Anda di halaman 1dari 5

Reaksi enzimatis merupakan suatu reaksi dengan menggunakan

penambahan katalis enzim. Enzim berfungsi untuk mempercepat suatu


reaksi kimia organik. Salah satu faktor yang mempengaruhi kerja dari enzim
adalah konsentrasi, yaitu baik dari konsentrasi enzim itu sendiri maupun dari
konsentrasi substrat. Berdasarkan data hasil percobaan pada pengaruh
konsentrasi enzim terhadap perombakan suatu substrat. Diketahui bahwa
semakin besar konsentrasi enzim yang ditambahkan menunjukkan warna
yang berbeda pada setiap tabung. Pada uji warna dengan menggunakan
metode uji iodium yaitu Identifikasi warna dari tabung pertama sampai
ketiga yaitu kuning kecoklatan, coklat muda, dan coklat tua. Sedangkan
pada uji benedict menunjukkan bahwa terbentuk endapan dengan warna
endapan yang berbeda dari tabung satu sampai tabung tiga, yaitu endapan
coklat muda, coklat kuning, dan coklat tua. Jadi, dapat dijelaskan bahwa;
Pada konsentrasi substrat tertentu, bertambahnya konsentrasi enzim secara
bertingkat menaikkan kecepatan reaksi enzimatis. Dengan kata lain, semakin
besar volume atau konsentrasi enzim, semakin tinggi pula aktivitas enzim
dalam memecah substrat yang dikatalisis. Pada percobaan uji pengaruh
konsentrasi substrat terhadap aktivitas enzim, dengan uji iodium kurang
memberikan warna yang jelas pada masing-masing tabung. Karena
pereaksianya dengan menggunakan plat tetes. Sedangka pada uji benedict
perbedaan adanya endapan dan warna yang diberikan cukup memberikan
gambaran yang jelas yaitu dari tabung pertama sampai yang keempat
endapan yang terbentuk berturut-turut yaitu endapan berwarna hijau, coklat
kehijauan, coklat muda, dan merah bata. Dari hasil percobaan tersebut
penambahan substrat dengan konsentrasi berbeda pada konsentrasi enzim
yang sama masih menunjukkan aktivitas enzim yang normal. Sedangkan
Pada literatur Bila jumlah enzim dalam keadaan tetap, kecepatan reaksi akan
meningkat dengan adanya peningkatan konsentrasi substrat. Namun, pada
saat sisi aktif semua enzim bekerja,penambahan substrat tidak dapat
meningkatkan kecepatan reaksi enzim lebih lanjut. Kondisi ini disebut
konsentrasi substrat pada titik jenuh atau disebut dengan kecepatan reaksi
telah mencapai maksimum (V max)
SIMPULAN
Bertambahnya konsentrasi enzim secara bertingkat menaikkan kecepatan reaksi enzimatis.
Dengan kata lain, semakin besar volume atau konsentrasi enzim, semakin tinggi pula aktivitas
enzim dalam memecah substrat yang dikatalisis. Bila jumlah enzim dalam keadaan tetap,
kecepatan reaksi akan meningkat dengan adanya peningkatan konsentrasi substrat. Namun, pada
saat sisi aktif semua enzim bekerja, penambahan substrat tidak dapat meningkatkan kecepatan
reaksi enzim lebih lanjut. Kondisi ini disebut konsentrasi substrat pada titik jenuh atau disebut
dengan kecepatan reaksi telah mencapai maksimum (V max).

PENDAHULUAN Enzim adalah biomolekul berupa protein yang berfungsi sebagai katalis
(senyawa yang mempercepat proses reaksi tanpa habis bereaksi) dalam suatu reaksi kimia
organik. Molekul awal yang disebut substrat akan dipercepat perubahannya menjadi molekul lain
yang disebut produk. Jenis produk yang akan dihasilkan bergantung pada suatu kondisi/zat, yang
disebut promoter. Semua proses biologis sel memerlukan enzim agar dapat berlangsung dengan
cukup cepat dalam suatu arah lintasan metabolisme yang ditentukan oleh hormon sebagai
promoter. Enzim bekerja dengan cara bereaksi dengan molekul substrat untuk menghasilkan
senyawa intermediat melalui suatu reaksi kimia organik yang membutuhkan energi aktivasi lebih
rendah, sehingga percepatan reaksi kimia terjadi karena reaksi kimia dengan energi aktivasi lebih
tinggi membutuhkan waktu lebih lama. Sebagian besar enzim bekerja secara khas, yang artinya
setiap jenis enzim hanya dapat bekerja pada satu macam senyawa atau reaksi kimia. Hal ini
disebabkan perbedaan struktur kimia tiap enzim yang bersifat tetap. Sebagai contoh, enzim amilase hanya dapat digunakan pada proses perombakan pati menjadi glukosa. Tanpa enzim
maka reaksi seluler berlangsung sangat lambat bahkan mungkin tidak terjadi
reaks. Dalam mengkatalis suatu reaksi enzim ribuan didalam sel dan
substratnya sangat spesifik tidak akan terjadi kekeliruan. Subsrat adalah
substansi yang mengalami perubahan kimia setelah becampur dengan
enzim sedangkan produk adalah substansi baru yang terbentuk setelah
reaksi mencapai keseimbangan
Kerja enzim dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama adalah substrat, suhu, keasaman,
kofaktor dan inhibitor. Tiap enzim memerlukan suhu dan pH (tingkat keasaman) optimum yang
berbeda-beda karena enzim adalah protein, yang dapat mengalami perubahan bentuk jika suhu
dan keasaman berubah. Di luar suhu atau pH yang sesuai, enzim tidak dapat bekerja secara
optimal atau strukturnya akan mengalami kerusakan. Hal ini akan menyebabkan enzim
kehilangan fungsinya sama sekali. Kerja enzim juga dipengaruhi oleh molekul lain. Inhibitor
adalah molekul yang menurunkan aktivitas enzim, sedangkan aktivator adalah yang
meningkatkan aktivitas enzim. Banyak obat dan racun adalah inihibitor enzim.
Pada tabung pertama, ketika 1 ml enzim direaksikan dengan 5 mlsusu sebagai
substratnya tanpa ditambah air pada suhu 37 o
maka terjadi penggumpaland a l a m w a k t u 3 , 5 2 m e n i t ( s a n g a t c e p a t ) . P a d a
t a b u n g k e d u a , k e t i k a 0 , 5 m l e n z i m direaksikan dengan 5ml susu dan ditambahkan
air sebanyak 0,5 ml pada suhu yang samamaka waktu penggumpalan adalah 5,16 menit (cepat).
Sedang pada tabung ketiga, ketika0,25 ml enzim direaksikan dengan 5 ml susu dengan
ditambahkan air sebanyak 0,75 ml pada suhu yang sama maka waktu penggumpalan
adalah 7,06 menit (lambat). Ketiga perlakuan ini telah membuktikan bahwa
jecepatan reksi enzim sangat dipengaruhi oleh k o n s e n t r a s i e n z i m i t u s e n d i r i
p a d a k o n s e n t r a s i s u b s t r a t y a n g s a m a d a n s u h u y a n g optimum
Pengaruh konsentrasi substrat terhadap kecepatan reaksi enzim
p a d a p e r l a k u a n I d e 3 n g a n menggunakan susu sebanyak 5 ml
sebagai substrat dan 1 ml ekstrak nanas sebagai enzimdan tanpa
penambahan air pada suhu 37o maka waktu penggumpalannya
adalah 3,32menit (cepat). Pada perlakuan II dengan susu sebanyak 4
ml dan dan enzim yang samayaitu 1 ml dan ditambah dengan air maka
waktu penggumpalannya adalah 3,35 (sedang).Dan pada perlakuan III

dengan susu sebanyak 3 mldengan enzim dan 0suhu yang sama maka
waktu penggumpalannya adalah 4,34 (lambat)
kecepatan kerja enzim juga bertambah dan begitu pula sebaliknya. Namun pada
saatnya,k o n s e n t r a s i s u b s t r a t a k a n m e n g a l a m i t i t i k j e n u h s e h i n g g a w a l a u p u n
k o n s e n t r a s i n y a ditambah hal itu tidak akan mempengaruhi kecepatan kerja enzim.
C.Pengaruh zat antiseptic terhadap kecepatan reaksi enzim
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan pada 5 tabung
d e n g a n perlakuan yang berbeda, yaitu dengan Toulena (tabung I), Chlorofom (tabung II),
Fenol(tabung III), Sublimat (IV), dan Aquades (tabung V). H a s i l d i a t a s
sebetulnya kurang sesuai denga n teori yang ada karena
p a d a dasaranya seharusnya penggumpalan terjadi berurutan dari
tabung I sampai tabung Vdengan waktu yang semakin lama. Hal itu
disebabkan kurang tepatnya pencatatan waktuyang dilakukan pada saat
melakukan praktikum. Yang dapat di tekankan disini adalah bahwa
sebetulnya antiseptik adalah berlaku sebagai inhibit or atau
penghambat kerjaenzim sehingga terjadinya penggumpalan merup[akan
indikator bahwa enzim telah rusak dan tidak dapat bekerja lagi.
PERC 10
Elektroforesis gel merupakan suatu teknik analisis penting dan sangat sering
dipakai dalam bidang biokimia dan biologi molekular. Secara prinsip, teknik
ini mirip dengan kromatografi: memisahkan campuran bahan-bahan
berdasarkan perbedaan sifatnya. Dalam elektroforesis gel, pemisahan
dilakukan terhadap campuran bahan dengan muatan listrik yang berbedabeda (menggunakan prinsip dalam elektroforesis
Gel yang digunakan biasanya merupakan polimer bertautan silang
(crosslinked) yang porositasnya dapat diatur sesuai dengan kebutuhan.
Untuk memisahkan protein atau asam nukleat berukuran kecil (DNA, RNA,
atau oligonukleotida), gel yang digunakan biasanya merupakan gel
poliakrilamida, dibuat dengan konsentrasi berbeda-beda antara akrilamida
dan zat yang memungkinkan pertautan silang (cross-linker), menghasilkan
jaringan poliakrilamida dengan ukuran rongga berbeda-beda. Untuk
memisahkan asam nukleat yang lebih besar (lebih besar dari beberapa ratus
basa), gel yang digunakan adalah agarosa (dari ekstrak rumput laut) yang
sudah dimurnikan.
Beberapa faktor yang mempengaruhi pemisahan komponen pada elektroforesis protein :
1. Densitas muatan molekul - berbeda diantara pH media dan pl molekul.
2. Pengaruh buffer
pH - akan mempengaruhi densitas muatan protein dan akibatnya mempengaruhi tingkat
dan arah pergerakannya
Kekuatan ionik - mempengaruhi tingkat pemisahan

Komposisi - bisa berinteraksi dengan protein menyebabkan perubahan dalam densitas


muatan sebagai contoh ion borak dan glikoprotein.
3. Bentuk dan ukuran molekul
4. media pendukung
Restriksi pada mobilitas
Pengaruh difusi
Elektroendosmosis
Mikro-heterogenitas molekuler spesies
PENDAHULUAN
Kegunaan elektroforesis gel poliakrilamida tidak hanya untuk pemisahanprotein tapi juga dapat
memperkirakan bobot molekul protein. Mobilitas protein didalam gel poliakrilamida terutama
ditentukan oleh muatan molekul dan jugadipengaruhi oleh ukuran molekul. Bobot molekul
protein dapat ditentukan denganpenambahan natrium deodesil sulfat (SDS) yang akan
mendenaturasi struksturprotein menjadi rantai polipeptida dan merkaptoetanol yang membantu
denaturasi dengan mereduksi semua ikatan disulfida. Mobilitas elektroforesis dari
kompleksSDS-protein dipengaruhi oleh ukuran molekul-molekul kecil mobilitasnya lebihbesar
dibandingkan molekul besar dan terdapat hubungan linear antara log BM(Bobot molekul) dari
protein dengan mobilitas elektroforesis. Jika tersedia proteinmarker yang sudah diketahui bobot
molekulnya maka dengan memplotkan nilaimobilitas dari protein sampel, bobot molekul protein
sampel dapat ditentukanberdasarkan kurva hubungan linear tersebut.Pada praktikum
elektroforesis ini akan dilakukan pemisahaan protein denganmenggunakan gel poliakrilamida
dan natrium dodesil sulfat (SDS-PAGE) dariberbagai sampel protein berupa serum hewan juga
akan dilakukan identifikasiprotein dengan mengamati pola pita protein dan menentukan
mobilitas protein sertabobot molekul protein

Elektroforesis merupakan proses bergeraknya molekul bermuatan pada suatu


medan listrik. Kecepatan molekul yang bergerak pada medan listrik tergantung
pada muatan, bentuk dan ukuran. Dengan demikian elektroforesis dapat digunakan
untuk separasi makromolekul (seperti protein dan asam nukleat). Posisi molekul
yang terseparasi pada gel dapat dideteksi dengan pewarnaan atau autoradiografi,
ataupun dilakukan kuantifikasi dengan densitometer.
Elektroforesis untuk makromolekul memerlukan matriks penyangga untuk
mencegah terjadinya difusi karena timbulnya panas dari arus listrik yang
digunakan. Gel poliakrilamid dan agarosa merupakan matriks penyangga yang
banyak dipakai untuk separasi protein dan asam nukleat. Elektroforesis yang
dibahas di bawah ini menggunakan matriks berupa gel poliakrilamida (PAGE = polyacrilamida gel electrophoresis) untuk separasi sampel protein.

Yuwono T. 2005. Biologi Molekuler. Jakarta: Erlangga

BRUCE, A., D. BRAY., J. LEWIS, M. RAFF., ROBERTS dan J.D. WATSON1994.


Biologi Molekuler Sel Mengenai Sel. Edisi kedua PT. GramediaPustaka Utama,
Jakarta
Sumitro, S. B, Fatchiyah, Rahayu, Widyarti, dan Arumningtyas. 1996.
KursusTeknik-Teknik Dasar Analisis Protein dan DNA. Jurusan Biologi
FMIPAUniversitas Brawijaya. Malang
Pratiwi, R. 2001. Mengenal Metode Elektroforesis. Oseana. Volume XXVI. Nomor1.
Balitbang Biologi Laut, Puslitbang Osenologi LIPI, Jakarta