Anda di halaman 1dari 35

PEMBELAJARAN BIOLOGI ABAD 21

MAKALAH

Disusun untuk Memenuhi Tugas Matakuliah PBM Biologi II yang Dibina oleh
Prof. Dra. Herawati Susilo, M. Sc. Ph.D dan Dr. Hadi Suwono, M.Si.

Oleh:
Kelompok IV / Kelas A
Ibnu Maulana
140341806997
Mardiana
140341807227
Murni Thalib
140341807064
Yulya Fatma
140341807254

PENDIDIKAN BIOLOGI PROGRAM MAGISTER


PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
Januari 2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan atas rahmat dan karunia yang Allah SWT
berikan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Pembelajaran Biologi Abad 21. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad
SAW, karena beliau kita dapat mempelajari ilmu pengetahuan seperti saat ini.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas pada
mata kuliah PBM Biologi II pada Pendidikan Biologi Program Magister
Universitas Negeri Malang. Penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada
pihak-pihak yang telah membantu penyelesaian makalah ini, antara lain:
1. Prof. Dra. Herawati Susilo, M. Sc. Ph.D dan Dr. Hadi Suwono, M.Si selaku
dosen pembina matakuliah PBM Biologi II.
2. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penulisan makalah
ini.
Semoga semua bantuan dan dukungan yang telah diberikan bernilai ibadah
disisi Allah SWT. Penulis berusaha untuk menyusun makalah ini dengan sebaik
mungkin dan menyadari tentu ada kekurangan, oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna perbaikan makalah ini.
Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Malang, Januari 2015

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................

DAFTAR ISI ....................................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .......................................................................................

B. Rumusan Masalah ..................................................................................

C. Tujuan Penulisan ...................................................................................

BAB II PEMBAHASAN
A. Biologi Abad 21 .....................................................................................

B. Karakteristik Pembelajaran Abad 21 ......................................................

C. Pembelajaran Biologi Abad 21 ...............................................................

14

D. Tujuan Belajar Abad 21 ..........................................................................

28

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ..........................................................................................

30

B. Saran ....................................................................................................

30

DAFTAR RUJUKAN ......................................................................................

31

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perubahan

ekonomi,

teknologi,

informasi,

demografi

dan

politik

menimbulkan kekuatan untuk mengubah cara seseorang untuk bekerja dan hidup.
Pendidikan, layaknya bisnis harus beradaptasi terhadap kondisi perubahan yang
terjadi. Wajah sistem pendidikan sekarang tidak relevan kecuali kalau kita
menjembatani celah antara bagaimana kehidupan siswa dengan bagaimana
mereka belajar. Sekolah berjuang untuk memelihara langkah dengan kecepatan
yang cukup mengherankan dari perubahan pada kehidupan siswa di luar sekolah.
Seiring dengan perkembangan tekonologi dan banyaknya temuan teknologi,
serta masih kurangnya kemauan dan kemampuan kita untuk meningkatkan
kemampuan dan keterampilan diri sangat terbatas. Oleh karena itu, pembelajaran
yang dilakukan diupayakan untuk menghasilkan learning outcome yang sesuai
dengan permintaan dunia kerja. Pendidikan dan pembelajaran hendaknya
mempersiapkan peserta didik karena peserta didik nantinya akan hidup sebagai
orang dewasa yang banyak tugas (multitasking), banyak aspek (multifaceted),
dikendalikan oleh tekonologi (technology driven), sangat beragam (diverse), dan
bersemangat (vibrant).
Biologi sebagai salah satu disiplin ilmu memiliki peranan penting dalam
kehidupan. Perkembangan Biologi yang sangat pesat pada abad ke-21 ini
mempengaruhi berbagai segi kehidupan manusia khususnya dalam menghadapi
era global. Biologi abad 21 sudah diarahkan kepada pengembangan ilmu yang
memanfaatkan teknologi dan berintegrasi dengan disiplin-disiplin ilmu lainnya.
Oleh karena itu, pada makalah ini dibahas bagaimana peranan biologi pada abad
21 dan pembelajaran biologi pada abad 21.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang dibahas
diantaranya sebagai berikut.
1. Bagaimana peran biologi pada abad 21?

2. Bagaimana karakteristik pembelajaran abad 21?


3. Bagaimana pembelajaran biologi abad 21?
4. Bagaimana tujuan belajar abad 21?
5.
C. Tujuan Penulisan
6.

Adapun tujuan penulisan makalah ini diantaranya sebagai

berikut.
1.
2.
3.
4.

Mengetahui dan memahani peran biologi pada abad 21.


Mengetahui dan memahani karakteristik pembelajaran abad 21.
Mengetahui dan memahani pembelajaran biologi abad 21.
Mengetahui dan memahani tujuan belajar abad 21.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.

29. BAB II
30. PEMBAHASAN
31.
A. Peran Biologi Pada Abad 21
32.

Biologi berada pada titik perubahan. Penelitian yang telah

dilakukan menghasilkan informasi yang detail berkaitan dengan komponen dari


sistem kompleks yang mengkarakteristik kehidupan-gen, sel, organisme,
ekosistem-dan pengetahuan ini telah mulai bergabung menjadi pemahaman yang
besar mengenai bagaimana semua komponen bekerja sama sebagai sebuah sistem.
Biologi saat sekarang berada pada titik dimana merupakan karakteristik penting
dari kehidupan dunia, dan kemampuan tersebut dapat diimplikasikan pada
berbagai sektor (Committee on a New Biology for 21st Century, 2009).
33.

Seperti halnya internet, kombinasi dengan mesin pencari yang

sangat kuat, membuat akses informasi yang sangat cepat, sama halnya dengan
biologi, kombinasi dengan meningkatnya pengalaman untuk menggabungkan,
memprediksi, dan memanipulasi karakteristiknya, dapat membuat sumber biologi
diperoleh untuk aplikasi dengan kawasan yang luas. Komite menyimpulkan
bahwa kehidupan sains mencapai titik dimana sebuah tingkatan baru dari
penemuan adalah mungkin, sebuah tingkatan yang membangun kekuatan dari
pembentukan riset tradisional tetapi menyediakan kerangka untuk menggambar
kekuatan dan fokus mereka pada pertanyaan besar yang jawabannya akan
memberikan banyak keuntungan praktis. Kita sebut tingkatan baru dari penemuan
New Biology dan percaya bahwa itu memiliki potensi untuk mengambil alih
tantangan daripada yang pernah sebelumnya.
34.
disebut

Pada tahun 1800-an, seseorang yang belajar mengenai kehidupan


dengan

mengkombinasikan

naturalis
obsevasi

dan
dari

mereka
biologi,

mendalami
geologi,

interdisiplin

ilmu,

dan

untuk

fisika

mendeskripsikan alam. Pendekatan New Biologi merupakan pengintegrasian


kembali subdisiplin dari Biologi, sepanjang dengan integrasi yang besar dengan
fisika dan sains komputer, matematika dan rekayasa dalam sasaran untuk
menemukan pendekatan baru yang mengatasi masalah tradisional dan sistem

pertanyaan bertingkat yang baru, interdisiplin, dan secara khusus, cara kuantitatif
(Gambar 1).

35.
36.
37.
21st
39.

Gambar 1. Apa itu New Biology?


Sumber: Committee on a New Biology for the

38.
Century
Sebagaimana ilustrasi pada Gambar 1, New Biology menyandarkan

diri pada integrasi pengetahuan dari banyak disiplin ilmu untuk memperoleh
pemahaman yang mendasar dari sistem biologi. Pemahaman yang mendasar dari
perkembangan biologi berbasis penyelesaian untuk masalah sosial dan juga
balikan untuk memperkaya disiplin saintifik individu untuk berkontribusi dalam
wawasan baru. Jika kita membandingkan pemahaman terhadap subdisiplin ilmu
untuk memasangkan puzzle jigsaw secara besar-besaran, setiap subdisiplin dari
biologi memiliki pasangan dari puzzle. Tentu saja, sistem biologi menjadi suatu
yang kompleks dimana seperti penemuan utama baru yang masih diungkapkan,
dan penemuan baru sering datang dari indiviual saintis yang membuat loncatan
intelektual dari sistem partikular yang mereka pelajari menjadi wawasan yang
menerangi banyak proses biologi (Committee on a New Biology for 21 st Century,
2009).
40.

Perkembangan Biologi yang sangat pesat pada abad ke-21

ini mempengaruhi berbagai segi kehidupan manusia khususnya dalam


menghadapi era global. Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan alam atau
natural science, Biologi juga merupakan sekumpulan proses dan produk
sains yang di dalamnya terkandung sejumlah nilai dan sikap. Kreativitas

dan inovasi yang dihasilkan seyogyanya sejalan dengan prinsip konservasi


yaitu, perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan secara lestari. Selama
paruh kedua abad ke-20, prestasi mengesankan dan terobosan telah dibuat
dalam pengetahuan dasar dan terapan hidup dunia, dengan implikasi jauh
mencapai mempengaruhi hampir setiap aspek kehidupan manusia
danmasyarakat.
41.
Sehingga pada abad ke-21, di dalam menjawab tantangan
yang muncul sesuai dengan perkembangan jaman, biologi akan mengarah
dan mengkaji pengetahuan lama dan baru yang dikelompokkan sebagai
berikut:
1. Sistematik dan evolusi (biologi klasik), yaitu mengkaji biota baik ekosistem
baru dan ekosistem alami yang sedang menuju kematian.
2. Ekologi (biologi makro), yaitu mengkaji efisiensi dan penggunaan eksositem
produktif yang berkesinambungan, dan juga mengkaji biologi konservasi dan
ekologi restorasi.
3. Bioteknologi (biologi mikro), yaitu mengkaji penemuan-penemuan baru di
dalam dunia mirobia, biokimia, dan genetika (Djohan, 1995).
42.

Pada

pengembangan

mikro-tingkat,

dan

penggunaan

biologi molekuler telah menyebabkan sebuah revolusi dan munculnya


disiplin baru, seperti biologi molekuler, genetika molekuler, evolusi
molekuler dan genomics. Kemajuan luar biasa dan terobosan telah dicapai
dalam pemahaman manusia tentang hewan dan tumbuhan reproduksi dan
perkembangan lebih umum, pemahamannya dari proses evolusi. Pada
tingkat makro, pengembangan konsep-konsep baru, pendekatan dan teknik
baru, dan penggunaan pemodelan, penginderaan jauh dan informatika
membawa sebuah revolusi dalam ilmu ekologi dan munculnya
subecological disiplin ilmu seperti ekologi fungsional, ekologi lanskep,
global (biosphere) ekologi dan jaringan ekologi. Ilmu biologi telah melihat
munculnya interdisipliner yang penting dalam lingkup ilmiah, seperti
keanekaragaman hayati, bio-kompleksitas dan biologi integratif.
43.

Biologi menjadi lebih interdisipliner, oleh kebutuhan

menggabungkan sebelumnya bidang yang berbeda untuk menciptakan

sebuah pendekatan Biologi Baru. Inti dari Biologi baru adalah re-integrasi
subdisiplin biologi, lebih integrasi dengan ilmu fisika dan komputasi,
matematika, dan rekayasa dalam rangka untuk merancang pendekatan
baru yang mengatasi tradisional dan sistem tingkat pertanyaan dibaru,
interdisipliner, dan khususnya, cara kuantitatif. Biologi baru bergantung
pada mengintegrasikan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu untuk
memperoleh pemahaman yang lebih dalam sistem biologi. Munculnya
pendekatan Biologi Baru yang akan mengatasi masalah-masalah sosial
yang luas dan menantang.
44.
B. Karakteristik Pembelajaran Abad 21
45.

Pakar pendidikan meramalkan di masa yang akan datang,

pada abad ke-21 merupakan abad pendidikan. Pada masa itu pendidikan
merupakan hal yang sangat diperhatikan dan dinomer satukan. Hal
tersebut dikarenakan pengetahuan menjadi landasan utama segala aspek
kehidupan. Hasil pendidikan yang diharapkan adalah anak didik dapat
terefleksi pada profil lulusan yang memiliki karakter: rasa menghargai
keberadaan dirinya sendiri, rasa percaya diri, komunikatif, kemampuan
berpikir kritis, jiwa kebersamaan, rasa dan jiwa bertanggung jawab,
kepekaan dan komitmen sosial, pemahaman terhadap sistem politik dan
budaya, mampu berpikir ke depan (visi), mampu berkreasi dan
berimajinasi, serta mampu melakukan refleksi dan evaluasi.
46.
Dalam keluarga dan masyarakat maupun sekolah sebagai
satu-satunya jalur yang dapat ditempuh untuk mencetak generasi yang
akan mengukir profil atau status atau karakter bangsa Indonesia, di era
modren ini nampaknya mulai mengalami erosi. Kelemahan sistem
pendidikan saat ini antara lain disebabkan oleh peran keluarga terutama
orang tua yang tidak optimal sebagai pendidik, misalnya karena maraknya
konsep gender. Jaminan bahwa setiap anak akan mendapat pendidikan
yang baik dan benar masih perlu dipertanyakan. Pelayanan dan pendidikan
di lingkungan luar sekolah khususnya keluarga mendidik para generasi
mulai bayi, balita, anak-anak sampai dewasa sebagian dilihat masih
bersifat materilistis dan memanjakan si anak tanpa mendidik anak menjadi

anak yang matang kepribadiannya atau karakternya untuk mencapai masa


globalisasi (masa yang akan datang). Dunia pendidikan memiliki andil
yang tidak kecil terkait krisis multidimensi, karena tidak mampu
melahirkan pribadi-pribadi utuh yang mampu menyelesaikan problematika
bangsa hingga diharapkan adanya kerjasama para pendidik khususnya
guru dan orang tua untuk ikut berperan dalam melaksanakan pencapaian
manusia yang berkarakter.
47.
Menurut GalbreathJ. (2001) jenis keterampilan dan
teknologi berbasis komputer yang harus diberikan kepada siswa untuk
menghadapi abad ke-21 sebagai learning outcome, meliputi keterampilan
komunikasi, inovasi dan kreativitas, kerja kelompok dan berbagi tanggung
jawab, manajemen informasi, melek teknologi informasi, visualnetik,
penyelesaian masalah, dan pengambilan keputusan. Sementara menurut
Trilling & Hood (1999) ada beberapa keterampilan yang diperlukan di
abad ke-21 atau era pengetahuan yang tergolong dalam 7C (seven Cs),
ialah: Critical thinking and doing (Bertindak dan berpikir kritis),
Creativity (Kreativitas), Collaboration (Bekerja kolaboratif), Crosscultural Understanding (Pemahaman lintas budaya), Communication
(Berkomunikasi), Computing (Menguasai penggunaan komputer), dan
Carrer & Learning Self-reliace (Berkarir dan bekerja menempa diri).
Termasuk dalam Critical thinking-and doing adalah kemampuan
pemecahan masalah dan berpikir analitik, serta berpikir kritis (Trrilling &
Hood, 1999)
48.
Pembelajaran di Abad ke-21 sekarang ini hendaknya
disesuaikan

dengan

kemajuan

dan

tuntutan

zaman.

Salah

satu

pembelajaran yang mungkin dapat dilakukan adalah pembelajaran yang


berpusat pada siswa (Student Center). Pembelajaran yang berpusat pada
siswa berbeda dengan cara tradisional yaitu pembelajaran yang berpusat
pada guru (Teacher Center). Berikut ini karakter belajar abad ke-21, yaitu:
1. Core subject knowledge
49.
Unsur pertama adalah menekankan pada mata pelajaran
utama. Apapun keterampilan yang dikembangkan, harus didasarkan pada
pengetahuan mengenai isi materi mata pelajaran utama, yaitu bahasa
inggris, membaca atau bahasa, matematika, IPA, Bahasa asing, PPKn,

Ilmu kepemerintahan, ekonomi, sejarah, dan georgafi dan pemahaman


mengenai ciri materi utama tersebut (Susilo, 2014).
2. Communication
50.
Siswa dituntut untuk memahami,

mengelola,

dan

menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara
lisan, tulisan, dan multimedia. Siswa diberikan kesempatan menggunakan
kemampuannya untuk mengutarakan ide-idenya, baik itu pada saat
berdiskusi dengan teman-temannya maupun ketika menyelesaikan masalah
dari gurunya.
3. Collaboration
51.
Siswa menunjukkan kemampuannya dalam kerjasama
berkelompok dan kepemimpinan; beradaptasi dalam berbagai peran dan
tanggungjawab; bekerja secara produktif dengan yang lain; menempatkan
empati pada tempatnya; menghormati perspektif berbeda. Siswa juga
menjalankan tanggungjawab pribadi dan fleksibitas secara pribadi, pada
tempat kerja, dan hubungan masyarakat; menetapkan dan mencapai
standar dan tujuan yang tinggi untuk diri sendiri dan orang lain;
memaklumi kerancuan.
4. Critical Thinking and Problem Solving
52.
Siswa berusaha untuk memberikan penalaran yang masuk
akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit; memahami
interkoneksi antara sistem. Siswa juga menggunakan kemampuan yang
dimilikinya

untuk

berusaha

menyelesaikan

permasalahan

yang

dihadapinya dengan mandiri, siswa juga memiliki kemampuan untuk


menyusun dan mengungkapkan, menganalisa, dan menyelesaikan masalah.
5. Creativity and Innovation
53.
Pada karakter ini, siswa memiliki kemampuan untuk
mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan
baru kepada yang lain; bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif
baru dan berbeda. Selain itu siswa dituntut bisa menggunakan dan
memanfaatkan alat belajar abad 21 untuk mengembangkan keterampilan
belajar. Dalam dunia digital, siswa perlu belajar bagaimana menggunakan
alat-alat yang esensial untuk kehidupan sehari-hari dan untuk produktif di
tempat kerja. Warga negara abad 21 yang terampil haruslah lancar atau
literat ICT, yang didefinisikan oleh Programme for International Student

Assessment (PISA) sebagai minat, sikap, dan kemampuan individu untuk


menggunakan alat-alat teknologi digital secara tepat dan alat-alat
komunikasi

untuk

mengakses,

mengelola,

mengintegrasikan,

dan

mengevaluasi informasi untuk membentuk pengetahuan baru, dan


berkomunikasi dengan orang lain agar dapat berpartisipasi secara efektif
dalam masyarakat (Susilo, 2014).
54.
6. Assesmen
55.
Asesmen abad 21 yang mengukur keterampilan abad 21.
Negara perlu punya tes terstandar yang berkualitas tinggi yang dapat
mengukur prestasi siswa dalam unsur-unsur pembelajaran abad 21. Agar
efektif, perlu dikembangkan asesmen yang tepat, berkelanjutan, dan
terjangkau, untuk semua jenjang pendidikan, dengan menggunakan
teknologi informasi untuk meningkatkan efisiensi dan jelas waktunya.
56.
Menurut Metiri Group in partnership with The North
Central Regional Eucational Laboratory @NCREL, enGauge- 2011,
keterampilan abad 21 meliputi empat kelompok besar keterampilan yang
dijabarkan lagi menjadi masing-masing tiga keterampilan yaitu sebagai
berikut (Susilo, 2014).
a. Digital Age Literacy-Todays Basics, diantaranya sebagai berikut.
1) Basic, Scientific, and Technological Literacies yang diterjemahkan sebagai
kemampuan untuk membaca secara kritis, menulis secara persuasif, berpikir
dan bernalar secara logis, dan memecahkan permasalahan kompleks dalam
matematika dan Sains.
2) Visual and Information Literacy yang diterjemahkan sebagai keterampilan
visualisasi untuk mendecipher, menginterpretasi, mendeteksi pola, dan
berkomunikasi dengan menggunakan gambar (imagery). Literasi informasi
meliputi bagaimana mengases informasi

secara efisien dan efektif,

mengevaluasi informasi secara kritis dan kompeten, dan menggunakan


informasi secara akurat dan kreatif.
3) Cultural Literacy and Global Awareness yang diterjemahkan sebagai
mengetahui, memahami, dan menghargai budaya yang dimiliki orang lain
termasuk norma yang berlaku dalam masyarakat.
b. Inventive Thinking-Intellectual Capital, diantaranya sebagai berikut.

10

1) Adaptability Managing Complexity and Self-Direction yang diterjemahkan


sebagai keterampilan mengidentifikasi dan bereaksi secara mandiri terhadap
kondisi yang selalu berubah, mampu menganalisis kondisi yang muncul,
mengidentifikasi keterampilan baru yang diperlukan untuk menghadapi
kondisi tersebut, dan secara mandiri juga mampu merespons perubahan
yang

terjadi,

dengan

mempertimbangkan

saling

keterkaitan

dan

ketergantungan yang ada dalam sistem.


2) Curiosity, Creativity and Risk-Taking, yang diterjemahkan sebagai
keterampilan untuk ingin tahu mengenai sesuatu dan bagaimana cara
kerjanya. Rasa ingin tahu menggerakkan kegiatan mau belajar sepanjang
hayat. Ada hubungan antara pengalaman di lingkungan yang kompleks dan
perubahan struktur otak, belajar itu mengatur dan mengatur kembali struktur
otak. Kemauan mengambil risiko juga penting, memungkinkan adanya
loncatan penemuan dan belajar.
3) Higher Order Thinking and Sound Reasoning yang diterjemahkan sebagai
berpikir secara kreatif, membuat keputusan, memecahkan masalah, melihat
sesuatu dengan mata otak, mengetahui bagaimana caranya belajar dan
bernalar.

Kemampuan

menalar

memungkinkan

siswa

merancang,

mendesain, melaksanakan, dan mengevaluasi pemecahan masalah-suatu


proses yang seringkali akan lebih efisien dan efektif bila menggunakan alatalat teknologi.
c. Interactive Communication-Social and Personal Skills, diantaranya sebagai
berikut.
1) Teaming and Collaboration yang diterjemahkan sebagai keterampilan
bekerjasama dalam tim untuk mengerjakan tugas yang kompleks secara
efisien, efektif, dan cepat. Dalam hal ini termasuk keterampilan
memanfaatkan teknologi informasi untuk berkolaborasi, seperti dengan email, fax, voive mail, konferensi audio dan video, chatting, shared
document, dan kerja virtual.
2) Personal and Social Responsibility

yang

diterjemahkan

sebagai

keterampilan untuk bertanggungjawab dalam mengaplikasikan Sains dan


teknologi dalam masyarakat dengan memperhatikan etika dan nilai yang
berkembang dalam masyarakat.

11

3) Interactive Communication yang diterjemahkan sebagai keterampilan


berkomunikasi

dengan

menggunakan

teknologi.

Hal

ini

meliputi

komunikasi seorang dengan orang lain melalui e-mail, atau interaksi


kelompok dalam dunia maya (virtual learning space), dan interaksi melalui
simulasi dan model.
d. Quality, State-of-the Art Results, diantaranya sebagai berikut.
1) Prioritizing, Planning, and Managing for Results yang diterjemahkan
sebagai keterampilan merancang, mengelola, dan mengantisipasi sesuatu
yang terjadi secara bersamaan. Hal ini berarti tidak hanya berkonsentrasi
bagaimana meraih tujuan utama projek atau mengupayakan hasil projek,
tetapi juga memiliki fleksibilitas dan kreativitas untuk mengantisipasi hasil
yang tidak diharapkan.
2) Effective Use of Real-World

Tools

yang

diterjemahan

sebagai

menggunakan alat digital untuk membantu diri sendiri memecahkan


masalah, yang tergantung juga dengan keterampilan berkomunikasi dalam
jejaring sosial. Hal ini meliputi juga keterampilan memilih alat untuk
menyelesaikan tugas dan menerapkannya dalam situasi dunia nyata
sedemikian sehingga menambahkan nilai yang penting berupa peningkatan
kolaborasi, pengembangan kreativitas, penyusunan model, persiapan
publikasi, dan kinerja kreatif lainnya. Ada tiga pengetahuan menurut Doug
Henton yang penting untuk kemajuan ekonomi saat sekarang yaitu: Knowwhat, Know-how, dan Know-who (tahu apa, tahu bagaimana, dan tahu
siapa).
3) High Qualiy Results with Real-World Application yang diterjemahkan
sebagai

keterampilan

membangun

suatu

produk

autentik

dengan

menggunakan suatu alat- dapat berupa istana pasir, program komputer,


dokumen, grafik, bangunan konstruksi dengan LEGO, atau hasil komposisi
musik. Pengalaman semacam ini memberikan wawasan mendalam bagi
siswa ke dalam pengetahuan yang dipelajari maupun alat yang dipakai.
57.
Para pakar yang mencoba merumuskan keterampilan yang
dibutuhkan siswa pada abad 21 sebagai berikut.
(1) Memiliki karakter sebagai pemikir. Karakter sebagai pemikir ini ditandai
dengan terampil berpikir inovatif lewat kecepatan beradaptasi dengan
lingkungan, mampu memecahkan masalah yang kompleks, dan dapat

12

mengendalikan diri sendiri dalam menghadapi tantangan yang ada, cerdas,


kreatif, dan berani ambil resiko. Selain itu. karakter yang relevan dengan
kerja otak ini meliputi prilaku berpikir yang selalu ingin tahu, berpikir
terbuka, dan bersikap reflektif.
(2) Memiliki etos kerja yang tinggi sehingga produktif. Hal ini ditandai dengan
memiliki

kemampuan

untuk

menentukan

prioritas,

mengembangkan

perencanaan, memetakan hasil pencapaian, terampil menggunakan perangkat


kerja, dan meningkatkan keterampilan yang sejalan dengan perkembangan
teknologi. Di samping itu, terampil mengembangkan kecakapan yang relevan
dengan kebutuhan hidup, dan selalu menghasilkan mutu produk yang tinggi.
Karakter yang relevan dengan hal ini adalah prilaku hidup yang bersih dan
sehat, disiplin, sportif, tidak kenal menyerah, tangguh, handal, berketetapan
hati, kerja keras, dan kompetitif.
(3) Memiliki keterampilan berkomunikasi. Hal ini ditandai dengan kemampuan
bekerja dalam tim yang bervariasi, berkolaborasi, dan cakap mengembangkan
hubungan interpersonal sehingga selalu dapat menempatkan diri dalam
interaksi yang harmonis. Memiliki kecakapan komunikasi personal, sosial,
dan terampil mengejawantahkan tanggung jawab. Yang tidak kalah
pentingnya adalah terampil dalam komunikasi interaktif dengan cerdas dan
rendah hati. Karakter yang relevan dengan keterampilan ini adalah
menghargai, toleran, peduli, suka menolong, gotong royong, nasionalis,
kosmopolit, mengutamakan kepentingan umum dan bangga terhadap produk
bangsa sendiri.
(4) Cakap dalam menggunakan teknologi dan informasi. Hal ini ditandai dengan
kecakapan untuk memvisualisasikan informasi dalam mengembangkan
keterampilan multikultural, bekerja sama dan berkomunikasi dalam ruang
lintas bangsa, serta terampil mengembangkan kesadaran global.
(5) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bangsa Indonesia memandang
bahwa kecakapan intelektual, digital, sosial, dan akademik belum cukup.
Anak Indonesia wajib memiliki kecakapan hidup yang yang lebih bernilai
yang ditandai dengan keterampilan beriman dan bertakwa, terampil hidup
jujur, terampil menjalankan amanah, terampil berbuat adil, terampil
menjalankan tanggung jawab, terampil berempati, dan patuh menjalankan
hidup beragama sebagai releksi menjalankan perintah Tuhan.

13

58.

Guru dan dosen sebagai pembelajar abad 21 diharapkan

memiliki 8 karakteristik diantaranya sebagai berikut.


1. Mudah beradaptasi misalnya dapat menyesuaikan diri dengan kurikulum baru
dan membelajarkan siswa dengan menggunakan media digital agar dapat
membelajarkan siswa melalui berbagai indera: auditori, visual, kinestetik,
sekaligus melayami siswa yang senang belajar melalui membaca/menulis.
2. Visioner, yaitu bersedia melihat ide dan pendekatan yang digunakan orang lain
dan mempertimbangkan penggunaannya di kelasnya sendiri, misalnya
memanfaatkan web dalam pembelajaran.
3. Kolaborator, yaitu menggunakan alat-alat kolaborasi seperti Bloggerm Twitter,
Wikispaces, Bebo. MSN, My Space, Second Life untuk meningkatkan
semangat belajar siswa, sekaligus berbagi, berkontribusi, beradaptasi, dan
menemukan ide untuk siswa.
4. Pengambil risiko, yaitu siap menghadapi pebelajar yang lebih literat teknologi
untuk memberikan tugas agar mereka saling membelajarkan, karena siswa
belajar paling banyak kalau mereka mengajar temannya.
5. Pebelajar sepanjang hayat, yaitu terus menerus belajar, mengalami hal-hal baru
dan tidak ketinggalan jaman.
6. Komunikator, yaitu lancar

memanfaatkan

teknologi

yang

membantu

komunikasi dan kolaborasi, serta memfasilitasi komunikasi, merangsang dan


mengendalikan, memoderatori, dan mengelola komunikasi;
7. Menjadi teladan, yaitu memodelkan tingkah laku yang diharapkan dilakukan
siswa, misalnya menghargai upaya belajar dan menjadi contoh bagaimana
bersemangat dalam mempelajari hal-hal baru, melakukan refleksi diri bisa
melalui blog, Twitter dan lainnya. Guru diharapkan memodelkan juga
bagaimana menjadi toleran dan menghargai, bersikap menerima, berwawasan
luas, memiliki pemahaman global, dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan;
8. Menjadi pemimpin, misalnya dalam memanfaatkan ICT, memiliki tujuan yang
jelas dalam membelajarkan siswa (Susilo, 2014).
59.

Selain kedelapan ciri tersebut, guru harus memiliki

visi, keterampilan, dorongan, sumber, dan rencana kerja agar dapat


mendidik dengan sukses generasi abad 21. Guru berperan sebagai pakar
materi, konselor, dan administrator belajar, pokoknya kompleks tugasnya,
agar membawa perubahan.
60.

14

C. Pembelajaran Biologi Abad 21


61.

Pembelajaran

Biologi

abad

ke-21

membutuhkan

pendekatan interdisipliner seluruh disiplin ilmu yang berbeda seperti


teknik, ilmu komputer, fisika, kimia dan matematika untuk berurusan
dengan tingkat yang lebih tinggi dari masalah yang kompleks, terutama
dalam hal kesehatan, pangan, energi dan lingkungan yang semakin
tergantung pada disiplin lain untuk berkolaborasi dalam menyediakan
aplikasi baru, metode baru, teknik baru dan alat-alat baru (National
Research Council, 2008;. Robinson et al, 2010; Wake 2003, 2008).
62.
Lingkungan pembelajaran pada abad 21 tentunya telah
berbeda, begitu pula dengan fasilitas yang diperlukan untuk mendukung
terciptanya generasi dari sekolah inovatif. Ada keterkaitan antara bahasan
abad 21 dengan era digital. Pearlman (2009) menyatakan bahwa pada
masa kini, siswa telah menjadi digital native, sangat terbiasa dengan
teknologi seperti komputer, akses internet, iPod, dan smartphone. Di
samping itu, siswa merupakan social networker, sangat senang bekerja
secara individu maupun berkolaborasi dengan siswa lainnya.
63.
Pada abad ke-21 "yang Biologist Baru bukanlah seorang
ilmuwan yang tahu sedikit tentang semua disiplin tetapi seorang ilmuwan
dengan pengetahuan yang mendalam dalam satu dan" kefasihan bekerja
pada orang lain. "(National Research Council, 2009). Untuk berhasil
mengajar melalui perspektif ini interdisipliner baru membutuhkan
pendekatan baru, bahan dan pedagogi (Jungck et al, 2010;. National
Research Council, 2003, 2008). Memecahkan kompleks, masalah
interdisipliner akan mengharuskan siswa jauh melampaui pengetahuan
konten biologi mereka saja. Mereka diminta untuk memahami bagaiamana
hubungan yang ada di seluruh disiplin ilmu dan bagaimana membuat
hubungan tersebut. Mempersiapkan ahli biologi masa depan tanpa
menawarkan mereka eksposur dan pengalaman dengan teknik dan
keterampilan teknologi akan gagal untuk menghasilkan siswa yang mampu
bekerja efektif dalam lingkungan yang semakin kompetitif (Labov et al,
2010;. National Research Council, 2003).

15

64.

Beragam strategi pembelajaran dapat dilakukan untuk

melaksanakan proses pembelajaran yang berkarakteristik abad 21.


Beberapa di antara strategi-strategi tersebut antara lain Project-Based
Learning (PjBL), Problem Based Learning (PBL): dan Guided Inquiry
(inkuiri terbimbing). Strategi-strategi tersebut dapat dilaksanakan dalam
pendekatan
1

Blended

learning

untuk

mendukung

karakteristik

pembelajaran dalam abad 21.


Project-Based Learning (PjBL)
65.
Pada pembelajaran masa kini, siswa sudah harus sudah
terbiasa dengan tanggung jawab, pengambilan keputusan, kerja tim,
pemecahan masalah, dan pekerjaan berbasis proyek (Partnership for 21st
Century Skills, 2003). Unsur-unsur tersebut dikembangkan sebagai
jawaban dari tantangan hidup masa kini dan permintaan masyarakat atas
tenaga

kerja

yang

mengakomodasi

kompeten.

kegiatan

Salah

proyek

satu

dan

dapat

pembelajaran

yang

digunakan

untuk

mengembangkan keterampilan hidup abad 21 adalah PjBL.


66.
PjBL merupakan salah satu strategi yang melibatkan
adanya proyek dalam pembelajaran. Menurut National Academy
Foundation

(tanpa

tahun),

proyek

yang

didesain

dengan

baik

a
b

memungkinkan siswa untuk melakukan beberapa hal sebagai berikut.


Mengatasi masalah nyata dan isu yang penting di luar kelas
Terlibat secara aktif dalam pembelajaran dan membuat keputusan penting

selama proyek berlangsung


Menunjukkan dengan jelas konsep kunci dan keterampilan yang telah
dipelajari
67.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Thomas

(2000), PjBL terbukti dapat meningkatkan kualitas pembelajaran siswa di


berbagai area mata pelajaran. Penggunaan PjBL juga melibatkan
keterampilan-keterampilan siswa misalnya inkuiri, penggunaan teknologi
secara

efektif,

metakognisi,

dan

keterampilan-keterampilan

yang

berhubungan dengan kerja misalnya manajemen waktu. (Kuhlthau, dkk.,


2007) menyebutkan bahwa PjBL telah banyak diterapkan sebagai
pembelajaran abad 21 yang memotivasi siswa dan memungkinkan siswa
memiliki pemahaman lebih dalam.

16

68.

Menurut Kaser dan Karahoca (2010), pembelajaran dengan

strategi PjBL dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut.


a. Menentukan tujuan (defining goals)
b. Menentukan permasalahan (determining the problem)
c. Menentukan bentuk laporan hasil yang diinginkan (defining preferences of
result report)
d. Menentukan matrik dan kualifikasi evaluasi (defining evaluation metrics and
qualification)
e. Membentuk dan mengatur kelompok (creating and managing teams)
f. Menentukan sub-permasalahan dan proses pengumpulan data (defining sub
g.
h.
i.
j.
k.

problems and data collecting process)


Menentukan jadwal pengerjaan (defining working schedule)
Menentukan pengontrolan (defining control points)
Mengumpulkan data (collecting data)
Mengatur data dan membuat laporan (organizing the data and reporting)
Mempresentasikan hasil proyek (presenting project results)
69.
Mendesain proyek yang relevan memang tidak mudah.
Untuk memastikan bahwa jangka waktu yang dihabiskan untuk
mengerjakan proyek tidak akan sia-sia, terdapat kerangka level standar
yang harus diikuti oleh guru dan juga siswa. Level-level standar yang
dicapai siswa secara berurutan meliputi level 1 yaitu aktivitas kelas, level
2 yaitu standar terkait dengan isi (konten), level 3 yang berkaitan dengan
kebiasaan berpikir, dan level 4 yang mencakup pembelajaran mandiri.
Kerangka ini disebut dengan simultaneous outcomes yang akan
mengarahkan pada kesuksesan pembelajaran dengan proyek. Secara
diagramatis, kerangka tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.

70.
72.
73.

71. Gambar 2. Simultaneous Project Outcomes


Sumber: National Academy Foundation, tanpa tahun
Satu hal yang harus diperhatikan, PjBL cocok digunakan

untuk kondisi-kondisi tertentu dalam pembelajaran, terutama yang

17

menuntut adanya penilaian berbasis performans, pembelajaran terapan,


dan jika pembelajaran tersebut dilakukan untuk mendapat pemahaman
konten yang mendalam. Untuk melaksanakan PjBL, juga diperlukan waktu
yang cukup dan sumber daya yang memadai. Dalam pelaksanaan PjBL,
hubungan siswa dengan guru dan siswa dengan siswa juga harus terjalin
dengan baik agar pelaksanaan proyek dapat optimal. Guru juga harus
memiliki komitmen dan kemampuan yang memadai untuk mendampingi
siswa secara intensif selama proyek berlangsung. Di lain pihak,
keterlibatan orang tua juga penting untuk mendukung kerja proyek siswa,
serta partnership dengan masyarakat untuk mempermudah siswa dalam
melaksanakan kegiatan proyek (National Academy Foundation, tanpa
tahun). Agar PjBL terlaksana sesuai fungsinya, proses dalam pengerjaan
proyek juga harus tetap diperhatikan dan dinilai dengan baik, agar
pembelajaran tidak hanya terlalu menekankan (overemphasized) pada
2

produk saja (Kuhlthau, dkk, 2007).


Problem Based Learning (PBL)
74.
Mengajar siswa untuk menjadi pemecah masalah inventif
telah

lama

tujuan

pendidikan

sains.

Namun,

metode

untuk

mempromosikan pemikiran kreatif dalam memecahkan masalah ilmiah


belum dikenal secara luas atau digunakan dalam pendidikan Ilmu
(DeHaan, 2009). Inti dari teknik ini adalah pemecahan masalah inventif
(Mastascusa et al., 2011) dan Teori baru-baru ini Inventif Pemecahan
Masalah

(TRIZ),

yang

sudah

mapan

di

bidang

engineering,

mempromosikan ekspansi ke bidang non-teknis seperti pendidikan (Marsh


et al., 2004).
75.
Pembelajaran berbasis masalah merupakan integrasi dari
konsep dan kemampuan untuk mengatasi situasi yang tidak biasa dan
menyeluruh.
membuat

Menyelesaikan suatu masalah berarti menemukan atau


solusi

baru

atau

menggunakan

cara

baru

untuk

dipelajari.Pengetahuan untuk mengatasi masalah dalam bidang yang


kompleks terdiri dari banyak prinsip, contohnya: rincian teknik, dan
bagian lain dari informasi yang relevan.
76.
Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam problem
solving yaitu memahami masalah, mengumpulkan informasi mengenai

18

pemecahan masalah, interpretasi informasi tentang masalah, menentukan


solusi terbaik yang efektif, menyiapkan laporan dan evaluasi. Kegiatan
tersebut perlu disampaikan kepada siswa agar pembelajaran dapat
berlangsung dengan baik. Pemecahan masalah harus digunakan sebagai
strategi pembelajaran dalam lingkungan kelas, tetapi guru harus berpikir
3

sangat hati-hati dan membuat rencana yang baik


Inquiry Based Learning (IBL)
77.
Seperti yang telah kita ketahui, sekolah masa kini
dihadapkan pada tantangan untuk mempersiapkan siswa menjadi sukses
hidup dan bekerja di abad 21. Inkuiri terbimbing dapat digunakan untuk
menjembatani kesuksesan akademik dengan kesuksesan di tempat bekerja
dan kehidupan sehari-hari. Inkuiri terbimbing memungkinkan integrasi
antara inkuiri yang dipadukan dengan bimbingan instruksi guru agar siswa
memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang suatu subyek yang
dipelajari dan konsep literasi informasi. Literasi informasi mencakup
kemampuan untuk menentukan lokasi di mana harus mencari informasi,
mengevaluasi informasi yang telah didapat, dan kemampuan untuk
menggunakan informasi yang relevan.
78.
Di samping itu, inkuiri terbimbing juga memungkinkan
siswa untuk mampu menggunakan alat dan sumberdaya serta informasi
yang tersedia untuk belajar isi kurikulum dan memenuhi standar yang
telah ditetapkan. Pada inkuiri terbimbing, guru membimbing siswa untuk
mengembangkan keterampilan dan kemampuan yang diperlukan di tempat
kerja dan kehidpan sehari-hari pada lingkungan informasi yang terus
berubah pada abad 21 (Kuhlthau, dkk., 2007).
79.
Inquiri adalah pengerak berpikir kompleks selama proses
pemecahan masalah (Barell, 2010) dan IBL tergantung pada pengetahuan
awal siswa untuk membangun pengetahuan baru (Barrow, 2006). Dengan
demikian, siswa seharusnya berfungsi sebagai pelajar otonom dan guru
sebagai fasilitator. Guru perancah siswa dengan sering mengingatkan
mereka untuk mencerminkan, berkolaborasi, bertanya pada diri sendiri
pertanyaan dan membenarkan kesimpulan mereka. Proses penyelidikan
terjadi melalui pengembangan kognitif, meta-kognitif, psikomotor dan
keterampilan

sosial.

Ketika

siswa

melakukan percobaan

mereka

19

menerapkan keterampilan penyelidikan yang berbeda seperti mengajukan


pertanyaan, meningkatkan hipotesis, merencanakan eksperimen untuk
menguji

hipotesis,

mengakses

dan

menganalisa

data,

membuat

kesimpulan, menarik kesimpulan, pelaporan dan penulisan laporan


penelitian. Siswa juga berlaku meta-kognitif keterampilan dengan terlibat
dalam pemikiran reflektif seluruh tahap belajar. Siswa memperoleh
keterampilan psikomotorik melalui manipulasi peralatan laboratorium dan
menggunakan komputer. Proses penyelidikan juga mempromosikan
keterampilan sosial kolaboratif (Sion et al., 2004).
80.
Ada lima hal penting dalam penyelidikan sebagai berikut
(National Research Council, 2000):
a. Peserta didik terlibat dengan pertanyaan berorientasi ilmiah.
b. Peserta didik mengutamakan bukti yang memungkinkan mereka untuk
mengembangkan dan mengevaluasi penjelasan yang membahas pertanyaan
yang berorientasi ilmiah
c. Peserta didik merumuskan penjelasan dari bukti untuk menjawab pertanyaan
yang berorientasi ilmiah
d. Peserta didik mengevaluasi penjelasan mereka dalam terang penjelasan
alternatif, terutama yang mencerminkan pemahaman ilmiah
e. Peserta didik berkomunikasi dan membenarkan penjelasan yang diajukan
mereka.
81.

Modifikasi sintaks inkuiri terbimbing pada pembelajaran abad 21

dapat dilaksanakan melalui langkah-langkah berikut.


a Siswa atau guru menuliskan pertanyaan berbasis inkuiri
b Siswa menuliskan kata-kata yang ingin digunakan untuk mencari informasi
c

lebih
Siswa menghubungkan ide-ide yang telah ditemukan menggunakan grafik atau

peta pikiran
Siswa menuliskan pernyataan tentang pertanyaan inkuiri yang dapat diuji

(hipotesis)
Siswa memilih satu atau lebih website untuk menguji hipotesisnya dan

f
g

mencatat website yang digunakan


Siswa merangkum data dengan membuat tabel atau grafik
Siswa menganalisis hasil dan menuliskan kesimpulan singkat menggunakan
sebuah rubrik.

20

82.
83.
84.
85.
86.

Gambar 3. Langkah-Langkah Pembelajaran Inkuiri Terbimbing yang


Dikembangkan oleh Rutherford, Coffman, Marshall, dan
LaPorte
Sumber: Rutherford, dkk., tanpa tahun
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan

inkuiri terbimbing. Pelaksanaan inkuiri terbimbing memerlukan perencanaan yang


teliti, pengawasan yang baik, penilaian berkelanjutan, dan intervensi bertarget
yang dilakukan oleh guru melalui proses inkuiri untuk melatih siswa belajar
secara mandiri. Untuk melaksanakan inkuiri terbimbing, sumberdaya yang
dimiliki siswa seperti perpustakaan, database, dan internet akan sangat
mendukung.
4

Pendekatan Blended learning


87.
Dewasa ini, penggunaan internet sebagai sumber untuk
bahan pelajaran menjadi semakin besar. Penyebarluasan internet telah
meningkatkan kualitas sumber belajar bagi kelas-kelas digital dan
memungkinkan

pembelajaran

dilakukan

pembelajarana

online

tatap

dan

dalam

muka.

campuran

antara

Pembelajaran

yang

mengkombinasikan pembelajaran online dan instruksi secara langsung di


kelas disebut dengan blended learning. Pendekatan blended learning telah
muncul sebagai model utama untuk masa depan, dan akan menjadi
semakin umum digunakan oleh sekolah-sekolah nantinya. Beberapa
definisi blended learning yang dirangkum oleh Watson (2008) antara lain
sebagai berikut.

21

Integrasi antara tatap muka dan pembelajaran online yang membantu


meningkatkan pengalaman di kelas dan memperluas pembelajaran melalui
penggunaan ICT. Blended learning dapat meningkatkan efektivitas dan

b
c

efisiensi pembelajaran.
Pembelajaran yang menggabungkan online (biasanya diskusi online) dan tatap
muka
Kombinasi antara berbagai pendekatan pembelajaran.
88.
Dalam merencanakan pembelajaran yang menerapkan
blended learning, dilakukan perencanaan secara individu oleh guru.
Perencanaan yang dapat dilakukan untuk menerapkan blended learning
dalam pembelajaran meliputi pemilihan perangkat hardware dan software,
menentukan sesi pembelajaran dan situs apa saja yang akan dikunjungi,
serta menentukan pengukuran untuk aktivitas siswa selama pembelajaran
online (Hartford Public Schools, 2012).\
89.
Zurita, dkk (2014) telah membuktikan bahwa lingkungan
belajar yang menggunakan blended learning dapat meningkatkan
pembelajaran bermakna dan pengembangan keterampilan abad 21. Pada
level pendidikan tinggi, blended learning dapat meningkatkan kemampuan
berkomunikasi,

literasi

informasi

dan

ICT,

serta

kebermankaan

pembelajaran. Untuk memaksimalkan manfaat dari penerapan blended


learning, Hartford Public Schools (2012) menyatakan bahwa pada bagian
pembelajaran online blended learning yang dilakukan pada lokasi yang
jauh misalnya rumah, siswa dikontrol dan disupervisi.
90.
Menurut North Central Regional Education Laboratory
(NCREL) untuk menanamkan keterampilan abad 21 dalam pembelajaran
biologi dapat menggunakan 5 kerangka konseptual:
91.
1. Digital era literacy (zaman digital)
92.
Dalam rangka menyukseskan program keterampilan abad
ke-21. Siswa harus meningkatkan kemampuan informasi mereka dalam
beberapa konteks melingkupi berikut ini (enGauge, 2003).
a. Dasar litercy: dasar pengetahuan termasuk bahasa dan keahlian kuantitatif
untuk membantu tujuan seseorang yang ingin dicapai dengan pengetahuan dan
potensi di tempat kerja dan di masyarakat pada umumnya.
b. Keterampilan ilmiah: keterampilan ini mengacu pada pemahaman pengetahuan
ilmiah, konsep dan proses yang diperlukan untuk pengambilan keputusan

22

pribadi, partisipasi dalam masyarakat, urusan budaya dan produktivitas


ekonomi.
c. Memahami ekonomi: memahami ekonomi mencakup kemampuan untuk
waspada terhadap perkembangan masalah ekonomi, mencari alternatif solusi,
menganalisis biaya dan manfaat, insentif bekerja dalam situasi ekonomi,
memeriksa konsekuensi dari perubahan kondisi ekonomi dan kebijakan publik,
mengumpulkan dan pengorganisasian ekonomi.
d. Memahami teknologi: paham teknologi mengacu pada pemahaman tentang
makna teknologi, fungsi dan operasi serta efisiensi dan efektivitas untuk
mencapai tujuan tertentu.
e. Memahami visual: memahami visual mengacu pada kemampuan untuk
menafsirkan, menerapkan, menghargai dan menciptakan gambar dan video
dengan menggunakan media abad kedua konvensional dan 21 dengan cara
yang memajukan pemikiran, pengambilan keputusan, komunikasi dan
pembelajaran.
f. Memahami Informasi: mengetahui Informasi mengacu pada kemampuan untuk
mengevaluasi informasi di beberapa sumber daya kritis, mengenali kapan
informasi dibutuhkan, untuk menemukan, mensintesis dan menggunakan
informasi secara efektif dan mencapai fungsi-fungsi ini menggunakan
teknologi, jaringan komunikasi dan sumber daya elektronik.
g. Memahami multikultural: memahamai multikultural

mengacu

pada

kemampuan untuk memahami dan menghormati persamaan dan perbedaan adat


istiadat, nilai-nilai dan keyakinan budaya sendiri serta budaya lain.
h. Kesadaran global: kesadaran global termasuk pengakuan dan pemahaman
timbal balik antara organisasi internasional, negara-negara
2. Berpikir inventif
93.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang terlibat
dalam kegiatan inventif yang memecahkan masalah baru dan asing lebih
nyaman (Taylor et al, 2010). Pemikiran inventif terdiri dari kecakapan
hidup seperti berikut ini (Osman et al, 2009).
a. Kemampuan beradaptasi dan mengelola kompleksitas: kemampuan beradaptasi
dan mengelola kompleksitas mengacu pada kemampuan untuk mengubah
pemikiran, sikap atau perilaku seseorang ke suite yang lebih baik lingkungan
saat ini atau masa depan serta kemampuan untuk menangani beberapa tujuan,

23

tugas dan masukan sementara pemahaman dan mengikuti kendala waktu ,


sumber daya dan sistem.
b. Self-arah: self-arah didefinisikan sebagai kemampuan untuk menetapkan
tujuan yang berkaitan dengan pembelajaran, merencanakan pencapaian tujuan
tersebut, secara mandiri mengatur waktu dan usaha dan mandiri menilai
kualitas pembelajaran dan produk-produk yang dihasilkan dari pengalaman
belajar.
c. Rasa ingin tahu: rasa ingin tahu adalah katalis di balik keinginan seseorang
untuk mengetahui - itu adalah percikan bunga yang mengarah ke penyelidikan.
d. Kreativitas: kreativitas mengacu pada tindakan membawa sesuatu menjadi ada
yang benar-benar baru, asli dan nilai baik secara pribadi (penting hanya untuk
individu atau organisasi) atau budaya (menambahkan secara signifikan ke
domain budaya yang diakui oleh para ahli.
e. Pengambilan risiko: pengambilan risiko termasuk kesediaan untuk membuat
kesalahan, mendukung posisi konvensional atau tidak populer, untuk mengatasi
masalah yang sangat menantang tanpa solusi yang jelas yang mengarah ke
pertumbuhan pribadi, integritas dan prestasi ditingkatkan.
f. Berpikir tingkat tinggi dan penalaran suara: pemikiran yang lebih tinggi-order
dan penalaran suara mencakup proses-proses kognitif analisis, perbandingan,
inferensi dan interpretasi, evaluasi dan sintesis diterapkan untuk berbagai
domain akademik dan konteks pemecahan masalah.
3. Komunikasi yang efektif
94.
Sebagai ICT menjadi lebih luas di masyarakat warga
menjadi sangat bergantung pada ICT untuk komunikasi yang efektif.
Namun, TIK muncul juga dapat menyajikan dilema etika sehingga sangat
penting bagi warga negara untuk memiliki kemampuan untuk mengetahui
bagaimana mengelola dampak sosial, kehidupan pribadi, profesional dan
masyarakat mereka. Keterampilan komunikasi yang efektif terdiri dari
kriteria berikut (enGauge, 2003).
a

Teaming dan kolaborasi: teaming dan kolaborasi mengacu pada interaksi


kooperatif antara lebih dari dua individu yang bekerja sama untuk memecahkan

masalah dan untuk mencapai tujuan yang sama


Keterampilan interpersonal: keterampilan interpersonal mencakup kemampuan
untuk membaca dan mengelola emosi, motivasi dan perilaku diri sendiri dan
orang lain dalam konteks interaktif sosial.

24

Tanggung jawab pribadi: tanggung jawab pribadi mengacu pada kedalaman


pemahaman tentang isu-isu hukum dan etika yang terkait dengan teknologi
kontemporer dan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan yang relevan

untuk mencapai keseimbangan, integritas dan kualitas hidup.


Tanggung jawab sosial dan kemasyarakatan: tanggung jawab sosial dan
kemasyarakatan termasuk kemampuan untuk mengelola teknologi dan

menggunakan dalam cara yang mempromosikan kepentingan publik


Komunikasi interaktif: komunikasi interaktif mengacu pada kemampuan untuk
menghasilkan makna melalui pertukaran dengan menggunakan berbagai alat
kontemporer, transmisi dan proses.

4. Produktivitas yang Tinggi


95.
Produktivitas tinggi adalah indikator yang sangat penting
untuk menunjukkan apakah seseorang akan berhasil atau gagal dalam
angkatan kerja. Keterampilan ini dan kemampuan harus dimasukkan ke
dalam kurikulum sekolah pada usia dini dalam rangka mempersiapkan
siswa sebagai tenaga kerja terampil tinggi di masa depan. Kriteria untuk
keterampilan produktivitas yang tinggi adalah sebagai berikut (enGauge,
2003).
a. Memprioritaskan, perencanaan dan pengelolaan hasil: memprioritaskan,
perencanaan dan pengelolaan hasil mengacu pada kemampuan untuk diatur
secara efisien untuk mencapai tujuan tugas tertentu.
b. Efektif menggunakan alat dunia nyata: efektif menggunakan alat dunia nyata
mencakup kemampuan untuk menggunakan alat dunia nyata (hardware,
software,

jaringan

dll,)

untuk

berkomunikasi,

berkolaborasi,

untuk

memecahkan masalah dan untuk menyelesaikan tugas-tugas abad ke-21.


c. Kemampuan untuk menghasilkan relevan, produk berkualitas tinggi:
kemampuan untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi yang relevan
mengacu pada kemampuan untuk menghasilkan intelektual, produk informasi
yang melayani tujuan kehidupan nyata sebagai hasil dari siswa menggunakan
alat dunia nyata untuk memecahkan masalah dunia nyata.
5. Nilai-nilai spiritual dan mulia
96.
Tujuan utama dari Filsafat Pendidikan Nasional adalah
untuk menghasilkan modal manusia holistik emosional, intelektual, fisik
dan spiritual (JERI) istilah. Dengan demikian, perlu untuk menanamkan
nilai-nilai spiritual dan mulia sebagai bagian dari keterampilan abad ke-21

25

untuk konteks Malaysia. Pengalaman biologi pembelajaran dapat


digunakan sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai spiritual dan
mulia pada siswa; nilai-nilai ini mencakup berikut (Departemen
Pendidikan Malaysia, 2005).
a Memiliki minat dan rasa ingin tahu terhadap lingkungan
b Jujur dan akurat dalam pencatatan dan memvalidasi data yang
c Menjadi rajin dan tekun
d Bertanggung jawab tentang keamanan diri sendiri, orang lain dan lingkungan
e Menyadari bahwa sains merupakan sarana untuk memahami alam
f Menghargai dan berlatih hidup bersih dan sehat
g Menghargai keseimbangan alam
h Menjadi hormat dan santun
iMenghargai kontribusi ilmu pengetahuan dan teknologi
jMenjadi bersyukur kepada Allah
k Memiliki pemikiran kritis dan analitis
lMenjadi fleksibel dan berpikiran terbuka
m Menjadi baik hati dan peduli
n Menjadi sistematis
o Menjadi adil
p Berani untuk mencoba
q Berpikir rasional
r Menjadi percaya diri dan mandiri.
97.

Pembelajaran Sains yang dapat meningkatkan keterampilan

abad 2 menurut Lesson, 2012 yaitu sebagai berikut.


1. Membuat Relevan
98.
Agar efektif, kurikulum harus relevan dengan kehidupan
siswa. Untuk membuat kurikulum relevan, guru harus dimulai dengan
generatif topik atau topik yang memiliki tempat yang penting dalam Studi
disipliner atau interdisipliner di tangan dan yang beresonansi dengan
peserta didik dan guru (Perkins, 2010). Teknologi memungkinkan siswa
untuk keterampilan transfer ke konteks yang berbeda, refl dll pada
pemikiran mereka dan bahwa rekan-rekan mereka, berlatih menangani
mereka kesalahpahaman, dan berkolaborasi dengan rekan-rekan.
99.
Relevansi topik spesifik lebih jelas untuk siswa ketika
mereka mengerti bagaimana dalam gambaran besar. Dalam bukunya
Making Belajar Whole (2010), ahli pembelajaran David Perkins
menggunakan bisbol sebagai analogi untuk menjelaskan bahwa pemain
harus tahu bagaimana memukul, menangkap, dan berjalan basis
berkontribusi ke permainan. Demikian pula, siswa perlu memahami

26

bagaimana statistik ke dalam gambaran yang lebih besar pemikiran


perhitungan dan mereka harus memiliki arti dari nilai pemikiran
perhitungan yang tepat. Begitu mereka melihat gambaran besar, mereka
juga harus memahami bagaimana masing-masing dari knowledge, skill dan
tujuan-sikap berbasis berkontribusi untuk pemahaman gambaran besar,
bagaimana mereka semua bersama-sama menghubungkan ropik dengan
kenyataan yang relevan..
2. Mengajarkan Melalui Disiplin
100.
Proses Belajar harus terjadi melalui disiplin dalam belajam
semua disiplin ilmu. Selain belajar pengetahuan tentang disiplin, siswa
juga harus belajar keterampilan yang berkaitan dengan produksi
pengetahuan secara disiplin. Misalnya, melalui scientifik, siswa harus
mempelajari mengapa ilmu relevan dan apa jenis masalah yang mereka
dapat memecahkan melalui metode scientifik, serta bagaimana para
ilmuwan melakukan percobaan, bagaimana mereka mencapai kesimpulan,
apa yang mereka lakukan dengan pengetahuan yang mereka peroleh dan
bagaimana mengkomunikasikan temuan mereka.
3. Mengembangkan Keterampilan Berpikir
101.
Guru merangsang siswa dengan pertanyaan tingkat tinggi
untuk mengembangkan keterampilan berpikir siswa.
4. Menanamkan sikap berkolaborasi dengan baik
102.
Guru dapat merancang instruksi dalam banyak hal sehingga
siswa belajar dari dan dengan orang lain, mengembangkan mereka
kemampuan untuk bekerja dalam tim dan membangun 21st century
lainnya keterampilan. Siswa dapat mendiskusikan konsep berpasangan
atau kelompok dan berbagi apa yang mereka pahami dengan seluruh kelas.
Mereka dapat mengembangkan argumen dan debat mereka
5. Eksploitasi tekhnologi untuk membantu belajar
103.
Teknologi
juga
menawarkan
potensi
mengembangkan

siswa

untuk

'keterampilan

abad

ke-21

untuk
dengan

menyediakan cara-cara baru untuk mengembangkan pemecahan masalah


mereka, berpikir kritis, dan keterampilan komunikasi. teknologi dapat
membantu siswa berlatih mentransfer keterampilan untuk konteks yang
berbeda.

Internet

itu

sendiri

juga

menyediakan

forum

untuk

27

mengembangkan siswa untuk memiliki keterampilan dan pegtahuan abad


ke-21. (Dede, 2005).
6. Mengembangkan kreatifitas Siswa
104.
Pengembangan

kreatif

membutuhkan

struktur

dan

intensionalitas dari guru dan siswa dan dapat belajar melalui disiplin
(Robinson, 2001). Memberikan pembelajaran yang relevan dengan
kehidupan mereka, mereka lebih intrinsik termotivasi untuk belajar dan
menggunakan pengetahuan mereka untuk menemukan pemahaman kreatif
(Csikszentmihalyi, 2008). Membantu siswa mengembangkan mental
positif tentang kemampuan mereka untuk mengembangkan kreativitas
mereka dengan cara mengidentifikasi kreativitas mereka sehingga dapat
membantu siswa mengenali kapasitas kreatif mereka sendiri ketika mereka
belum mengetahuinya.
D. Tujuan Belajar Abad 21
105.
Belajar abad 21 diupayakan untuk mengembangkan keterampilan
peserta didik dalam upaya mempersiapkan lulusan yang mampu bersaing di dunia
global. Pengenalan teknologi, penggunaan partikuler komputer telah mengubah
cara pekerja memainkan tugas mereka dan tipe pelatihan dan keterampilan yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas tersebut. Penelitian menunjukkan
penggunaan komputer mengeliminasi kebutuhan manusia untuk memainkan tugas
yang melibatkan memecahkan masalah sehari-hari atau mengkomunikasikan
informasi secara berterus terang. Keterampilan pemecahan masalah yang bukan
masalah keseharian, komunikasi kompleks, dan keterampilan sosial menjadi nilai
yang meningkat dalam ketenagakerjaan. Lapangan kerja modern membutuhkan
pekerja yang memiliki keterampilan kognitif dan afektif. Seiring merujuknya ke
keterampilan

abad

21,

beberapa

keterampilan

termasuk

keterampilan

memecahkan masalah kompleks, berpikir kritis terhadap tugas, komunikasi secara


efektif dengan orang yang bervariasi dari kultur yang berbeda dan menggunakan
berbagai macam teknik yang bervariasi, bekerja dalam kolaborasi dengan yang
lain, beradaptasi cepat terhadap perubahan lingkungan dan kondisi untuk
menunjukan tugas, mengorganisasikan secara efektif suatu pekerjaan, dan
memperoleh keterampilan baru dan informasi dari orang lain (National Research
Council, 2011).

28

106.

Satu

tema

dari

workshop

yang

menjelaskan

sepenuhnya

ketenagakerjaan-dari yang berupah tinggi, saintis bioteknologi dan engineer


komputer, sampai yang berupah rendah, pelayan restoran-menunjukkan 5
keterampilan

yang

dapat

meningkatkan

nilai:

kemampuan

beradaptasi,

kemampuan berkomunikasi kompleks, keterampilan pemecahan masalah yang


bukan keseharian, kemampuan pengaturan diri, dan sistem berpikir. Para ahli
membuat penilaian terhadap semua keterampilan tersebut. Oleh karena itu, komite
mengempiskan 5 keterampilan menjadi 3 kelompok besar sebagai berikut.
1. Keterampilan kognitif: pemecahan masalah yang bukan masalah sehari-hari,
berpikir kritis, sistem berpikir.
2. Keterampilan interpersonal: komunikasi kompleks, keterampilan sosial, kerja
sama, kepekaan dalam masyarakat, memahami keberagaman
3. Keterampilan intrapersonal: pengorganisasian diri, pengorganisasian waktu,
pengembangan diri, pengontrolan diri, adaptasi, fungsi pelaksanaan (National
Research Council, 2011).
107. Oleh karena itu, belajar abad 21 diupayakan agar peserta didik memiliki
keterampilan tersebut.
108.
109.
110.
111.
112.
113.
114.
115.
116.
117.
118.
119.
120.
121.
122.
123.
124.
125.
126.
127.
128.
129.
130.

131.

BAB III

132.

PENUTUP

133.
B. Kesimpulan
1. Biologi menjadi lebih interdisipliner, oleh kebutuhan menggabungkan
sebelumnya bidang yang berbeda untuk menciptakan sebuah pendekatan
Biologi Baru. Inti dari Biologi baru adalah re-integrasi subdisiplin biologi,
lebih integrasi dengan ilmu fisika dan komputasi, matematika, dan rekayasa
dalam rangka untuk merancang pendekatan baru yang mengatasi tradisional
dan sistem tingkat pertanyaan dibaru, interdisipliner, dan khususnya, cara
kuantitatif.
2. Ada enam unsur pembelajaran abad 21 diantaranya critical thinking and
doing (bertindak dan berpikir kritis), creativity (kreativitas), collaboration
(bekerja kolaboratif), cross-cultural understanding (pemahaman lintas
budaya),

communication

(berkomunikasi),

computing

(menguasai

penggunaan komputer), dan carrer & learning self-reliace (Berkarir dan


bekerja menempa diri).
3. Pembelajaran biologi abad 21 diupayakan menggabungkan beberapa
disiplin ilmu sehingga dapat mengembangkan keterampilan peserta didik.
4. Tujuan belajar abad 21 adalah untuk mengembangkan keterampilan peserta
didik agar menghasilkan lulusan yang dibutuhkan dalam ketenagakerjaan.
Adapun keterampilan itu diantaranya keterampilan kognitif, keterampilan
intrerpersonal, dan keterampilan intrapersonal.
134.
C. Saran
135.

Pelaksanaan pendidikan hendaknya sudah merujuk kepada

pembelajaran abad 21. Pendidik hendaknya memahami tuntutan lulusan


sehingga

mampu

membantu

peserta

keterampilannya.
136.
137.
138.

30

didik

dalam

mengembangkan

139.
140.

DAFTAR RUJUKAN

141.
142. Chuo,Lee and Osman,K.2013. A Conceptual Framework for the Integration
of 21st Century Skills in Biology Education. Research Journal of Applied
Sciences, Engineering and Technology 6(16): 2976-2983, 2013 ISSN: 20407459; e-ISSN: 2040-7467 Maxwell Scientific Organization, 2013
143.
144. Committee on a New Biology for 21st Century. 2009. A New Biology for the
21st Century. Washington DC: The National Academis Press.
145.
146. Darling-Hammond, Linda. 2006. Constructing 21st Century Teacher
Education. (Online). http://chalkboardproject.org/wpcontent/uploads/2010/12/Constructing-21st-Century-Tchr-Ed.pdf. Diakses
tanggal 22 Januari 2015.
147.
148.
Djohan, Sugandawaty Tjut. 1995. Biologi abab XXI: Sebuah Perspektif.
Makalah disampaikan dalam Simposium dan Lokakarya Seminar Ilmiah
XII dan Kongres Biologi XI. Tidak diterbitkan. (Diakses dari www.
digilibugm.ac.id. tanggal 20 Januari 2015).
149.
150. Hartford Public Schools. 2014. 21st Century Learning Environment and
Blended
Instruction
Workshop.
(Online).
http://www.sde.ct.gov/sde/lib/sde/pdf/
alliance_districts/convening/21st_century_learning_environment.pdf.
Diakses tanggal 25 Januari 2015.
151.
152. Kaser, Hafize dan Karahoca, Dilek. 2010. Designing a Project Management
E-Course By Using Project Based Learning. (Online). http://www.research
gate.net/publication/229364376_Designing_a_project_management_ecourse_by_using_project_based_learning. Diakses tanggal 25 Januari 2015.
153.
154. Kuhlthau, C. C., Maniotes, L. K., dan Caspari, A. K. 2007. Guided Inquiry
Learning in The 21st Century. Westport: Libraries Unlimited.
155.
156. National Academy Foundation. tanpa tahun. PBL Guide - Project-Based
Learning: A Resource for Instructors and Program Coordinators. (Online).
http://naf.org/files/PBL_Guide.pdf. Diakses tanggal 22 Januari 2015.
157.
158. National Research Council. 2011. Assessing 21st Century Skills: Summary
of a Workshop. J.A. Koenig, Rapporteur. Committee on the Assessment of
21st Century Skills. Board on Testing and Assessment, Division of
Behavioral and Social Sciences and Education. Washington, DC: The
National Academies Press.
159.

31

160. Rosefsky, A and Opfer, D. 2012. Learning 21st-Century Skills Requires 21st
Century Teaching. Director of RAND Education and RAND Distinguished
Chair in Education at RAND Corp., Santa Monica, Calif.
161.
162. Susilo, Herawati. 2014. Pembelajaran Biologi/IPA untuk Generasi Abad 21.
Makalah disampaikan dalam Seminar dan Workshop Nasional Biologi/IPA
dan Pembelajarannya. Tidak diterbitkan. (.
163.
164. Tilaar. H.A.R. (1990). Pendidikan Dalam Pembangunan Nasional
Menyongsong Abad 21. Jakarta: Balai pustaka
165.
166. Watson, John. 2008. Blended Learning: The Convergence of Online and
Face-to-Face
Education.
(Online).
http://files.eric.ed.gov/fulltext/ED509636.pdf. Diakses tanggal 25 Januari
2015.
167.
168. Zurita, Gustavo, dkk. 2014. A Blended Learning Environment for
Enhancing Meaningful Learning Using 21st Century Skills. (Online).
http://link.
springer.com/chapter/10.1007/978-3-662-44188-6_1#page-1.
Diakses tanggal 25 Januari 2015.
169.

32