Anda di halaman 1dari 2

SKANDAL KORPORASI DAN AKUNTANSI

Maraknya peristiwa runtuhnya perusahaan-perusahaan raksasa di Amerika


seperti WorldComp, Global Crossing Ltd, dll pada tahun 2001 yang lalu,
dipicu oleh terkuaknya skandal korporasi seperti manipulasi pembukuan,
penggelapan pajak, penipuan sekuritas, insider trading. Dari beberapa sebab
tersebut, manipulasi pembukuan merupakan pemicu terbesar runtuhnya
perusahaan-perusahaan tersebut. Manipulasi pembukuan ini terjadi karena
adanya campur tangan akuntan, dan sedikit banyak menyebabkan nama
baik akuntan tercoreng di mata public yang berujung pada kesimpulan
bahwa manipulasi pembukuan merupakan mega kolusi dari beberapa pihak
yang memiliki andil terhadap perusahaan-perusahaan tersebut.
Jika kita lihat dari sisi etika, sebenarnya prilaku tersebut sudah tumbuh sejak
berada
di
lingkungan
pendidikan
.
Beberapa
survey
telah
membuktikan prilaku tidak etis di lingkungan pendidikan dapat menjadi
predictor atas prilaku tidak etis dalam dunia kerja. Prilaku tidak etis dalam
dunia kerja dapat dilihat dari banyaknya kasus penuntutan di pengadilan
terhadap akuntan public. Pemicu penuntutan tersbut, salah satunya adalah
karena kelalaian akuntan untuk mengungkap terjadinya kecurangan / fraud
oleh manajemen. Implikasi dari kecurangan tersebut, perusahaan tidak
hanya di denda secara financial, tetapi juga dituntut untuk mematuhi sanksi
hukum yang telah diputuskan. Kasus manipulasi pembukuan di perusahaan
tersebut juga terjadi di Indonesia, BAPEPAM telah menjatuhkan sanksi
kepada berbagai pihak baik kepada perorangan maupun lembaga yang
berbentuk badan hukum yang melakukan kecurangan. Berdasarkan
fenomena tersbeut maka focus utama yang dikedepankan adalah
pencegahan, agar kasus-kasus tersebut tidak lagi terulang di masa depan.
Diantara berbagai faktor penyebab terjadinya penuntutan terhadap
akuntan, expectation gap merupakan salah satunya. Expectation gap itu
sendiri merupakan perbedaaan harapan antara auditor dengan pemakai
laporan keuangan dalam memandang tanggung jawab auditor dalam
mendeteksi dan melaporkan terjadinya kecurangan yang dilakukan
manajemen. Terdapat keterbatasan peran auditor dalam mendeteksi
kecurangan, hal ini dikarenakan auditor tugas profesionalnya berdasarkan
standar profesinya yang kadang-kadang tidak sesuai dengan yang
diharapkan oleh pemakai laporan keuangan. Untuk menutupi keterbatasan
tersebut maka diterbitkanlah Statement Auditing Procedure yang mencoba
melindungi profesi akuntan. Hal ini juga diadopsi oleh Indonesia melalui IAI,
ikatan akuntan Indonesia. Pembentukan standar-standar baru yang ada
bertujuan untuk memperkecil expectation gap, karena jika expectation gap

tesebut terus berkembang, maka akan sampai masa dimana kompetensi


auditor akan dipertanyakan.
Jika ditinjau lebih mendalam ke masa lalu, sesungguhnya profesi akuntansi
sangat menjunjung tinggi nilai-nilai etis moral dan agama. Hal ini bisa dilihat
dari pernyataan Luca Pacioli, Bapak Akuntansi Modern dan Profesor
Matematika yaitu, mencari keuntungan yang optimal adalah hal yang wajar
dalam bisnis, tetapi tujuan tersebut sebaiknya dicapai dengan
mempertimbangkan
amanat-amanat
Tuhan.
Bahkan
juga
harus
mnginternalisasikan dan menghadirkanNya dalam proses pencatatan
transaksi bisnis tersebut. Konsep yang dikatakan oleh Luca Pacioli tersebut
sekarang sudah mulai dilupakan oleh para pelaku bisnis dan akuntan. Para
pelaku bisnis sekarang ini, hanya mengutamakan keuntungan tanpa merujuk
pada nilai-nilai moral etisnya. Seharusnya para pelaku bisnis dan akuntan
tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip yang dianut Luca Pacioli untuk
mencegah terjadinya kecurangan dalam dunia bisnis. (Irianto, Gugus. 2003)
Komentar: Saya setuju dengan apa yang disampaikan oleh penulis.
Pembinaan nilai moral dan etis sangatlah penting untuk membatasi prilaku
praktisi dunia bisnis agar tidak melakukan kecurangan. Hal ini dapat
dilakukan dengan pemberian pelajaran mengenai nilai-nilai moral dan etis
sedini mungkin, misalnya disisipkan pada lingkungan sekolah atau
pendidikan. Sehingga, pada saat terjun ke dunia bisnis, para pelaku bisnis
dan akuntan sudah memiliki fondasi moral yang kokoh sehingga
meminimalisir terjadinya kecurangan-kecurangan seperti manipulasi
pembukuan seperti saat ini. Selain hal tersebut penguatan nilai-nilai
professional sceptism dan neither honest nor dishonest.