Anda di halaman 1dari 2

Abses Mammae

Abses merupakan komplikasi mastitis yang biasanya terjadi karena pengobatan terlambat
atau tidak adekuat. Bila terdapat daerah payudara teraba keras ,merah dan tegang walaupun
ibu telah diterapi, maka kita harus pikirkan kemungkinan terjadinya abses. Kurang lebih 3%
dari kejadian mastitis berlanjut menjadi abses.
Etiologi
Bakteri, yang paling sering adalah Staphylococcus aureus, Escherecia coli dan Streptococcus.
Terdapat beberapa cara masuknya bakteri yaitu melalui duktus laktiferus ke lobus sekresi,
melalui puting yang retak ke kelenjar limfe sekitar duktus (periduktal) atau melalui
penyebaran hematogen pembuluh darah). Apabila kekebalan dan daya tahan tubuh ibu baik
maka dengan penanganan yang cepat dan tepat maka peradangan akan segera berhenti. Tetapi
apabila peradangan pada payudara tidak diatasi dengan baik dan bila diikuti oleh terjadi
infeksi maka peradangan akan meluas. dan akan terbentuk abses yang menyebabkan
peradangan akan berlanjut dan menimbulkan gejala klinis yang lebih berat dari sebelumnya.
Patofisiologi
Sesudah bayi lahir dan plasenta keluar kadar estrogen dan progesteron turun dalam 2-3
hari karena pengaruh estrogen factor-faktor dari hipotalamus yang menghalangi
prolaktin waktu hamil tidak dikeluarkan lagi terjadi sekresi prolaktin oleh hipofisis
prolaktin menyebabkan alveolus-alveolus kelenjar mammae terisi dengan air susu, tetapi
untuk mengeluarkan dibutuhkan refleks yang menyebabkan kontraksi sel-sel mioepitel yang
mengelilingi alveolus dan duktus kecil kelenjar-kelenjar tersebut refleks ini timbul bila
bayi menyusui bila bayi tidak menyusu dengan baik, atau jika tidak dikosongkan dengan
sempurna, maka terjadi statis ASI (peningkatan tekanan di dalam duktus/saluran ASI) Bila
ASI tidak segera dikeluarkan maka terjadi tegangan alveoli yang berlebihan dan
mengakibatkan sel epitel yang memproduksi ASI menjadi datar dan tertekan, sehingga
permeabilitas jaringan ikat meningkat beberapa komponen (terutama protein kekebalan
tubuh dan natrium) dari plasma masuk ke dalam ASI dan selanjutnya ke jaringan sekitar sel
sehingga memicu respons imun. stasis ASI, adanya respons inflamasi, dan kerusakan jaringan
memudahkan terjadinya infeks imerupakan awal dari terjadinya mastitis jika tidak
mendapatkan penanganan yang baik maka akan timbul abses.

Gejala Klinis
Menurut Sarwono (2009), pada abses payudara memiliki tanda dan gejala yaitu:
-

Nyeri payudara yang berkembang selama periode laktasi


Fisura putting susu
Fluktuasi dapat dipalpasi atau edema keras
Warna kemerahan pada seluruh payudara atau local
Limfadenopati aksilaris yang nyeri
Pembengkakan yang disertai teraba cairan dibawah kulit
Suhu badan meningkat dan menggigil
Payudara membesar, keras dan akhirnya pecah dengan borok serta keluarnya cairan
nanah bercampur air susu serta darah.

Tatalaksana
Bila sampai terjadi abses, penatalaksanaan sama seperti pada radang payudara. Pemeriksaan
USG payudara diperlukan untuk mengidentifikasi adanya cairan yang terkumpul. Cairan ini
dapat dikeluarkan dengan aspirasi jarum halus yang berfungsi sebagai diagnostik sekaligus
terapi, bahkan mungkin diperlukan aspirasi jarum secara serial. Pada abses yang sangat besar
terkadang diperlukan tindakan bedah. Selama tindakan ini dilakukan ibu harus mendapat
antibiotik. ASI dari sekitar tempat abses juga perlu dikultur agar antibiotik yang diberikan
sesuai dengan jenis kumannya Selama luka bekas insisi belum sembuh bayi disusukan dari
payudara yang sehat.