Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air laut adalah suatu komponen yang berinteraksi dengan lingkungan daratan, di mana buangan
limbah dari daratan akan bermuara ke laut. Selain itu air laut juga sebagai tempat penerimaan polutan
(bahan cemar) yang jatuh dari atmosfir. Limbah tersebut yang mengandung polutan kemudian masuk ke
dalam ekosistem perairan pantai dan laut. Sebagian larut dalam air, sebagian tenggelam ke dasar dan
terkonsentrasi ke sedimen, dan sebagian masuk ke dalam jaringan tubuh organisme laut (termasuk
fitoplankton, ikan, udang, cumi-cumi, kerang, rumput laut dan lain-lain).
Kemudian, polutan tersebut yang masuk ke air diserap langsung oleh fitoplankton. Fitoplankton
adalah produsen dan sebagai tropik level pertama dalam rantai makanan. Kemudian fitoplankton dimakan
zooplankton. Konsentrasi polutan dalam tubuh zooplankton lebih tinggi dibanding dalam tubuh fitoplankton
karena zooplankton memangsa fitoplankton sebanyak-banyaknya. Fitoplankton dan zooplankton dimakan
oleh ikan-ikan planktivores (pemakan plankton) sebagai tropik level kedua. Ikan planktivores dimangsa
oleh ikan karnivores (pemakan ikan atau hewan) sebagai tropik level ketiga, selanjutnya dimangsa oleh
ikan predator sebagai tropik level tertinggi.
Ikan predator dan ikan yang berumur panjang mengandung konsentrasi polutan dalam tubuhnya
paling tinggi di antara seluruh organisme laut. Kerang juga mengandung logam berat yang tinggi karena
cara makannya dengan menyaring air masuk ke dalam insangnya setiap saat dan fitoplankton ikut tertelan.
Polutan ikut masuk ke dalam tubuhnya dan terakumulasi terus-menerus dan bahkan bisa melebihi
konsentrasi yang di air.
Polutan tersebut mengikuti rantai makanan mulai dari fitoplankton sampai ikan predator dan pada
akhirnya sampai ke manusia. Bila polutan ini berada dalam jaringan tubuh organisme laut tersebut dalam
konsentrasi yang tinggi, kemudian dijadikan sebagai bahan makanan maka akan berbahaya bagi
kesehatan manusia. Karena kesehatan manusia sangat dipengaruhi oleh makanan yang dimakan.
Makanan yang berasal dari daerah tercemar kemungkinan besar juga tercemar. Demikian juga makanan

laut (seafood) yang berasal dari pantai dan laut yang tercemar juga mengandung bahan polutan yang
tinggi.
Salah satu polutan yang paling berbahaya bagi kesehatan manusia adalah logam berat. WHO
(World Health Organization) atau Organisasi Kesehatan Dunia dan FAO (Food Agriculture Organization)
atau Organisasi Pangan Dunia merekomendasikan untuk tidak mengonsumsi makanan laut (seafood) yang
tercemar logam berat. Logam berat telah lama dikenal sebagai suatu elemen yang mempunyai daya racun
yang sangat potensil dan memiliki kemampuan terakumulasi dalam organ tubuh manusia. Bahkan tidak
sedikit yang menyebabkan kematian.
Pencemaran laut merupakan suatu ancaman yang benar-benar harus ditangani secara sungguhsungguh. Untuk itu, kita perlu mengetahui apa itu pencemaran laut, bagaimana terjadinya pencemaran
laut, serta apa yang solusi yang tepat untuk menangani pencemaran laut tersebut.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian & penyebab Red Tide di Sulawesi Tenggara?
2. Bagaimana Epidemiologi Red Tide?
3. Apa saja dampak akibat Red Tide di Sulawesi Tenggara?
4. Bagaimana penanganan Red Tide di Sulawesi Tenggara?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian & penyebab Red Tide di Sulawesi Tenggara
2. Untuk mengetahui bagaimana epidemiologi Red Tide
3. Untuk mengetahui dampak Red Tide di Sulawesi Tenggara
4. Untuk mengetahui bagaimana penanganan Red Tide di Sulawesi Tenggara
1.4 Manfaat
1. Agar dapat memahami pengertian & penyebab dari Red Tide di Sulawesi Tenggara
2. Agar dapat memahami epidemiologi Red Tide
3. Agar dapat memahami dampak akibat Red Tide di Sulawesi Tenggara
4. Agar dapat memahami bagaimana penanganan Red Tide di Sulawesi Tenggara

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
a. Pencemaran Air Laut

Pencemaran laut didefinisikan sebagai peristiwa masuknya partikel kimia, limbah industri,
pertanian dan perumahan, kebisingan, atau penyebaran organisme invasif (asing) ke dalam laut, yang
berpotensi memberi efek berbahaya.
Dalam sebuah kasus pencemaran, banyak bahan kimia yang berbahaya berbentuk partikel kecil
yang kemudian diambil oleh plankton dan binatang dasar, yang sebagian besar adalah pengurai ataupun
filter feeder (menyaring air). Dengan cara ini, racun yang terkonsentrasi dalam laut masuk ke dalam rantai
makanan, semakin panjang rantai yang terkontaminasi, kemungkinan semakin besar pula kadar racun
yang tersimpan. Pada banyak kasus lainnya, banyak dari partikel kimiawi ini bereaksi dengan oksigen,
menyebabkan perairan menjadi anoxic. Sebagian besar sumber pencemaran laut berasal dari daratan,
baik tertiup angin, terhanyut maupun melalui tumpahan.

b. Red Tide
Red tide merupakan fenomena alam di laut yang disebabkan oleh keberadaan fitoplankton/algae
yang berlebih. Tetapi istilah ini sering membuat kita keliru karena tidak selalu ledakan populasi fitoplankton
itu berwarna merah (red), bisa juga kuning, hijau, kecokelat-cokelatan, bergantung pigmen yang
terkandung dalam fitoplankton penyebabnya,. dan juga tidak semua jenis fitoplankton itu dapat
menyebabkan kematian. Disamping itu, ledakan populasi ini tidak berkaitan dengan tide alias pasang surut.
Sehingga, di dunia Internasional red tide popular dengan istilah HAB (Harmful Algal Bloom).
Tetapi, pada umumnya yang sering terjadi di lingkungan perairan Indonesia khususnya lingkungan
laut ialah ledakan populasi fitoplankton yang mengandung pigmen merah sehingga menyebabkan warna
laut berubah menjadi merah, dan sering juga disebut dengan red tide. Jenis fitoplankton yang
menyebabkan terjadinya fenomena ini diantaranya, Ptychodiscus brevis, Prorocentrum, Gymnodinium
breve, Alexandrium catenella dan Noctiluca Scintillans dari kelompok Dinoflagellata (Pyrrophyta)
Proses terjadinya red tide ini diawali dengan percambahan (germination) dari kista yang berada di
dasar laut. Hal ini memungkinkan jika nutrisi atau zat hara disekitar perairan melimpah dan sinar matahari
cukup menghangatkan perairan. Akibatnya kista akan pecah dan sel-sel algae di dalamnya akan keluar
menyebar. Sinar matahari akan mempercepat proses pembelahan sel menjadi sejuta kali dalam waktu dua
sampai tiga minggu. Jika algae ini memiliki pigmen warna merah maka limpahan algae yang mengambang
di permukaan laut ini akan mewarnai perairan menjadi merah. Peristiwa inilah yang dinamakan red tide.

Red tide biasanya terjadi pada perairan dangkal atau muara, dimana akibat adanya banjir di muara sungai
menyebabkan arus dasar laut mengaduk dasar perairan yang mengakibatkan kista-kista algae yang
berada di dalam sedimen lumpur ini teraduk dan terangkat ke permukaan dasar laut.

c. Penyebab Terjadinya Red Tide


Penyebab terjadinya red tide ini adalah adanya pencemaran limbah. Bukan hanya limbah industri
tetapi juga limbah rumah tangga dan budidaya pertanian di daerah aliran sungai yang masuk ke laut
termasuk di dalamnya. Pencemaran yang sering terjadi di lingkungan laut ini adalah eutrofikasi atau
meningkatnya jumlah nutrisi yang disebabkan oleh polutan. Nutrisi berlebihan tersebut disebabkan karena
pencemaran limbah.
Pencemaran ini biasanya ditandai dengan meningkatnya pertumbuhan fitoplankton/algae yang
berlebihan dan cenderung cepat membusuk. Efeknya adalah penurunan kadar oksigen serta meningkatnya
kadar toksin yang menyebabkan matinya biota laut, penurunan kualitas air, serta tentunya menganggu

kestabilan populasi organisme laut. Akibat lautan tertutup dengan algae pada saat berlimpah, maka
matahari sulit untuk menembus ke dasar laut dan pada akhirnya menyebabkan berkurangnya kadar
oksigen dalam laut. Selain itu, sebagian algae juga mengandung toksin atau racun yang dapat
menyebabkan matinya ikan dan mengancam kesehatan manusia bahkan menyebabkan kematian apabila
mengkonsumsi ikan yang mati tersebut. Tanpa adanya limbah, sebagai fenomena alam sesungguhnya
meningkatnya pertumbuhan algae ini sangat jarang terjadi. Fitoplankton/algae ini juga dapat menyebar
dengan jauh oleh angin, arus, dan badai. Sehingga, kejadian red tide ini dapat berpindah-pindah lokasi jika
ada angin dan badai yang berhembus, ataupun arus yang membawanya. Selain itu, beberapa faktor yang
mempengaruhi fenomena red tide yaitu termasuk suhu permukaan laut yang hangat, salinitas rendah,
kandungan gizi yang tinggi, dan laut yang tenang. Suhu permukaan laut yang hangat akibat sinar matahari,
serta kandungan gizi dan nutrisi yang melimpah di perairan dapat menyebabkan fitoplankton berkembang
dengan pesat.
2.2 Epidemiologi Red Tide
Kasus red tide telah banyak dilaporkan di Indonesia, misalnya yang terjadi di muara-muara sungai
Teluk Jakarta tahun 1992, 1994, 1997, 2004, 2005, 2006; Ambon tahun 1994 dan 1997; perairan CirebonIndramayu tahun 2006 dan 2007, Selat Bali dan muara sungai di perairan pantai Bali Timur tahun 1994,
1998, 2003, 2007; Nusa Tenggara Timur tahun 1983, 1985, 1989. Meski kerap terjadi, inventarisasi
terjadinya red tide di Indonesia sampai saat ini masih belum terdata dengan baik, termasuk kerugian yang
dialami.
2.3 Dampak Red Tide di Sulawesi Tenggara
Secara umum, dampak dari kejadian Red Tide di Sulawesi Tenggara adalah kerugian secara
ekonomi dikarenakan tangkapan nelayan yang menurun drastis, gagal panen para petambak udang, serta
berkurangnya wisatawan karena pantai menjadi kotor dan bau oleh bangkai ikan. Disamping itu, dengan
adanya kejadian red tide ini juga dapat menyebabkan kematian massal biota laut dan perubahan struktur
komunitas ekosistem perairan.
Kejadian ini sudah terjadi sejak Bulan Mei sampai Bulan Juli 2010 dengan wilayah jatuhnya korban
yang dilaporkan begitu luas meliputi Kabupaten Muna (Kec. Maginti dan Kec. Napabalano), Kabupaten
Buton (Kec. Gu, Lakudo, Pasarwajo dan Lasalimu), Kota Bau-Bau dan sebagian pesisir Buton Utara serta
sudah menimbulkan beberapa orang korban meninggal dunia. Sangat disayangkan bahwa data yang

dioperoleh bersumber dari laporan media-media online karena belum ada data resmi yang dikeluarkan oleh
instansi terkait sehubungan dengan jumlah dan wilayah jatuhnya korban akibat keracunan setelah
mengkonsumsi hewan laut. Jadi kemungkinan wilayah dan jumlah korban lebih luas dan lebih banyak dari
yang terdaftar di bawah ini :
1. Kejadian yang sudah berlangsung sejak Bulan Mei namun baru dilaporkan Tanggal 22
Juni 2010. Lokasi : Desa Moko, Mone, Lolibu dan Wajo Gu. Jumlah Korban : Hampir
semua masyarakat di Desa Moko, Mone, Lolibu dan Wajo Gu dengan korban meninggal 2
orang. Penyebabnya : Setelah makan ikan dan kerang-kerangan yang ditangkap di sekitar
Teluk Lasongko. Gejala yang dialami : mual dan muntah.
2. Kejadian tanggal 18 Juni 2010. Lokasi : Desa Gala Kecamatan Maginti, Muna. Jumlah
Korban : 5 orang dengan kondisi 4 orang berhasil diselamatkan dan 1 orang meninggal
dunia. Penyebabnya : Setelah makan kerang laut yang diambil dari laut. Gejala yang
dialami : Muntah-muntah.
3. Kejadian Tanggal 27 Juni 2010. Lokasi : Kecamatan Mataoleo, Bombana. Jumlah korban :
2 orang dengan kondisi dapat diselamatkan. Penyebabnya : Setelah makan ikan cakalang
hasil tangkapan sendiri. Gejala yang dialami : mual, muntah dan sakit kepala.
4. Kejadian Tanggal 27 Juni 2010. Lokasi : Kota Baubau. Jumlah korban : 6 orang dengan
kondisi selamat. Penyebabnya : Setelah makan siput yang dibeli di pasar wameo. Gejala
yang dialami : kejang pada bagian lidah dan tubuh serta muntah-muntah.
5. Laporan dari Puskesmas Wajo Kota Baubau selama Bulan Juni 2010. Jumlah korban : 20
orang dengan kondisi selamat. Penyebabnya : Setelah mengkonsumsi kerang dan ikan.
Gejalayang dialami : mengalami gejala muntah-muntah, keram dan tingkat kesadaran
menurun.
6. Kejadian yang dilaporkan tanggal 9 Juli 2010. Lokasi : Kelurahan Kadolomoko Kota
Baubau. Jumlah korban : 1 orang dengan kondisi selamat. Gejala yang dialami : keram
dan mual. Penyebabnya : setelah mengkonsumsi ikan.
7. Kejadian Tanggal 11 Juli 2010. Lokasi : Kota Baubau. Jumlah Korban : 5 orang selamat.
Gejala yang dialami : penglihatan kabur, kejang-kejang dan mual-mual. Penyebabnya :
setelah mengkonsumsi ikan dari pasar sehat wameo.
8. Kejadian sekitar Tanggal 16 Juli 2010. Lokasi : Pulau Batu Atas, Kabupaten Buton. Jumlah
: 2 orang meninggal dunia. Gejala yang dialami : tidak dilaporkan. Penyebabnya : setelah
mengkonsumsi ikan.

9. Kejadian Tanggal 19 Juli 2010. Lokasi : Kec. Sampolawa Kab. Buton. Jumlah Korban : 3
orang dengan kondisi selamat. Gejala yang dialami : kondisi tubuh lemas. Penyebabnya :
setelah mengkonsumsi ikan cakalang.
10. Kejadian Tanggal 24 Juli 2010. Lokasi : Desa Lakapera Kec. Gu, Buton. Jumlah Korban : 5
orang dengan kondisi 3 orang selamat dan 2 orang meninggal dunia. Gejala yang dialami :
mual-mual dan buang air terus menerus. Penyebabnya : setelah mengkonsumsi kerang
yang diambil dari Teluk Lasongko.
11. Kejadian yang dilaporkan tanggal 28 Juli 2010. Lokasi : Kec. Lasalimu Kab. Buton. Jumlah
korban : 4 orang dengan kondisi selamat. Gejala yang dialami : tidak dilaporkan.
Penyebabnya : setelah mengkonsumsi ikan dan kerang.
12. Kejadian Tanggal 30 Juli 2010. Lokasi : Kel. Kombeli, Takimpo dan Laburunci, Pasarwajo,
Buton. Jumlah Korban : Kombeli 4 orang, Takimpo 2 orang dan Laburunci 4 orang. Gejala
yang dialami : mual, pusing dan sakit kepala. Penyebabnya : Setelah mengkonsumsi ikan
yang di beli di Pasar Ompu Kelurahan Kombeli.
13. Selama Bulan Juli 2010. Lokasi : Kel. Tampo, Napabalano, Muna. Jumlah Korban : Belum
ada laporan resmi. Gejala yang dialami : muntah-muntah, mual dan pusing.
Penyebabnya : Setelah mengkonsumsi ikan yang ditangkap oleh nelayan.
14. Kejadian yang dilaporkan Tanggal 2 Agustus 2010. Lokasi : Buton Utara. Jumlah Korban :
Beberapa orang. Gejala yang dialami : pusing-pusing, muntah dan mata merah.
Penyebabnya : Setelah mengkonsumsi ikan.
15. Laporan korban dari RSUD Kota Baubau selama Juni-Juli 2010. Jumlah Korban : Juni 13
Orang dan Juli, 23 orang yang mana semuanya selamat. Penyebabnya : keracunan
setelah mengkonsumsi hewan laut jenis ikan dan kerang.
2.4 Penanganan Red Tide di Sulawesi Tenggara
Sayangnya meski terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan, telah menimbulkan banyak
korban (meninggal dunia, trauma dan kerugian material akibat menurunnya tingkat penjualan ikan dan
kerang) dan terjadi dalam wilayah yang luas dalam lingkup Provinsi Sulawesi Tenggara, kasus keracunan
setelah mengkonsumsi hewan laut ini tidak ditangani secara terpadu dan terkesan lambat.
Ketidakterpaduan ditunjukkan oleh tidak adanya koordinasi antar unit kerja dalam satu daerah dan antar
unit kerja satu daerah dengan daerah yang lain yang menangani kelautan, perikanan, kesehatan dan
pencemaran. Padahal waktu kejadian antar daerah yang satu dengan yang lain relatif berdekatan dengan
penyebab dan gejala yang dialami korban keracunan relatif sama yakni disebabkan oleh ikan dan kerang

dengan gejala mual, muntah-muntah dan pusing. Sedangkan kelambanan ditunjukkan oleh adanya
penyelidikan dengan hanya mengirimkan sampel yang diduga mengandung racun ke instansi yang
memiliki peralatan penelitian seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kendari yang kebetulan
mengalami kerusakan pada alat penelitian.
Ketidakterpaduan dan kelambanan penanganan ini tentu dapatberakibat buruk bagi masyarakat
mengingat sifat laut dan biota di dalamnya serta rantai perdagangan hasil laut begitu dinamis dan tidak
mengenal batas-batas administratif sehingga jika memang ada bahan pencemar atau bahan berbahaya
yang berasal dari laut dan biota di dalamnya maka akan mudah berpindah dari satu daerah ke daerah lain
yang kemudian akan dikonsumsi oleh manusia.
Kelambanan dan ketidakterpaduan penanganan kasus keracunan setelah mengkonsumsi hasil
laut dalam lingkup Provinsi Sulawesi Tenggara kemudian berimbas pada sumirnya penyebab utama
dimana hasil laut yang seharusnya aman untuk dikonsumsi menjadi berbahaya bagi manusia. Padahal
informasi tentang penyebab utama ini penting untuk membangun strategi pencegahan dan pengendalian
munculnya kasus serupa di masa mendatang.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Red tide merupakan fenomena alam di laut yang disebabkan oleh keberadaan
fitoplankton/algae yang berlebih. Tetapi istilah ini sering membuat kita keliru karena tidak selalu ledakan
populasi fitoplankton itu berwarna merah (red), bisa juga kuning, hijau, kecokelat-cokelatan, bergantung
pigmen yang terkandung dalam fitoplankton penyebabnya,. dan juga tidak semua jenis fitoplankton itu
dapat menyebabkan kematian. Disamping itu, ledakan populasi ini tidak berkaitan dengan tide alias pasang
surut. Sehingga, di dunia Internasional red tide popular dengan istilah HAB (Harmful Algal Bloom).

Kejadian ini sudah terjadi sejak Bulan Mei sampai Bulan Juli 2010 dengan wilayah jatuhnya korban
yang dilaporkan begitu luas meliputi Kabupaten Muna (Kec. Maginti dan Kec. Napabalano), Kabupaten
Buton (Kec. Gu, Lakudo, Pasarwajo dan Lasalimu), Kota Bau-Bau dan sebagian pesisir Buton Utara serta
sudah menimbulkan beberapa orang korban meninggal dunia. Sangat disayangkan bahwa data yang
dioperoleh bersumber dari laporan media-media online karena belum ada data resmi yang dikeluarkan oleh
instansi terkait sehubungan dengan jumlah dan wilayah jatuhnya korban akibat keracunan setelah
mengkonsumsi hewan laut.
Sayangnya meski terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan, telah menimbulkan banyak
korban (meninggal dunia, trauma dan kerugian material akibat menurunnya tingkat penjualan ikan dan
kerang) dan terjadi dalam wilayah yang luas dalam lingkup Provinsi Sulawesi Tenggara, kasus keracunan
setelah mengkonsumsi hewan laut ini tidak ditangani secara terpadu dan terkesan lambat
3.2 Saran
Seyogyanya instansi-instansi yang menangani urusan laut, ikan, kesehatan dan pencemaran di
Sulawesi Tenggara harus bekerja lebih cepat, terpadu dan terkoordinasi agar masyarakat tidak berlarutlarut dalam kecemasan saat akan mengkonsumsi hasil laut yang merupakan santapan favorit di daerah
Sulawesi Tenggara. Juga untuk menyelamatkan kaum nelayan yang kian terjepit oleh kebutuhan hidup
akibat menurunnya pendapatan setelah merebaknya kasus keracunan.

DAFTAR PUSTAKA
http://selviana-xi-ips-2.blogspot.com/2012/11/red-tide.html
https://musafirtimur.wordpress.com/2010/08/10/meluasnya-keracunan-biota-laut-di-sulawesitenggara-cermin-ketidakterpaduan-dan-kelambanan-penanganan/
Admin. Red Tide; Perubahn warna Air Laut. http: klutuk.co.cc. Tanggal Akses 22 Juni 2010.
Adnan Q. Keracunan Makan Kerang dan Red Tide Suatu Fenomena Alam di Indonesia. Lustrum
VII Fakultas Biologi UGM. Jogjakarta, 1990.

Homepage Departemen Kelautan dan Perikanan, http://www.dkp.go.id. Tanggal Akses 22 Juni


2010.
Homepage http://e450.colorado.edu/realtime/welcome/. Tanggal Akses 22 Juni 2010.
Lubis, S. Teka Teki Sabuk Hitam dan Red Tide di Perairan Indramayu-Cirebon, Dua Gejala
Kelautan yang Sangat Berbeda. Puslitbang Geologi Kelautan. Jakarta, 2009.
Praseno, DP. Studi Red Tide dan Pemantauannya. Ceramah Interen P2O LIPI. Jakarta. 1993
Syamsyudin, F. Red Tide di Teluk Jakarta. Inovasi Online. http://io.ppi-jepang.org. Tanggal Akses
22 Juni 2010.