Anda di halaman 1dari 4

BAB IV

ANALISIS PENGOLAHAN DATA


4.1 Analisis Modul I
Dari hasil pengolahan data demand yang diambil dengan melakukan survey
lapangan pada Toko Dian Grup, didapatkan hasil baik menggunakan program POM
QM

ataupun

Ms.

Excel.

Masing-masing

metode

menghasilkan

hasil

forecast/peramalan yang berbeda-beda. Untuk menentukan metode mana yang akan


dipakai dalam peramalan penjualan kursi dan lemari, maka dipakailah metode yang
memiliki SEE yang terkecil. Pada pengolahan data yang telah kami lakukan tersebut,
didapatkan metode yang terbaik yaitu metode konstan dengan SEE 4072836.76.
Setelah didapatkan metode terbaik, selanjutnya dilakukan verifikasi metode
peramalan. Dan pada verifikasi metode peramalan yang telah dilakukan, didapatkan
hasil bahwa metode konstan tersebut terverifikasi, karna error/kesalahan pada metode
ini tidak keluar dari batas kontrol atas maupun batas kontrol bawah dan tidak
ditemukannya kondisi-kondisi dimana error pada metode ini keluar kendali. Dan
metode konstan ini dapat digunakan dalam peramalan penjualan kursi dan meja untuk
periode selanjutnya oleh Toko Dian Grup.
4.2 Analisis Modul II
Pada modul II ini bertujuan agar mampu membuat rencana produksi agregat
dan bisa membuat master production schedule (MPS). Untuk bisa menjadwalkan
sebuah produk, maka diperlukan data beberapa pekerja yang dibutuhkan, kapasitas
produksi, kelompok produk dan lainnya. Dan dari semua data yang diperlukan, kami
dapat membuat rencana produksi agregat dan master production schedule.
Untuk bisa membuat rencana produksi agregat produk pertama yang
dilakukan yaitu menghitung kapasitas regular time. Dari hasil perhitungan kapasitas
didapat RT dan OT 12 periode yang dibutuhkan untuk membuat aggregate planning.
Pada aggregate planning chase strategi, kapasitas yang digunakan yaitu kapasitas RT
perjam dan pada aggregate planning transportasi menggunakan kapasitas RT perunit.

59

Kemudian

setelah

menghitung

kapasitas

RT

selanjutnya

dilakukan

perhitungan agregasi dengan pendekatan waktu proses. Berdasarkan hasil dari


perhitungan agregasi dengan pendekatan waktu proses yang dilakukan, kami dapat
menggunakan roundup dari proses agregasi tersebut untuk selanjutnya diramalkan
dengan menggunakan metode dekomposisi menggunakan software POM QM. Dari
hasil peramalan dekomposisi peramalan tersebut, didapatkan hasil peramalan periode
13 sampai periode 24 dan hasil peramalan tersebut mengalami fluktuasi produksi.
Pada penentuan aggregate planning digunakan 2 strategi yaitu chase strategi
dan transportasi. Pada chase strategi tidak ada overtime pada setiap periode dalam
proses produksi tersebut. Artinya tidak ada penambahan waktu kerja pada setiap
periodenya dan pada periode 4 dan periode 6 ada penambahan pekerja sebanyak 1
orang serta pengurangan 1 orang pekerja pada periode 5. Pada chase strategi ini total
produksi yang dihasilkan sebanyak 732 unit dan total penyimpanan yang dihasilkan
yaitu 34 unit.
Sedangkan pada strategi transportasi, tidak ada penambahan waktu kerja dan
penyimpanan dari proses produksi tersebut. Serta tidak adanya penundaan pemberian
produksi pada setiap produksinya. Pada strategi transportasi ini total produksi yang
dihasilkan yaitu sebanyak 727 unit.
Dan dari hasil perhitungan disagregasi dengan teknik persentase, pada tipe
pertama di dapatkan persentase produksi yaitu 48,72 % dan pada tipe kedua yaitu
51,28 %. Dari hasil disagregasi tersebut maka didapatkan MPS dari kedua tipe
produk tersebut. MPS ini merupakan jadwal induk yang digunakan perusahaan untuk
jadwal induk produksi yang akan dilakukan dan diproses oleh perusahaan tersebut.
Jadwal induk ini merupakan langkah awal yang untuk melakukan produksi, agar
dalam perencanaan sesuai dengan permintaan konsumen.
4.3 Analisis Modul III
Pada praktikum modul III ini membahas mengenai struktur produk suatu.
Pada modul ini, produk dari kelompok kami yaitu sebuah meja lipat. Meja lipat ini
terdiri dari beberapa komponen penyusun, komponen penyususn ini ada yang dibuat

60

sendiri (MFG) dan ada komponen yang harus dibeli (BO). Produk meja lipat ini
dirincikan menjadi beberapa bagian dan setiap bagian dirinci menjadi beberapa
komponen. Setiap bagian dan komponen ditentukan pula levelnya. Pada produk meja
lipat ini memiliki tiga level, yaitu level 0, level 1, dan level 2.
Pada level 0 merupakan produk akhir dari meja lipat. Pada level 1 terdiri dari
kaki dan alas. Dan pada komponen level 2 terdiri dari batang kaki, skor kaki, paku,
skrup, landasan, skor, dan penyangga meja. Setiap komponen pada struktur produk
dicatat dalam Bill of Material (BOM). Pada BOM tersebut dicatat ukuran dari
masing-masing komponen dan berapa banyak komponen tersebut dibutuhkan untuk 1
unit produk akhir.
Perusahaan menggunakan BOM ini untuk mengetahui berapa banyak
material/bahan yang dibutuhkan dan dibeli agar dalam proses produksi tidak terjadi
kekurangan dan keterlambatan produksi. Dan pada BOM ini, setiap komponen diberi
kode sebagai identitas dari komponen tersebut.
4.4 Analisis Modul IV
Pada modul IV ini membahas tentang Material Requirement Planning (MRP)
yang merupakan suatu konsep dalam manajemen produksi yang membahas tentang
perencanaan kebutuhan barang yang tepat dalam proses produksi, sehingga barang
yang dibutuhkan dapat tersedia sesuai dengan yang direncanakan. Pada pengolahan
MRP ini, data yang dimasukkan yaitu lead time, lot size, POH, MPS, dan data BOM.
Pengolahan MRP ini berkaitan dengan sturktur produk pada modul tiga
dengan produknya yaitu produk meja lipat. Pengolahan MRP dibedakan pada setiap
levelnya, pada setiap level pengolahan MRP saling berkaitan. Pada pengolahan MRP
ini, keluaran yang dihasilkan yaitu rencana pemesanan yang disusun berdasarkan
waktu ancang dari setiap komponen. Pada level 0 kebutuhan bahan/porel yang perlu
dipesan yaitu pada periode 7, 8, 11, 12, 14, dan 15. Masing-masing periodenya
membutuhkan bahan tersebut sebanyak 18,56, 33,11,25 dan 55 unit. Kebutuhan
bahan/porel yang dipesan pada level 0 ini digunakan untuk data gross requirement

61

pada level selanjutnya dengan mengalikannya dengan banyak komponen yang


dibutuhkan pada level tersebut.
Pada setiap level terdapat perbedaan pada lead time-nya, dengan kata lain
pemesanan dari produk tersebut harus dipesan sebelum due date penyerahan atau
pengambilan produk tersebut. Pada level dua terdapat schedule receipe produk,
sehingga pada POH akan mengalami penambahan dalam inventory produk tersebut.
Pada pengolahan MRP ini memiliki lot size produk, maksudnya setiap produk
mememiliki ukuran atau batasan target pemesanan terbawah dari produk tersebut.
Keluaran MRP masing-masing level pada tiap periodenya pada produk meja
lipat ini dapat digunakan sebagai informasi yang dapat digunakan untuk melakukan
pengendalian produksi. Dengan adanya rencana pemesanan, maka kebutuhan bahan
pada tingkat yang lebih rendah dapat diketahui pada produk meja lipat ini. Selain itu
proyeksi kebutuhan kapasitas juga akan diketahui, yang selanjutnya akan
memberikan revisi atas perencanaan kapasitas yang dilakukan pada tahap
sebelumnya.

62