Anda di halaman 1dari 18

PENDEKATAN HERMENEUTIKA

I.

PENDAHULUAN
Hermeneutika dapat didefinisikan suatu teori atau filsafat interpretasi makna.
Baru-baru ini hermeneutika muncul sebagai topik utama dalam filsafat ilmu sosial,
filsafat seni, dan bahasa, dan dalam kritik sastra, meski asal usul modernnya bermula
dari awal abad Sembilan belas.
Pemahaman terhadap penafsiran teks tidak hanya menajadi perhatian ilmu
pengetahuan, tetapi jelas merupakan bagian dari seluruh pengalaman manusia tentang
dunia. Dalam memahami tradisi tidak hanya memahami teks-teks, tetapi wawasan juga
diperoleh dan kebenaran-kebenaran harus diakui. Dihadapan ilmu pengetahuan modern
yang mempunyai posisi dominan dalam penjelasan terhadap konsep pengetahuan.
(Gadamer, 1975:V)
Sebagai sebuah pendekatan, akhir-akhir ini hermeneutika semakin di gandrungi
oleh para peneliti akademis, kritikus sastra, sosiolog, sejarawan, antropolog, filosof,
maupun teolog, khususnya untuk mengkaji, memahami dan menafsirkan teks (scripture),
misalnya: Injil dan Al-Quran.
Lebih lanjut, Fahrudin Faiz menyatakan bahwa term khusus yang digunakan
dalam pengertian kegiatan interpretasi dalam wacana keilmuan Islam adalah tafsir
bahasa Arab fassara atau fasara ini digunakan secara teknis dalam pengertian eksegesis
di kalangan orang Islam dari abad ke-5 hingga sekarang. Sedangkan Amin Abdullah
menyebut hermeneutika sebagai fiqhtafsir wat tawil.

II.

PEMBAHASAN
1. Pengertian dan Sejarah Hermeneutika
Disepanjang

sejarahnya,

berkembang sebagai teori

hermenutika

secara

sporadic

muncul

dan

interpretasi saat ia diperlukan untuk menerjemahkan

literature otoritatif di bawah kondisi-kondisiyang tidak mengijinkan akses kepadanya,


karena alasan ruang dan waktu atau pada perbedaan bahasa. Dalam hal ini sebuah

teks dapat diperdebatkan atau tetap tersembunyi sehingga memerlukan penjelasan


interpretasi agar membuatnya trasnparan (Josef Bleicher, 2003:5-6).
Hermeneutik adalah studi pemahaman, khususnya tugas pemahaman teks.
Kajian hermeneutik berkembang sebagai usaha untuk menggambarkan pemahaman
teks, lebih spesifik pemahaman historis dan humanistik. Dengan demikian,
hermenutik mencakup dalam dua fokus perhatian yang ebrbeda dan saling
berinteraksi yaitu : 1) peristiwa pemahaman teks 2) persoalan yang mengarah
mengenai apa pemahaman interpretasi itu. (Palmer, 1969:8)
Secara etimologi kata hermeneutika (hermeneutic) berasal dari Yunani,
hermeneuein yang berarti menerjemahkan atau menafsirkan. Ia merupakan sebuah
proses mengubah sesuatu dari situasi ketidaktahuan menjadi mengerti. Oleh sebab itu,
tugas pokok hermeneutika adalah sebagaimana menafsirkan sebuah teks klasik dan
asing menjadi milik kita yang hidup di zaman dan tempat berbeda. (Umiarso, 2011:
193). Istilah hermeneutika juga kerap dihubungkan dengan tokoh mitologis Yunani,
Hermes, yang bertugas menyampaikan tugas Yupiter kepada manusia. Mitos ini
menjelaskan tugas seorang hermes adalah seorang duta yang dibebani misi
meyampaikan pesan sang dewa. Berhasil atau tidaknya misi menyampaikan pesan itu
disampaikan. Dengan demikian, hermeneutika secara sederhana diartikan sebagai
proses mengubah ketidaktahuan menjadi tahu. (Sumaryono, 2003: 24-25)
Pada awalnya hermeneutika digunakan oleh para kalangan agamawan.
Melihat hermeneutika dapat menyuguhkan makna dalam teks klasik, maka abad ke17 kalangan gereja menerapkan telaah hermeneutis untuk membongkar makna teks
injil. Ketika menemukan kesulitan dalam memahami bahasa dan pesan kitab suci itu,
mereka berkesimpulan bahwa kesulitan itu akan membantu pemecahannya oleh
hermeneutik. Karena itu dalam posisi ini hermeneutic dianggap sebagai metode untuk
memahami teks kitab suci. Fakta ini di nisbatkan sebagai langkah awal dalam
pertumbuhan hermeneutika adalah gerakan interpretasi atau eksegesis diawal
perkembangannya. (Sibawaihi, 2007:7)

Tentang istilah hermenutik sendiri secara historis baru muncul pertama kali
dalam karya Johann Konrad Dannhauer, seorang teolog Jerman yang berjudul
Heremeneutika Sacra, Shive methods Exponendarums Sacrarum yang ditulis pada
tahun 1654. Sebagai seorang teolog, hermeneutika yang dibahas masih terbatas dalam
penafsiran teks-teks Bibel. (Rahardjo, 2008:54)
Ilmu Hermeneutik adalah ilmu yang cukup baru karena baru dikenal sekitar
tahun 1567 AD. Namun demikian prinsip-prinsip Hermenutik sebenarnya sudah
dikenal sejak jaman Diaspora yaitu masa pembuangan bangsa Israel. Oleh karena itu
untuk mempelajari sejarah Hermeneutik kita harus kembali paling tidak lima abad
sebelum Kristus lahir.
A. Hermeneutik Yahudi
Sejarah Hermeneutik Yahudi sudah dimulai sejak jaman Ezra
(457SM), pada waktu orang-orang Yahudi sedang berada di tanah
pembuangan. Usaha pertama yang dilakukan oleh Ezra dan kelompok
para

imam

adalah

menghilangkan

gap

bahasa

yaitu

dengan

menterjemahkan Kitab-kitab Taurat itu ke dalam bahasa Aram, karena


orang-orang Yahudi di pembuangan tidak lagi bisa berbahasa Ibrani.
Usaha terjemahan ini dibarengi dengan suatu exposisi karena mereka juga
harus menjelaskan isi kitab-kitab yang sudah mereka terjemahkan itu,
khususnya

tentang

pelaksanaan

hukum-hukum

Taurat.

Karena

sumbangannya yang besar itulah Ezra disebut sebagai Bapak Hermeneutik


Pertama.
B. Hermeneutik Gereja (95-600M)
Pada abad ini para pendeta dalam memakai metode penafsirannya
percaya bahwa al-kita dibagi menjadi 3 arti sama halnya dengan tiga aspek
manusia yaitu : tubuh,jiwa,dan roh. Maka Alkitab juga mempunyai arti
literal, moral dan mistik (alegoris).
C. Hermeneutik Abad Pertengahan

Masa periode tahun 600 - 1517 disebut sebagai Hermeneutik Abad


Pertengahan, yang diakhiri sebelum masa Reformasi. Masa ini dikenal
sebagai abad gelap karena tidak banyak pembaharuan yang terjadi, hanya
melanjutkan tradisi yang sudah dipegang erat oleh gereja.
D. Hermeneutik Reformasi
Periode ini terjadi pada tahun 1517 - 1600 M, dimulai pada saat
Martin Luther memakukan 95 tesisnya dan berakhir sampai abad 16.
E. Hermeneutik Paska-Reformasi
Periode ini adalah antara tahun 1600 - 1800 M. Periode ini
dipenuhi dengan semangat penafsiran literal Reformasi, tetapi akhir
periode ini ditutup dengan penekanan pada metode penafsiran devotional.
F. Hermeneutik Modern
Masa periode ini adalah tahun 1800 - sekarang. Semua metode
penafsiran yang pernah dilakukan masih terus dilakukan hingga sekarang.
Walaupun dari waktu ke waktu penekanan terus bergeser dari satu ekstrim
kepada ekstrim yang lain. Dalam era modern ini serangan yang paling
tajam akhirnya ditujukan pada otoritas Alkitab, sebagai fondasi dalam
menafsir.
2. Tujuan
Tujuan hermeneutika menurut Riceour adalah menghilangkan misteri yang
terdapat dalam sebuah simbol dengan cara membuka selubung daya-daya yang
belum diketahui dan tersembunyi dalam simbol-simbol tersebut, seperti dalam
kata-kata. Hal ini karena kata-kata merupakan alat untuk mengungkapkan pikiran
simbolis kita tentang dunia. (Hidayat, 2006 : 160)
Posisi penafsiran para filsuf empiris, pertama-tama terarah pada bendabenda objektif natural yang tidak tersentuh oleh tangan dan pikiran manusia.
Bagi mereka pikiran manusia menempati tempat kedua; jika menempati tempat
pertama,

pikiran

manusia

hanya

bisa

memaksakan

pengandaian

yang

menyesatkan dan prasangka yang artifisial terhadap dunia di luar dirinya.


(Harland, 2006 : 98).
Dari pemikiran tersebut, mempelajari filsafat ilmu adalah meyakinkan
setiap orang bahwa untuk mencapai sesuatu pemahaman (ilmu), harus dilakukan
berbagai pendekatan baik secara teoretis maupun praktis. Berbagai permasalahan
dalam kehidupan sering terjadi karena seseorang tidak memahami suatu ilmu
secara mendalam. Jawaban atas suatu persoalan sering bersifat dangkal dan penuh
keraguan, sehingga pihak-pihak yang bermasalah merasa tidak puas atas jawaban
yang diberikan.
Ini relevan dengan pengertian hermeneutika menurut Zygmunt Bauman.
Hermeneutika adalah upaya menjelaskan dan menelusuri pesan dan pengertian
dasar dari sebuah ucapan atau tulisan yang abstrak, belum jelas maknanya,
sehingga menimbulkan keraguan dan kebingungan bagi pendengar atau pembaca.
Keraguan ini ada kalanya juga muncul ketika seseorang dihadapkan pada berbagai
dokumen yang saling berbeda penjelasannya mengenai hal yang sama, sehingga
pembaca harus bekerja melakukan kajian yang serius untuk menemukan sumbersumber yang otentik serta pesan yang jelas. (Hidayat, 2006 : 256)
3. Hermeneutika dalam Pendekatan Ilmu-Ilmu Ke-Islaman
A) Bahasa Sebagai Pusat Kajian
Bagi banyak kalangan, kajian kritis keagamaan lewat pendekatan
hermeneutik tidak begitu populer dan untuk kalangan tertentu justru
cenderung dihindari. Jangankan menggunakan dan menerapkannya dalam
kajian-kajian akademik tentang kehidupan sosial-keagamaan, mendengar
istilah hermeneutic pun orang sudah antipasti. Macam-macam konotasi yang
dilekatkan orang terhadap hermeneutic. Yang paling mudah diingat adalah
pendangkalan akidah. Sebagaian lain dikaitkan dengan pengaruh kajian
Biblical Studies di lingkungan Kristen yang hendak diterapkan dalam kajian
Al-Quran di lingkungan Islam. (Abdullah, 2010: 272-273)
Persoalan penafsiran nash-nash keagamaan (Al-Quran dan hadis) ini
dijadikan sebagai dasar pijakan untuk menyelami dan mendalami lebih lanjut

bagaimana sesungguhnya mekanisme penafsiran, pemahaman, perumusan,


pemilihan, pengambilan kesimpulan yang dilakukan oleh seorang, keluarga,
kelompok, organisasi dan institusi keagamaan yang membidangi pemikiran
hukum Islam. Dari sini persoalan muncul. Pertanyaan mendesak seperti
diungkap di depan yang dikemukakakn oleh pendekatan hermeneutic adalah :
mengapa dalam dunia modern sekarang ini terdapat gejala umum yang mudah
sekali ditangkap diberbagai tempat adanya kecenderungan yang kuat oleh
umat beragama, khususnya, Islam untuk mengambil alih begitu saja
kekuasaan (otoritas). Pengarang (Resader) teks-teks atau nas-nas keagamaan?
Dengan mengklaim bahwa pemahaman yang paling relevan dan paling benar
hanyalah keinginan Pengarang (the will of Author), maka dengan mudah
para pembaca (Reader), menggantikan posisi Pengarang (Author) dan
menempatkan dirinya atau lembaganya sebagai satu-satunya pemilik absolut
sumber otoritas kebenaran. Disini lalu terjadi proses perubahan secara instan
yang sangat cepat dan menyolok, yaitu metamorphosis yang menyatunya
Pembaca (The Reader) dan Pengarang (The Author), dalam arti bahwa
Pembaca tanpa peduli dengan keterbatasan-keterbatasan yang melekat dalam
diri dan institusinya menjadi Tuhan (Author) yang tidak terbatas. (Abdullah,
2010: 276-277).
Objek utama hermeneutika adalah teks dan teks adalah hasil atau
produk praksis berbahasa, maka antara hermeneutika dengan bahasa akan
terjalin

hubungan

sangat

dekat.

Dalam

Gadamers

Philoshopical

hermeneutica dinyatakan, Gadamer places language at the core of


understanding. (Raharjo, 2012:33).
Pentingnya keberadaan bahasa bagi kehidupan manusia, sehingga
manusia tidak mungkin berbuat apa-apa tanpa batas. Menurut Gadamer,
bahasa bukan dipandang sebagai sesuatu yang mengalami perubahan,
melainkan sesuatu yang memiliki ketertujuan didalam dirinya. Maksudnya,
kata-kata atau ungkapan tidak pernah bermakna. Kata atau ungkapan selalu
mempunyai tujuan (telos) . tanpa kita sadari seringkali kita menghirup

berbagai macam bahasa seperti; bahasa puisi, hukum, dsb. Di sinilah letak
perbedaan antara pemakaian bahasa sebagai bahasa ibu dengan seorang yang
berusaha untuk dapat berbicara dengan bahsa yang sama. (Sumaryono, 1999:
27)
Hermeneutika merupakan ilmu untuk memahami atau mengerti makna
tersebut. oleh karena itu menurut Gadamer memahami itu artinya memahami
melalui bahasa (Rahardjo, 2012: 35). Dengan begitu tampaknya bahasa
memiliki realitas obyektif tersendiri, karena maknanya tidak dapat ditemukan
secara efektif dan sepihak, baik oleh author (pengarang) maupun oleh
pembaca (reader). Ketika seorang atau sekelompok menggunakan perantara
bahasa sebagai media komunikasi, dialog untuk menuangkan buah pikiran,
secara otomatis mereka harus memahami keterbatasan-keterbatasan yang
melekat di dalamnya.
B) Langkah Paradigma dan Metodologis
Pemakaian istilah hermeneutika dalam kajian interpretasi pada dunia
islam adalah sesuatu yang baru dan tidak terbiasa dalam kerjasama tradisional.
Tidak adanya istilah yang definitive bagi bermeneutika dalam disiplin ilmu
Islam klasik dan tidak digunakannya dalam skala yang berarti dalam kajian
Al-Quran tidak berarti bahwa paham hermeneutika yang definitive atau
pemberlakuannya dalam kajian Al-Quran yang tradisional atau disiplin yang
lainnya itu tidak ada. (Hasyim, 2008:142) Dalam tradisi pemikiran Islam tidak
se-semarak dalam tradisi Kristen dan Yahudi. Kenyataan ini khususnya
berlaku pada masa Nabi dan sahabat. Pada masa itu pemahaman dan
pengalaman agama atas dasar pijakan hermeneutika belum sepenuhnya di
kenal.
Setidaknya ada dua faktor utama yang menyebabkan keringnya
diskursus hermeneutis dalam pemikiran Islam klasik, khususnya periode Nabi
dan Sahabat, persoalan penafsiran Al-Quran sangat terkait dengan kenabian
Muhammad.

Dalam

posisi

ini

Muhammad

tidak

hanya

berfungsi

menyampaikan pesan Tuhan yang berwujud Al-Quran, namun Ia berfungsi


sebagai penafsir otoritatif dengan Al-Hadis sebagai bentuk formulanya.
Kedua; faktor kesadaran umat Islam saat itu yang masih kental dengan
argument-argument

dogmatis

ketimbang

penalaran

kritis.

Mereka

mempercayai saklaritas Al-Quran yang secara literal berasal dari Allah dan
karena itu membacanya merupakan ibadah. Implikasinya penafsiran literal
terhadap ayat-ayat Al-Quran merupakan langkah populer yang dilakukan
umat Islam dalam memahami kandungan Al-Quran dan mereka memerlukan
perangkat metodologis hermenutika dalam memahami Al-Quran. (Supena,
2008:29-30)
Adalah Hasan Hanafi-lah yang pertama kali memperkenalkan
Hermeneutika pada dunia pemikiran Islam dalam bukunya yang berjudul:
Les MethodesdExeges, Essai sur La Science des Fordements de la
ComprehesionIlm Usul al-Fiqh pada tahun 1965(Muzairi, 2003:60). Selain di
mesir, seperti Hasan Hanafi, Muhammad Abduh dan Nashr Hamid Abu Zayd
sendiri, tokoh Islam yang menggeluti kajian Hermeneutika antara lain : di
India, Ahmad Khan, Amir Ali dan Ghulan Ahmad Parves, yang berusaha
melakukan

demitologisasi

konsep-konsep

dalam

Al-Quran.

Lalu

Fazlurrahman yang merumuskan Hermeneutika semantic terhadap Al-Quran,


dan kemudian dikenal; sebagai double movement. (Faiz,2005: 14-15)
Di Indonesia, antara lain M. Amin Abdullah, seorang professor di
Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta yang dikenal cukup gigih dan
rajin memperjuangkan penggunaan Hermeneutika dalam penafsiran AlQuran. Ia banyak menulis kata pengantar dalam buku-buku Hermeneutika
Al-Quran antara lain Hermeneutika Pembebasan, Hermeneutika AlQuran, Tema-tema Kontroversial, dan Hermeneutika AlQuran, Mazhab
Yogya. Ia menyatakan bahwa Hermeneutika adalah sebuah kebenaran yang
harus

disampaikan

kepada

dunia

Islam,

meskipun

banyak

yang

mengkritiknya. Ia pun banyak mengkritisi metode tafsir klasik, (Faiz,


2005:XV)

Lebih lanjut , farid Esack ingin memperlihatkan Hermenutika yang


identik dengan konsep tafsir klasik, dalam tiga hal: 1) penafisr yang
manusiawi, yang membawa muatan-muatan kemanusiaan masing-masing,
dan pada akhirnya memproduksi komentar-komentar subjektif terhadap
penafsirannya, 2) penafsiran yang tidak dapat lepas dari bahasa, budaya dan
tradisi, dan 3) teks yang bernuansa sosio-historis, sehingga tidak lagi unik.
Faiz (2005: 16-20) yang mengutip perspektif ini menyimpulkan bahwa
penafsiran dengan teori ini dapat dinilai merupakan representasi dari model
Hermeneutika filosofis murni Gadamerian. Yang terbagi dalam tiga titik pusat
dalam hermeneutika Gadamer, yakni pengarang (author), teks (text), dan
pembaca (reader). (Silverman, 199: 18). Ketiga horizon inilah yang nantinya
akan di gunakan untuk berdialog sehingga dapat memahami (menafsirkan)
sebuah teks;
1. Horizon Teks
Abu Zaid (1990: 9) mengatakan bahwa peradaban mesir kuno
adalah metafisika, peradaban yunani adalah Nalar Sejarah peradaban arab
Islam adalah sejarah peradaban teks (Khadarat al-nash) artinya, itu
merupakan peradaban yang dasar-dasar keilmuan dan peradabannya
muncul dan berdiri atas prinsip yang tidak memungkinkan untuk
melupakan sentralitas teks.
Oleh karena itu pendekatan hermeneutika bahasa sangat penting
bagi kehidupan manusia. Manusia dapat melakukan aktivitas seperti
menulis, membaca dan berfikir tidak lepas dari bahasa. Demikian juga
dengan Al-Quran bahasa (teks) menjadi salah satu faktor penting dalam
memahami Al-Quran maupun hadis, sebab bahasa (teks) menjadi salah
satu faktor penting dalam memahami Al-Quran maupun hadis, sebab
bahasa (teks) merupakan satu-satunya yang digunakan untuk menyapa
pembacanya. Al-Quran

menggunakan

bahasa

arab

sebagai

alat

komunikasi yang dipakai. Oleh karena itu dari sudut teks ini terdapat tiga
aspek yang harus di pahami, yakni : pertama, dalam teks maksudnya, ide

dan maksud teks tersebut lepas dari pengarang. Kedua, di belakang teks,
teks merupakan hasil kristalisasi linguistik dari realitas yang mengitarinya.
Ketiga, di depan teks, makna baru yang tercipta setelah pembaca dengan
horizon yang dimilikinya untuk memahami teks tersebut.
2. Horizon Pengarang
Ketika pengarang (Author) Al-Quran adalah Tuhan yang
transenden dan ahistoris maka ia diwakili oleh Muhammad SAW. Yang
diyakini umat Islam sebagai penafsir otoritatif atas Al-Quran. Relasi
Muhammad dan Al-Quran dengan relasi historis ini dapat dilihat
beberapa hal berikut. Pertama tema-tema yang diusung Al-Quran seperti
doktrin monoteisme, keadaan sosial ekonomi, merupakan bagian
pengalaman religious Muhammad yang orisinil. Kedua reformasi yang
dilakukan nabi selalu dimulai dengan mempersiapkan dahulu landasan
yang kuat sebelum memperkenalkan suatu tindakan atau perubahan yang
besar. Ketiga Al-Quran selalu mempunyai konteks sosial (asbab alnuzul). Karena Muhammad hidup dan berinteraksi dengan masyarakat
Arab, maka menjadi keharusan bagi penafsir yang ingin memahami AlQuran untuk memahami pula dimensi historis-sosiologis yang menyertai
masyarakat arab. Dari nasari tersebut ada proses terciptanya sebuah teks;
a)

tahapan

(Prafigurasi),

pengalaman
b)

ketika

atau

gagasan

author

mulai

yang

belum

termasukan

menciptakan

gagasannya

(Konfigurasi), c) tahap teks yang sudah di ciptakan dan di tafsiri banyak


orang (Transfigurasi).
3. Horizon Pembaca
Selain situasi sosial pada masa Nabi, situasi sosial masyarakat
kontemporer, yang mempengaruhi horizon pembaca, juga merupakan hal
yang penting untuk dipahami penafsir. Penafsir harus menguasai dimensi
yang membentuk situasi masyarakat kontemporer tersebut, baik ekonomi,
politik, kebudayaan maupun yang lain, lalu menilainya dengan

mengubahnya sejauh yang diperlukan baru kemudian menentukan


prioritas-prioritas baru untuk bisa menerapkan Al-Quran secara baru pula.
Pendekatan hermeneutika, umumnya membahas pola hubungan segitiga
(triadic) antara teks, si pembuat teks, dan pembaca (penafsir teks). Dalam
hermeneutika, seorang penafsir (hermeneut) dalam memahami sebuah
teks, baik itu teks kitab suci maupun teks umum tidak sekedar melihat apa
yang ada pada teks, tetapi lebih kepada apa yang ada dibalik teks.
(www.yudani.com)
Menurut Joseph Bleicher dalam bukunya Contemporarry
Hermeneutic: Hermeneutic as method philosophi and critique Paling
tidak hermeneutika dapat dipilih dalam tiga kategori: sebagai filsafat,
sebagai kritik, dan sebagai teori. Pertama Hermeneutika Teoritis. Adalah
bentuk hermenutika yang menitik beratkan kajiannya pada problem
pemahaman yakni bagaimana memahami dengan benar. Oleh karena itu
tujuannya memahami secara obyektif maksud penggagas, makna
hermeneutika model ini dianggap juga hermeneutika romantic yang
bertujuan mengkontruksi makna. Kedua filsafat, Hermeneutika tumbuh
sebagai aliran pemikiran yang menempati lahan-lahan strategis dalam
diskursus filsafat. Problem utamanya bagaimana tindakan memahami itu
sendiri. Hermeneutika ini di gagas oleh Gadamer, menurut Gadamer
hermenutika berbicara tentang watak interpretasi, bukan teori interpretasi.
Ketiga kritik, hermenutika memberi reaksi keras terhadap berbagai asumsi
idealis yang menolak pertimbangan ekstralinguistik sebagai faktor penentu
konteks pikiran dan aksi. Ini dimotori oleh Habermas.
Habermas menyatakan bahwa pemahaman adalah suatu kegiatan di
mana pengalaman dan pengertian teoretis berpadu menjadi satu.
Pemikiran ini yang menyebabkan hermeneutika dan bahasa mendekati ciri
metodis, sehingga sangat relevan untuk diangkat menjadi metode
hermeneutika bagi penelitian-penelitian kualitatif dewasa ini.

Pengalaman

hermeneutik

melibatkan

tiga

kelas

ekspresi

kehidupan, yaitu : linguistik, tindakan dan pengalaman. Tentang linguistik


Habermas mengatakan bahwa ekspresi atau ungkapan dapat sama sekali
dipisahkan dari konteks kehidupan konkret jika tidak berhubungan dengan
bagian-bagian khusus dalam konteks tersebut.
Dalam hal ini ekspresi linguistik muncul dalam bentuknya yang
absolut, yaitu menggambarkan pemahaman monologis. Hal ini juga akan
menimbulkan jurang pemisah antara apa yang diungkapkan dengan apa
yang dimaksudkan, dan jurang pemisah baru akan ditutup bila hermenutik
atau interpretasi bekerja. (Kaelan, 1998 : 223)

ANALISIS FILM LEONARDO DA VINCI


HERMENETIK 1: SEUNIERE
Pada suatu malam, Jacques Sauniere, kurator Museum Louvre, Paris, ditemukan tewas
dalam posisi telanjang bulat, kedua tangan dan kakinya terentang; mengingatkan orang yang
melihatnya terhadap sebuah sketsa terkenal karya Leonardo Da Vinci, the vitruvian man. Dengan
darahnya, Sauniere menggambar simbol pentakel/pentagram di perutnya. Dengan pena khusus
yang hanya dapat dibaca dalam gelap menggunakan sinar ultra-violet, Sauniere meninggalkan
pesan khusus, empat baris:
13-3-2-21-1-1-8-5
O, Draconian devil!
Oh, lame saint!
P.S. Cari Robert Langdon.
Jelas Sauniere memberikan pesan khusus, yang berupa kode dan simbol bagi orang
tertentu menjelang kematiannya karena dibunuh oleh silas. Pesan itu sebenarnya ditujukan untuk
cucunya, Sophie Neveu, yang kebetulan bekerja di kepolisian sebagai kriptolog (ahli pemecah
kode). Dari pesan menjelang kematian Sauniere inilah yang mempertemukan Sophie dengan

Robert Langdon, seorang simbolog (ahli mengenai simbol-simbol) Amerika dari Universitas
Harvard yang hari itu datang ke Paris untuk suatu seminar, dan rencananya malam itu ia akan
bertemu dengan Sauniere. Namun, kurator museum Louvre itu keburu meninggal. Kedua tokoh
utama novel ini, Sophie dan Langdon, akhirnya menemui sejumlah kodekode yang mengarah
akan keberadaan suatu kelompok rahasia yang bernama Priory of Sion (dimana Sauniere menjadi
grand masternya) dan mengungkap sejumlah misteri, termasuk kodekode dalam lukisan Da
Vinci. Ironisnya, Sophie dan Langdon malah dituduh oleh polisi sebagai pembunuh Sauniere
sehingga mereka diburu hingga ke Inggris. Sauniere merupakan tokoh kunci dari kelompok Sion
yang dibunuh oleh Silas dari organisasi Katolik, Opus Dei. Kelompok Opus Dei sebetulnya
diperalat oleh tokoh antagonis yang bernama Sir Leigh Teabing, sahabat lama Langdon; tokoh
yang berhasrat untuk mengungkap sejumlah misteri yang dijaga rapat-rapat oleh kelompok Sion
selama beberapa milenium, suatu misteri yang bila terungkap semua akan mendatangkan suatu
kontroversi terhadap versi sejarah dunia. Kedok kejahatan Teabing akhirnya terungkap di bagian
akhir cerita film.
HERMENEUTIK 2: MISTERI LUKISAN-LUKISAN LEONARDO DA VINCI
Sauniere tewas dengan meninggalkan pesan terselubung: posisi tubuhnya membentuk the
vitruvian man, perutnya dilukis dengan pentakel/pentagram (simbol Venus, dewi kesuburan),
dan rangkaian tulisan cakar ayam:
13-3-2-21-1-1-8-5
O, Draconian devil!
Oh, lame saint!
P.S. Cari Robert Langdon.
Angka 13-3-2-21-1-1-8-5 merupakan angka yang sengaja diacak oleh Sauinere yang
sebetulnya berupa 1-1-2-3-5-8-13-21, suatu deret yang terkenal dengan angka Phi atau
Phibonachi, angka misteri kehidupan yang tidak dapat diuraikan dalam tulisan ini mengingat
berbagai keterbatasan. Angka ini dipakai oleh Sophie sebagai password guna membuka warisan
kakeknya di Bank Zurich cabang Paris yang ternyata berupa kotak berhiaskan bunga mawar
yang berisi sejumlah rangkaian pesan rahasia dalam tabung cryptex.

O, Draconian devil! dan Oh, lame saint! merupakan suatu anagram dari Leonardo da
Vinci! dan The Mona Lisa!. Robert Langdon, Mona Lisa sebetulnya tidak menggambarkan
tokoh seorang perempuan. Dengan merendahkan daerah dalam di sebelah kiri, Da Vinci
membuat Mona Lisa tampak lebih besar jika dilihat dari sebelah kiri daripada sebelah kanan.
Lebih lanjut pada film tersebut Robert Langdon berkata Da Vinci meninggalkan
petunjuk penting bahwa lukisan itu seharusnya memang androgini. Ada yang pernah mendengar
dewa Mesir bernama Amon (Dewa kesuburan lelaki)? ... Dan tahukah Anda siapa pasangan
Amon? Dewi kesuburan Mesir? ... Isis, yang pictogram kunonya pernah disebut Lisa. Jadi,
Mona Lisa berasal dari AMON LISA; sebuah anagram dari kesatuan dewa-dewi. Itulah rahasia
kecil Da Vinci, dan alasan dari senyum Mona Lisa yang terkenal itu.
Madonna Of the Rocks, bayi, kemungkinan itu Bayi Yesus. Di depan Maria, duduk Uriel,
juga dengan seorang bayi, kemungkinan adalah Bayi Yohanes Pembaptis. Anehnya, tidak seperti
skenario biasa, yaitu Yesus memberkati Yohanes, di sini Bayi Yohanes-lah yang memberkati
Bayi Yesus dan Yesus tunduk kepada otoritas Yohanes! Yang lebih mengganggu, Maria
menahan satu tangannya jauh di atas kepala Bayi Yohanes dan membuat gerakan mengancam
yang disengaja jemari Maria tampak seperti cakar elang, mencengkeram kepala yang tak terlihat.
Akhirnya, gambar yang paling menakutkan dan jelas: tepat di bawah jemari Maria yang
melengkung, Uriel membuat gerakan memotong dengan tangannya, seolah mengiris leher dari
kepala tak terlihat yang dicengkeram Maria itu.
Lukisan Da Vinci lain yang dipaparkan interpretasinya dalam film ini yaitu The Last
Supper, yang mengisahkan adegan Perjamuan Terakhir Yesus dengan kedua belas muridnya
sebelum Yesus disalib. Saat itu Yesus mengumumkan bahwa salah satu dari mereka akan
mengkhianati-Nya. Lewat suara tokoh Teabing, tokoh ahli sejarah mengenai Sion berkebangsaan
Inggris yang tinggal di Paris inilah interpretasi mengenai Perjamuan Terakhir itu dideskripsikan.
Berikut ini kutipannya pembicaraan antara Teabing dan Sophie yang ditemani Langdon.
Di mana Yesus duduk? tanya Teabing.
Di tengah.
Bagus. Apa makanan yang disantap Yesus dan para murid-Nya?
Roti. Jelas.
Bagus sekali. Dan apa minumnya?
Anggur. Mereka minum anggur.

Hebat. Dan satu pertanyaan final. Berapa banyak gelas anggur di atas meja?
Sophie berhenti sejenak, menyadari bahwa ini pertanyaan menjebak. Dan setelah makan malam,
Yesus mengambil secangkir anggur, berbagi dengan para murid-Nya. Satu cangkir, katanya.
Cawan
suci. Mangkuk Kristus. Holy Grail. Yesus membagi-bagikan secawan anggur, sebagaimana
yang
dilakukan kaum Kristen modern pada komunis.
Teabing mendesah. Buka matamu.
Sophie membuka matanya. Teabing menyeringai angkuh. Sophie memandang ke bawah,
ke lukisan itu, melihat dengan takjub bahwa setiap orang di meja itu memegang segelas anggur,
termasuk Kristus sendiri. Tiga belas cawan. Selain itu, cawan-cawan itu tampak kecil, tak
bertangkai, dan terbuat dari kaca. Tak ada satu pun cawan sesungguhnya dalam lukisan itu. Tiada
Holy Grail.
Teabing Tidakkah sedikit aneh menurutmu, mengingat bahwa baik Alkitab dan legenda
kita yang lazim tentang Holy Grail merayakan momen ini sebagai kemunculan pasti dari Holy
Grail. Anehnya, Da Vinci tampak lupa untuk melukis Cawan Kristus.
Tentu saja para sarjana seni telah mencatat hal ini.
Kau akan terkejut jika mengetahui berbagai anomali yang dicakupkan Da Vinci dalam lukisan
ini, yang kebanyakan sarjana tak melihatnya atau sekedar memilih untuk mengabaikannya.
Gambar ini,
sesungguhnya, adalah kunci keseluruhan misteri Holy Grail. Da Vinci membentangkan
semuanya secara
terbuka dalam The Last Supper.
Sophie mengamati itu dengan bersemangat. Apakah lukisan ini mengatakan kepada kita apa
Holy Grail itu sesungguhnya?
Bukan apa, bisik Teabing. Tapi siapa dia. Holy Grail bukanlah sebuah benda. Sesungguhnya,
Holy Grail adalah seseorang
Percakapan mereka berlanjut,
Tunggu dulu, kata Sophie. Kau bilang Holy Grail itu perempuan. The Last Supper adalah
lukisan tiga belas lelaki.
Benarkah? Teabing mengangkat alisnya. Coba lihat dengan lebih teliti.

Dengan tidak yakin, Sophie mendekati lukisan itu, mengamati tiga belas tokoh di dalamnya
Yesus Kristus di tengah, enam murid di sebelah kiri-Nya, dan enam murid lain di sebelah kananNya.
Mereka semua lelaki, jelas Sophie.
Oh? kata Teabing. Bagaimana dengan yang duduk di tempat kehormatan, di sebelah kanan
the
Lord?
Sophie memeriksa tokoh yang duduk tepat di sebelah kanan Yesus. Dia memusatkan
perhatiannya pada tokoh tersebut. Ketika dia mempelajari wajah dan tubuh tokoh itu, gelombang
kekaguman menerpanya. Tokoh tersebut berambut merah tergerai, kedua lengan lembutnya
terlipat, dan dadanya memberi isyarat. Tidak diragukan lagi itu perempuan.
Itu perempuan! seru Sophie.

Siapa dia?
Itu, jawab Teabing, adalah Maria Magdalena.
Sophie menoleh. Pelacur itu?
Teabing terkejut, seolah dunia baru saja menyayat perasaannya. Magdalena bukan seperti itu.
Konsepsi yang salah itu merupakan warisan dari kampanye negatif yang disebarkan oleh Gereja
awal. Gereja harus menghapus nama Maria Magdalena untuk menutupi rahasia yang berbahaya
perannya sebagai Holy Grail.
Peran-nya? tanya Sophie
Seperti yang kusebutkan tadi, Teabing menjelaskan. Gereja ketika itu harus meyakinkan
dunia bahwa nabi yang dapat mati itu, Yesus, adalah seseorang yang memiliki sifat Tuhan.
Karena itu, segala ajaran yang menjelaskan aspek keduniaan dari kehidupan Yesus harus
dihilangkan dari Alkitab. Celaka bagi para editor terdahulu itu, satu tema keduniaan yang sangat
mengganggu terus berulang dalam injil. Maria Magdalena. Teabing terdiam sejenak. Lebih
khusus lagi, pernikahannya dengan Yesus Kristus.
Maaf? Mata Sophie mengarah ke Langdon, kemudian kembali ke Teabing.
Ini menurut catatan sejarah, kata Teabing, dan Da Vinci jelas sangat tahu kenyataan itu. The
Last Supper secara khusus berseru kepada penikmat lukisan bahwa Yesus dan Maria adalah
pasangan suami istri.

Dengarlah, Teabing berkata, ini pengungkapan terbesar dalam sejarah manusia. Tidak saja
Yesus menikah, tetapi Dia juga seorang ayah. Maria Magdalena adalah Cawan Suci. Dia adalah
cawan itu, yang mewadahi garis keturunan bangsawan Yesus Kristus [keturunan Keluarga
David]. Magdalena adalah rahim yang mengandung garis keturunan itu, dan anggur tempat buah
suci itu tumbuh!
Sophie merasa merinding pada lengannya. Tetapi rahasia sebesar itu ditutupi selama ini?
Ya Tuhan! seru Teabing. Garis keturunan Yesus Kristus merupakan sumber dari legenda yang
paling masuk akal selama ini Holy Grail. Cerita Magdalena telah diteriakkan dari atap-atap
rumah selama berabad-abad dengan berbagai metafora dan bahasa. Cerita Magdalena ada di
mana-mana, begitu kau membuka matamu.
Dan dokumen sangreal? kata Sophie. Apakah dokumen-dokumen itu berisi bukti bahwa
Yesus punya keturunan?
Memang.
Jadi seluruh isi legenda Holy Grail adalah tentang darah biru?
Nyaris secara harfiah, kata Teabing. Kata Sangreal berasal dari San Greal atau Holy Grail.
Tetapi dalam bentuk tertuanya, kata Sangreal dibagi menjadi dua kata, Teabing lalu menulis di
atas secarik kertas dan memberikannya kepada Sophie. Sophie membaca apa yang ditulis
Teabing. SANG REAL Langsung Sophie mengenali terjemahannya. Sang Real secara harfiah
berarti Darah Bangsawan
Berdasarkan observasi yang kami lakukan terhadap film Da Vinci Code kami
menemukan dan berpendapat bahwa Hermeneutika yang digunakan oleh Langdon adalah
Hermeneutika Teoritis, yang artinya Langdon menitikberatkan pada pemahaman dan dia
mencoba memahami secara obyektif maksud pesan dari Seuniere yaitu tulisan dalam bentuk
anagram dan criptex yang ia buat sebelum menghembuskan nafas terakhir. Dan Langdon
mencoba memahami terhadap masalah yang terjadi dalam hal ini Robert Langdon berhasil
menemukan dan mengungkap maksud dari pesan Seuniere yang menuntun Robert Langdon dan
Sophie kepada misteri lukisan Da Vinci Code yang dimulai dari monalisa, madona of the rock
dan the last sappher. Pada akhirnya Langdon menemukan pemahan dan fakta bahwa Maria
Magdalena adalah istri Yesus dan Yesus mempunyai keturunan.

Referensi
http://mamdoh.staff.unimus.ac.id/files/2013/02/PENDEKATAN-HERMENEUTIKA.pdf.
Diakses pada tanggal : 13-April-2015
https://asyroff.wordpress.com/al-quran/heurmenetika-al-quran/ . Diakses pada tanggal : 15-April2015
http://skripsimahasiswa.blogspot.com/2011/10/pendekatan-dan-aliran-hermeneutika.html
Diakses pada tanggal : 15-April-2015
https://www.scribd.com/doc/165978657. Diakses pada tanggal : 15-April-2015