Anda di halaman 1dari 34

PRESENTASI KASUS

EPENDYMOMAS
Pembimbing:

dr. Ahmad Faisol, Sp. Rad


oleh:
Nurul Anisa
20090310081

IDENTITAS

Nama
:
Usia
:
Jenis kelamin :
Pekerjaan
:
Alamat
:
Sleman
No. RM
:

Ny. W
43 tahun
Perempuan
Karyawan pabrik tekstil
Sumberarum, Moyudan,
075217

ANAMNESIS
Keluhan Utama :
nyeri kepala
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang ke IGD RS PKU Muhammadiyah II
Yogyakarta dengan keluhan nyeri kepala hebat dan
muntah proyektil. Pasien mengatakan nyeri kepala
dirasa sering muncul sejak 4 bulan SMRS tetapi
selalu disangka hanya karena kelelahan saat
bekerja. Keluhan dirasa memburuk selama 2
minggu ini bahkan muncul saat tidak kelelahan.
Setiap kambuh, awalnya pasien merasa ruangan
sering seperti berputar kemudian kepala terasa
cekot-cekot. Cekot-cekot terasa terus menerus dan
di seluruh bagian kepala.
Saat masuk Rumah Sakit, pasien mengeluh nyeri
kepala hebat dan juga muntah menyembur. Pasien
juga merasa kedua kakinya terasa lemah untuk
berjalan sehingga harus dibantu ketika berjalan.

Sejak 4 bulan ini pasien sering mengkonsumsi obat


warung ketika nyeri kepalanya kambuh, tetapi keluhan
sering muncul kembali. Dua minggu SMRS pasien
sudah periksa ke RS A, disarankan untuk melakukan CT
scan kepala namun baru dilakukan setelah pasien
masuk RS PKU Muhammadiyah II. Riwayat penurunan
kesadaran (+) beberapa hari SMRS, jatuh (-), trauma (-),
kejang (-), demam (-).

Riwayat Penyakit Dahulu:


Riwayat HT, DM, stroke, jantung, alergi disangkal
Riwayat adanya tumor atau keganasan sebelumnya
disangkal
Riwayat penyakit keluarga:
Tidak ada anggota keluarga yang mengeluhkan
keluhan serupa.
Tidak ada keluarga yang menderita hipertensi maupun
stroke.
Riwayat Personal Sosial:
Pasien sering makan makanan berlemak dan jarang
berolahraga

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum: Tampak lemah
Kesadaran
: Compos Mentis
Vital Sign :

TD
: 130/80 mmHg
T: afebris
RR
: 24x/ menit
Nadi
: 90x/ menit

Kepala
Mata: konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-

Leher : pembesaran KGB Thorax : SDV +/+, rhonki -/- wheezing -/-, S1S2
regular, cardiomegali (-)
Abdomen : bising usus + normal, nyeri tekan -

Kanan

Kiri

Nervus I olfactorius

Nervus II optikus

Nervus III okulomotor

Nervus IV troklearis

Nervus V trigeminus

Nervus VI abdusen

parese

parese

Nervus VII fasialis

Nervus VIII vestibulokoklearis

Nervus IX glosofaringeus

Nervus X vagus

Nervus XI asesorius

Nervus XII hipoglosus

ekstremitas
Tangan Kanan

Tangan Kiri

Kaki Kanan

Kaki Kiri

Gerakan

aktif

aktif

Terbatas

Terbatas

Kekuatan

Tonus

Normal

Normal

Normal

Normal

Trof

Eutrof

Eutrof

Eutrof

Eutrof

refleks
Refleks Fisiologis

Refleks Patologis

-Refleks bisep (+/+)

-Refleks Tromner (-/-)

-Refleks tricep ( +/+)

-Refleks Hoffman (-/-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium :
AL
: 10,9rb/ul
Hb
: 13,2g/dl
Hmt
: 39%
AT
: 336rb/uL
Ureum : 24
Kreatinin
: 0,5

head ct scan

- tampak gyri dan sulci tidak prominent


- batas cortex dan medulla tegas
- tampak lesi slight hiperdens di dalam ventrikel 3,
bentuk amorf, batas tegas, relatif reguler yang pada post
kontras iv tampak memberikan gambaran slight
enhancment, HU pre: 41,9 ; post : 50,9
- sistema ventricular 1 dan 2 tampak melebar
- struktur mediana di tengah
Kesan: Lesi di dalam ventrikel 3 sehingga menyebabkan
hydrocephalus obstruktivus di setinggi ventrikel 3,
tampak slight enhancement, susp ependymoma.

DIAGNOSIS
Ependimoma

PENATALAKSANAAN

inj. Ketesse 2x1


inj. Ranitidine 2x1
neurotam 12g/24jam
manitol 4x125
glaucon 2x1
konsul bedah syaraf

TINJAUAN PUSTAKA
Ependymoma
: tumor glial yang berasal dari sel ependymal dinding ventrikel
dalam sistem saraf pusat (SSP). Ependymoma muncul dari
sel-sel ependym pada ventrikel otak dan medula spinalis.
Hal ini pertama kali dijelaskan oleh Bailey pada tahun 1924.
WHO mengklasifikasikan tumor ini berdasarkan histologis:
- grade I, myxopapillary ependymoma dan subependymoma
(sebagian besar tidak mengalami rekurensi setelah
pembedahan komplit).
- grade II, ependymoma (dengan seluler, papiler, dan varian sel);
(berlokasi sepanjang sistem ventrikel, tersering di fossa
posterior atau corda spinalis)
- grade III, ependymoma anaplastik (biasanya memerlukan
penatalaksanaan tambahan setelah pembedahan komplit dan
mempunyai kecenderungan rekuren).

anatomi

Otak terdiri dari serebrum, serebelum, dan


batang otak yang dibentuk oleh mesensefalon,
pons, dan medulla oblongata.
Sulkus dan fisura korteks serebri membagi
hemisfer serebri menjadi daerah lebih kecil yang
disebut lobus
Serebrum adalah bagian terbesar dari otak yang
terdiri dari dua hemisfer. Hemisfer kanan
berfungsi untuk mengontrol bagian tubuh
sebelah kiri dan hemisfer kiri berfungsi untuk
mengontrol bagian tubuh sebelah kanan.
Masing-masing hemisfer terdiri dari empat lobus.

Keempat lobus tersebut masing-masing adalah


lobus frontal, lobus parietal, lobus oksipital dan
lobus temporal.
a. Lobus parietal merupakan lobus yang berada di
bagian tengah serebrum. Lobus parietal bagian
depan dibatasi oleh sulkus sentralis dan bagian
belakang oleh garis yang ditarik dari sulkus
parieto-oksipital ke ujung posterior sulkus
lateralis (Sylvian). Daerah ini berfungsi untuk
menerima impuls dari serabut saraf sensorik
thalamus yang berkaitan dengan segala bentuk
sensasi dan mengenali segala jenis rangsangan
somatik

b. Lobus frontal merupakan bagian lobus


yang ada di bagian paling depan dari
serebrum. Lobus ini mencakup semua
korteks anterior sulkus sentral. Pada
daerah ini terdapat area motorik untuk
mengontrol gerakan otot-otot, gerakan
bola mata; area broca sebagai pusat
bicara; dan area prefrontal (area asosiasi)
yang mengontrol aktivitas intelektual

c. Lobus temporal berada di bagian bawah


dan dipisahkan dari lobus oksipital oleh
garis yang ditarik secara vertikal ke bawah
dari ujung atas sulkus lateral. Lobus
temporal berperan penting dalam
kemampuan pendengaran, pemaknaan
informasi dan bahasa dalam bentuk suara

d. Lobus oksipital berada di belakang lobus


parietal dan lobus temporal. Lobus ini
berhubungan dengan rangsangan visual
yang memungkinkan manusia mampu
melakukan interpretasi terhadap objek
yang ditangkap oleh retina mata

2.Serebelum (Otak Kecil)


Serebelum atau otak kecil adalah komponen
terbesar kedua otak. Serebelum terletak di
bagian bawah belakang kepala, berada di
belakang batang otak dan di bawah lobus
oksipital, dekat dengan ujung leher bagian atas.
Serebelum adalah pusat tubuh dalam
mengontrol kualitas gerakan. Serebelum juga
mengontrol banyak fungsi otomatis otak,
diantaranya: mengatur sikap atau posisi tubuh,
mengontrol keseimbangan, koordinasi otot dan
gerakan tubuh.

3.Batang Otak Batang otak berada di dalam


tulang tengkorak atau rongga kepala bagian
dasar dan memanjang sampai medulla spinalis.
Batang otak bertugas untuk mengontrol tekanan
darah, denyut jantung, pernafasan, kesadaran,
serta pola makan dan tidur. Bila terdapat massa
pada batang otak maka gejala yang sering
timbul berupa muntah, kelemahan otat wajah
baik satu maupun dua sisi, kesulitan menelan,
diplopia, dan sakit kepala ketika bangun. Batang
otak terdiri dari tiga bagian, yaitu:

a. Mesensefalon atau otak tengah (disebut


juga mid brain) adalah bagian teratas dari
batang otak yang menghubungkan
serebrum dan serebelum. Saraf kranial III
dan IV diasosiasikan dengan otak tengah.
Otak tengah berfungsi dalam hal
mengontrol respon penglihatan, gerakan
mata,pembesaran pupil mata, mengatur
gerakan tubuh dan pendengaran

b. Pons merupakan bagian dari batang otak yang


berada diantara midbrain dan medulla oblongata.
Pons terletak di fossa kranial posterior. Saraf
Kranial (CN) V diasosiasikan dengan pons
c. Medulla oblongata adalah bagian paling bawah
belakang dari batang otak yang akan berlanjut
menjadi medulla spinalis. Medulla oblongata
terletak juga di fossa kranial posterior. CN IX, X,
dan XII disosiasikan dengan medulla, sedangkan
CN VI dan VIII berada pada perhubungan dari
pons dan medulla

PATOFISIOLOGI
Penyebab pasti dari ependymoma belum
diketahui secara jelas, namun dari beberapa
penelitian menunjukkan adanya mutasi dari
beberapa fenotip tumor, berhubungan dengan
adanya mutasi tumor suppresor gene.
Pada ependymoma, terjadi hidrocephalus
karena adanya obstruksi atau sumbatan seperti
pada kasus ini sehingga terjadi peningkatan
tekanan intra kranial.

RUTE LCS
plexus choroideus --> ventrikel lateral -->
foramen interventrikularis Monroe -->
ventrikel tertius --> aquaduktus Sylvii -->
ventrikulus quartus --> dua buah foramen
Luschka di lateral (ke subarachnoid) dan
satu foramen Magendie di medial (ke
medulla spinalis) --> granulatio arachnoid
--> sinus dural, dan akhirnya menuju
drainase venosa.

Gangguan pada aliran LCS akan menyebabkan


akumulasi LCS / hidrocephalus sehingga
menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial.
penyebab :
1.Produksi meningkat sedangkan eksresi tetap;
2.Produksi tetap sedangkan ekskresi berkurang.
Berkurangnya ekskresi LCS dapat disebabkan
karena adanya obstruksi atau sumbatan seperti
pada kasus ini. Adanya sumbatan berupa tumor
tersebut menyebabkan aliran LCS tidak dapat
berjalan sebagaimana mestinya sehingga terjadi
akumulasi LCS atau hidrocephalus sehingga
terjadi peningkatan tekanan intra kranial.

Studi-studi awal menggaris bawahi


heterogenitas molekuler yang dapat ada
pada tumor histologis identik. Penelitian
selanjutnya telah mengidentifikasi cacat
genetik yang lebih konsisten sebagai
berikut: hilangnya lokus pada kromosom
22, mutasi p53 di ependymoma ganas,
breakpoint berulang pada pita 11q13, [15]
kariotipe normal dengan keterlibatan
sering kromosom 6 dan / atau 16, dan
mutasi NF2.

DIAGNOSIS
manifetasi klinis
- Gejala dan tanda non spesifik seperti: nyeri
kepala, mual dan muntah, dan adanya papil
edema yang disebabkan karena adanya
peningkatan tekanan intrakranial.
- Gejala dan tanda spesifik seperti adanya
hemiparesis, aphasia, dan visual field deficit.
Selain itu bisa juga terjadi kejang (parsial
maupun total). Sering terjadi Stroke Like
Presentation berupa nyeri kepala dan
penurunan kesadaran seperti pada stroke
hemoragik.

Foto polos kepala


Head CT scan
MRI
Patologi Anatomi

DIAGNOSIS BANDING
1.Astrocytoma
Merupakan tumor primer otak yang paling
sering ditemukan. Gambaran CT scan non
kontras: massa kistik dan solid yang
hipoisodens mengelilingi massa tumor dan
disertai kalsifikasi dan hidrosepalus.
Dengan kontras, ada enhancing + mural
node. Tanda dan gejala serebeler
berkembang bertahap dalam beberapa
bulan, bila terjadi obstruksi CSS, pasien
mengalami nyeri kepala, edema papil, dan
perburukan derajat kesadaran.

2.Medulloblastoma
Massa mengisi dan meluas dalam ventrikel 4.
Tumor solid, jarang memperlihatkan kista,
erdarahan, maupun kalsifikasi. Pasien
mengalami peningkatan tekanan intrakranial
beserta gejalanya. Pada anak muda dapat
menimbulkan kebutaan karena papil edema
berat. Gambaran CT scan menunjukkan adanya
lesi agak hiperdens di garis tengah dengan
dense enhancement yang homogen,
disekitarnya ada cincin hipodens yang
menunjukkan dilatasi ventrikel IV.

PENATALAKSANAAN
1. Pembedahan
merupakan penanganan utama dari ependymoma, dengan tujuan :
- pengangkatan tumor
- diagnosis patologi
- melancarkan aliran LCS
2. Radiasi
Tidak dianjurkan pada bayi dan anak dibawah 5 tahun. Bahan : Cesium,
Cobat, Iodeine, Phosphorus, Gold, Iridium, Ytrium, Palladium.
3.Kemoterapi
Digunakan untuk mengurangi efek dari radioterapI tetapi tidak ada
manfaat yang didapat pada anak yang lebih dewasa dan orang dewasa.
Pasien dengan infratentorial medulloblastoma dan ependimoma setelah
operasi kraniospinal tanpa radiasi, dianjurkan kemoterapi dengan
lomustine (CCNU), vincristien, dan prednisone selama satu tahun.
4.Medikasi
Tidak ada obat khusus, tetapi dapat diberikan kortikosteroid
berhubungan dengan tumor intramedula dalam pengaturan pra operasi
dan pasca operasi serta antikonvulsan.

PROGNOSIS
Prognosis tergantung pada tingkat reseksi
yang dilakukan pada operasi dan jumlah
sisa tumr yang tampak pada pencitraan
pasca operasi.