Anda di halaman 1dari 23

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh

Secara Ekstraksi Pelarut


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ektraksi dapat dilakukan pada daun teh agar dapat menentukan
kadar kafeinnya. Ekstraksi sendiri adalah pemisahan suatu zat dari
campurannya dengan pembagian sebuah zat terlarut antara dua
pelarut yang tidak dapat tercampur untuk mengambil zat terlarut
tersebut dari satu pelarut ke pelarut yang lain. Dalam melakukan
ekstraksi bisa dilakukan dengan tiga metode dasar pada ektraksi cair
yaitu ekstraksi bertahap (batch), ekstraksi kontinyu, dan ekstraksi
counter current.
Dalam ekstraksi sering menggunakan hukum distribusi Nerst
dalam analisisnya. Hukum Distribusi Nernst ini menyatakan bahwa
solut akan mendistribusikan diri di antara dua pelarut yang tidak
saling

bercampur,

sehingga

setelah

kesetimbangan

distribusi

tercapai, perbandingan konsentrasi solut di dalam kedua fasa pelarut


pada suhu konstan akan merupakan suatu tetapan, yang disebut
koefisien distribusi (KD), jika di dalam kedua fasa pelarut tidak terjadi
reaksi-reaksi apapun. Aplikasi ektraksi dalam industri seperti ektraksi
phenol dari larutan coal tar. Selain itu, ektraksi digunakan sebagai
operasi komplementer.

1.2 Maksud Percobaan

NURFADILLAH P
150 2012 0 200

NUNUNG ANDRIANINGSIH S.FARM

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh


Secara Ekstraksi Pelarut
Adapun maksud dari percobaan ini yaitu Adapun maksud dari
percobaan ini yaitu untuk mengetahui kandungan

kafein dalam

sampel daun teh cap botol dan sari murni.


1.3Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu :
1. Untuk mendapatkan kafein dalam daun teh secara ekstraksi
pelarut menggunakan pelarut air dan kloroform
2. Untuk menentukan kadar kafein dalam serbuk daun teh cap botol
dan teh sari murni.

NURFADILLAH P
150 2012 0 200

NUNUNG ANDRIANINGSIH S.FARM

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh


Secara Ekstraksi Pelarut
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
Ekstraksi

pelarut

atau

ekstraksi

air

merupakan

metode

pemisahan yang paling baik dan populer.Alasan utamanya adalah


bahwa pemisahan ini dapat dilakukan baik dalam tingkat makro
maupun mikro.Prinsip metode ini didasarkan pada distribusi zat
terlarut dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidak
saling

bercampur,

seperti

benzena,

karbon

titraklorida

atau

kloroform.Batasannya adalah zat terlarut dapat ditransfer pada


jumlah yang berbeda dalam kedua fase pelarut.Teknik ini dapat
dipergunakan untuk hal preparative, pemurnian, memperkaya
pemisahan serta analisis pada semua skala kerja (Dewi, 2008).
Maserasi merupakan metode ekstraksi dengan cara perendaman
tanpa melibatkan panas. Maserasi memiliki beberapa keuntungan,
diantaranya yaitu cara kerja dan alat yang digunakan cukup
sederhana dan cocok untuk senyawa yang tidak tahan panas
(Purwantini dkk, 2007).
Ekstraksi merupakan salah satu teknik analisis yang bertujuan
untuk memisahkan berbagai senyawa dalam sampel berdasarkan
kepolarannya (Nurhayati dkk, 2004).
Ekstraksi dilakukan karena beberapa faktor seperti jika distilasi
tidak dapat dilakukan atau terlalu mahal, jika diinginkan mengisolasi
bahan untuk karakterisasi, atau memurnikan senyawa untuk proses

NURFADILLAH P
150 2012 0 200

NUNUNG ANDRIANINGSIH S.FARM

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh


Secara Ekstraksi Pelarut
selanjutnya. Secaragaris besar, proses pemisahan secara ekstraksi
tersiri atas 3 langkah dasar yaitu 1) penambahan sejumlah massa
solven untuk dikontakkan dengan sampel, 2) solute akan terpisah
dari sampel dan larut oleh solven membentuk fase ekstrak, 3)
Pemisahan fase ekstrak dengan sampel (Majid dan Nurkholis, 2008).
Ekstraksi dengan pelarut organik lebih efektif dan dapat
dilakukan secara perkolasi, soxhletasi dan maserasi (Cakrawati,
2005).
Metabolit sekunder adalah senyawa-senyawa hasil biosintetik
turunan dari metabolit primer yang umumnya diproduksi oleh
organisme yang berguna untuk pertahanan diri dari lingkungan
maupun dari serangan organisme lain (Murniasih, 2003).
Metabolit

sekunder

mempunyai

hasil

lebih

kompleks

dibandingkan dengan metabolit primer.Metabolit sekunder juga


sikenal sebagai hasil alamiah metabolisme.Metabolisme sekunder
biasanya tidak untuk semua sel secar keseluruhan tetapi hanya untuk
beberapa sel tertentu.Menurut biosintesisnya metabolit sekunder
dapat terbagi atas terpenoid (triterpenoid, steroid, dan saponin),
senyawa fenol (falvonoid dan tanin), dan alkaloid (Simbala, 2009).
Alkaloid merupakan golongan terbesar senyawa metabolit
sekunder pada tumbuhan.Telah diketahui, sekitar 5.500 senyawa
alkaloid yang tersebar di berbagai famili.Alkaloid merupakan
senyawa kimia bersifat basa yang mrngandung satu atau lebih atom
nitrogen, umumnya tidak berwarna, dan berwarna jika mempunyai

NURFADILLAH P
150 2012 0 200

NUNUNG ANDRIANINGSIH S.FARM

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh


Secara Ekstraksi Pelarut
struktur kompleks dan bercincin aromatic.Alkaloid seringkali beracun
bagi manusia dan banyak mempunyai kegiatan fisiologis yang
menonjol sehingga banyak digunakan dalam pengobatan (Dewi,
2008).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terdahulu, senyawa
yang berperanan sebagai obat dalam tumbuhan adalah senyawa
alkaloid.Dalam praktek medis kebanyakan alkaloid mempunyai nilai
tersendiri, disebabkan oleh sifat farmakologi dan kegiatan fisiologinya
yang

menonjol

sehingga

dipergunakan

luas

dalam

bidang

pengobatan. Manfaat alkaloid dalam bidang kesehatan antara lain


adalah untuk memacu sistem saraf, menaikkan atau menurunkan
tekanan darah dan melawan infeksi mikrobia. Metoda klasifikasi
alkaloid yang paling banyak digunakan adalah berdasarkan struktur
nitrogen

yang

dikandungnya,

yaitu:

1)

Alkaloid

heterosiklis,

merupakan alkaloid yang atom nitrogennya berada dalam cincin


heterosiklis. Alkaloid ini dibagi menjadi: alkaloid pirolidin, alkaloid
indol, alkaloid piperidin, alkaloid piridin, alkaloid tropan, alkaloid
histamin, imidazol dan guanidin, alkaloid isokuinolin, alkaloid kuinolin,
alkaloid akridin, alkaloid kuinazolin, alkaloid izidin. 2) Alkaloid dengan
nitrogen eksosiklis dan amina alifatis, seperti efedrina. 3) Alkaloid
putressin, spermin dan spermidin, misalnya pausina. 4) Alkaloid
peptida merupakan alkaloid yang mengandung ikatan peptida. 5)
Alkaloid terpena dan steroidal, contohnya funtumina (Widi dan Titin,
2007).

NURFADILLAH P
150 2012 0 200

NUNUNG ANDRIANINGSIH S.FARM

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh


Secara Ekstraksi Pelarut
Tanaman merupakan salah satu sumber daya yang penting
dalam upaya pengobatan dan upaya mempertahankan kesehatan
masyarakat.Bahkan sampai saat ini pun menurut perkiraan badan
kesehatan

dunia

(WHO),

80%

penduduk

dunia

masih

menggantungkan dirinya pada pengobatan tradisional termasuk


penggunaan obat yang berasal dari tanaman.Salah satu bahan yang
sedang dikembangkanadalah teh.Teh sudah dikenal oleh masyarakat
Indonesia sebagai bahan minuman sehari-hari (Santoso et al, 2013).
Zat aktif yang membuat kopi dan teh bernilai oleh manusia
adalah kafein.Kafein adalah alkaloid, satu khas dari senyawa yang
terjadi di alam yang mengandung nitrogen dan mempunyai sifatbasa
amina organik.Di dalam daun teh juga terdapat kafein, dimana
kandungan kafein dalam daun teh sekitar 2%-5%.Kafein adalah salah
satu jenis alkaloid yang banyak terdapat di daun teh (Camelia
sinensis), biji kopi, (Coffea arabica), dan biji coklat (Theobroma
cacao) (Dewi, 2008).
Kafein bekerja dengan menstimulasi SSP (sistem saraf pusat),
dengan efek menghilangkan rasa letih, lapar dan mengantuk.
Kafein dapat meningkatkan daya konsentrasi dan kecepatan reaksi
serta prestasi otak dan suasana jiwa diperbaiki. Kafein juga dapat
memperkuat daya konstraksi dari jantung, vasodilatasi perifer dan
diuretis (Tjay dan Rahardja, 2007).
Kafein (1,3,7-Trimethylxanthine) adalah kerabat mehylxantin
yang secara luas tersebar di banyak jenis tumbuhan. Kafein juga

NURFADILLAH P
150 2012 0 200

NUNUNG ANDRIANINGSIH S.FARM

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh


Secara Ekstraksi Pelarut
dimanfaatkan manusia sebagai produk makanan dan minuman
seperti teh, kopi dan coklat.Dalam bidang farmasi, kafein biasanya
digunakan untuk pengobatan jantung, stimulant pernapasan dan juga
sebagai peluruh kencing (Yu et al, 2009).
2.2 Uraian Bahan
1.

Aquadest (Ditjen POM, 1979 : 96)


Nama Resmi

: AQUA DESTILLATA

Nama Lain

: Air suling

Rumus molekul : H2O


Berat Molekul

: 18,02

Pemerian

: Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau,


tidak

mempunyai rasa.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat.

Kegunaan

: Zat tambahan dan pelarut.

2. Eter (Ditjen POM, 1979 : 66)


Nama Resmi

: AETHER ANAESTHETICUS

Nama Lain

: Eter

Rumus molekul : C4H10O


Berat Molekul

: 74,12

Pemerian

: Cairan transparan, tudak berwarna, bau khas,


rasa manis dan membakar, sangat mudah
menguap, sangat mudah terbakar, campuran
uapnya dengan oksigen, udara atau dinitrogen
oksida, pada kadar tertentu dapat meledak.

NURFADILLAH P
150 2012 0 200

NUNUNG ANDRIANINGSIH S.FARM

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh


Secara Ekstraksi Pelarut
Kelarutan

: Larut dalam 10 bagian air, dapat bercampur


dengan etanol (95%)P, dengan kloroform P,
dengan minyak lemak, dan dengan minyak
atsiri.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari


cahaya, di tempat sejuk.

3. Kloroform (Ditjen POM, 1979 : 151)


Nama resmi

: CHLOROFORM

Nama lain

: Kloroform

RM / BM

: CHCl3 / 119,38

Pemerian

: Cairan tidak berwarna, mudah menguap, bau


khas, rasa manis dan membakar.

Kelarutan

:Larut dalam lebih kurang 200 bagian air, mudah


larut dalam etanol mutlak P, dalam eter P,
dalam sebagian besar pelarut organik, dalam
minyak atsiri dan dalam minyak lemak.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik.

4. Natrium Hidroksida (Ditjen POM, 1979 : 421)


Nama Resmi

: NATRII HYDROXYDUM

Nama Lain

: Natrium hidroksida

Rumus molekul : NaOH


Berat Molekul

: 40,00

Pemerian

: Bentuk batang, butiran, massa hablur atau


keping, kering, keras, rapuh dan meunjukkan

NURFADILLAH P
150 2012 0 200

NUNUNG ANDRIANINGSIH S.FARM

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh


Secara Ekstraksi Pelarut
susunan

hablur,

putih,

korosif,

segera

menyerap karbondioksida
Kelarutan

Sangat

mudah

larut

dalam

air

dan

dalametanol (95%)P

5.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik.

Kegunaan

: Zat tambahan

Asam sulfat (Ditjen POM, 1979 :58)


Nama Resmi

: ACIDUM SULFURICUM

Nama Lain

: Asam Sulfat

Rumus molekul : H2SO4


Berat Molekul

: 98,07

Pemerian

: Cairan kental seperti minyak, korosif, tidak


berwarna, jika ditambahkan ke dalam air
menimbulkan panas.

Kelarutan

: Sebagai pemberi suasana basa pada


pembuatan iodoform dan dapat melembutkan
kulit.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat.

6. Amonia (Ditjen POM, 1979)


Nama Resmi

: AMMONIA

Nama Lain

: Amonia

Rumus molekul : NH3


Berat Molekul

: 17,05

Pemerian

: Cairan jernih, tidak berwarna, bau khas

NURFADILLAH P
150 2012 0 200

NUNUNG ANDRIANINGSIH S.FARM

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh


Secara Ekstraksi Pelarut
menusuk kuat.
Kelarutan

Penyimpanan

Mudah larut dalam air.


: Dalam wadah tertutup rapat di tempat sejuk.

7.Amonium Hidroksida (Ditjen POM, 1979 : 86)


Nama Resmi

: AMMONIA HYDROXYDUM

Nama Lain

: Amonia Hidroksida

Rumus molekul : NH4OH


Berat Molekul

: 35,05

Pemerian

: Cairan jernih, tidak berwarna, bau khas,


menusuk kuat.

Kelarutan

: Mudah larut dalam air.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat, di tempat sejuk.

8. Etanol (Ditjen POM, 1979 : 65)


Nama Resmi

: AETHANOLUM

Nama Lain

: Etanol, alkohol

Rumus molekul : C2H5OH


Berat Molekul

: 46,07

Pemerian

: Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap,


dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas,
mudah terbakar dengan memberikan nyala
biru yang tidak berasap.

Kelarutan

: Sangat mudah larut dalam air, dalam


kloroform P, dan dalam eter P

Penyimpanan :

NURFADILLAH P
150 2012 0 200

Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari

NUNUNG ANDRIANINGSIH S.FARM

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh


Secara Ekstraksi Pelarut
cahaya, di tempat sejuk, jauh nyala api.

9. Indikator Metil Merah (Ditjen POM, 1995 : 705)


Nama Resmi : BENZOAT HIDROKSIDA
Nama Lain
: Metil merah
RM
: C15H15N2O3
BM
: 305,76
Pemerian
: Serbuk merah gelap
Kelarutan
: Sukar larut dalam air, dan larut dalam etanol.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan
: Sebagai indikator.
2.3 Uraian sampel
Klasifikasi Teh
Divisi

: Spermatophyta

Sub divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledoneae

Sub Kelas : Dialypetalae


Ordo

: Clusiales

Familia

: Theaceae

Genus

: Camellia

Spesies

: Camellia sinensis

Komposisi teh sari murni : teh hitam dan vanila.


2.4 Prosedur kerja
Timbang sebanyak 10 gram daun teh dalam bentuk bubuk
kasar masukkan dalam labu soklet atau alat maserasi. Selanjutnya
dilakukan penyarian dengan membasahi bahan tersebut dengan
campuran 8 ml ammonium hidroksida P, 10 ml etanol 95% dan 20
ml eter, campur dengan baik, lalu dimaserasi selama semalam.
Setelah itu dilakukan penyarian dengan eter selama 3 jam.

NURFADILLAH P
150 2012 0 200

NUNUNG ANDRIANINGSIH S.FARM

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh


Secara Ekstraksi Pelarut
Pindahkan sari eter yang mengandung alkaloida ke dalam
corong pisah, bilas labu dengan sedikit eter dan kumpulkan ke
dalam corong pisah yang lain. Sari alkaloida dalam fasa air dengan
10 ml asam sulfat 0.5 N sebanyak 5 kali, sambil disaring fasa air itu
dimasukkan ke dalam corong pisah. Tambahkan ammonia 10% ke
dalam fasa air sampai jelas bereaksi alkalis. Sari fasa air dengan 10
kloroform sebanyak 5 kali. Kumpulkan sari kloroform dan uapkan di
atas waterbath sampai kering. Larutkan residu dalam beberapa
milliliter bkloroform, tambahkan 15,0 ml larutan baku H 2SO4 0,2 N,
panaskan untuk menghilangkan kloroform, dinginkan, tambahkan
larutan indikator metil merah, lalu titrasi kelebihan asam dengan
larutan baku NaOH 0,2 N.

NURFADILLAH P
150 2012 0 200

NUNUNG ANDRIANINGSIH S.FARM

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh


Secara Ekstraksi Pelarut
BAB III
METODE KERJA
3.1 Alat Praktikum
Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu alat
soklet/maserasi, buret, corong biasa, corong pisah, Erlenmeyer,
gelas kimia, labu tentukur/labu takar, oven, penangas air, pipet
volum dan timbangan.
3.2 Bahan yang digunakan
Adapun bahan yang digunakan yaitu aluminium foil, ammonia
10%, ammonium hidroksida, aquadest, dietileter, etanol 95%,
indikator metal merah, larutan baku H 2SO4 0.2 N, larutan baku
NaOH 0.2 N, larutan H2SO4 0.5 N, kloroform, dan sampel sediaan
obat (papaverin dan fenobarbital).
3.3 Cara Kerja
Timbang sebanyak 10 gram daun the dalam bentuk bubuk
kasar masukkan dalam labu soklet atau alat maserasi. Selanjutnya
dilakukan penyarian dengan membasahi bahan tersebut dengan
campuran 8 ml ammonium hidroksida P, 10 ml etanol 95% dan 20
ml eter, campur dengan baik, lalu dimaserasi selama semalam.
Setelah itu dilakukan penyarian dengan eter selama 3 jam.
Pindahkan sari eter yang mengandung alkaloida ke dalam
corong pisah, bilas labu dengan sedikit eter dan kumpulkan ke
dalam corong pisah yang lain. Sari alkaloida dalam fasa air dengan
10 ml asam sulfat 0.5 N sebanyak 5 kali, sambil disaring fasa air itu
dimasukkan ke dalam corong pisah.Tambahkan ammonia 10% ke
dalam fasa air sampai jelas bereaksi alkalis.Sari fasa air dengan 10

NURFADILLAH P
150 2012 0 200

NUNUNG ANDRIANINGSIH S.FARM

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh


Secara Ekstraksi Pelarut
kloroform sebanyak 5 kali.Kumpulkan sari kloroform dan uapkan di
atas waterbath sampai kering. Larutkan residu dalam beberapa
milliliter bkloroform, tambahkan 15,0 ml larutan baku H 2SO4 0,2 N,
panaskan untuk menghilangkan kloroform, dinginkan, larutan
indikator metal merah, lalu titrasi kelebihan asam dengan larutan
baku NaOH 0,2 N.

NURFADILLAH P
150 2012 0 200

NUNUNG ANDRIANINGSIH S.FARM

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh


Secara Ekstraksi Pelarut
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
No
1
2
Dik :

Nama Sampel
Teh Cap botol
Teh Sari Murni
N NaOH

= 0,2 N

BM kafein

= 194,19

Valensi kafein

= 10

V Titran (mL)
4,7
7,1

Teh cap botol


BE

Bm 194,19
=
=19,419
v
10

Wkafein = NNaOH x VNaOH x BEkafein


= 0,2 N x 4,7 mL x 19,419
= 18,253
% kafein =

Wkafein
x 100
Berat sampel
18,253
x 100
10

=182,53 %
Teh Sari Murni
BE

Bm 194,19
=
=19,419
v
10

Wkafein = NNaOH x VNaOH x BEkafein

NURFADILLAH P
150 2012 0 200

NUNUNG ANDRIANINGSIH S.FARM

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh


Secara Ekstraksi Pelarut
= 0,2 N x 7,1 mL x 19,419
= 27,574
% kafein =

Wkafein
x 100
Berat sampel
27,574
x 100
10

= 275,74 %

4.2 Pembahasan
Kafein adalah senyawa golongan alkaloid yang mengandung
nitrogen dan mempunyai sifat basa amina organik. Kafein (1,3,7Trimethylxanthine) dan mehylxantin secara luas tersebar di banyak jenis
tumbuhan. Kafein merupakan senyawa alkaloida turunan xantine (basa
purin) yang berwujud kristal berwarna putih. Kafein dapat disintesis dari
dimetil urea dan asam malonat. Kafein dalam tanaman disintesis dari
xanthosin melalui 3 tahap N-metilasi, dimana tahap metilasi ini dibantu
oleh aktivitas enzimya itu enzim metal transferase.
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan kadungan kafein di
dalam sampel teh cap botol yang berupa serbuk kasar daun teh. Di dalam
daun teh terdapat kandungan kafein sebesar 2%-5%. Sebelum dilakukan
ekstraksi pelarut pada daun teh, terlebih dahulu daun teh dikeringkan.
Fungsi pengeringan daun teh yaitu untuk mengurangi kadar air yang
dikandung didalamnya dan mengurangi reaksi enzimatis agar tidak
ditumbuhi mikroba seperti bakteri dan jamur serta mengecilkan ukuran

NURFADILLAH P
150 2012 0 200

NUNUNG ANDRIANINGSIH S.FARM

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh


Secara Ekstraksi Pelarut
partikel agar luas permukaannya semakin besar. Namum, disini kita
memakai sampel yang telah siap dipakai sehingga tidak memerlukan
pengeringan.
Selanjutnya dilakukan maserasi pada sampel. Maserasi dilakukan
selama 24 jam untuk memaksimalkan perendamannya agar senyawasenyawa yang ditarik lebih maksimal. Maserasi dilakukan dengan
multikomponen pelarut, yaitu ammonium hidroklorida + etanol 95%- eter.
Pada dasarnya maserasi berfungsi menarik senyawa-senyawa yang
terkandung dalam sampel dan dalam tanaman ada yang bersifat polar,
semipolar hingga nonpolar, sehingga digunakan 3 macam pelarut dengan
tingkat kepolaran berbeda untuk menarik senyawa-senyawa tersebut.
Pada maserasi digunakan dua kali volume pelarut agar komponenkomponen senyawa yang ditarik menjadi lebih besar.
Setelah didapatkan maseratnya, maserat ini diektraksi lagi dengan
eter selama 3 jam. Eter berfungsi untuk menarik senyawa-senyawa
alkaloid, karena kafein senyawa yang tidak larut air tetapi dalam air
mendidih sehingga akan larut dalam eter. Setelah ekstraksi, kemudian
akan terpisah menjadi fase atas dan fase bawah. Fase bawah adalah eter
yang diambil kembali lalu diekstraksi lagi dengan H 2SO4. H2SO4 berfungsi
untuk mengikat alkaloid dan merubahnya menjadi garam alkaloid. Lalu
terpisah lagi menjadi fase H2SO4 + eter dengan fase air. Terjadinya fase
air disini karena pada saat pengenceran H 2SO4 menggunakan air,
sehingga senyawa H2SO4 dan eter akan bergabung dan fase air terpisah.

NURFADILLAH P
150 2012 0 200

NUNUNG ANDRIANINGSIH S.FARM

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh


Secara Ekstraksi Pelarut
Di dalam fase air terdapat alkaloid, sehingga fase yang diambil adalah
fase air. Fase air lalu dimasukkan ke dalam corong pisah dan
ditambahkan amonia 10 % sampai bereaksi alkali. Fungsi amonia disini
untuk mengendapkan kafein. Kemudian ditambahkan senyawa kloroform
untuk dapat melarutkan kafein. Amonia (NH 3) bereaksi dengan H+ dan
menariknya lalu bersatu dan larut dalam kafein. Amonia lalu terpisah
dengan fase lainnya. Diambil fase kloroform yang didalamnya terdapat
alkaloid, lalu diuapkan dengan pelarut kloroform untuk menghilangkan
pelarutnya sehingga terpisah senyawa dengan pelarutnya. Residu lalu
dilarutkan dengan beberapa tetes kloroform dengan larutan baku H 2SO4
untuk

melarutkan

alkaloidnya.

Kemudian

dipanaskan

lagi

untuk

memisahkan kloroform dengan alkaloid, lalu ditambahkan dengan


indicator metil merah, dititrasi dengan NaOH dandidapatkan volume
titrasinya yaitu 4,7untukteh cap botoldan 7,1 mL untukteh sari
murni.Setelahitutentukankadar kafein.

NURFADILLAH P
150 2012 0 200

NUNUNG ANDRIANINGSIH S.FARM

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh


Secara Ekstraksi Pelarut
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan
bahwa kadar kafein dalam teh cap botol sebanyak 182,53% dan pada teh
cap sariwangi sebanyak 275,74%.
5.2 Saran
Sebaiknya asisten selalu mendampingi praktikannya agar tidak
terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

NURFADILLAH P
150 2012 0 200

NUNUNG ANDRIANINGSIH S.FARM

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh


Secara Ekstraksi Pelarut

NURFADILLAH P
150 2012 0 200

NUNUNG ANDRIANINGSIH S.FARM

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh


Secara Ekstraksi Pelarut
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2015. Penuntun Praktikum Analisis Farmasi Kuantitatif.
Laboratorium Kimia Farmasi. Universitas Muslim Indonesia.
Makassar.
Cakrawati, D. 2005. Pengaruh Pra Fermentasi dan Suhu Maserasi
Terhadap
Beberapa
Sifat
Fisikokimia
Minyak
Kasar
Kluwak.Universitas Padjajaran. Surabaya.
Dewi, Mainora Rahayu. 2008. Penentuan Kandungan Kafein Pada Daun
The (Camellia sinensis). Tesis. Universitas Andalas
Ditjen POM. 1979. Farmakope
Kesehatan RI. Jakarta.

Indonesia Edisi

III.

Departemen

Ditjen POM. 1995. Farmakope


Kesehatan RI. Jakarta.

Indonesia Edisi

IV.

Departemen

Majid, NT. dan Nurkholis. 2008. Pembuatan The Rendah Kafein Melalui
Proses Ekstraksi Dengan Pelarut Etil Asetat. Makalah
Penelitian.Universitas Diponegoro.
Murniasih, tutik.. 2003. Metabolit Sekunder Dari Spons Sebagai Bahan
Obat-Obatan. Oseana,Vol. 28 (3).

Nurhayati, Y., Gebi D., Iqbal M. 2004.Pemisahan dan Pemurnian


Senyawa Metabolit Sekunder Turunan Flavonoid dari Kulit
Batang Ficus
virens Ait.(Moraceae). Seminar
Nasional
dan
Penelitian dan Pendidikan Kimia. Bandung.

Purwantini, I., Rima M., Naniek D. 2007. Kombinasi Daun Teh dan
Mangkokan Sebagai Penumbuh Rambut.Universitas Gadjah
Mada.Yogyakarta.

Santoso, S., Miftakhul, C. dan Satria, AP. 2013.Efektivitas Ekstrak Daun


Teh Hijau (Camellia Sinensis) Dalam Menghambat Pertumbuhan
Candida Albicans Secara In Vitro. Jurnal Penelitian.

NURFADILLAH P
150 2012 0 200

NUNUNG ANDRIANINGSIH S.FARM

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh


Secara Ekstraksi Pelarut
Simbala, Herny E. I. 2009.Analisis Senyawa Alkaloid Beberapa Jenis
Tumbuhan Obat Sebagai Bahan Aktif Fitofarmaka.Journal. Vol.
1(14).

Tjay, T. H. dan Rahardja, K. 2007. Obat-Obat Penting Edisi VI.Elex Media


Komputindo. Jakarta.

Widi, RK. dan Titin, I. 2007. Penjaringan dan Identifikasi Senyawa


Alkaloid dalam Batang Kayu Kuning (Arcangelisia Flava Merr).Jurnal
Ilmu Dasar.Vol. 8(1).

Yu Chi Li, Tai Man Louie, Ryan Summers, Yogesh Kale, Sridhar
Gopishetty, and Mani Subramanian. 2009. Two Distinct Pathways
for Metabolism of Theophylline and Caffeine Are Coexpressed in
Pseudomonas putida CBB5, Journal Of Bacteriology, Vol. 191 (14).

NURFADILLAH P
150 2012 0 200

NUNUNG ANDRIANINGSIH S.FARM

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh


Secara Ekstraksi Pelarut
LAMPIRAN
1. Teh cap botol

2. Teh sari murni

NURFADILLAH P
150 2012 0 200

NUNUNG ANDRIANINGSIH S.FARM