Anda di halaman 1dari 6

I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap beras sangat tinggi,


bahkan pemerintah pun harus mengimpor dari negara lain seperti Vietnam untuk
memenuhi kebutuhan beras nasional. Berdasarkan data Kepala Pusat Data dan
Sistem Informasi Pertanian konsumsi per kapita penduduk Indonesia terhadap
beras pada tahun 2011 mencapai 102,87/tahun/kapita (Billah, 2012).
Produksi gabah pada tahun 2011 berdasarkan data Badan Pusat Statistik
(BPS, 2012) mencapai 65 juta ton dengan jumlah penduduk sekitar 235 juta jiwa.
Jumlah tersebut mengakibatkan pemerintah Indonesia terpaksa mengimpor beras
untuk memenuhi kebutuhan beras nasional. Pertumbuhan jumlah penduduk
Indonesia pada tahun 2011 sebesar 1,49% atau 3,5 juta jiwa per tahun (Kompas,
2011). Laju pertumbuhan penduduk terbilang tinggi sehingga mengkhawatirkan
ketersediaan pangan.
Peningkatan jumlah penduduk dunia, termasuk Indonesia dengan tingkat
pertumbuhan yang termasuk tinggi yaitu sekitar 3,5% per tahun menimbulkan
masalah dalam pengadaan pangan pokok yang berupa beras, dengan tingkat
pertumbuhan produksinya pada tahun 2004 hanya 2,93% per tahun (Tati Nurmala,
2006).
Upaya mengurangi tekanan terhadap beras pemerintah mengadakan
program diversifikasi pangan. Tanaman yang dapat dijadikan pangan alternatif
adalah Hanjeli, jawawut (milet), ubi ubian dan pangan penghasil karbohidrat
lainnya. Sebenarnya Indonesia memiliki prospek tanaman non beras untuk
1

dikembangkan. Tanaman serealia yang potensial untuk dikembangkan di


Indonesia adalah Hanjeli (Coix lacryma-Jobi L.). Tanaman yang berbiji monokotil
ini, merupakan serealia dari ordo Glumifora, family Poaceae, dimana selain
sebagai pangan juga dapat dimanfaatkan untuk pakan, obat dan bahan baku
industri kerajinan (Tati Nurmala, 2003).
Daerah asal hanjeli adalah Asia Timur sampai India Timur yang menyebar
ke China, Mesir, Jerman, Haiti, Hawaii, Jepang, India, Indonesia, Panama, Perak,
Filipina, Sancrit, Taiwan, Amerika, dan Venezuela, juga menyebar ke Australia
Utara dan Timur yang beriklim tropis, Madagaskar, Malaysia dan Papua. Di Jawa
Barat ditemukan pada beberapa pasar tradisional seperti di Ciamis, Punclut
(Lembang), Tanjungsari, Sukabumi, Cirebon, dan Garut (Tati Nurmala,1998).
Hanjeli tumbuh baik pada kondisi iklim panas serta ketinggian 2000 m
dpl, memerlukan curah hujan yang tinggi pada fase awal vegetatif sama seperti
tanaman jagung, namun hanjeli ini dapat tahan kering setelah melewati fase
vegetatif (Nurmala dan Irwan, 2007). Keistimewaan hanjeli lainnya adalah tahan
hama, dapat diperbanyak melalui biji dan stek, dan perawatannya yang mudah,
oleh karena itu tanaman hanjeli cocok untuk dikembangkan mengantisipasi
terjadinya krisis pangan di Indonesia.
Pemanfaatan Hanjeli oleh penduduk di daerah produsen hanjeli adalah
memanfaatkan bijinya sebagai pangan setelah terlebih dahulu dijadikan beras
hanjeli melalui penyosohan yang dilakukan secara konvensional (ditumbuk)
rasanya lebih pulen daripada beras. Biji hanjeli yang dikeringkan dapat dibuat teh
dan yang dibakar dapat dibuat kopi (Plants for a future, 2000), sedangkan biji

yang difermentasikan dapat dibuat bir atau anggur (Duke, 1983), demikian juga
di daerah Punclut hanjeli ini banyak dibuat tape.
Penanaman Hanjeli biasanya ditanam di lahan pertanian yang beragam di
daerah iklim kering, ataupun iklim basah, lahan kering, dan lahan basah seperti
ditemukan di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan. Khususnya di Jawa Barat,
tanaman ini banyak dibudidayakan oleh masyarakat sebagai tanaman selingan
yang ditanam di pekarangan secara polikultur tumpangsari. Secara monokultur,
hanjeli biasanya ditanam di lahan marginal tanpa teknik budidaya yang intensif ,
tanpa pupuk dan pemeliharaan lainnya. (Tati Nurmala, 2003).
Salah satu cara agar hanjeli dapat menghasilkan panen yang banyak adalah
dengan pemberian Zat Pengatur Tumbuh (ZPT). ZPT terdiri dari dari lima tipe
yaitu Giberelin, Auksin, Sitokinin, Asam Absisat dan Etilen,dari lima tipe ZPT
tersebut terdapat 4 tipe yang mempengaruhi perkembangan tumbuhan yaitu dalam
hal diferensiasi sel (Intan, 2008). Giberelin merupakan salah satu ZPT yang
berfungsi memperpanjang batang, membantu perkecambahan biji dan juga
memperbesar ukuran buah sehingga hasil panen akan meningkat dengan kualitas
yang baik. Teknik budidaya dengan pemberian Giberelin ke tanaman hanjeli ini
diharapkan dapat memberikan pertumbuhan dan hasil yang baik

1.2

Identifikasi Masalah
Berdasarkan

uraian

diidentifikasikan sebagai berikut:

diatas,

maka

permasalahan

dapat

1. Apakah terdapat interaksi tehadap pemberian giberelin terhadap


pertumbuhan dan hasil hanjeli yang ditanam di Punclut.
2. Pada konsentrasi berapa yang memberikan pengaruh terbaik
p[terhadap pertumbuhan dan hasil hanjeli yang ditanam di Punclut.

1.3

Tujuan Penelitian
Mengetahui konsentrasi Giberelin manakah yang memberikan
respon terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil 6 genotipe hanjeli (Coix
lacryma-jobi L.).

1.4

Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian ini adalah untuk memperoleh data yang
dijadikan bahan rekomendasi dalam menentukan genotipe tanaman hanjeli
(Coix lacryma-Jobi L.) mana yang memberikan respon terbaik terhadap
pemberian berbagai dosis Giberelin.
Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu digunakan sebagai
sumber informasi untuk pengembangan ilmu pertanian terutama dalam
mandapatkan genotipe tanaman hanjeli (Coix lacryma-Jobi L.) yang
unggul.

1.5

Kerangka Pemikiran
Salah satu usaha peningkatan produksi hanjeli adalah dengan
memberikan Zat Pengatur

Tumbuh (ZPT), ZPT yang mendorong

pertumbuhan tanaman ialah Giberelin. Dasarnya tanaman secara alamiah

sudah memiliki Giberelin yang memacu pertumbuhannya (Hormon


Endogen).
Giberelin pada tanaman banyak terdapat di ujung meristem
tanaman seperti ujung daun dan ujung akar. Salisbury dan ross (1995)
menyatakan bahwa selain di daun muda giberelin juga terdapat pada akar,
dimana akar mensintesis giberelin dan mendistribusikan ke seluruh
tanaman melalui xylem sehingga hormon ini dapat dilacak dalam eksudat
xilem akar. Pemberian giberelin dengan disiram bagian akar dapat
memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.
Oleh karena itu, pemberian hormon eksogen seperti giberelin yang
disiramkan ke tanaman dapat memberikan pengaruh lebih baik terhadap
pertumbuhan dan hasil, karena sebagian kecil tumbuhan monokotil akan
tumbuh cepat jika diberi Giberelin (Wattimena, 1988) maka pemberian
dosis 12 ml/l (120 ppm) diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan dan
menambah hasil panen. Berdasarkan penelitian Lestari (2006) tanaman
padi yang di aplikasikan giberelin dengan dosis 120 ppm memiliki tinggi
tanaman tertinggi dibandingkan dengan dosis giberelin lainnya yaitu 5, 30,
60, dan 90 ppm. Hasil tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Murakami (1995) bahwa pemberian giberelin berpengaruh
pada tinggi tanaman. Hal ini didukung oleh Wattimena (1988) yang
menyatakan bahwa kebanyakan tanaman merespon pemberian Giberelin
melalui pertambahan panjang batang yang disebabkan oleh pertambahan
ukuran dan pertambahan sel pada ruas-ruas batang. Salysburry and Ross

(1995) menambahkan bila giberelin diberikan dengan cara apapun baik


disiram atau disemprot bagian atas atau bawahnya, maka peningkatan
pembelahan sel dan pertumbuhan sel mengarah pada pemanjangan batang
dan perkembangan daun muda.
Pemberian gibarelin terhadap tanaman hanjeli hingga saat ini
jarang diberikan dikarenakan jarang di budidayakan dan juga kebanyakan
sebagai tanaman sela. Minimnya penelitian tentang pemberian giberelin
terhadap hanjeli, sehingga pemberian giberelin menggunakan cara
pemakaian pada padi yaitu pada konsentrasi 6ml/l. Hal ini yang mendasari
pengambilan rentang perlakuan.
1.6

Hipotesis
1. Terdapat pengaruh interaksi dari pemberian giberelin

terhadap

pertumbuhan dan hasil genotipe Hanjeli yang ditanam di Punclut.


2. Pemberian giberelin pada konsentrasi 12mL/L memberikan
pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil genotipe hanjeli
yang ditanam di Punclut, Kabupaten Bandung Barat