Anda di halaman 1dari 55

Laporan Tugas Besar

Propagasi Akustik Bawah Air


KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR
Dosen : Irsan Soemantri Brodjonegoro, Ph.D

Disusun Oleh :
Sabrina Cita Verawaty Purba 15512018
Abid Arham 15512054
Deded Permana 15512029

PROGRAM STUDI TEKNIK KELAUTAN


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2014

Daftar Isi

Daftar Isi ......................................................................................................... i


Daftar Gambar .............................................................................................. iii
Bab I. Latar Belakang .................................................................................... 1

Bab II. Dasar Teori


2.1. Pembagian Lapisan Laut ......................................................................... 2
2.2. Ray Tracing ............................................................................................ 3
2.3. Transmission Loss ................................................................................... 7

Bab III. Metodologi


3.1. Pemilihan Data ........................................................................................ 9
3.2. Pemilihan Transducer .............................................................................. 9
3.3. Ocean Data View (ODV) ...................................................................... 10
3.4. Pendekatan empiris menggunakan Software Matlab ............................. 11
3.5. Pendekatan dengan Metode Polyfit ........................................................ 12
3.6. Ray Tracing .......................................................................................... 12

Bab IV. Hasil


4.1. Ocean Data View (ODV) ...................................................................... 14
4.2. Pendekatan dengan Metode Empiris Medwin, Leroy, Mackenzie .......... 16
4.3. Pendekatan dengan Metode Polyfit dengan menggunakan orde 5, 15, 17, dan
24 ................................................................................................................ 20
4.4. Ray Tracing .......................................................................................... 23

Bab V. Analisis ............................................................................................ 32


Bab VI. Kesimpulan ..................................................................................... 36
Daftar Pustaka .............................................................................................. 38
Lampiran

Coding
Kriteria Transducer/ Catalogue Transducer

ii

Daftar Gambar

Gambar 1. Grafik pembagian layer pada laut berdasarkan suhu dan kedalaman 3
Gambar 2. Atas dan bawah adalah Contoh hasil ray tracing ....................... 4-5
Gambar 3. Jenis jenis transmission loss ...................................................... 7
Gambar 4. Stasiun data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10045-2.xls .... 10
Gambar 5. Stasiun data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10055-2.xls .... 10
Gambar 6. Stasiun data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10062-2.xls ..... 11
Gambar 7. Flowchart tahap tahap pengerjaan ............................................ 13
Gambar 8. Hasil ODV data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10045-2.xls 14
Gambar 9. Hasil ODV data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10055-2.xls 14
Gambar 10. Hasil ODV data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10062-2.xls 15
Gambar 11. Hasil plot dari stasiun 45, 55, dan 62 ....................................... 15
Gambar 12. Grafik Empiris Stasiun 45 kedalaman terhadap kecepatan suara 16
Gambar 13. Grafik Empiris Stasiun 45 temperatur, salinitas, kecepatan suara
terhadap kedalaman ..................................................................................... 16
Gambar 14. Grafik Empiris Stasiun 55 kedalaman terhadap kecepatan suara . 17
Gambar 15. Grafik Empiris Stasiun 55 temperatur, salinitas, kecepatan suara
terhadap kedalaman ..................................................................................... 18
Gambar 16. Grafik Empiris Stasiun 62 kedalaman terhadap kecepatan suara 19
Gambar 17. Grafik Empiris Stasiun 62 temperatur, salinitas, kecepatan suara
terhadap kedalaman ...................................................................................... 19
Gambar 18. Grafik Polifit stasiun 45 ............................................................. 20
Gambar 19. Grafik Polyfit stasiun 55 ........................................................... 21
Gambar 20. Grafik Polyfit stasiun 62 ........................................................... 22
Gambar 21. Grafik SVP dan Ray Tracing Mixed Layer stasiun 45 .............. 23

iii

Gambar 22. Grafik Ray Tacing Mixed Layer stasiun 45 ............................... 23


Gambar 23. Grafik SVP dan Ray Tracing Thermocline stasiun 45 ............... 24
Gambar 24. Grafik Ray Tracing Thermocline stasiun 45 .............................. 24
Gambar 25. Grafik SVP dan Ray Tracing Deep Water Layer stasiun 45 ........ 25
Gambar 26. Grafik Ray Tracing Deep Water Layer stasiun 45 ..................... 25
Gambar 27. Grafik SVP dan Ray Tracing Mixed Layer stasiun 55 ................ 26
Gambar 28. Grafik Ray Tracing Mixed Layer stasiun 55 .............................. 26
Gambar 29. Grafik SVP dan Ray Tracing Thermocline stasiun 55 ............... 27
Gambar 30. Grafik Ray Tracing Thermocline stasiun 55 .............................. 27
Gambar 31. Grafik SVP dan Ray Tracing Deep Water Layer stasiun 55 ....... 28
Gambar 32. Grafik Ray Tracing Deep Water Layer stasiun 55 ..................... 28
Gambar 33. Grafik SVP dan Ray Tracing Mixed Layer stasiun 62 ............... 29
Gambar 34. Grafik Ray Tracing Mixed Layer stasiun 62 .............................. 29
Gambar 35. Grafik SVP dan Ray Tracing Thermocline stasiun 62 ............... 30
Gambar 36. Grafik Ray Tracing Thermocline stasiun 62 .............................. 30
Gambar 37. Grafik SVP dan Ray Tracing Deep Water Layer stasiun 62 ....... 31
Gambar 38. Grafik Ray Tracing Deep Water Layer stasiun 62 ..................... 31

iv

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

Bab I. Latar Belakang


Akustik bawah air merupakan salah satu aplikasi dari ilmu akustik yang
dipakai pada perairan. Secara teoritis Akustik (acoustic) adalah teori tentang
gelombang suara dan perambatannya di suatu medium. Sementara akustik bawah
air adalah studi ilmiah mengenai suara di bawah air dan berhubungan dengan
suara yang dihasilkan alam maupun buatan manusia, termasuk bagaimana caranya
dihasilkan, pergerakannya, serta pemanfaatannya untuk kepentingan manusia.
Teknologi akustik bawah air biasa disebut hydroacoustic atau underwater
acoustics yang semula ditujukan untuk kepentingan militer telah berkembang
dengan sangat pesat dalam menunjang kegiatan non-militer. Dengan teknologi
mutahir, teknologi akustik bawah air dapat digunakan untuk kegiatan penelitian,
survei kelautan dan perikanan baik laut wilayah pesisir maupun laut lepas
termasuk laut dalam. Teknologi akustik bawah air dapat digunakan untuk
mendeteksi sumberdaya hayati dan non-hayati baik termasuk survei populasi ikan
yang relatif lebih akurat, cepat dan tidak merusak lingkungan dibandingkan
dengan teknik lain.
Pada tugas besar ini kami berperan menjadi kapal selam. Kapal selam pada
saat Perang Dunia I digunakan untuk memata-matai musuh. Karena itu diciptakan
teknologi akustik bawah air untuk mendeteksi keberadaan kapal selam.
Pendeteksian

posisi

kapal

selam

dapat

berupa

deteksi

akustik

pasif

(mendengarkan) ataupun deteksi akustik aktif (menghasilkan suara). Pada


dasarnya agar kapal selam kita tidak terdeteksi diperlukan penempatan transducer
pada posisi yang menghasilkan shadow zone (daerah bayangan) yaitu daerah atau
wilayah yang bebas dari sinyal akustik bawah air atau tidak terdapat ray tracing.
Untuk itu kita perlu mengerti gambaran Ray Tracing yang dihasilkan pada tiap
kondisi tertentu. Ray Tracing yang dihasilkan bermanfaat untuk mengetahui sifat
sonar yang dipancarkan oleh sumbernya (Source). Dengan mengetahui pola ray
tracing maka kita akan mengetahui penempatan transducer yang akan
menghasilkan shadow zone yang paling besar.

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

Bab II.

Dasar teori

2.1. Pembagian lapisan laut


Untuk memodelkan suatu ray tracing dari sebuah sumber akustik
kita juga memerlukan data kecepatan suara dari setiap kedalaman di
daerah lautan yang akan kita tinjau. Data kecepatan suara juga di
pengaruhi oleh kondisi temperatur dan kedalaman dari laut tersebut.
Lapisan tersebut dibagi menjadi tiga bagian yaitu:
a. Mixed layer adalah lapisan teratas dari suatu lautan, daerah ini
memiliki ketabalan 10 200 m dari permukaan laut dan
memiliki suhu yang sama dengan permukaan laut. Kedalaman
dan temperatur dari mixed layer selalu berubah sebagai akibat
dari penyinaran matahari di permukaan dan turbulensi yang di
akibatkan angin dan gelombang di permukaan laut. Hal
tersebut juga memberikan pengaruh pada kecepatan suara di
daerah tersebut.
b. Thermocline adalah Daerah perubahan drastis dari suhu air ini
di sebut dengan thermocline. Posisi thermocline juga berbeda
beda tergantung dari posisi dan intensitas penyinaran matahari.
Namun kondisi temperatur
dipengaruhi

oleh

turbulensi

dari thermocline
angin

dan

ini tidak

gelombang

di

permukaan laut.
c. Deep Water Layer (Isoterm) adalah daerah di bawah lapisan
thermocline. Pada daerah ini pengaruh dari penyinaran
matahari dan turbulensi akibat angin dan gelombang di
permukaan sudah tidak lagi memberikan pengaruh pada
temperatur air dan kecepatan suara. Sehingga suhu pada daerah
ini cenderung rendah dan kecepatan suara di daerah ini di
pengaruhi oleh pertambahan kepadatan media rambat berupa
air yang bertambah seiring dengan bertambahnya kedalaman
laut.

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

Gambar 1. Grafik pembagian layer pada laut berdasarkan suhu dan kedalaman

2.2.Ray Tracing
Ray tracing adalah metode untuk mengetahui jalur atau arah
rambat gelombang yang di pancarkan oleh suatu sumber akustik yang
melalui berbagai kecepatan dan bentuk propagasi, penyerapan energi,
dan berbagai pemantulan. Ray tracing bekerja dengan asumsi bahwa
gelombang di gambarkan sebagai suatu bentuk garis yang arah dan
kecepatannya berbeda beda pada setiap kedalaman laut. Dalam
bidang akustik bawah laut, metode ray tracing berguna sebagai alat
pemetaan arah dan jalur gelombang yang di pancarkan.
Dalam merumuskan atau memetakan ray tracing berikut adalah
formula perhitungan yang dipakai :

x(2) x(1) R[sin 2 sin 1]


z (2) z (1) R[cos 2 cos 1]

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

1
a*g

; a

Laporan Tugas Besar

sin 1 sin 2 sin 3

C1
C2
C3

Keterangan:
R= Radius lingkaran (m)
g= Gradien kecepatan (1/s)

Dalam memodelkan ray tracing, arah dari suatu ray


dipengaruhi oleh sudut datang dan koefisien kecepatan suara pada
suatu kedalaman tertentu. Hal tersebut menyebabkan jalur yang akan
dilewati oleh ray satu dengan ray yang lainnya akan berbeda
tergantung pada sudut datang dan koefisien kecepatan suara pada
suatu kedalaman tertentu. Sudut datang dari suatu ray tracing di
tentukan oleh alat atau sumber yang kita gunakan, berapa lebar beam
pattern utamanya dan juga berapa ray yang akan di hasilkan
merupakan faktor yang menentukan arah dari ray tracing yang akan
terbentuk.
Berikut adalah contoh grafik hasil propagasi kecepatan suara dan
pemetaan ray tracing

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

Gambar 2. Atas dan bawah adalah Contoh hasil ray tracing

Untuk menentukan grafik propagasi kecepatan suara kita dapat


menggunakan tiga

persamaan empiris yang berdasarkan pada

percobaan. Ketiga persamaan itu adalah persamaan medwin, leroy,


dan mackenzie. Berikut adalah bentuk dari ketiga persamaan tersebut.
a. Leroy
C = 1492.9 + 3 T 10 6 103 (T 10)2 4
102 (T 18)2 + 1.2 S 35 102 T 18 S 35 +
D
61

b. Medwin
C = 1449.2 + 4.6T 5.5 102 T 2 + 2.9 104 T 3 +
1.34 102 T S 35 + 1.6 102 D
c. Mackenzie
C = 1448.96 + 4.591T 5.304 102 T 2 + 2.374
104 T 3 + 1.340 S 35 + 1.630 102 D + 1.675
107 D2 1.025 102 T S 35 7.139 1013 TD3

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

Karena ketiga persamaan tersebut adalah persamaan empiris yang


berdasarkan dari percobaan yang telah dilakukan, maka perlu di cari
error untuk melihat selisih antara hasil dari ketiga persamaan tersebut
dengan keadaan sesungguhnya dari data di lapangan. Dengan
perhitungan error sebagai berikut.
1

100%

Keterangan:
Cdata = Kecepatan suara data (m/s)
Cempiris = C (kecepatan suara) hasil perhitungan medwin leroy, dan
mackenzie (m/s)
n = jumlah data

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

2.3.Tramission Loss
Gelombang yang di pancarkan juga mengalami transmission loss
yang menyebabkan adanya energi yang hilang akibat adanya gesekan
antara gelombang akustik yang di pancarkan dengan medium rambatnya
yaitu air.

Gambar 3. Jenis jenis Transmission Loss

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

Dengan nilai atau jumlah energi yang hilang berdasarkan pada


formula perhitungan berikut:
a. Sylindrical spreading loss
TL 10 log10 r2 dB

b. Spherical spreading loss


2
TL 10 log10 r2 dB

c. Absorption loss

TL .
d. Reflection loss
Reflection loss dibagi menjadi 2 jenis yaitu reflection loss di
permukaan dan di dasar laut
e. Transmiting voltage response (TVR)
P
TVR 20 log10 dengan referensi 1Pa / volt
V

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

Bab III. Metodologi


3.1.

Pemilihan Data
Data yang kami pilih adalah
data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10045-2.xls untuk laut dangkal,
data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10055-2 untuk laut intermediet
dan data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10062-2.xls untuk laut
dalam. Pemilihan ini didasarkan karena menurut kami, data-data ini dapat
mencakup gambaran ray tracing untuk laut dangkal, intermediet, dan
dalam. Data data ini diperoleh dari laut di sebelah selatan Pulau Jawa.

3.2.

Pemilihan Transducer
Sebelum melakukan proses perhitungan dengan matlab diperlukan
karakteristik alat yang akan dimasukkan dalam matlab seperti beam
pattern dari tranducer tersebut. Pemilihan ini didasarkan pada ketahanan
dan pengoperasian alat. Disini kami memilih tiga transducer untuk setiap
layer, yaitu:
1. Mixlayer TC2024
2. Thermocline TC3027
3. Isoterm TC1026
Keterangan : Untuk profil dan kriteria transducer dapat dilihat di lampiran.

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

3.3.

Laporan Tugas Besar

Ocean Data View (ODV)


1. Data yang digunakan adalah pada file excel dengan nama:
a. data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10045-2.xls

Gambar 4. Stasiun data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10045-2.xls

b. data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10055-2

Gambar 5. Stasiun data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10055-2

10

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

b. data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10062-2.xls

Gambar 6. Stasiun data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10062-2.xls

2. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan Ocean Data View


dilakukan pertama-tama dengan memindahkan data ke dalam format
text.
3. Pertama klik FileNew lalu ketik nama file yang diiginkan. Setelah
itu akan muncul kotak dialog lalu pilih user specifies variables
manually, lalu klik ok
4. Lalu akan muncul kotak dialog define variable for d, tambahkan
variabel yang belum ada lalu klik ok
5. Data akan di import ke ODV, dengan meilih spreadsheet, lalu pilih
file data yang telah kita ubah tadi dengan format notepad
6. Beberapa variabel harus di associate terlebih dahulu
7. Jika

sudah

tinggal

dilakukan

pengaturan

gambar

sehingga

mendapatkan gambar yang baik di window layout

3.4.

Pendekatan empiris menggunakan Software Matlab


Pendekatan empiris ini diperlukan untuk membandingkan grafik
yang

didapat

menggunakan

dari Software
metode

ODV

Medwin,

dengan

Leroy,

dan

perhitungan

empiris

MacKenzie

dengan

11

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

menggunakan software Matlab. Selanjutnya untuk menghitung error


pendekatan empiris dilakukan di software Matlab di command window
dengan mengetik rumus error

100%.

Keterangan :
n = jumlah data
Cdata = Kecepatan suara data ( m/s )
Cempiris = Kecepatan suara yang diperoleh dari pendekatan empiris ( m/s)

3.5.

Pendekatan dengan Metode Polyfit


Pendekatan dengan metode polyfit ini dilakukan dengan rumusan
= 1 + 2 2 + 3 3 . Semakin besar orde polyfit

yang

digunakan semakin maka metode polyfit tersebut akan semakin mendekati


data.

Setelah itu dilakukan perhitunan error polyfit setiap orde yang

diinginkan di software Matlab di command window dengan rumus


1

100%. Pada langkah ini juga setiap koefisien polyfit

untuk setiap orde akan disimpan dalam bentuk format text


Keterangan :
n = jumlah data
Cdata = Kecepatan suara data ( m/s )
Cempiris = Kecepatan suara yang diperoleh dari pendekatan polyfit ( m/s )

3.6.

Ray Tracing
Untuk menentukan grafik ray dari akustik bawah air dilakukan
dengan menggunakan software Matlab. Pada makalah ini kami
menggunakan file rayf_xx.m sebagai fungsi yang akan dipanggil oleh
rays1.m.

1. Pada rayf_xx.m tulis lagi rumusan polyfit dengan error yang paling kecil
beserta turunannya. Masukkan juga file dengan format text yang berisi
koefisien polyfit yang telah didapat dari langkah sebelumnya.
2. Selanjutnya pada rays1.m memanggil rayf_xx.m yang telah melakukan
perhitungan dan file pada pendekatan dengan metode polyfit sebelumnya.
12

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

Selain itu, beam pattern pada spek alat yang telah dipilih dimasukkan pada
tahap ini.
Keterangan:
Semua coding pada proses pendekatan empiris, pendekatan polyfit, dan ray
tracing akan dilampirkan di Lampiran.

Secara keseluruhan langkah-langkah pengerjaannya dapat dirangkum


dalam flowchart di bawah ini :

Pemilihan Data

Pemilihan Transducer

ODV (Ocean Data


View)

Medwin, Leroy,
Mackenzie

Polyfit

Ray Tracing
Gambar 7. Flowchart tahap tahap pengerjaan

13

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

Bab IV. Hasil


4.1.

Ocean Data View (ODV)


a. data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10045-2.xls

Gambar 8. Hasil ODV data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10045-2.xls

b. data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10055-2.xls

Gambar 9. Hasil ODV data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10055-2.xls

14

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

c. data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10062-2.xls

Gambar 10. Hasil ODV data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10062-2.xls

Gambar 11. Hasil plot dari stasiun 45, 55, dan 62

15

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

4.2.

Laporan Tugas Besar

Pendekatan dengan Metode Empiris Medwin, Leroy, Mackenzie


a. data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10045-2.xls

Gambar 12. Grafik Empiris Stasiun 45 kedalaman terhadap kecepatan suara

Gambar 13. Grafik Empiris Stasiun 45 temperatur, salinitas, kecepatan suara terhadap kedalaman

16

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

Persentase error yang didapatkan:

Error Medwin : 0.001979764%


Error Leroy : 0.00054092%
Error Mackenzie : 0.728934887%

b. data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10055-2.xls

Gambar 14.Grafik Empiris stasiun 55 kedalaman terhadap kecepatan suara

17

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

Gambar 15. Grafik Empiris Stasiun 55 temperatur, salinitas, kecepatan suara terhadap kedalaman

Persentase Error yang didapatkan :

Error Medwin : 0.00072634%


Error Leroy : 0.0001538%
Error Mackenzie : 0.3878%

18

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

c. data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10062-2.xls

Gambar 16. Grafik Empiris Stasiun 62 kedalaman terhadap kecepatan suara

Gambar 17. Grafik Empiris Stasiun 62 temperatur, salinitas, kecepatan suara terhadap kedalaman

19

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

Persentase Error yang didapatkan :

4.3.

Error Medwin : 0.0095%


Error Leroy : 0.0040%
Error Mackenzie : 1.9003%

Pendekatan dengan Metode Polyfit dengan menggunakan orde 5, 15,


17, dan 24
a. data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10045-2.xls

Gambar 18. Grafik Polifit stasiun 45

Persentase Error yang didapatkan :

Error polyfit untuk orde 5 : 0.0057%


Error polyfit untuk orde 15 : 0.00036658%
Error polyfit untuk orde 17 : 0.00026586%
Error polyfit untuk orde 24 : 0.00011814%

20

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

b. data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10055-2.xls

Gambar 19. Grafik Polyfit stasiun 55

Persentase Error yang didapatkan :

Error polyfit untuk orde 5 : 0.0041%


Error polyfit untuk orde 15 :0.000083421%
Error polyfit untuk orde 17 : 0.000076943%
Error polyfit untuk orde 24 : 0.000076394%

21

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

c. data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10062-2.xls

Gambar 20. Grafik Polyfit stasiun 62

Persentase Error yang didapatkan :

Error polyfit untuk orde 5 : 0.0061%


Error polyfit untuk orde 15 :0.00045823%
Error polyfit untuk orde 17 : 0.00016525%
Error polyfit untuk orde 24 : 0.00011689%

22

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

4.4.

Laporan Tugas Besar

Ray Tracing

1. data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10045-2.xls
a. Mixlayer ( zs = 20.273m, C = 1537.34 m/s )

Gambar 21. Grafik SVP dan Ray Tracing Mixed Layer stasiun 45

Gambar 22. Grafik Ray Tacing Mixed Layer stasiun 45

23

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

b. Thermocline ( zs = 500.149m, C = 1492.41m/s )

Gambar 23. Grafik SVP dan Ray Tracing Thermocline stasiun 45

Gambar 24. Grafik Ray Tracing Thermocline stasiun 45

24

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

c. Deep Water Layer ( zs = 1500.72m, C = 1489.74m/s )

Gambar 25. Grafik SVP dan Ray Tracing Deep Water Layer stasiun 45

Gambar 26. Grafik Ray Tracing Deep Water Layer stasiun 45

25

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

2. data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10055-2.xls
a. Mixed Layer ( zs = 20.063m, C = 1535.61m/s )

Gambar 27. Grafik SVP dan Ray Tracing mixed layer stasiun 55

Gambar 28. Grafik Ray Tracing mixed layer stasiun 55

26

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

b. Thermocline ( zs = 500.487m, C = 1490.19m/s )

Gambar 29. Grafik SVP dan Ray Tracing thermocline stasiun 55

Gambar 30. Grafik Ray Tracing thermocline stasiun 55

27

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

c. Deep Water Layer ( zs = 1500.11m, C = 1489.31m/s )

Gambar 31. Grafik SVP dan Ray Tracing deep water layer stasiun 55

Gambar 32. Grafik Ray Tracing deep water layer stasiun 55

28

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

3. data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10062-2.xls
a. Mixed Layer ( zs = 20.344m, C = 1538.3m/s )

Gambar 33. Grafik SVP dan Ray Tracing Mixed Layer stasiun 62

Gambar 34. Grafik Ray Tracing Mixed Layer stasiun 62

29

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

b. Thermocline ( zs = 500.332m, C = 1490.28m/s)

Gambar 35. Grafik SVP dan Ray Tracing Thermocline stasiun 62

Gambar 36. Grafik Ray Tracing Thermocline stasiun 62

30

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

c. Deep Water Layer ( zs = 1500.09m, C = 1488.85m/s )

Gambar 37. Grafik SVP dan Ray Tracing Deep Water Layer stasiun 62

Gambar 38. Grafik Ray Tracing Deep Water Layer stasiun 62

31

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

Bab V.

Analisis

Software ODV digunakan untuk mengetahui memplot grafik


salinitas, temperatur, dan kecepatan suara terhadap kedalaman. Selain itu
software ODV ini juga dapat memplot data lokasi beserta petanya. Dari
hasil yang didapatkan dapat diketahui bahwa salinitas akan semakin besar
seiring bertambahnya kedalaman laut, namun pada kedalaman tertentu
salinitas akan cenderung konstan sehingga hal pada kedalaman tersebut
dinamakan isohalo, sedangkan pada lapisan dimana terjadi gradien
terbesar dinamakan halocline. Sedangkan temperatur akan semakin turun
seiring bertambahnya kedalaman laut sampai temperatur tersebut konstan
pada kedalaman tertentu. Kecepatan suara akan semakin kecil seiring
bertambahnya kedalaman laut. Hal ini dikarenakan suhu pada lautan yang
dalam sangat kecil sedangkan salinitas semakin besar.

Berdasarkan

hasil

ODV

didapat

bahwa

data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10045-2.xls

stasiun

memiliki mixed

layer pada kedalaman 0 30m, thermocline pada kedalaman 30m


1000m, dan deep water layer pada kedalaman 1000m 4000m. Untuk
stasiun

data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10055-2.xls

memiliki

rentang yang sama dengan stasiun 45 yaitu, mixed layer pada kedalaman 0
30m, thermocline pada kedalaman 30m 1000m dan deep water layer
pada

kedalaman

1000m

3000m.

Sedangkan

data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10062-2.xls

memiliki

stasiun
lapisan

mixed layer pada kedalaman 0 100m, thermocline pada kedalaman 100m


1000m, dan deep water layer pada kedalaman 1000m 6000m.

Untuk

pengerjaan

ray

tracing

dilakukan

dengan

metode

pendekatan, salah satu yang dilakukan pada makalah ini adalah


pendekatan dengan metode empiris yaitu medwin, leroy, dan mackenzie.
Berdasarkan grafik yang didapat dari kedua stasiun dapat dilihat bahwa
metode leroy lebih dekat dengan data. Hal ini juga dibuktikan dari hasil

32

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

perhitungan error setiap metode pendekatan empiris terhadap data,


didapatkan bahwa error metode Leroy lebih kecil dari metode medwin dan
metode

mackenzie.

Dengan

nilai

error

pada

stasiun

data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10045-2.xls 0.00054092%
stasiun

data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10055-2.xls

0.00015318%,

dan

pada

stasiun

data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10062-2.xls 0.0040%.

Selain itu, juga dilakukan metode pendekatan lain untuk


perbandingan, yaitu metode pendekatan dengan polyfit. Metode polyfit
merupakan suatu fungsi polinomial yang berfungsi agar sesuai dengan
data. Sehingga data tersebut dapat dibentuk didalam sebuah fungsi yang
akan digunakan dalam menentukan ray tracing. Semakin besar pangkat
polinomial yang digunakan maka akan semakin mendekati data. Pada
tugas besar ini kami memakai empat orde polinomial yaitu orde 4, orde 15,
orde 17, dan orde 24. Setelah didapat grafik polyfit, hasilnya bahwa orde
24 lebih dekat ke data daripada orde lainnya. Hal ini juga terbukti dari
perhitungan error polyfit pada kedua stasiun yaitu, 0.00011814% pada
stasiun

data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10045-2.xls,

0.000076394%

pada

stasiun

data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10062-2.xls, dan 0.00011689%


pada stasiun data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10062-2.xls .

Langkah selanjutnya yang dilakukan adalah pengerjaan ray tracing


dengan menggunakan program rayf_xx.m dan rays1.m. Pada setiap layer
digunakan transducer yang berbeda sesuai dengan kedalaman transducer
dapat bertahan dan beroperasi. Hal ini tentunya nerpengaruh pada beam
pattern yang digunakan, pada mixed layer digunakan TC2024 dengan
beam width 9.5, pada thermocline digunakan TC3027 dengan beam width
11.6, dan pada deep water layer (isoterm) digunakan TC1026 dengan

33

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

beam width 70. Hal ini tentunya berpengaruh pada hasil ray tracing, jika
beam width semakin besar maka hasilnya akan semakin tidak fokus,
begitu pula sebaliknya jika semakin kecil beam widthnya maka akan
semakin fokus dan semakin bagus juga hasilnya.

Pada stasiun data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10045-2.xls


didapatkan hasil ray tracing yang memiliki daerah shadow zone yang
berbeda, pada mixed layer memiliki shadow zone mulai kedalaman 1800
meter. Pada thermocline terdapat dua shadow zone yaitu 0 400meter dan
1800 meter 4000 meter. Sedangkan pada deep water layer memilki pola
yang berbeda dimana polanya tidak beraturan. Pada deep water layer
stasiun ini memiliki shadow zone mulai 2000 meter sampai 4000 meter.
Dari hasil ini didapatkan bahwa daerah shadow zone yang paling besar
jika source di thermocline.

Pada stasiun data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10055-2.xls


didapatkan hasil ray tracing dengan pola yang berbeda pada stiap layer.
Begitu pula dengan daerah shadow zonenya berbeda, pada mixed layer
memiliki shadow zone mulai kedalaman 1250 meter sampai 3000 meter.
Pada thermocline terdapat dua shadow zone yaitu 0 150 meter dan 1000
meter 3000 meter. Sedangkan pada deep water layer memilki pola yang
berbeda dimana polanya tidak beraturan. Pada deep water layer stasiun ini
memiliki shadow zone mulai 2600 meter 3000 meter. Dari hasil deep
water layer terlihat bahwa shadow zone yang dihasilkan sangat kecil,
karena hampir semua terjangkau oleh transducer, dan kapal selam tidak
bisa diletakkan apabila transducer berada pada deep water layer. Dari
hasil ini didapatkan bahwa daerah shadow zone yang paling besar jika
source di thermocline.

34

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

Pada stasiun data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10062-2.xls


didapatkan hasil ray tracing dengan pola yang sama pada mixed layer dan
thermocline,dimana polanya menurun kebawah. Namun daerah shadow
zonenya berbeda, pada mixed layer 3000 meter sampai 6000 meter.
Sedangkan pada thermocline daerah shadow zone di 2000 meter sampai
6000 meter. Dari hasil ini didapatkan bahwa bila source diletakkan
dikedalaman 20 meter maka shadow zone yang terjadi lebih kecil
dibandingkan dengan meletakkan source di kedalaman 500 meter. Ray
tracing yang terjadi pada deep water layer memiliki pola yang menyebar
dan shadow zone yang lebih kecil dibanding di mixed layer dan
thermocline yaitu 3500 meter sampai 6000 meter.

35

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

Bab VI. Kesimpulan


Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan dengan menggunakan
software ODV (Ocean Data View) dan Matlab dapat diambil beberapa
kesimpulan seperti berikut:
1. Berdasarkan analisis empiris yang telah dilakukan didapat bahwa metode
empiris tersebut dipengaruhi oleh temperatur, salinitas, dan kecepatan
suara. Dengan dilakukan perhitungan error didapat bahwa metode
pendekatan Lerroy memiliki error yang paling kecil dan paling dekat
dengan data.
2. Berdasarkan analisis polyfit yang telah dilakukan didapat bahwa metode
polyfit dipengaruhi oleh koefisien polyfit dan kedalaman. Namun secara
umum hanya dipengaruhi oleh kedalaman saja. Berdasarkan hasil
perhitungan error terhadap metode polyfit didapat bahwa polyfit dengan
orde 24 memiliki error yang paling kecil dibanding polyfit dengan orde 5,
15, dan 17.
3. Dengan membandingkan hasil metode pendekatan empiris dengan metode
pendekatan polyfit maka didapat bahwa metode pendekatan polyfit
memiliki error yang paling kecil dibandingkan dengan metode pendekatan
empiris. Hal ini juga berpengaruh pada program rayf_xx.m dan pada
rays1.m menggunakan rumusan metode polyfit dengan orde 24.
4. Transducer yang digunakan berpengaruh pada beam width yang akan
digunakan pada program rayf_xx.m dan rays1.m. Dimana semakin besar
beam width yang digunakan maka hasilnya akan semakin fokus dan
semakin bagus begitu pula sebaliknya.
5. Pada

stasiun

data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10045-2.xls

didapatkan hasil shadow zone:


a. Mixed layer pada 1800 meter 4000 meter.
b. Thermocline pada 0 400 meter dan 1800 meter 4000 meter.
c. Deep water layer pada 2000 meter 4000 meter.stasiun ini
memiliki shadow zone mulai 2000 meter sampai 4000 meter.

36

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

6. Pada

stasiun

Laporan Tugas Besar

data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10045-2.xls

didapatkan hasil shadow zone :


a. Mixed Layer pada 1250 meter 3000 meter.
b. Thermocline pada 0 150 meter dan 1000 meter 3000 meter.
c. Deep Water Layer pada 2600 meter 3000 meter.
7. Pada

stasiun

data_KS_SONNE05_selatan_jawa_GeoB10045-2.xls

didapatkan hasil shadow zone :


a. Mixed layer pada 3000 meter 6000 meter.
b. Thermocline pada 2000 meter 6000 meter.
c. Deep water layer pada 3500 meter 6000 meter.
8. Dari ketiga stasiun yaitu, stasiun 45, 55, dan 62 memiliki kesamaan pada
daerah shadow zone yang paling luas bila source transducer diletakkan di
thermocline. Sehingga kapal selam akan lebih tidak terdeteksi bila
transducer berada pada lapisan thermocline.

37

KL3104 AKUSTIK BAWAH AIR

Laporan Tugas Besar

Daftar Pustaka
Slide kuliah Propagasi_ABA_New.pdf
Slide kuliah Transmission_Loss_ABA.pdf
Hx-Tx-Catalogue-_CAT13999-1.pdf
http://www.villasmunta.it/oceanografia/the_three.htm. Diakses pada tanggal 15
Juli 2014 pada pukul 11:14 AM.

38

Lampiran
1. Coding Metode Pendekatan Empiris
%clear all
%close all
% Baca EXCEL File
% A = Kedalaman, D (m), Sound Speed C (m/s), Temperatur T (deg C) dan
Salinitas S (ppt)
% [A,B] = XLSREAD('suh01_sound_speed_vs_depth','SUH01');
[A,B] = XLSREAD('stasiun_145.xls','geo145');
D = A(:,1);
C = A(:,4);
T = A(:,2);
S = A(:,3);

% Kedalaman, D (m)
% Kec Suara, C (m/s)
% Temperatur, T (deg C)
% Salinitas, S (ppt)

% Rumus Empiris Medwin


% Medwin
C_Medwin = 1449.2 + 4.6*T - 5.5e-2*T.^2 + 2.9e-4*T.^3 + (1.34 -1e-2*T).*(S
- 35) + 1.6e-2*D;
C_Leroy = 1492.9 + 3*(T - 10) - 6e-3*(T - 10).^2 - 4e-2*(T - 18).^2 + 1.2*(S 35) - 1e-2*(T -18).*(S -35) + D/61;
C_Mckenzie = 1448.96 + 4.591*T - 5.304e-2*T.^2 + 2.374e-4*T.^3 +
1.340*(S - 35) + 1.630e-2*D + 1.630e-2*D + 1.675e-7*D.^2 - 1.025e-2*T.*(S 35) - 7.139e-13*T.*D.^3;
% Plot T vs D
% figure
subplot(1,3,1), plot(T,D)
axis ij
xlabel('Temperatur, T (^oC)')
ylabel('Depth, D (m)')
% Plot S vs D
%figure
subplot(1,3,2),plot(S,D)
axis ij
xlabel('Salinitas, S (ppt)')
ylabel('Depth, D (m)')
% Plot C vs D
% figure
subplot(1,3,3),plot(C,D,'k',C_Medwin,D,'r',C_Leroy,D,'g',C_Mckenzie,D,'b')

axis ij
xlabel('Sound Speed, C (m/s)')
ylabel('Depth, D (m)')
% legend('Data','Medwin')
legend('Data','Medwin','Leroy','Mckenzie')
figure(2)
plot(C,D,'k',C_Medwin,D,'r',C_Leroy,D,'g',C_Mckenzie,D,'b')
axis ij
xlabel('Sound Speed, C (m/s)')
ylabel('Depth, D (m)')
legend('Data','Medwin','Leroy','Mckenzie')

2. Coding Metode Pendekatan Polyfit


%clear all
%close all
% Baca EXCEL File
% A = Kedalaman, D (m) dan Sound Speed, C (m/s)
% [A,B] = XLSREAD('suh01_sound_speed_vs_depth','SUH01');
[A,B] = XLSREAD('stasiun_145.xls','geo145');
D = A(:,1);
C = A(:,4);

% Kedalaman, D (m)
% Sound Speed, C (m/s)

% Polyfit (P(1)X^N + P(2)X^(N-1) + .......


% Orde N=6
% Polyfit Data dgn Persamaan Pangkat N
% CN = Sound Speed (m/s) dari Polyfit orde N
[P,S] = POLYFIT(D,C,5);
C5 = P(1)*D.^5+P(2)*D.^4+P(3)*D.^3+P(4)*D.^2+P(5)*D.^1+P(6)*D.^0;
save plft_5.txt P -ASCII
[P,S] = POLYFIT(D,C,15);
C15 =
P(1)*D.^15+P(2)*D.^14+P(3)*D.^13+P(4)*D.^12+P(5)*D.^11+P(6)*D.^10+P(7
)*D.^9+P(8)*D.^8+P(9)*D.^7+P(10)*D.^6+P(11)*D.^5+P(12)*D.^4+P(13)*D.^
3+P(14)*D.^2+P(15)*D.^1+P(16)*D.^0;
save plft_15.txt P -ASCII
[P,S] = POLYFIT(D,C,17);
C17=
P(1)*D.^17+P(2)*D.^16+P(3)*D.^15+P(4)*D.^14+P(5)*D.^13+P(6)*D.^12+P(7
)*D.^11+P(8)*D.^10+P(9)*D.^9+P(10)*D.^8+P(11)*D.^7+P(12)*D.^6+P(13)*
D.^5+P(14)*D.^4+P(15)*D.^3+P(16)*D.^2+P(17)*D.^1+P(18)*D.^0;
save plft_18.txt P -ASCII
[P,S] = POLYFIT(D,C,24);
C24 =
P(1)*D.^24+P(2)*D.^23+P(3)*D.^22+P(4)*D.^21+P(5)*D.^20+P(6)*D.^19+P(7

)*D.^18+P(8)*D.^17+P(9)*D.^16+P(10)*D.^15+P(11)*D.^14+P(12)*D.^13+P(
13)*D.^12+P(14)*D.^11+P(15)*D.^10+P(16)*D.^9+P(17)*D.^8+P(18)*D.^7+P
(19)*D.^6+P(20)*D.^5+P(21)*D.^4+P(22)*D.^3+P(23)*D.^2+P(24)*D.^1+P(25
)*D.^0;
save plft_24.txt P -ASCII
% Plot C1 vs d
% plot(C,D,'o',C17,D,'r',C20,D,'g',C24,D,'k')
% figure(1)
subplot(1,2,1),plot(C,D,'o',C5,D,'m',C15,D,'r',C17,D,'g',C24,D,'k')
axis ij
xlabel('Sound Speed, C (m/s)')
ylabel('Depth, D (m)')
legend('Data','N=5','N=15','N=17','N=24',5)

3. Coding Rayf_xx
function xdot = f( s, x )
% Munk sound speed profile
% eps = 0.00737;
%c0 = 1500;
z = x( 2 );
% xt = 2 * ( z - 1300 ) / 1300;
% c = c0 * ( 1 + eps * ( xt - 1 + exp( -xt ) ) );
load plft_24.txt
P = plft_24;
D=z;
c=
P(1)*D.^24+P(2)*D.^23+P(3)*D.^22+P(4)*D.^21+P(5)*D.^20+P(6)*D.^19+P(7
)*D.^18+P(8)*D.^17+P(9)*D.^16+P(10)*D.^15+P(11)*D.^14+P(12)*D.^13+P(
13)*D.^12+P(14)*D.^11+P(15)*D.^10+P(16)*D.^9+P(17)*D.^8+P(18)*D.^7+P
(19)*D.^6+P(20)*D.^5+P(21)*D.^4+P(22)*D.^3+P(23)*D.^2+P(24)*D.^1+P(25
)*D.^0;
c2 = c^2;

% we also need derivatives of sound speed


% dxtdz = 2 / 1300;
% cz= c0 * eps * dxtdz * ( 1 - exp( -xt ) );
cz =
24*P(1)*D.^23+23*P(2)*D.^22+22*P(3)*D.^21+21*P(4)*D.^20+20*P(5)*D.^1
9+19*P(6)*D.^18+18*P(7)*D.^17+17*P(8)*D.^16+16*P(9)*D.^15+15*P(10)*
D.^14+14*P(11)*D.^13+13*P(12)*D.^12+12*P(13)*D.^11+11*P(14)*D.^10+1
0*P(15)*D.^9+9*P(16)*D.^8+8*P(17)*D.^7+7*P(18)*D.^6+6*P(19)*D.^5+5*P
(20)*D.^4+4*P(21)*D.^3+3*P(22)*D.^2+2*P(23)*D.^1+P(24)*D.^0;
cr = 0;
% here's the RHS

xdot = zeros( 4, 1 );
xdot( 1 ) = c * x( 3 );
xdot( 2 ) = c * x( 4 );
xdot( 3 ) = -cr / c2;
xdot( 4 ) = -cz / c2;

4. Coding Rays1
% ******************************************************
% Rays
% ******************************************************
% The equations we're solving are:
% r' = c rho
% z' = c zeta
% rho' = -c_r / c2
% zeta' = -c_z / c2
clear all
close all
%send = 100000; % arclength for rays
send = 3000;
% arclength for rays
%ntheta = 31; % number of rays
ntheta = 51;
% number of rays
%theta = pi / 180 * linspace( -14.0, 14.0, ntheta );
theta = pi / 180 * linspace( -35, 35, ntheta );
%theta = pi / 180 * (-5.1281);
%theta = pi / 180 * (0.0);
%zs = 1000.0;
zs = 1500.09;

% source depth
% source depth

% plot of sound velocity profile


svp_dalam
%c0 = 1501.4;
c0 = 1488.85;

% sound speed at source depth


% sound speed at source depth

for ith = 1:ntheta % loop over take-off angle


% ray initial condition:
x0 = [ 0 zs cos( theta( ith ) ) / c0 sin( theta( ith ) ) / c0 ];
% now solve the DE to trace the ray
% [ s, x ] = ode45( 'rayf', 0.0, send, x0 );
% [ s, x ] = ode45( 'rayf', [0.0 send], x0 );
[ s, x ] = ode45( 'rayf_xx_dalam', [0.0 send], x0 );

% subplot(1,2,2), plot( x( : , 1 ), x( : , 2 ) );
% Take absolute value to flip the negative part to positive part
% to take care the reflection at the water surface
subplot(1,2,2), plot( x( : , 1 ), abs (x( : , 2 ) ));
hold on; % hold the old rays on screen when plotting new rays
end
hold off;
% label the plot
xlabel( 'Range (m)' )
ylabel( 'Depth (m)' )
view( 0, -90 ); % flip plot so that z-axis is pointing down
figure(2)
for ith = 1:ntheta % loop over take-off angle
% ray initial condition:
x0 = [ 0 zs cos( theta( ith ) ) / c0 sin( theta( ith ) ) / c0 ];
% now solve the DE to trace the ray
% [ s, x ] = ode45( 'rayf', 0.0, send, x0 );
% [ s, x ] = ode45( 'rayf', [0.0 send], x0 );
[ s, x ] = ode45( 'rayf_xx_dalam', [0.0 send], x0 );
% plot( x( : , 1 ), x( : , 2 ) );
% Take absolute value to flip the negative part to positive part
% to take care the reflection at the water surface
plot( x( : , 1 ), abs (x( : , 2 ) ));
hold on; % hold the old rays on screen when plotting new rays
end
hold off;
% label the plot
xlabel( 'Range (m)' )
ylabel( 'Depth (m)' )
view( 0, -90 ); % flip plot so that z-axis is pointing down

5. Kriteria Transducer/ Catalogue Transducer


a. TC2024

b. TC 3027

c. TC 1026