Anda di halaman 1dari 14

PERMADANI ITU KOYAK-MOYAK!

(Krisis) Multilingualitas dan (Anti-)Multilingualisme di Indonesia1


Copyleft © 2008 by Hasan Bachtiar

Kemajemukan bahasa di Indonesia, yang selama ini kerap dibangga-banggakan sebagai


salah satu “kekayaan, keunikan, dan keluhuran bangsa”, sedang mengalami krisis.
Sekurang-kurangnya 32 bahasa etnis terancam punah dan bahkan 3 bahasa etnis telah
sungguh-sungguh punah. Apa sebab-sebabnya? Bagaimana itu semua berlangsung dengan
latar belakang kolonialisme, nasionalisme (negara-bangsa), modernisme (pembangunan),
dan globalisasi neo-liberal? Yang jauh-jauh lebih membahayakan, dikhawatirkan,
peminggiran bahasa adalah pintu masuk bagi petaka berantai berikutnya: peminggiran para
penuturnya dalam lapangan-lapangan kehidupan politik, ekonomi, budaya, dan seterusnya.

Benarkah “pemilihan” Bahasa Melayu sebagai “bahasa resmi nasional” (an official, national language)
bagi sebuah negara-bangsa modern bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang lantas
diberi nama baru “Bahasa Indonesia”, patut disebut sebagai suatu “sejarah keberhasilan politik
kebudayaan” (Budiman, 2005), atau bahkan “karunia sejarah” (Kleden, 1998)? Karenanya pula,
apakah proyek (ambisius!) modernisasi, standardisasi, ataupun pembakuan Bahasa Indonesia
selama ini, yang oleh para linguis-perencana bahasa dipandang sebagai suatu “cerita keberhasilan”
(Vikor, 1990; Moeliono, 1985), layak kita rayakan dengan penuh puja-puji syukur nan meriah?
Jikalau 28 Oktober 1928, tanggal ketika Soempah Pemoeda diikrarkan oleh (“wakil-wakil”!)
kaum muda dari beberapa suku dan penjuru Nusantara, kita sepakati sebagai hari lahir resmi
Bahasa Indonesia, maka umur Bahasa Indonesia kini, per Oktober 2007, telah mencapai angka 79
tahun. Ada banyak segi yang masih problematis untuk diungkap tentang Bahasa Indonesia dalam
konteks politik pengelolaan keanekaragaman bahasa di Indonesia.
Kalau hendak dilakukan suatu perbandingan menurut perhitungan biologis umur manusia,
angka 79 tahun harus dianggap cukup tua, bahkan tua renta, uzur (senil), sebab pada usia inilah
organ-organ tubuh manusia umumnya mulai mengalami bermacam-macam disfungsi—seperti
pikun, semakin lemah bila berjalan dan berbicara, sakit-sakitan, badannya membungkuk,
pengelihatannya kabur, hingga menemui ajalnya. Malahan, sejak menginjak umur 60 tahun,
menurut para ahli psikologi perkembangan (Hurlock, 1980), manusia berusia lanjut cenderung
menerima pendapat klise tentang kebudayaan bahwa “ketuaan adalah kemunduran segala-galanya”
sehingga kerapkali “merasa tidak nyaman dan rendah mutunya”.
Namun, dalam perhitungan para ahli studi peradaban, umur itu belumlah dianggap
terlampau tua untuk mengukur kemantapan sebuah artifak budaya bernama bahasa. Bahasa
Indonesia dalam hal ini bisa disebut masih cukup “belia”, kanak-kanak—seperti halnya “Demokrasi
Indonesia”, yang riuh-rendah oleh, misalnya, demonstrasi demi demonstrasi protes massal,
kerusuhan demi kerusuhan selama proses pemilihan kepala daerah secara langsung, dan beraneka
aksi premanisme politik lainnya. Meski begitu, Bahasa Indonesia yang ada kini, harus diakui,
sudah tumbuh dan berkembang menjadi jauh berbeda dari bahasa induknya, Bahasa Melayu. Di
tangan para linguis-modernis dan di bawah naungan Pusat Bahasa (dahulu: Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa), Bahasa Indonesia telah dipermak habis-habisan hingga membuatnya
menduduki suatu status kemantapan gramatikal yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Status itu dicapai terutama dengan penyusunan trilogi Pedoman EYD-Tata Bahasa Baku-Kamus
Besar dan diperkokoh dengan kampanye besar-besaran “(Wahai Rakyat Indonesia, Kalian Semua
Diwajibkan untuk Ber-)Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar!”

1 Artikel ini, semula, dalam versi yang lebih ringkas dan populer, dimuat dalam Majalah Kebudayaan Desantara, Edisi

14/Tahun V/2005 (Jakarta: DESANTARA Institute for Cultural Studies), hlm. 44—52, dan kini disajikan sebagai
bahan diskusi untuk Sekolah LINGKAR Putaran V “Multikulturalisme”, Jumat Wage, 16 Mei 2008.

Page 1 of 14
Pada angka usia berapapun dan masa selama apapun, suatu usaha problematisasi selalu
menjadi penting dilakukan terhadap perjalanan pembentukan kebudayaan dalam kesejarahan suatu
bangsa, tak terkecuali Indonesia, yang dikenal serba majemuk. Dalam konteks diskusi mengenai
multikulturalisme, artikel ini hendak memeriksa: apakah pemilihan—melalui disensus sekaligus
konsensus politik yang cukup keras, hingga proyek kebijakan “pembinaan”—Bahasa Melayu
menjadi Bahasa Indonesia berimplikasi positif ataukah justru kontraproduktif terhadap situasi
kebahasaan di Indonesia yang sungguh-sungguh multilingual itu? Di samping itu, bagaimana pula
mesti dirumuskan suatu siasat kebudayaan untuk menghadapi gempuran demi gempuran dari luar
secara kreatif?

Eksotisme Permadani Multilingual


Indonesia—atau Nusantara?—adalah bentangan luas kemajemukan yang anyam-menganyam
membentuk suatu “permadani multikultural”. Maka, seberapa majemukkah Indonesia adalah
pertanyaan pertama yang harus ditemukan jawabannya oleh siapapun yang hendak memeriksa
kerumitan ini. Dengan menengok angka-angka berikut, barangkali, pertanyaan itu sedikit bisa
terjawab: sekurang-kurangnya terdapat penduduk berjumlah 205.843.196 jiwa (Sensus Penduduk
2000), dengan rerata pertumbuhan sebesar 1,78% per tahun sejak tahun 1930, yang kini menghuni
+ 13.000 pulau besar dan kecil dari Sabang hingga Merauke, serta bisa dikelompokkan menjadi +
1.072 etnis dan subetnis (Suryadinata dkk., 2003).
Kesemuanya itu menjadi berkah sekaligus kutukan, kenyataan yang selalu secara bimbang
dinilai antara sebagai kekayaan ataukah potensi petaka disintegrasi, yang segera pula merangsang
pertanyaan lanjutan: bagaimana mungkin dari keberbedaan yang demikian pelik ini bisa dilahirkan
suatu negara-bangsa modern yang “bersatu”? Pertanyaan ini selalu menjadi latar penting bagi
siapapun yang menulis tentang Indonesia.
Kemajemukan bahasa (linguistic plurality, multilinguality, polyglossia) adalah suatu pokok soal
lain yang tak kurang rumitnya. Sedahsyat apakah permadani multilingual Indonesia? Tidak
banyak studi pernah dikerjakan oleh linguis Indonesia untuk menjawab pertanyaan ini—
mengingat luasnya jangkauan dan, bisa diperkirakan, mahalnya biaya kalau suatu kumpulan data
yang cukup valid, komprehensif, serta terperbarui secara kontinu ingin diperoleh dari riset
linguistika yang bersifat sosiologis, demografis, dan etnografis.
Kridalaksana (1993, memperbarui data S.J. Esser), umpamanya, merinci 3 keluarga bahasa
di Indonesia: (1) Melayu-Polinesia (dengan 16 rumpun bahasa dan 96 bahasa), (2) Halmahera
Utara, dan (3) Irian. Perincian ini, diakui sendiri oleh penulisnya, jauh dari memuaskan dalam
klasifikasi dan temuan keseluruhannya. Di samping itu, proyek dokumentasi (kodifikasi dan
deskripsi struktural) bahasa-bahasa daerah oleh Pusat Bahasa dalam kerangka program ILDEP
(Indonesian Linguistic Development Project), atas dukungan Universitas Leiden dan KITLV
(Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) Belanda, berhasil memerikan 214 bahasa
daerah (dalam bentuk buku-buku gramatika dan kamus). Jumlah bahasa daerah di Indonesia yang
sesungguhnya diperkirakan masih dua kali lipat lebih dari angka ini, sedangkan nasib proyek ini
sendiri cuma seumur jagung—seperti jamaknya proyek-proyek pembangunan di negeri ini.
Untuk menutup lowong besar ini, pada tahun 1987—1990, sebuah penelitian “Kajian
Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah” diselenggarakan oleh para linguis dari Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI), atas dukungan
Toyota Foundation, terutama berupa suatu analisis data statistik sekunder hasil Sensus Penduduk
tahun 1980 dan 1990 serta riset lapangan sosiolinguistis sebagai studi kasus di 6 daerah
(Masinambouw dan Haenen, ed., 2002). Hasilnya sebagai berikut: sekira 20% penduduk Indonesia
menggunakan 569 bahasa daerah berbeda dan 80%-nya menggunakan 8 bahasa daerah utama, dan
Bahasa Indonesia semakin merata digunakan di perdesaan maupun perkotaan (+ 41%—61%).
Informasi yang diakui jauh lebih lengkap ialah hasil survai mengenai kemajemukan bahasa
di seluruh penjuru dunia yang dilaksanakan secara massif dan kontinu oleh Summer Institute of
Linguistics (SIL), sebuah lembaga non-pemerintah yang berkedudukan di Texas, Amerika Serikat.
Hasil survai sosiolinguistis itu dipublikasikan secara berkala menjadi buku katalog bahasa berjudul
Ethnologue: Languages of the World (Gordon, ed., 2005). Inilah sebagian data tentang Indonesia:
jumlah penduduk 238.452.952 jiwa (perhitungan terakhir tahun 2003), tingkat melek-huruf 78%—

Page 2 of 14
85%, jumlah bahasa 742 (707 masih hidup, “segar bugar”, 32 terancam punah, dan 3 telah punah)
yang terklasifikasi ke dalam 12 keluarga bahasa.
Nusantara sebagai bentangan permadani multilingual—dibingkai sebagai “mooi Indie”:
eksotisme kemelimpahruahan alam, ketelanjangan tubuh-tubuh berkulit sawo matang, dan sopan-
santun kepribumian, yang “membeku”—begitu memikat hati para pelancong, pedagang, kolonialis,
misionaris, dan etnolinguis Eropa sejak abad ke-16. Indonesia, bagian dari Asia Tenggara, seperti
kata Ben Anderson (1991), “menawarkan peluang-peluang menakjubkan dalam banyak hal bagi
percobaan penyusunan teori perbandingan…sebab di wilayah-wilayah itulah amnesia-amnesia
nasionalisme pertama kali menimbulkan cerita.” Tak sekadar meninjau, meneliti, dan membeli,
rasa ingin memiliki muncul begitu kuatnya, lantas membuka jalan bagi kolonialisme eksploitatif
beratus-ratus tahun hingga abad ke-20. Jejak dan bekasnya begitu kuat menancap, yang di
kemudian hari melahirkan paradoks demi paradoks, dilema demi dilema baru bagi “sang terjajah”
tatkala harus bersiasat mengelola semua warisan ini, di dalam dan demi suatu cita-cita imporan
bernama “negara-bangsa modern yang berdaulat”.

Negara-Bangsa, Kesatuan Linguistis


Seluruh kepelikan ini diawali dengan Kolonialisme, exploitation par l’homme de l’homme, penjajahan
dan penghisapan dan penindasan negeri berikut manusia pribumi demi kemakmuran sang tuan
penjajah belaka. Drama penguasaan yang menimbulkan malapetaka kesengsaraan itu demikian
berurat-berakar di dalam segenap sendi kehidupan pribumi—yang secara general ditotal selama
3,5 abad lamanya. Pengendalian diterapkan secara politis, ekonomis, natural, kultural, hingga
linguistis. Sang tuan penjajah, yang mengidap suatu patologi purisme-linguistis, bahkan tak mau
bahasanya, Bahasa Belanda, dipercakapkan—dan dengan begitu “dicemari”—oleh warga
jajahannya (Groeneboer, 1995 [1993]). Di sinilah hasil kerja Ch. van Ophuijsen, bekas inspektur
pendidikan pemerintah kolonial Hindia Belanda, berupa buku tata bahasa dan ejaan Bahasa
Melayu yang pertama, terbit pada tahun 1901, menemukan pembenarannya (Vikor, 1990).
Sepeninggal para tuan penjajah, kaum (elit) pribumi dilanda Nasionalisme, hasrat yang
begitu menggebu untuk mendirikan suatu negara-bangsa modern yang bersatu, berdaulat,
merdeka: Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hasrat itu datang sebagai suatu “nemesis”
(Dhakidae, 1995), anak haram kolonialisme Eropa, melalui pergulatan sejumlah kecil elit yang
beruntung sempat memperoleh privilese untuk mengenyam sekolah gaya Eropa yang modern.
Sekolah Eropa dan Bahasa Belanda telah menjadi “Weg tot het Westen, djalan ke Barat” (Groeneboer,
1995 [1993]), yang menyodorkan arah ke mana masa depan mesti dituju, secara amat
meyakinkan. Hasrat itu menggumpal, terproyeksi begitu kuat, hingga “persatuan menjadi obsesi
… sedemikian rupa sehingga semua yang lain, perempuan, bahasa, dan agama, adalah
instrumental terhadap kesatuan atau tepatnya cita-cita akan adanya kesatuan” (Dhakidae, 2003)
suatu negara-bangsa baru di Nusantara—wilayah Hindia Belanda kolonial.
Semata-mata demi memenuhi hasrat negara-bangsa yang modern, bersatu, dan berdaulat
itulah suatu bahasa baru diciptakan (Setiadi, 1994). Bahasa Melayu, yang telah berabad-abad
sukses memerankan dirinya sebagai lingua franca, bahasa perhubungan dan perdagangan warga
kepulauan Nusantara dalam peradaban maritim, dipilih menjadi sarana baru untuk suatu jenis
perikehidupan yang baru kelak: Indonesia Merdeka. Bahasa Indonesia dilahirkan melalui
perdebatan demi perdebatan yang begitu sengit dalam Kongres Pemuda Pertama (1926) dan
Kedua (1928)—meski “secara menggelikan” kesemuanya itu dilakukan hampir seluruhnya di
dalam Bahasa (sang tuan penjajah) Belanda (Dhakidae, 2003). Harapan yang begitu tinggi
ditimpakan pada bahasa baru ini untuk mewahanai perikehidupan yang baru kelak, era pasca-
kolonial, dan dengan demikian segala warisan kolonial yang pahit, pilu, dan muram itu ingin
dibuang jauh-jauh untuk diganti dengan segala-gala yang baru yang serba menjanjikan
kegemilangan.
Namun, segala yang diharap serba-baru tak datang serta-merta. Di manapun hikayat
negara-bangsa pasca-kolonial “dalam struktur, konsep kebijaksanaan, dan ideologi merupakan
fotokopi dari negara-negara kolonial, hanya saja para penguasanya berganti warna kulit”
(Onghokham, 1994). Negara jenis ini begitu mendamba kesatuan organik, ketunggalan, dan
keseragaman, atau sekurang-kurangnya situasi yang controllable—dalam semua lapangan

Page 3 of 14
kehidupan warganya. Segala yang tak sejenis, keragaman yang dianggap terlalu merepotkan saja,
harus ditertibkan, ditundukkan di bawah kesatuan-isme itu.
Termasuk dalam bidang kebahasaan, ambisi kesatuan linguistis demikian tingginya
sehingga posisi Bahasa Indonesia sebegitu dikokohkan, bahkan diperlukan satu pasal khusus
dalam konstitusi untuk menegaskan ini. Dengan itu pula situasi kemajemukan bahasa di
Nusantara, 742 bahasa sebagaimana dalam catatan Ethnologue-SIL, disikapi sebagai “kekayaan
budaya bangsa yang adiluhung” untuk disimpan saja di dalam peti-peti tradisi dan masa lalu sebab,
ya, betapa ruwet lagi merepotkan bila negara harus mengurusnya! Negara-bangsa ini, demi
efisiensi dan efektivitas komunikasi, butuh satu saja bahasa nasional yang kompatibel. Kalau
sejarah sudah memilih Bahasa Melayu sebagai Bahasa Indonesia, maka semua daya usaha harus
dikerahkan untuk menjaga itu: “membina dan mengembangkan” Bahasa Indonesia agar mampu
menjadi wahana perhubungan nasional yang memadai.
Di sinilah bisa dipahami raison d’etre Pusat Bahasa (resmi berdiri sejak 1 April 1975), suatu
warisan kolonial, kelanjutan dari Commissie voor de Volkslectuur bentukan Belanda pada tahun 1908.
Dengan referensi pada lembaga-lembaga serupa di pelbagai negara di Eropa (yang tertua adalah
Accademia della Crusca di Firenze, Italia, berdiri sejak tahun 1582) dan legitimasi serta dukungan
penuh dari rejim Orde Baru, para linguis di bawah Pusat Bahasa bekerja keras untuk “membina
dan mengembangkan” Bahasa Indonesia, bahasa pusat, menjadi sebuah bahasa yang “mendukung
program pembangunan”—yang industrial dan ekonomis (Heryanto, 1988).
Bahasa Indonesia menjadi steril, ilmiah, canggih, modern, baku, tertib, namun sekaligus
dijauhkan dari rakyat penuturnya sebagai produsen aslinya. Akibatnya yang tragis, ketika menjadi
bahasa pasaran, bahasa Melayu masih dihayati dan menghayati penuturnya dengan penuh
keakraban. Baru setelah “dibina dan dikembangkan”, Bahasa Indonesia menjadi satu-satunya
bahasa nasional di dunia yang—menurut penilaian resmi—tidak dapat dihayati secara “baik dan
benar” oleh nasion itu sendiri (Heryanto, 1989). Bahasa Indonesia bahkan telah menjadi sebentuk
“teknologi kekuasaan” bagi rejim “neo-fasisme militer” Orde Baru (Dhakidae, 2003) untuk
mengendalikan jalan pikiran rakyatnya. Dalam terma Foucaultian, rakyat Indonesia hidup sebagai
“carceral society”, dikendali-jinakkan dengan panoptikon bernama bahasa, selama lebih dari dua
dekade.
Walhasil, konsentrasi yang begitu besar dicurahkan pada “pembinaan dan pengembangan”
Bahasa Indonesia. Privilese dan prestise yang begitu tinggi, tanpa tandingan (kecuali dari Bahasa
Jawa namun sebagai unsur modalitas belaka, sehingga memperkuat warna Jawanisme dalam
kekuasaan Orde Baru), dimiliki Bahasa Indonesia sebab hanya bahasa inilah yang boleh digunakan
di dalam seluruh aktivitas resmi-birokratis kenegaraan, komunikasi antarsuku, pendidikan, media
massa, dll.—suatu perikehidupan yang serba formal dan modern belaka.

Globalisasi Kultural (Neo-Liberal)


Dengan begitu, bahasa-bahasa daerah digusur jauh-jauh, dikandangkan (untuk dipercakapkan di
dalam komunikasi keseharian informal belaka), hingga membuatnya berada pada status terendah.
Meski tidak secara sangat positivistis, semua kenyataan di atas patut diduga berkorelasi dengan
terdesaknya bahasa-bahasa daerah ke pinggiran perikehidupan modern. Bahasa Indonesia adalah
“bahasa urban”, simbol kosmopolitanisme, kemajuan, kegemilangan masa depan; sedangkan
bahasa-bahasa daerah adalah “bahasa udik, rural, kampungan, ndeso”, seolah-olah perlambang
kemunduran dan keterbelakangan dan kemuraman masa lalu belaka.
Pergeseran praktik berbahasa sebagai cermin perubahan orientasi hidup ini, umpamanya,
secara amat komikal, dialami seorang intelektual (lelaki) muda kita. Sejak kecil dia dididik sebagai
“santri-desa” yang sehari-harinya akrab dengan Bahasa Jawa + Arab. Usai menamatkan sekolah
menengah, dia lantas berhijrah ke Jakarta, berkuliah dan mengakrabi dunia ilmiah (pasca)modern,
menjadi “intelektual-kota” yang basah kuyup dengan Bahasa Indonesia + Inggris. Tatkala pulang
kampung ketika Idul Fitri, dia sukses menggegerkan segenap keluarga besarnya di kampung, di
daerah Pati, Jawa Tengah, akibat terselipnya kata-kata “Oke, oke!” dalam salah satu
pembicaraannya melalui handphone. Peristiwa itu, diakuinya, membuatnya berjarak dengan—meski
tak hendak ia mencerabut diri dari—masa lalunya (Abshar-Abdalla, 2002).

Page 4 of 14
Gejala yang terakhir ini, mudah kita saksikan, kini semakin kuat melanda orang Indonesia
terutama kaum lapisan ekonomis tengah-atas-kota. Bukan pretensi tulisan ini untuk mengambil
posisi pendapat, atau penghakiman, bahwa gejala multilingualitas praktik berbahasa individual
semacam itu salah atau buruk. Secara agak berolok-olok, bahasa gado-gado ini bisa dijuluki
“Engdonesian” (Heryanto, 2005), “Satu Nusa Satu Bangsa Dua Languages” (Sylado, 2001).
Melampaui itu, campur-baurnya bahasa dalam penuturan—code switching, dalam terma
sosiolinguistika—adalah suatu bukti nyata saja bahwa globalisasi (kultural) terjadi begitu massif,
tak mau luput untuk menyentuh pula bahasa yang merupakan unsur terhalus sekaligus terumit
dalam kebudayaan.
Jika kecenderungan globalisasi di dalam arena ekonomi adalah liberalisasi, politik adalah
demokratisasi, dan budaya adalah universalisasi (Waters, 1995), maka dengan diterimanya Bahasa
Inggris sebagai sarana perhubungan internasional secara merata di seluruh dunia telah terjadi
universalisasi bahasa pula di sini. Diperantarai secara sangat kompak oleh pers, radio, televisi, dan
internet, bahasa ini menyebar bersama citra dan informasi, turisme, kosmopolitanisme, gaya hidup
konsumeris, memudarnya agama, membentuk suatu “idealisasi global” tentang apa dan bagaimana
mode hidup di abad ke-21 kini: supremasi homo economicus (Herry-Priyono, 2001), komodifikasi
tubuh, menjual segala-gala yang bisa dijual demi akumulasi kapital! (Wajah lain globalisasi
kultural ini ikut dibentuk oleh merebaknya terorisme, penyebaran virus pandemik, perdagangan
anak dan perempuan, cyber-crime, disparitas ekonomis nan tajam, serta pelbagai ketidakamanan
global).
Dengan perkataan lain, kesemua kenyataan itu sedang menempatkan Barat sebagai
lokomotif sekaligus model utama proses pemeradaban dunia—yang semestinya dirujuk. Cuma
bahasa-bahasa mayor (Inggris, Prancis, Jerman, Italia) berikut kesusastraannya dan budaya
kesarjanaan Barat adalah yang internasional, yang modern, yang patut dijadikan kiblat (Mignolo,
1998). Itulah drama globalisasi kultural neo-liberal, yang semakin ganas mendesak bahasa-bahasa
daerah ke pinggir tebing hingga, bila sedikit saja disentuh, bakal terjatuh ke dalam jurang muram
tempat masa lalu ditimbun.

Mencegah, ataukah Menunda, Kepunahan?


Lantas, apakah masih ada yang tersisa? Ada. Merujuk pada data dan angka dari Ethnologue-SIL
(lihat Lampiran), Indonesia harus disebut relatif masih aman. Dalam aspek keragaman bahasa,
dengan 742 bahasa, ranking Indonesia ke-26—dari 218 negeri, dengan indeks 0,846, 10,73% dari
total bahasa di seluruh dunia—adalah pemerian kekayaan, kreativitas kebudayaan, yang luar biasa.
Tiga bahasa daerah di Maluku (Moksula, Palunata, dan Ternateno) memang telah punah.
Tiada lagi penuturnya berikut manuskrip-manuskrip peninggalannya yang bisa dipakai sebagai
bekal pelacakan karena sudah musnah ditelan bumi dan zaman. Itu artinya, punahlah pula
khazanah peradabannya, dan “biarlah” dikubur sejarah untuk menjadi pelajaran mahal. Sisanya,
707 bahasa daerah yang masih segar-bugar, bolehlah dirayakan; sedangkan 32 bahasa daerah yang
sedang terancam (1 di Kalimantan, 12 di Maluku, 18 di Papua, 1 di Sumatra), dengan jumlah
penutur yang bervariasi antara tinggal 1 hingga 50 orang, tak boleh diratapi belaka. Penting
untuk segera diambil tindakan konkret penyelamatan bahasa-bahasa tersebut dari kepunahan.
Krisis hingga kepunahan yang dialami suatu bahasa menempuh beberapa tahap, dengan
kriteria-kriteria tertentu—yang berhasil dirumuskan oleh para linguis melalui Colloquium on
Language Endangerment, Research and Documentation: Setting Priorities for the 21st Century,
diselenggarakan di Bad Godesberg, Jerman, 12—17 Februari 2000 (Grimes, 2002). Suatu bahasa
disebut (1) “aman (safe)” bila bahasa tersebut dipelajari secara antusias oleh semua kaum dari
semua lapisan usia, khususnya anak-anak, di dalam suatu kelompok etnis tertentu, yang berarti
terwariskan secara baik kepada semua generasi penerus; (2) “stabil tapi terancam (stable but
threatened)” bila semua anak dan kaum tua memang menuturkannya namun jumlah mereka sedikit
saja; (3) “sedang terkikis, mengalami erosi (eroding)” bila para penuturnya cuma beberapa anak dan
orang tua, sedangkan anak-anak lainnya tak menuturkannya lagi; (4) “terancam (endangered) biasa”
bila para penuturnya adalah kaum berumur 20 tahun ke atas, para orang tua; (5) “terancam berat
(severely endangered)” bila para penuturnya adalah kaum berumur 40 tahun ke atas, para kakek-
nenek; dan (6) “menjelang ajal (critically endangered)” bila penuturnya sangat sedikit dan

Page 5 of 14
kesemuanya berumur 70 tahun ke atas, para buyut. Maka, pada akhirnya, suatu bahasa disebut
sudah “punah (extinct)” bila tiada lagi seorang pun penuturnya dan tiada pula terdapat jejak-jejak
tulisan—yang bisa dipakai sebagai bahan pelacakan dan rekonstruksi.
Krisis hingga kepunahan bahasa itu terjadi karena banyak faktor yang saling
mempengaruhi. Berdasarkan pengalaman melakukan penelitian sosio-etno-linguistika dan kerja
pemberdayaan (literasi, rekonstruksi, dan dokumentasi-leksikografi) bahasa terhadap 76 kelompok
penutur bahasa berbeda selama 14 tahun di Papua New Guinea, Landweer (2005) telah
merumuskan sekurang-kurangnya terdapat 8 faktor—masing-masing berskala 1 hingga 4—yang
saling mempengaruhi, dan karenanya menjadi tolok-ukur “ketahanan” suatu bahasa (indicators of
ethnolinguistic vitality).
Pertama, posisi relatif dalam kontinum kota-desa (relative position on the urban-rural
continuum), yaitu keterjangkauan wilayah tinggal suatu komunitas penutur bahasa yang juga
mempengaruhi kontak mereka terhadap kehidupan perkotaan, terutama akses ekonomi. Semakin
dekat dengan kehidupan perkotaan, suatu bahasa semakin terancam punah karena para penuturnya
melakukan kontak antarperadaban yang berpotensi mengubah orientasi hidupnya dan
meninggalkan segala budaya asalnya.
Kedua, ranah-ranah penggunaan bahasa (domains in which the language is used), yaitu apakah
suatu bahasa banyak dipakai di ranah kehidupan privat semata ataukah juga publik, dari rumah
tangga, kegiatan-kegiatan sosial dan kebudayaan, hingga pendidikan formal (persekolahan) dan
birokrasi-administrasi. Suatu bahasa bakal kian stabil, aman, bila dituturkan di sebanyak mungin
ranah interaksi sosial.
Ketiga, frekuensi dan tipe peralihan kode (frequencies and types of code switching), yakni
tingkat campur-baurnya antara bahasa primer/asli dengan bahasa-bahasa sekunder/asing dalam
gaya bicara angota-anggota komunitas. Indikator ini bersifat behavioralis-pragmatis, atau—dalam
konsep Saussurean—yang diamati ialah parole, meski sedikit-banyak mengandung asumsi
purisme-linguistis. Maka, semakin penutur tidak konsisten untuk berujar dalam bahasa aslinya,
semakin pula bahasa tersebut terancam hilang.
Keempat, penduduk dan dinamika kelompok (population and group dynamics), yakni jumlah
kuantitatif anggota kelompok penutur suatu bahasa berikut pelbagai tingkat mobilitas sosialnya.
Tolok-ukur ini bersifat demografis. Jika suatu bahasa dituturkan oleh banyak orang dari pelbagai
kelompok usia, maka semakin amanlah status bahasa tersebut. Tambahan lagi, migrasi atau
perpindahan yang dilakukan oleh para penutur, selain juga tingkat penyerapan komunitas
terhadap anggota-anggota baru (imigran) karena mereka ini membawa serta bahasa asli mereka,
akan mempengaruhi pula ketahanan bahasa asli. Migrasi orang ini melibatkan pula kontak bahasa
(linguistic encounter) menuju pembauran bahasa (linguistic convergence), yang akan ditentukan oleh
tingkat agresivitas ataukah pasivitas dalam upaya penyebaran budaya.
Kelima, persebaran penutur di dalam jaringan-jaringan sosialnya (distribution of speakers
within their own social networks), yaitu sejauh mana kemandirian budaya (cultural independence)
mendukung pemertahanan bahasa komunitas. Yang dimaksud di sini ialah apakah proses-proses
sosiokultural di dalam kelompok, di antara sesama anggota kelompok, dalam pelbagai relasi
(keseharian keluarga atau peristiwa adat komunal), memperkuat ataukah malahan memperlemah
identitas bahasa. Umpamanya, apakah mode produksi, struktur nilai-norma, peran tokoh-tokoh
yang kharismatis, ataupun pola-pola relasi sosial memberi bentuk yang khusus terhadap bahasa
komunitas.
Keenam, pandangan sosial di dalam dan yang sekaitan dengan komunitas tutur (social
outlook regarding and within the speech community), yaitu apakah identitas internal di antara anggota
komunitas cukup kuat ataukah lemah, terutama tatkala anggota-anggota komunitas itu melakukan
kontak budaya dengan kelompok-kelompok budaya luar. Apakah anggota komunitas memiliki
pandangan yang positif ataukah negatif terhadap khazanah budayanya, dengan suatu komparasi
terhadap budaya luar, ikut menyumbang pada pemertahanan suatu bahasa. Semakin anggota
kelompok merasa bahwa budaya kelompoknya unik, berbeda, mengandung keunggulan-
keunggulan tertentu dibanding budaya kelompok lain, sehingga karenanya patut dibanggakan,
maka bahasanya pun akan ia pertahankan.

Page 6 of 14
Ketujuh, gengsi bahasa (language prestige), yaitu apakah suatu bahasa berhasil memerankan
diri sebagai lingua franca, wahana komunikasi dalam aktivitas-aktivitas ekonomis (perdagangan),
pendidikan, dan keagamaan, serta seluas mana wilayah yang bisa dijangkaunya. Suatu bahasa
disebut memiliki gengsi yang tinggi, dan karenanya bakal kuat bertahan, bila ia sukses menjadi
lingua franca dalam skala lokal, regional, nasional, hingga internasional dan dalam pelbagai ranah
sosial-komunikatif.
Kedelapan, akses terhadap basis ekonomi yang stabil dan bisa diterima (access to a stable and
acceptable economic base), yakni sejauh mana suatu kelompok memiliki mekanisme produksi-
distribusi-konsumsi, mode ekonomi, yang cukup mandiri dan mampu menyejahterakan anggota-
anggotanya sehingga tak perlu keluar dari kelompok tersebut. Jika tidak cukup mandiri, maka
sejauh mana anggota-anggota komunitas mengakses sumber-sumber daya ekonomis keluar bisa
berimplikasi terhadap ketahanan suatu bahasa. Dengan tolok-ukur ini, semakin nyata bahwa
globalisasi ekonomi neo-liberal, yang membuat interdependensi antarwilayah dan antarkomunitas
begitu tinggi, berpotensi besar dalam proses penggerusan keragaman bahasa di seluruh penjuru
dunia.
Melengkapi daftar panjang pengancam kelangsungan hidup bahasa itu, Grimes (2002)
mengajukan satu lagi faktor, yakni “natural or man-made disaster (bencana alam maupun petaka
akibat ulah manusia)”, yang menyebabkan tewasnya manusia-manusia penutur bahasa-bahasa
tertentu dan kekacauan sosial. Di antaranya ialah tsunami, gempa bumi, badai angin, wabah
penyakit, ledakan gunung berapi, banjir, perang, genosida, dll. Dua contoh nyata yang pernah
terjadi di Indonesia bisa diajukan di sini. Pertama, gempa bumi beberapa tahun lampau di Maluku
menyebabkan tewasnya sekira 50 orang penutur—sehingga kini mengancam kelangsungan—
Bahasa Paulohi. Kedua, bencana gema bumi dan tsunami pada 26 Desember 2004 dengan sangat
tragis membunuh sekurang-kurangnya 400 ribu jiwa penutur bahasa-bahasa di Aceh, Nias, dan
Sumatra Utara. Selain itu, konflik bersenjata di Ambon, di Kalimantan (kaum Madura imigran
versus kaum Dayak), di Aceh (Gerakan Aceh Merdeka versus militer dan polisi Indonesia), tragedi
1965 (pembersihan kaum komunis), Perang Dunia I dan II, genosida oleh Nazisme dan Fasisme di
Eropa, dan masih banyak lagi, telah memakan korban miliaran nyawa tak berdosa, yang secara
langsung mengancam pula kelangsungan bahasa-bahasanya.
Sampai di sini, pertanyaan lanjutan muncul: apa yang bisa dilakukan terhadap bahasa-
bahasa yang terancam kepunahan, dan dengan demikian untuk menjaga kelestarian permadani
multilingual dunia nan “indah” itu?
Negara dituntut untuk menjalankan “multilingualisme”, suatu politik bahasa (language
planning policy) yang akomodatif terhadap keragaman bahasa yang dituturkan para warganya,
terutama menciptakan suatu situasi yang aman bagi pertumbuh-kembangan bahasa-bahasa etnis,
lokal, yang dituturkan oleh kelompok-kelompok minoritas. Dalam kasus Indonesia, kinilah
saatnya konsentrasi Pusat Bahasa dicurahkan besar-besaran untuk mencegah kepunahan 739
bahasa etnis lokal melalui pelbagai kerja preservasi linguistis, bukan lagi melulu terhadap Bahasa
Indonesia. Misalnya, pengajaran bahasa-bahasa daerah di sekolah-sekolah setempat dan dalam
semua jenjang perlu terus ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya, selain juga media-media massa
berbahasa lokal perlu terus didorong untuk berkembang.
Sementara itu, di jalur masyarakat, upaya-upaya serupa yang dikerjakan oleh berbagai
lembaga swasta nirlaba, biasanya LSM yang bergiat dalam isu-isu kebudayaan dan hak-hak
masyarakat pribumi-minoritas, perlu terus didukung dari semua seginya. Sudah terlihat jelas
bahwa niat untuk menjaga kelestarian bahasa-bahasa etnis lokal (language preservation) tak bakal
berhasil bila cuma dilakukan dengan jalan linguistika (linguistic way) belaka. Kerja-kerja penciptaan
perdamaian, resolusi konflik, pengembangan masyarakat, penyediaan sarana pemenuhan
kebutuhan dasar, perlindungan kesenian, dll. juga pada akhirnya secara tak langsung
mempengaruhi keberlanjutan hidup bahasa.
Sumbangan SIL (Summer Institute for Linguistics), sebagai satu eksemplar contoh, lagi-lagi
harus dibicarakan—sekaligus diajukan beberapa catatan kritis—sebentar di sini untuk menjawab
pertanyaan di atas. Apa yang sudah banyak dikerjakan SIL, barangkali, bisa dipakai sebagai model
upaya preservasi bahasa-bahasa di seluruh dunia. Lembaga ini dirintis oleh William C. Townsend
dan Kenneth L. Pike, tokoh-tokoh linguistika aliran tagmemik di Universitas Texas, Arlington,

Page 7 of 14
Amerika Serikat, pada tahun 1934, yang semula merupakan suatu program kursus linguistika pada
musim panas di sebuah perkebunan di Arkansas. Sejak itu, SIL berekspansi ke seluruh penjuru
dunia, mengirimkan para penelitinya ke daerah-daerah pedalaman yang dihuni suku-suku—yang
kerap dianggap—“terasing”.
Para etno-linguis ini tinggal selama bertahun-tahun, biasanya belasan hingga puluhan
tahun, di sana, hidup bersama warga suku-suku tadi. Sambil meneliti, merekonstruksi
(merumuskan gramatika), dan mengodifikasi (menyusun kamus) bahasa suku setempat, para
peneliti ini juga melakukan kerja-kerja pengorganisasian dan pemberdayaan komunitas (community
organizing and development): pengajaran baca-tulis (literasi), membuat sekolah komunitas tempat
anak-anak belajar, perbaikan permukiman (sanitasi, kesehatan), pemberdayaan ekonomi,
peningkatan gizi, dan semacamnya. Yang menarik, warga suku-suku tersebut diajak untuk
mentranskripsi, menyusun gramatika, dan membuat kamus bahasanya sendiri. Hasilnya,
sebagaimana terekam dalam publikasi SIL yang berupa katalog bahasa berjudul Ethnologue, adalah
himpunan data yang, harus diakui, demikian detail: 6.912 bahasa di 5 region (Afrika, Asia, Eropa,
Amerika, dan Pasifik).
Terhadap kinerja dan hasil yang menakjubkan itu, suatu evaluasi yang bersifat murni
linguistis barangkali tak akan terlalu banyak memberi arti baru. Apa yang diikhtiarkan SIL sudah
jelas merupakan suatu kontribusi yang penting dalam akumulasi data kebahasaan dan
pengembangan teori linguistika, khususnya linguistika struktural dan tagmemik (sosio-etno-
linguistika). Namun, yang jauh-jauh lebih penting, problematisasi dalam perspektif ekonomi-
politik kebudayaan di sini justru ingin mengungkap paradoks-paradoks baru dari kerja-kerja
ilmiah yang, selama ini, secara taken for granted diberi status “bebas nilai”, tak mengandung
kepentingan-kepentingan sempit tertentu kecuali pretensi (ideologis) “ilmu demi ilmu itu sendiri
(the science for its own sake)”.
SIL, seperti ternyatakan dalam oto-profil lembaga ini (http://www.sil.org/),
sesungguhnya sejak awal bersifat “misionaris Kristen”. Tujuan dasar di balik ikhtiar studi,
dokumentasi, rekonstruksi, transkripsi, dan leksikografi bahasa-bahasa etnis di segenap penjuru
dunia adalah translasi atau penerjemahan Alkitab/Injil ke dalam semua bahasa itu; sedangkan
kerja-kerja community development, penyediaan pelbagai sarana dan prasarana fisik, dilaksanakan
seiring penyebaran Kristianitas kepada penduduk suku-suku terasing. Wajar bila, berdasarkan
tujuan-tujuan itu, dalam menyelenggarakan pelbagai programnya SIL terutama bekerja sama
dengan gereja-gereja setempat. Namun, dinyatakan pula oleh SIL bahwa lembaga ini selalu
membuka diri untuk berkolaborasi dengan lembaga-lembaga lain yang bukan Kristen demi tujuan-
tujuan penciptaan perdamaian (peacebuilding) mondial.
Pada titik ini, bukan posisi penulis uraian ini untuk melakukan afirmasi maupun negasi
moralistis terhadap seluruh hasil kerja SIL. Sebabnya, hampir semua agama besar di dunia ini
mengidap watak misionaris yang sama, senantiasa ingin berekspansi, memperbesar jumlah
pengikutnya, dan karenanya fenomena misionarisme agama harus disebut sebagai suatu
“kewajaran (normality)”—meski dari sinilah banyak konflik bermula antarpemeluk agama yang
berbeda-beda. Misionarisme agama, sebagaimana kritik yang selama ini sudah banyak dilansir
para ahli studi agama-agama dan praktisi gerakan toleransi antariman, menjadi problematis
karena mengandung maksud “pemeradaban (civilizing) atau penobatan atau penginsafan”, yang
berarti memendam pula praduga bahwa warga suku-suku “pedalaman dan terasing” itu “kafir,
biadab, primitif, penyembah setan”, bahkan “calon penghuni neraka”.
Lebih jauh, dokumentasi bahasa, pendidikan literasi (pengenalan aksara Latin), pengajaran
Bahasa Inggris sebagai lingua franca internasional, serta transfer pelbagai ilmu modern terhadap
warga suku-suku di “pedalaman dan terasing” yang dilakukan SIL di atas patut dilihat sebagai
usaha “pem-Barat-an”. Bahasa-bahasa etnis disistematisasi dan didokumentasi di dalam kerangka
logika linguistika-struktural modern (mazhab Saussurean-Bloomfieldian), yang jelas-jelas “Barat”.
Apalagi, kerja-kerja itu berlangsung dengan dukungan pelbagai peranti yang juga modern (kertas,
alat tulis, komputer, dan mesin cetak yang fabricated), yang harus dan hanya bisa didatangkan dari
luar—tepatnya: dari kota—tempat tinggal mereka yang “udik, pedalaman”. Asumsi yang kuat
mendasarinya adalah karena mekanisme pewarisan (antargenerasi) dan pelestarian bahasa oleh
penutur aslinya dianggap tak bakal memadai.

Page 8 of 14
Setiap proyek pemeradaban semacam ini hampir selalu mengandung tujuan ganda, yang
seringkali tak mau diakui oleh para agennya, disembunyikan, bahkan ditopengi pelbagai atribut.
Dengan tandas Mignolo (1998) menyimpulkan, “’Civilization’ then has a double edge: the ideological
justification of European economic expansion and the foundation of a field of study that located Europe as
the locus of enunciation and other civilizations of the planet as the locus of the enunciated.” Karenanya
pula, tambah Mignolo, “The discourse of the civilizing mission was double-sided: one for nation-building,
the other for colonial expansion.” Kata-kata “koloni, kolonial, kolonialisme” lagi-lagi muncul dalam
setiap diskusi tentang misi ekspansi pemeradaban, yang mengandung di dalam dirinya bias (re-
/neo-)kolonialisme begitu kuat, dengan mengambil pelbagai bentuk—dari yang paling kasar dan
destruktif hingga yang paling halus dan hegemonik.
Di samping itu, melalui community development (suatu paradigma kerja sosial yang marak
pada dekade 1960-an, yang di kalangan aktivis ornop kini banyak ditinggalkan karena dianggap
tidak kritis terhadap ketidakadilan akibat struktur makro-ekonomi-politik), pengenalan pelbagai
pengetahuan modern mengenai bagaimana cara hidup yang monetaris, sehat, rapi, bersih, atau
“necis” mengandung risiko yang tidak murah: penyingkiran pelbagai khazanah kebudayaan
lokal—yang, sesungguhnya, memiliki logikanya sendiri dan telah teruji lama—karena dianggap
“salah”, tidak sesuai dengan perikehidupan masa kini yang “universal”.
Umpamanya, di tanah Papua, dahulu masyarakat sehari-hari bertelanjang-ria, kaum
lelakinya cuma berkoteka dan kaum perempuannya sekadar mengenakan rok rumbai-rumbai dari
bahan tetumbuhan. Mereka hidup di rawa-rawa dan membangun rumah di atas pohon. Mereka
juga jarang mandi, tak kenal sama sekali dengan—apalagi memakai—sabun. Untuk menangkal
serangan nyamuk malaria, mereka melumuri sekujur tubuhnya dengan lumpur secara rutin
sebelum tidur malam. Namun, akibat pengenalan pakaian kain modern, “penyadaran” untuk
menutup aurat, dan pembiasaan mandi sehari dua kali, angka pengidap penyakit malaria di sana
malah meningkat tajam. Bukankah ini suatu ironi dan pukulan balik?
Dengan semua kritik di atas, penulis paparan ini tetap tidak bermaksud untuk menampik
suatu simpulan antropologis yang lain: bahwa setiap kebudayaan, selain memiliki surplus, juga
tetap mengandung defisit di dalam dirinya, dan karenanya perlu terus mengalami adaptasi
mengikuti gerak zaman agar tetap mampu survive dan kompatibel. Yang telah diperlihatkan di sini
ialah risiko-risiko paradoksal yang selalu diidap setiap proyek emansipasi, pemberdayaan, atau
bahkan pemeradaban, yang meminta harga sosial yang tidak murah. Maka, yang segera tampak
dan akan terus menjadi agenda ialah bagaimana merumuskan orientasi kemajuan yang bisa
disepakati secara fair, cara mewujudkan perubahan, dan meminimalisasi harga sosial dari
keseluruhan proses perjumpaan budaya (cultural encounters) antarkomunitas—di manapun dan
dalam skala apapun. Selalu muncul ketegangan, memang, dalam mengelola pilihan-pilihan siasat
kebudayaan antara berubah ataukah berdiam, antara mengimpor pembaharuan ataukah
melestarikan tradisi.
Mengatasi itu semua, uraian ini masih percaya bahwa bahasa-bahasa etnis lokal di seluruh
dunia, khususnya di Indonesia, penting untuk dijaga kelestariannya dan dikembangkan daya
hidupnya melalui pelbagai ikhtiar. Di sana tersimpan khazanah peradaban masyarakat penuturnya
yang unik dan kaya, yang selalu bisa dipakai sebagai referensi perikehidupan alternatif. Bila suatu
bahasa sedang sakaratulmaut (a dying language), kata Grimes (2002), itu berarti “a unique creation of
human beings is gone from the world.” Maka, pentingnya mencegah kepunahan bahasa, bagi Grimes,
sekurang-kurangnya berarti (1) mencegah hilangnya kebudayaan/cara hidup, (2) mencegah
hilangnya informasi tentang tetumbuhan dan kehidupan liar, dan (3) menjaga kelangsungan
identitas suatu masyarakat.
Kesadaran yang begitu tinggi untuk menjaga kelangsungan permadani multilingual dunia
tumbuh begitu kuat dalam komunitas internasional. Pada 6—9 Juni 1996, sebuah pertemuan
penting diselenggarakan di Barcelona, dihadiri oleh pelagai kalangan, linguis maupun non-linguis,
yang peduli terhadap perlindungan hak-hak kebahasaan kelompok-kelompok masyarakat
minoritas (linguistic minority groups). Pertemuan itu menyorot lowong-lowong besar yang masih
begitu banyak terdapat di dalam himpunan kesepakatan hukum internasional, yang berarti
kerawanan terjadinya beragam pelanggaran terhadap hak-hak kebahasaan umat manusia di

Page 9 of 14
seluruh penjuru dunia begitu besar pula (de Varennes, 1997). Maka, ditelorkanlah Deklarasi
Universal tentang Hak-Hak Kebahasaan (Universal Declaration of Linguistic Rights).
Deklarasi ini mengurai pelbagai situasi dan ancaman, menegaskan pentingnya, dan merinci
bagaimana upaya-upaya menjaga kemajemukan bahasa di muka bumi mesti ditempuh melalui
pelbagai jalur—misalnya, melalui kebijakan dan lembaga-lembaga negara, sistem pendidikan,
teknoloi-teknologi baru, dan media komunikasi massa. Di dalam Pasal 7 deklarasi ini dinyatakan:
“All languages are the expression of a collective identity and of a distinct way of perceiving and describing
reality and must therefore be able to enjoy the conditions required for their development in all functions.”
Lebih jauh, deklarasi ini juga menuntut pembentukan sebuah badan baru, Dewan Bahasa-Bahasa
(Council of Languages), di dalam struktur Perserikatan Bangsa-Bangsa (the United Nations), sebagai
pelaksana deklarasi ini.
Jika kesadaran seperti ini menjadi komitmen semua pihak, kita tak bakal menyaksikan
kepunahan demi kepunahan bahasa-bahasa etnis lokal, yang berarti hilangnya lumbung-lumbung
peradaban nan berharga, yang berarti pula kekalahan demi kekalahan baru karena, seperti sudah
banyak terjadi, peminggiran bahasa selalu merupakan pintu awal bagi peminggiran dan
penghancuran masyarakat penuturnya dalam lapangan-lapangan kehidupan kultural, politik,
ekonomi, dan seterusnya.
Beberapa success stories tentang pencegahan kepunahan bahasa-bahasa, keseluruhan maupun
sebagiannya, barangkali perlu dikutipkan di sini. Bahasa Ibrani (Hebrew), yang dulu telah mati
seiring usainya Abad Pertengahan, kini kembali memiliki sekira 5.150.000 penutur, atau 81% dari
total penduduk Israel. Di Inggris, Bahasa Com—yang diperkirakan telah hilang sejak tahun
1777—kini telah dipakai kembali sebagai bahasa pertama oleh sekira 20 orang, sebagai bahasa
keseharian oleh 1.000 orang, dan sekira 2.000 orang mampu menuturkannya dengan amat fasih
(fluent). Melalui kerja-kerja linguistis, ekologis, medis, pendidikan dan literasi, serta program-
program semacam immersion schools, bahasa-bahasa di Hawaii, Meksiko, Ekuador, dan Brasil pun
berhasil dihidupkan kembali dan memiliki komunitas-komunitas penutur yang setia untuk terus
menjaganya (Grimes, 2002).
Dus, bukankah Barat dan Modernitas masih menanggung terlalu banyak persoalan, yang
dengan sendirinya tak memungkinkannya berperan sebagai satu-satunya cara sekaligus arah
perikehidupan bagi seluruh umat manusia (the ultimate way and direction of all human beings’ life)?

☺ Penulis pernah mempelajari Linguistika pada Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra,
Universitas Gadjah Mada, kemudian mengundurkan diri alias drop-out pada tahun 2007. Ia dahulu
pernah aktif sebagai redaktur Majalah/Jurnal Mahasiswa UGM Balairung, pemimpin redaksi
Majalah Antariman Bilingual Suluh terbitan Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB), dan
kini bergiat di dalam Perkumpulan LINGKAR, Yogyakarta [http://www.lingkar.or.id]. Di
Surabaya, kota kelahirannya, ia adalah salah seorang pendiri INS@N (Institut Studi dan Aksi
Kemanusiaan) [http://www.insan-sub.org]. E-mail: hsbachtiar@yahoo.co.id.

Page 10 of 14
Lampiran2

Tabel-1: Berapa Jumlah Bahasa di Seluruh Dunia?


Wilayah Bahasa yang Masih Hidup Penutur
Jumlah (N) Persentase (%) Jumlah (N) Persentase (%) Mean Median
Afrika 2,092 30.3 675,887,158 11.8 323,082 25,391
Amerika 1,002 14.5 47,559,381 0.8 47,464 2,000
Asia 2,269 32.8 3,489,897,147 61.0 1,538,077 10,171
Eropa 239 3.5 1,504,393,183 26.3 6,294,532 220,000
Pasifik 1,310 19.0 6,124,341 0.1 4,675 800
Total 6,912 100.0 5,723,861,210 100.0 828,105 7,000

Tabel-2: Indeks Kemajemukan Bahasa


Peringkat Negeri Kemajemukan Jumlah Bahasa Penutur
Indeks Cakupan N % Pribumi Imigran N Mean Median
1 Papua New Guinea 0.99 100% 820 11.86 820 0 3,665,383 4,470 1,196
2 Vanuatu 0.972 98% 115 1.66 109 6 119,759 1,041 400
3 Solomon Islands 0.965 99% 70 1.01 70 0 354,001 5,057 2,767
25 Bhutan 0.846 74% 31 0.45 24 7 657,528 21,211 8,000
26 Indonesia 0.846 97% 742 10.73 737 5 218,607,876 294,620 3,500
27 Ethiopia 0.843 98% 86 1.24 84 2 53,388,969 620,802 23,785
216 Samoa 0.002 100% 2 0.03 2 0 199,577 99,788 200
217 Cuba 0.001 50% 4 0.06 2 2 10,003,500 2,500,875 3,500
218 Haiti 0 100% 2 0.03 2 0 6,965,149 3,482,574 600

Tabel-3: Bahasa-Bahasa di Indonesia


Jumlah Bahasa
No. Klaster Wilayah Hidup Terancam Punah Total Penduduk
N % N % N % N %
1 Jawa dan Bali 20 1.000 0 0.00 0 0.000 20 1.000 7 Provinsi
Jawa: 120.000.000 (2003)
Bali: 3.151.162 (2000)
2 Kalimantan 82 0.988 1 0.012 0 0.000 83 1.000 4 Provinsi
11.331.558 (2000)
3 Maluku 117 0.886 12 0.091 3 0.023 132 1.000 2.549.454 (2000)
4 Nusa Tenggara 73 1.000 0 0.000 0 0.000 73 1.000 2 Provinsi
7.961.540 (2000)
5 Papua 253 0.934 18 0.066 0 0.000 271 1.000 2.220.934 (2000)
6 Sulawesi 114 1.000 0 0.000 0 0.000 114 1.000 4 Provinsi
14.111.444 (2000)
7 Sumatra 48 0.980 1 0.020 0 0.000 49 1.000 7 Provinsi
43.309.707 (2000)
Total 707 0.953 32 0.043 3 0.004 742 1.000 238.452.952 (2005)

Tabel-4: Bahasa-Bahasa Etnis di Indonesia yang Terancam Punah


No. Bahasa Informasi
KALIMANTAN
47 Lengilu [lgi] Penutur: 3—4 orang (Wurm, 2000). Lokasi: Timur Laut, antara Sa'ban dan Lundayeh.
Klasifikasi: Austronesia, Malayo-Polynesia, Barat Laut, Sarawak Utara, Dayak, Kelabitik.
Status: hampir punah.

2Kesemua data yang tersaji berikut dihimpun, diolah, dan diterjemahkan dari sumber: Raymond G. Gordon, Jr. (ed.),
Ethnologue: Languages of the World, Edisi ke-15 (Dallas, Texas: Summer Institute of Linguistics International, 2005),
edisi internet yang disiarkan di situs [http://www.ethnologue.com].

Page 11 of 14
No. Bahasa Informasi
MALUKU
2 Amahai [amq] Penutur: 50 orang (SIL, 1987). Lokasi: Maluku Tengah, Barat Daya Seram, 4 desa dekat
Masohi. Nama lain: Amahei. Varian dialek: Makariki, Rutah, Soahuku. Klaster bahasa
dengan Lha dan Kaibobo, juga berhubungan dengan Elpaputih dan Nusa Laut. Kemiripan
leksikal 87% di antara desa Makariki dan desa Rutah; mungkin 2 bahasa, 59% hingga 69%
dengan Saparua, 59% dengan Kamarian, 58% dengan Kaibobo, 52% dengan Piru, Luhu,
dan Hulung, 50% dengan Alune, 49% dengan Naka'ela, 47% dengan Lisabata-Nuniali dan
South Wemale, 45% dengan North Wemale dan Nuaulu, 44% dengan Buano dan Saleman.
Klasifikasi: Austronesia, Malayo-Polynesia Bagian Timur-Tengah, Maluku Tengah, Timur,
Seram, Nunusaku, Teluk Piru, Timur, Selat Seram, Uliase, Hatuhaha, Elpaputi. Status:
hampir punah.
34 Hoti [hti] Penutur: 10 orang (SIL, 1987). Lokasi: Seram Timur, Maluku Tengah. Klasifikasi:
Austronesia, Malayo-Polynesia, Bagian Timur-Tengah, Maluku Tengah, Seram Timur. Status:
hampir punah.
36 Hukumina [huw] Penutur: 1 orang (SIL, 1989). Lokasi: dulu dituturkan di Hukumina, Palumata, dan Tomahu,
Barat-Laut Pulau Buru. Penutur sekarang berasal dari Desa Hukumina yang dulu berlokasi di
belakang desa Masarete, dekat benteng di Kayeli, Timur-Laut Pulau Buru. Nama lain:
Bambaa. Klasifikasi: Austronesia, Malayo-Polynesia, tak terklasifikasi. Status: hampir punah.
37 Hulung [huk] Penutur: 10 orang (SIL, 1991). Lokasi: desa Hulung, dan dusun Sauweli, Seram Barat,
Maluku Tengah. Varian dialek: kemiripan leksikan 67% dengan Lisabata-Nuniali, 66%
dengan Naka'ela dan Wemale Selatan, 63% dengan Alune, 59% dengan Wemale Utara.
Klasifikasi: Austronesia, Malayo-Polynesia, Bagian Timur-Tengah, Malayo-Polynesia Tengah,
Maluku Tengah, Timur, Seram, Nunusaku, tiga sungai, Amalumute, Seram barat-laut,
Hulung. Status: hampir punah.
38 Ibu [ibu] Penutur: 35 orang (Voorhoeve dan Visser, 1987). Populasi suku: 50 hingga 200 orang
(1984). Lokasi: Maluku Utara, utara Pulau Halmahera, ujung sungai Ibu, Desa Gamlamo dan
Desa Gamici. Varian dialek: mungkin kerap terdengar sebagai bahasa Sahu. Klasifikasi:
Papua Barat, Halmahera utara, Sahu. Status: hampir punah.
43 Kamarian [kzx] Penutur: 10 orang (SIL, 1987). Populasi suku: 6.000 di pedesaan (SIL, 1987). Lokasi: Seram
Barat, Maluku Tengah, Desa Kamarian pantai selatan Seram, di ujung timur Teluk Piru.
Nama lain: Kamariang, Seruawan. Varian dialek: kemiripan leksikal 75% dengan Kaibobo,
67% dengan Saparua, 60% dengan Lisabata-Nuniali, 59% dengan Amahai, Piru, Naka'ela,
dan Hulung. Klasifikasi: Austronesia, Malayo-Polynesia, Bagian Timur-Tengah, Malayo-
Polynesia Tengah, Maluku Tengah, Timur, Seram, Nunusaku, Teluk Piru, Timur, Selat
Seram, Uliase, Kamarian. Status: hampir punah.
46 Kayeli [kzl] Penutur: 3 orang (1995). Tidak dipakai selama 3 dekade oleh para penuturnya (C. Grimes,
SIL, 1989). Populasi suku: 800 orang (1995). Lokasi: bagian utara Teluk Namlea, utara pulau
Buru, Maluku Tengah. Nama lain: Kajeli, Cajeli, Caeli, Gaeli. Varian dialek: Kayeli, Leliali
(Liliali), Lumaete (Lumaiti, Mumaite, Lumara). Klasifikasi: Austronesia, Malayo-Polynesia,
Bagian Timur-Tengah, Malayo-Polynesia Tengah, Maluku Tengah, Timur, Seram, Nunusaku,
Kayeli Status: hampir punah.
64 Loun [lox] Penutur: 20 orang. Lokasi: Seram utara-tengah, Maluku Tengah. Klasifikasi: Austronesia,
Malayo-Polynesia, Bagian Timur-Tengah, Malayo-Polynesia Tengah, Maluku Tengah, Timur,
Seram, Nunusaku, tiga sungai, Amalumute, barat-laut Seram, Loun. Status: hampir punah.
84 Naka'ela [nae] Penutur: 5 orang (SIL, 1985). Lokasi: desa Kairatu, Seram Barat Laut, Maluku Tengah.
Varian dialek: kemiripan leksikal 71% dengan Lisabata-Nuniali, 66% dengan Hulung, 63%
dengan Alune. Klasifikasi: Austronesia, Malayo-Polynesia, Bagian Timur-Tengah, Malayo-
Polynesia Tengah, Maluku Tengah, Timur, Seram, Nunusaku, tiga sungai, Amalumute,
Seram barat-laut, Ulat Inai. Status: hampir punah.
88 Nusa Laut [nul] Penutur: 10 orang. Populasi suku: 2.226 jiwa (SIL, 1989). Lokasi: desa Titawai, pulau Nusa
Laut, kepulauan Lease, Maluku Tengah. Nama lain: Nusalaut. Varian dialek: kemiripan
leksikal 69% dengan Saparua, 65% dengan Amahai. Klasifikasi: Austronesia, Malayo-
Polynesia Bagian Timur-Tengah, Maluku Tengah, Timur, Seram, Nunusaku, Teluk Piru, Selat
Seram, Uliase, Hatuhaha, Elpaputi. Status: hampir punah.
92 Paulohi [plh] Penutur: 50 orang (1982). Lokasi: Maluku Tengah, Seram Barat, lepas pantai bagian barat
teluk Elpaputih di bagian selatan-tengah pulau Seram, 2 desa, Kecamatan Amahai.

Page 12 of 14
No. Bahasa Informasi
Klasifikasi: Austronesia, Malayo-Polynesia Bagian Timur-Tengah, Maluku Tengah, Timur,
Seram, Nunusaku, Teluk Piru, timur, selat Seram, Solehua. Status: hampir punah.
94 Piru [ppr] Penutur: 10 orang (Y. Taguchi, SIL, 1985). Lokasi: 1 desa, pulau Seram barat, Maluku
Tengah. Varian dialek: kemiripan leksikal 72% dengan Luhu. Klasifikasi: Austronesia,
Malayo-Polynesia Bagian Timur-Tengah, Maluku Tengah, timur Seram, Nunusaku, tiga
sungai, Amalumute, Seram Barat Laut. Status: hampir punah.
PAPUA
38 Bonerif [bnv] Penutur: 4 orang (SIL, 1994). Lokasi: daerah pantai utara di sisi timur bagian atas sungai Tor,
utara Mander dan selatan Berik dan bahasa-bahasa Kwesten, desa Beneraf. Kabupaten
Jayapura, Kecamatan Pantai Timur. Nama lain: Beneraf. Klasifikasi: Trans-New Guinea,
Utara, Tor. Status: hampir punah.
42 Burumakok [aip] Penutur: 40 orang (Kroneman, 1994). Lokasi: dataran rendah selatan rentangan utama,
tenggara Sumo dan Dekai, selatan Langda dan Bomela, Kabupaten Jayawijaya, Kecamatan
Kurima, desa Burumakok, selatan Sumtanon, timur Siradala. Klasifikasi: Trans-New Guinea,
perlintasan utama, Tengah dan Barat, New Guinea Selatan dan Tengah-Kutubuan, Ok,
Barat. Status: hampir punah.
61 Duriankere [dbn] Penutur: 30 orang (Wurm, 2000). Lokasi: di sebuah pulau kecil di kepulauan Raja Ampat di
tengah pulau Salawati dan pucuk barat Kepala Burung. Nama lain: Esaro, Sailen, Duriankari.
Klasifikasi: Trans-New Guinea, Selatan Kepala Burung-Timor-Alor-Pantar, Inanwatan. Status:
hampir punah.
62 Dusner [dsn] Penutur: 20 orang (2000). Lokasi: sekitar kota Dusner, pantai barat teluk Cenderawasih,
daerah teluk Wandamen. Hanya 1 desa. Nama lain: Dusnir. Klasifikasi: Austronesia, Malayo-
Polynesia, Bagian Timur-Tengah, Bagian Timur Malayo-Polynesia, Halmahera Selatan- New
Guinea Barat, Teluk Cenderawasih, Biakic. Status: hampir punah.
90 Kanum, Bädi [khd] Penutur: 10 orang (Donohue, 1996). Lokasi: daerah perbatasan pantai selatan, timur
Merauke, membatasi Marind Tenggara di timur: Yanggandur, Tomer, Tomerau, Sota, Kondo,
Onggaya, utara dan barat bahasa Smärky. Nama lain: Enkelembu, Knwne, Kenume. Varian
dialek: susah dipahami oleh penutur variasi bahasa Kanum yang lain. Dekat dengan bahasa
Yei. Juga telah diklasifikasikan sebagai Australia, Pama-Nyungan. Klasifikasi: Trans-New
Guinea, Trans-Fly-Bulaka River, Trans-Fly, Morehead, dan sungai Maro bagian atas, Tonda.
Status: hampir punah.
94 Kapori [khp] Penutur: 30—40 orang (Wurm, 2000). Lokasi: desa Pagai di utara tepian sungai Idenburg
bagian atas. Nama lain: Kapauri. Klasifikasi: Trans-New Guinea, Kaure. Status: hampir
punah.
103 Kehu [khh] Penutur: 25 orang (SIL, 2002). Lokasi: daerah antara Auye dan Dao di kaki pegunungan, dan
sungai Wapoga. Klasifikasi: tak terklasifikasi. Status: hampir punah.
105 Kembra [xkw] Penutur: 20 orang (Wurm, 2000). Lokasi: Kabupaten Jayawijaya, Kecamatan Okbibab, timur
sungai Sogber. Klasifikasi: tak terklasifikasi. Status: hampir punah.
129 Kwerisa [kkb] Penutur: 15—50 orang (Wurm, 2000). Lokasi: desa Kaiy di sungai Rouffaer bagian bawah.
Nama lain: Taogwe. Varian dialek: kemiripan leksikal 60% dengan Biritai. Klasifikasi: Teluk
Geelvink, Danau Plain, Tariku. Status: hampir punah.
138 Mander [mqr] Penutur: 20 orang (SIL, 1991). Lokasi: daerah pantai utara bagian atas sungai Bu, anak
sungai Tor bagian atas. Klasifikasi: Trans-New Guinea, Utara, Tor. Status: hampir punah.
143 Mapia [mpy] Penutur: 1 orang. Lokasi: kepulauan Mapia, sekira 180 mil sebelah utara Manokwari. Nama
lain: Mapian. Klasifikasi: Austronesia, Malayo-Polynesia bagian Timur-Tengah, Bagian Timur-
Tengah Oceanic, Oceanic pedalaman, Micronesia, Micronesia asli, Ponapeic-Trukic. Status:
hampir punah.
145 Maremgi [mrx] Penutur: 40 orang (Wurm, 2000). Lokasi: pedalaman pantai utara dari bahasa Bonggo, desa
Marengge. Nama lain: Marengge. Varian dialek: tak dapat dipahami penutur di permukiman
sekitar termasuk Bonggo. Klasifikasi: Trans-New Guinea, Utara, Tor. Status: hampir punah.
149 Massep [mvs] Penutur: 25 orang (Wurm, 2000). Lokasi: pantai utara, timur mulut sungai Mamberamo dan
barat Sarmi, dekat sungai Apauwer. Nama lain: Masep, Wotaf, Potafa. Klasifikasi: Trans-New
Guinea, perlintasan utama, Tengah dan Barat, Dani-Kwerba, Utara, Massep. Status: hampir
punah.
165 Mor [moq] Penutur: 20—30 orang (Wurm, 2000). Lokasi: Semenanjung Bomberai Barat Laut, pantai

Page 13 of 14
No. Bahasa Informasi
Teluk Bintuni. Nama lain: Mor2. Klasifikasi: Trans-New Guinea, perlintasan utama, Tengah
dan Barat, Mor. Status: hampir punah.
200 Saponi [spi] Penutur: 4—5 orang (Wurm, 2000). Lokasi: Desa Botawa, pedalaman Kabupaten Waropen
Bawah. Klasifikasi: Teluk Geelvink, Danau Plain, Rasawa-Saponi. Status: hampir punah.
222 Tandia [tni] Penutur: 2 orang (SIL, 1991). Lokasi: daerah leher Kepala Burung, tepatnya selatan
Semenanjung Wandamen di sepanjang Sungai Wohsimi. Klasifikasi: Austronesia, Bagian
Timur dan Tengah Malayo-Polynesia, Halmahera Selatan-New Guinea Barat, Teluk
Cenderawasih, Tandia. Status: hampir punah.
237 Usku [ulf] Penutur: 20 orang (Wurm, 2000). Lokasi: Desa Usku, selatan Jayapura, tepatnya selatan
Pauwasi. Varian dialek: tidak sangat mirip dengan bahasa lain. Klasifikasi: Trans-New
Guinea, Usku. Status: hampir punah.
255 Woria [wor] Penutur: 5—6 orang (Wurm, 2000). Lokasi: pedalaman Waropen Bawah, Desa Botawa.
Varian dialek: kemiripan leksikal 64% dengan Barapasi, 64% dengan Demisa, 63% dengan
Kofei, 69% dengan Tunggare. Klasifikasi: Teluk Geelvink, Timur Teluk Geelvink. Status:
hampir punah.
SUMATRA
24 Lom [mfb] Penutur: 2—10 orang (Wurm, 2000). Lokasi: Sumatra, Timur Laut Pulau Bangka, Kabupaten
Belinyu. Nama lain: Belom, Mapor, Maporese. Varian dialek: tidak berelasi dekat dengan
bahasa-bahasa lain. Klasifikasi: Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayic, Malay, Lom. Status:
hampir punah.

Tabel-5: Bahasa-Bahasa Etnis di Indonesia yang Telah Punah


No. Bahasa Informasi
MALUKU
1 Moksela [vms] Status: punah. Lokasi: Maluku Tengah, mungkin di timur Pulau Buru, dekat Kayeli. Nama
lain: Maksela, Opselan. Klasifikasi: Austronesia, Malayo-Polynesia Bagian Timur dan
Tengah, Maluku Tengah, Buru.
2 Palumata [pmc] Status: punah. Lokasi: Maluku Tengah, Barat Laut Pulau Buru. Nama lain: Palamata,
Balamata. Klasifikasi: Austronesia, Malayo-Polynesia Tengah-Bagian Timur, Maluku Tengah,
Buru.
3 Ternateño [tmg] Status: punah. Lokasi: Maluku Utara, Pulau Ternate, barat Pulau Halmahera. Variasi-variasi
kreol bahasa Portugis juga dituturkan di Banda dan Ambon. Nama lain: Ternatenyo. Variasi
dialek: releksifikasi bahasa Spanyol. Relasi historis dengan Chavacano dan dialek-dialeknya,
yang masih dituturkan di Filipina. Klasifikasi: kreol, berdasarkan bahasa Portugis.

Page 14 of 14