Anda di halaman 1dari 2

Kebijakan Pajak Internasional: Asas Domisili vs Asas Sumber

Pada tahun 1996, seorang ahli manajemen stratejik dan globalisasi, Keinchi Ohmae menulis
sebuah buku yang sangat terkenal yang berjudul End of the Nation State, yang mengungkapkan
pemikirannya bahwa pada zaman globalisasi ini dan ke depan, batas-batas negara itu menjadi
semakin kabur dan tidak jelas. Hal ini sudah mulai dapat dirasakan sehingga negara-negara juga
harus mempersiapkan perekonomiannya untuk menyambut era borderless world. Pun demikian
dengan peraturan pajak, setiap negara harus mempersiapkan kebijakan pajak internasionalnya agar
dapat ikut mengambil keuntungan dari ketiadaan batas antar negara dalam transaksi ekonomi dan
investasi. Salah satu hal yang menentukan adalah pemilihan asas perpajakan internasional yang akan
diambil. Negara-negara di dunia pada umumnya menjalankan kebijakan pajak internasionalnya
berdasarkan asas sumber atau asas domisili. Setidaknya terdapat tiga masalah yang harus
diperhatikan mengenai perbedaan penggunaan kebijakan tersebut yaitu masalah kriteria pengenaan
pajak, pajak berganda, dan hubungannya dengan investasi asing.
Masalah pertama adalah perbedaan kriteria pengenaan pajak. Pada asas domisili, kriteria
yang dijadikan landasan kewenangan negara untuk mengenakan pajak adalah status subjek yang
akan dikenakan pajak, yaitu apakah yang bersangkutan berstatus sebagai penduduk atau berdomisili
di negara tersebut. Menurut asas ini sumber penghasilan yang menjadi objek pajak tidaklah begitu
penting. Sementara itu, pada asas sumber, yang menjadi landasannya adalah status objeknya, yaitu
apakah objek yang akan dikenakan pajak bersumber dari negara itu atau tidak. Status dari orang
atau badan yang memperoleh atau menerima penghasilan menjadi tidak relevan lagi.
Pada negara yang menganut asas sumber penghasilan yang diperoleh dari sumber-sumber
asing tidak dikenakan pajak di negara domisili, begitu juga pada negara yang menganut asas domisili,
mereka tidak akan mengenakan pajak terhadap investasi yang ditanamkan di luar teritorialnya
walaupun sumbernya berasal dari warga negara mereka. Hal ini menyebabkan ketika investasi atau
transaksi internasional dilakukan antar negara dengan kebijakan pajak yang sama, pajak hanya akan
dikenakan satu kali yaitu di negara sumber atau negara domisili tergantung dari asas yang dianut.
Sebaliknya, ketika terjadi perbedaan kebijakan pajak antara negara asal modal dengan negara
domisilinya, pendapatan yang berasal dari sumber-sumber asing berpotensi menjadi objek dari pajak
negara sumber dan negara domisili. Hal inilah yang disebut pajak berganda.
Perbedaan penggunaan asas pengenaan pajak suatu negara juga akan berimbas terhadap
minat investasi asing di negara tersebut. Imbas terhadap investasi ini erat kaitannya dengan pajak

berganda yang telah dibahas sebelumnya. Investor dari luar negeri akan mempertimbangkan apakah
terdapat upaya pemerintah setempat untuk melakukan penghindaran terhadap pajak berganda
apabila terjadi perbedaan basis pajak dengan negara asal investor tersebut. Selanjutnya investor
akan mengkalkulasikan apakah setelah mendapat fasilitas penghindaran pajak berganda (bisa
berupa insentif atau kredit pajak) pajak bersih yang mereka tanggung akan menjadi lebih besar atau
lebih kecil. Dari situlah kemudian investor asing akan membuat keputusan untuk berinvestasi atau
tidak.
Beberapa hal di atas merupakan hal yang penting untuk dipertimbangkan suatu negara
ketika memilih asas pengenaan pajak dalam pemajakan global. Suatu negara harus benar-benar
memperhitungkan secara matang dalam memilih kebijakan pajak internasionalnya, bisa
menggunakan asas sumber, asas domisili, atau kombinasi antar keduanya, sehingga pemerintah
tidak kehilangan momentum dan kesempatan dalam perekonomian modern yang semakin tanpa
batas.