Anda di halaman 1dari 18

UNIVERSITAS INDONESIA

REDD dengan Perspektif Etika Lingkungan

Makalah Filsafat dan Etika Lingkungan

Disusun Oleh:
Rieneke Kusmawaningtyas
NPM: 1406523793

JENJANG MAGISTER
PROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN
PROGRAM PASCASARJANA
2014

1. Latar Belakang
Peningkatan suhu bumi atau yang dikenal dengan pemanasan global beberapa tahun ini telah
menjadi topik utama dunia terkait kerusakan lingkungan. Salah satu pemicu pemanasan
global yaitu emisi gas CO2. Peningkatan emisi gas CO2 disebabkan meningkatnya jumlah
penduduk serta kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Kegiatan manusia tersebut
diantaranya pemanfaatan bahan bakar fosil sebagai sumber energi dari kegiatan industri dan
transportasi serta alih guna lahan. Peningkatan konsentrasi CO2 di bumi akibat aktivitas
manusia menimbulkan permasalahan yang dikenal dengan efek Gas Rumah Kaca (GRK) dan
berakibat pada perubahan iklim dunia. Perubahan iklim di Indonesia menyebabkan beberapa
dampak seperti: peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah menyebabkan banjir di daerah
dataran rendah sedangkan wilayah lain mengalami kekeringan panjang, bertambah tingginya
permukaan laut yang menyebabkan banjir akibat air pasang meningkat di daratan. Perubahan
iklim yang diakibatkan peningkatan emisi gas CO 2 juga menjadi sorotan penting masyarakat
dunia karena dampaknya dirasakan oleh seluruh masyarakat dunia.

14%

14%

8%
14%

Agriculture
Building
Other energy

5%

Waste

3%

Power
Deforestation
Transport
Industry

18%
24%

Gambar 1.1 GHG Emissions in 2000


Berdasarkan Gambar 1.1, dapat dilihat bahwa penghasil tertinggi GRK di dunia berasal dari
pembangkit tenaga listrik sebasar 24%, kemudian disusul oleh deforestrasi sebesar 18%, dan
pada posisi ketiga dihasilkan dari alat transportasi atau aktivitas pertanian atau industri
sebesar 14% (Elyana, 2013). Pada Gambar 1.1 terlihat jelas bahwa deforestrasi yang
disebabkan salah satunya akibat penebangan hutan menjadi penyumbang kedua terbesar

pemanasan global. Upaya mitigasi dan adaptasi yang dilakukan dunia terkait pemanasan
global adalah upaya penurunan emisi GRK, yang diawali oleh United Nations Framework
Convention on Climate Change (UNFCCC), yaitu suatu konvensi yang ditandatangani pada
tanggal 19 Mei 1992. Konvensi ini bertujuan mencapai stabilisasi konsentrasi GRK di
atmosfir pada tingkat yang akan mencegah gangguan antropogenik dalam sistem iklim.
Sebagai peruwujudan lebih lanjut akan komitmen negara peserta terhadap konvensi ini,
ditandatanganilah Kyoto Protocol to the United Nation Framework Convention on Climate
Change (Kyoto Protocol) pada tanggal 11 Desember 1997 (Putri, 2012).
Dalam konteks protokol Kyoto dan perubahan iklim, hutan dapat berperan baik sebagai sink
(penyerap/penyimpan karbon) maupun source (pengemisi karbon) yang mampu mengurangi
konsentrasi gas rumah kaca sebagai penyebab pemanasan global dan perubahan iklim.
Kenyataannya Protokol Kyoto tidak berhasil mencapai target penurunan emisi dunia karena
kurangnya komitmen negara-negara industri (Annex I) untuk menurunkan emisinya. Seiring
akan berakhirnya protokol Kyoto pada tahun 2012, diusulkan suatu mekanisme pengganti
protokol Kyoto yaitu sebuah mekanisme insentif untuk pencegahan deforestasi yang dikenal
dengan Reducing Emissions from Deforestation in Developing Countries (RED) pada
Konferensi para Pihak (COP) ke 11 di Montreal pada tahun 2005.
Upaya mitigasi, adaptasi serta peran serta Indonesia pada RED yaitu Indonesia menyatakan
target nasional pengurangan emisi sebesar 26 persen sampai tahun 2020 dibandingkan tahun
2000. Berdasarkan Tabel 1.1 sektor kehutanan menyumbangkan 2,563 metric ton pada tahun
2007. Sektor kehutanan masih merupakan pengemisi GRK yang umumnya berasal dari
deforestasi dan degradasi serta kebakaran hutan. Walaupun sektor kehutanan sampai saat ini
masih merupakan sumber emisi, sektor ini sesungguhnya mempunyai potensi besar untuk
menyerap karbon (removal) melalui penanaman pohon dan pertumbuhan hutan. Berbagai
kegiatan penanaman telah dilakukan di Indonesia jauh sebelum isu peran hutan dalam
mitigasi perubahan iklim berkembang. Penanaman melalui pembangunan hutan tanaman dari
tahun 1989 hingga tahun 2004 telah mencapai 3,25 juta hektar. Beberapa faktor pemicu
deofrestasi dan degradasi yang telah diidentifikasi yaitu pertambahan jumlah penduduk,
penebangan liar, kebakaran hutan, dan konvensi lahan hutan untuk kegiatan-kegiatan lain
yang menghasilkan penutupan lahan dengan cadangan karbon yang lebih rendah seperti
untuk perkebunan dan pertanian, pemekaran wilayah (kabupaten), pertambangan dan
pemukiman (Wibowo et al, 2010).

Tabel 1. Perbandingan Sumber Emisi GRK di Beberapa Negara


(dalam metric ton CO2)

Sumber: Setneg.go.id
Mengingat sektor kehutanan Indonesia menyumbangkan nilai yang cukup besar pada emisi
GRK, pemerintah Indonesia membuat pelaksanaan proyek pembenahan tata kelola sektor
kehutanan dan lahan gambut melalui program Reducing Emission from Deforestation and
Forest Degradation/REDD+ untuk mengurangi adanya emisi CO2 di Indonesia.
Pemanasan global, jika dipandang melalui kacamata etika lingkungan adalah suatu dampak
yang timbul akibat pandangan manusia yang menganggap bahwa alam sebagai bagian yang
tidak memiliki nilai serta sebagai objek pemenuhan kebutuhan manusia. Pandangan dan sikap
ini yang dinamakan antroposentrisme. Semula hutan sebagai bagian dari alam dianggap tidak
memiliki arti. Fungsi hutan sebagai faktor dalam siklus karbon dioksida dunia hanya
dianggap sebelah mata. Pandangan bahwa hutan tidak terlalu penting dalam siklus karbon
dioksida diiringi pembangunan yang terus berkembang pesat, dan jumlah penduduk dunia
yang semakin meningkat mengakibatkan timbulnya kejadian pengrusakan hutan. Kegiatan
alih fungsi lahan, penggundulan hutan, pemanfaatan sumber daya hutan dianggap lebih
penting dibandingkan fungsi hutan sebenarnya, yaitu penyeimbang kadar oksigen dan karbon
dioksida di udara.
Budaya pemikiran antroposentrisme dalam hal ini yaitu pandangan terhadap fungsi hutan
memunculkan kesadaran penduduk dunia bahwa kelangkaan akan fungsi hutan yang
sebenarnya mulai terasa. Peningkatan emisi gas CO2, kekeringan panjang, perubahan iklim,
serta contoh masalah lainnya yang telah diungkap sebelumnya memunculkan masalah baru
yaitu berkurangnya jumlah luasan hutan yang berperan sebagai paru-paru dunia. Masalah
baru ini mirip dengan teori kelangkaan sumber daya alam yang diungkapkan oleh HomerDixon dimana kelangkaan sumber daya alam akan menyebabkan instabilitas dari institusi
yang ada.

Hal lain yang perlu diperhatikan dari sisi etika lingkungan adalah konsep insentif dari
REDD+. REDD+ secara umum menurut Suparmoko (2011) didefinisikan sebagai
Mekanisme internasional yang dimaksudkan untuk memberikan insentif positif bagi negara
berkembang yang berhasil mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan.
Deforestasi sendiri didefinisikan sebagai penebangan habis hutan primer maupun sekunder,
tanpa mempertimbangkan apakah hutan akan tumbuh atau ditanam kembali; sedangkan
degradasi hutan adalah penebangan sebagian dari hutan primer dan sekunder. Konsep tersebut
dapat diartikan bahwa negara berkembang mempunyai kewajiban untuk menjaga dan
mempertahankan kelestarian lingkungan dengan tidak mengganggu kelangsungan kehidupan
hutan sementara negara maju tetap dapat mengeluarkan emisi akibat kegiatan industrinya
karena telah berperan memberi insentif ke negara maju. Beberapa point penting tersebut
menjadi alasan dibutuhkannya kajian REDD + dalam perspektif etika lingkungan.

2. Pokok Permasalahan
Penulisan makalah ini ditekankan pandangan etika lingkungan dalam hal pelaksanaan
REDD+ sebagai upaya mitigasi perubahan iklim ke depannya. Jenis data yang digunakan
adalah data sekunder, yaitu data-data yang diperoleh dari jurnal, buku dan internet yang
berkaitan dengan masalah yang diteliti.

3. Tinjauan Pustaka
1.1 Teori Pembangunan Berkelanjutan
Manusia dalam usaha pemenuhan kebutuhannya, mengoptimalkan, memanfaatkan serta
memberikan nilai tambah pada seluruh potensi dan sumber daya alam. Kegiatan
memanfaatkan sumber daya alam dan tidak memperhatikan aspek kelestarian lingkungan
pada akhirnya akan berdampak negatif pada lingkungan, karena pada dasarnya sumber daya
alam dan lingkungan memiliki kapasitas daya dukung yang terbatas. Eksploitasi lingkungan
yang dilakukan untuk menunjang kegiatan pemenuhan kebutuhan manusia menyebabkan
terganggunya keseimbangan ekologis. Kondisi seperti inilah yang disebut sebagai Krisis
Lingkungan.
Kondisi krisis lingkungan melahirkan suatu pemikiran mengenai Pembangunan berkelanjutan
(sustainable development). Keraf (2010) menjelaskan bahwa konsep pembangunan
berkelanjutan dimaksudkan untuk mengsingkronkan, mengintegrasikan dan memberi bobot
yang sama bagi tiga aspek ekonomi, aspek sosial-budaya dan aspek lingkungan. konsep
pembangunan berkelanjutan adalah reaksi terhadap timpangnya pembangunan yang hanya
memikirkan ekonomi tanpa adanya pembangunan di bidang sosial dan lingkungan.
Pembangunan adalah proses transformasi dimana kombinasi antara pembangunan ekonomi
dan perubahan sosial dan budaya diakomodasi untuk memastikan setiap individu bisa
memenuhi potensinya secara maksimal. Aspek berkelanjutan menyadari adanya keterbatasan
dari lingkungan tetap menjadi bagian dari pertimbangan dalam pembuatan kebijakan.
Pendekatan ini memang lebih antroposentris dimana preservasi lingkungan dilakukan tetap
dalam rangka preservasi kehidupan manusia. Terdapat 4 aspek utama dalam pembangunan
berkelanjutan ini menurut Bruntland report:
1. Pemenuhan kebutuhan dasar bagi masyarakat dan semua makhluk hidup
(development).
2. Pencapaian standar hidup yang merata secara global (development)
3. Pencapaian dilakukan dengan pertimbangan lingkungan dan kemungkinan destruksi
bidiversitas

dalam

prosesnya.

Sehingga

upaya

mempertimbangkan daya dukung lingkungan (sustainability).

pembangunan

harus

4. Pencapaian

harus

mempertimbangkan

kebutuhan

generasi

masa

datang

(sustainability).

Gambar 3.1 Konsep Pembangunan Berkelanjutan


Guna mencapai keberlanjutan, maka strategi World Commision on Environment and
Development (WCED) secara garis besar memuat tiga aspek penting, yakni aspek
pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, aspek pembangunan sosial yang berkelanjutan
dan aspek pengelolaan kualitas lingkungan hidup yang berkelanjutan. Permasalahan terkait
peningkatan emisi CO2 menjadi problematika yang digarisbawahi oleh Pemerintah. Target
pengurangan emisi CO2 menjadi 26% adalah salah satu upaya pemerintah dalam rangka
melaksanakan konsep pembangunan berkelanjutan dalam bidang lingkungan.
1.2 REDD (Reducing Emission from Deforestation and Degradation)
Emisi karbon dari perubahan tata guna lahan-terutama deforestrasi dan degradasi hutan tropis
diperkirakan mencapai 15-20% dari seluruh emisi karbon global, lebih besar dari sektor
transportasi global. Peran penting hutan dalam mitigasi perubahan iklim dan kebutuhan akan
penetapan secepatnya mekanisme REDD+ secara resmi disahkan dalam Konvensi Kerangka

Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UN Framework Convention on Climate


Change/UNFCCC) dalam kesepakatan Kpenhagen, Desember 2009. Gagasan dasarnya
adalah agar negara berkembang dan kaya hutan memeperoleh imbalan karena melestarikan
hutan mereka. Ini melibatkan penerapan nilai karbon hutan yang akan memungkinkan
konservasi hutan bersaing secara finansial dengan pemicu utama deforestrasi, antara lain
konversi pertanian, penebangan hutan, dan pembangunan prasarana. Selain untuk
penyimpanan karbon, REDD+ juga dapat memberikan manfaat tambahan yang penting,
misalnya pelestarian keanekaragaman hayati, pengurangan kemiskinan, dan perbaikan tata
kelola hutan (Cronin dan Santoso, 2011).
REDD+ di Indonesia dikembangkan dalam kerangka pembangunan rendah karbon dan
ekonomi hijau untuk memastikan bahwa upaya penanganan perubahan iklim dari sektor
penggunaan lahan dilakukan sejalan dengan kebijakan dan kebutuhan pembangunan
berkelanjutan Indonesia. Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi sebesar 26 persen
dari skenario pembangunan Business as Usual (BAU) pada tahun 2020 dengan dana sendiri
tanpa mengorbankan pembangunan di sektor lain, atau 41 persen jika mendapatkan bantuan
internasional. Pemerintah akan melakukan ini sejalan dengan upaya memacu pertumbuhan
ekonomi sebesar 7 persen per tahun. Untuk mewujudkan komitmen ini pemerintah telah
mengeluarkan Perpres 61/2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah
Kaca (RAN-GRK) dan Perpres 71/2011 tentang Penyelenggaraan Inventarisasi GRK
Nasional. REDD+ mendukung pencapaian target RAN-GRK dalam bidang pengelolaan
hutan, lahan gambut dan pertanian.
Selain itu Pemerintah Indonesia, melalui Satgas REDD+, telah membuat Strategi Nasional
REDD+ (Stranas REDD+), dengan tujuan:
1. Menyiapkan sistem kelembagaan yang efektif untuk melaksanakan program;
2. Memberi dasar dan arahan bagi sistem tata kelola dan peraturan yang terintegrasi
untuk menaungi pelaksanaan skema REDD+;
3. Membangun proses dan pendekatan yang sistematis dan terkonsolidasi bagi upayaupaya penyelamatan hutan alam Indonesia beserta isinya; dan

4. Memberikan acuan bagi pengembangan investasi dalam bidang pemanfaatan lahan


hutan dan lahan bergambut baik untuk komoditi kehutanan dan/atau pertanian serta
jasa lingkungan termasuk penyerapan dan pemeliharaan cadangan karbon.

Dokumen Strategi Nasional REDD+ menguraikan Strategi Nasional REDD+ yang terdiri dari
lima pilar strategi nasional:
1.

Kelembagaan dan proses:


a. Badan Khusus REDD+
b. Instrumen dan Lembaga Pendanaan
c. Sistem dan Lembaga MRV (Monitoring Report and Verification)

2.

Kerangka hukum dan peraturan


a. Meninjau hak-hak atas lahan dan mempercepat perencanaan tata ruang
b. Meningkatkan penegakan hukum dan mencegah korupsi

c. Menangguhkan ijin baru untuk hutan dan lahan gambut selama 2 tahun
d. Memperbaiki data tutupan dan perijinan di hutan dan lahan gambut
e. Menyelaraskan sistem insentif
3.

Program-program strategis
a. Pengelolaan lansekap yang berkelanjutan: perencanaan dan pengelolaan lansekap/
ekoregion/DAS multifungsi, perluasan alternatif lapangan kerja secara berkelanjutan,
akselerasi pembentukan organisasi dan operasional KPH, pengendalian & pencegahan
kebakaran hutan & lahan
b. Sistem ekonomi pemanfaatan SDA secara lestari : memacu praktek pengelolaan hutan
secara lestari, meningkatkan produktivitas pertanian dan perkebunan, mewujudkan
praktek pertambangan ramah lingkungan, mempromosikan industri hiilir dengan nilai
tambah tinggi
c. Konservasi dan rehabilitasi: memantapkan fungsi kawasan lindung , mengendalikan
konversi hutan dan lahan gambut, restorasi hutan dan rehabilitasi gambut

4.

Perubahan paradigma dan budaya kerja


a. Penguatan tata kelola sektor kehutanan
b. Pemberdayaan ekonomi lokal dengan prinsip berkelanjutan
c. Kampanye nasional untuk aksi Penyelamatan Hutan Indonesia

5.

Keterlibatan berbagai pihak


a. Melakukan interaksi dengan berbagai kelompok (pemerintah regional, sektor swasta,
organisasi non pemerintah, masyarakat adat /lokal dan internasional)
b. Mengembangkan sistem pengaman (safeguards) sosial dan lingkungan
c. Mengusahakan pembagian manfaat (benefit sharing) secara adil

Dokumen Stranas REDD+ menegaskan perlunya pendekatan bertahap dalam pelaksanaan


REDD+. REDD+ tidak hanya ditujukan untuk upaya mitigasi perubahan iklim dan
mendapatkan keuntungan dari penurunan emisi karbon, tetapi juga memperbaiki tata kelola

hutan secara keseluruhan agar kelestarian jasa lingkungannya termasuk keanekaragaman


hayati dan sistem tata air meningkat (www.reddplus.go.id).

Tujuan penerapan REDD+ di Indonesia:


1. Jangka Pendek (2011-2013):
Memperbaiki tata kelola kehutanan secara keseluruhan agar dapat mendukung
pencapaian komitmen Indonesia dalam mengurangi emisi sebesar 26% 41% pada tahun
2020.
2. Tujuan Jangka Menengah (2013-2020)
Mempraktikkan mekanisme tata kelola dan pengelolaan hutan secara luas yang telah
ditetapkan dan dikembangkan dalam tahap sebelumnya agar target-target penurunan
emisi tahun 2020 dapat dicapai.
3. Tujuan Jangka Panjang (2020-2030)
Mengubah peran hutan Indonesia dari pengemisi menjadi sektor yang berkontribusi
terhadap penurunan emisi pada tahun 2030 dan memastikan keberlanjutan fungsi
ekonomi dan ekosistem hutan.
REDD+ sendiri sebenarnya adalah kasus perdagangan karbon (CO 2) sebagai pembayaran jasa
lingkungan hutan di mana negara maju yang terikat dengan protokol Kyoto diwajibkan
mengurangi emisi karbon di negaranya masing-masing. Tetapi bila negara maju bertindak
melakukan pengurangan karbon berarti mereka harus mengurangi kegiatan ekonomi mereka
sehingga menekan tingkat penghasilan nasional dan kesejahteraan ekonomi penduduk atau
masyarakat di masing-masing negara yang melakukan pengurangan emisi karbon. Pada
akhirnya REDD+ sebagai realisasi konsep pembayaran jasa lingkungan, dimana negara
berkembang didorong untuk mengurangi emisi karbon sedangkan negara maju tidak perlu
mengurangi kegiatan industri, perdagangan dan transportasinya demi mempertahankan
tingkat kehidupannya sekarang dan tingkat pertumbuhan ekonomi mereka tetapi bersedia
melakukan pembayaran dana ke negara-negara yang bersedia melakukan rehabilitasi hutan
dan menghentikan penebangan hutannya. Dengan demikian berarti volume emisi karbon di

dunia akan berkurang melalui pengurangan emisi karbon di negara berkembang dan negara
maju tidak perlu menekan emisi karbon mereka sekaligus masih menikmati kehidupan
ekonomi yang maju dan sejahtera (Suparmoko dan Ratnaningsih, 2011).

4. Pembahasan
Pembangunan dan pertambahan jumlah penduduk berdampak pada peningkatan jumlah
kebutuhan akan sumber daya alam. Selain itu jumlah penduduk yang terus bertambah
mengakibatkan dibutuhkannya perluasan lahan sebagai tempat pemukiman penduduk. Salah
satu yang sumber daya yang mengalami penurunan jumlah akibat eksploitasi manusia secara
berlebihan adalah hutan. Hutan merupakan sumber daya alam yang dapat memberikan
manfaat secara langsung maupun tidak langsung. Manfaat hutan secara langsung adalah
sebagai sumber berbagai jenis barang, seperti kayu, getah, kulit kayu, daun, akar, buah, bunga
dan lain-lain yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh manusia atau menjadi bahan
baku berbagai industri. Manfaat hutan yang tidak langsung meliputi: gudang keanekaragaman
hayati, pengatur iklim dunia, penyerap CO 2, penghasil oksigen, sumber bahan obat-obatan,
ekoturisme, dan lain-lain.
Fungsi hutan bermanfaat sebagai penyerap karbon dioksida (CO2) serta penghasil oksigen
(O2) akan memberikan dampak besar pada dunia ketika hutan ditebang secara besar-besaran.
Biomassa yang tersimpan di dalam pohon akan terurai dan melepaskan gas karbon dioksida
(CO2) sehingga menyebabkan peningkatan konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer.
Peningkatan konsentrasi GRK saat ini berada pada laju yang mengkhawatirkan sehingga
emisi GRK harus dikendalikan. Di Indonesia luas tutupan hutan terus berkurang. Deforestasi
marak terjadi demi memenuhi kebutuhan akan lahan pemukiman atau lahan untuk bercocok
tanam. Tercatat bahwa jika tutupan hutan pada tahun 2000 dibandingkan dengan tutupan
hutan pada tahun 2009, hutan yang sudah mengalami deforestasi di Jawa sekitar 60,64
persen, Bali-Nusa Tenggara 45,92 persen, Maluku 25,09 persen, Sumatera 23,92 persen,
Kalimantan 16,76 persen, Sulawesi 15,58 persen dan Papua 1,81 persen (gambar 4.1)
(Sumargo et al, 2011).

Gambar 4.1 Deforestasi di Indonesia Periode Tahun 2000-2009


Untuk itu diperlukan upaya untuk mengelola dampak perubahan iklim dan melindungi
sumber penghasilan dan mata pencaharian mereka (strategi adaptasi) serta mengatasi sumber
atau penyebab (mitigasi) perubahan iklim. Salah satu inisiatif global yang berkembang saat
ini adalah mekanisme Penurunan Emisi dari Deforestasi dan Pengrusakan Hutan/Reducing
Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD) yang selanjutnya berkembang
menjadi REDD+. Secara sederhana, REDD merupakan inisiatif global yang bertujuan untuk
menurunkan emisi karbon yang berasal dari deforestasi dan kerusakan hutan dengan
memberikan kompensasi secara finansial kepada negara-negara yang mampu melakukan
upaya tersebut.
Jika dipandang melalui pandangan etika lingkungan, eningkatan GRK adalah dampak akibat
perilaku antroposentris penduduk dunia. Menurut Keraf (2010), antroposentrisme adalah teori
etika lingkungan hidup yang memandang manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta.
Manusia dan kepentingannya dianggap yang paling menentukan dalam tatanan ekosistem dan
dalam kebijakan yang diambil dalam kaitan dengan alam, baik secara langsung atau tidak
langsung. Nilai tertinggi manusia adalah manusia dan kepentingannya. Antroposentrisme
menganggap bahwa alam hanya sebagai objek dan alat pencapaian kebutuhan manusia. Demi
tercapainya keinginan manusia, hutan yang dianggap sebagai objek dengan mudahnya
dirusak dan dialihkan fungsinya. Degradasi hutan yang kian meningkat di Indonesia
memberikan gambaran bahwa hutan masih dianggap tak memiliki nilai pada dirinya sendiri.
Peningkatan GRK akibat kegiatan industri dan berkurangnya jumlah luasan hutan sebagai
penyumbang oksigen dunia disadari penduduk dunia sebagai suatu kelangkaan. Pada
akhirnya sifat egois manusia menyadarkan bahwa sumber daya alam dalam hal ini berupa

hutan akan berujung pada kelangkaan. Contoh kelangkaan akibat deforestasi hutan Indonesia
seperti yang diungkapkan pada laporan Forest Watch Indonesia (2011), Berdasarkan laju
deforestasi pada periode tahun 2000-2009, dengan mengabaikan pengelompokan berdasarkan
fungsi kawasan, diperkirakan pada tahun 2020 hutan di Jawa akan habis, Bali-Nusa Tenggara
tersisa 0,08 juta ha, Maluku 2,37 juta ha, Sulawesi 7,20 juta ha, Sumatera 7,72 juta ha,
Kalimantan 21,29 juta ha, dan Papua 33,45 juta ha. Apabila diproyeksikan sampai dengan
tahun 2030, dengan mengabaikan pengelompokan berdasarkan fungsi kawasan, diperkirakan
hutan di Jawa dan Bali-Nusa Tenggara akan habis, Maluku tinggal 1,12 juta ha, Sumatera
4,01 juta ha, Sulawesi 5,54 juta ha, Kalimantan 15,79 juta ha dan Papua 32,82 juta ha
(Sumargo et al, 2011).
Kelangkaan akan sumber daya alam seperti yang diungkapkan oleh Homer-Dixon bahwa
kelangkaan sumber daya alam akan berakibat pada ketidakstabilannya kondisi institusi baik
di dunia maupun di dalam negeri yang disertai dengan timbulnya konflik apabila sumber
daya yang ada terus-menerus dieksploitasi tanpa dilakukan strategi penghematan sumber
daya. Contoh konflik yang mulai terjadi belakangan adalah keluhan warga malaysia akibat
asap tebal yang muncul karena kejadian kebakaran hutan di Sumatra. Asap tebal yang
menganggu kesehatan pernafasan manusia ini apabila terus berlanjut memungkinkan
terjadinya konflik antara Indonesia dan Malaysia.
Kesadaran akan kelangkaan yang terjadi kemudian membuat institusi dunia melakukan
tindakan adaptasi dan mitigasi. REDD+ sebagai upaya pengurangan GRK adalah suatu
mekanisme pengganti protokol Kyoto yaitu sebuah mekanisme insentif untuk pencegahan
deforestasi. Indonesia dalam hal internalisasi eksternalitas negatif yang dihasilkan dari
implementasi protokol Kyoto pada sektor kehutanan, berupaya menegosiasikan REDD
(Reducing Emission from Deforestation and Degradation). REDD+ sejauh ini masih bersifat
antroposentris karena penanggulangan kerusakan alam, dalam hal ini adalah hutan, sematamata hanya sebagai perwujudan kewajiban dan tanggung jawab moral terhadap sesama
manusia dan bukan perwujudan kewajiban dan moral terhadap alam itu sendiri. Upaya ini
juga disebut sebagai contoh etika teologis. Keraf (2010) mengatakan suatu kebijakan dan
tindakan yang baik dalam kaitan dengan lingkungan hidup akan dinilai baik kalau
mempunyai dampak yang menguntungkan bagi kepentingan manusia .
Pada penjelasannya sebelumnya, dijelaskan bahwa REDD+ adalah mekanisme internasional
yang dimaksudkan untuk memberikan insentif positif bagi negara berkembang yang berhasil
mengurangi emisi deforestrasi dan degradasi hutan. REDD+ juga dapat dinilai sebagai
penyelesaian konflik secara game theory karena terkait pembayaran insentif dari negara maju

kepada negara berkembang. Suparmoko (2011) mengatakan bahwa REDD+ sebenarnya


adalah kasus perdagangan karbon (CO2) sebagai pembayaran jasa lingkungan hutan dimana
negara maju yang terikat dengan Protokol Kyoto diwajibkan mengurangi emisi karbon di
negaranya masing-masing. Hal ini terkait dengan sumber emisi karbon yang utama di negara
maju adalah pembakaran bahan bakal fosil seperti minyak bumi dan batu bara. Pada intinya,
kasus REDD+ adalah kasus pembayaran jasa lingkungan hutan yang dihasilkan oleh negaranegara yang mempertahankan luas hutannya. Negara maju menikmati jasa lingkungan
dengan tidak harus mengurangi emisi CO 2 akibat kegiatan perekonomiannya, tetapi mereka
layak memberikan insentif kepada negara berkembang agar mereka bersedia mengurangi
emisi karbon melalu reforestrasi dan moratorium hutan. Penyelesaian konflik secara game
theory ini kemungkinan tidak berlangsung dalam waktu yang lama karena menyangkut
kepentingan dua kelompok yang berbeda di masa depan.
Terlepas dari sifat antroposentris dan penyelesaian konflik pada masalah GRK, permasalahan
GRK membutuhkan pemahaman akan teori Deep Ecology (DE). DE menuntut suatu etika
baru yang tidak berpusat pada manusia. DE lebih tepat disebut sebagai sebuah gerakan
selaras dengan alam dimana orang-orang sama-sama memperjuangkan isu lingkungan hidup
dengan cara merubah cara pandang, nilai, perilaku dan gaya hidup. Pada akhirnya, masalah
kelangkaan dan krisis lingkungan yang terjadi saat ini tentunya akibat sifat egoistis yang
dimiliki manusia yang menganggap bahwa alam sebagai pemuas nafsu manusia. Terkait
kelangkaan sumber daya alam yang mulai terjadi maka pandangan antroposentris seperti itu
seharusnya mulai berubah menjadi pemahaman Deep Ecology atau Arne Naess menyebutnya
sebagai Ecosophy yaitu sebuah tindakan menjaga secara arif lingkungan. Negara maju dan
negara berkembang seharusnya mulai mengaplikasikan konsep pembangunan berkelanjutan
dengan menyematkan sikap Deep Ecology.

5. Kesimpulan
REDD sebagai upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim dunia merupakan
konsep yang luar biasa baik dalam perencanaannya. Jika dikaji melalui teori etika
lingkungan, REDD dapat dinilai sebagai contoh tindakan antroposentis yaitu hanya sebagai
perwujudan kewajiban dan tanggung jawab moral terhadap sesama manusia dan bukan
perwujudan kewajiban dan moral terhadap alam itu sendiri.

Daftar Pustaka
Afif, Suraya. 2011. Kajian Sosial dan kelembagaan Terkait dengan Pengelolaan Hutan
dalam Skema REDD di Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat.Laporan
Penelitian. Pusat Kajian Antropologi, Departemen Antropologi, FISIP UI, Depok.
Aryani, Riza. 2012. Analisa Kegagalan Implementasi REDD+ dalam Proyek Rimba Raya di
Kalimantan Tengah (2008-2010). Skripsi. Universitas Indonesia. Depok.
Cronin, T., Santoso, L. 2011. Politik REDD+ di Media Studi Kasus dari Indonesia. CIFOR.
Bogor.
Elyana, Dewi. 2013. Partisipasi Masyarakat dalam Implementasi Proyek Percontohan
REDD+ Studi Kasus: Kalimantan Forests and Climate Partnership di Desa Petak Puti,
Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Tesis. Universitas Indonesia. Depok.
Keraf, Sonny A. 2010. Etika Lingkungan. Penerbit Buku Kompas, Jakarta.
Putri, Fallissa A. 2012. Tinjauan Hukum Internasional Terhadap Penerapan Reducing
Emissions From Deforestation And Forest Degradation (REDD) Dalam Bentuk
Moratorium Hutan Di Indonesia. Skripsi, Universitas Indonesia. Depok.
Setiawan, M. 2014. REDD sebagai Post Agreement Negotiation Pasca Protokol Kyoto.
Ejurnal Ilmu Hubungan Internasional. Edisi 2. Vol. 2.
Sumargo, W., Nanggara S. G., Nainggolan, F. A., Aprieni, I. 2011. Potret Keadaan Hutan
Indonesia. Laporan Penelitian. Forest Watch Indonesia. Bogor.
Suparmoko, M., Ratnaningsih, M. 2011. Ekonomika Lingkungan. BPFE-Yogyakarta.
Yogyakarta.
Wibowo, A., Ginoga, K., Lugina, M., Handoyo. 2010. Kajian Kontribusi Kehutanan Dalam
Penurunan 26% Emisi Gas Rumah Kaca Indonesia. Laporan Akhir. Kementerian
Kehutanan, Badan Penelitian Dan Pengembangan Kehutanan, Pusat Litbang Perubahan
Iklim dan Kebijakan. Bogor