Anda di halaman 1dari 4

a.

Uji Standarlisasi Simplisia Kencur


Tujuan : untuk mengetahui kebenaran dan mutu simplisia yang meliputi analisis kuantitatif dan
kualitatif. Analisis kuantitatif terdiri atas pengujian organoleptik, pengujian mokroskopik,
pengujian mikroskopik, dan pengujian histokimia.
1. Uji Organoleptik
Uji dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui khususnya bau dan rasa simplisa
yang diuji.
2. Uji Makroskopik
Uji makroskopik dilakukan dengan menggunakan kaca pembesar tanpa
menggunakan alat. Cara ini dilakukan untuk mencari khususnya morfologi, ukuran. dan
warna simplisia yang diuji.
3. Uji Mikroskopik
Uji Mikroskopik dilakukan dengan menggunakan mikroskop yang derajat
pembesarannya disesuaikan dengan keperluan. Simplisia yang diuji dapat berupa sayatan
melintang, radial, paradermal maupun membujur atau berupa serbuk. Pada uji
mikroskopik dicari unsur-unsur anatomi jaringan yang khas. Dari pengujian ini akan
diketahui jenis simplisia berdasarkan fragmen pengenalan yang spesifik bagi masingmasing simplisia.
4. Uji Histokimia
Uji Histokimia bertujuan untuk mengetahui berbagai macam zat kandungan yang
terdapat dalam jaringan tanaman. Dengan pereaksi spesifik, zat-zat kandungan tersebut
akan memberikan warna yang spesifik pula sehingga mudah dideteksi.
b. Parameter Standarlisasi Simplisia
1. Penetapan Susut Pengeringan
Susut pengeringan adalah kadar bagian yang menguap suhu penetapan susut pengeringan
adalah 1050 dan susut pengeringan ditetapkan sebagai berikut : Timbang 1 gram simplisia
masukkan ke dalam krus porselen bertutup yang sebelumnya telah dipanaskan pada suhu
yang telah ditetapkan selama 30 menit dan telah ditara. Ratakan simplisia dalam krus
porselen dengan menggoyangkan krus hingga merata. Masukkan ke dalam oven, buka
tutup krus, panaskan pada suhu penetapan, timbang dan ulangi pemanasan sampai
didapat berat yang kostan.
susut pengeringan=

bobot awal sebelum pemanasanbobot ak h ir


x 100
berat sebelum pemanasan

2. Penetapan Kadar Abu Total

2 gram simplisia yang telah digerus ditimbang seksama, dimasukkan ke dalam krus
platina yang telah dipijarkan dan ditara. Pijarkan perlahan-lahan hingga arang habis,
didinginkan dan ditimbang. Jika dengan cara ini arang tidak dapat dihilangkan,
tambahkan air panas, diaduk, disaring melalui kertas saring bebas abu. Pijarkan sisa dan
kertas saring dalam kurs yang sama. Masukan filtrat ke dalam krus, uapkan dan
dipijarkan hingga bobot tetap. Hitung kadar abu total terhadap bahan yang telah
dikeringkan, dan dinyatakan dalam %b/b.
kadar abu=

berat abu
x 100
berat simplisia

3. Penetapan Kadar Sari Larut Air


Keringkan serbuk, maserasi selama 24 jam 5 gram serbuk dengan 100 ml kloroforom P
menggunakan labu bersumbat sambil sekali-sekali dikocok selama 6 jam pertama,
kemudian didiamkan selama 18 jam. Saring, uapkan 20 ml filtrate hingga kering dalam
cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara, sisa dipanaskan pada suhu 105oC hingga
bobot tetap. Hitung kadar dalam persen yang larut dalam air, dihitung terhadap bahan
yang telah dikeringkan di udara.
kadar sari larut air=

berat extrak x 5
x 100
berat simplisia

4. Penetapan Kadar Sari Larut Etanol


Keringkan serbuk, maserasi selama 24 jam 5 gram serbuk dengan 100 ml etanol (95%),
menggunakan labu bersumbat sambil sekali-sekali dikocok selama 6 jam pertama,
kemudian didiamkan selama 18 jam. Saring cepat dengan menghindarkan penguapan
etanol (95%), uapkan 20 ml filtrate hingga kering dalam cawan dangkal berdasar rata
yang telah ditara, sisa dipanaskan pada suhu 105oC hingga bobot tetap. Hitung kadar
dalam persen yang larut dalam etanol, dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di
udara.
kadar sari larut e tanol=

berat extrak x 5
x 100
berat simplisia

c. Tahapan pembuatan simplisia kencur


1. Pengumpulan Bahan Baku
Rimpang kencur yang telah dipanen,dikumpulkan untuk dijadikan bahan baku simplisaia.
2. Penyortiran Basah dan Pencucian
Sortasi pada bahan segar dilakukan untuk memisahkan rimpang dari kotoran berupa
tanah, sisa tanaman, dan gulma. Setelah selesai, timbang jumlah bahan hasil penyortiran
dan tempatkan dalam wadah plastik untuk pencucian. Pencucian dilakukan dengan air
bersih, jika perlu disemprot dengan air bertekanan tinggi. Amati air bilasannya dan jika
masih terlihat kotor lakukan pembilasan sekali atau dua kali lagi. Hindari pencucian yang
terlalu lama agar kualitas dan senyawa aktif yang terkandung didalam tidak larut dalam
air. Pemakaian air sungai harus dihindari karena dikhawatirkan telah tercemar kotoran
dan banyak mengandung bakteri/penyakit. Setelah pencucian selesai, tiriskan dalam
tray/wadah yang belubang-lubang agar sisa air cucian yang tertinggal dapat dipisahkan,
setelah itu tempatkan dalam wadah plastik/ember.
3. Perajangan
Jika perlu proses perajangan, lakukan dengan pisau stainless steel dan alasi bahan yang
akan dirajang dengan talenan. Perajangan rimpang dilakukan melintang dengan ketebalan
kira-kira 5 mm 7 mm. Setelah perajangan, timbang hasilnya dan taruh dalam wadah
plastik/ember. Perajangan dapat dilakukan secara manual atau dengan mesin pemotong.
4. Pengeringan
Pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan sinar matahari atau alat
pemanas/oven. pengeringan rimpang dilakukan selama 3 5 hari, pengeringan dengan
sinar matahari dilakukan diatas tikar atau rangka pengering, pastikan rimpang tidak saling
menumpuk. Selama pengeringan harus dibolak-balik kira-kira setiap 4 jam sekali agar
pengeringan merata. Lindungi rimpang tersebut dari air, udara yang lembab dan dari
bahan-bahan disekitarnya yang bisa mengkontaminasi. Pengeringan di dalam oven
dilakukan pada suhu 50oC 60oC. Rimpang yang akan dikeringkan ditaruh di atas tray
oven dan pastikan bahwa rimpang tidak saling menumpuk. Setelah pengeringan, timbang
jumlah rimpang yang dihasilkan.
5. Penyortiran Kering
Selanjutnya lakukan sortasi kering pada bahan yang telah dikeringkan dengan cara
memisahkan bahan-bahan dari benda-benda asing seperti kerikil, tanah atau kotorankotoran lain. Timbang jumlah rimpang hasil penyortiran ini (untuk menghitung
rendemennya).

6. Pengemasan
Setelah bersih, rimpang yang kering dikumpulkan dalam wadah kantong plastik atau
karung yang bersih dan kedap udara (belum pernah dipakai sebelumnya). Berikan label
yang jelas pada wadah tersebut, yang menjelaskan nama bahan, bagian dari tanaman bahan
itu, nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih dan metode
penyimpanannya.
7. Penyimpanan
Kondisi gudang harus dijaga agar tidak lembab dan suhu tidak melebihi 30oC dan gudang
harus memiliki ventilasi baik dan lancar, tidak bocor, terhindar dari kontaminasi bahan lain
yang menurunkan kualitas bahan yang bersangkutan, memiliki penerangan yang cukup
(hindari dari sinar matahari langsung), serta bersih dan terbebas dari hama gudang.