Anda di halaman 1dari 10

Manajemen Bencana Gunung Meletus dan Kebakaran di Industri

oleh Hesti Munawaroh, 1306378142


Manajemen Bencana Gunung Merapi
Gunung merapi yaitu suatu sistem saluran fluida panas. Saluran ini dapat
mengeluarkan batuan cair ke permukaan bumi. Letusan dari gunung merapi ini terjadi
apabila terdapat peningkatan tekanan dari gas dalam batuan cair. Beberapa erupsi yang
terjadi, relatif tenang atau tidak terdeteksi hingga kemudian mengalirkan lava yang
menjalar melintasi daratan 2 hingga 10 mil/jam. Sementara explosive eruption (erupsi yang
membawa ledakan), dapat menembakan gas termasuk fragmen batuan puluhan kilometer
ke atmosfer dan menyebarkan ratusan mil abu yang melawan arah angin. Ledakan lateral
bahkan dapat meratakan pohon. Lava yang mengalir memiliki beberapa karakteristik
diantaranya panas, beberapa beracun, dan gas dapat mengalir menuruni sisi dari gunung
berapi.
Aliran lava ialah aliran batuan cair yang mengalir dari celah/ventilasi secara diamdiam melalui tabung lava. Akibat tingginya intensitas panas dari lava ini, maka bahaya
kebakaran besar bisa saja terjadi. Aliran lava dapat menghancurkan segala sesuatu yang
mereka lewati, namun aliran ini bergerak cukup lambat sehingga memungkinkan manusia
untuk menyelamatkan diri.
Kandungan yang terdapat di abu vulkanik, tidak secara langsung membawa bahaya
untuk mayoritas orang dewasa, namun kombinasi gas dan abu asam yang terkandung di
dalamnya dapat menimbulkan kerusakan untuk paru-paru bayi yang ukurannya masih
kecil. Selain itu, abu vulkanik pun dapat membawa bahaya untuk lansia ataupun mereka
yang menderita penyakit pernapasan parah. Lebih jauh lagi, abu vulkanik juga
menyebabkan kerusakan mesin, termasuk mesin dan perlatan listrik. Abu yang bercampur
dengan air dapat menjadi sebuah massa yang berat dan dapat meruntuhkan atap.
Erupsi vulkanik dapat diiringi dengan bencana alam lainnya seperti gempa bumi,
lumpur, banjir bandang, tanah longsor, hujan asam, dan tsunami. Gunung berapi aktif di
AS ditemukan terutama di Hawaii, Alaska, dan Pacific Northwest.
Rencana Tindakan pada Setiap Fase Bencana

Pra Bencana
1. Buat rencana evakuasi

Jika kita tinggal di daerah yang mendapatkan paparan bahaya gunung


berapi, rencanakan konsep rute dan siapkan rute cadangan.
2. Kembangkan perencanaan bencana di tingkat rumah tangga/keluarga
Seringkali, selama erupsi gunung berapi terjadi, suatu keluarga terpisah
oleh jarak (kemungkinan yang paling nyata adalah saat pagi hari dimana orang
tua bekerja dan anak bersekolah). Buat suatu rencana dimana ketika suatu
bencana mungkin terjadi, keluarga dapat tetap bersama-sama dan saling
melindungi satu sama lain. Minta sanak saudara ataupun teman yang memang
tinggal di luar kota untuk menjadi household contact atau contact person dari
keluarga kita, karena pasca bencana mungkin saja akan ada seseorang yang
memiliki kepentingan dengan keluarga kita. Pastikan bahwa semua orang
mengetahui nama, alamat, dan nomor telepon dari sanak saudara tersebut.
3. Rakit peralatan atau hal-hal lain sebagai bentuk persediaan menghadapi
bencana
4. Usahakan setiap anggota keluarga memiliki kacamata pelindung (goggle) dan
masker khusus yang dapat digunakan ketika hujan abu terjadi
5. Jangan mendatangi gunung berapi yang masih dalam status aktif kecuali ada
pejabat yang menetapkan dan menujukkan area yang aman untuk didatangi.

Saat Bencana
1. Jika posisi kita memang dekat dengan gunung berapi, segera evakuasi dan
menjauh dari gunung berapi untuk menghindari puing-puing yang beterbangan,
gas panas, dan aliran lava.
2. Untuk menghindari abu vulkanik, hindari daerah melawan arah angin dari
gunung berapi.
3. Waspada dengan lumpur atau semburan lumpur yang mungkin terjadi.
Semburan lumpur biasanya ada di dekat saluran sungai maupun turunan ketika
kita bergerak menjauh dari saluran sungai menuju tempat yang lebih tinggi.
Bahaya lumpur dapat meningkat seiring hujan lebat berkepanjangan. Lumpur
dapat bergerak melebihi kecepatan kita dalam berjalan/berlari. Hindari pula
lembah sungai dan daerah dataran rendah.
4. Tetaplah menetap di rumah hingga hujan abu vulkanik benar-benar berhenti
kecuali ada bahaya atap runtuh
5. Selama hujan abu terjadi di daerah sekitar tempat tinggal kita, tutup pintu,
jendela, dan semua ventilasi di rumah

6. Jangan mengemudi saat hujan abu masih terjadi kecuali benar-benar mendesak.
Apabila kita berkendara di tengah lebatnya hujan abu, maka jaga agar
kecepatan tetap berada di bawah 35 mph
7. Bersihkan halaman, atap, ataupun talang hujan dari abu-abu besar
8. Secara umum abu vulkanik tidak terlalu membawa dampak buruk bagi
kesehatan, namun partikel-partikel yang ada dalam abu dapat menyebabkan
cedera parah pada saluran pernapasan, merusak mata, menyebabkan luka dan
menyebabkan iritasi. Dalam upaya menghindari dampak buruk tersebut, kita
dapat melakukan:
- Mengenakan kemeja lengan panjang dan celana panjang
- Gunakan kacamata bukan lensa kontak
- Gunakan masker penghalang debu dan pegang kain basah untuk menutup
hidung untuk menjaga pernapasan
9. Jangan mengendarai mobil ataupun truk mesin. Abu vulkanik dapat menyumbat
mesin kendaraan. Bagian yang bergerak pun dapat rusak akibat abrasi, termasuk
pula bantalan, rem, dan transmisi

Pasca Bencana
1. Jauhi daerah yang berpotensi terjadi hujan abu. Namun jika memang kita berada
disana, lindungi mulut dan hidung dengan masker, gunakan baju tertutup dan
kacamata
2. Bersihkan atap dari hujanan abu karena abu-abu tersebut dapat memberatkan dan
membuat xatap runtuh. Hati-hati juga ketika membersihkan atap
3. Jangan melewati hujan abu ketika berkendara karena dapat menyumbat mesin
filter udara
4. Jika memiliki penyakit pernapasan maka tetaplah di rumah hingga petugas
kesehatan setempat menetapkan bahwa daerah di luar sudah aman.

Manajemen Bencana Kebakaran di Industri


Kebakaran merupakan hal yang sangat tidak diinginkan, tidak mengenal waktu,
tempat atau siapapun yang menjadi korbannya. Masalah kebakaran disana-sini masih banyak
terjadi. Hal ini menunjukkan betapa perlunya kewaspadaan pencegahan terhadap kebakaran
perlu ditingkatkan. Kebakaran di suatu industri salah satu hal yang sangat tidak diinginkan.
Bagi tenaga kerja, kebakaran perusahaan dapat merupakan penderitaan dan malapetaka
khususnya terhadap mereka yang tertimpa kecelakaan dan dapat berakibat kehilangan
pekerjaan, sekalipun mereka tidak menderita cidera.
Pengertian kebakaran yaitu reaksi kimia yang berlangsung dengan cepat disertai
pancaran panas dan sinar. Kebakaran juga diartikan sebagai proses penyalaan api yang dapat

terjadi dimanapun dan kapanpun dan didukung oleh ketersediaan material sebagai bahan
bakar (Wahyudi, 2004). Pada saat terjadi kebakaran, api dapat menyebar secara cepat, maka
tidak ada waktu untuk mengumpulkan barang-barang berharga atau membuat panggilan
telepon. Hanya dalam waktu sekejap (kira-kira 2 menit) sudah dapat mengancam kehidupan.
Dalam lima menit api dapat menghancurkan tempat tinggal. Panas dan asap dari api bisa
lebih berbahaya daripada api. Api menghasilkan gas beracun yang membuat bingung dan
mengantuk. Bukannya dibangunkan oleh api, mungkin saja korban dapat jatuh ke dalam tidur
yang lebih dalam (FEMA, 2001).
Manajemen bencana pada kebakaran di industri, dapat dilakukan dengan melakukan:
1. Fase Pencegahan
Pencegahan di kebakaran yaitu segala usaha atau tindakan secara terencana untuk
mencegah dan meniadakan kemungkinan timbulnya kebakaran. Karena itu pencegahan
kebakaran dan pemadaman dalam tahap awal penyalaan sangat penting untuk dilakukan,
baik dengan jalan meningkatkan ilmu pengetahuan maupun ketrampilan khususnya
tentang kebakaran (Sulaksmono, 1997, dalam Putra 2010). Berikut ini merupakan fase
pencegahan sebelum terjadinya kebakaran:
a. Perencanaan darurat kebakaran
Pencegahan kebakaran dimulai saat perencanaan perusahaan dan pengaturan
proses produksi. Hal terpenting dalam perencanaan yaitu tidak meluasnya kebakaran
yang terjadi dan dipastikan untuk penanggulangan kebakaran yang efektif. Berikut ini
merupakan hal-hal yang harus diperhatikan untuk mencegah terjadinya kebakaran
menurut FEMA (2001):
1. Pasang alarm asap untuk kebakaran. Alarm kebakaran yang bekerja dengan baik,
dapat mengurangi peluang korban yang mati dalam api.
Pasang alarm di setiap lantai rumah: di luar kamar tidur di langit-langit atau di
dinding atas
Cek dan bersihkan alarm sekali sebulan dan ganti baterainya setiap 1 tahun, dan
ganti alarm setiap 10 tahun.
2. Susun 2 rute untuk keluar dari setiap ruangan, kemudian cobalah untuk berlatih.
Pastikan bahwa jendela dapat dibuka dengan mudah dari dalam, dan pastikan
keamanannya
Pertimbangkan ketika keluar dengan menggunakan tangga jika rumah terdiri lebih
dari 1 lantai
Ajarkan pada anggota keluarga agar tetap di lantai paling bawah

Tentukan tempat di luar rumah/gedung untuk bertemu setelah keluar dari rumah/
gedung.
3. Bersihkan area penyimpanan. Jangan biarkan sampah seperti koran bekas atau
majalah menumpuk.
4. Periksa kabel listrik
Outlet harus memiliki plat penutup dan tidak terkena kabel
Periksa kawat yang robek pada kabel dan pencolokkan kabel pada stop kontak
terlalu longgar
Periksa kabel sambungan yang robek
Pastikan kabel tidak berada di bawah karpet atau area yang sering dilalui orang
Gunakan stop kontak kaki 3 sesuai lubang yang tersedia, jangan biarkan menumpuk,
karena akan menimbulkan percikan dan sirkuit pendek
5. Jangan menggunakan bensin, nafta, atau cairan yang mudah terbakar di dalam
ruangan.
Simpan cairan yang mudah terbakar dalam wadah yang aman
Jangan merokok di dekat benda yang mudah terbakar
6. Periksa benda pemanas seperti tungku. Banyak kebakaran yang dipicu oleh tungku
yang rusak atau karena berkarat.
7. Periksa keadaan cerobong asap setiap tahun. Cerobong asap setidaknya harus tiga
kaki lebih tinggi dari atap.
8. Berhati-hatilah ketika menggunakan sumber pemanas alternatif, seperti batu bara,

9.

minyak tanah, dan pemanas listrik.


Tempat pemanas sebaiknya jauh dari bahan yang mudah terbakar
Gunakan jenis bahan bakar yang diinstruksikan oleh pabrik
Jauhkan api yang sedang menyala dari furniture atau barang yang mudah terbakar.
Ketahui lokasi katup gas dan sekering listrik serta cara mematikannya ketika

keadaan darurat
10. Pasang pemadam api tipe A-B-C dan ajarkan setiap isi gedung bagaimana untuk
menggunakannya (A=untuk kayu atau kertas, B=cairan yang mudah terbakar,
C=listrik)
11. Pertimbangkan untuk menginstal sistem sprinkler otomatis
12. Tanyakan pemadam kebakaran lokal untuk memeriksa sistem keamanan di rumah
13. Ajarkan karyawan bagaimana dan kapan ia harus menghubungi 113
erkait.
b. Jalur/Tempat Evakuasi
Secara ideal, semua bangunan harus memiliki sekurang-kurangnya dua jalan
penyelamat diri pada dua arah yang bertentangan terhadap setiap kebakaran yang
terjadi pada sembarangan tempat dalam bangunan tersebut, sehingga tak seorangpun
bergerak ke arah api untuk menyelamatkan diri. Jalan-jalan penyelamatan demikian

harus dipelihara bersih, tidak terhalang oleh barang-barang, mudah terlihat dan diberi
tanda tanda yang jelas. (Sumamur, 1996 dalam Putra 2010).
c. Fasilitas dan Peralatan Dalam Kebakaran
a. Sarana Komunikasi
Sarana komunikasi yang perlu dipersiapkan antara lain: alarm, radio panggil,
telepon genggam dengan satuan khusus dan lain-lain (Syukri Sahab, 1997).
b. Alat pelindung diri
Alat pelindung diri harus ditempatkan di lokasi yang strategis bagi tim
emergency, tergantung pada bahan kimia yang ada tempat kerja sesuai dengan jenis
kecelakaannya. Alat pelindung meliputi alat bantu pernafasan dan saluran oksigen,
baju tahan bahan kimia dan tahan api, sarung tangan tahan api, sepatu boot. Alat
pilindung tersebut selalu diperiksa dan di uji coba secara rutin sehingga dapat pada
saat dibutuhkan selalu siap
c. Peralatan Pemadam Kebakaran
Peralatan pemadam kebakaran seperti fire extinguiser (Alat Pemadam Api
Ringan/APAR), hidran, sprinkler (alat pemercik), dan lain sebagainya harus tersedia
di seluruh bagian pabrik dan harus dicek secara teratur (Kuhre, 1996 dalam Putra
2010). Setiap satu atau kelompok alat pemadam api ringan harus ditempatkan pada
posisi yang mudah dilihat dengan jelas, mudah dicapai dan diambil serta di lengkapi
dengan pemberian tanda pemasangan. Penempatan harus sesuai dengan jenis dan
penggolongan kebakarannya serta pemasangan antara alat pemadam api yang satu
dengan lainnya atau kelompok satu dengan lainnya tidak boleh melebihi 15 meter,
kecuali

telah

ditetapkan

pegawai

pengawas

atau

ahli

keselamatan

kerja

(Permenakertrans No: Per-04/Men/1980 dalam Putra 2010).


d. Peralatan medis
Tim emergency harus dilengkapi dengan peralatan medik untuk pertolongan
darurat seperti oksigen, alat resusitasi jantung dan paru, pembalut dan obat-obatan
(Syukri Sahab, 1997 dalam Putra 2010).
e. Alat transportasi
Alat transportasi dibutuhkan untuk memindahkan pekerja keluar dari lokasi,
mengangkut bantuan yang diperlukan dan membawa korban yang ada. Untuk itu
ambulans, mobil, bus, truk dan lain-lain harus tersedia untuk keperluan evakuasi.
(Kuhre,1996 dalam Putra 2010).
e. Pembinaan dan Pelatihan

Petugas pemadam kebakaran tidak dipilih atas dasar pengalaman semata,


melainkan dibentuk dan dibina melalui program latihan yang meliputi pendidikan
teori, latihan jasmani, praktek tentang dan pengalaman-pengalaman yang benar-benar
di dapat dari pemadaman kebakaran. Maka percobaan sebaiknya diadakan, agar
seseorang diberi kesempatan untuk memperlihatkan kesanggupannya dan untuk
mengambil keputusan secara tepat tentang pekerjaan yang dipilihnya.
Pelatihan tersebut meliputi :
1) Praktek ikat-mengikat dengan tali untuk kegiatan pemadaman kebakaran.
2) Penggunaan alat-alat dan perlengkapan dinas pemadam kebakaran.
3) Perawatan,

penyimpanan

dan

pencegahan

kerusakan

slang-slang

untuk

pemadaman kebakaran.
4) Pengenalan cara-cara pemadaman kebakaran dan pemilihan secara tepat caracara
yang harus dipakai.
5) Pengenalan dan praktek untuk mendapatkan sumber air untuk pemadaman
kebakaran.
6) Pengenalan dan praktek memasuki dbangunan secara paksa seta pengetahuan
tentang tingkat efektifnya.
7) Praktek tentang tata cara pemadaman kebakaran yang bersifat rutin dan standar
8) Latihan menghadapi asap, agar pada saatnya bisa tabah menghadapi api dan asap
serta tahu pasti sifat pekerjaan yang dipilihnya.
9) Praktek upaya-upaya untuk terjaminnya ventilasi dan penyelamatan korban.
10)

Praktek tentang cara-cara pemadaman kebakaran yang menyebabkan

sesedikit-sedikitnya kerusakan harta benda.

2.

11)

Latihan tentang P3K.

12)

Praktek penggunaan alat proteksi diri untuk perlindungan pernafasan

Respon terhadap Bencana


Mekanisme penanganan atau penanggulangan kebakaran yang diantaranya di bagi
dalam beberapa, yaitu:
a. Sistem tanda kebakaran dalam perusahaan
Sistem pendukung keselamatan dalam kebakaran harus terpasang seperti alat
deteksi dan alarm untuk kebocoran gas dan kebakaran, sprinkler (alat pemercik),
hidran, penyemprot air instalasi tetap (fixed monitor) dan lain-lain. Sistem tanda

bahaya kebakaran harus bekerja dengan baik dan memberikan tanda secara tepat
tentang terjadinya kebakaran. Adapun dua jenis sistem tanda kebakaran di antaranya :

Sistem tak otomatis yang memungkinkan seseorang menyatakan tanda-tanda


bahaya dengan segera dengan memijit atau menekan tombol dengan tangan.

Sistem otomatis yang dapat menemukan/mendeteksi kebakaran dan kemudian


memberikan tanda peringatan denagan sendirinya tanpa di kendalikan oleh orang.

b. Pemadaman Api
Teknikteknik cara pemadaman api berdasarkan pembagian/penggolongan api
dapat dibagi menjadi (FEMA,2001):
1) Api kelas A:
Asal: kayu, pakaian, kertas, dan bahan-bahan yang dipak
Cara: menggunakan air atau plastik jika jauh dari sumber listrik.
2) Api kelas B:
Asal: cairan yang mudah terbakar seperti: petrol, minyak tanah, minyak pelumas,
cat, tinner, alkohol maupun bensin.
Cara: menggunakan alat pemadam CO2 atau dengan penekanan api untuk
mengeluarkaan oksigen.
3) Api kelas C
Asal: peralatan listrik seperti: motor listrik, generator, kabel-kabel, saklar, dan
peralatan elektronik.
Cara: tutup sumber kebakaran sewaktu api masih kecil, penekanan dan
penyelimutan api untuk mengeluarkan oksigen, gunakan alat pemadam kebakaran
yang berjenis BCF (Bromochlorodiflouromethan), dry chemical dan CO2.
c. Evakuasi Korban dan Lokalisir Tempat.
Ketika api sudah berkobar lebih besar, hendaknya kita putuskan arus listrik
untuk menyelamatkan diri, agar proses evakuasi korban kebakaran dapat lebih efektif.
Sebaiknya cepat meninggalkan tempat kebakaran secepat mungkin(Buchori, 2007,
dalam Putra 2010).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyelamatkan diri waktu terjadi
kebakaran adalah (FEMA, 2001):
1. Gunakan air atau alat pemadam kebakaran untuk memadamkan api yang kecil.
Jangan mencoba untuk memadamkan api yang tidak bisa dikendalikan. Jika tidak
yakin dapat mengendalikan api, beritahukan semua orang untuk keluar dari
gedung dan telepon pemadam kebakaran
2. Jangan gunakan air pada api listrik. Hanya gunakan alat pemadam kebakaran
yang direkomendasikan untuk kebakaran listrik

3. Jika pakaian anda terbakar, diam, tiduran di lantai, dan kemudian bergulinglah
hingga api padam. Jangan berlari, karena itu hanya akan membuat api menjadi
semakin besar.
4. Jika melarikan diri melalui pintu yang ditutup, gunakan punggung tangan untuk
merasakan bagian atas pintu, kenop pintu, dan celah antara pintu dengan kusen.
Jika pintu tidak panas, buka perlahan-lahan dan pastikan bahwa api atau asap
tidak menutupi jalan untuk keluar. Jika jalan keluar tertutup oleh api, gunakan
jalan alternatif seperti jendela. Bersiaplah untuk merangkak, asap dan panas
akan naik ke atas sedangkan udara dingin berada di dekat lantai
Jika pintu hangat/ panas dan tidak dapat dibuka, gunakan jendela untuk
melarikan diri. Jika anda tidak dapat keluar melalui jendela, gantungkan benda
berwarna putih atau terang

ke luar jendela sehingga petugas pemadam

kebakaran dapat melihat keberadaan anda.


5. Jika harus keluar dengan melewati asap, usahakan untuk merangkak di lantai
karena asap dan gas beracun akan menempel di langit-langit
6. Tutup pintu saat anda berhasil keluar untuk menghindari api menyebar lebih jauh.
7. Saat anda sudah di luar gedung, segera hubungi 113
3. Fase Setelah Terjadinya Bencana
Berikut ini merupakan fase yang dapat dilakukan setelah bencana (FEMA, 2001):
1. Berikan pertolongan pertama pada orang yang membutuhkan, setelah menghubungi
nomor panggilan darurat seperti 113
2. Jangan masuk ke dalam bangunan yang terbakar kecuali

petugas

pemadam

kebakaran yang menyatakan bahwa tempat tersebut aman.


3. Jika anda harus masuk ke dalam bangunan rusak yang telah terbakar, berhati-hatilah
dengan api dan juga asap
4. Periksa listrik jika hendak menghidupkannya
5. Jangan mencoba untuk menyambung kembali setiap peralatan elektronik sendiri,
mintalah bantuan pihak yang sudah ahli
6. Waspadalah terhadap atap ataupun lantai yang rusak atau retak
7. Hubungin bantuan bencana lokal seperti PMI di daerah anda
8. Hubungi perusahaan asuransi anda
9. Jika anda adalah penyewa, hubungi pemiliknya.
10. Amankan barang-barang pribadi ke tempat lain yang lebih aman
11. Buang makanan, minuman, obat-obatan yang telah terkena panas api.
12. Jika anda memiliki kotak yang kuat, jangan mencoba untuk membukanya karena
kotak tersebut dapat menahan panas selama beberapa jam
13. Jika inspektur bangunan mengatakan bahwa bangunan anda sudah tidak aman maka
harus ditinggalkan:
Mintalah bantuan polisi untuk mengawasi barang-barang anda ketika ada tidak disana

Periksalah pobat-obatan, perhiasan, kartu kredit, asuransi dan catatan keuangan anda
Beritahu teman, kerabat, polisi dan pemadam kebakaran, agen asuransi mengenai
keberadaan anda
Kemudian lakukan investigasi dan analisis. Investigasi kecelakaan merupakan
suatu kegiatan inspeksi tempat kerja secara khusus, yang dilakukan setelah terjadinya
peristiwa kecelakaan atau insiden yang menimbulkan penderitaan kepada manusia serta
mengakibatkan kerugian dan kerusakan terhadap property atau harta benda dan aset
perusahaan lainnya. Analisis timbulnya kebakaran bertujuan untuk mengenali atau
mengidentifikasi dan mencatat sumber-sumber bahaya kebakaran yang ada pada setiap
tahapan proses kerja. Dari identifikasi potensi bahaya ini, akan dapat diketahui berbagai
jenis potensi bahaya yang mungkin timbul dan berisiko terjadinya kebakaran (Lena
Kurniawati, 2009 dalam Putra 2010). Lalu berdasarkan hasil investigasi dan analisis
tersebut, rekomendasikan hasil pengamatan tersebut kepada badan terkait dalam
penanggulangan kebakaran sehingga kejadian kebakaran tidak akan terulang untuk yang
kedua kalinya.
Daftar Pustaka
FEMA. (2001). Are You Ready? An In-depth Guide to Citizen Preparedness. Washington
D.C.: FEMA. P. 28-70.
Panindrus, RM, Yodan Amaral & Lestari, Fatma.(2006).

Audit Sarana Prasarana

Pencegahan Penanggulangan Dan Tanggap Darurat Kebakaran Di Gedung Fakultas


X

Universitas

Indonesia

Tahun

2006.

Diunduh

dari

http://journal.ui.ac.id/index.php/technology/article/viewFile/524/520 pada tanggal 07


April 2015.
Putra, Bramastya Kharisma.(2010). Pencegahan Dan Penanggulangan Kebakaran Di
Pt.Inka

(Persero)

Madiun

Jawa

Timur

Diunduh

dari

http://eprints.uns.ac.id/9658/1/157652408201010411.pdf pada tanggal 07 April 2015.


Wahyudi, A.(2004). Identifikasi Tingkat Resiko Kebakaran Menggunakan SIG (Studi Kasus:
Kota Bandung). Tugas Akhir Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Sekolah
Arsitektur dan Perencanaan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung.