, akar angrek dibungkus dengan lumut, akar-akar paku, serabut
kelapa
Biji-biji tumbuhan air disimpan dalam air

Biji-biji kapsul kering jangan diambil dari kapsulnya.


c) Catatan lapangan
Catatan lapangan segera dibuat setelah mengoleksi tumbuhan, berisi keteranganketerangan tentang ciri-ciri tumbuhan tersebut yang tidak terlihat setelah spesimen
kering. Beberapa keterangan harus dicantumkan antara lain: habitat (sawah, kebun,
hutan, rawa, tepi sungai, dan terlindung atau terbuka), habit, warna (bunga, buah ),
bau eksudat, pollinator (kalau ada), pemanfaatan secara lokal, dan nama daerah.
Selain itu, diperlukan pula keterangan lokasi dan titik kordinat tempat spesimen
diambil.
d) Pengemasan spesimen
Seluruh bagian spesimen disemprot dangan alkohol 70% atau spritus hingga basah
merata, kemudaian diberi label (etiket gantung), yang berisi nama lokal, lokasi
pengambilan, dan nomor urut pengambilan sampel. Selanjutnya dimasukkan ke dalam
lipatan kertas koran atau kertas merang dan kertas disemprot alkohol, kemudian
dimasukkan kedalam kantong plastik dan ditutup rapat menggunakan lakban.
Selanjutnya spesimen dibawa ke kemah atau ke laboratorium untuk dikeringkan.
Cara Pembuatan Herbarium Kering
a) Perlengkapan
Peralatan untuk mengeringkan spesimen dalam pembuatan herbarium meliputi: oven,
pinset, kertas herbarium bebas asam, karton tebal, kertas koran bekas atau kertas
merang, selotip bebas asam, lem bebas asam, amplop bebas asam, jarum karung goni,
benang, sasak (Alat pres) dan sabuk sasak.
b) Penyusunan spesimen yang dikeringkan
Spesimen tumbuhan dan etiket gantung dikeluarkan dari kantong plastik dan
diletakkan diatas kertas koran atau kertas merang baru. Spesimen diatur dengan posisi
yang dapat mempresentasikan keseluruhan bagian tumbuhan pada kondisi aslinya
(keadaan saat tumbuhan tersebut hidup dihabitatnya). Posisi spesimen menunjukkan
morfologi semua bagian spesimen untuk memaksimalkan informasi tumbuhan
tersebut, contoh organ daun harus diperlihatkan bagian bawah dan atas daun.
Untuk terna yang berperwakan tinggi sebaiknya dilekuk membentuk huruf M atau V
agar seluruh bagian muat dalam satu kertas herbarium.
c) Penyusunan spesimen saat di pres
Tumbuhan dengan organ yang tebal, kaku atau jenis tumbuhan sukulen
sebaiknya disusun dibagian luar/tepi dekat dengan sasak/alat pres. Posisi tegak
agar terkena panas lebih banyak dan mempercepat proses pengeringan.
Tumbuhan yang sangat lunak dimasukkan kedalam air mendidih beberapa
menit untuk membunuh jaringan dan mempercepat pengeringan.
Buah-buah besar dipisah, dimasukkan kedalam kantong, beri label dan
keringkan terpisah.
Setiap 3-5 tumpukan merang dibatasi oleh kertas karton.
Tumpukan spesimen diapit dengan sasak.
Ketebalan tumpukan spesimen maksimal 20 cm.
Ikat dan kencangkan sasak dengan sabuk, jika perlu ditekan telapak kaki agar
ikatan lebih kencang.
Tumpukan spesimen disusun didalam oven.
d) Pengeringan spesimen
Oven diatur pada suhu 500c 700c

Waktu mengoven 2-3 hari, tergantung pada jenis tumbuhan, kelembapan dan
temperatur tempat digunakan.
Setiap hari sebaiknya dilakukan pengecekan. Spesimen dibalik-balik secara
teratur, kertas diganti beberapa kali terutama di hari pertama, kalau spesimen
sudah kaku lebih ditekan lagi.
e) Mounting (Penempelan spesimen)
Spesimen kering dipindahkan secara hati-hati ke kertas herbarium (digunakan
krtas herbarium ukuran 29x43 cm pada posisi doff/bagian yang tidak
mengkilap.
Susun spesimen secara hati-hati pada kertas herbarium
Penyusunan spesimen yang ideal menampilkan unsur kebenaran botani secara
memadai,proporsional, rapi dan keindahan.
Penenpatan spesimen pada kertas herbarium menyisakan 1 cm disetiap tepi
kertas untuk memudahkan pengambilan atau pemindahan herbarium
Spesimen tunggal ditata posisinya tepat ditengah kertas herbarium dan
biasanya diletakkan vertikal atau diagonal disepanjang kertas.
Arah atau orientasi tumbuhan harus mempresentasikan kondisi alaminya,
contoh letak bunga diatas dan akar di bawah.
Susun organ spesimen sedemikian rupa sehingga memperlihatkan semua
bagian.
Selotip diletakkan keposisi tengah pada setiap organ yang di tempel
Selotip diletakkan tegak lurus batang, cabang, maupun pertulangan daun.
Hindari menempelkan selotip pada bagian penting yang mencirikan
spesimenumbuhan tersebut
Pemakaian selotip yang banak jumlahnya diperlukan untuk menempel bagian
yang keras dan berat, seperti buah
Hindari penggunaan selotip yang terlalu banyak untuk satu cabang atau batang
Apababila spesimen berukuran besar dan tebal, maka cara penempelan pada
kertas herbarium dengan cara dijahit dengan benang good year dan jarum
Bagian tumbuahn yang mudah lepas disimpan dalam amplop kertas kemudian
ditempelkan di kanan atas kertas herbarium
Gunakan sedikit mungkin lem pada bagian tengah amplop untuk
menempelkan pada kertas herbarium
Tempel label herbarium dibagian bawah kanan kertas herbarium.
f) Labeling
Label yang berisi keterangan-keterangan tentang tumbuhan tersebut diletakkan
disudut kanan bawah. Label herbarium berisi data :
Nama instansi :LABORATORIUM AGRONOMI, JURUSAN BUDIDAYA
PERTANIAN, FAKULTAS PERTANIAN
Nama suku (family)
Nama jelas lengkap dengan author (species)
Tempat pengambilan spesimen (des, kecamatan, kota/kabupaten)
Data posisi garis lintang dan bujur
Ketinggian tempat
Data tempat tumbuh
Nama kolektor

Nomor koleksi dan tanggal, bulan, tahun pengambilan spesimen


Nama lokal
Perawakan
Catatan lain terkait ciri dan difat morfologi
Pengguanan
Nama lengkap pendeterminasi dan tanggal determinasi

B. Tujuan
Mahasiswa dapat mengawetkan spesimen gulma dengan metode pengawetan
kering,yaitu beberapa herbarium kering.

TINJAUAN PUSTAKA
Herbarium merupakan istilah yang pertama kali digunakan oleh Turnefor (1700)
untuk tumbuhan obat yang dikeringkan sebagai koleksi. Luca Ghini (1490-1550) seorang
Professor Botani

di

Universitas

Bologna, Italia adalah orang pertama yang

mengeringkan tumbuhan di bawah tekanan dan melekatkannya di atas kertas serta


mencatatnya sebagai koleksi ilmiah (Arber, 1938). Pada awalnya banyak spesimen
herbarium disimpan di dalam buku sebagai koleksi pribadi tetapi pada abad ke-17
Ramadhanil dan Gradstein Herbarium Celebense 39 praktek ini telah berkembang dan
menyebar di Eropa (Ramadhanil, 2003).

Untuk koleksi objek perlu diperhatikan kelengkapan organ tubuhnya, pengawetan dan
penyimpanannya. Koleksi objek harus memperhatikan pula kelestarian objek tersebut. Perlu
ada pembatasan pengambilan objek. Salah satunya dengan cara pembuatan awetan.
Pengawetan dapat dilakukan terhadap objek tumbuhan maupun hewan. Pengawetan dapat
dengan cara basah ataupun kering. Cara dan bahan pengawet nya bervariasi, tergantung sifat
objeknya. Untuk organ tumbuhan yang berdaging seperti buah, biasanya dilakukan dengan
awetan basah. Sedang untuk daun, batang dan akarnya, umumnya dengan awetan kering
berupa herbarium (Suyitno, 2004).
Herbarium dibuat dari spesimen yang telah dewasa, tidak terserang hama, penyakit
atau kerusakan fisik lain. Tumbuhan berhabitus pohon dan semak disertakan ujung batang,
daun, bunga dan buah, sedang tumbuhan berbentuk herba disertakan seluruh habitus.
Herbarium kering digunakan untuk spesimen yang mudah dikeringkan, misalnya daun,
batang, bunga dan akar, sedangkan herbarium basah digunakan untuk spesimen yang berair
dan lembek, misalnya buah (Setyawan dkk, 2004).
Persiapan koleksi yang baik di lapangan merupakan aspek penting dalam praktek
pembuatan

herbarium. Spesimen herbarium yang baik harus memberikan informasi

terbaik mengenai tumbuhan tersebut kepada para peneliti. Dengan kata lain, suatu koleksi
tumbuhan harus
yang

mempunyai

memberikan

seluruh

seluruh bagian tumbuhan dan harus


informasi

yang

tidak nampak

ada keterangan

spesimen herbarium

(Aththorick dan Siregar, 2006).


Herbarium merupakan suatu bukti autentik perjalanan dunia tumbuh-tumbuhan selain
berfungsi sebagai acuan identifikasi untuk mengenal suatu jenis pohon. Istilah Herbarium
adalah pengawetan specimen tumbuhan dengan berbagai cara.untuk kepentingan koleksi dan
ilmu pengetahuan. Koleksi specimen herbarium biasanya disimpan pada suatu tempat yang

diberi perlakuan khusus pula yang dikenal dengan laboratorium herbarium. Para ahli-ahli
botani menyimpan koleksi herbarium mereka pada pusat-pusat herbarium di masing-masing
Negara. Di Indonesia pusat herbarium terbesar terdapat di Herbarium Bogoriense Bidang
Botani, Puslit Biologi-LIPI berada di wilayah Cibinong Jawa Barat. Laboratorium ini
menyimpan lebih dari 2 juta koleksi herbarium yang berasal dari berbagai wilayah di seluruh
Indonesia dan dari berbagai Negara di dunia. (Balai Diklat Kehutanan Makassar, 2011).
Herbarium berasal dari kata hortus dan botanicus, artinya kebun botani yang
dikeringkan. Secara sederhana yang dimaksud herbarium adalah koleksi spesimen yang
telah dikeringkan, biasanya disusun berdasarkan sistim klasifikasi (Onrizal, 2005).
Herbarium merupakan suatu spesimen dari bahan tumbuhan yang telah
dimatikan dan diawetkan melalui metoda tertentu dan dilengkapi dengan data-data
mengenai tumbuhan tersebut. Membuat herbarium yaitu pengumpulan tanaman kering
untuk keperluan studi maupun pengertian, tidaklah boleh diabaikan. Yaitu melalui
pengumpulan, pengeringan, pengawetan, dan dilakukan pembuatan herbarium (Steenis,
2003).
Herbarium merupakan karya referensi tiga dimensi, herbarium bukan hanya
untuk mendefinisikan suatu pohon, namun segala sesuatu dari pohon. Mereka
memegang bagian yang sebenarnya dari bagian mereka itu. Nama latin untuk koleksi ini
ataupun Herbarium adalah Siccus Hortus, yang secara harfiah berarti taman kering, dan
setiap specimen menekan yang terpasang pada selembar kertas yang diulisi dengan
apa tanaman yang dikumpulkan itu, kapan dan dimana ditemukannya (Stacey, 2004).
Herbarium merupakan tempat penyimpanan contoh koleksi spesiemen tanaman
atau tumbuhan yaitu herbarium kering dan herbarium basah. Herbarium yang baik selalu
disertai identitas, pengumpul (nama pengumpul atau kolektor dan nomor koleksi). Serta
dilengkapi keterangan lokasi asal material dan keterangan tumbuhan tersebut untuk
kepentingan
dan

identifikasi.

penelitian
Pengendalian inanditatif

dengan

penggunaan semacam

ce

ndawan
Pathogen dengan pelaksanaan herbisida jangka pendek, agar gulma yang dapat
diberantas (Moenandir, 1996).
Pada masa sekarang herbarium tidak hanya merupakan suatu spesimen yag
diawetkan tetapi juga mempunyai suatu lingkup kegiatan botani tertentu, sebagai
sumber informai dasar untuk para ahli taksonomi dan sekaligus berperan sebagai pusat

penelitian dan pengajaran , juga pusat informasi bagi masyarakat umum. Herbarium
diartikan juga sebagai bank data dengan sejumlah data mentah yang belum diolah.
Masing-masing specimen dapat memberikan bermacam-macam informasi, tergantung
kelengkapan spesimen, data dan asal-usul materialnya. (Balai Taman Nasional Baluran,
2004)
Kelebihan dari Herbarium kering dibandingkan dengan herbarium basah adalah dapat
bertahan lama hingga ratusan tahun. Terdapat beberapa kelemahan pada herbarium yaitu;
spesimen mudah mengalami kerusakan akibat perawatan yang kurang memadai maupun karena
frekuensi pemakaian yang cukup tinggi untuk identifikasi dan pengecekan data secara
manual, tidak bisa diakses secara bersama-sama oleh berberapa orang, biaya besar,tidak bisa
diakses sewaktu-waktu dan tidak dapat diakses dari jarak jauh (Wibobo dan Abdullah, 2007)
Herbarium kering yang baik adalah herbarium yang lengkap organ vegetatif dan organ
generatifnya. Selain itu kerapian herbarium juga akan menentukan nilai estetikanya serta faktorfaktor yang mempengaruhi koleksi herbarium adalah lama pembuatan herbarium, tempat
penyimpanan dan faktor lingkungan seperti suhu (Subrahmanyam, 2002).

Kegunaan Herbarium
Kegunaan herbarium secara umum antara lain: 1. Sebagai pusat referensi :
Merupakan sumber utama untuk identifikasi tumbuhan bagi para ahli taksonomi, ekologi,
petugas yang menangani jenis tumbuhan langka, pecinta alam, para petugas yang
bergerak dalam konservasi alam. 2. Sebagai lembaga dokumentasi : Merupakan koleksi
yang mempunyai nilai sejarah, seperti tipe dari taksa baru, contoh penemuan baru,
tumbuhan yang mempunyai nilai ekonomi dan lain lain.3. Sebagai pusat penyimpanan
data : Ahli kimia memanfaatkannya untuk mempelajari alkaloid, ahli farmasi
menggunakan untuk mencari bahan ramuan untuk obat kanker, dan sebagainya
(Onrizal, 2005).

Pembagian Herbarium
Herbarium basah, setelah material herbarium diberi label gantung dan dirapikan,
kemudian dimasukkan ke dalam lipatan kertas koran. Satu lipatan kertas koran untuk

satu specimen (contoh). Tidak benar digabungkan beberapa specimen di dalam satu
lipatan kertas. Selanjutnya, lipatan kertas koran berisi material herbarium tersebut
ditumpuk satu diatas lainnya. Tebal tumpukan disesuaikan dengan dengan daya muat
kantong plastik (40 60) yang akan digunakan. Tumpukkan tersebut dimasukkan ke
dalam kantong plastik dan disiram alcohol 70 % atau spiritus hingga seluruh bagian
tumbukan tersiram secara merata, kemudian kantong plastic ditutup rapat dengan
isolatip atau hekter supaya alcohol atau spiritus tidak menguap keluar dari kantong
plastik (Onrizal, 2005).
Herbarium kering, cara kering menggunakan dua macam proses yaitu: a.
Pengeringan langsung, yakni tumpukan material herbarium yang tidak terlalu tebal di
pres di dalam sasak, untuk mendpatkan hasil yng optimum sebaiknya di pres dalam
waktu dua minggu kemudian dikeringkan diatas tungku pengeringan dengan panas yang
diatur di dalam oven. Pengeringan harus segera dilakukan karena jika terlambat akan
mengakibatkan material herbarium rontok daunnya dan cepat menjadi busuk. b.
Pengeringan bertahap, yakni material herbarium dicelup terlebih dahulu di dalam air
mendidih selama 3 menit, kemudian dirapikan lalu dimasukkan ke dalam lipatan kertas
koran. Selanjutnya, ditempuk dan dipres, dijemur atau dikeringkan di atas tungku
pengeringan. Selama proses pengeringan material herbarium itu harus sering diperiksa
dan diupayakan agar pengeringan nya merata. Setelah kering, material herbarium
dirapikan kembali dan kertas koran bekas pengeringan tadi diganti dengan kertas baru.
Kemudian material herbarium dapat dikemas untuk diidentifikasi (Onrizal, 2005).

BAHAN DAN METODE


A. Alat dan Bahan
a) Kantong plastik untuk mengumpulkan spesimen dilapangan, koran bekas dan tali
pengikat.
b) Buku catatan, alat tulis, kartu etiket (label), lensa tangan, dan mistar
c) Skop kecil untuk menggali tanah, gunting pemangkas, dan pisau lipat
d) Alkohol 70% atau spritus, anyaman bambu/sasat/alat pres, dan kerton manila.
B. Prosedur kerja
a) Setiap praktikan menunjukkan spesimen gulma yang akan di buat herbarium
kepada Co-ass atau kepada dosen .
b) Mengambil seluruh bagian tumbuhan lengkap dengan vegetatif dan generatifnya.
c) Membuat catatan lapangan setelah mengambil jenis gulma, yang berisi
keterangan-keteranga dalam melengkapi data herbarium jenis gulma yang di
ambil.
d) Menyimpan koleksi gulma dalam kantong plastik 40 x 60 cm
e) Mengeringkan gulma yang dibawa di dalam oven.
f) Setelah spesimen kering, spesimen di tempelkan pada kertas manila sesuai dengan
prosedur yang diuraikan diatas.
g) Memberikan label pada bagian sudut kanan bawah spesimen
h) Menyusun koleksi herbarium dalam sebuah album.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Pegagan

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
(tidak termasuk)
(tidak termasuk)
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:

Plantae
Eudikotil
Asterids
Apiales
Mackinlayaceae
Centella
C. asiatica

B. Pembahasan
Pegagan (Centella asiatica) adalah tanaman liar yang banyak tumbuh
di perkebunan, ladang, tepi jalan, serta pematang sawah. Tanaman ini berasal dari daerah Asia
tropik, tersebar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, India, Republik Rakyat
Tiongkok,Jepang dan Australia kemudian menyebar ke berbagai negara-negara lain. Nama yang
biasa dikenal untuk tanaman ini selain pegagan adalah daun kaki kuda dan antanan.
Sejak zaman dahulu, pegagan telah digunakan untuk obat kulit (misalnya keloid),
gangguan saraf dan memperbaiki peredarandarah. Masyarakat Jawa Barat mengenal tanaman
ini sebagai salah satu tanaman untuk lalapan.
Peugaga (Aceh), jalukap (Banjar), daun kaki kuda (Melayu), ampagaga (batak), antanan, dulang
sontak(sunda), gagan-gagan, rendeng, cowek-cowekan, pane gowang (jawa), piduh (bali),
bebele (lombok), sandanan (irian) broken copper coin, semanggen (Indramayu,Cirebon), pagaga
(Makassar), daun tungke (Bugis) buabok (Inggris), paardevoet (Belanda), gotu kola (Sinhala),
vallarei (Tamil), ji xue cao (Hanzi), Pigago (Minang) daun tapak kudo (solok)
Pegagan merupakan tanaman herba tahunan yang tumbuh menjalar dan berbunga sepanjang
tahun. Tanaman akan tumbuh subur bila tanah dan lingkungannya sesuai hingga dijadikan
penutup tanah. Jenis pegagan yang banyak dijumpai adalah pegagan merah dan pegagan hijau.
Pegagan merah dikenal juga dengan antanan kebun atau antanan batu karena banyak
ditemukan di daerah bebatuan, kering dan terbuka. Pegagan merah tumbuh merambat
dengan stolon (geragih) dan tidak mempunyai batang, tetapi mempunyai rhizoma (rimpang
pendek). Sedangkan pegagan hijau sering banyak dijumpau di daerah pesawahan dan diselasela rumput. Tempat yang disukai oleh pegagan hijau yaitu tempat agak lembap dan terbuka
atau agak ternaungi. Selain itu, tanaman yang mirip pegagan atau antanan ada empat jenis yaitu
antanan kembang, antanan beurit, antanan gunung dan antanan air. Pegagan yang simplisianya
dikenal dengan sebutan Centella Herba memiliki kandungan asiaticoside, thankuniside,
isothankuniside, madecassoside, brahmoside, brahmic acid, brahminoside, madasiatic acid,
meso-inositol, centelloside, carotenoids, hydrocotylin, vellarine, tanin serta garam mineral seperti
kalium, natrium, magnesium, kalsium dan besi. Diduga glikosida triterpenoida yang
disebut asiaticoside merupakan antilepra dan penyembuh luka yang sangat luar biasa.
Zat vellarineyang ada memberikan rasa pahit. Pegagan berasa manis, bersifat mendinginkan,
memiliki fungsi membersihkan darah, melancarkan peredaran darah, peluruh kencing (diuretika),
penurun panas (antipiretika), menghentikan pendarahan (haemostatika), meningkatkan syaraf
memori, anti bakteri, tonik, antispasma, antiinflamasi, hipotensif, insektisida, antialergi dan
stimulan. Saponin yang ada menghambat produksi jaringan bekas luka yang berlebihan
(menghambat terjadinya keloid).
Manfaat pegagan lainnya yaitu meningkatkan sirkulasi darah pada lengan dan kaki; mencegah
varises dan salah urat; meningkatkan daya ingat, mental, dan stamina tubuh; serta menurunkan
gejala stres dan depresi. Pegagan pada penelitian di RSU Dr. Soetomo Surabaya dapat dipakai

untuk menurunkan tekanan darah, penurunan tidak drastis, jadi cocok untuk penderita usia
lanjut.

Kegunaan herbarium secara umum antara lain: 1. Sebagai pusat referensi 2.


Sebagai lembaga dokumentasi 3. Sebagai pusat penyimpanan data, hal ini sesuai
dengan literatur Onrizal (2005) yang menyatakan bahwa Kegunaan herbarium secara
umum antara lain: 1. Sebagai pusat referensi : Merupakan sumber utama untuk
identifikasi tumbuhan bagi para ahli taksonomi, ekologi, petugas yang menangani jenis
tumbuhan langka, pecinta alam, para petugas yang bergerak dalam konservasi alam. 2.
Sebagai lembaga dokumentasi : Merupakan koleksi yang mempunyai nilai sejarah,
seperti tipe dari taksa baru, contoh penemuan baru, tumbuhan yang mempunyai nilai
ekonomi dan lain lain.3. Sebagai pusat penyimpanan data : Ahli kimia memanfaatkannya
untuk mempelajari alkaloid, ahli farmasi menggunakan untuk mencari bahan ramuan
untuk obat kanker, dan sebagainya.
Kelebihan dari Herbarium kering dibandingkan dengan herbarium basah adalah dapat
bertahan lama hingga ratusan tahun, namun herbarium kering juga memiliki kelemahan yaitu
spesimen mudah mengalami kerusakan akibat perawatan yang kurang memadai maupun karena
frekuensi pemakaian yang cukup tinggi untuk identifikasi dan pengecekan data secara
manual, tidak bisa diakses secara bersama-sama oleh berberapa orang, biaya besar,tidak bisa
diakses sewaktu-waktu dan tidak dapat diakses dari jarak jauh, hal ini sesuai dengan
literatur Wibobo dan Abdullah (2007) yang menyatakan bahwa Kelebihan dari Herbarium kering
dibandingkan dengan herbarium basah adalah dapat bertahan lama hingga ratusan tahun.
Terdapat beberapa kelemahan pada herbarium yaitu; spesimen mudah mengalami kerusakan
akibat perawatan yang kurang memadai maupun karena frekuensi pemakaian yang cukup tinggi
untuk identifikasi dan pengecekan data secara manual, tidak bisa diakses secara bersamasama oleh berberapa orang, biaya besar,tidak bisa diakses sewaktu-waktu dan tidak dapat
diakses dari jarak jauh.
Untuk mendapatkan hasil yang optimum sebaiknya bahan yang akan diherbariumkan
dipres selam dua minggu hal ini sesuai dengan litertur Onrizal (2005) yang menyatakan
bahwa Herbarium kering, cara kering menggunakan dua macam proses yaitu: a.

Pengeringan langsung, yakni tumpukan material herbarium yang tidak terlalu tebal di
pres di dalam sasak, untuk mendpatkan hasil yng optimum sebaiknya di pres dalam
waktu dua minggu.

Faktor-faktor yang mempengaruhi koleksi herbarium adalah lama pembuatan herbarium,


tempat penyimpanan dan faktor lingkungan seperti suhu hal ini sesuai dengan literatur
Subrahmanyam (2002) yang menyatakan bahwa herbarium kering yang baik adalah herbarium
yang lengkap organ vegetatif dan organ generatifnya. Selain itu kerapian herbarium juga akan
menentukan nilai estetikanya serta faktor-faktor yang mempengaruhi koleksi herbarium adalah
lama pembuatan herbarium, tempat penyimpanan dan faktor lingkungan seperti suhu.

KESIMPULAN
1. Pagagan dipakai untuk menurunkan tekanan darah, penurunan tidak drastis, jadi cocok untuk
penderita usia lanjut.

2.Herbarium merupakan suatu spesimen dari bahan tumbuhan yang telah dimatikan
dan diawetkan melalui metoda tertentu dan dilengkapi dengan data-data mengenai
tumbuhan tersebut.
2. Herbarium memiliki beberapa fungsi, yaitu sebagai pusat referensi, sebagai lembaga
dokumentasi, dan sebagai pusat penyimpanan data.
3. Kelebihan dari herbarium kering adalah dapat bertahan lama sedangkan kelemahan
herbarium kering mudah rusak jika tidak dirawat, membutuhkan biaya besar dan tidak
dapat diakses dari jarak jauh
4. Waktu yang diperlukan untuk melakukan pembuatan herbarium minimal selama 2
minggu, agar mendapatkan hasil yang baik.
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi koleksi herbarium adalah lama pembuatan herbarium,
tempat penyimpanan dan faktor lingkungan seperti suhu

DAFTAR PUSTAKA

Aththorick, T.A, dan Siregar E.S. 2006. Taksonomi


Biologi FMIPA USU. Medan

Tumbuhan. Departemen

Balai Diklat Kehutanan Makassar. 2011. Herbarium Sebagai Acuan Penanaman


Pohon.http://www.badikhut.com. Diakses pada tanggal 14 Juni 2012.

Balai TamanNasionalBaluran,2004.Pembuatan Herbariumhttp;//balurannationapar


.web.id/Wpcontent/uploads/2011/04/Pembuatan Herbarium FloraDiTaman
NasionalBaluran04FIX.pdf. diakses pada tanggal 14 Juni 2012
Moenandir, J. 1996. Ilmu Gulma dalam Sistem Pertanian. PT.Raja Grafindo Persada
Jakarta.
Nasution, U. 1986. Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Karet Sumatera
Utara dan Aceh. PT. Gramedia : Jakarta.
Onrizal. 2005. Teknik Pembuatan Herbarium. http://ocw.usu.ac.id. diakses pada
tanggal 14 Juni 2012.
Ramadhanil. 2003. Herbarium Celebense (CEB) dan Peranannya dalam Menunjang
PenelitianTaksonomi Tumbuhan di Sulawesi. http://unsjournals.com. Diakses
pada tanggal 14 Juni2012.
Setyawan, A. D, Indrowuryatno, Wiryanto, Winanrno, K dan Susilowati, A. 2005.
Tumbuhan Mangrove di Pesisir Jawa Tengah. Jurusan Biologi FMIPA
Universitas Sebelas Maret. Surakarta

Stacey, Robyn and Ashley Hay. 2004. Herbarium. Cambridge University Press: New
York
Subrahmanyam, N.S. 2002. Laboratory Manual of Plant Taxonomy. University of
Delhi. New Delhi
Suyitno, A.L.2004. Penyiapan Specimen Awetan Objek Biologi. Jurusan Biologi
FMIPA UNY. Yokyakarta.

Tjitrosoepomo, G. 2007. Morfologi Tumbuhan. Gajah Mada University Press


Yogyakarta.
___________. 2005. Taksonomi Umum. Gadjah Mada University Press Yokyakarta.

Van Steenis, C.G.G.J. 2003. Flora. PT.Pradnya Paramita : Jakarta


Wibobo, A Abdulah, W. 2007. Desain Xml Sebagai Mekanisme Petukaran
Data Dalam Herbarium Virtual. http//eprints.undip.ac.id/1855/1/3 Adi Wibowo%

2B%2B%2B.doc