Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebuah kopling yang tidak tetap adalah suatu elemen Mesin yang
menghubungkan poros penggerak, dengan putaran yang sama dalam meneruskan
daya, serta dapat melepaskan hubungan ke dua poros tersebut baik dalam diam
maupun berputar.
Kopling beroda dibelakang motor dan alat ini terpasang pada roda penerus.
Kopling ada beberapa macam, tetapi yang umum digunakan adalah kopling gesek
(plat) dan kopling fluida (otomatis).
Plat kopling duduk pada As kopling dapat berkisar kemuka dan kebelakang
mendekati atau menjauhi roda penerus. Putaran dari As kopling sebenarnya
tergantung dari plat kopling. Plat kopling dibuat dari plat baja tipis yang dimana di
lingkaran tengahnya terdapat tempat duduk pada As kopling yang disebut naf. Di
pinggir lingkaran dari plat baja tipis diberi lapisan yang dibuat dari bahan asbes yang
dijalin dengan memakai kawat-kawat halus.
Untuk memungkinkan mesin dapat hidup dengan lembut dan tidak mati
diperlukan kopling untuk memindahkan tenaga dengan perlahan-lahan. Sesudah
tenaga sebagian besar pindah, maka pemindahan tenaga akan berlangsung tanpa
terjadi slip, maka kopling harus bekerja dengan perlahan tetapi pasti

EKO WIONO 12A1015


1

Agar kendaraan dapat berjalan dengan baik maka diperlukan adanya


perancangan untuk beberapa atau keseluruhan komponen kendaraan tersebut. Dari
salah satu komponen yang penting tersebut adalah perencanaan kopling. Perencanaan
dipilih sebagai tugas mata kuliah Tugas Elemen Mesin II, yang merupakan syarat
mutlak bagi kelulusan pada mata kuliah ini.
Dalam merencanakan kopling faktor keamanan harus diperhitungkan dan
menjadi bahan yang diutamakan karena apabila faktor diabaikan maka kerugian
material dan korban jiwa sangat banyak. Oleh karena itu maka sangat penting bagi
seorang mahasiswa Teknik
Mesin untuk mengetahui proses perencanaan mesin dan bagaimana merencanakan
kopling yang aman dan ekonomis. Melalui tugas ini diharapkan kami dapat
merencanakan kopling yang aman dan ekonomis.

1.2 Pemilihan Jenis Kopling


Kopling berfungsi sebagai sambungan dua buah poros atau sebagai
sambungan poros dengan elemen mesin yang dengan terus menerus atau kadangkadang harus ikut berputar dengan poros tersebut. Elemen mesin seperti itu adalah
puli sabuk, puli tali, dan puli rantai, roda gigi serta tromol. Sehubungan dengan
tujuannya terdapat bermacam-macam prinsip kopling yaitu :
1. Jika harus dibuat suatu sambungan mati dipergunakan kopling lekat.
2. Jika kopling harus menghubungkan gerakan poros yang satu terhadap poros
yang lain dalm arah memanjang sebagai akibat perubahan yang diakibatkan
EKO WIONO 12A1015
2

oleh perubahan temperature dalam arah radial sebagai akibat ketidaktelitian


ketika memasang dan sebagainya maka dipasang kopling yang dapat
bergerak atau yang fleksibel.
3. Suatu sambungan yang mengurangi tumbukan lewat akumulasi kerja dan
melalui kerja dan menjadi kalor dan banyak atau sedikit meredam getaran,
dinamakan kopling elastic, kopling ini sekaligus memiliki keuntungan
kopling fleksibel.
4. Apabila sambungan dapat dibuat bekerja kalau sedang berhenti, tetapi dapat
dilepaskan selama sedang bergerak, maka jenis kopling yang digunakan
adalah kopling yang dapat dilepaskan. Kopling ini biasanya disebut kopling
cakar.
5. Apabila sambungan sembarang waktu selama sedang bergerak harus dapat
dihubungkan dan dilepaskan, maka diperguakan yaitu kopling yang dapat
dihubungkan : kopling gesek, kopling hidrolik, atau kopling induksi
elektromagnetik.
6. Untuk pengerjaan yang berat atau pekerjaan yang peka tehadap dipergunakan
kopling agar aman untuk menhindari tumbukan dalam bagian yang peka
dalam perkakas yang digerakkan atau beban terlampau besar dalam mesin
penggerak, motor dan sebagainya. Untuk belakangan ini juga diterpakan
kopling stater.

EKO WIONO 12A1015


3

1.3 Batasan Masalah


Merujuk dari data teknis yang diperoleh dari lapangan yaitu spesifikasi dari
mobil Mercedes tahun 2001 jenis sedan, maka dalam penulisan kami sebagai penulis
akan meredisain ulang sistem penyaluran tenaga (kopling) pada mobil N dengan
sfesifikasi sebagai berikut :
- Daya (KW dalam rpm)
- Momen Puntir Maksimum(Nm dalam rpm)

EKO WIONO 12A1015


4

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian pokok gerakan kopling


Berdasarkan uraian yang dikemukakan atas tenatang pembagian jenis kopling
maka kita dapat mengetahui bahwa kopling yang digunakan pada mobil adalah
kopling tidak tetap :
Ada empat pokok tahapan gerakan kopling gesek yaitu :
Tahap I, Engagement : dimana bidang permkaan kerja dari kopling ditarik bersamasama dan ditekan poros yang digerakkan dipercepat sehingga mencapai kecepatan
poros penggerak.
Tahap II, Clutch is engaged : Poros bergerak yang digerakkan berotasi dengan
kecepatan yang sama.
Tahap III, Disengagement : Dalam keadaan ini permukaan kerja clutch akan tertarik
sebagian sehingga putaran dari yang digerakkan akan turun dan akhirnya berhenti.
Tahap IV, The clutch is engaged : pada keadaan ini dimana permukaan gesek akan
terpisah oleh suatu clearance dimana poros yang digerakkan tidak berputar lagi,
sedang poros penggerak tetap berputar kontinyu.
Ditinjau dari pokok pokok gerakan kopling gesek, maka yang harus
diperhatikan sewaktu mendesain adalah bentuk dan luas bidang gesek, bahan untuk
bagian bidang gesek dan cara menghubungkan kedua bidang gesek gharus dapat
memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :
EKO WIONO 12A1015
5

a.

Mempunyai Koefisien gesek yang besar, akan tetapi cukup keras tidak
mudah cacat dan tahan terhadap keausan.

b.

Kuat dan tahan panas.Mempunyai koefisien kalor yang tinggi, agar


panas yang ditimbulkan oleh gesekan dapat segera tersalurka.
Apabila pedal kopling di tekan, maka ujung bawah dari pedal kopling

bergerak menarik tuas kebelakang, ujung garpu bagian atas ditarik oleh tuas
sedangkan ujung bawah garpu menekan bantalan tekan. Bantalan tekan menekan jarijari penekan dan jari-jari penekan menarik cincin penekan ke belakang dan pegas
kopling turut mendapat tekanan.
Dengan bergeraknya cincin penekan ke belakang akan terdapat ruang yang
bebas di antara roda penerus dan plat kopling dan diantara plat kopling dan cincin
penekan yang berarti pada saat plat kopling tidak terjepit diantara roda penerus dan
cincin penekan oleh karena plat kopling tidak terjepit, maka plat kopling beserta
Asnya diam dan tidak turut berputar. Bagian yang berputar terus adalah roda penerus,
cincin penekan, pegas kopling dan tutup kopling.
Agar supaya As kopling dapat berputar kembali, pegas kopling harus
dilepaskan dari injakan dan melepaskannya harus dilakukan perlahan-lahan. Oleh
karena pedal kopling tidak mendapat tekanan, maka pegas kopling bekerja kembali
menekan cincin penekan, sehingga As kopling terbawa dalam putaran kembali.
Ketika plat kopling terjepit diantara permukaan roda penerus dan cincin penekan,
keadaan asbes tidak dapat melekat dengan baik pada permukaan sehingga tidak dapat
EKO WIONO 12A1015
6

menghasilkan putaran, terbawahnya plat kopling didalam putaran menjadi tidak


sempurna. Untuk itu plat baja yang terdapat asbes dibelah-belah dan berlahanya di
arahkan ke dalam arah yang berlawanan
Akhirnya ketika plat kopling terjepit, seluruh permukaan asbes dapat
mengenai pada seluruh permukaan roda penerus dan cincin penekan. Untuk
memahami pembagian jenis jenis kopling dapat dilihat sebagai berikut :

2.2 Macam-macam kopling


I). Kopling tetap, terdiri atas :
1. Kopling tetap kaku :
A. Kopling Box :
a. Dengan pasak tirus melintang.
b. Dengan sambungan pasak tanam membujur diberi baut pengaman.
c. Dengan ergigi yang sebelah bersatu dengan porosnya.
B. Kopling Jepit
C. Kopling Flens :
a. Flens biasa
b. Dengan cincin Sentris
c. Yang flensnya ditempa dengan poros.
2. Kopling Fleksibel terdiri atas :
A. Kopling Oldham
EKO WIONO 12A1015
7

B. Gear Kopling
C. Universal Kopling

II). Kopling tidak tetap, teriri atas :


1. Kopling Cakra
2. Kopling Friwil
3. Kopling Kerucut
4. Kopling Gesek (clutch)
Berdasarkan fungsi dari masing masing kopling ini, maka kopling yang
digunakan untuk sebuah mobil adalah kopling gesek (clutch). Fungsi dari suatu
kopling secara umum ialah untuk menhubungkan poros serta meneruskan daya dari
poros penggerek keporos yang digerakkan. Tetapi pada clutch ini kopling dapat
dihubungkan atau dilepaskan dalam keadaan diam atau beoperasi.
Karakteristik dari kopling ini ialah poros-porosnya harus segaris benar, jika
tidak maka efisiensi kopling akan turun dan kopling cepat rusak. Adapun klasifikasi
dari clutch adalah sebagai berikut :
1. Menurut Penyambungan
a. Jaw dan toothead
b. Friction
c. Electromagnetic dan fluid and power

2. Menurut permukaan yang bergerak :


EKO WIONO 12A1015
8

a. Disc
b. Cons
c. Blok
d. Band and Spring
3. Menurut Operasinya :
a. Lever
b. Elektromagnetic
c. Hidroulic.

EKO WIONO 12A1015


9

BAB III
PERENCANAAN POROS

Perencanaan kopling dari mobil MITSUBISHI L 300 PICK UPsebagai berikut :


1. 1. Daya maksimum = 86 Ps. Dimana 1 Ps = 0,985 dk
= 86 X 0,985
= 84 ,71 dk
2. 2. Putaran
= 4200 rpm
3. Torsi maksimun
= 16,2 / 2500 rpm
4. Bahan untuk poros = st 60 (direncanakan)
5. Jenis kopling adalah kopling dengan satu plat gesek.
6. Bahan plat gesek adalah asbestos yang dipres
( direncanakan ) dan
beroperasi kering.
3.1. Perhitungan diameter Momen
1. Momen Puntir pada poros
Mp = 71.620 x N/n
(kg.cm) ...........................(1)
Dimana N = Daya = 86 Ps = 84,71 dk
n = Putaran = 4200 rpm
Mp = 71.620 x

84,71
4200

= 1444,507 kg.cm
2. Perhitungan Momen Gesek
Momen gesek dapat diperoleh dengan rumus :
Mg = Mo1. ...............................................(2)
Dimana : Mo1 = Momen yang direncanakan
Mo1
= Mp.V
V
= 1 6 (faktor keamanan)
Dipilih 3 agar kopling yang dirancang dapat dipergunakan untuk beban
yang besar.
= 1,2 1,5 (faktor engagement)
= 1,4 direncanakan, maka :
Mo1
= 1444,507 x 3,0
= 4333,521 kg.cm
sehingga momen gesek diperoleh :
Mg = 4333,521 x 1,4
= 6066,9294 kg.cm
3. Pemilihan material poros
EKO WIONO 12A1015
10

Oleh karena poros mengalami gaya gesek (menerima gesekan0, maka


sebaiknya material poros yang
digunakan adalah baja St.60 berarti t = 60 kg /mm2 = 6000 kg/cm2.
bolII=t/s ...............................................................(3)
dimana s = Faktor keamanan terhadap batas patah adalah 5 8
direncanakan s = 8, bol II = 6000/8 = 750 kg/cm2.
Sedangakan tegangan geser yang diizinkan yaitu :
bo lI
= bol II / 1,73 .........................................(4)
= 750 / 1,73
= 433,526 kg/cm2
4. Perhitungan diameter poros
Diameter poros dapat dicari dengan :
Dp = [ Mg.s / bol II ]1/3
= [ (60666,9294).5 / 433,526]1/3
= 4,1 cm
dp = 41 mm
Karena adanya pemakaian spie, maka diameter poros harus dengan
normalisasi N 161 (1930) bahwa diameter poros yang digunakan :
dp = 32 mm (normalisasi)
5. Pemeriksaan tegangan geser pada poros.
Material poros dikatakan aman, apabila :
bo lI > r dan bol II > a
dapat dilihat dalam perhitungan sebagai :
a = P/A, dimana : P = Mp / r dan r = 0,5 d = 1444,507/1,77
= 0,5 . 3,55
= 813,806
= 1,775 cm
A = /4 . d2 = 3,14/4 . (3,55)2
= 9,8929
813,806

a = 9,8929 = 82,262
Karena bol II > a terbukti aman terhadap tegangan geser.

EKO WIONO 12A1015


11

3.2. Perhitungan Seplain


Seplain dari poros berfungsi untuk memindahkan atau mentransmisikan daya
plat keporos utama, sehingga momen puntir dari cakra dapat dipindahkan
melalui alur-alur seplain, yang mengakibatkan poros tersebut berputar bersamasama dengan cakra.
Jari-jari rata-rata splain (Rw)
D = dimeter luar
Rw
= (D + d ) .............(7)
dp= dimeter poros
= (4,3827 + 3,55 )
D=dp/0,81..........(6)
= 4,3827
cm
= 3,55/0,81
= 1,983
Karena jumlah splain yang direncanakan adalah sepuluh buah, maka
dapat ditentukan sebagai berikut :
Tinggi splain yang direncanakan
h = 0,095 . D .......................................(8)
= 0,095 . 4,3827
= 0,4163
Lebar splain yang direncanakan
b = 0,156 . D
.......................................(9)
= 0,156 .4,3827
= 0,6837
Diameter rata-rata seplain
Dw = 2 . Rw
= 2 . 1,983
= 3,96 cm
Pemeriksaan kekuatan seplain
Gaya tangensial yang diterima spline
Pr
= Mp / Rw ....................................(10)
= 144,507/1,983
= 728,445
Karena jumlah splain yang direncanakan 10 buah, maka gaya tiap splain :
Pr
= Pt/10= 728,445/10
= 72,8445
sedangkan luas bidang bergesekan dapat ditentukan dengan rumus :
A
= Rw.F.Z.Q .....................................(11)
Dimana :
Rw
= jari-jari rata-rata splain
F
= 0,8 (Dw/Z).L
L (pig splain) = 6 cm
Z
= jumlah splain
= 10 buah
EKO WIONO 12A1015
12

Q
= 0,075
= 0,8 (3,966/10).6
= 1,903 cm2
A
= 1,983 . 1,903 . 10 . 0,075
= 2,8314907 m2
tegangan geser pada setiap splain
B
= Pr/A
= 728,445/2,8314907
= 257,265
Pemilihan bahan seplain
Bahan yang direncanakan st.60 dengan faktor keamanan s=8,
bol II =lebih besar dari tegangan geser yang diterima maka aman untuk desain.
Tegangan tarik tiap soline
F

t =
=

Pr
.................... (14)
Ad
72,8445
=
2,498

29,161 Kg/cm2

Oleh karena tegangan geser yang diterima tiap spline lebih kecil dari pada
tegangan tarik yang diizinkan begitu pula dengan tegangan tarik yang diterima
tiap spline lebih kecil dari pada tegangan tarik yang diberikan, maka desain
tersebut aman.
3.3. Perhitungan plat gesek (KOPLING)
1.

Perhitungan plat gesek


Jumlah plat gesek yang direncanakan adalah 2 buah, sedang material plat
gesek yang digunakan adalah dari asbes.
F = 0,3
(koef . gesek)
P = 2 3 Kg/cm2
Toperasi = 1500-2500C
Mg = f. p. r ....................... (15)
P = p . Ffr ...................... (16)
Ffr = (Luas permukaan yang bergesekan)
= 2.Cm.d.z ................... (17)
b = 0,5 . rm .................... (18)
z = 2 buah (jumlah plat gesek)
maka :
p = p . (rw)2 . z
mg= f . p. . (rw)3 . z
rw = ( mg/f . p. . z)1/3
dimana f = 0,3 ; p dipilih 2kg/ cm2

EKO WIONO 12A1015


13

6066,9294

1/3
rw=
= 11,720676

.0,3.2.2
sedangkan lebar disk yang diperoleh
b = 0,5 rw
= 0,5 . 11,720676
= 5,860338 cm
dimana b = r out rin ................................ (19)
rw = 0,5 (r out =+ r in)
zrw = r out + r in

untuk 2rw

Direncanakan

rin
rout
rin
rout

= 0,6 0,8 ................ (20)


= 0,8

r in

= 0,8 r out

r out

= 2 rw-r in

1,8 r out = 2 rw
r out = 2 rw/1,8
=
r in

2.11,720676
= 13,02297 cm
1,8

= 0,8 . r out
= 0,8 . 13, 02297
= 10,41837 cm

maka :
D out = 2 . r out ........................ (21)
= 2 . 13,02297
= 26,04594 cm
D in = 2 . r in ........................ (22)
= 2 . 10,41837
= 20, 83674 cm
2. Perhitungan berat plat gesek/Kopling
a. Berat asbes
61
= /4 (D out2 D in2) . t . y .... (23)
t
= Tebal plat gesek 0,3 direncanakan
y
= Berat jenis asbes
= 2,1 2,8 gr/cm2
= 2,8 gr/cm2 (direncanakan)
G1
= /4 . (26,04594) 2 ( 20,83674) 2 . 0,2 . 7,8
= 161,039 gr
= 0,161034 kg
b. Berat plat tengah (G3)
G2
= /4 [D out2 D in2] .t . p ....... (24)
EKO WIONO 12A1015
14

t = tebal plat tengah 0,2 direncanakan


p
= 7,8 gr/cm3
G2
= /4 (26,04594) 2 (20,83674) 2 . 0,2 . 7,8
= 299,0733 gr
= 0,2990733
c. Berat poros dan spline (G3)
G3 = /4 . d2 . l . p ......................... (25)
D
= Diameter poros
L
= Panjang poros 25 cm direncanakan
P
= 7,8 gr/cm3
G3 = /4 . (3,55)2 . 25 .7,8
= 1929,1276 gr = 1,9291276 Kg
sehingga berat kopling (Gf) adalah :
Gf = G1 + G2 + G3
= 0,161034 + 0,2990733 + 1,92911276
= 2,3892349 kg
2.
a.

Perhitungan lendutan yang terjadi


Lendutan yang terjadi akibat bobot poros itu
sendiri (G3).
L/2

G3

RA
F1

Wp
=

RB

5.W .L4
384.E.I

Dimana W
L
E

EKO WIONO 12A1015


15

L/2

= berat poros (1,9291276 kg)


= 25 cm
= Modulus Elastis 2.15.106 kg/cm2
.d 4
= momen Inersia
=
64

.3,55 4
64

= 7,796 cm4
maka :
f1

5(1,9291276).25 4
384.2,15.10 6.7,796

= 5,85395.10-4
b.
Lendutan yang terjadi akibat berat plat gesek
dan asbes (G1+G2).
G1+G2
MA

Bila kopling dalam tidak beroperasi, maka keadaannya adalah


terjepit dan beban G1+G2.
f1
= P (L)3 ...........................(27)
3 EI
P
= Berat plat gesek dan asbes
= 0,4601073 kg
f2

0,4601073.253
=
3.2,15.10 6.7,796

= 1,4297.10-4 cm

EKO WIONO 12A1015


16

sedangkan momen yang terjadi (Mo) adalah :


L
P

MA

P ( L / 2) 2
2
0,4601073( 25 / 2)
=
2

MA =

= 35,9458
Reaksi yang terjadi pada tumpuan A dan B.
MA = 0
RB.L-P(L/2)-W(L/2) = 0
RB.25-4,654827025-17,22967213 = 0
RB.25-4,654827025-17,22967213 = 0
RB
= 0,875379
RA sama dengan RB = 0,875379
Lendutan total yang terjadi :
ff
= f1+f2
= 5,85395.10-4 + 1,4297.10-4
= 7,28365.10-4
3. Perhitungan putaran kritis
ncr

1 2/3
] ......................(28)
f tot
1
= 300.[
]2/3
7,28365.10 4

= 300.[

= 9269,261925 rpm
Putaran poros aman apabils
ncr > nd critical
EKO WIONO 12A1015
17

9269,261925 rpm>4200 rpm........putaran poros aman

BAB IV
PERHITUNGAN

4.1 Perhitungan suhu kopling


Suhu kopling yang terjadi pada saat beroperasi sangat menentukan baik dan
buruknya kopling tersebut. Timbulnya temperatur dari kopling dikarenakan
adanya gesekan yang juga menimbulkan power losses. Daya yang hilang ini
timbul menjadi panas dan mengakibatkan temperatur kopling naik.
Q Fw.k (t1-t2) .....................................(29)
Dimana : t= kenaikan temperatur
Q
= luas bidang bergesekan
K
= faktor pemindahan panas. Diambil antara
15-75.
75
.3600.Nfr
427

Q
Nfr

= 632.Nfr
= daya yang hilang

Nfr

Efr

Efr.2
75.3600
Mp.w.t
=
2

1544,507.439,6.2
2

= 2 dtk

2n
60

2.3,14.4200
60

=439,6 rad/s
Z

= 678965,2772 kg cm rad/s
= 6789,652772 kg m rad/s
= kerja kopling /jam
= 20 60 rad/jam (40 dipilih)
6789,652772.40
= 1,00587 dk
75.3600

Nfr

fr

= Fw
= 2 .rw.b.z
= 2 . 3,14 . 11,720676 . 5,860338 . 2

EKO WIONO 12A1015


18

= 862,7102 cm2 = 0,08627102 m2


sehingga toc

632 . Nfr
.fr

632.1,00587

= 75.0,08627102
= 159,2504oC
maka tboC
= 159,2504 + 27
= 186,2504oC
karena temperatur kopling berada dalam interval
temperatur
yang diizinkan yaitu tboC = 150 250oc
..............berarti memenuhi.

4.2. Perhitungan Umur Kopling.


Umur dari kopling tergantung dari pemakaian
apakah kontinu atau terputus-putus.

kopling

itu

sendiri,

Afr.Ek .a
..........................................(32)
Nfr

Ld

Ek

= kerja yang dihasilkan plat gesek (58) diambil 5

Ld

862,7102.5.0,6
1,00587

= 1246,256 jam
Banyaknya penyambungan tiap jam (2060) direncanakan 60 kali waktu
untuk penyambungan 60x4 = 240 dtk. Jika diperkirakan dipakai 14 jam, maka
pemakaian tiap harinya 14x240 = 3360 dttk/hari.
Jadi umur kopling :
Lk

Ld .3600
.........................................(33)
tH
1246,256.3600
=
3360

= 1528,1214 hari
= 4,1866 tahun

EKO WIONO 12A1015


19

4.3 Perhitungan efesiensi kopling


kopling

Nm.Ng
x100%
Nm

Nm
Nm

........................(34)

= daya rata-rata kopling perjam


N max .z (3600 z.t ).N
=
3600
Mp.n
1444,507.4200
=
= 84,71 dk
71620
71620
(84,71.50) 84,71(3600 50 x 2)
=
3600

Nmax =
Maka Nm

= 83,533 dk
sehingga efisiensi kopling adalah :

kopling = Nm Nfr x100%


Nm

83,533 1,00587
x100%
83,533

= 98,796 %

BAB V
EKO WIONO 12A1015
20

PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa fungsi
kopling secara umum adalah untuk menghubungkan poros serta meneruskan daya
dari poros penggerak ke poros yang digerakkan. Pembagian kopling yaitu kopling
tetap dan kopling tidak tetap. Tetapi berdasarkan fungsi dari masing-masing kopling
ini maka kopling yang digunakan untuk sebuah mobil adalah kopling gesek (clutch).
Klasifikasi dari clutch adalah menurut penyambungan, menerut permukaan yang
bergerak, dan menurut operasinya. Sedangkan tahapan gerakan kopling gesek adalah
tahap I engagement, Tahap II clutch is engaged, tahap III Disengagement dan tahap
IV The clutch is engaged

5.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan dalam perancangan kopling ini adalah :
1. Dalam penyusunan perancangan kopling ini hendaknya dilengkapi dengan
data-data yang kita rancang.
2. Pemakaian bahan dalam perancangan hendaknya sesuai dengan kondisi
yang ada.
3. Dalam menetapkan factor keamanan seorang perancang harus teliti
mengamsumsikan kondisi kopling yang akan dioperasikan.

DAFTAR PUSTAKA

EKO WIONO 12A1015


21

Dobrovolsky, Machine Element


Perry, Robert, H, Engineering Manual, Mc. Graw Hill Book Company
Rune, Ir, Zaenab A, Materi Kuliah Elemen Mesin
Ressang, Prof.Dr.Ir.H. Arifuddin, Materi kuliah Mekanika Kekuatan Material I
Stolk, Ir, Elemen Mesin; Elemen Konstruksi dari Bangunan Mesin, 1993, Jakarta,
Erlangga
Sularso, Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin, 1987, Jakarta, PT.
Pradnya Paramita

EKO WIONO 12A1015


22

Anda mungkin juga menyukai