Anda di halaman 1dari 6

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keluarga merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam
kehidupan. Keluarga menjadi tempat pertama seseorang memulai kehidupannya.
Keluarga membentuk suatu hubungan yang sangat erat antara ayah, ibu, maupun
anak. Hubungan tersebut terjadi dimana antar anggota keluarga saling
berinteraksi. Interaksi tersebut menjadikan suatu keakraban yang terjalin di dalam
keluarga, dalam keadaan yang normal maka lingkungan yang pertama yang
berhubungan dengan anak adalah orang tuanya, saudara-saudaranya serta
mungkin kerabat dekatnya yang tinggal serumah. Melalui lingkungan itulah anak
mulai mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan hidup yang berlaku seharihari, melalui lingkungan itulah anak mengalamiproses sosialisasi awal (Soerjono,
2004).
Keluarga sebagai institusi sosial terkecil, merupakan fondasi dan investasi
awal untuk membangun kehidupan sosial dan kehidupan bermasyarakat secara
luas menjadi lebih baik. Sebab di dalam keluarga internalisasi nilai-nilai dan
norma-norma sosial jauh lebih efektif dilakukan dari pada melalui institusi
lainnya di luar lembaga keluarga. Peran aktif orang tua terhadap perkembangan
anak sangat diperlukan terutama pada saat mereka masih berada dibawah usia
lima tahun. Seorang bayi yang baru lahir sangat tergantung dengan lingkungan
terdekatnya, yaitu keluarga khususnya orang tua ayah dan ibunya (Diana, 2010).

Penyakit skabies adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh


sarcoptes scabei varian homini, Penyakit ini dikenal juga dengan nama the itch,
gudik atau gatal agogo (Harahap, 2000).
Saat ini Badan Dunia menganggap penyakit skabies sebagai pengganggu
dan perusak kesehatan yang tidak dapat dianggap lagi hanya sekedar penyakitnya
orang miskin karena penyakit skabies masa kini telah merebak menjadi penyakit
kosmopolit yang menyerang semua tingkat sosial (Agoes, 2009).
Penyakit skabies tersebar luas di seluruh dunia terutama pada daerahdaerah yang erat skali kaitannya dengan lahan kritis. Sebanyak 300 juta orang
pertahun di dunia dilaporkan terserang skabies (WHO 2009).
Menurut Diyas (2011) skabies juga di temukan pada semua negara dengan
prevalensi yang berpariasi. Dibeberapa negara yang sedang berkembang
prevalensi penyakit skabies sekitar 6-27% dari populasi umum dan cendrung
tinggi pada anak-anak dan remaja.
Menurut Departemen Kesehatan RI prevalensi skabies di Indonesia
sebesar 4,60-12,95% dan skabies menduduki urutan ketiga dari 12 penyakit kulit
tersering (Agoes, 2009).
Meski sekarang sudah sangat jarang dan sulit ditemukan laporan
terbaru tentang kasus skabies diberbagai media di Indonesia (terlepas
dari faktor penyebabnya), namun tak dapat dipungkiri bahwa penyakit
kulit ini masih merupakan salah satu penyakit yang sangat mengganggu
aktivitas hidup dan kerja sehari-hari (Handoko. 2007).
Berdasarkan data yang di peroleh dari puskesmas rensing dalam 3 (tiga)
tahun terakhir (2012-2014), secara umum penderita skabies yang datang
berobat pada tahun 2012 dengan jumlah 15 orang, dan dimana tercatat pada

umur 8-17 tahun terdapat kasus pada laki-laki sebanyak 11 orang (73%) dan
wanita sebanyak 4 orang (27%), pada tahun 2013 terjadi penurunan dengan
jumlah 12 orang tercatat pada umur 8-17 tahun keatas terdapat kasus pada laki
laki sebanyak 10 orang ( 83% ) dan wanita sebanyak 2 orang (17%), dan pada
tahun 2014 terjadi kesamaan dengan Tahun 2013 dengan jumlah penderita
sebanyak 12 orang, tercatat pada umur 8-17 tahun keatas terdapat kasus pada
laki-laki sebanyak 11 orang ( 92% ) dan wanita sebanyak 1 orang (8%). ( Data
Puskesmas Rensing 2012-2014 ).
Banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain
sosial-ekonomi yang rendah, hygine yang buruk, hubungan seksual dengan
berganti-ganti pasangan, perkembangan dermografis serta ekologis (Loetfia,
2007)
Skabies sangat mengganggu dalam kehidupan sehari-hari. Kebersihan
merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan, menjaga kebersihan
tubuh sangat penting untuk mencegah infestasi parasit. Sebaiknya mandi 2 kali
sehari, menghindari kontak langsung dengan penderita mengingat parasit mudah
menular pada kulit (Notoatmodjo, 2000).
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian mengenai Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan Salah Satu Angota
Keluarga Menderita Skabies dalam bentuk Proposal Karya Tulis Ilmiah untuk
mengetahui lebih jauh tentang penyakit ini serta mengetahui secara lansung
kebutuhan manusia seutuhnya melalui pelayanan kesehatan utama, baik individu,
keluarga, kelompok, dan masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian tersebut diatas maka permasalahan yang dapat di rumuskan
sebagai berikut : Bagaimana Penerapan Asuhan Keperawatan Keluarga
Dengan Salah Satu Anggota Keluarga Menderita Skabies di Wilayah Kerja
PKM Rensing Kabupaten Lombok Timur?.
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penulisan Asuhan Keperawatan Keluarga ini adalah
penulis dapat menerapkan Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan Salah
Satu Anggota Keluarga Menderita Skabies di Wilayah Kerja PKM Rensing
Kabupaten Lombok Timur.
1.3.2 Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penulisan Asuhan Keperawatan Keluarga adalah
:
Penulis mampu :
a. Memahami konsep dasar penyakit skabies dan asuhan keperawatan
b.

keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita skabies.


Melakukan pengkajian yang baik dan benar pada keluarga yang salah

c.

satu anggota keluarga mendesita skabies.


Merumuskan diagnosa keperawatan yang tepat pada keluarga dengan

d.

salah satu anggota keluarga menderita skabies.


Menyusun rencana tindakan keperawatan sesuai diagnosa keperawatan

e.

pada keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita skabies.


Melaksanakan tindakan keperawatan pada keluarga dengan salah satu

f.

anggota keluarga menderita skabies.


Melakukan evaluasi keperawatan pada keluarga dengan salah satu
anggota keluarga menderita skabies.

g.

Mendokumentasikan asuhan keperawatan keluarga yang salah satu


anggota keluarga menderita skabies dalam bentuk Karya Tulis Ilmiah.

1.4 Manfaat Penulisan


1.4.1 Manfaat Bagi Mahasiswa
Meningkatkan pengetahuan mahasiswa dalam penerapan asuhan
keperawatan khususnya pasien dengan diagnosa medis skabies.
1.4.2 Manfaat Bagi Pendidikan
Dapat di jadikan sebagai kajian pustaka dan pengembangan ilmu
keperawatan khususnya bidang keperawatan Keluarga dan Komunitas.
1.4.3 Manfaat Bagi Lahan Praktik dan Masyarakat
Sebagai bahan masukan dalam penerapan asuhan keperawatan
dan sebagai penambah pengetahuan bagi masyarakat khususnya pada
keluarga dengan diagnosa medis skabies.
1.4.4 Manfaat Bagi Pasien
Meningkatkan

pengetahuan

pasien

dalam

perawatan

dan

pencegahan khususnya penyakit skabies.

1.5 Sistematika Penulisan


Agar lebih mudah memahami isi Proposal Karya Tulis Ilmiah ini, maka
penulias membagi penyusunan Proposal Karya Tulis Ilmiah, dengan penyusunan
dalam 2 bab yang saling berkaitan satu sama lain yaitu :
Bab 1 adalah Pendahuluan, berisi tentang latar belakang masalah,
rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, tempat dan waktu serta
sistematika penulisan.
Bab 2 adalah Tinjauan Teori yang menguraikan tentang konsep dasar
keluarga, konsep dasar penyakit skabies dan konsep asuhan keperawatan keluarga

dengan salahsatu anggota keluarga menderita skabies, Mulai dari pengkajian,


diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi keperawatan.