Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH

SISTEM INFORMASI RUMAH SAKIT DAN UPAYA KESEHATAN


PERORANGAN

Diajukan untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah Sistem Informasi Kesehatandosen
pembibimbing Ibu Isniati, SKM, MPH

OLEH :

Chintia Lestari
Citra Ayu Menola

1411216036
1411216067

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS ANDALAS
2014/2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan YME yang memberikan rahmat serta hidayahnya
sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah tentang Sistem Informasi Rumah
Sakit dan Upaya Kesehatan Perorangan.Penulis menyusun makalah ini untuk
memenuhi tugas Sistem Informasi Kesehatan di Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Andalas Padang.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan
telah memberikan bimbingan kepada penulis diantaranya :
1.

Ibu Isniati, SKM, MPH selaku Dosen Mata Kuliah Sistem


Informasi Kesehatan.

2.

Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan Tugas


Makalah tentang Proses Formulasi/Pembuatan Kebijakan.

Penulis menyadari bahwa Tugas Makalah tentang Sistem Informasi Rumah Sakit
dan Upaya Kesehatan Peroranganini jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran
sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalahini dan semoga dapat bermanfaat
untuk penulis khususnya, bagi pembaca pada umumnya.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
1

PENDAHULUAN ...............................................................................................
A. Latar Belakang ...............................................................................................
1
B. Tujuan .............................................................................................................
2

BAB II
3

PEMBAHASAN ..................................................................................................
A. Sistem Informasi Rumah Sakit .......................................................................
3
B. Upaya Kesehatan Perorangan ........................................................................
20

BAB III PENUTUP ...........................................................................................................


25
A. Kesimpulan .....................................................................................................
25
B. Saran ..............................................................................................................
25

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Rumah sakit merupakan satu system/bagian dari system pelayanan kesehatan,
mempunyai 3 pilar otoritas, yang masing-masing bekerja secara otonom namun harus
terkoordinasi dalam sitem tersebut (Djojosoegito, 1985). Ketiga pilar tersebut adalah
pilar pemilik, pilar professional kesehatan dan pilar manajemen. Ketiga pilar tersebut
mempunyai sifat dan karakteristik yang berbeda.
Pilar pemilik adalah subsistem otoritas yang diperlukan dalam kaitannya dengan
harmonisasi kebijakan rumah sakit dengan kebutuhan dan harapan masyarakat. Pemilik
ini bias pemerintah maupun swasta baik bersifat profit maupun non for profit maupun
charity.
Pilar staf professional kesehatan terdiri dari dua unsur utama yaitu sataf
kedokteran dan staf keperawatan, disamping masih banyak staf professional kesehatan
yang lainnya. Staf profesinal ini mempunyai sifat otonom dalam melaksanakan pelayanan
profesionalnya( yang disebut sebagai professional autonomy (Djojosoegito,1997)dalam
rangaka self disciplining dan self developing).Kedua subsistem otoritas diatas
mempunyai sifat dan tata kerja yang berbeda sehingga antara keduanya perlu dilakukan
harmonisasi.
Pilar otoritas ketiga yaitu otoritas manajemen mempunyai kedudukan yang sentral
dalam menyalesaikan dua pilar otoritas yang lain, sekaligus menyelisaikan kerja sama
ketiga pilar tersebut dengan harapan dan kebutuhan masyarakat.
B. TUJUAN
4

1. Mengetahui bagaimana sistem informasi rumah sakit


2. Mengetahui bagaiana upaya pengembangan perorangan

BAB II
PEMBAHASAN
A. SISTEM INFORMASI RUMAH SAKIT
Sistem informasi rumah sakit (SIRS) adalah suatu proses pengumpulan,
pengolahan, dan penyajian data rumah sakit se-Indonesia. Sistem Informasi ini mencakup
semua Rumah Sakit umum maupun khusus, baik yang dikelola secara publik maupun
privat sebagaimana diatur. Hal ini diperlukan agar dapat menunjang pemanfaatan data
yang optimal serta semakin meningkatnya kebutuhan data saat ini dan yang akan datang.
1. Pengertian Sistem Informasi Rumah Sakit
Sistem informasi rumah sakit adalah suatu tatanan yang berurusan dengan
pengumpulan data, pengelolaan data, penyajian informasi, analisa dan penyimpulan
informasi serta penyampaian informasi yang dibutuhkan untuk kegiatan rumah sakit.
Berikut merupakan gambar struktur hirarki dari sebuah sistem informasi
rumah sakit yang terdiri dari input,proses,output serta balikan kontrol.

Gambar 2.1 Struktur Hirarki Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS)

2. Dasar Hukum
a. Rumah sakit di Indonesia wajib melakukan pencatatan dan pelaporan tentang
semua kegiatan penyelenggaraan Rumah Sakit sebagaimana ketentuan dalam
pasal 52 ayat (1) Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit .
b. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang keterbukaan Informasi Public
(KIP) maka tersediannya data dan informasi mutlak dibutuhkan terutama oleh
badan layanan umum seperti rumah sakit
3. Dasar Pelaksanaan
a.

Berdasarkan SK Menkes No. 1410 Revisi V, Tentang Sistem Informasi Rumah


Sakit (Sistem Pelaporan Rumah Sakit) Revisi V, tidak sesuai lagi dengan
perkembangan yang ada sehingga perlu disesuaikan.Paling lambat dalam jangka
waktu 2 (dua) tahun setelah peraturan ini diundangkan. Dengan berlakunya
peraturan

ini,

maka

keputusan

Menteri

Kesehatan

Nomor

1410/MENKES/SK/X/2003 Revisi V , dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi.


Agar setiap orang mengetahui Peraturan ini, Pemerintah mengundangkan
Peraturan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
b.

Berdasarkan PERMENKES No. 1171 Tahun 2011, Pasal 1 (satu) ayat 1 (satu)
Tentang Sistem Informasi Rumah Sakit, yaitu Setiap rumah sakit wajib
melaksanakan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS).

c.

Berdasarkan kesepakatan dengan Dinas Kesehatan RL (tahunan) dikirimkan


mulai Januari 2012 untuk data tahun 2011 dan RL 5 (bulanan) dikirimkan mulai
tahun berjalan

4. Jenis Sistem Informasi Rumah Sakit


7

Secara global sistem informasi rumah sakit terbagi atas :


a. Sistem Informasi Klinik
b. Sistem Informasi Administrasi
c. Sistem Informasi Manajemen
Masing- masing sistem bisa dilakukan secara sendiri-sendiri atau secara
bersamaan sebagai suatu kesatuan yang integral. Dibawah ini merupakan uraian lebih
lanjut mengenai sistem informasi rumah sakit.
a. Sistem Informasi Klinik
Merupakan sistem informasi yang

secara langsung untuk membantu

pasien dalam hal pelayanan medis. Contoh :


1) Sistem Informasi di ICU
2) Sistem Informasi pada alat seperti CT Scan, USG tertentu.
b. Sistem Informasi Administratif
Merupakan sistem informasi yang membantu pelaksanaan administratif di
rumah sakit. Contoh :
1) Sistem Informasi Administratif
2) Sistem Informasi Biling System
3) Sistem Informasi Farmasi
4) Sistem Informasi Penggajian
c. Sistem Informasi Manajemen
Merupakan sistem Informasi yang membantu manajemen rumah sakit
dalam pengambilan keputusan. Contoh :
1) Sistem Informasi manajemen pelayanan
8

2) Sistem Informasi Keuangan


3) Sistem Informasi Pemasaran
Ketiga jenis sistem informasi diatas merupakan pembagian jenis sistem
informasi rumah sakit berdasarkan pemakaiannya dan apabila dikelompokan akan
membentuk beberapa kelompok lagi, yaitu :
a. Individual
Sistem hanya berjalan sendiri tanpa terkait dengan sistem yang lain.
Contoh
1) Sistem Informasi Billing System
2) Sistem Penggajian
b. Modular
Beberapa sistem dikaitkan dalam satu kelompok, sehingga tidak berjalan
secara individu. Contoh :
1) Sistem Informasi Keuangan
2) Sistem Informasi Administrasi terkait dengan Billing System.
c. Terpadu
Semua sistem terkait dan berjalan secara bersamaan serta menjadi satu
kesatuan.
5. Desain Sistem Informasi Rumah Sakit
Rancang Bangun Rumah Sakit sangat bergantung kepada jenis dari rumah
sakit tersebut. Rumah sakit di Indonesia, berdasarkan kepemilikannya dibagi menjadi
2, sebagai berikut:
a. Rumah Sakit Pemerintah, yang dikelola oleh:
9

1) Departemen Kesehatan,
2) Departemen Dalam Negeri,
3) TNI
4) BUMN.
Sifat rumah sakit ini adalah tidak mencari keuntungan (non profit)
b. Rumah Sakit Swasta, yang dimiliki dan dikelola oleh sebuah yayasan, baik yang
sifatnya tidak mencari keuntungan (non profit) maupun yang memang mencari
keuntungan (profit)
Berdasarkan sifat layanannya rumah sakit dibagi 2, sebagai berikut:
a. Rumah Sakit Umum
Untuk Rumah Sakit Pemerintah, Rumah Sakit Umum digolongkan
menjadi 4 tingkatan, sebagai berikut:
1) Rumah Sakit Umum tipe A, rumah sakit umum yang memberikan layanan
medis spesialistik dan subspesialistik yang luas.
2) Rumah Sakit Umum tipe B, rumah sakit umum yang memberikan layanan
medis spesialistik dan subspesialistik yang terbatas.
3) Rumah Sakit Umum tipe C, rumah sakit umum yang memberikan layanan
medis spesialistik yang terbatas, seperti penyakit dalam, bedah, kebidanan dan
anak.
4) Rumah Sakit Umum tipe D, rumah sakit umum yang memberikan layanan
medis dasar.
Untuk Rumah Sakit Swasta, Rumah Sakit Umum digolongkan menjadi 3
tingkatan sebagai berikut:
10

1) Rumah Sakit Umum Pratama, rumah sakit umum yang memberikan layanan
medis umum,
2) Rumah Sakit Umum Madya, rumah sakit umum yang memberikan layanan
medis spesialistik,
3) Rumah Sakit Umum Utama, rumah sakit umum yang memberikan layanan
medis spesialistik dan subspesialisitik.
b. Rumah Sakit Khusus
Rumah sakit khusus ini banyak sekali ragamnya, rumah sakit ini
melakukan penanganan untuk satu atau beberapa penyakit tertentu dan layanan
medis subspesialistik tertentu. Yang masuk dalam kelompok ini diantaranya:
Rumah Sakit Karantina, Rumah Sakit Bersalin, dsb.
6. Fungsi Sistem Informasi Rumah Sakit
Berikut ini beberapa fungsi dari SIRS di bagian-bagian sub system yang ada
dalam system (rumah sakit), yaitu :
a. Subsistem Layanan Kesehatan, yang mengelola kegiatan layanan kesehatan.
b. Subsistem Rekam Medis, yang mengelola data pasien.
c. Subsistem Personalia, yang mengelola data maupun aktivitas tenaga medis
maupun tenaga administrative Rumah sakit.
d. Subsistem Keuangan, yang mengelola data-data dan transaksi keuangan.
e. Subsistem Sarana/Prasarana, yang mengelola sarana dan prasarana yang ada di
dalam rumah sakit

tersebut, termasuk peralatan medis, persediaan obat-obatan

dan bahan habis pakai lainnya.

11

f. Subsistem Manajemen Rumah Sakit, yang mengelola aktivitas yang ada didalam
rumah

sakit

tersebut,termasuk

pengelolaan

data

untuk

plan

jangka

panjang,menengah,pendek,pengambilan keputusan dan untuk layanan pihak luar.


Ke 6 subsistem tersebut diatas kemudian harus dijabarkan lagi ke dalam
modul-modul yang sifatnya lebih spesifik. Subsistem Layanan Kesehatan dapat
dijabarkan lebih lanjut menjadi :
a. Registrasi Pasien, yang mencatat data/status pasien untuk memudahkan
pengidentifikasian maupun pembuatan statistik dari pasien masuk sampai keluar.
Modul ini meliputi pendaftaran pasien baru/lama, pendaftaran rawat inap/jalan,
dan info kamar rawat inap.
b. Rawat Jalan/Poliklinik yang tersedia di rumah sakit, seperti: penyakit dalam,
bedah, anak,obstetri dan ginekologi, KB, syaraf, jiwa, THT, mata, gigi dan mulut,
kardiologi, radiologi, bedah orthopedi, paru-paru, umum, UGD, dan lain-lain
sesuai kebutuhan. Modul ini juga mencatat diagnose dan tindakan terhadap pasien
agar tersimpan dalam rekam medis.
c. Rawat Inap. Modul ini mencatat diganosa dan tindakan terhadap pasien,
konsultasi dokter,hubungan dengan poliklinik/penunjang medis.
d. Penunjang Medis/Laboratorium, yang mencatat informasi pemeriksaan seperti:
ECG, EEG, USG, ECHO, TREADMIL, CT Scan, Endoscopy, dan lain-lain.
e. Penagihan dan Pembayaran, meliputi penagihan dan pembayaran untuk rawat
jalan, rawat inap dan penunjang medis (laboratorium, radiologi, rehab medik),
baik secara langsung maupun melalui jaminan dari pihak ketiga/asuransi/JPKM.

12

Modul ini juga mencatat transaksi harian pasien (laboratorium, obat, honor
dokter), daftar piutang, manajemen deposit dan lain-lain.
f. Apotik/Farmasi, yang meliputi pengelolaan informasi inventori dan transaksi
obat-obatan.
7. Manfaat Sistem Informasi rumah Sakit
Sistem informasi rumah sakit memiliki beberapa manfaat yang didapat apabila
sebuah rumah sakit menerapkanya dengan baik. Dibawah ini merukan contoh
manfaat yang didapat apabila menggunakan sistem informasi rumah sakit.
a. Pengendalian mutu pelayanan medis,
b. Pengendalian mutu dan penilaian produktivitas,
c. Analisa pemanfaatan dan perkiraan kebutuhan,
d. Perencanaan dan evaluasi program,
e. Menyederhanakan pelayanan,
f. Mengembangkan dan memperbaiki sistem yang telah ada sehingga memberikan
suatu nilai tambah bagi manajemen,
g. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam rangka pengelolaan rumah sakit.
8. Konsep Dasar Pengembangan Sistem Informasi rumah Sakit
Sistem informasi yang lama perlu diperbaiki atau diganti disebabkan karna
beberapa hal,yaitu :
a. Adanya permasalahan yang timbul pada sistem lama
b. Untuk memperoleh peluang
c. Adanya instruksi
Adapun dampak dari pengembangan SIRS adalah sebagai berikut :
13

a. Terjadi peningkatan kinerja para pegawai dalam organisasi,


b. Adanya peningkatan informasi yang dibutuhkan organisasi,
c. Meningkatnya efisiensi,
d. Meningkatnya pengendalian,
e. Meningkatnya operasional pelayanan.
Berikut konsep-konsep dasar pengembangan SIRS, yaitu :
a. System informasi tidak indentik dengan system komputerisasi (system informasi
dengan cara manual dan system informasi berbasis computer/Computer Based
Information System atau CBIS),
b. Sistem informasi adalah system yang dinamis,yaitu ditentukan oleh dinamika
perkembangan organisasi dengan konsekuensi perkembangan informasi tidak
pernah berhenti,
c. System informasi mengikuti siklus hidup system,yaitu lahir (berubah dari system
lain), berkembang, mantap dan mati (berubah menjadi system lain) dengan
konsekwensi ada umur layak guna,dimana umur layak guna ditentukan oleh
perkembangan organisasi,perkembangan teknologi,dan

perkembangan tingkat

kemampuan user (tingkat pemahaman TI,tingkat kemampuan belajar,dan tingkat


able beradaptasi atau yang dikenal dengan End User Computing/EUC,
d. Daya guna system informasi ditentukan oleh tingkat integritas system informasi
itu ,artinya perlu adanya sinkronisasi antara aspek manual (yang berisi prosedur
operasional standar)sangat dipengaruhi oleh karakteristik user termasuk abling
manajerial pimpinan organisasi dengan aspek otomasi/computer yang dipengaruhi
oleh abling teknik pengembang,
14

e. Keberhasilan program ditentukan oleh strategi yang dipilih atau tahapan-tahapan


dalam pengembangan SIRS, yaitu pembuatan rencana induk pengembangan,
pembuatan rancangan global (penjabaran system sampai ke aplikasi,keterkaitan
antara sub-sub system dsb),pembuatan rancangan detail/rinci (pembuatan kamus
elemen data,data flow diagram,dsb),implementasi (pengembangan software
aplikasi),dan operasionalisasi. Dalam pemilihan strategi harus dipertimbangkan
berbagai factor seperti : keadaan yang sekarang dihadapi, keadaan pada waktu
system informasi siap dioperasionalkan dan keadaan dimasa mendatang, termasuk
antisipasi perkembangan organisasi dan perkembangan teknologi.
f. Pengembangan dengan pendekatan fungsi dan dilakukan secara menyeluruh
(holistic).Adapun kelemahan pendekatan berdasarkan struktur organisasi di
antaranya struktur organisasi seringkali tidak menggambarkan fungsi-fungsi yang
ada dalam organisasi tersebut,dan terjebak dalam kompleksitas struktur organisasi
dan kelemahan berdasarkan secara sektoral/segmental di antaranya ada system
yang tidak terditeksi,menghasilkan system yang terfrekmentasi dan kesulitan
dalam proses integrasi,
g. Informasi telah menjadi asset organisasi.Penguasaan informasi internal dan
eksternal merupakan salah satu keunggulan kompetitif dan keberadaan informasi
tersebut (menentukan kelancaran dan kwalitas kerja,menjadi ukuran kinerja
organisasi,dan menjadi acuan atau menentukan peringkat organisasi dalam
persaingan baik di tingkat local maupun global) serta biaya pengembangan dan
pemeliharaan SI,

15

h. Penjabaran system dengan struktur hirarkis yaitu ada system (terdiri dari 1/lebih
subsistem),sub system (terdiri dari 1/lebih modul),modul (terdiri dari 1/lebih sub
modul),dan sub modul (terdiri dari 1/lebih aplikasi).
9. Kriteria dan Kebijakan Pengembangan SIRS
Dalam melakukan pengembangan SIRS, pengembang haruslah bertumpu
dalam 2 hal penting yaitu kriteria dan kebijakan pengembangan SIRS dan sasaran
pengembangan SIRS tersebut. Adapun kriteria dan kebijakan yang umumnya
dipergunakan dalam penyusunan spesifikasi SIRS adalah sebagai berikut:
a. SIRS harus dapat berperan sebagai subsistem dari Sistem Kesehatan Nasional
dalam memberikan informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu.
b. SIRS harus mampu mengaitkan dan mengintegrasikan seluruh arus informasi
dalam jajaran Rumah Sakit dalam suatu sistem yang terpadu.
c. SIRS dapat menunjang proses pengambilan keputusan dalam proses perencanaan
maupun pengambilan keputusan operasional pada berbagai tingkatan.
d. SIRS yang dikembangkan harus dapat meningkatkan daya-guna dan hasil-guna
terhadap usaha-usaha pengembangan sistem informasi rumah sakit yang telah ada
maupun yang sedang dikembangkan.
e. SIRS yang dikembangkan harus mempunyai kemampuan beradaptasi terhadap
perubahan dan perkembangan dimasa datang.
f. Usaha pengembangan sistem informasi yang menyeluruh dan terpadu dengan
biaya investasi yang tidak sedikit harus diimbangi pula dengan hasil dan manfaat
yang berarti (rate of return) dalam waktu yang relative singkat.
g. SIRS yang dikembangkan harus mampu mengatasi kerugian sedini mungkin.
16

h. Pentahapan pengembangan SIRS harus disesuaikan dengan keadaan masingmasing subsistem serta sesuai dengan kriteria dan prioritas.
i. SIRS yang dikembangkan harus mudah dipergunakan oleh petugas, bahkan bagi
petugas yang awam sekalipun terhadap teknologi computer (user friendly).
j. SIRS yang dikembangkan sedapat mungkin menekan seminimal mungkin
perubahan, karena keterbatasan kemampuan pengguna SIRS di Indonesia, untuk
melakukan adaptasi dengan sistem yang baru.
k. Pengembangan diarahkan pada subsistem yang mempunyai dampak yang kuat
terhadap perngembangan SIRS.
10. Sasaran Pengembangan
Atas dasar dari penetapan kriteria dan kebijakan pengembangan SIRS tersebut
di atas, selanjutnya ditetapkan sasaran pengembangan sebagai penjabaran dari
Sasaran Jangka Pendek Pengembangan SIRS, sebagai berikut :
a. Memiliki aspek pengawasan terpadu, baik yang bersifat pemeriksaan atau
pengawasan (auditable) maupun dalam hal pertanggung-jawaban penggunaan
dana (accountable) oleh unit-unit yang ada di lingkungan rumah sakit.
b. Terbentuknya sistem pelaporan yang sederhana dan mudah dilaksanakan, akan
tetapi cukup lengkap dan terpadu.
c. Terbentuknya suatu sistem informasi yang dapat memberikan dukungan akan
informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu melalui dukungan data yang
bersifat dinamis.
d. Meningkatkan daya guna dan hasil guna seluruh unit organisasi dengan menekan
pemborosan.
17

e. Terjaminnya konsistensi data.


f. Orientasi ke masa depan.
g. Pendayagunaan terhadap usaha-usaha pengembangan sistem informasi yang telah
ada maupun sedang dikembangkan, agar dapat terus dikembangkan dengan
mempertimbangkan integrasinya sesuai Rancangan Global SIRS.
11. Pengintegrasian SIRS
Pengintegrasian SRS merupakan suatu hal yang penting dalam SIRS yang
baik. Secara manual integrasi dapat juga dicapai, misalnya dari data satu bagian
dibawa ke bagian yang lain dan oleh petugas administrasi data tersebut digabung
dengan data dari system lain.Berbagai system di RS dapat saling berhubungan dengan
system yang lain melalui berbagai cara yang sesuai dengan kebutuhannya. Aliran
informasi di antara system sangat bermanfaat bila data dari suatu yang tersimpan
dalam suatu system diperlukan juga oleh system yang lainnya, atau output suatu
system menjadi input bagi system lainnya.
Keuntungan utama dari integrasi system SIRS adalah membaiknya arus
informasi di dalam RS mengingat bahwa RS memilki berbagai unit yang
operasionalnya saling tergantung.Atau keuntungan itu merupakan sifatnya yang
mendorong manajer untuk mendistribusikannya/mengkomunikasikan informasi yang
dihasilkan oleh department/bagian/unitnya agar secara rutin mengalir ke system lain
yang dibutuhkan.
12. Aplikasi
SIRS merupakan aplikasi sistem pelaporan rumah sakit kepada Kementerian
Kesehatan yang meliputi :
18

a.

Data identitas rumah sakit.

b.

Data ketenagaan yang bekerja di rumah sakit.

c.

Data rekapitulasi kegiatan pelayanan kompilasi penyakit/morbiditas pasien rawat


inap.

d.

Data kompilasi penyakit/morbiditas pasien rawat jalan.

13. Penerapan
a. Untuk dapat menggunakan aplikasi SIRS ONLINE , setiap rumah sakit wajib
melakukan registrasi pada Kementerian Kesehatan.
b. Registrasi digunakan untuk pencatatan data dasar rumah sakit pada Kementerian
Kesehatan untuk mendapatkan Nomor Identitas Rumah Sakit yang berlaku secara
Nasional.
c. Registrasi dilakukan secara online pada situs resmi Direktorat Bina Upaya
Kesehatan.
14. Tujuan
Penyelenggaraan SIRS bertujuan untuk :
a.

Merumuskan Kebijakan dibidang perumahsakitan

b.

Menyajikan informasi rumah sakit secara nasional

c.

Melakukan pemantauan, pengendalian, dan evaluasi penyeleggaraan rumah sakit


secara nasional.

15. Sifat Pelaporan


Sifat pelaporan ditetapkan oleh Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan

19

a. Pelaporan yang bersifat terbaru, setiap saat (updated), ditetapkan berdasarkan


kebutuhan informasi untuk pengembangan program dan kebijakan dalam bidang
perumahsakitan.
b. Pelaporan yang bersifat periodic dilakukan 2(dua) kali dalam 1(satu)tahun yang
terdiri dari laporan tahunan dan rekapitulasi laporan bulanan (otomatis).
16. Pengisian Laporan
Pengisian laporan SIRS mengacu pada pedoman system informasi rumah sakit
yaitu :
a.

Direktorat Jenderal Bina Upaya kesehatan bersama Dinas Kesehatan Provinsi dan
Dinas Kesehatan Kabupaten /Kota melakukan pembinaan dan pengawasan
terhadap pelaksanaan SIRS di rumah sakit.

b.

Pembinaan oleh Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan, dilakukan melalui


bimbingan teknis pelaksanaan SIRS kepada rumah sakit dan Dinas Kesehatan
Provinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten /Kota.

c.

Pengawasan pelaksanaan SIRS dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Bina Upaya


Kesehatan bersama-sama seluruh DinasKesehatan Provinsi dan Dinans Kesehatan
Kabupaten/Kota.

d.

Dalam rangka pembinaan dan pengawasan untuk meningkatkan efektifitas


pelaporan SIRS, Direktorat Jenderal dapat memberikan penghargaan kepada
rumah sakit maupun Dinas Kesehatan Provinsi dan /atau Dinas Kesehatan
Kabupaten /Kota.

17. Pengembangan

20

Dalam melakukan pengembangan SIRS, pengembang haruslah bertumpu


dalam 2 hal penting yaitu kriteria dan kebijakan pengembangan SIRS dan sasaran
pengembangan SIRS tersebut. Adapun kriteria dan kebijakan yang umumnya
dipergunakan dalam penyusunan spesifikasi SIRS adalah sebagai berikut :
a. SIRS harus dapat berperan sebagai subsistem dari Sistem Kesehatan Nasional
dalam memberikan informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu.
b. SIRS harus mampu mengaitkan dan mengintegrasikan seluruh arus informasi
dalam jajaran Rumah Sakit dalam suatu sistem yang terpadu.
c. SIRS dapat menunjang proses pengambilan keputusan dalam proses perencanaan
maupun pengambilan keputusan operasional pada berbagai tingkatan.
d. SIRS yang dikembangkan harus dapat meningkatkan daya guna dan hasil guna
terhadap usaha-usaha pengembangan sistem informasi rumah sakit yang telah ada
maupun yang sedang dikembangkan.
e. SIRS yang dikembangkan harus mempunyai kemampuan beradaptasi terhadap
perubahan dan perkembangan dimasa datang.
f. Usaha pengembangan sistem informasi yang menyeluruh dan terpadu dengan
biaya investasi yang tidak sedikit harus diimbangi pula dengan hasil dan manfaat
yang berarti (rate of return) dalam waktu yang relative singkat.
g. SIRS yang dikembangkan harus mampu mengatasi kerugian sedini mungkin.
h. Pentahapan pengembangan SIRS harus disesuaikan dengan keadaan masingmasing subsistem serta sesuai dengan kriteria dan prioritas.
i. SIRS yang dikembangkan harus mudah dipergunakan oleh petugas, bahkan bagi
petugas yang awam sekalipun terhadap teknologi komputer (user friendly).
21

j. SIRS yang dikembangkan sedapat mungkin menekan seminimal mungkin


perubahan, karena keterbatasan kemampuan pengguna SIRS di Indonesia, untuk
melakukan adaptasi dengan sistem yang baru.
k. Pengembangan diarahkan pada subsistem yang mempunyai dampak yang kuat
terhadap pengembangan SIRS.
18. Tahapan pengembangan
SIRS merupakan suatu sistem informasi yang, cakupannya luas (terutama
untuk rumah sakit tipe A dan B) dan mempunyai kompleksitas yang cukup tinggi.
Oleh karena itu penerapan sistem yang dirancang harus dilakukan dengan memilih
pentahapan yang sesuai dengan kondisi masing-masing subsistem, atas dasar kriteria
dan prioritas yang ditentukan. Kesinambungan antara tahapan yang satu dengan
tahapan berikutnya harus tetap terjaga. Secara garis besar tahapan pengembangan
SIRS adalah sebagai berikut :
a. Penyusunan Rencana Induk Pengembangan SIRS.
b. Penyusunan Rancangan Global SIRS.
c. Penyusunan Rancangan Detail/Rinci SIRS.
d. Pembuatan Prototipe, terutama untuk aplikasi yang sangat spesifik.
e. Implementasi, dalam arti pembuatan aplikasi, pemilihan dan pengadaanperangkat
keras maupun perangkat lunak pendukung.
f. Operasionalisasi dan Pemantapan
B. UPAYA KESEHATAN PERORANGAN
System pelayanan kesehatan terdiri atas dua bagian yang merupakan
Subsystemnya, yaitu system pelayanan kesehatan perorangan (medical service atau
pelayanaan medis) dan system pelayanan kesehatan masyarakat (public health service).
22

Dalam system pelayanan kesehatan perorangan terdapat berbagai upaya untuk


peningkatan kesehatan perorangan (selanjutnya disebut upaya kesehatan perorangan
/UKP), yaitu mulai dari promosi kesehatan, pencegahan penyakit dan kecacatan deteksi
dini penyakit/kecacatan dan penanganannya yang lebih tepat agar tidak terjadi komplikasi
lebih lanjut atau kecacatan. Dalam upaya pelayanan kesehatan masayarakat juga dikenal
upaya health promotion dan specific protection yang dilaksanakan pada masyarakt secara
keseluruhan.
Dari gambaran diatas terlihat bahwa upaya kesehatan masyarakat (UKM) dan
upaya kesehatan perorangan UKP) menjadi satu kesatuan upaya passa health promotion
dan specific protection. Dilihat dari sudut pathogenesis penyakit, maka upaya-upaya
health promotion dan specific protection ini adalah upaya pada masa prepathogenesis.
Sedangkan upaya-upaya early detection ang prompt treatment, disability limitation,
rehabilitation adalah upaya-upaya pada masa pathogenesis.
Dalam system pendanaanya, produk pelayanan kesehatan masyarakt umumnya
merupakan public goods sehingga didanai oleh pemerintah. Produk pelayanan kesehatan
perorangan bisa didanai oleh pemerintah (kalau dianggap public goods misalnya,
pengobatan penderita ppenyakit TBC sebagai bagian dari upaya pemberantasan penyakit
TBC), bisa didanai oleh perorangan sendiri (murni merupakan privat goods yang bisa
langsung out of pocket ataupun melalui asuransi pribadi/privat insurance). Pembiayaan
pelayanan juga bisa campur antara pemerintah dan masyarakat (public-privat mix).
Upaya Pelayanan Kesehatan Perorangan (UKP)

23

Bagan 2.1. Letak hubungan Tampak Tindih bidang kajian, serta


pertimbangannya dari berbagai subsistem dalam system kesehatan.
Dalam subsistem pelayanan kesehatan perorangan dalam kerangka keseluruhan
system kesehatan, terdapat berbagai upaya kesehatan perorangan (UKP) terdapat UKP
yang diselenggarakan dengan objek utama adalah penanganan pada periode pre
pathogenesis dan UKP dengan objek utama penanganan pada periode pathogenesis.
24

UKP pertama lebih menekankan upaya promosi kesehatan perorangan /health promotion
(misalnya mengajarkan pola hidup sehat pada pasien dan keluarga pasien stroke/pasien
penyakit jantung. Upaya kesehatan ini banyak diselenggarakan oleh perorangan secara
mandiri (self care), oleh keluarga (family care) atau kelompok anggota masyarakat
(misalnya, perkumpulan jantung sehat).
UKP kedua lebih menekankan pada pelayanan periode pathogenesis (disability
limitation, rehabilitation). Upaya ini dilaksanakan di institusi pelayanan kesehatan yang
disebut rumah sakit.
Untuk penyakit yang banyak terjadi di masyarakat (common diseases) pelayanan
dilaksanakan di rumah sakit rujukan awal (primary hospital system) dimana
penanganan secara satu disiplin ilmu dapt dilaksanakan dengan baik.
Untuk penyakit yang penanganannya membutuhkan penanganan

yang

multidisiplin sederhana, pelayanan dilaksanakan dirumah sakit rujukan lanjutan


(secondary hospital system).
Untuk penyakit yang penanganannya membutuhkan penanganan multidisiplin
kompleks, pelayanan dilaksanakan dilaksanakan dirumah sakit rujukan lanjut (tertiary
hospital system).
Untuk Negara yang sangat maju ada pelayanan yang diutamakan dalam rangka
pengembangan ilmu (dengan pelayanan yang tetap berbasis pada kebutuhan pasien,
bukan berbasis pada pengembangan ilmu), pelayanan dilaksanakan dirumah sakit untuk
pengembangan ilmu (quaternary hospital).
1. Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Perorangan di Indonesia dan
Lingkungannya
Pelayanan kesehatan perorangan (medical service, pelayanan medic) dapat
dikategorikan dalam 4 kategori :
a. Pelayanan medic mandiri (self care and family medical care)
25

Yang dilaksanakan oleh pribadi kelompok masyarakat; aktifitas ini bisa


dilaksanakan oleh masing-masing individu, bisa secara berkelompok; aktifitas ini
bisa dilaksanakan sebelum orang menderita sakit (misalnya, dalam klub jantung
sehat), bisa juga setelah orang menderita penyakit atau kecacatan (misalnya, klub
stroke).
b. Pelayanan medic dasar/primer (essential medical care and basic speciality care,
ada yang menyebutnya preventife medical care atau primary medical care)
Pelayanan

ini

diselenggarakan

oleh

pemerintah

atau

swasta/kelompok

masyarakat. Idealnya pelayanan ini dilaksanakan oleh dokter keluarga yang


merupakan gate keeper dari pelayanan rujukan. Pelayanan medic dasar ini
dilaksanakan di puskesmas pemerintah, balkesmas swasta serta dokter praktek
perorangan swasta.
c. Pelayanan medic skunder/rujukan awal
Pelayanan ini dilaksanakan dirumah sakit dengan kemampuan nonspesialistik/
spesialiatik dasar (dulu dikenal dengan sebutan rumah sakit tipe D), sampai
kerumah sakit dengan kemampuan pelayanan spesialistik empat dasar( dikenal
dengan nama rumah sakit tipe C) ataupun dirumah sakit dengan kemampuan
pelayanan lebih dari empat spesialisme plus beberapa spesialisme dasar (dikenal
dengan nama rumah sakit tipe B-awal). Rumah sakit rujukan awal ini biasanya
ada di ibu kota kabupaten dan kota madya.
d. Pelayanan medic tersier/rujukan lanjut
Pelayanan ini dilaksanakan dirumah sakit dengan kemampuan pelayanan semua
spesialisme plus beberapa subspesialisme (dikenal dengan nama rumah sakit tipe26

B lanjut atau dirumah sakit dengan kemampuan semua spesialisme dengan


seluruh subspesialismenya(rumah sakit tipe A). diindonesia rumah sakit rujukan
lanjut ini semuanya berfungsi sebagai rumah sakit pendidikan.
Upaya keseluruhan pada butir-butir diatas yang saling berhubungan (saling
berkaitan, saling berpengaruh, saling bergantung) satu sama lain, diselengarakan dalam
satu daerah/ kabupaten/kota dalam satu system kesehatan daerah.
Keseluruhan stakeholders dalam system kesehatan tersebut dapat
dilihat pada bagan.

Bagan 1.2. Upaya kesehatan perorangan/Rumah sakit dan Berbagai Stakeholder


dan lingkungan-Strateginya.

27

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Sistem informasi rumah sakit (SIRS) adalah suatu proses pengumpulan,
pengolahan, dan penyajian data rumah sakit se-Indonesia. Sistem Informasi ini mencakup
semua Rumah Sakit umum maupun khusus, baik yang dikelola secara publik maupun
privat sebagaimana diatur. Hal ini diperlukan agar dapat menunjang pemanfaatan data
yang optimal serta semakin meningkatnya kebutuhan data saat ini dan yang akan dating.
upaya kesehatan masyarakat (UKM) dan upaya kesehatan perorangan UKP)
menjadi satu kesatuan upaya passa health promotion dan specific protection. Dilihat dari
sudut pathogenesis penyakit, maka upaya-upaya health promotion dan specific protection
ini adalah upaya pada masa prepathogenesis. Sedangkan upaya-upaya early detection
ang prompt treatment, disability limitation, rehabilitation adalah upaya-upaya pada masa
pathogenesis.
B. SARAN
Makalah ini telah dibuat oleh penulis dengan tujuan supaya para
pembaca lebih mengetahui tentang system informasi manajem Rumah
Sakit. Makalah yang di buat oleh penulis jauh dari sempurna maka
penulis meminta saran dari para pembaca makalah ini.

28

DAFTAR RUJUKAN
Sanjoyo Raden. 2006. Sistem Informasi Kesehatan. Diunduh dari HTTP :
www.yoyoke.web.ugm.ac.id.
Lik Wilarso. 2000. Konsep, Desain, dan Pengembangan system informasi rumah sakit.
Diunduh dari HTTP ://www.geocities.ws/../SIMrumahsakit.pdf.
Ainy

Asmaripa.2012.Sistem

Informasi

rumah

sakit

terintegrasi.Diunduh

dari

://www.scribd.com/../13SIRS-Terintegrasi.
Djojosugitio, M.Ahamad, Evaluasi Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit, makalah pada
rapat anggota PERSI Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia, Bandung 1985.
Hartono, Bambang, Sistem Informasi Kesehatan, Pusat Data Kesehatan Depkes RI,2001.
Soejitno, Sudarmono, et al., Akselerasi Reformasi Kesehatan, Adgrat Intramitra, Jakarta:
2001

29

DAFTAR PERTANYAAN

1. Etri Ramadarli
Pertanyaan : bagaimana pelaksanaan SIK di tempat dinas dahulu?
Jawaban dari Chintia Lestari : pada pelaksanaan di beberapa sumah sakit telah
dilakukan SIRS, tapi masi ada beberapa rumah sakit yang masih melakukan SIRS
ini secara manual.
2. Ferdini Deka Kartini
Pertanyaan : bagaimana pemanfaatan dari SIRS di rumah sakit?
Jawaban dari Citra Ayu Menola:
Manfaat Sistem Informasi rumah Sakit
Sistem informasi rumah sakit memiliki beberapa manfaat yang didapat
apabila sebuah rumah sakit menerapkanya dengan baik. Dibawah ini merukan
contoh manfaat yang didapat apabila menggunakan sistem informasi rumah sakit.
h. Pengendalian mutu pelayanan medis,
i. Pengendalian mutu dan penilaian produktivitas,
j. Analisa pemanfaatan dan perkiraan kebutuhan,
k. Perencanaan dan evaluasi program,
l. Menyederhanakan pelayanan,
m. Mengembangkan dan memperbaiki sistem yang telah ada sehingga memberikan
suatu nilai tambah bagi manajemen,
n. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam rangka pengelolaan rumah sakit.

30