Anda di halaman 1dari 8

Tindakan Layanan Khusus (TLK)

Untuk Peserta Didik Slow Learner di Sekolah Dasar

Oleh : Jamiluddin

(Ilustrasi: gambardanfoto.com)

Salah satu determinan

dalam proses dan hasil belajar adalah peserta didik.

Mereka adalah

komponen pokok yang harus mendapat attention yang seksama. Attention sebagai sebuah action
atau perlakuan haruslah sepadan dan tepat. Tanpa perlakuan yang sepadan dan tepat maka proses
dan hasil belajar menjadi tidak menentu. Persoalannya, action yang sepadan dan tepat bukanlah
perihal yang dapat dilakukan sembarangan. Acton ini hanya akan bisa diimplementasi apabila
seorang guru mampu memahami individu peserta didiknya. Dan tentu kita semua maklum bahwa
peserta didik itu tidak ada yang persis sama. Kondisi inilah kemudian yang meniscayakan pendidik
untuk senantiasa bekerja keras dalam memahami peserta didik dengan menjadikan prinsip
individual differences (perbedaan individual) sebagai refrensi.
Bagaimana fakta di lapangan? Secara objektiv tidak banyak guru atau tenaga pendidik yang
menaruh perhatian khusus pada prinsip individual differences. Bukti fisik yang akurat adalah
perlakuan yang cenderung homogen kepada peserta didik, sekalipun sesungguhnya beberapa orang
di antara peserta didik itu membutuhkan perlakuan khusus. Terhadap yang cerdas, berkemampuan
average (rata-rata), dan di bawah rata-rata (under average), dominan mendapat transformasi ilmu
pengetahuan dan teknologi yang sama dengan metoda dan strategi yang tidak berbeda. Perlakuan
ini kemudian melahirkan beberapa fenomena antara lain : (1). Kebosanan pada peserta didik yag
cerdas, (2). Kesulitan penyesuaian diri pada peserta didik yang memiliki kemampuan di bawah
standar, dan (3). Masalah psikologis yang meliputi perasaan pesimis terhadap kemungkinan
mencapai perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar.
Kebosanan pada peserta didik yang cerdas melahirkan pembiasan pusat perhatian mereka.
Karena merasakan materi pembelajaran terlalu gampang, maka peserta didik yang cerdas atau di
atas rata-rata kemampuan normal akan mengalihkan perhatiannya kepada hal-hal yang menarik
menurutnya secara subjektiv. Bayangkan kalau jumelah peserta didik yang demikian lebih dari satu
(1) orang dalam sebuah rombongan belajar (rombel)? Atmosfeer pembelajaran tentu akan terpecah.
Masing-masing akan focus pada pemenuhan kebutuhannya. Rombel akan berubah menjadi friksifriksi yang cenderung tidak saling berkoordinasi dan masing-masing akan menjadi out-group bagi
yang lain. Pendidik pada keadaan seperti ini akan cenderung memposisikan diri sebagai anggota
friksi yang mensupporting dirinya dan potensial memarginalkan klik yang tidak kooperatif dalam
rombel tersebut. Jadi guru atau pendidik kurang menerapkan prinsip ekuitas dalam makna tidak
berikhtiar dalam posisi normalisasi situasi atau atmosfeer pembelajaran dengan memberi
conditioning bagi peserta didik berkemampuan di atas rata-rata yang mengalami jengah
(kebosanan). Demikian pula terhadap peserta didik yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata.
Mereka akan merasa dalam kesulitan mengikuti proses transformasi ilmu pengetahuan dan
teknologi. Karena dalam kondisi yang sangat lemah dan tak berdaya, mereka stagnan dan
merekapun mengalami konflik psikologis yang hebat. Pada sisi tertentu mereka merasa ingin

sebagaimana kawan-kawannya yang smart, sementara itu pada sisi lain mereka mengalami keputusasaan. Bila situasi ini tidak tertangani dengan baik, maka peserta didik akan banyak mengambil
keputusan yang kurang tepat bahkan keliru. Tidak sedikit peserta didik yang oleh karena kekeliruan
memilih arah pelarian dari keputus-asaannya, akhirnya melakukan Jevenil Deliquence (perilaku
menyimpang). Di antara perilaku menyimpang yang mereka lakukan adalah: membolos, sering
tidak masuk sekolah, mengganggu kawan, tidak menghargai guru, bahkan bisa melakukan praktek
pelanggaran norma, baik susila, social, hukum, serta agama. Sungguh sangat berbahaya.
Baik pesertaa didik cerdas yang mengalami kebosanan maupun yang berkemampuan di
bawah rata-rata dan melakukan penyimpangan tingkah laku karena putus asa dalam pembelajaran,
secara berangsur-angsur akan mengalami masalah kesulitan belajar. Khusus bagi peserta didik yang
berkemampuan di bawah rata-rata dan putus asa, serta melakukan penyimpangan tingkah laku akan
menjadi peserta didik slow learner (lambat belajar).
Slow Lerner atau anak lambat belajar adalah mereka yang memiliki prestasi belajar rendah
(di bawah rata-rata anak pada umumnya) pada salah satu atau seluruh area akademik, tapi mereka
ini bukan tergolong anak terbelakang mental. Skor tes IQ mereka menunjukkan skor anatara 70 dan
90 (Cooter & Cooter Jr., 2004; Wiley, 2007).
Lebih rinci lagi, Cooter & Cooter Jr dan Wiley mendeskripsikan bahwa Slow Lerner
memiliki karakteristik antara lain :
1. Berfungsinya kemampuan kognisi, hanya saja di bawah level normal.
2. Cenderung tidak matang dalam hubungan interpersonal.
3. Memiliki kesulitan dalam mengikuti petunjuk-petunjuk yang memiliki banyak langkah.
4. Hanya memiliki sedikit strategi internal, seperti kemampuan organisasional, kesulitan dalam
belajar dan menggeneralisasikan informasi.
5. Nilai-nilai yang biasanya buruk dalam tes prestasi belajar.
6. Dapat bekerja dengan baik dalam hand-on materials, yaitu materi-materi yang telah
dipersingkat dan diberikan pada anak, seperti kegiatan di laboratorium dan kegiatan
manipulatif.
7. Memiliki self-image yang buruk.
8. Menguasai keterampilan dengan lambat, beberapa kemampuan bahkan sama sekali tidak
dapat dikuasai.
9. Memiliki daya ingat yang memadai, tetapi mereka lambat mengingat.
10. Rata-rata prestasi belajarnya selalu rendah (kurang dari 6).
11. Dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik sering terlambat dibandingkan teman-teman
seusianya.
12. Daya tangkap terhadap pelajaran lambat.

Mencermati pengertian dan karakteristik slow learner maka sesungguhnya slow learner ini
termasuk persoalan klasik pembelajaran yang disebabkan oleh bukan hanya factor IQ. Indikator
pokok permasalahan ini adalah prestasi belajar atau hasil belajar yang rendah. Tentu lebih rendah
apabila dibandingkan secara normative dengan prestasi peserta didik laiannya. Demikian pula
apabila prestasi peserta didik slow learner itu dibandingkan dengan KKM (Kriteria Ketuntasan
Minimal) sebagai PAK (Penilaian Acuan Kriteria).
Pendapat Atkinson semakin meyakinkan kita bahwa peserta didik yang berkemampuan di
bawah rata-rata dan putus asa, serta melakukan penyimpangan tingkah laku akan menjadi peserta
didik slow learner. Atkinson menyatakan bahwa penyebab slow learner adalah : (1) Faktor
internal/faktor genetik/hereditas berupa intelegensi. (2) Faktor eksternal yaitu penyebab utama
problem anak slow learner yang berupa strategi pembelajaran yang salah atau tidak tepat,
pengelolaan kegiatan pembelajaran yang tidak membangkitkan motivasi belajar anak dan
pemberian ulangan penguatan yang tidak tepat. Meskipun faktor genetik memiliki pengaruh yang
kuat, namun lingkungan juga merupakan faktor penting. Lingkungan benar-benar menimbulkan
perbedaan inteligensi. Gen dapat dianggap sebagai penentu batas atas dan bawah inteligensi atau
penentu rentang kemampuan intelektual, tetapi pengaruh lingkungan akan menentukan di mana
letak IQ anak dalam rentang tersebut. Kondisi lingkungan ini meliputi nutrisi, kesehatan, kualitas
stimulasi, iklim emosional keluarga, dan tipe umpan balik yang diperoleh melalui perilaku. Nutrisi
meliputi nutrisi selama anak dalam kandungan, pemberian ASI setelah kelahiran, dan pemenuhan
gizi lewat makanan pada usia di mana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat.
Nutrisi penting sekali bagi perkembangan otak anak. Nutrisi erat kaitannya dengan kesehatan anak.
Anak yang sehat perkembangannya akan lebih optimal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan
Beyley bahwa status sosial-ekonomi keluarga mempengaruhi IQ anak. Efek Lingkungan yang
Berbeda terhadap IQ dapat disimpulkan bahwa, individu dapat memiliki IQ sekitar 65 jika
dibesarkan di lingkungan miskin, tetapi dapat memiliki IQ lebih dari 100 jika dibesarkan di
lingkungan sedang atau kaya. Penelitian tersebut menjelaskan hubungan yang erat antara kondisi
sosial-ekonomi keluarga dengan variabel lingkungan, seperti nutrisi, kesehatan, kualitas stimulasi,
iklim emosional keluarga dan tipe umpan balik yang diperoleh melalui perilaku. Kondisi keluarga
mempengaruhi bagaimana keluarga mengasuh anak mereka (Atkinson, dkk, 1983, h. 137).
Mencermati deskrepsi terdahulu, maka Slow learner ini tentu bisa terjadi disetiap jenjang
pendidikan. Apalagi di jenjang Sekolah Dasar, slow learner ini sangat popular. Selain karena
peserta didik sedang dalam masa pertumbuhan ,juga merupakan fase-fase awal melewati proses
pendidikan formal. Selanjutnya, di SD (Sekolah Dasar) terselenggara sebuah system pembelajaran
yang cenderung tidak menganut prinsip student oriented, sehingga peserta didik kurang mampu

menyesuaikan diri. Hal-hal ini tentu juga

menyumbangkan pengaruh bagi merebaknya slow

learner.
Tentu kita semua tidak menginginkan masalah slow learner ini semakin meluas, bahkan
kita sangat ingin agar masalah ini segera teratasi. Namun demikian, sebuah permsalahan yang sudah
meluas seperti ini tidak akan bisa diatasi sekaligus. Harus bertahap dan dapat menentukan prioritas
segmen masalah yang dientas atau di-solving terlebih dahulu. Selain itu, solving masalah ini tidak
dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. Permasalahan ini hanya akan bisa tertangani dengan baik
apabila dilakukan secara simultan. Pemerintah, masyarakat, satuan pendidikan, dan komponen
lainnya harus bahu-membahu dalam mengentas masalah ini. Ada beberapa pendapat tentang
pendekatan dan strategi pemecahan masalah ini. Pada intinya, pendapat-pendapat yang mengemuka
berorientasi pada factor dominan penyebab slow learner. Salah satu pendapat yang mengemuka
adalah pendapat ABKIN dalam satu blog dinyatakan Bahwa cara penanganan yang dapat
dilakukan guru terhadap anak Slow Learner antara lain:
1.

Isi materi diulang-ulang lebih banyak (3-5 kali) dibandingkan dengan teman sebayanya
dalam memahami suatu materi daripada anak lain dengan kemampuan rata-rata. Maka,
dibutuhkan penguatan kembali melalui aktivitas praktek dan yang familiar, yang dapat
membantu proses generalisasi.

2.

Sediakan waktu khusus untuk membimbingnya secara individual atau privat. Tujuan
tutorial bukanlah untuk menaikkan prestasinya, tetapi membantunya untuk optimis
terhadap kemampuannya dan menghadapkannya pada harapan yang realistik dan dapat
dicapainya.

3.

Waktu materi pelajaran jangan terlalu panjang dan tugas-tugas atau pekerjaan rumah
lebih sedikit dibandingkan dengan teman-temannya.

4.

Berusahalah untuk membantu anak membangun pemahaman dasar mengenai konsep


baru daripada menuntut mereka menghafal dan mengingat materi dan fakta yang tidak
berarti bagi mereka.

5. Gunakan demonstrasi/peragaan dan petunjuk visual sebanyak mungkin. Jangan


membingungkan mereka dengan terlalu banyak verbalisasi. Pendekatan multisensori
juga dapat sangat membantu.
6.

Konsep-konsep atau pengertian-pengertian disajikan secara sederhana.

7.

Jangan mendorong atau memaksa mereka untuk berkompetisi dengan anak-anak yang
memiliki kemampuan yag lebih tinggi. Adakan sedikit persaingan dalam program
akademik yang tidak akan menyebabkan sikap negatif dan pemberontakan terhadap
proses belajar. Belajar dengan kerjasama dapat mengoptimalkan pembelajaran, baik

bagi anak yang berprestasi atau tidak, ketika pemebelajaran tersebut mendukung
interaksi sosial yang tepat dalam kelompok yang heterogen.
8.

Pemberian tugas-tugas harus terstruktur dan kongkrit, seperti pelajaran social dan ilmu
alam . Proyek-proyek besar yang membutuhkan matangnya kemampuan organisasional
dan kemampuan konseptual sebaiknya dikurangi, atau secara substansial dimodifikasi,
disesuaikan dengan kemampuannya. Dalam kerja kelompok, slow-learner dapat
ditugaskan untuk bertanggung jawab pada bagian yang konkret, sedang anak lain dapat
mengambil tanggung jawab pada komponen yang lebih abstrak.

9.

Berikan kesempatan kepada anak untuk bereksperimen dan praktek langsung tentang
berbagai konsep dengan menggunakan bahan-bahan kongkrit atau dalam situasi
simulasi.

10. Untuk mengantarkan pengajaran materi baru maka kaitkan materi tersebut dengan materi
yang telah dipahaminya sehingga familiar untuknya.
11. Instruksi yang sederhana memudahkan anak untuk memahami dan mengikuti instruksi
tersebut. Diusahakan saat memberikan arahan berhadapan langsung dengan anak.
12. Berikan dorongan kepada orangtua untuk terlibat dalam pendidikan anaknya di sekolah.
Membimbing mengerjakan PR,

menghadiri pertemuan-pertemuan di sekolah,

berkomunkasi dengan guru, dll.


13. Penting bagi guru untuk mengetahui gaya belajar masing-masing anak, ada yang
mengandalkan kemampuan visual,

auditori atau

kinestetik.

Pengetahuan ini

memudahkan penerapan metode belajar yang tepat bagi mereka.


Lebih khusus lagi dijelaskan bahwa Penyelesaian Masalah bagi Slow-learner dapat
dilakukan dengan menempuh beberapa strategi, yaitu :
1.

Pemeliharaan sejak dini Bila faktor lingkungan merupakan penyebab utama yang
mempengaruhi inteligensi, pencegahan awalnya mungkin dengan mengubah lingkungan
masyarakat dan lingkungan belajarnya. Perawatan sejak dini juga akan bermanfaat untuk
pencegahan. Dalam suatu penelitian, setiap anak tinggal di dalam kamar yang berbeda
dan hidup bersama dengan orang dewasa. Mereka mendapat perawatan yang khusus serta
cermat dari para perawat wanita yang berpendidikan rendah. Dari hasil tes IQ terlihat
adanya kemajuan. Dari sini dapat disimpulkan perawatan dini dan pemeliharaan secara
khusus dapat menolong mengurangi tingkat kelambanan belajar.

2.

Pengembangan secara keseluruhan Usahakan agar anak mau mengembangkan bakatnya


sebagai upaya mengalihkan perhatiannya dari kelemahan pribadi yang telah membuat
mereka kecewa dan apatis. Pengalaman dalam berbagai hal akan membuat anak

mengembangkan kemampuannya, dan pengalaman yang sukses akan membangun konsep


harga diri yang sehat.
3.

Lembaga pendidikan, kelas atau kelompok belajar khusus Dalam hal pergaulan, mereka
yang ada di lembaga pendidikan umum mungkin mengalami perasaan seperti diasingkan
oleh teman-temannya, tetapi di sana mereka dapat memiliki harga diri yang lebih tinggi
daripada yang mengikuti pendidikan di lembaga khusus. Bagi anak yang lambat belajar,
yang terpenting bukanlah di mana mereka disekolahkan, tetapi bagaimana mereka
mendapatkan pengaturan lingkungan belajar yang ideal. Dalam sekolah umum dapat
dibentuk kelas khusus bagi anak slow-learner. Anak slow-learner membutuhkan
perhatian yang lebih intensive dalam proses belajar mereka. Dengan dibentuk kelas atau
kelompok yang relatif kecil, pembelajaran akan fokus pada mereka dan penggunaan
metode yang berbeda dengan siswa reguler dapat lebih leluasa.

4.

Memberikan pelajaran tambahan Sekolah dapat mengatur atau menambah guru khusus
untuk menolong kebutuhan belajar anak. Dapat juga dengan menyediakan program
belajar melalui komputer. Dengan demikian, mereka dapat belajar tanpa tekanan dan
memperoleh kemajuan yang sesuai dengan kemampuan diri sendiri.

5.

Latihan indra Kesulitan belajar bagi anak yang lamban berhubungan erat dengan
intelektualitasnya. Jadi, penting juga untuk memberikan beberapa teknik latihan indra
kepada mereka. Anak memiliki gaya belajarnya masing-masing, seperti visual, auditori
atau kinestetik. Dengan mengasah kemampuan indera yang dominan pada mereka akan
mempermudah proses pemahaman dalam belajar mereka.

6.

Prinsip belajar Semua usaha yang melatih anak untuk meningkatkan daya belajarnya,
sebaiknya memerhatikan prinsip dan keterampilan belajar, antara lain:
A. Usahakan agar anak lebih banyak mengalami sukacita karena keberhasilannya.
Hindarkan kegagalan yang berulang-ulang.
B. Dorong anak untuk mencari tahu jawaban yang benar atau salah dengan usahanya
sendiri. Dengan demikian, anak dapat dipacu semangatnya untuk belajar.
C. Beri dukungan moral atas setiap perubahan sikap anak agar mereka puas. Suatu waktu,
berilah hadiah kepada anak.
D. Perhatikan taraf kemajuan belajar anak, jangan sampai kurang tantangan dan terlalu
banyak mengalami kegagalan.
E. Lakukan latihan secara sistematis dan bertahap sehingga mencapai kemajuan belajar.
F. Boleh memberikan pengalaman berulang yang cukup, tetapi jangan diberikan dalam
jangka pendek.
G. Jangan merencanakan pelajaran yang terlampau banyak bagi murid.

H. Gunakan teknik bahasa yang melibatkan lebih banyak penggunaan indra.


I. Lingkungan belajar yang sederhana akan mengurangi rangsangan yang tidak
diinginkan. Aturlah tempat duduk sedemikian rupa agar mereka tidak merasa
terganggu.
7.

Dukungan orang tua dan bantuan orang tua erat hubungannya dengan hasil belajar anak
yang lamban. Bila dalam mengulangi apa yang dipelajari di sekolah, orangtua bekerja
sama dengan guru dalam memberikan metode dan pengarahan yang sama, tentu akan
diperoleh hasil yang lebih baik. Bila memungkinkan, orang tua dapat meminta izin untuk
mengamati proses belajar mengajar di sekolah.

Beberapa pendapat tentang penanganan dan penyelesaian masalah slow learner terdahulu
berorientasi pada keniscayaan seorang guru atau SDM tenaga pendidik untuk senantiasa
professional, termasuk pula di dalamnya menaruh perhatian terhadap prinsip individual differences.
Demikian pula harapan penuh terhadap eksistensi orang tua merupakan hal strategis dan urgen. Lain
dari itu, pun setiap satuan pendidikan diharapkan mampu memberikan layanan perima dalam
mengatasi masalah slow learner ini dengan menerapkan prinsip ekuitas dan pemerataan. Namun
kiranya subtansi pendapat terdahulu ini terasa hambar jika tidak mendapat supporting dari
pemerintah berupa kebijakan tentang penanganan masalah slow learner tersebut. Wallohualamu.