Anda di halaman 1dari 106

MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN JAMAAH HAJI DINAS KESEHATAN

KOTA TANGERANG PADA MUSIM HAJI TAHUN 2010

Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Islam (S. Kom.I)

Oleh
Isnaini S.
NIM: 107053002269

JURUSAN MANAJEMEN DAKWAH


FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1432 H / 2011 M

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:


1. Skripsi merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata Satu (S - 1) di Universitas
Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya
atau merupakan hasil jiplakan dari orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi yang berlaku di Universitas islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Maret 2011

Isnaini S.

ABSTRAK
Isnaini S. Manajemen Pelayanan Kesehatan Jamaah Haji Dinas Kesehatan
Kota Tangerang Pada Musim Haji Tahun 2010. Dibawah bimbingan Drs.
Hasanuddin Ibnu Hibban, MA
Dari tahun ke tahun jamaah haji semakin bertambah, sepanjang sejarah
pelaksanaan ibadah haji selalu mendapatkan perhatian khusus. Banyak
komponen dalam penyelenggaraan ibadah haji, komponen itu mulai dari
pendaftaran, transportasi, akomodasi, keamanan, katering, dan kesehatan.
Dalam rangkaian penyelenggaraan ibadah haji menunjukkan bahwa hingga
dewasa ini pelaksanaan ibadah haji telah mengalami perkembangan.
Seiring perkembangan dan meningkatnya ekonomi Indonesia,
meningkat pula jumlah jamaah haji dan bahkan belakangan ini jumlah
pendaftarnya melampaui kuota yang telah ditetapkan. Sebagai konsekuensinya
dari meningkatnya jumlah jamaah haji, maka komponen-komponen
penyelenggaraan haji perlu ditingkatkan seperti akomodasi, katering,
transportasi dan kesehatan. Dalam implementasinya, bentuk pelayanan
mengalami perubahaan khusus dalam bidang kesehatan. Proses persiapan
keberangkatan jamaah haji diperketat dengan adanya penambahan
pemeriksaan, yakni pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak Departemen
Agama dan pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak Departemen Kesehatan.
Jamaah haji dapat melaksanakan ibadah haji sesuai dengan ketentuan
isthithoah (mampu) secara jasmani dan rohani.
Untuk penelitian ini, penulis menggunakan metodologi penelitian
pendekatan deskriptif kualitatif yaitu dengan melakukan penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orangorang dan perilaku yang dapat diamati. Dengan memilih metode kualitatif ini,
penulis mengharapkan dapat memperoleh data yang lengkap dan akurat.
Ditinjau dari sifat penyajian datanya, penulis menggunakan metode deskriptif
yang mana metode deskriptif merupakan penelitian yang tidak mencari atau
menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau prediksi.
Hasil penelitian ini penulis dapat disimpulkan bahwa sistem
manajemen pelayanan kesehatan Dinas Kesehatan Kota Tangerang meliputi
fungsi manajemen yaitu perencanaan dalam bimbingan, penyuluhan dan
pelayanan kesehatan, pengorganisasian pada pihak Dinas Kesehatan Kota
Tangerang dan pihak puskesmas, penggerakkan dengan menjalankan
perencanaan yang telah ditetapkan, pengawasan dengan menetapkan ukuran
standar pengawasan, dan evaluasi dilakukan dengan membahas seluruh
rangkaian kegiatan dengan melihat input, proses dan output. Sedangkan untuk
aspek kesehatan yang dilayani Dinas Kesehatan meliputi pemeriksaan fisik
dari kepala hingga perut, pemeriksaan penunjang yaitu penmeriksaan
laboratorium yang mencakup test darah, urin, kehamilan dan vaksinasi haji
mencakup imunisasi meningitis meningokokus dan imunisasi influeza.

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji dan syukur senantiasa kupanjatkan kehadirat Allah
swt yang telah memberikan nikmat serta karuniaNya sehingga tangan ini masih
mampu menorehkan kata demi kata untuk menjadi sebuah karya yang bermakna.
Shalawat serta salam penulis haturkan kepada para nabi dan rasul, Muhammad SAW
kepada keluarganya, sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga akhir
zaman. Karena beliaulah yang menjadi suri tauladan bagi kami agar menjadi insan
yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.
Dalam penulisan skripsi ini,penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih yang tak
terhingga kepada semua pihak yang tak terhingga kepada semua pihak yang
membantu kelancaran penulisan skripsi ini, baik berupa dorongan moril maupun
materil, karena penulis yakin tanpa bantuan dan dukungan tersebut, sulit rasanya bagi
penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis
ingin menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan mengucapkan terima
kasih kepada:
1. Ayahanda Akhmad Sofuan dan Ibunda Mustakimah yang terus menjadikan
penulis mengerti arti perjalanan hidup yang di ridhoi Allah. Dan memberikan
banyak perhatian, pengorbanan, motivasi, cinta, kasih sayang yang tulus
ikhlas terus beliau berikan sehingga penulis dapat tegar dan semangat dalam
menyelesaikan skripsi ini, mama. hanya ucapan terima kasih yang tak

ii

terhingga yang dapat penulis ucapkan. Penuh doa semoga Allah akan
membalas kebaikan yang telah diberikan. I love you so much mama bapak.
2. Dr. Arief Subhan, MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
Komunikasi.
3. Drs. Cecep Castrawijaya , MA selaku Ketua Jurusan Manajemen Dakwah,
selaku Ketua Munaqasah dan Penguji II, yang telah banyak membantu penulis
dalam menyelesaikan studi di Jurusan Manejemen Dakwah serta memberikan
masukan dan arahan untuk membantu penulis dalam memperbaiki skripsi ini.
4. H. Mulkanasir, BA., Spd, MM Sekretaris Jurusan Manajemen Dakwah, yang
telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan studi di Jurusan
Manajemen Dakwah.
5. Drs. Hasanuddin Ibnu Hibban, MA selaku dosen pembimbing yang telah
banyak meluangkan waktunya untuk memberikan nasihat dan arahan kepada
penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Semoga Allah
selalu memberikan rahmat dan perlindungannya.
6. Seluruh Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang selama ini
telah memberikan ilmu pengetahuan, semoga ilmu yang telah diberikan
bermanfaat bagi penulis.

iii

7. Pimpinan dan Karyawan Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah


Jakarta, dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang
banyak membantu penulis dalam memberikan referensi buku-buku dalam
penyelesaian skripsi ini.
8. Ibu Lia (Bagian Umum) dan Bapak Suhardiman, SKM, MKM, yang telah
memberikan kesempatan, sehingga penulis dapat melakukan penelitian di
Dinas Kesehatan Kota Tangerang. Serta Bapak Ikhwan, SKM, yang telah
meluangkan banyak waktunya untuk memberikan masukan, arahan serta
bimbingan untuk membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
9. Dr. Wahyu Prasetyawan, MA selaku penguji I yang telah banyak memberikan
masukan dan arahan untuk membantu penulis dalam memperbaiki skripsi ini.
10. Adik-adik ku tersayang (mamas yunus, de ana, de ani), dan saudara-saudaraku
yang telah memberikan semangat, doa, dan keceriaan selama penulis
menyelesaikan skripsi ini.
11. Teman-teman Buchori, Ade, Ayu, Ali, Mutmainnah, Jihan, dan Omar yang
telah memberi semangat dan membantu penulis selama menyelesaikan skripsi
ini, dan seluruh temen-temen seperjuangan mahasiswa manajemen dakwah
angkatan 2007 yang penulis banggakan.
12. Teman-teman Lia, Hari, dan Anto yang telah memberikan semangat kepada
penulis.
iv

Akhir kata penulis berharap semoga segala usaha, bantuan, pengorbanan, doa
dan harapan kita semua mendapatkan balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT.
Dan penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya
dan bagi segenap keluarga besar Jurusan Manajemen Dakwah pada Khususnya.

Jakarta, Maret 2011

Isnaini S.

DAFTAR ISI
ABSTRAK .....................................................................................................

KATA PENGANTAR....................................................................................

ii

DAFTAR ISI..................................................................................................

BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ...........................................................

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah .......................................

C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian.................................................

D. Metodologi Penelitian...............................................................

E. Tinjauan Pustaka ...................................................................... 10


F. Sistematika Penulisan ............................................................... 11
BAB II : LANDASAN TEORI TENTANG MANAJEMEN PELAYANAN
KESEHATAN DAN JAMAAH HAJI
A. Manajemen Pelayanan Kesehatan ............................................. 13
1. Pengertian Manajemen Pelayanan Kesehatan...................... 13
2. Fungsi Manajemen.............................................................. . 17
3. Ruang Lingkup Manajemen Pelayanan Kesehatan .............. 18
4. Ciri-ciri Pelayanan Yang Baik ............................................ 20
B. Jamaah Haji.............................................................................. 23
1. Pengertian Jamaah Haji....................................................... 23
2. Klasifikasi Jamaah Haji ...................................................... 24
3. Makna Istithaah Pada Aspek Kesehatan............................. 25
4. Pelayanan Kesehatan Jamaah Haji ...................................... 34

vi

BAB III : TINJAUAN UMUM TENTANG DINAS KESEHATAN KOTA


TANGERANG
A. Visi-Misi Dinas Kesehatan Kota Tangerang ............................. 36
B. Tujuan dan Sasaran................................................................... . 40
C. Strategi dan Kebijakan Dinas Kesehatan Kota Tangerang ......... 42
D. Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kota Tangerang .............. 44
BAB IV : ANALISIS

MANAJEMEN

PELAYANAN

KESEHATAN

JAMAAH HAJI
A. Manajemen Pelayanan Kesehatan Jamaah Haji ........................ 48
1. Menentukan Perencanaan (Planning) .................................. 48
2. Melakukan pengorganisasian (Organizing) ......................... 56
3. Mengadakan Penggerakkan (Actuating) .............................. 60
4. Menjalankan Pengawasan (Controlling).............................. 62
5. Melaksanakan Evalusi (Evaluating) .................................... 65
B. Aspek Kesehatan Yang Dilayani Dinas Kesehatan Kota
Tangerang ................................................................................ 65
C. Analisis terhadap Manajemen Pelayanan Kesehatan Jamaah
Haji dan Aspek Kesehatan yang Dilayani ................................. 68
BAB V : PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................................. 80
B. Saran ........................................................................................ 81
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 82
LAMPIRAN

vii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Haji pada hakekatnya merupakan aktifitas suci yang pelaksanaannya
diwajibkan oleh Allah kepada seluruh umat Islam yang telah mencapai
(istithoah) mampu, disebut aktifitas suci karena seluruh rangkaian kegiatan
adalah ibadah. Haji juga disebut sebagai ibadah puncak yang melambangkan
ketaatan serta penyerahan diri secara total kepada Allah baik secara fisikmaterial maupun spiritual.1
Sebagaimana Allah berfirman di dalam Al-Quran, sebagai berikut:


Artinya : Allah telah menjadikan kabah, rumah suci itu sebagai pusat
(peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia.(QS. Al-Maidah :
97).
Bagi setiap muslim, termasuk muslim di Indonesia, ibadah haji memiliki
makna sangat penting. Dalam konteks Indonesia, ibadah haji tidak hanya
dilihat sebagai salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan kaum
Muslimin bagi mereka yang mampu tetapi juga memiliki makna sosiologis
dan historis sangat berarti. Secara sosiologis dan historis, dapat dikatakan
bahwa perkembangan Islam Indonesia tidak bisa terlepas dari ibadah haji.2

1
2

Ali Syariati, Haji (Bandung: Penerbit Pustaka, 2000 ), hal. 1


Muhammad M. Basyuni, Reformasi Manajemen Haji, (Jakarta : FDK Press, 2008), hal.

17

Dari tahun ke tahun jamaah haji semakin bertambah, sepanjang sejarah


pelaksanaan ibadah haji selalu mendapatkan perhatian khusus. Banyak
komponen dalam penyelenggaraan ibadah haji, komponen itu mulai dari
pendaftaran, transportasi, akomodasi, keamanan, katering, dan kesehatan.
Dalam rangkaian penyelenggaraan ibadah haji menunjukkan bahwa hingga
dewasa ini pelaksanaan ibadah haji telah mengalami perkembangan.
Seiring perkembangan

dan

meningkatnya

ekonomi

Indonesia,

meningkat pula jumlah jamaah haji dan bahkan belakangan ini jumlah
pendaftarnya melampaui kuota yang telah ditetapkan. Sebagai konsekuensinya
dari meningkatnya

jumlah jamaah haji, maka

komponen-komponen

penyelenggaraan haji perlu ditingkatkan seperti akomodasi, katering,


transportasi dan kesehatan. Dalam implementasinya, bentuk pelayanan
mengalami perubahaan khusus dalam bidang kesehatan. Proses persiapan
keberangkatan

jamaah

haji

diperketat

dengan

adanya

penambahan

pemeriksaan, yakni pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak Departemen


Agama dan pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak Departemen Kesehatan.
Pelayanan kesehatan adalah pemeriksaan, perawatan dan pemeliharaan
kesehatan jamaah haji untuk menjaga agar jamaah haji tetap dalam keadaan
sehat antara lain tidak menularkan atau ketularan penyakit selama
menjalankan ibadah haji.3
Dalam kaitannya dengan pelayanan kesehatan, Departemen Agama
selalu melakukan koordinasi dengan Departemen Kesehatan. Kesehatan,

Ahmad Nizam dan Alatif Hasan, Manajemen Haji, (Jakarta : Zikru Hakim, 2000), h. 78

Misalnya: peningkatan pelatihan petugas kesehatan dengan kurikulum yang


mengarah kepada : (1) peningkatan kemampuan teknis dan medis yang
berkaitan dengan pelayanan kesehatan jamaah haji (2) penguasaan materi
khusus misalnya penanganan kasus meningitis dan formularium obat haji (3)
peningkatan kinerja petugas sehingga tercipta petugas yang berdedikasi dan
bertanggung jawab. Kemudian pemerintah juga melakukan penyuluhan
kesehatan kepada jamaah haji dengan tujuan : (1) menumbuhkan pengertian
calon jamaah tentang kondisi sehat yang sangat diperlukan dalam
melaksanakan ibadah haji (2) meningkatkan pengetahuan tentang pemeriksaan
kesehatan calon jamaah haji sesuai ketentuan dan direkam dalam buku
kesehatan haji (3) melakukan rujukan calon jamaah haji resiko tinggi sesegera
mungkin bagi yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Pemeriksaan kesehatan bagi calon haji selama di tanah air dilakukan
dalam tiga tahap, yaitu pertama, pemeriksaan di puskesmas sebagai tindakan
selektif terhadap calon haji yang memenuhi salah satu persyaratan istithoah
yakni sehat lahir dan batin, yang dilakukan setelah pendaftaran haji dimulai
dan sebagai syarat untuk dapat mendaftarkan diri; kedua pemeriksaan di Dinas
Kesehatan daerah dilakukan secara lebih teliti dengan tenaga pemeriksa dan
fasilitas yang lebih baik serta merupakan penentuan akhir layak atau tidaknya
calon haji berangkat

ke Arab Saudi. Dalam tahap ini juga dilakukan

pemeriksaan tes kehamilan, vaksinasi meningitis meningokokus, pembinaan


dan penyuluhan kesehatan, pelayanan rujukan dan pengamatan penyakit;

ketiga, pemeriksaan di embarkasi dilakukan secara selektif, termasuk


kelengkapan dokumen kesehatan haji.4
Untuk mencapai upaya pencegahan dan persiapan yang tepat.
Persiapan sebelum ke berangakatan mencakup kekuatan fisik dan mental
dalam keadaan prima, karena keadaan di Arab Saudi berbeda dengan keadaan
di Indonesia, yaitu cuaca dan iklim yang lebih tinggi, keadaan lingkungan
yang lebih beraneka ragam, serta jenis makanan yang berbeda. Oleh karena
itu, diperlukannya sistem manajemen pelayanan kesehatan jamaah haji. Kini
Dinas Kesehatan telah berperan aktif untuk mempersiapkan dan upaya
pencegahan

dalam

menjaga

kesehatan

jamaah

haji

dari

sebelum

pemberangkatan ibadah haji. Persiapan kesehatan yang optimal akan


membantu kelancaran kegiatan ritual ibadah yang akan dikerjakan nantinya.
Sehingga jamaah akan lebih khusyuk dalam melaksanakan ibadah haji.
Ciri pelayanan yang baik yang dapat memberikan kepuasan kepada
jamaah adalah memiliki karyawan yang professional, tersedia sarana dan
prasarana yang baik, tersedia semua produk yang diinginkan, bertanggung
jawab kepada setiap jamaah dari awal hingga selesai, mampu melayani secara
cepat dan tepat, mampu berkomunikasi secara jelas, memiliki pengetahuan
umum lainnya, mampu memberikan kepercayaan kepada jamaah.5
Dan pembinaan kesehatan haji dilakukan secara intensif dan terusmenerus sejak terdaftar sampai saat ke berangkatan, yang meliputi aspekaspek kesehatan umum.
4

Muhammad M. Basyuni, Reformasi Manajemen Haji, (Jakarta : FDK Press, 2008), h.

Kasmir, Etika Customer Service, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), h.9

159

Dilihat dari gambaran di atas saya tertarik untuk mengadakan


penelitian terhadap masalah ini dengan judul Manajemen Pelayanan
Kesehatan Jamaah Haji Dinas Kesehatan Kota Tangerang Pada Musim Haji
Tahun 2010.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah


1. Pembatasan Masalah
Dalam pembatasan masalah penulis hanya membatasi pada
manajemen pelayanan kesehatan jamaah haji yang diberikan oleh
Departemen Kesehatan pada musim haji tahun 2010.
2. Perumusan Masalah
Agar perumusan masalah lebih terarah dan terfokus, maka dalam
penulisan skripsi ini dirumuskan dalam rangka menjawab permasalahan
sebagai berikut :
a. Bagaimana manajemen pelayanan kesehatan jamaah haji yang
dilaksanakan Dinas Kesehatan Kota Tangerang pada musim haji tahun
2010?
b. Aspek kesehatan apa saja yang dapat dilayani Dinas Kesehatan Kota
Tangerang terhadap jamaah haji Tahun 2010?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian


Berdasarkan pada pokok permasalahan di atas, maka tujuan penelitian
ini secara umum adalah:

1. Untuk mengetahui sistem manajemen pelayanan kesehatan jamaah haji


pada Dinas Kesehatan Kota Tangerang pada musim haji tahun 2010.
2. Untuk mengetahui aspek kesehatan yang dilayani Dinas Kesehatan Kota
Tangerang terhadap jamaah haji Tahun 2010.
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat
antara lain:
1. Ilmu Pengetahuan
Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi pengembangan pengetahuan
ilmiah di bidang manajemen haji dan umrah, khususnya dalam pelayanan
kesehatan jamaah haji.
2. Akademis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kajian yang menarik dan
dapat menambah wawasan khasanah keilmuan bagi para pembaca
khususnya mahasiswa manajemen dakwah, serta dapat berguna bagi
banyak pihak terutama sebagai tambahan referensi atau perbandingan bagi
studi-studi yang akan datang.
3. Praktisi
Penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan wawasan baru dan
memberikan motivasi bagi para

praktis yang konkret terhadap

perkembangan ilmu manajemen haji dan umrah serta dapat memberikan


motivasi pada dinas kesehatan dalam upaya meningkatkan pelayanan
terutama dalam hal pelayanan kesehatan jamaah haji.

D. Metodologi Penelitian
1. Metode Penelitian
Pada penyusunan skripsi ini, penulis menggunakan pendekatan
deskriptif kualitatif yaitu dengan melakukan penelitian yang menghasilkan
data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan
perilaku yang dapat diamati.
Dengan memilih metode kualitatif ini, penulis mengharapkan
dapat memperoleh data yang lengkap dan akurat. Ditinjau dari sifat
penyajian datanya, penulis menggunakan metode deskriptif yang mana
metode deskriptif merupakan penelitian yang tidak mencari atau
menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau prediksi.6
2. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek dari penelitian ini adalah orang atau sekelompok orang
yang dapat memberikan informasi refresentatif, mereka terdiri dari kepala
seksi bagian pelayanan kesehatan dan para jajaran bagian haji/staf haji
serta jamaah haji yang telah dibantu oleh Dinas Kesehatan Kota
Tangerang

melalui pelayanan kesehatan jamaah haji yang diberikan.

Sedangkan yang dijadikan objek penelitian ini adalah manajemen yang


digunakan dalam pelayanan kesehatan pada jamaah haji.
3. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi di Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Jl. Daan Mogot No. 69 Tangerang. Waktu Penelitian dimulai
6

Jalaludin Rahmat, Metode Penelitian Komunikasi dilebfkapi Contoh Analisis Statistik.


(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002), Cet. 11, h. 24

pada bulan Januari dan berakhir pada bulan Maret 2011. Pada musim haji
tahun 2010.
4. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data-data yang diperlukan. Maka penulis
menggunakan jenis penelitian di antaranya yaitu field research (penelitian
lapangan), penulis mengadakan jenis penelitian dengan datang langsung ke
lapangan (objek) penelitian di Dinas Kesehatan Kota Tangerang,
sedangkan data yang diperoleh dari metode ini merupakan data primer
(utama) penelitian.
Dalam penelitian lapangan ini, penulis juga menggunakan beberapa teknik
untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan pembahasan di
antaranya sebagai berikut:
a. Observasi
Observasi ialah pengamatan dan pencatatan yang sistematis
terhadap gejala-gejala yang diteliti.7 Penulis melakukan penelitian
dengan cara mengamati langsung terhadap segala sesuatu yang terkait
dengan masalah pelayanan kesehatan jamaah haji yang dilakukan oleh
Dinas Kesehatan Kota Tangerang.
b. Wawancara
Wawancara (interview) ialah Tanya jawab lisan antara penulis
dengan Kasi Haji dan Staff Jajarannya yang di dalamnya terdiri dari
ketua bidang P2PL, ketua seksi P21, staff P2I, dan pihak puskesmas.
7

Husaini Usman dan Purnomo Setiady Akbar, Metodologi Penelitian Sosial (Jakarta: PT
Bumi Aksara, 2003)CET. Ke-4, h. 53

Penulis menggunakan teknik interview bebas terpimpin, yaitu penulis


menggunakan beberapa pernyataan kepada responden yang telah
penulis siapkan, lalu dijawab oleh responden dengan bebas dan
terbuka.
c. Dokumentasi
Dokumentasi ialah pengambilan data yang diperoleh melalui
dokumen-dokumen.8 Penulis menggunakan data-data dan sumbersumber yang ada hubungannya dengan masalah yang akan dibahas.
Sedangkan data-data ini, penulis peroleh dari buku-buku, profile
company, arsip-arsip maupun diktat-diktat pelayanan kesehatan Dinas
Kesehatan Kota Tangerang dan lain sebagainya yang dapat
mendukung serta berkaitan dengan masalah penelitian.
Selanjutnya dalam menggunakan data-data tersebut, penulis
berusaha untuk memaparkan kerangka awal mengenai objek studi yang
ditulis dengan memahami seksama, kemudian memberikan interpretasi
sesuai kecenderungan dan frame of thinking.
d. Teknik analisis data
Dalam menganalisis data penulis menggunakan metode
deskriptif analisis, yaitu suatu teknik analisis data; di mana penulis
terlebih dahulu memaparkan semua data yang diperoleh dari
pengamatan., kemudian menganalisisnya dengan berpedoman kepada
sumber-sumber yang tertulis.

Ibid, h. 73

10

e. Teknik Penulisan
Dalam penulisan ini, penulis berpedoman pada buku. Pedoman
penulisan karya ilmiah (skripsi, tesis, dan disertasi), yang disusun oleh
tim penulis UIN JAKARTA dan di terbitkan oleh CEQDA UIN
Jakarta pada tahun 2007.

E. Tinjauan Pustaka
Dari beberapa skripsi yang penulis baca, banyak pendapat yang harus
diperhatikan dan menjadi perbandingan selanjutnya. Adapun setelah penulis
mengadakan suatu kajian kepustakaan, akhirnya penulis menemukan beberapa
skripsi yang membahas tentang ibadah haji, judul-judul skripsi tersebut
adalah:
Dzul Kifli Manajemen Pelayanan Jamaah Haji dan Umroh PT.
PATUNA TOUR DAN TRAVEL skripsi mahasiswa Jurusan Manajemen
Dakwah Tahun 2010 ini membahas tentang bagaimana upaya PT. PATUNA
TOUR DAN TRAVEL dalam memberikan pelayanan ibadah haji dan umroh
pada jamaah sesuai dengan teori manajemen customer service serta faktor
pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan pelayanaan ibadah haji dan
umroh.
Nur

Siti Aliyah Strategi Pelayanan Prima Kantor Departemen

Agama Jakarta Barat Terhadap Calon Jamaah Haji Skripsi mahasiswi Jurusan
Manajemen Dakwah Tahun 2008 yang berisi tentang perlunya pelayanan
prima KANDEPAG Jakarta Barat terhadap calon jamaah haji, serta bagaimana

11

strategi pelayanan prima KANDEPAG Jakarta Barat dalam membantu


perjalanan ibadah haji calon jamaah haji.
Ahmad Muis Strategi Pelayanan Prima Kementerian Agama Jakarta
Selatan Pada Calon Jamaah Haji. Skripsi mahasiswa Jurusan Manajemen
Dakwah Tahun 2010, berisi tentang petugas pelaksana Kementerian Agama
Jakarta Selatan dalam memberikan pelayanan prima pada calon jamaah haji
dan strategi pelayanan prima Kementerian Agama Jakarta Selatan dalam
penyelenggaraan ibadah calon jamaah haji.
Dilihat dari beberapa judul skripsi diatas, berbeda dengan penelitianpenelitian sebelumnya. Penelitian kali ini penulis menggambarkan bagaimana
manajemen pelayanan kesehatan pada Dinas Kesehatan Kota Tangerang.
Banyak perbedaan dari penelitian ini yakni ditinjau dari sisi objek yaitu
manajemen pelayanan kesehatan jamaah haji dan dari sisi subjek yaitu Dinas
Kesehatan Kota Tangerang. Dalam hal ini dari segi judul berbeda, baik itu dari
segi pembahasan yang diteliti pun berbeda yaitu materi mengenai manajemen
pelayanan kesehatan jamaah haji dan aspek kesehatan apa saja yang dilayani
Dinas Kesehatan Kota Tangerang, yang penulis bahas tentang Manajemen
Pelayanan Kesehatan Jamaah Haji Dinas Kesehatan Kota Tangerang Pada
Musim Haji Tahun 2010.

F. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan ini terdiri dari lima bab, adapun pembahasannya
secara rinci adalah sebagai berikut :

12

BAB I

PENDAHULUAN
Latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah,
tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian, tinjauan
pustaka dan sistematika penulisan.

BAB II :

LANDASAN

TEORI

TENTANG

MANAJEMEN

PELAYANAN KESEHATAN DAN JAMAAH HAJI


Pengertian

manajemen

pelayanan

kesehatan,

Fungsi

manajemen, Ruang lingkup manajemen pelayanan kesehatan,


Ciri-ciri pelayanan yang baik, Pengertian jamaah haji,
Klasifikasi jamaah haji, Makna Istithoah pada aspek
kesehatan, Pelayanan Kesehatan jamaah Haji.
BAB III :

TINJAUAN UMUM TENTANG DINAS KESEHATAN


KOTA TANGERANG
Visi dan Misi Dinas Kesehatan, Strategi dan Kebijakan Dinas
Kesehatan, Tujuan dan Sasaran, Struktur Organisasi Dinas
Kesehatan.

BAB IV :

ANALISIS MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN


JAMAAH HAJI TAHUN 2010
Manajemen

Pelayanan

Kesehatan

Jamaah Haji,

Aspek

Kesehatan Yang Dilayani Dinas Kesehatan Kota Tangerang,


Analisis.
BAB V :

PENUTUP
Kesimpulan dan saran.

BAB II
LANDASAN TEORI TENTANG MANAJEMEN PELAYANAN
KESEHATAN DAN JAMAAH HAJI DINAS KESEHATAN
KOTA TANGERANG

A. Manajemen Pelayanan Kesehatan


1. Pengertian Manajemen Pelayanan Kesehatan
Dalam kegiatan apa saja, agar kegiatan tersebut dapat mencapai
tujuannya secara efektif diperlukan pengaturan yang baik. Demikian juga
kegiatan dan atau pelayanan

kesehatan masyarakat

memerlukan

pengatuaran yang baik. Agar tujuan tiap kegiatan atau program itu tercapai
dengan baik. Proses pengaturan kegiatan ilmiah ini disebut manajemen,
sedangkan proses untuk mengatur kegiatan-kegiatan atau pelayanan
kesehatan

masyarakat

disebut

Manajemen

Pelayanan

Kesehatan

Masyarakat.1
Ada beberapa definisi manajemen sebagai berikut : dalam kamus
manajemen, arti dari istilah manajemen, arti dari istilah manajemen
adalah: manajemen, pengurusan, kepemimpinan, ketatalaksanaan, dan
kepengurusan, pengelolaan dan sebagainya.2
Dari segi etimologi, kata manajemen berasal dari bahasa Inggris
yang diambil dari kata to manage yang sinonimnya antara lain to hand
1

Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo, Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni, (Jakarta:Rineka
Cipta, 2007), h. 82
2
Moekijat, Kamus Manajemen, (Bandung: CV. Mandar Maju, 1990), Cet. 4, h. 290-291

13

14

berarti mengurus, to control berarti memeriksa, to guide

berarti

memimpin atau membimbing. Jadi apabila dilihat dari asal katanya,


manajemen

berarti

mengurus,

mengendalikan,

memimpin

atau

membimbing.3
Dengan sangat bervariasi para ahli manajemen mendefinisikan
manajemen dari sudut pandang mereka. Dapat dikemukakan mengenai
batasan-batasan pengertian manajemen oleh George R Terry, manajemen
merupakan proses yang khas, yang terdiri dari tindakan-tindakan
perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan dan pengawasan yang
dilakukan untuk menentukan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan
melalui pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumber lainnya.4
Manajemen adalah ilmu terapan yang dapat dimanfaatkan di dalam
beerbagai jenis organisasi untuk membantu manajer memecahakn masalah
organisasi, atas dasar pemikiran tersebut, manajemen juga dapat
diterapkan dibidang kesehatan untuk membantu para manajer organisasi
kesehatan memecahkan masalah kesehatan masyarakat. Tujuan umum
sistem

kesehatan

adalah

untuk

meningkatkan

derajat

kesehatan

masyarakat, atau mencapai suatu keadaan sehat bagi individu atau


kelompok-kelompok masyarakat.5

E.K. Mochtar Effendi, Manajemen Suatu Pendekatan Berdasarkan Ajaran Islam.


(Jakarta: Bharatara Karya Aksara, 1996) cet ke-2, h. 6
4
Rosady Ruslan, Manajemen Humas dan Manajemen Komunikasi, Konsepsi dan
Aplikasi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Rosada, 1998), Cet. 1, h.1
5
A. A. Gde Muninjaya, Manajemen Kesehatan, (Jakarta: Buku Kedokteran EGC, 2004),
cet I, h. 45

15

Dari batasan-batasan tersebut dapat diambil suatu kesimpulan


umum bahwa manajemen adalah suatu kegiatan untuk mengatur orang lain
guna mencapai tujuan atau menyelesaikan pekerjaan. Seorang manajer
dalam mencapai tujuan adalah secara bersama-sama dengan orang lain
atau bawahannya. Apabila batasan ini diterapkan dalam bidang kesehatan
masyarakat dapat dikatakan sebagai berikut. Manajemen Kesehatan
adalah suatu kegiatan atau suatu seni untuk mengatur para petugas
kesehatan dan non-petugas kesehatan guna meningkatkan kesehatan
masyarakat melalui program kesehatan.6
Pelayanan kesehatan merupakan rangkaian pelayanan kesehatan
yang bersifat kontinum dan komprehensif dengan melaksanakan proses
pemeriksaan kesehatan, pengobatan dan pemeliharaan kesehatan terhadap
jemaah haji sesuai standar agar jemaah haji dapat melaksanakan ibadah
haji yang sebaik-baiknya. Pemeliharaan kesehatan sendiri merupakan
upaya menjaga kemandirian kesehatan jemaah dengan persiapan obat dan
cara-cara konsultasi kesehatan di perjalanan, asupan makan dan gizi,
konsultasi dan bimbingan kesehatan.7
Pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan terdiri dari pelayanan
kesehatan di daerah (pemeriksaan kesehatan sebelum keberangkatan/pra
haji dan pada saat kepulangan/pasca haji), pelayanan kesehatan di
embarkasi dan debarkasi, pelayanan kesehatan selama di penerbangan,
pelayanan kesehatan selama di Arab Saudi, dan pelayanan kesehatan di
6

Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo, Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni, (Jakarta:Rineka
Cipta, 2007), h. 83
7
Kmk. No. 442, ttg Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Haji Indonesia.Pdf, h. 13

16

kelompok terbang. Pelayanan kesehatan tersebut satu dengan lain


merupakan proses pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan
komprehansif.8
Kata lain manajemen kesehatan masyarakat adalah penerapan
manajemen umum dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat sehingga
yang menjadi objek atau sasaran manajemen adalah sistem pelayanan
kesehatan masyarakat.9
Untuk dapat menyelenggarakan manajemen pelayanan dengan
baik, ada prinsip-prinsip manajemen pelayanan yang dapat di pakai
sebagai acuan. Prinsip-prinsip tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
a. Identifikasi kebutuhan konsumen yang sesungguhnya
b. Sediakan pelayanan yang terpadu (one-stop-shop)
c. Buat sistem yang mendukung pelayanan konsumen
d. Usahakan agar semua orang atau karyawan bertanggung jawab
terhadap kualitas pelayanan
e. Layanilah keluhan konsumen secara baik
f. Terus berinovasi
g. Karyawan adalah sama pentingnya dengan konsumen
h. Bersikap tegas tetapi ramah terhadap konsumen
i. Jalin komunikasi dan interaksi khusus dengan pelanggan
j. Selalu mengontrol kualitas.10

Ibid, h. 13
Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo, Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2007), h. 83-84
10
Ratminto dan Atik Septi Winarsih, Manajemen Pelayanan, h. 87
9

17

2. Fungsi Manajemen
Fungsi pertama pada manajemen adalah perencanaan atau planning
yaitu pemilihan sekumpulan kegiatan dan pemutusan selanjutnya apa yang
harus dilakukan, kapan, bagaimana, dan oleh siapa, juga proses dasar di
mana manajemen memutuskan tujuan dan cara mencapainya.11Adapun
perencanaan atau planning adalah tindakan menentukan sasaran yang
ingin dicapai dan tindakan yang seharusnya dilaksanakan.12
Fungsi kedua pada manajemen adalah pengorganisasian atau
organizing. Setiap usaha mencapai tujuan apabila harus melibatkan banyak
orang maka mutlak diperlukan adanya organisasi. Organisasi adalah
bentuk setiap perserikatan manusia untuk pencapaian suatu tujuan
bersama.13 Untuk mencapai tujuan, maka diperlukan berbagai langkah dan
kegiatan, langkah-langkah dirumuskan dan disusun sebagai kegiatan yang
akan

dilaksanakan

untuk

mencapai

tujuan.

Dengan

demikian

pengorganisasian mencakup usaha membagi-bagi pekerjaan untuk


mencapai tujuan.
Fungsi ketiga dalam manajemen adalah penggerakkan atau
actuating. Adapun istilah pergerakkan yaitu actuating (memberikan
bimbingan), motivating (memberikan motivasi), directing (memberikan
arah), influencing (mempengaruhi), commending (memberikan komando
atau perintah) Beberapa istilah dikemas untuk aktuasi karena beberapa
11

T. Hani Handoko, Manajemen, (Yogyakarta : BPFE, 1997), Edisi ke-2, h. 77-78


AM. Kardaman. Pengantar Ilmu Manajemen. (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
1996). Cet. Ke-1, h. 46
13
Sutarto, Dasar-Dasar Organisasi, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2006 ),
h. 23
12

18

istilah tersebut dianggap mempunyai pengertian yang sama yaitu


menggerakkan dan mengarahkan pelaksanaaan program.14
Fungsi yang keempat adalah pengawasan atau controlling.
Pengawasan adalah suatu tindakan atau proses kegiatan untuk mengetahui
hasil pelaksanaan, kesalahan, kegagalan untuk kemudian dilakukan
perbaikan dan mencegah terulang kembali kesalahan-kesalahan itu, begitu
pula agar pelaksanaan tidak berbeda dengan rencana yang ditetapkan.15
Dan fungsi kelima dalam manajemen adalah evaluasi atau
evaluating. Baik pengawasan maupun evaluasi selalu mengumpulkan data.
Untuk dimanfaatkan memperbaiki fungsi perencanaan. Keduanya juga
mempunyai orientasi masa depan.16

3. Ruang Lingkup Manajemen Pelayanan Kesehatan


Seperti halnya manajemen perusahaan, dibidang kesehatan juga
dikenal berbagai jenis manajemen sesuai dengan ruang lingkup kegiatan
dan sumber daya yang dikelolanya. Ada bidang yang mengurus personalia
(manajemen personalia), keuangan (manajemen keuangan), logistik-obat
dan peralatan (manajemen logistik), pelayanan kesehatan (manajemen
pelayanan kesehatan dan sistem informasi manajemen) dan sebagainya.17
14

A. A. Gde Munginjaya, Manajemen Kesehatan, (Jakarta : Buku Kedokteran EGC), cet

I, h. 85
15

Diati Julitirsa dan John Suprihanto, Manajemen Suatu Pengantar. (Yogyakarta : BPFE.
1992). Cet. ke-2, h. 101
16
A. A. Gde Munginjaya, Manajemen Kesehatan, (Jakarta : Buku Kedokteran EGC), cet
I, h.96
17
A. A. Gde Muninjaya, Manajemen Kesehatan, (Jakarta: Buku Kedokteran EGC, 2004),
cet I, h. 49

19

Pembinaan dan pelayanan kesehatan bagi jemaah haji dilaksanakan secara


menyeluruh yang meliputi upaya promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif, dan dalam pelaksanaannya perlu kerjasama berbagai pihak
terkait, sektor dan pemerintah daerah, serta perlu adanya pedoman yang
dapat menjadi acuan penyelenggaraan kesehatan haji di tanah air, di
embarkasi dan debarkasi serta selama perjalanan di Arab Saudi. Pedoman
dimaksud telah disusun dan ditetapkan dengan Keputusan Menteri
Kesehatan

Nomor

1394/Menkes/SK/2002

tentang Penyelenggaraan

Kesehatan Haji, yang dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 13 Tahun


2008

tentang

Penyelenggaraan

Ibadah

Haji,

perlu

dilakukan

penyempurnaan dan penyesuaian.18


Bimbingan, penyuluhan dan pelayanan kesehatan jamaah haji
merupakan rangkaian kegiatan terstruktur dalam upaya meningkatkan
status kesehatan dan kemandirian jemaah haji. Kegiatan bimbingan,
penyuluhan dan pelayanan kesehatan dilaksanakan secara bertahap atau
berkesinambungan sejak dari puskesmas, pemeriksaan, bimbingan dan
penyuluhan kesehatan di unit pelayanan di kabupaten/kota, bimbingan,
penyuluhan dan pelayanan kesehatan jemaah haji selama perjalanan dari
daerah asal, di asrama haji embarkasi, selama perjalanan Indonesia Arab
Saudi, selama di Arab Saudi, di asrama haji debarkasi dan sampai dengan
14 hari pertama sekembalinya ke tanah air.

18

Kmk. No. 442, ttg Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Haji Indonesia.Pdf, h. 4

20

Bimbingan dan penyuluhan kesehatan dapat dilakukan secara


perorangan, maupun berkelompok melalui berbagai kegiatan pertemuan,
penyuluhan media massa, dan cara-cara promosi lainnya. 19

4. Ciri-Ciri Pelayanan Yang Baik


Pengertian pelayanan yang baik adalah kemampuan perusahaan
dalam memberikan kepuasan kepada jamaah dengan standar yang sudah
ditetapkan. Kemampuan tersebut ditunjukan oleh sumber daya manusia
dan sarana serta prasarana yang dimiliki. Banyak perusahaan yang ingin
dianggap selalu yang terbaik dimata jamaah. Karena jamaah akan menjadi
setia terhadap produk yang ditawarkan. Disamping itu, perusahaan juga
berharap pelayanan yang diberikan kepada jamaah dapat ditularkan kepada
calon jamaah lainnya. Hal ini merupakan promosi tersendiri bagi
perusahaan yang berjalan terus secara berantai dari mulut kemulut.
Dengan kata lain, pelayanan yang baik akan meningkatkan image
perusahaan dimata jamaahnya. Image ini harus selalu dibangun agar citra
perusahaan dapat selalu meningkat.
Dalam prakteknya pelayanan yang baik memiliki cirri-ciri
tersendiri dan hamper perusahaan menggunakan criteria yang sama untuk
membentuk ciri-ciri pelayanan yang baik. Terdapat beberapa faktor
pendukung yang berpengaruh langsung terhadap mutu pelayanan yang
diberikan.

19

Ibid, h. 13

21

Yang mempengaruhi pelayanan yang baik pertama adalah faktor


manusia yang memberikan pelayanan tersebut. Manusia (karyawan) yang
melayani jamaah harus memiliki kemampuan melayani jamaah secara
tepat dan cepat. Disamping itu, karyawan harus memiliki kemampuan
dalam berkomunikasi, sopan santun, ramah, dan bertanggung jawab penuh
terhadap jamaahnya.
Kedua pelayanan yang baik juga harus diikuti oleh tersedianya
sarana dan prasarana yang mendukung kecepatan, ketepatan, dan
keakuratan pekerjaan. Sarana dan prasarana harus dilengkapi oleh
kemajuan teknologi terkini. Pada akhirnya, sarana dan prasarana yang
dimiliki juga harus dioperasikan oleh manusia yang berkualitas pula. Jadi
dapat dikatakan kedua faktor tersebut saling menunjang satu sama
lainnya.20
Parasuraman, Zeithaml, dan Berry sebagaimana dikutip oleh Philip
Kottler

menyusun

faktor

utama

yang

menjadi

penentu

dalam

meningkatkan mutu pelayanan, antara lain:21


a. Akses
Pelayanan harus mudah dijangkau dalam lokasi yang mudah dicapai
pada saat yang tidak merepotkan dan cepat.
b. Komunikasi
Pelayanan harus diuraikan dengan jelas dalam bahasa yang mudah
dimengerti oleh jamaah.
20

Kasmir, Etika Customer Service, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), h. 14


Philip Kottler, Manajemen Pemasaran Analisis Perencanaan, Implementasi dan
Pengendalian, (Jakarta: Erlangga, 1995) Edisi Ke-6 Jilid 2, h. 107
21

22

c. Kompetensi
Pegawai atau karyawan harus memiliki keterampilan dan pengetahuan
yang dibutuhkan.
d. Kesopanan
Pegawai atau karyawan harus bersikap ramah, penuh hormat dan
penuh perhatian.
e. Kredibilitas
Instansi dan pegawai harus bisa di percaya dan memahami keinginan
utama yang diharapkan jamaah.
f. Reabilitas
Pelayanan harus dilaksanakan dengan konsisten dan cermat.
g. Cepat Tanggap
Pegawai harus memberikan tanggapan dengan cepat dan kreatif atas
permintaan dan masalah jamaah.
h. Kepastian
Pelayanan harus bebas dari bahaya, resiko, atau hal-hal yang
meragukan.
i. Hal-hal yang berwujud
Hal-hal yang berwujud pada sebuah pelayanan harus dengan tepat
memproyeksikan mutu pelayanan yang akan diberikan.
j. Memahami atau Mengenali Masyarakat
Pegawai harus memahami kebutuhan masyarakat atau jamaah dengan
memberikan perhatian secara individu.

23

B. Jamaah Haji
1. Pengertian Jamaah Haji
Jamaah adalah kata bahasa Arab yang artinya kompak atau
bersama-sama, ungkapan shalat berjamaah berarti shalat yang
dikerjakan secara bersama-sama dibawah pimpinan seorang imam.
Jamaah juga berarti sekelompok manusia yang terikat oleh sikap,
pendirian, keyakinan, dan tugas serta tujuan yang sama. Islam
menganjurkan umat Islam menggalang kekompakan dan kebersamaan,
yaitu suatu masyarakat yang terdiri dari pribadi-pribadi muslim, yang
berpegang pada norma-norma Islam, menegakkan prinsip taawun
(tolong-menolong) dan (kerja sama) untuk tegaknya kekuatan bersama
demi tercapainya tujuan yang sama.22
Secara substansial haji merupakan bagian dari ritual keagamaan
kaum Muslim yang bersifat personal. Meskipun demikian, sepanjang
sejarahnya pelaksanaan ibadah haji selalu mendapatkan perhatian negara.23
Dalam buku Fiqih Empat Mazhab bagian ibadat (puasa, zakat, haji,
kurban), Abdurrahman al-Zaziri menyatakan bahwa yang dimaksud
dengan Haji secara bahasa menuju kemuliaan, sedangkan pengertian haji
secara istilah adalah amalan-amalan tertentu dan cara tertentu pula.24

22

Prof. Dr. H. Harun Nasution, Ensiklopedi Islam Indonesia, (Jakarta, Djembatan, 1992),

h. 486-487
23

Muhammad M. Basyuni, Reformasi Manajemen Haji, (Jakarta : FDK Press, 2008), hal.

45
24

Abdurrahman al-Zaziri, Fiqih 4 Mazhab Bagian Ibadat (Puasa, Zakat, Haji, Kurban),
(Jakarta : Darul Ulum Press, 1996), cet. Ke-1, h. 177

24

Sebagai salah satu rukun Islam, ibadah haji diwajibkan satu kali
sepanjang hidup setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat
utamanya yaitu memiliki kemampuan ekonomi maupun fisik. Faktorfaktor lain yang berhubungan dengan syarat tersebut adalah keamanan,
transportasi, dan akomodasi selama pelaksanaan haji. Seorang muslim
yang melakukan ibadah haji akan melaksanakan rangkaian ritual mulai
dari memakai ihram, thawaf, wukuf dan sebagainya, berikut laranganlarangan yang berkaitan dengan ibadah.25
Sedangkan pengertian jamaah haji yaitu Warga Negara Indonesia
beraganma Islam yang telah mendaftarkan diri untuk menunaikan ibadah
haji sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.26

2. Klasifikasi Jamaah Haji


Adapun ruang lingkup jamaah haji adalah sebagai berikut :
a. Jamaah haji mandiri adalah jamaah haji yang memiliki kemampuan
mengikuti perjalanan ibadah haji tanpa tergantung kepada bantuan
alat/obat dan orang lain.
b. Jamaah haji observasi adalah jamaah haji yang memiliki kemampuan
mengikuti perjalanan ibadah haji dengan bantuan alat dan atau obat.

25

Abdul Halim, Ensiklopedi Haji dan Umroh, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,
2002), h. 84
26
Pedoman Teknis Pemeriksaan Kesehatan Jemaah Haji, (Pusat Kesehatan Haji
Kementrian Kesehatan RI : 2010), h.9

25

c. Jamaah haji pengawasan adalah jamaah haji yang memiliki


kemampuan mengikuti perjalanan ibadah haji dengan bantuan alat dan
atau obat dan orang lain.
d. Jamaah haji tunda adalah jamaah haji yang kondisi kesehatannya tidak
memenuhi syarat untuk mengikuti perjalanan ibadah haji.
e. Jamaah haji resiko tinggi adalah jamaah haji dengan kondisi kesehatan
yang secara epidemiologi beresiko sakit dan atau mati selama
perjalanan ibadah haji, meliputi:
1) Jamaah haji lanjut usia
2) Jamaah haji penderita penyakit menular tertentu yang tidak boleh
terbawa keluar dari Indonesia berdasarkan peratutan kesehatan
yang berlaku.
3) Jamaah haji wanita hamil
4) Jamaah haji dengan ketidakmampuan tertentu terkait penyakit
kronis dan atau penyakit tertentu lainnya.27

3. Makna Istithaah Pada Aspek Kesehatan


Istithaah secara etimologi berarti kemampuan dan kesanggupan
melakukan sesuatu. Istithaah dalam pengertian kebahasaan berasal dari
akar kata ta, yaitu tauan, berarti taat patuh dan tunduk. Istithah
berarti keadaan seseorang untuk melakukan sesuatu yang diperintahkan
syara sesuai dengan kondisinya. Semakin besar kemmapuan seseorang
semakin besar tuntutan untuk mengerjakan suatu perbuatan. Kajian tentang
27

Ibid, h.9-10

26

istithah dibahas hampir ke semua furu (cabang) ibadah, pada masalah


shalat, puasa, kifarat, nikah dan lain-lain. Akan tetapi yang lebih rinci
dibicarakan adalah istithah dalam ibadah haji. Hal itu disebabkan karena
dalam persoalan haji menghimpun dua kemampuan, kemampuan fisik dan
materi sekaligus.28
Kata istithaah sangat popular digunakan dalam kitab-kitab sumber
hukum Islam seperti Al-Quran, hadis, dan fikih. Para ulama berbeda
pendapat dalam menentukan batasan-batasan istithah. Misalnya pada
ayat yang artinya : Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap
Allah, yaitu (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke
Baitullah (QS. Ali Imran: 97). Para ulama fikih berpendapat ketika
berbicara tentang batas-batas dan asapek-aspek kemampuan itu.
Berdasarkan pemahaman di atas, mazhab Hanafi menyatakan
bahwa makna istithaah terbagi atas tiga macam yaitu (1) istithaah
amaliyah (kemampuan biaya), (2) istithaah badaniyyah (kemampuan
kesehatan) dan, (3) istithaah amniyyah (kemampuan keamanan dalam
perjalanan). Seseorang yang memenuhi ketiga kemampuan ini wajib
melaksanakan

haji.

Kemampuan

pertama

mencakup

kemampuan

menyiapkan biaya pergi-pulang untuk dirinya, biaya untuk keluarga yang


ditinggalkan dan biaya selama berada ditanah suci. Kemampuan kedua
mencakup kemampuan kesehatan badan. Oleh karena itu orang sakit,
tertimpa musibah, lumpuh, buta dan berusia lanjut yang tidak mungkin
28

Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary dkk, Ensiklopedi Islam, (Jakarta : Ichtiar Baru Van
Hoeve, 2001), Cet. Ke. 7,h.259

27

berjalan sendiri tidak wajib melaksanakan ibadah haji. Kemampuan ketiga


mencakup keselamatan dan keamanan selama dalam perjalanan dan
menunaikan ibadah haji termasuk dalam kemampuan ketiga ini ialah
adanya seorang mahram yang balig, berakal, dan tidak fasik untuk
menemani wanita selama melaksanakan haji.
Menurut Mazhab Maliki istithaah ialah kemampuan untuk pergi
dan sampai di Mekah baik dengan berjalan kaki atau memiliki kendaraan.
Kemampuan untuk kembali lagi ke negerinya tidak dipandang sebagai
istithaah kecuali apabila ia mungkin tinggal di Mekah atau daerah
sekitarnya. Golongan ini membagi istithaah kepada tiga macam pula,
yaitu (1) kemampuan kesehatan jasmani, (2) kemampuan biaya dan (3)
kemampuan tersedianya jalan untuk sampai di Mekah.
Menurut Mazhab SyafiI, ada tujuh syarat istithaah yang harus
dipenuhi oleh orang yang akan menunaikan ibadah haji atau umrah. (1)
kemampuan dalam kesehatan jasmani yang dapat diukur dengan
kemampuan untuk duduk diatas kendaraan tanpa menimbulkan kesulitan
yang berarti, (2) kemampuan biaya untuk pergi pulang, (3) ada kendaraan
angkutan, (4) tersediannya bekal ditempat pelaksanaan haji, (5) aman, baik
dalam perjalanan maupun selama berada ditanah suci, (6) wanita harus di
temani oleh suami atau mahramnya, (7) kemampuan untuk sampai
ditempat tujuan pada batas waktu yang ditentukan, yaitu sejak bulan
syawal sampai dengan tanggal 10 Dzulhijjah.

28

Mazhab Hambali mensyaratkan 2 kemampuan yaitu kemampuan


menyiapkan bekal dan (ongkos) kendaraan. Hal ini berdasarkan hadis
riwayat Daru Gufni dari Jabir, Ibnu Umar, Ibnu Amir, Anas bin Malik dan
Aisyah yang menyatakan bahwa pernah seorang laki-laki datang kepada
Rasullah Saw untuk bertanya tentang sesuatu yang mewajibkan haji itu
ialah bekal dan kendaraan.29
Istithah dalam ibadah haji mempunyai pengertian lebih luas
dibanding istithah di dalam ibadah-ibadah lain seperti shalat, puasa, dan
lain-lain.
Para ulama menjelaskan makna istithah mencakup dalam
beberapa hal, antara lain:30
a. Istithah harta yaitu adanya perbekalan untuk membayar Ongkos Naik
Haji (ONH) pergi dan pulang serta biaya hidup, tempat tinggal,
makanan dan minuman yang cukup. Orang yang berangkat haji dengan
cara meminta-minta dan mengajukan proposal untuk mendapatkan
ongkos haji atau meminta jatah dari pemerintah atau dari instansi
tertentu. Sebenarnya belum ada kewajiban haji bagi mereka. Namun
demikian, bila haji dilaksanakan dengan biaya pemberian orang lain,
hajinya tetap sah dan sudah dianggap melaksanakan rukun Islam yang
kelima.

29

Ibid, h. 259-260
http://waspadamedan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=7414
:memahami-istithaah-dalam-perspektif-ibadah-haji&catid=61:mimbar-jumat&Itemid=230
30

29

b. Istithah dalam kesehatan. Kemampuan fisik salah satu syarat wajib


mengerjakan haji karena pekerjaan ibadah haji berkaitan dengan
kemampuan badaniah, hampir semua rukun dan wajib haji berkaitan
erat dengan kemampuan fisik, terkecuali niat (adalah rukun qalbi).
Dalam hal ini seorang yang buta atau seorang yang bodoh (safih) atau
idiot jika mempunyai kemampuan harta, maka syarat wajib haji
baginya ada pemandu atau penuntun yang membimbing pelaksanaan
hajinya. Dan bagi seorang Lansia (lanjut usia) yang tidak mempunyai
kemampuan untuk duduk lama di dalam kendaraan atau di perjalanan,
boleh mewakilkan hajinya kepada orang lain. Diriwayatkan dalam
hadis shahih dari Jamaah dari Ibnu Abbas ra. bahwa ada seorang
perempuan dari Khatsam berkata : Wahai Rasulullah, sesungguhnya
ayahku punya kemampuan harta untuk mengerjakan haji, namun dia
sudah tua renta, tidak mampu duduk lama di dalam kendaraan (di atas
unta), maka Rasulullah Saw bersabda : Hajikanlah dia, dan peristiwa
itu ditanyakan kepada Rasulullah pada Haji Wada. Berdasarkan hadis
ini, kemampuan fisik sangat menentukan dan tidak melihat kepada
umur. Oleh sebab itu rencana Kerajaan Arab Saudi untuk
memberlakukan batas umur 65 tahun tidak boleh haji, belum layak
untuk diberlakukan, karena ada sebagian orang meskipun umur sudah
lebih 65 tahun, akan tetapi masih mempunyai kemampuan fisik untuk
berhaji.

30

c.

Kemampuan (istithah) untuk mendapatkan kendaraan atau alat


transportasi sama ada dengan menyewa atau membeli tiketnya
merupakan syarat wajib haji. Jika seseorang sudah mendapatkan visa
haji akan tetapi tidak ada tiket pesawat reguler atau carter yang
membawanya ke haji, maka kewajibannya telah gugur, dan demikian
pula bagi seorang wanita yang berangkat tanpa muhrim/mahram, maka
belum wajib melaksanakan ibadah haji. Rasul Saw bersabda : Wanita
tidak boleh bepergian lebih dari dua hari kecuali ditemani suami atau
mahramnya. (HR. Bukhari dan Muslim). Persoalan mahram ini,
Kerajaan Arab Saudi telah memberi kemudahan bagi wanita usia lanjut
dan berombongan, tidak disyaratkan mahram untuk mendapatkan visa
haji dan umrah.
Akhirnya,

istithah dalam

semua

ibadah menjadi

syarat

terlaksananya semua perintah Allah Swt, semakin tinggi kemampuan,


semakin tinggi pula tuntutan syara kepadanya. Sebaliknya, berkurang
kemampuan, berkurang pula tuntutan Allah kepadanya. Dan Allah Swt
tidak membebankan seseorang melainkan sesuai kemampuan. Hikmah dari
semua itu agar ibadah terlaksana dengan ikhlas.
Menunaikan ibadah haji merupakan kewajiban yang harus
dilaksanakan oleh setiap muslim yang mampu (istithoah) mengerjakannya
sekali

seumur

hidup.

Kemampuan

yang

harus

dipenuhi

untuk

31

melaksanakan ibadah haji dapat digolongkan dalam dua pengertian,


yaitu:31
Pertama, kemampuan personal yang harus dipenuhi oleh masingmasing kemampuan ekonomi yang cukup baik bagi dirinya maupun
keluarga yang ditinggalkan, dan didukung dengan pengetahuan agama
khususnya tentang manasik haji.
Kedua, kemampuan umum yang bersifat eksternal yang harus
dipenuhi oleh lingkungan-negara dan Pemerintah- mencakup antara lain
peraturan

perundangan-undangan

yang

berlaku,

keamanan

dalam

perjalanan, fasilitas, transportasi, dan hubungan antarnegara baik


multilateral maupun bilateral antara Pemerintah Indonesia dengan kerajaan
Arab Saudi. Dengan terpenuhinya dua kemampuan tersebut, maka
perjalanan untuk menunaikan ibadah haji baru dapat terlaksana dengan
baik dan lancar.
Sebagai sebuah kewajiban, ibadah haji merupakan jalan menuju
pada pemenuhan nilai keagamaan untuk menjadi seorang muslim yang
kaffah. Ali Shariati (1978), memandang semangat (motivasi) haji sebagai
berikut: Jika ditinjau dari sudut pandang yang praktis dan konseptual,
maka rukun-rukun Islam yang terpenting yang memberikan motivasi
kepada nation Muslim dan yang membuat warga-warganya sadar, merdeka

31

Ahmad Nizam dan Alatif Hasan, Manajemen Haji, (Jakarta : Zikru Hakim, 2000), h. 2

32

terhormat, serta memiliki tanggung jawab sosial adalah tauhid, jihad dan
haji.32
Kesehatan ditinjau dari sisi agama yaitu kemampuan dalam ibadah
haji (istithaah) adalah kemampuan material, kemampuan kesehatan,
kemampuan keamanan. Haji adalah ibadah fisik hampir 90% kegiatan
ibadah haji menggunakan fisik yaitu: sholat, towaf, saI, lempar jumroh,
mabit dan perjalanan dari kemah ketempat ibadah, juga dari pondokan ke
tempat ibadah. Semua itu memerlukan kondisi fisik yang prima dan
sehat.33
Salah satu faktor penting bagi jamaah dalam pelaksanaan
rangkaian ibadah haji adalah kondisi kesehatan yang prima bagi jamaah
haji yang sehat, dan kondisi kesehatan yang optimal bagi jamaah haji yang
memang telah mengidap sesuatu penyakit kronis tertentu, agar kegiatan
fisik yang merupakan inti dari ibadah haji itu dapat terlaksana dengan baik
dan benar.34
Upaya menjaga kondisi fisik yang optimal ataupun prima sangat
dianjurkan mulai dari Tanah air, selama perjalanan, dan selama berada di
Tanah Suci. Pada prinsipnya, upaya menjaga kondisi kesehatan untuk
persiapan bernagakt haji, tidaklah begitu berbeda dengan upaya kesehatan
umum yang selalu dianjurkan menurut ilmu kesehatan. Hanya saja,
sebagai tambahan dalam pelaksanaan haji adalah persiapan jamaah dalam
32

Ali Syariati, H aji (Bandung: Penerbit Pustaka, 2000), h. 5


Drs. H. Ade Marfudin, MM, Peduli Kesehatan Haji 2010, (Jakarta: Lembaga Dakwah
Kesehatan UIN SYAHID, 2010), h. 2
34
Dr. H. Umar Zein, SpPD, MHA, DTM & H, KPTI, Kesehatan Perjalanan Haji,
(Bogor: PRENADA MEDIA, 2003), cet. 1, h. 6
33

33

menghadapi perubahan alam/cuaca dan lingkungan di negara Arab Saudi


yang jauh berbeda dengan keadaan di negara kita Indonesia. Salah satu
aspek yang menentukan tingkat kesehatan untuk melaksanakan perjalanan
ibadah haji adalah gizi atau makanan selama persiapan didaerah asal
sebelum berangkat.
Konsultasi

medik

sebelum

berangkat

sebaiknya

dilakukan

beberapa bulan sebelumnya, terutama bagi calon jamaah yang mempunyai


simpanan penyakit ataupun merasa ada keluhan pada tubuh yang selama
ini sehat. Konsultasi medic minimal 4-6 minggu sebelum berangkat.
Konsultasi medic disini adalah melakukan pemeriksaan yang lengkap serta
menceritakan semua keluhan yang ada kepada dokter yang memeriksa atau
yang merawat. Tidak perlu ada penyakit yang disembunyikan atau
dirahasiakan kepada dokter pemeriksa.
Dokter pemeriksa calon jamaahn haji (dokter puskesmas) dan
kedua (Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten), cenderung untuk memberikan
penilaian klinis yang lebih baik dari yang ditemukannya dan para calon
jamaah, cenderung untuk mengaku sehat kepada dokter pemeriksa agar
proses pemeriksaannya berjalan lancar. Kedua hal ini sebenarnya tidak
perlu terjadi dan terulang lagi demi kebaikan dan kenyamanan perjalanan
haji.35

35

Ibid, h. 7

34

4. Pelayanan Kesehatan Jamaah Haji


Penyelenggaraan kesehatan haji adalah rangkaian kegiatan
pelayanan kesehatan haji meliputi pemeriksaan kesehatan, bimbingan dan
penyuluhan kesehatan haji. Pelayanan kesehatan, imunisasi, surveilans,
dan respon KLB, penanggulangan KLB, dan musibah massal, kesehatan
lingkungan dan manajemen penyelenggaraan kesehatan haji.36
Penyelenggaraan kesehatan haji bertujuan untuk memberikan
pembinaan, pelayanan dan perlindungan yang sebaik-baiknya bagi jemaah
haji pada bidang kesehatan, sehingga jemaah haji dapat menunaikan
ibadahnya sesuai dengan ketentuan ajaran agama Islam. Tujuan tersebut
dicapai melalui upaya-upaya peningkatan kondisi kesehatan sebelum
keberangkatan, menjaga kondisi sehat selama menunaikan ibadah sampai
tiba kembali ke Indonesia, serta mencegah transmisi penyakit menular
yang mungkin terbawa keluar/masuk oleh jemaah haji. 37
Kesehatan adalah modal perjalanan ibadah haji, tanpa kondisi
kesehatan yang memadai, niscaya prosesi ritual peribadatan menjadi tidak
maksimal. Oleh karena itu setiap jemaah haji perlu menyiapkan diri agar
memliki status kesehatan optimal dan mempertahankannya. Untuk itu,
upaya pertama yang perlu ditempuh adalah pemeriksaaan kesehatan.
Pemeriksaan kesehatan merupakan upaya identifikasi status
kesehatan sebagai landasan karakteristik, prediksi dan pennetuan cara

36

Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Haji, (Departemen Kesehatan RI: 2009), h.5


Pedoman Teknis Pemeriksaan Kesehatan Jemaah Haji, (Pusat Kesehatan Haji
Kementrian Kesehatan RI : 2010), h.7
37

35

eliminasi faktor resiko kesehatan. Dengan demikian, prosedur dan jenisjenis pemeriksaan mesti ditatalaksana secara holistic.38
Pemeriksaan kesehatan jamaah haji adalah penilaian status
kesehatan bagi jamaah haji yang telah memiliki nomor porsi sebagai upaya
penyiapan kesanggupan ber-haji melalui mekanisme baku pada sarana
pelayanan kesehatan terstandar yang diselenggarakan secara kontinum
(berkesinambungan)dan komprehensif (menyeluruh). Yang dimaksud
kontinum dan komprehensif yaitu : bahwa proses dan hasil pemeriksaan
selaras dan bermanfaat bagi pelayanan kesehatan dalam rangka perawatan
dan pemeliharaan, serta upaya-upaya pembinaan dan perlindungan jamaah
haji.39
Untuk memberikan pelayanan bagi jemaah haji yang mempunyai
kategori resiko tinggi yaitu kondisi/penyakit tertentu yang terdapat pada
jemaah haji yang dapat memperburuk kesehatannya selama menjalankan
ibadah haji maka mulai tahun 1999 dibentuk kloter khusus bagi jemaah
haji resiko tinggi. Kloter risti ini adalah kloter jemaah haji biasa yang
dipersiapkan bagi jemaah haji resiko tinggi dengan pelayanan khusus di
bidang pelayanan umum, ibadah dan kesehatan serta fasilitas lainnya
untuk menghindarkan lebih beresiko tinggi dengan mengarah kepada
terwujudnya ibadah yang sah, lancar dan selamat.40

38

Ibid. h.7
Ibid. h. 8
40
Ahmad Nizam dan Alatif Hasan, Manajemen Haji, (Jakarta : Zikru Hakim, 2000), h. 2
39

BAB III
TINJAUAN UMUM DINAS KESEHATAN
KOTA TANGERANG

Dalam sebuah pemerintahan daerah didalamnya pasti terdapat departemendepartemen yang membantu berjalanya sebuah pemerintahan. Departemendepartemen terdiri dari beberapa sub bidang, yaitu Dinas Sosial, Dinas Agama,
Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan,
Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Perindustrian, Dinas Pariwisata, Dinas Tata
Kota, Dinas Kebersihan, dan Dinas Kependudukan. Pada Dinas kesehatan Kota
Tangerang periode pertama tahun 1993-2007 dipimpin oleh dr. H. R. Nuriman
Machsudin, M.Kes. dan pada periode kedua tahun 2007 hingga sekarang dr. Hj,
Lilly Indrawati, M. Kes.

A. Visi dan Misi Dinas Kesehatan Kota Tangerang


1. Visi
Terkait dengan pelaksanaan otonomi daerah salah satu urusan yang
diemban oleh Pemerintah Kota Tangerang adalah urusan kesehatan, yang
dalam pelaksanaanya melibatkan Dinas Kesehatann Kota Tangerang.
Selain itu pembangunan kesehatan juga harus selaras dengan apa yang
menjadi target-target pembangunan kesehatan nasional yang dalam
pelaksanaannya dilakukan oleh Kementerian Kesehatan. Keselarasan
tersebut sangat penting karena mekanisme penyelenggaraan pemerintahan

36

37

adalah otonomi dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Oleh karena itu sebagai institusi pemerintahan, perumusan visi Dinas
Kesehatan Kota Tangerang mengacu pada pembangunan kesehatan Kota
Tangerang dan Pemerintahan Pusat dalam hal ini Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.1
Seiring dengan upaya untuk mendukung pencapaian visi Kota
Tangerang Tahun 2009-2013 sebagaimana tertuang dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Kota Tangerang Tahun 20092013 dan berpijak pada kedudukan, tugas pokok dan fungsinya serta isu
strategis yang dihadapi dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan
masyarakat maka Dinas Kesehatan Kota Tangerang Menetapkan Visi
Tahun 2009-2013 sebagai berikut : Masyarakat Kota Tangerang Yang
Sehat Secara Mandiri. Latar belakang dan makna visi tersebut adalah
bahwa dalam mewujudkan suksesnya pembangunan setidaknya terdapat
du komponen yaitu pemerintahan dan masyarakat. Selama ini terdapat
kesan

bahwa

pelaksanaan

pembangunan

merupakan

kewajiban

pemerintahan dan masyarakat adalah objek pembangunan. Hal ini


membawa konsekuensi tujuan pembangunan tidak tercapai dengan
optimal, karena pemerintahan memiliki berbagai keterbatasan antara lain
sumber dana, dan sumber daya manusia, disamping itu berakibat rasa
memiliki masyarakat atas hasil-hasil pembangunan juga kurang. Oleh
karena itu pelaksanaan pembangunan saat ini menempatkan pemerintahan

Buku Profil Dinas Kesehatan Kota Tangerang Tahun 2009, h. 11

38

sebagai fasilitator pembangunan bukan lagi penguasa dan mendorong


partisipasi aktif konstruktif masyarakat. Pemberdayaan masyarakat
menjadi fokus karena potensi yang ada pada masyarakat sangat besar.
Demikian pula pembangunan kesehatan meletakkan masyarakat pada
subjek pembangunan sehingga kemandirian masyarakat untuk hidup
sehat merupakan cita-cita yang akan diwujudkan. Masyarakat yang
mandiri untuk hidup sehat

adalah suatu kondisi dimana masyarakat

menyadari, mau dan mampu untuk mengenali, mencegah, dan mengatasi


permasalahan kesehatan yang dihadapi, sehingga dapat bebas dari
gangguan kesehatan, baik yang disebabkan karena penyakit termasuk
gangguan kesehatan akibat bencana, maupun lingkungan dan perllaku
yang tidak mendukung untuk hidup sehat.2

2. Misi
Misi adalah sesuatu yang harus diemban atau dilaksanakan oleh
instansi pemerintahan, sebagai penjabaran visi yang telah ditetapkan.
Untuk mencapai visi yang telah ditetapkan diatas maka perlu ditetapkan
misi yang merupakan rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan
dilaksanakan untuk mewujudkan visi. Dalam rangka perumusan Misi
Dinas Kesehatan Kota Tangerang Tahun 2009-2013 maka perlu
diperhatikan relevansi dan dukungannya terhadap pencapaian misi Kota
Tangerang Tahun 2009-2013 sebagaimana tertuang dalam Rencana

Buku Profil Dinas Kesehatan Kota Tangerang Tahun 2009, h. 11-12

39

Pembanguan Jangka Menengah (RPJMD) Kota Tangerang Tahun 20092013.


Berpijak pada visi Dinas Kesehatan Kota Tangerang Tahun 20092013 yang telah ditetapkan dan upaya untuk mendukung pencapaian misi
Kota Tangerang Tahun 2009-2013 maka Dinas Kesehatan Kota Tangerang
menetapkan misi Tahun 2009-2013 sebagai berikut:3
a. Mewujudkan tata kelola kelembagaan yang berkualitas dan sumber
daya aparatur yang profesional.
b. Mewujudkan pelayanan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas.
c. Mewujudkan kesehatan lingkungan yang berkualitas.
Misi Dinas Kesehatan Kota Tangerang Tahun 2009-2013 tersebut
diharapkan memberikan kontribusi aktif dalam rangka mendukung
pencapaian Misi Kota Tangerang Tahun 2009-2013 khususnya pada Misi
Meningkatkan Kualitas Pendidikan, Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial
Dengan kewenangan yang dimilki maka Dinas Kesehatan Kota Tangerang
mengemban misi untuk mencapai visi melalui berbagai upaya peningkatan
kualitas pelayanan kesehatan baik secara promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif yang berorientasi kepada kebutuhan masyarakat. Untuk itu
pembinaan yang berorientasi internal berupa pembinaan operasional dan
fasilitas kesehatan menjadi sangat penting. Disamping itu upaya yang

Buku Profil Dinas Kesehatan Kota Tangerang Tahun 2009, h. 11-12

40

berorientasi eksternal berupa pembinaan dan pemberdayaan partisipasi


masyarakat juga sangat penting. 4

B. Tujuan dan Sasaran


Sebagai bentuk upaya penjabaran visi dan misi yang telah
ditetapkan tujuan dan sasaran pada setiap misi. Tujuan merupakan
penjabaran atau implementasi dari pernyataan misi, yaitu sesuatu (apa)
yang akan dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu 5 (lima) tahunan.
Sedangkan sasaran merupakan penjabaran dari tujuan, yaitu hasil yang
akan dicapai secara nyata dalam rumusan yang lebih spesifik, terinci,
dapat diukur dan dapat dicapai, serta dalam kurun waktu yang lebih
pendek dari tujuan. Adapun tujuan Dinas Kesehatan Kota Tangerang tahun
2009 2013 adalah sebagai berikut :5
a. Meningkatkan kinerja kelembagaan.
b. Meningkatkan ketersediaan, mutu dan pengawasan obat, perbekalan
kesehatan dan makanan.
c. Meningkatkan akses dan mutu pelayanan sarana dan prasarana
kesehatan.
d. Meningkatkan

pelayanan

kesehatan

individu,

keluarga

masyarakat.
e. Meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat miskin.
f. Meningkatkan manajemen pelayanan kesehatan.
4
5

Buku Profil Dinas Kesehatan Kota Tangerang Tahun 2009, h. 12-13


Buku Panduan P2PL, h. 16

dan

41

g. Meningkatkan kesehatan lingkungan.


h. Meningkatkan pengendalian penyakit.
Adapun sasaran Dinas Kesehatan Kota Tangerang tahun 2009
2013 adalah :6
a. Meningkatnya ketersediaan dan kualitas pelayanan administrasi
perkantoran.
b. Meningkatnya ketersediaan dan kualitas sarana dan prasarana kerja.
c. Meningkatnya kualitas SDM aparatur.
d. Meningkatnya kualitas perencanaan, pengendalian dan evaluasi
program, kegiatan dan keuangan SKPD.
e. Meningkatnya kecukupan dan kualitas obat dan perbekalan kesehatan.
f. Terkendalinya kualitas obat dan bahan makanan.
g. Meningkatnya ketersediaan dan kualitas sarana dan prasarana
kesehatan.
h. Meningkatnya pelayanan kesehatan masyarakat.
i. Meningkatnya perilaku hidup sehat masyarakat.
j. Meningkatnya gizi keluarga dan masyarakat.
k. Meningkatnya pelayanan kesehatan individu dan keluarga.
l. Meningkatnya pelayanan kesehatan ibu.
m. Menigkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat
miskin.
n. Meningkatnya mutumanajemen pelayanan kesehatan.

Buku Panduan P2PL, h. 17

42

o. Meningkatnya kualitas kesehatan lingkungan.


p. Menurunya penyakit menular.

C. Strategi dan Kebijakan Dinas Kesehatan Kota Tangerang


Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif
untuk mewujudkan visi dan misi. Berdasarkan visi-misi yang telah ditetapkan
maka perlu strategi sebagai suatu landasan tindak lanjut untuk mencapai
tujuan dan sasaran serta merespon isu strategis. Kebijakan adalah arah atau
tindakan yang diambil oleh pemerintah daerah untuk mencapai tujuan.
Berdasarkan visi, misi, tujuan dan sasaran, serta strategi yang telah ditetapkan
maka dirumuskan kebijakan. Strategi Dinas Kesehatan Kota Tangerang tahun
2009 2013 adalah sebagai berikut :7
1. Pemantapan tata kerja dan pelayanan kelembagaan.
2. Pemantapan kapasitas sarana dan prasarana kerja.
3. Pemantapan disiplin dan kualitas SDM aparatur.
4. Pemantapan kualitas pengelolaan program, kegiatan dan keuangan SKPD.
5. Peningkatan ketersediaandan mutu obat dan perbekalan kesehatan.
6. Peningkatan pengawasan obat, makanan dan bahan berbahaya.
7. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana kesehatan.
8. Peningkatan pelayanan kesehatan yang berkualitas.
9. Peningkatan perilaku hidup sehat di masyarakat dan institusi.
10. Peningkatan status gizi pada keluarga dan masyarakat.

Buku Profil Dinas Kesehatan Kota Tangerang, h. 15-16

43

11. Peningkatan kesehatan individu dan keluarga.


12. Peningkatan kesehatan individu dan keluarga.
13. Peningkatan kesehatan ibu.
14. Peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan masyarakat miskin.
15. Pemantapan dan pemeliharaan manajemen pelayanan kesehatan.
16. Pemeliharaan dan pengawasan kesehatan lingkungan.
17. Pemantapan pencegahan dan penanggulangan penyakit.
Adapun kebijakan yang diterapkan Dinas Kesehatan Kota Tangerang
adalah sebagai berikut :8
1. Meningkatkan pengelolaan dan pelayanan administrasi perkantoran.
2. Meningkatkan kapasitas sarana dan prasarana kerja.
3. Meningkatkan disiplin dan kemampuan teknis SDM aparatur.
4. Meningkatkan perencanaan, pengendalian dan evaluasi program, kegiatan
dan keuangan SKPD.
5. Meningkatkan pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan.
6. Meningkatkan pengawasan obat, makanan dan bahan berbahaya.
7. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
8. Meningkatkan pemerataan kualitas pelayanankesehatan kepada individu,
keluarga dan masyarakat.
9. Meningkatnya kerjasama lintas sektoral dan partisipasi masyarakat dala
promosi kesehatan serta pemberdayaan masyarakat.

Buku Profil Dinas Kesehatan Kota Tangerang, h. 16-17

44

10. Meningkatkan kesadaran gizi keluarga, khususnya pada ibu hamil, bayi,
balita dan usia produktif.
11. Meningkatkan pelayanan kesehatan pada anak balita dan lansia.
12. Meningkatkan pelayanan keselamatan ibu dan anak.
13. Meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan masyarakat miskin.
14. Mengelola dan meningkatkan kualitas manajemen pelayanan kesehatan.
15. Meningkatkan pengawasan kualitas air dan lingkungan.
16. Meningkatkan pencegahan dan penanggulangan penyakit.

D. Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kota Tangerang


Dinas daerah merupakan unsur pelaksana otonomi daerah dan tugas
perbantuan dipimpin oleh Kepala Dinas yang berkedudukan dibawah dan
bertanggung jawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah yang dibentuk
berdasarkan Peraturan Daerah Kota Tangerang Nomor 5 tahun 2008 tentang
pembentukan dan susunan organisasi dinas daerah. Dinas Kesehatan Kota
Tangerang

mempunyai

tugas

pokok

melaksanakan

sebagian

urusan

pemerintahan daerah dibidang kesehatan berdasarkan asas otomi dan tugas


perbantuan. Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut, Dinas Kesehatan
menyelenggarakan fungsi sebagai berikut :9
1. Perumusan kebijakan teknis bidang kesehatan
2. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum kesehatan

Buku Dinas Kesehatan Kota Tangerang, h. 18

45

3. Melaksanakan

teknis

administratif

meliputi

administrasi

umum,

kepegawaian, keuangan, sarana prasarana dan administrasi perlengkapan.


4. Perencanaan dan pelaksanaan informasi kesehatan serta penangananan
kesehatan masyarakat.
5. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan dasar dan pelayanan kesehatan
rujukan.
6. Pembinaan teknis unit kerja dinas dan unit pelaksanan teknis dinas serta
tenaga fungsional.
7. Pembinaan kesehatan keluarga dan kesehatan lingkungan serta pencegahan
dan pemberantasan penyakit.
8. Pengawasan obat dan makanan.
9. Pemberian ijin pelayanan bidang kesehatan.
10. Pembinaan,pengendalian dan pengawasan bidang kesehatan
11. Eavaluasi dan pelaporan serta penyelenggaraan ketata-usahaan.
12. Pengoroordinasian lintas sektoral
13. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Walikota sesuai dengan tugas
dan fungsinya.
Dalam mendukung pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya, susunan
organisasi Dinas Kesehatan Kota Tangerang adalah sebagai berikut :
1. Kepala Dinas
2. Sekretariat, yang membawahkan :
a) Sub Bagian Umum dan Kepegawaian
b) Sub Bagian Keuangan

46

c) Sub Bagian Perencanaan


3. Bidang Bina Kesehatan Masyarakat, yang membawahkan :
a) Seksi Kesehatan Reproduksi Ibu dan Keluarga Berencana
b) Seksi Peningkatan Gizi Masyarakat
c) Seksi Kesehatan Anak, Remaja dan Lanjut Usia
4. Bidang Pelayanan Kesehatan, yang membawahkan :
a) Seksi Pengawasan Obat dan Makanan
b) Seksi Sertifikasi dan Sarana Kesehatan
c) Seksi Kesehatan Khusus
5. Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, yang
membawahkan:
a) Seksi Pengendalian Penyakit Menular
b) Seksi Pengamatan Penyakit dan Imunisasi
c) Seksi Penyehatan Lingkungan
6. Bidang Pengembangan Sumber Daya, yang membawahkan :
a) Seksi Perbekalan Kesehatan
b) Seksi Peran Serta Masyarakat
c) Seksi Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan
7. UPTD Pusat Kesehatan Masyarakat.
8. UPTD Gudang Farmasi
9. UPTD Laboratorium Kesehatan Daerah
10. UPTD Kesehatan Daerah
11. Kelompok Jabatan Fungsional

47

Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kota Tangerang


Kepala Dinas
Sekretariat

Kelompok Jabatan
Fungsional
Sub. Bag Umum &
Kepeg.

Sub. Bag
Keuangan

Bidang
Pengembangan
Sumber Daya

Bidang Bina Kes.


Masyarakat

Bidang Pelayanan
Kesehatan

Seksi Kes.
Reproduksi Ibu &
KB

Seksi Pengawasan
Obat dan
Makanan

Seksi
Pengendalian
Penyakit Menular

Seksi Peningkatan
Gizi Masyarakat

Seksi Sertifikasi &


Sarana Kesehatan

Seksi Pengamatan
Penyakt dan
Imunisasi

Seksi Peran
Serta
Masyarakat

Seksi Kesehatan
Khusus

Seksi Penyehatan
Lingkungan

Seksi
Pembiayaan
dan Jaminan
Kesehatan

Seksi Kes. Anak


Remaja & Lansia

Bidang
Pengendalian Peny.
& Peyehatan
Lingkungan

Sub. Bag
Perencanaan

UPTD Puskesmas
UPTD Gudang Farmasi
UPTD Labkesda
UPTD Kesda

Seksi Perbekalan
Kesehatan

BAB IV
ANALISIS MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
JAMAAH HAJI

A. Manajemen Pelayanan Kesehatan Jamaah Haji Kota Tangerang


Dalam pemanfaatan tenaga dan sumber daya untuk mencapai tujuan
organisasi dengan melalui serangkaian kegiatan yang merupakan proses
manajemen.1 Kegiatan tersebut terbagi kedalam empat fungsi, yaitu
Perencanaan, Pengorganisasian, Pergerakkan, dan Pengawasan. Yakni
keempat fungsi tersebut berfungsi pada pelayanan kesehatan jamaah haji di
Dinas Kesehatan Kota Tangerang yang akan penulis bahas pada bab ini.
1. Menentukan Perencanaan (Planning)
Penyelenggaraan kesehatan haji adalah rangkaian kegiatan
pelayanan kesehatan haji meliputi bimbingan, penyuluhan dan pelayanan
kesehatan yang bersifat kontinum dan komprehensif dengan melaksanakan
proses pemeriksaan kesehatan, pengobatan, pemeliharaan kesehatan
terhadap jamaah haji sesuai standar agar jamaah haji dapat melaksanakan
ibadah haji dengan sebaik-baiknya serta dalam upaya meningkatkan status
kesehatan dan kemandirian jamaah haji. Adapun untuk mencapai itu
semua penyelenggaraan ibadah haji, sebagaimana diamanahkan dalam
undang-undang Nomor 13 tahun 2008, bertujuan memberikan pembinaan,

H. Zaini Muctarom, MA. Dasar-Dasar Manajemen Dakwah ,(Yogyakarta: Al-Amin


Press. 1996), h. 46

48

49

pelayanan dan perlindungan yang sebaik-baiknya bagi jamaah haji


sehingga jamaah haji dapat menunaikan ibadahnya sesuai dengan
ketentuan ajaran agama islam, dan untuk maksud tersebut. Pemerintah
berkewajiban melakukan pembinaan, pelayanan, dan perlindungan dengan
menyediakan layanan administrasi, bimbingan manasik haji, akomodasi,
transportasi, pelayanan kesehatan, keamanan dan hal-hal lain yang
diperlukan oleh jamaah haji.2
Berkaitan dengan pelayanan kesehatan, Menteri Kesehatan
mengeluarkan pedoman atau acuan dalam melakukan pembinaan dan
pelayanan kesehatan ibadah haji, baik pada saat persiapan maupun
pelaksanaan penyelenggaraan ibadah haji dan kewaspadaan terhadap
penularan penyakit yang terbawa oleh jamaah haji. Yang dalam
pelaksanaannya berkoordinasi dengan sektor terkait pemerintah daerah
yaitu pada dinas kesehatan provinsi, dinas kesehatan kabupaten/kota,
dengan mengikutsertakan organisasi profesi terkait sesuai dengan tugas
dan fungsi masing-masing seperti puskesmas dan rumah sakit rujukan.
Kegiatan pelayanan kesehatan jamaah haji pada Dinas Kesehatan
ditangani oleh bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
(P2PL) khusus haji yang kegiatannya meliputi bimbingan, penyuluhan dan
pelayanan kesehatan. Untuk melakukan itu semua, maka bidang
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) khusus haji
mengambil langkah-langkah kegiatan. Adapun fungsi perencanaan yang
2

2011

Wawancara dengan Bpk. Ikhwan, SKM, Selaku Pelaksana Surveilans, tanggal 14-01-

50

diterapkan dalam pelayanan kesehatan jamaah haji Dinas Kesehatan Kota


Tangerang melalui beberapa tahapan, sebagai berikut:3
a. Perkiraan dan perhitungan masa depan
Kemampuan untuk memperkirakan dan memperhitungkan
situasi suatu kegiatan beserta sasaran-sasaran yang diperlukan untuk
waktu mendatang adalah mutlak diperlukan bagi penyusunan
perencanaan suatu kegiatan yang efektif, karena waktu yang akan
datang bersifat dinamis dan berubah-ubah dengan memperkirakan dan
memperhitungkan segala kemungkinan yang akan terjadi pada masa
depan dapat memberikan alternatif dan solusi agar rencana kegiatan
tetap terlaksana. Akan tetapi, Dinas Kesehatan Kota Tangerang
memperkirakan dan memperhitungkan masa depan dalam pelayanan
kesehatan jamaah haji yang meliputi bimbingan, penyuluhan dan
pelayanan kesehatan disesuaikan oleh ketentuan keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia.
b. Penetapan dan perumusan sasaran dalam rangka mencapai tujuan
Dalam perencanaan, sesuai dengan pusat kesehatan haji
Kementerian Kesehatan

Republik Indonesia dalam pelayanan

kesehatan jamaah haji, telah dirumuskan tujuan utama dari kegiatan


tersebut yakni untuk meningkatkan kondisi kesehatan jamaah haji
sebelum keberangkatan, tercapainya identifikasi status kesehatan
jamaah haji berkualitas, tersedianya data kesehatan sebagai dasar
3

2011

Wawancara dengan Bpk. Ikhwan, SKM, Selaku Pelaksana Surveilans, tanggal 14-01-

51

upaya perawatan dan pemeliharaan, serta upaya-upaya pembinaan dan


perlindungan jamaah haji, terwujudnya pencatatan data status
kesehatan dan faktor risiko jamaah haji secara benar dan lengkap
dalam Buku Kesehatan Jamaah Haji (BKJH) Indonesia, terwujudnya
fungsi BKJH sebagai sumber informasi medik jamaah haji untuk
kepentingan pelayanan kesehatan haji, tersedianya bahan keterangan
bagi penetapan baik kesehatan (istithoah) jamaah haji, dan tercapainya
peningkatan kewaspadaan terhadap transmisi penyakit menular
berpotensi

Kejadian

Luar

Biasa

(KLB)

pada

masyarakat

Internasional/Indonesia. Adapun sasaran Dinas Kesehatan Kota


Tangerang adalah seluruh jamaah haji yang berdomisili di Kota
Tangerang.
c. Penetapan Kebijakan
Dalam hal kebijakan, Dinas Kesehatan Kota Tangerang
menetapkan kebijakan yang telah ditetapkan oleh Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia , yaitu melaksanakan perekrutan tenaga
kesehatan professional secara transparan, meningkatkan kemampuan
teknis medis petugas pemeriksa kesehatan jamaah haji di tingkat
puskesmas dan rumah sakit , meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
di puskesmas dan rumah sakit dengan menerapkan standar pelayanan
bagi jamaah haji , memberikan vaksinasi meningitis meningokokus
bagi jamaah haji dan petugas, dan mengembangkan sistem informasi
manajemen kesehatan haji pada setiap jenjang administrasi kesehatan.

52

d. Penetapan Metode
Adapun metode yang digunakan dalam pelayanan kesehatan
jamaah haji pada Dinas Kesehatan Kota Tangerang, yaitu mengadakan
pertemuan dengan kata lain bimbingan pelayanan kesehatan jamaah
haji antara pihak Dinas Kesehatan dengan pihak puskesmas, Ketua
Kelompok Bimbingan Jamaah Haji (KBIH), dan jamaah haji.
Mengadakan pembinaan

dan pemeriksaan

jamaah haji. Seluruh

rangkaian kegiatan tersebut dilakukan pada waktu yang berbeda-beda


dan sudah terjadwal.
e. Penetapan dan Penjadwalan Waktu
Dalam penentuan waktu pelaksanaan kegiatan pelayanan
kesehatan Dinas Kesehatan Kota Tangerang sesuai dengan jadwal
yang telah ditentukan yaitu :
1) Pertemuan persiapan pemeriksaan puskesmas, kegiatan bimbingan
dan penyuluhan ini dengan pelaksana Dinas Kesehatan Kota
Tangerang dan sasarannya adalah puskesmas. Pertemuan ini
dilakukan pada bulan Mei minggu pertama tahun 2010. Kegiatan
ini dilakukan delapan bulan menjelang keberankatan jamaah haji.
2) Pertemuan koordinasi dengan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji
(KBIH), kegiatan bimbingan dan penyuluhan ini dilaksanakan oleh
Dinas kesehatan Kota Tangerang dan sasarannya adalah ketua
KBIH yang berdomisili di Kota Tangerang. Pertemuan ini

53

dilakukan minggu berikutnya setelah pertemuan persiapan


pemeriksaan puskesmas.
3) Pemeriksaan kesehatan jamaah haji I dan pemeriksaan rujukan bagi
jamaah risiko tinggi (risti), pelayanan kesehatan ini dilaksanakan
oleh pihak puskesmas dan sasarannya jamaah haji . pemeriksaan
untuk jamaah haji ini dibuka oleh pihak puskesmas selama delapan
minggu.
4) Pembinaan dan pemeliharaan kesehatan jamaah haji, pelayanan
kesehatan ini dilaksanakan oleh puskesmas dengan sasaran jamaah
haji dalam jangka waktu selama lima bulan lebih dan jangka waktu
selama satu bulan bersamaan dengan pemeriksaan sebelumnya.
5) Pemeriksaan kesehatan jamaah haji II, pelayanan kesehatan yang
dilakukan oleh pihak puskemas dengan sasarannya jamaah haji,
pemeriksaan ini merupakan jangka waktu terakhir yang diberikan
oleh pihak puskesmas selama dua minggu diantara masa
pembinaan dan pemeliharaan kesehatan jamaah haji.
6) Pengiriman Buku Kesehatan Jamaah Haji (BKJH) yang telah diisi
ke Dinas Kesehatan, dilaksanakan oleh pihak puskesmas dan
sasarannya jamaah haji, dalam jangka waktu dua minggu diantara
masa pembinaan dan pemeliharaan kesehatan jamaah haji.
7) Pertemuan evaluasi pemeriksaan puskesmas, pelaksana Dinas
Kesehatan Kota Tangerang dengan sasarannya puskesmas,
dilaksanakan hanya satu hari dalam

masa pembinaan dan

54

pemeliharaan kesehatan jamaah haji pada minggu ke sembilan


belas.
8) Pelaksanaan vaksinasi haji, pelaksana pihak Dinas Kesehatan Kota
Tangerang dengan sasarannya jamaah haji dilakukan pada masa
pembinaan dan pemeliharaan jamaah haji pada minggu ke dua
puluh.

Dan

dua

minggu

berikutnya

pelaksanaan

dan

pemberangkatan ibadah haji.


9) Pelacakan kartu kewaspadaan kesehatan jamaah haji (K3JH),
dilakukan oleh pihak puskesmas dengan sasaran jamaah haji, pada
waktu dua minggu setelah kedatangan jamaah haji.
f. Penentuan lokasi (tempat)
Dalam penentuan lokasi, sudah ditentukan tempat yang paling
sesuai dan layak dengan mempertimbangkan faktor-faktor kegiatan
yang akan dilaksanakan, sumber tenaga pelaksana, fasilitas atau alat
perlengkapan yang diperlukan. Maka untuk seluruh rangkaian kegiatan
pelaksanaan pelayanan kesehatan adalah sebagai berikut:
1) Untuk pelaksanaan pertemuan persiapan pemeriksaan puskesmas,
pertemuan koordinasi dengan ketua kelompok bimbingan ibadah
haji (KBIH) dengan lokasi di aula kantor Dinas Kesehatan Kota
Tangerang.
2) Untuk pelaksanaan pemeriksaan rujukan bagi jamaah haji I,
Pemeriksaan rujukan bagi jamaah risiko tinggi (risti), dan

55

pemeriksaan kesehatan jamaah haji II dengan lokasi pemeriksaan


di puskesmas sesuai domisili jamaah haji.
3) Untuk pembinaan dan pemeliharaan kesehatan jamaah haji
dilakukan oleh masing-masing jamaah dalam menjaga kesehatan
jasmani, untuk persiapan dalam melaksanakan ibadah haji.
4) Untuk pengiriman Buku Kesehatan Jamaah Haji (BKJH) dengan
lokasi dipuskesmas.
5) Dan Untuk pertemuan evaluasi pemeriksaan puskesmas dengan
lokasi di aula kantor Dinas Kesehatan Kota Tangerang.
g. Penetapan biaya, fasilitas dan faktor-faktor lain yang diperlukan
Adapun sumber dana untuk pembiayaan pelayanan kesehatan
jamaah haji Dinas Kesehatan Kota Tangerang berasal dari Anggaran
Pendapatan Belanja Daerah (APBD)

Sedangkan fasilitas yang

diperlukan yaitu alat-alat medis yang digunakan ketika pemeriksaan


sebagian besar telah tersedia di Dinas Kesehatan, puskesmas dan
rumah sakit. Meskipun ada beberapa kendala bagi puskesmas yang
tidak memiliki peralatan medis yang lengkap maka jamaah haji dirujuk
ke puskesmas atau rumah sakit lain.4 Adapun puskesmas yang ditunjuk
sebagai tempat pemeriksaan kesehatan mempertimbangkan hal-hal
sebagai berikut :5
1) Memiliki prasarana gedung yang memadai bagi pelayanan

Wawancara dengan Bpk. Ikhwan, SKM, Selaku Pelaksana Surveilans, tanggal 28-01-

2011
5

Pedoman Teknis Pemeriksaan Kesehatan Jemaah Haji, (Pusat Kesehatan Haji


Kementrian Kesehatan RI : 2010), h.17

56

2) Memilki fasilitas diagnostic ter-kalibrasi


3) Memiliki fasilitas laboratorium sederhana
4) Memiliki sarana dan manajemen catatan medic yang baik.

2. Melakukan pengorganisasian (Organizing)


Pengorganisasian

pelayanan

kesehatan

jamaah

haji

dapat

dirumuskan sebagai rangkaian aktifitas menyusun suatu kerangka yang


menjadi wadah bagi segenap kegiatan pelayanan kesehatan dengan jalan
membagi dan mengelompokkan pekerjaan yang harus dilakukan serta
menempatkan dan menyusun jalinan hubungan kerja diantara satuansatuan orang dan petugasnya. Pengorganisasian mempunyai arti yang
sangat penting bagi proses kegiatan manajemen karena adanya
pengorganisasian rencana kegiatan menjadi mudah terlaksana.
Proses pengorganisasian pelayanan kesehatan jamaah haji pada
Dinas Kesehatan Kota Tangerang yaitu dengan membentuk susunan
organisasi yang didalamnya ada pembagian tugas yaitu menentukan orangorang yang bertugas serta pemberian wewenang kepada masing-masing
yang bertugas tersebut. Dan adanya pembentukan organisasi dari pihak
puskesmas yang secara langsung bekerja sama dengan Dinas Kesehatan
Kota Tangerang untuk melaksanakan pelayanan kesehatan bagi jamaah
haji khususnya dalam proses pemeriksaan jamaah haji. Tim pemeriksa

57

kesehatan di Puskesmas yang ditunjuk langsung oleh Kepala Dinas


Kesehatan Kota Tangerang.6
Adapun langkah-langkah yang diterapkan oleh Dinas Kesehatan
Kota Tangerang dan Puskesmas dalam pengorganisasian meliputi adanya:
perumusan tujuan, adanya garis kewenangan, memberikan wewenang
kepada masing-masing pelaksana dan adanya pembagian tugas.7
a. Adanya perumusan tujuan yang telah ditetapkan dalam pelayanan
kesehatan jamaah haji. Karena perumusan tujuan tersebut dapat
dijadikan dasar dalam pengorganisasian sebagai upaya pencapaian
tujuan yang telah ditetapkan.
b. Adanya garis kewenangan dari pimpinan kepada bawahan, dengan
dibentuknya struktur organisasi dan adanya pembagian tugas, maka
garis pelimpahan wewenang dan pertanggung jawaban organisasi
dapat berjalan secara efektif dan efisien, adapun untuk pelayanan
kesehatan jamaah haji , Dinas Kesehatan dan Puskesmas membentuk
susunan organisasi sebagai berikut:
Susunan Organisasi pada Dinas Kesehatan Kota Tangerang adalah
sebagai berikut:8
a. Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang

Wawancara dengan Bpk. Suhardiman, SKM, MKM, Selaku Ketua Seksi P2I, tanggal
04-02-2011
7
Wawancara dengan Bpk. Suhardiman, SKM, MKM, Selaku Ketua Seksi P2I, tanggal
04-02-2011
8
Wawancara dengan Bpk. Ikhwan, SKM, Selaku Pelaksana Srveilans, tanggal 11-022011

58

Yaitu orang yang bertanggung jawab terhadap seluruh proses kegiatan


penyelenggaraan kesehatan haji yang dijalankan di Dinas Kesehatan
Kota Tangerang sesuai dengan Surat Keputusan Walikota Tangerang.
Hubungan kerja dari bawah harus sampai kepadanya agar memastikan
bahwa seluruh kegiatan penyelenggaraan kegiatan haji sesuai dengan
rencana.
b. Kepala Bidang pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan
Yaitu bidang yang ditunjuk dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan
jamaah haji. tim pelaksana semua kegiatan haji termasuk yang
bertanggung jawab terhadap pelayanan kesehatan jamaah haji dan
menentukan orang-orang yang bertugas didalamnya. Adapun tim di
dalam bidang ini yang menangani pelayanan kesehatan jamaah haji
yaitu kepala seksi pengamatan penyakit dan imunisasi (P2I), kepala
seksi penyakit menular (P2M), kepala seksi penyehatan lingkungan
(PL).
c.

Adanya pembagian tugas


Bidang pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan
yang mengurusi proses pelayanan kesehatan jamaah haji serta yang
bertugas dalam memberikan pembagian kerja yaitu dengan membentuk
tim yang diberi tugas dalam kegiatan pelayanan kesehatan jamaah haji.
Tim-tim tersebut adalah sebagai berikut :
1) Tim bimbingan dan penyuluhan
Yaitu orang-orang yang bertugas dalam membimbing pelayanan
kesehatan kepada ketua puskesmas, ketua Kelompok Bimbingan

59

Ibadah Haji dan jamaah haji, dengan pemberian materi-materi


pelayanan kesehatan haji dan seputar yang bersangkutan dengan
masalah kesehatan jamaah haji.
2) Tim administrasi
Yaitu orang yang bertugas dalam mencatat dan memeriksa Buku
Kesehatan Jamaah Haji, tim ini mempunyai tugas untuk mendata
jamaah haji dan membaginya dalam nomor atau kode kepada
jamaah haji untuk vaksinasi haji dan mengatur jadwal pemberian
vaksinasi haji.
3) Tim pelayanan kesehatan
Yaitu orang-orang yang bertugas memberikan pelayanan kesehatan
jamaah haji, seperti memberikan vaksinasi atau suntikan kekebalan
terhadap penyakit kepada setiap jamaah. Dan jika ada jamaah yang
ingin pelayanan kesehatan vaksinasi atau suntikan influenza.
4) Tim Perlengkapan
Yaitu orang-orang yang bertugas menyiapkan proses pelayanan
kesehatan jamaah haji seperti, persiapan unuk vaksinasi haji,
menyiapkan sarana penunjang pemeriksaan umum, pemeriksaan
fisik (kekuatan daya tahan tubuh), dan menyiapkan sarana
laboratorium.
Susunan organisasi pada puskesmas adalah sebagai berikut:
a. Ketua

60

Yaitu orang yang bertanggung jawab atas seluruh proses pelaksanaan


pemeriksaaan kesehatan jamaah haji di puskesmas yang ditunjuk
sesuai dengan Surat Keputusan dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang.
b. Anggota
Yaitu orang-orang yang bertugas memberikan pelayanan jamaah haji
seperti, pemeriksaan kesehatan jamaah haji, pemeriksaan rujukan
bagi jamaah risiko tinggi, di masa persiapan melayani konsultasi
kesehatan jamaah haji. Adapun di dalamnya terdapat dokter, perawat,
analis laboratorium dan administrasi.
Dalam proses pelayanan kesehatan jamaah haji kerjasama dalam
pengorganisasian pihak Dinas Kesehatan Kota Tangerang dengan pihak
puskesmas tidak dapat dipisahkan. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan
menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan Kota Tangerang dengan
memanfaatkan sarana pelayanan medis puskesmas dan rumah sakit.9

3. Mengadakan Penggerakkan (Actuating)


Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang dan para pengurus dalam
menggerakkan kegiatan-kegiatan pelayanan kesehatan jamaah haji yang
sesuai pada Surat Keputusan Walikota yang mengacu pada buku pedoman
penyelenggaraan kesehatan haji, dijalankan berdasarkan kewajiban yang
telah diamanatkan. Namun tidak lepas dari pedoman penyelenggaraan
kesehatan haji, berikut proses penggerakkan yang dilakukan, yaitu:10
a. Mengendalikan pelaksanaan pemeriksaan kesehatan pada jamaah haji.
9

Wawancara dengan Dr. Hj. Ati Pramudji H., MARS, Selaku Kepala Bidang P2PL
tanggal 11-02-2011
10
Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Haji, (Jakarta: Depkes RI, 2009), h. 51

61

b. Mengendalikan pelaksanaan imunisasi pada jamaah haji.


c. Mengendalikan pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan kesehatan
pada jamaah haji.
d. Mengendalikan pelaksanaan pelayanan kesehatan pada jamaah haji.
e. Melakukan pengamatan penyakit pada jamaah haji.
f. Melaksanakan bimbingan teknis penyelenggaraan kesehatan haji.
g. Melaksanakan pelatihan tentang penyelenggaraan kesehatan haji.
h. Melaksanakan bimbingan dan penyuluhan kesehatan jamaah haji.
i. Melakukan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD)-respon Kejadian Luar
Biasa (KLB).
j. Melakukan monitoring dan evaluasi.
k. Melakukan pencatatan dan pelaporan.
l. Melaksanakan kesiapsiagaan dan penangulanggan kejadian musibah
massal.
Adapun penggerakkan pelayanan kesehatan jamaah haji di Dinas
Kesehatan Kota Tangerang, yaitu:
a. Melakukan pemeriksaan kesehatan pada jamaah haji.
b. Melakukan pengamatan penyakit pada jamaah haji, SKD dan respon
KLB.
c. Melakukan pencatatan dan pelaporan.

62

Skema11

Semua jamaah haji

Pemeriksaan
kesehatan
pertama di
puskesmas
meliputi,
pengobatan dan
pemeliharaan
kesehatan

1. Jamaah haji sehat dan siap


menunaikan ibadah haji
2. Telah mendapat imunisasi
meningitis
3. Telah bebas dari penyakit
menular
4. Hamil terkelola

1.
2.
3.
4.

Jamaah lanjut usia


Jamaah resiko tinggi
Hamil
Status kesehatan
perlu dirujuk

Pemeriksaan
kesehatan kedua
(rujukan) di rumah
sakit rujukan

Bimbingan dan penyuluhan


kesehatan jamaah haji
(promotif)

4. Menjalankan Pengawasan (Controlling)


Pengawasan yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Tangerang
dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan yaitu dalam memberikan
pelayanan kesehatan kepada jamaah haji baik dari sisi bimbingan,
penyuluhan dan pelayanan kesehatan. Dengan adanya pengawasan ini
apabila ada kesalahan atau kekurangan dapat langsung diperbaiki. Sebagai
11

Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Haji, (Jakarta: Depkes RI, 2009), h. 15

63

penanggung jawab dari berjalannya pelayanan kesehatan jamaah haji


Dinas Kesehatan melakukan fungsi pengawasan dalam manajemen. Yang
Pertama, menentukan standar sebagai ukuran pengawasan. Yaitu standar
yang digunakan sebagai ukuran keberhasilan sebuah kegiatan adalah
kegiatan itu berjalan dengan baik, sesuai dengan tujuan, sasaran, kuota dan
target yang ingin dicapai. Sebagai contoh misalnya dalam hal pelaksanaan
pertemuan persiapan pemeriksaan kepada ketua puskesmas dan pertemuan
koordinasi dengan ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). Yang
bertujuan memberikan bimbingan dan penyuluhan untuk persiapan
pemeriksaan kesehatan untuk jamaah haji. Dan contoh lain pada
pemeriksaan kesehatan jamaah haji. Yang bertujuan agar seluruh jamaah
haji melakukan pemeriksaan kesehatan di puskesmas sesuai dengan waktu
yang telah ditentukan dan sesuai dengan domisili dari masing-masing
jamaah. Jika ada jamaah haji yang belum melakukan pemeriksaan
kesehatan, maka disinilah diperlukannya pengawasan. Yang kedua,
menentukan pengukuran pelaksanaan kegiatan secara tepat. Agar
pelaksanaan kegiatan dapat berjalan dengan terukur. Sebagai contoh dalam
hal pelayanan kesehatan jamaah haji, terdapat beberapa jenis kegiatan
pemeriksaan didalamnya, seperti pemeriksaan tahap I dengan pemeriksaan
tahap II. Oleh karena itu pengamatan setiap mingguan jika terjadi
hambatan maka harus segera diperbaiki, yang bertugas dalam pemeriksaan
kesehatan yaitu pihak puskesmas dengan membuat laporan tertulis atau
data

tertulis

mengenai

kesehatan

jamaah

haji.

Yang

ketiga

membandingkan pelaksanaan dengan standar yang telah ditetapkan. Untuk


pelaksanaan kegiatan yang sesuai dengan standar dapat dilihat dari alat

64

penunjang pemeriksaan kesehatan jamaah haji, sarana penunjang


laboratorium, dan pelayanan kesehatan secara khusus atau secara umum
untuk pemeriksaan kesehatan jamaah haji, apakah sudah memenuhi
kriteria agar dapat diperoleh manfaat pelayanan kesehatan secara
maksimal dan mendapatkan hasil kesehatan yang sesuai dengan diagnosis.
Yang keempat, melakukan tindakan koreksi jika ada penyimpangan dalam
proses kegiatan. Sehingga jika ada kekeliruan harus segera diperbaiki.
Untuk itu pihak Dinas Kesehatan dapat memberikan masukan-masukan
tentang prosedur kegiatan. Sebagai contoh misalnya kendala pada
pelayanan kesehatan khususnya untuk jamaah haji mandiri. Minimnya
informasi yang dimiliki oleh jamaah haji mandiri menjadi kendala dalam
pelayanan kesehatan jamaah haji, karena jamaah haji mandiri tidak tahu
kapan pelaksanaan pemeriksaan kesehatan tahap I, pemeriksaan rujukan
bagi jamaah risiko tinggi (risti), pembinaan dan pemeliharaan kesehatan
jamaah haji, pemeriksaan kesehatan tahap II serta kapan pelaksanaan
vaksinasi haji. Untuk mengatasi dan mengantisipasi hal tersebut maka
Dinas Kesehatan bekerjasama dengan puskesmas membuat program titip
pesan dan sosialisasi jadwal kegiatan pelayanan kesehatan kepada jamaah
haji mandiri. Sehingga diharapkan tidak ada keterlambatan pada
pemeriksaan kesehatan pada jamaah haji mandiri karena tidak tahu kapan
pelaksanaan kegiatan tersebut. Dan untuk selanjutnya kendala yang ada
dapat dicari pemecahan masalah atau mencari alternatif tindakan.12

12

2011

Wawancara dengan Bpk. Ikhwan, SKM, Selaku Pelaksana Surveilans, tanggal 18-02-

65

5. Melaksanakan Evaluasi (Evaluating)


Melakukan evaluasi di dalam suatu organisasi memang sangat
penting, karena dengan evaluasi kita dapat mengetahui hasil dari pekerjaan
yang dilakukan. Apakah yang dilakukan sudah berjalan maksimal atau
belum? Apakah tujuan dan sasaran telah tercapai? Oleh sebab itu untuk
mengetahui hasil dari pelaksanaan kegiatan yang telah dilakukan oleh
Dinas Kesehatan dan Puskesmas melakukan pertemuan evaluasi
pemeriksaan kesehatan jamaah haji, yang dilaksanakan setelah rangkaian
seluruh pemeriksaan kesehatan jamaah haji telah dilakukan selama 5
bulan. Evaluasi dilaksanakan selama satu hari dengan membahas secara
keseluruhan pelaksanaan pelayanan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan
jamaah haji, sudah berjalan maksimal atau belum. Setelah pertemuan
evalusi

secara

keseluruhan

selanjutnya

jamaah

haji

siap

untuk

melaksanakan vaksinasi haji sebelum pemberangkatan dan pelaksanaan


ibadah haji.13

B. Aspek Kesehatan yang Dilayani Dinas Kesehatan Kota Tangerang


Perjalanan ibadah haji merupakan perjalanan dengan kondisi yang
memerlukan persiapan kesehatan yang memadai agar ibadah haji dapat
terlaksana dengan baik. Oleh karena itu, sebelum keberangkatan jamaah haji
memeriksakan kesehatannya ke unit pelayanan pemeriksa kesehatan haji di

13

Wawancara dengan Bpk. Suhardiman, SKM, MKM, Selaku Ketua Seksi P2I, tanggal
18-02-2011

66

daerah yaitu Dinas Kesehatan. Adapun aspek kesehatan yang dilayani pada
Dinas Kesehatan Kota Tangerang mencakup:14
1. Pemeriksaan Fisik yang terdiri dari :
a. Tanda Vital:
(1). Tekanan darah
(2). Nadi meliputi: frekuensi, volume, tegangan, ritme.
(3). Pernafasan meliputi : frekuensi, ritme.
(4). Suhu, diukur diaksila dengan thermometer air raksa.
b. Postur tubuh (termasuk tinggi badan, berat badan, dan indeks massa
tubuh).
c. Kulit, pemeriksaan meliputi warna kulit, kontinuitas, ujud kelainan
kulit, turgor, intak dan lain-lain.
d. Kepala, pemeriksaan termasuk bentuk dan simetrisitasnya dan kualitas
rambut. Pemeriksaan syaraf cranial (diisi hasil pemeriksaan fungsi
syaraf cranial dan tanda kelalaian), mata (diisi hasil pemeriksaan tajam
penglihatan/visus,

kornea,

lensa

mata),

telinga

(diisi

fungsi

pendengaran , membrane tipani), hidung (diisi kondisi anatomis dan


fungsinya), tenggorokan dan mulut (diisi hasil pemeriksaan tonsil,
gigi-geligi, lidah, rongga, mulut).
e. Leher, pemeriksaan simetrisitasnya, pembesaran kelenjar, kelainan
organ. Tanda-tanda kelainan lain yang dapat dilihat bagian ini.
f. Kelenjar dan pembuluh getah bening, pemeriksaan kekenyalan, nyeri
tekan pada bijih kelenjar.
g. Dada:
14

Wawancara dengan Bpk. Ikhwan, SKM, tanggal 25-02-2011

67

(1). Pemeriksaan umum dan paru


(2). Jantung
h. Perut, meliputi semua organ dalam perut (lambung, usu, hati, limpa)
dan massa abnormal.
2. Pemeriksaan penunjang yang terdiri dari :15
a. Laboratorium
(1) Darah, pemeriksaan hemoglobin, laju endap darah, jumlah lekosit,
hitung jenis leukosit, golongan darah dan rhesus, gula darah,
kolesterol, dan pemeriksaan darah lain atas indikasi.
(2) Urin
(3) Tes kehamilan
(4) Elektrokardiografi (EKG)
3. Vaksinasi haji yang terdiri dari :16
a. Imunisasi Meningitis Meningokokus tetravalent ACW135Y
Merupakan upaya pengebalan tubuh jamaah haji agar tidak
sakit sebagai akibat penularan penyakit tertentu serta upaya memutus
mata rantai penularan dan penyebaran penyakit dari dan ke tanah air.
b. Imunisasi Influenza musiman (seasional)
Jumlah jamaah haji yang sangat padat saat musim haji, serta
kondisi ketahanan tubuh menuru, maka penularan penyakit menular
langsung, terutama influenza menjadi sangat mudah. Penularan pada

15

Wawancara dengan Bpk. Ikhwan, SKM, Selaku Pelaksana Surveilans, tanggal 25-02-

16

Wawancara dengan Bpk. Ikhwan, SKM, Selaku Pelaksana Surveilans, tanggal 25-02-

2011

2011

68

jamaah usia lanjut, dan jamaah beresiko tinggi lainnya, rentan menjadi
sakit dan dapat cepat memburuk.
Imunisasi meningitis ataupun influenza dan jenis vaksin lain
membutuhkan waktu agar tubuh dapat memiliki tingkat imunitas
(kekebalan terhadap penyakit tertentu). Imunisasi influenza dapat
sekaligus diberikan bersamaan dengan imunisasi meningitis, tetapi
diberikannya pada tempat atau anggota tubuh yang berbeda.

C. Analisis terhadap Manajemen Pelayanan Kesehatan Jamaah Haji dan


Aspek Kesehatan yang Dilayani
Menurut analisis penulis seluruh rangkaian pelaksanaan manajemen
pelayanan kesehatan jamaah haji Dinas Kesehatan Kota Tangerang yang
berjalan berdasarkan fungsi manajemen sudah terealisasi dan berjalan dengan
baik. Dengan adanya sistem manajemen yang dikelola dengan baik maka
dapat menjalankan fungsi-fungsi merencana, mengorganisasi, menggerakkan
dan mengawasi kegiatan pelaksanaan pelayanan kesehatan haji dengan baik
pula, sehingga terlaksannya pelaksanaan ibadah haji dengan aman, lancar,
nyaman, tertib, teratur, dan ekonomis.

1. Perencanaan (Planning)
Dari sumber data yang ada seluruh kegiatan perencanaan yaitu pertama,
memberikan bimbingan dan penyuluhan pelayanan kesehatan kepada ketua
puskesmas dan ketua KBIH, yang dilaksanakan pada tanggal 6 Mei 2010 dan
12 Mei 2010, dengan jumlah 30 puskesmas dan 24 KBIH yang berada di Kota

69

Tangerang. Dan pada pelaksanaannya pertemuan puskesmas dengan Dinas


Kesehatan dihadiri oleh seluruh undangan yaitu 30 puskesmas. Kegiatan ini
bertujuan untuk memberikan informasi kepada petugas puskesmas mengenai
pelaksanaan

pemeriksaan

jamaah

haji

agar

tiap-tiap

puskesmas

mempersiapkan tim pemeriksaan yang terdiri dari 1 orang ketua merangkap


sebagai dokter pelaksana, 1 orang dokter, 2 orang perawat, 1 orang analis
laboratorium, dan 1 orang administrasi. Dan bimbingan kepada ketua KBIH
bertujuan

untuk

memberikan

informasi

kepada

pihak

KBIH

agar

mensosialisasikan informasi mengenai jadwal pemeriksaan kesehatan bagi


jamaah haji. Namun untuk jamaah haji mandiri yang tidak bernaung dibawah
KBIH dapat mengetahui informasi mengenai jadwal pemeriksaan kesehatan
dengan mengunjungi puskesmas sesuai dengan domilisi jamaah haji tinggal.
Kedua, pemeriksaan kesehatan jamaah haji tahap I bersamaan dengan
pelaksanaan pemeriksaan rujukan bagi jamaah resiko tinggi (risti) yang
dilaksanakan pada tanggal 17 Mei 9 Juli 2010 dengan jumlah 2180 jamaah
haji. Pemeriksaan kesehatan jamaah haji tahap I dilakukan pada 30 puskesmas
yang tersebar di Kota Tangerang dari 33 Kecamatan. Maka jamaah haji dalam
jangka waktu 2 bulan dapat memeriksakan kesehatannya berdasarkan waktu
yang telah ditentukan dan puskesmas berdasarkan domisili tempat tinggal.
Sehingga, bila ada jamaah haji yang sudah memeriksakan kesehatannya
terdapat penyakit yang berkategori resiko tinggi (risti), maka dapat dirujuk
kerumah sakit untuk pembinaan dan pemeliharaan kesehatan sampai pada
pemeriksaan kesehatan tahap II. Ketiga, pembinaan dan pemeliharaan

70

kesehatan jamaah haji yang dilaksanakan pada tanggal 17 Mei 16 Oktober


2010. Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga kesehatan jamaah haji sebelum
keberangkatan dan untuk jamaah haji golongan risti dapat menjalani
pengobatan sesuai dengan penyakit yang diderita oleh jamaah haji. Keempat,
pemeriksaan kesehatan jamaah haji tahap II dilaksanakan pada tanggal 26 Juli
7 Agustus 2010, pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan lanjutan, untuk
mengetahui perkembangan kesehatan jamaah haji sebelum melaksanakan
vaksinasi haji. Kelima, pelaksanaan vaksinasi haji kepada seluruh jamaah haji,
yang dilakukan pada tanggal 27 September 1 Oktober 2010.
Tabel Jadwal Kegiatan :
NO.

TANGGAL

KEGIATAN

1.

6 Mei 2010

Pertemuan Persiapan Rikkes JH Tk.Puskesmas

2.

17 Mei 9 Juli 2010

Pelaksanaan Rikkes I JH

3.

17 Mei 9 Juli 2010

Pelaksanaan Rikkes RS Rujukan

4.

26 Juli - 7 Agustus 2010

Pelaksanaan Rikkes II (terakhir)

5.

23 27 Agustus 2010

6.

21 September 2010

7.

27 Sept 1 Okt 2010

8.

17 Mei - 16 Oktober 2010

Pelaksanaan Pembinaan JHI

9.

20 25 Desember 2010

Pelaksanaan Pelacakan K3JH

Pengiriman BKJH & Lap Hasil Rikkes II ke


Dinkes Kota
Pertemuan evaluasi Rikkes JH
Pelaksanaan Vaksinasi

Sumber Data: P2PL Dinas Kesehatan Kota Tangerang

2. Pengorganisasian (Organizing)
Dalam pengorganisasian terdapat kerjasama tersebut antara pihak Dinas
Kesehatan dengan Puskesmas. Dari tiap-tiap puskesmas telah menyiapkan tim

71

khusus pemeriksaan haji, yang terdiri dari 6 orang sehingga pelayanan umum di
puskesmas dengan pelayanan kesehatan jamaah haji terpisah. Dan pihak Dinas
Kesehatan Kota Tangerang menyiapkan tim khusus sebanyak 54 orang untuk
pelaksanaan pelayanan kesehatan jamaah haji. Kerjasama ini terbentuk
berdasarkan Surat Keputusan (SK) Walikota Kota Tangerang tentang tim
penyelenggara pemeriksaan kesehatan jamaah haji Dinas Kesehatan Kota
Tangerang,

yang

berisi

diantaranya

melakukan

seluruh

rangkaian

penyelenggaraan pemeriksaan kesehatan jamaah haji dan Biaya kegiatan


dibebankan kepada APBD Kota Tangerang Tahun Anggaran 2010 dan sumber
dana lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dan Kepala
Dinas Kesehatan Kota Tangerang mengeluarkan Surat Keputusan (SK) kepada
tim pemeriksa kesehatan jamaah haji untuk setiap puskesmas yang berada di
kawasan Kota Tangerang. Adapun isi dari Surat Keputusan diantaranya
Melakukan konsultasi teknis dalam rangka penyelenggaraan pemeriksaan
kesehatan jamaah haji. Adapun tahapan penyelenggaraan pemeriksaan
kesehatan jamaah haji sebagai berikut:

Walikota Tangerang
Pembina

Wakil Walikota
Tangerang
Pembina

Sekretaris Daerah Kota Tangerang


Penanggung Jawab

Asisten Ekbang dan Kesmas


Wakil Penanggung Jawab

72

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang


Ketua

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Tangerang


Wakil Ketua

Kepala Bidang PP&PL Dinas Kesehatan Kota


Tangerang
Sekretaris

Puskesmas Wilayah Kota


Tangerang

3. Penggerakkan (Actuating)
Dalam manajemen penggerakkan (actuating) merupakan bagian dari
menggerakkan dan mengarahkan pelaksanaan program sehingga dapat
terlaksana sesuai rencana. Dapat dilihat dari pelaksanaan dan bimbingan kepada
puskesmas, seluruh undangan menghadiri pertemuan ini, karena mengingat
penting informasi pelaksanan pemeriksaan kepada jamaah haji dan secara teknis
pemeriksaan kesehatan dilakukan di puskesmas dan untuk vaksinasi haji baru
dilakukan di Dinas Kesehatan Kota Tangerang. Namun pada pertemuan KBIH
dengan Dinas Kesehatan, 17 KBIH hadir dalam pertemuan ini dan ada 7 KBIH
yang berhalangan hadir dan tidak ada perwakilannya, disebabkan pertemuan ini
bersamaan dengan pertemuan Kementrian Agama mengenai persiapan
keberangkatan ibadah haji. Dari hasil data yang tercantum di Kementrian
Agama pada musim haji tahun 2010 terdapat 2180 jamaah haji yang sudah
mendapat nomor porsi untuk keberangkatan haji tahun 2010. Dari 2180 jamaah

73

diwajibkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan, dikarenakan jika jamaah


haji tidak mencapai istithoah (mampu) dalam kesehatan dan dinyatakan sehat,
maka jamaah haji tidak dapat melaksanakan ibadah haji.
a. Jamaah Haji Menurut Jenis Kelamin
Frequency

Percent

Cumulative Percent

1023

46.9

46.9

1157

53.1

100.0

Total

2180

100.0

Sumber data: P2PL Dinas Kesehatan Kota Tangerang

b. Jamaah Haji Menurut Kelompok Umur


No.

Frequency

Percent

Cumulative Percent

311

14.3

14.3

718

32.9

47.2

769

35.3

82.5

382

17.5

100.0

2180

100.0

Total

Sumber Data: P2PL Dinas Kesehatan Kota Tangerang

Dan untuk pemeriksaan jamaah haji dilakukan sesuai domilisi tempat


tinggal jamaah. Adapun data jamaah yang melakukan pemeriksaan dalam 30
puskesmas yang terdiri dari :
No.

Puskesmas

Jumlah Jamaah

1.

Cibodasari

318

2.

Cipondoh

188

3.

Sukasari

150

74

4.

Larangan Utara

145

5.

Kunciran

131

6.

Jalan Baja

117

7.

Cipadu

105

8.

Tajur

98

9.

Poris Plawad

89

10.

Karawaci Baru

86

11.

Ciledug

85

12.

Pasar Baru

81

13.

Gondrong

80

14.

Karang Tengah

75

15.

Neglasari

55

16.

Panunggangan

46

17.

Ketapang

40

18.

Batu Ceper

36

19.

Jatiuwung

33

20.

Periuk Jaya

32

21.

Tanah Tinggi

26

22.

Bugel

24

23.

Jurumudi Baru

22

24.

Kedaung Wetan

22

25.

Poris Gaga

21

26.

Benda

19

27

Gembor

18

75

28

Pedurenan

18

29.

Pondok Bahar

11

30.

Pabuaran Tumpeng

Total

2180

Sumber Data: P2I Dinas Kesehatan Kota Tangerang

Dari hasil data diatas dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan kesehatan


haji pada puskesmas cibodasari memiliki presentasi jumlah jamaah haji terbanyak,
dan puskesmas pabuaran tumpeng memiliki presentasi jumlah terkecil, karena
pemeriksaan kesehatan berdasarkan domisili jamaah haji dan sesuai dengan
pendaftar haji, sehingga pada pemeriksaan kesehatan puskesmas cibodasari
memilki pasien jamaah haji lebih banyak dari puskesmas lainnya.
Hasil Pemeriksaan Tahap I Kesehatan Jamaah Haji Tahun 2010
No.

Resiko Tinggi II
Diagnosa

Jumlah Jamaah

1.

Sehat

1.915

2.

Hipertensi

150

3.

Hiperkolestrol

26

4.

Diabetes Melitus

17

5.

Artritis

12

6.

Gatritis

10

7.

Dislipidemi

8.

Anemia

9.

Mialgia

10.

Dyspepsia

11.

Asma

76

12.

Hipotensi

13.

Hiperlipidemi

14.

Isk

15.

Rinitis

16.

Sinusitis

17.

Faringitis

18.

Obesitas

19.

Hemoroid

20.

Bronkitis

21.

Osteoporosis

22.

Vertigo

23.

TB Paru

24.

Omsk

25.

Hiperuremi

26.

Demartitis

27.

Ispa

1
Total

2180

Sumber Data: P21 Dinas Kesehatan Kota Tangerang

Pada pemeriksaan tahap I untuk jamaah haji yang sehat sebanyak 1.915
orang jamaah, yang terdiagnosa memiliki penyakit sebanyak 265 orang jamaah.
Dan pada pemeriksaan tahap I penyakit yang paling banyak di derita jamaah haji
adalah penyakit hipertensi sebanyak 150 orang jamaah, dan untuk penderita ispa
hanya 1 orang jamaah.

77

Hasil Pemeriksaan Tahap II Kesehatan Jamaah Haji Tahun 2010


No.

Resiko Tinggi II
Diagnosa

1.

Sehat

2.

Isk

Jumlah Jamaah
2.176
4

Total

2180

Sumber Data: P21 Dinas Kesehatan Kota Tangerang

Dalam pemeriksaan tahap II ada peningkatan kesehatan jamaah haji, dapat


dilihat dari data diatas bahwa jumlah jamaah haji yang terdiagnosa sehat sebanyak
2.176 orang jamaah dan yang terdiagnosa menderita isk (infeksi saluran kemih)
sebanyak 4 orang jamaah. Sehingga dapat penulis simpulkan bahwa dalam
pelaksanaan pelayanan kesehatan khususnya dalam hal pemeriksaan kesehatan
jamaah haji sudah berjalan dengan baik dengan melihat data yang ada,
optimalisasi para petugas kesehatan dalam mendiagnosa segala jenis penyakit dan
memberikan pembinaan serta pemeliharaan kepada jamaah haji hingga jamaah
haji dinyatakan sehat dan dapat melaksanakan vaksinasi haji. Untuk pelaksanaan
vaksinasi haji seluruh jamaah haji yang berjumlah sebanyak 2180 orang jamaah
haji diwajibkan melakukan vaksinasi meningitis meningokokus yang dilakukan di
Dinas Kesehatan Kota Tangerang dan untuk jamaah haji yang melakukan
imunisai influenza sebanyak 845 orang jamaah haji, karena imunisasi influenza ini
sifatnya hanya anjuran dan tidak gratis maka tidak banyak jamaah haji yang
melakukan imunisasi influenza ini.

78

4.

Pengawasan (Controlling)
Menurut analisis penulis dalam pengawasan pelayanan kesehatan jamaah

haji dilakukan oleh pihak Dinas Kesehatan berjalan kurang baik. Dalam
pengawasan ini Dinas Kesehatan melakukan personal observation dan report.
Sesuai dengan perencanaan bahwa pihak Dinas Kesehatan melakukan
pengawasan personal observation dengan kunjungan ke setiap puskesmas dalam
jangka waktu 2 minggu sekali dengan 2 orang petugas dari Dinas Kesehatan.
Namun pengawasan ini berjalan kurang baik karena dilakukan hanya dua kali
selama kegiatan pemeriksaan kesehatan. Pengawasan yang dilakukan Dinas
Kesehatan dengan memperhatikan perkembangan jamaah haji yang sudah atau
belum melakukan pemeriksaan kesehatan, memperhatikan kelayakan kegunaan
peralatan medis, dan memperhatikan sarana penunjang seperti laboratorium,
ruangan pelayanan kesehatan pihak puskesmas melakukan laporan (report)
kepada Dinas Kesehatan mengenai sarana dan prasarana dalam pelaksanaan
pemeriksaan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa fungsi pengawasan tidak
berjalan optimal, karena Dinas Kesehatan tidak melakukannya sesuai perencanaan
yang ada.

5. Evaluasi (Evaluating)
Dari pengamatan penulis fungsi manajemen pelayanan kesehatan Dinas
Kesehatan pada tingkat evaluasi sudah berjalan baik, Evaluasi yang dilakukan
Dinas Kesehatan dengan melihat input, proses dan output yaitu dalam evaluasi
input ini yaitu jamaah haji dan pelaksanaan pemeriksaan kesehatan. Untuk

79

evaluasi proses yaitu dengan cara mengamati hasil pelaporan dan pencatatan dari
pihak puskesmas mengenai hasil pemeriksaan kesehatan jamaah haji melalui
BKJH (Buku Kesehatan Jamaah Haji) dan mengamati vaksinasi haji yang
dilakukan pihak Dinas Kesehatan, evaluasi ini memfokuskan pada aktifitas
program pemeriksaan kesehatan jamaah haji. dan Evaluasi Ouput yakni
mengamati hasil pemeriksaan kesehatan jamaah haji dan kegiatan vaksinasi haji
merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh seluruh jamaah haji dan kegiatan
vaksinasi haji sudah berjalan sesuai standar Dinas Kesehatan. Dan
Menurut analisis penulis mengenai aspek kesehatan yang dilayani Dinas
Kesehatan, yakni seluruh jamaah haji sebanyak 2180 yang terdiri dari 1023
jamaah haji laki-laki dan 1157 jamaah haji perempuan, yang mana diwajibkan
mengikuti pelayanan kesehatan jamaah haji dan mendapatkan pelayanan
kesehatan berupa pemeriksaan fisik (General Check Up) dan jamaah haji dapat
memeriksakan sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh pihak Dinas Kesehatan
yaitu pada tanggal 17 Mei 9 Juli 2010 untuk tahap pertama. Pemeriksaan tahap
kedua dilakukan pada tanggal 26 Juli- 7 Agustus 2010. Untuk pemeriksaan
penunjang (test laboratorium) dengan melakukan test urin, kehamilan, darah dan
EKG. Dan untuk vaksinasi haji dilakukan kepada seluruh jamaah haji pada
tanggal 26 September 1 Oktober. Pentingnya pemeriksaan dan pelayanan
kesehatan ini guna kelancaran dan mencapai jamaah haji yang sehat mandiri. Dan
pada realisasinya kegiatan ini sudah berjalan dengan baik dan sesuai waktu yang
telah ditentukan. Meskipun ada beberapa fungsi yang berjalan tidak baik, dan
diperlukannya peningkatan kedisiplinan dan tanggung jawab dalam kegiatan
pelayanan kesehatan jamaah haji.

BAB V
PENUTUP

Berdasarkan uraian mengenai Manajemen Pelayanan Kesehatan Jamaah


Haji Pada Dinas Kesehatan Kota Tangerang Pada Musim Haji Tahun 2010 yang
telah dibahas dalam beberapa bab sub bab sebelumnya, melalui proses penelitian
dengan melakukan studi kepustakaan, pengamatan, dan wawancara. Maka dalam
bab ini penulis mengemukakan beberapa kesimpulan dan saran-saran sebagai
berikut:
A. Kesimpulan
1. Penerapan manajemen di Dinas Kesehatan dalam pelayanan kesehatan
jamaah haji berdasarkan fungsi manajemen yang terdiri dari perencanaan,
pengorganisasian,

penggerakkan,

dan

pengawasan

sebagai

proses

berjalannya kegiatan sudah berjalan dengan baik. Dengan adanya


perencanaan

yang

tersusun,

pengorganisasian

yang

terstruktur,

penggerakkan yang berjalan sesuai dengan rencana dan adanya


pengawasan serta evaluasi dalam kegiatan proses pelayanan kesehatan
jamaah haji dapat berjalan efektif dan tercapainya tujuan dari
penyelenggaraan kesehatan jamaah haji yang bersifat kontinum dan
komprehensif dengan melaksanakan proses pemeriksaan kesehatan,
pengobatan, pemeliharaan kesehatan terhadap jamaah haji sesuai standar
agar jamaah haji dapat melaksanakan ibadah haji dengan sebaik-baiknya

80

81

serta dalam upaya meningkatkan status kesehatan dan kemandirian jamaah


haji.
2. Aspek kesehatan yang di layani Dinas Kesehatan Kota Tangerang antara
lain : pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang dan vaksinasi. Untuk
pemeriksaan fisik meliputi, pemeriksaan general check up (dari kepala
hingga perut), pemeriksaan penunjang meliputi test darah, urin, test
kehamilan, dan EKG, dan untuk vaksinasi meliputi imunisasi meningitis
dan influenza.

B. Saran-saran
1. Diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan, guna kelangsungan
kegiatan pelayanan kesehatan agar berjalan lebih baik dan efektif.
2. Diharapkan mengadakan sosialisasi yang lebih intens kepada para jamaah
haji untuk penjadwalan pelaksanaan pelayanan kesehatan, agar para
jamaah tidak ada yang ketinggalan informasi dan menlaksanakan
pemeriksaan.
3. Menyediakan sarana pelayanan kesehatan yang sesuai dan berkualitas
baik, guna menunjang berjalannya kegiatan secara optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Zaziri, Abdurrahman, Fiqih 4 Mazhab Bagian Ibadat (Puasa, Zakat, Haji,


Kurban), Jakarta : Darul Ulum Press, 1996
Basyuni, Muhammad M., Reformasi Manajemen Haji, Jakarta: FDK PRESS 2008
Effendi, E.K. Mochtar, Manajemen Suatu Pendekatan Berdasarkan Ajaran Islam.
Jakarta: Bharatara Karya Aksara, 1996
Halim, Abdul, Ensiklopedi Haji dan Umroh, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,
2002
Handoko. T. Hani, Manajemen, Yogyakarta : BPFE, 1997
Buku Profil Kota Tangerang, Tahun 2009
J. Mleong, Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya 2000)
Julitirsa, Daiti, dan Suprihanto, John, Manajemen Suatu Pengantar. Yogyakarta :
BPFE. 1992
Kardaman, AM, Pengantar Ilmu Manajemen. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
1996
Kasmir, Etika Customer Service, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005
Website.Kota Tangerang.com
KMK, No. 442, ttg Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Haji Indonesia.Pdf
Kottler, Philip, Manajemen Pemasaran Analisis Perencanaan, Implementasi dan
Pengendalian, Jakarta: Erlangga, 1995
Buku Profil Dinas Kesehatan Kota Tangerang Tahun 2009, Dinas Kesehatan
Kota Tangerang, Diterbitkan 2010
Marfudin, Ade, Peduli Kesehatan Haji 2010, Jakarta: Lembaga Dakwah
Kesehatan UIN SYAHID, 2010
Moekijat, Kamus Manajemen, Bandung: CV. Mandar Maju, 1990
Muarif Ambary dkk, Hasan, Ensiklopedi Islam, Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve,
2001

82

83

Muctarom, Zaini, Dasar-Dasar Manajemen Dakwah, Yogyakarta: Al-Amin


Press. 1996
Muninjaya, A. A. Gde, Manajemen Kesehatan, Jakarta: Buku Kedokteran EGC,
2004
Nasution, Harun Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta, Djembatan, 1992,
Nizam, Ahmad dan Hasan, Alatif, Manajemen Haji, Jakarta : Zikru Hakim, 2000
Notoatmodjo, Soekidjo, Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni, Jakarta:Rineka
Cipta, 2007
Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Haji, Departemen Kesehatan RI: 2009
Pedoman Teknis Pemeriksaan Kesehatan Jemaah Haji, Pusat Kesehatan Haji
Kementrian Kesehatan RI : 2010
Rahmat, Jalaludin, Metode Penelitian Komunikasi dilebfkapi Contoh Analisis
Statistik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002
Sutarto, Dasar-Dasar Organisasi, Yogyakarta: Gajah Mada University Press,
2006.
Ruslan, Rosady, Manajemen Humas dan Manajemen Komunikasi, Konsepsi dan
Aplikasi, Jakarta: PT Raja Grafindo Rosada, 1998
Syariati, Ali, Haji , Bandung: Penerbit Pustaka, 2000
Usman, Husain dan Setiady Akbar, Purnomo, Metodologi Penelitian Sosial,
Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003
Zein, Umar, & H, KPTI, Kesehatan Perjalanan Haji, Bogor: PRENADA
MEDIA, 2003

PROGRAM-PROGRAM PEMBANGUNAN DINAS KESEHATAN KOTA TANGERANG


Program pembangunan kesehatan yang dilaksanakan dalam rangka mencapai
masyarakat Kota Tangerang yang sehat secara mandiri berupa :
1. Upaya Kesehatan Wajib, meliputi :
a) Promosi Kesehatan
b) Kesehatan Lingkungan
c) Kesehatan Ibu dan Anak termasuk KB
d) Perbaikan Gizi
e) Pemberantasan Penyakit Menular
f) Pengobatan
2. Upaya Kesehatan Pengembangan
Dilaksanakan di Kota Tangerang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan
masyarakat, meliputi :
a) Upaya kesehatan sekolah
b) Upaya kesehatan olah raga
c) Upaya perawatan kesehatan masyarakat
d) Upaya kesehatan kerja
e) Upaya kesehatan gigi dan mulut
f) Upaya kesehatan jiwa
g) Upaya kesehatan mata
h) Upaya kesehatan usia lanjut
i) Upaya kesehatan reproduksi
j) Upaya pengawasan obat dan makanan

k) Upaya pembinaan dan pengendalian pelayanan kesehatan swasta.


l) Upaya pembinaan dan pengawasan pengobatan tradisional
3. Upaya Kesehatan Penunjang
a) Labkesda meliputi laboratorium lingkungan, laboratorium gizi dan laboratorium
medis/klinis
b) Pencatatan dan pelaporan (pengembangan sistem informasi kesehatan).

HASIL WAWANCARA

Nama

: Ikhwan, SKM

Jabatan

: Pelaksana Surveilans

Tempat

: Kantor Dinas Kesehatan Kota Tangerang, Jln. Daan Mogot no.62


Tangerang.

Hari/Tanggal : Jumat, 14 Januari 2011


Waktu

: 09.30-11.30 WIB

1. Bagaimana sejarah berdirinya Dinas Kesehatan Kota Tangerang ini Pak?


Jawaban :
Untuk sejarah berdirinya Dinas Kesehatan ini, sama dengan sejarah berdirinya
Kota Tangerang, yang saya tahu pada tahun 2003, untuk sejarahnya mba bisa
liat di web Kota Tangerang atau mba bisa tanya di bawah di bagian
perencanaan, bertemu dengan Ibu Sri. Mengenai sejarah berdirinya mba bisa
dapat informasinya disana.
2. Selanjutnya, mengenai visi dan misi Dinas Kesehatan Kota Tangerang?
Jawaban :
Visi Dinas Kesehatan Kota Tangerang yang paling utama yakni masyarakat
Kota Tangerang yang sehat secara mandiri, dan untuk misi salah satunya
adalah mewujudkan pelayanan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas.
Untuk lebih jelas dan lengkapnya nanti mba, saya berikan profile Dinas
Kesehatan Kota Tangerang. Sehingga data-data yang mba perlukan dapat

masukkan ke dalam pembahasan mengenai gambaran umum Dinas Kesehatan


Kota Tangerang, seperti adanya strategi dan kebijakan, program-program
kesehatan,
3. Bagaimana struktur organisasi di Dinas Kesehatan Kota Tangerang?
Jawaban:
Struktur organisasinya terdiri dari Kepala Dinas, Sekretariat, Kelompok
Jabatan Fungsional, dan dibawahnya terdapat bidang bina kesehatan
masyarakat, bidang pelayanan kesehatan, bidang pengembangan sumber daya
dan bidang pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan yang mengurus
pelayanan kesehatan jamaah haji.
4. Sudah berapa periode kepemimpinan Dinas Kesehatan Kota Tangerang ini
pak ?
Jawaban:
Sudah dua periode yaitu periode pertama tahun 1993-2007 dipimpin oleh dr.
H. R. Nuriman Machsudin, M.Kes. dan pada periode kedua tahun 2007hingga sekarang dr. Hj. Lelly Indrawati, M. Kes.

Hari/Tanggal : Jumat, 14 Januari 2011


Waktu

: 09.30-11.30 WIB

1. Bagaimana sistem perencanaan pelayanan kesehatan di Dinas Kesehatan Kota


Tangerang?
Jawaban:

Baik, untuk perencanaan kami ada jadwalnya dari proses persiapan,


pertemuan,

pembekalan,

dan

teknik

pemeriksaan.

Namun

didalam

perencanaan tersebut terdapat perkiraan masa depan, perumusan sasaran untuk


mencapai tujuan, penetapan metode dan kebijakan, penetapan waktu, lokasi
biaya dan faktor penunjang lainnya. Dan untuk isi perencanaan, petugaspetugasnya dan waktu pelaksanaannya, mba saya berikan susunan
perencanaan pelaksanaan pelayanan kesehatan jamaah haji (diberikan tabel),
untuk no. 1. Yaitu pertemuan persiapan pemeriksaan PKM, pelaksana pihak
Dinkes dan sasarannya ketua PKM, no. 2. Pertemuan koordinasi dengan
KBIH, pelaksananya pihak Dinkes dan sasarannya ketua KBIH, no. 3-7 yang
terdiri dari pemeriksaan kesehatan jamaah haji I (PKM), pemeriksaan rujukan
bagi jamaah risti, pembinaan dan pemeliharaan kesehatan jamaah haji,
pemeriksaan kesehatan jamaah haji II (terakhir), dan pengiriman BKJH yang
telah diisi ke Dinkes, pelaksananya Puskesmas untuk sasarannya jamaah haji,
no. 8. Pertemuan evaluasi pemeriksaan PKM, pelaksananya pihak Dinkes
sasarannya Jamaah haji, no.9 dan 11. Pelaksananaan vaksinasi haji dan
pelacakan K3JH, pelaksananya pihak Dinkes dan sasarannya jamaah haji.
2. Apakah saya boleh minta susunan jadwal nya pak?
Jawaban :
Tentu, nanti saya akan berikan.
3. Bagaimana untuk pembiayaan dan fasilitas lain?
Jawaban :
Untuk biaya anggarannya dari APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah),
dan fasilitas terdiri dari alat-alat medis yang digunakan di Dinas Kesehatan,
Puskesmas dan Rumah Sakit.

4. Kendalanya apa saja pak dalam pelaksanaan pemeriksaan di Puskesmas?


Jawaban:
Biasanya dari perlengkapan pemeriksaan, ya seperti contoh tidak lengkapnya
ruang laboratorium di puskesmas, sarana dan prasarana puskesmas dan
fasilitas fasilitas lain.

Hari/Tanggal : Jumat, 18 Februari 2011


Waktu

: 09.30-11.00 WIB

1. Bagaimana untuk pengawasan yang dilakukan Dinas Kesehatan dalam


pelaksanaan pemeriksaan kesehatan jamaah haji?
Jawaban:
Untuk pengawasan yang dilakukan yaitu menentukan standar pengawasan
dengan melihat target, sasaran, dan tujuan misalnya pelaksanaan pertemuan
persiapan pemeriksaan, kemudian menentukan pengukuran pelaksanaan
kegiatan dalam hal pelayanan kesehatan, seperti pemeriksaan I dan II,
selanjutnya membandingkan pelaksanaan dengan standar yang ditetapkan
seperti apakah alat penunjang sudah dalam kategori memenuhi persyaratan,
sarana penunjang laboratorium, dan pelayanan kesehatan secara khusus atau
secara umum untuk pemeriksaan kesehatan jamaah haji, selanjutnya kendala
dalam pelayanan sehingga diperlukannya evaluasi dan tindakan koreksi jika
ada penyimpangan dalam proses kegiatan, misalnya pada jamaah haji mandiri
yang kurang informasi mengenai pemeriksaan jamaah haji.

Hari/Tanggal : Jumat, 25 Februari 2011


Waktu

: 09.30-11.00 WIB

1. Melanjutkan pertanyaan yang kemarin pak, untuk aspek-aspek kesehatan apa


saja yang dilayani Dinas Kesehatan terhadap jamaah haji?
Jawaban:
Mencakup pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang dan vaksinasi haji.
2. Apa saja komponennya pak?
Pemeriksaan fisik meliputi test dari kepala hingga perut, pemeriksaan
penunjang meliputi laboratorium yang didalamnya ada test urin, darah,
kehamilan, EKG dan untuk vaksinasi meliputi imunisasi meningitis
meningokokus dan imunisasi influenza. Untuk lebih jelasnya bisa mba
tambahkan dari buku pedoman.

TTD

(Isnaini S.)

(Ikhwan, SKM)

HASIL WAWANCARA

Nama

: Suhardiman, SKM, MKM

Jabatan

: Ketua Seksi P2I

Tempat

: Kantor Dinas Kesehatan Kota Tangerang, Jln. Daan Mogot no.62


Tangerang.

Hari/Tanggal : Jumat,04 Februari 2011


Waktu

: 10.00 -11.30 WIB

1. Bagaimana pengorganisasian dalam pelayanan kesehatan jamaah haji?


Jawaban:
Untuk pengorganisasian yang pertama yaitu adanya koordinasi atau kerjasama
dengan pihak puskesmas dalam hal pemeriksaan kesehatan jamaah haji, yang
terdiri 1 ketua dan 5 anggota meliputi dokter, perawat, analis laboratorium dan
administrasi. Untuk pihak Dinas Kesehatan yaitu sesuai dengan surat
keputusan walikota pada pelayanan kesehatan jamaah haji di Dinas Kesehatan
berada di sub bidang pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan.
Didalamnya meliputi tim-tim yang bertugas sesuai dengan tugas, fungsi dan
pokok yang ada. Tim-tim ini diantaranya tim administrasi, tim pelayanan
kesehatan, tim pemeriksaan, dan tim bimbingan dan penyuluhan.
2. Bagaimana untuk susunan organisasi Dinas Kesehatan Kota Tangerang?
Jawaban :

Baik, pertama dari Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang yaitu yang
bertanggung jawab atas seluruh proses kegaitan penyelenggaraan pemeriksaan
kesehatan ibadah haji, kepala bidang pengendalian penyakit dan penyehatan
lingkungan yaitu bidang yang ditunjuk dalam pelaksanaan pemeriksaan atau
vaksinasi jamaah haji. dan ada beberapa bidang lain nanti saya berikan
susunannya

secara

lengkap.

Karena

ada

pembagian-pembagian

tim

didalamnya serta susunan di puskesmas

Hari/Tanggal : Jumat, 18 Februari 2011


Waktu

: 08.30-10.00 WIB

1. Bagaimana pelaksanaan evaluasinya pak ?


Jawaban :
Dalam sebuah organisasi evaluasi sangat penting, agar perencanaan yang telah
ditetapkan berjalan maksimal, untuk pelayanan kesehatan jamaah haji ini
melakukan evaluasi dengan melihat hasil akhir dari pelayanan pemeriksaan
jamaah haji. Setelah itu jamaah haji siap untuk melaksanakan vaksinasi haji.
dalam evaluasi melalui input-proses-output. Maka dari sini akan terlihat
hasilnya. Untuk pelayanan pemeriksaan jamaah haji evaluasi kegiatannya
melalui BKJH ( Buku Kesehatan Jamaah Haji).

Hari/Tanggal : Jumat, 25 Maret 2011


Waktu

: 15.30 16.30 WIB

1. Berapa jumlah jamaah haji pria dan wanita?


Jawaban :
Untuk jamaah haji pria ada 1023 orang dan jamaah wanita 1157 orang.
2. Berapa jumlah pemeriksaan jamaah haji di setiap puskesmas?
Jawaban :
Untuk jumlahnya banyak, nanti saya berikan datanya. Sekaligus nanti saya
berikan data mengenai hasil pemeriksaan jamaah haji beserta jenis
penyakitnya.

TTD

(Isnaini S.)

(Suhardiman, SKM, MKM)

HASIL WAWANCARA

Nama

: dr. Hj. Ati Pramudji H., MARS

Jabatan

: Kepala Bidang P2PL

Tempat

: Kantor Dinas Kesehatan Kota Tangerang, Jln. Daan Mogot no.62


Tangerang.

Hari/Tanggal : Jumat,11 Februari 2011


Waktu

: 14.00-16.00 WIB

1. Bagaimana untuk penggerakkan pelayanan kesehatan jamaah haji?


Jawaban :
Dalam penggerakkan yang dilakukan semua sesuai dengan pedoman
penyelenggaraan kesehatan haji, salah satunya, mengendalikan pelaksanaan
pemeriksaan kesehatan pada jamaah haji, mengendalikan pelaksanaan
imunisasi pada jamaah haji, mengendalikan pelaksanaan bimbingan dan
penyuluhan kesehatan pada jamaah haji. dan untuk lebih lengkapnya mba bisa
liat di buku pedoman tersebut.
2. Dalam penggerakkan atau pelaksanaan ini ada berapa KBIH dan Puskesmas
yang hadir dalam pertemuan bimbingan pelaksanaan pemeriksaan jamaah
haji?
Jawaban:

Ada 24 KBIH dan 30 Puskesmas dan yang hadir dari KBIH hanya 17, sisanya
7 KBIH berhalangan hadir karena ada pertemuan dengan Depag. Untuk
puskesmas seluruhnya hadir.
3. Untuk data jamaah haji yang melakukan vaksinasi ada berapa ya bu?
Jawaban :
Jumlah jamaah haji Kota Tangerang pada tahun 2010 ada 2180 orang, karena
sifat dari vaksinasi ini adalah wajib maka seluruh jamaah haji diwajibkan
mendapatkan vaksinasi meningitis, kecuali untuk vaksinasi imunisasi karena
sifatnya anjuran, maka hanya beberapa jamaah haji saja yang melakukan
vaksinasi imunisasi.

TTD

(Isnaini S.)

(dr. Hj. Ati Pramudji H., MARS)