Anda di halaman 1dari 14

Laporan Praktikum

UJI KERAS

Disusun oleh :
Kelompok 4
1.

Pujiwara Pangestu I

/ 111234025

2.

Rahmat Ade M

/ 111234026

3.

Reza Lazuardi

/ 111234027

4.

Ridwan Nugraha P

/ 111234028

5.

Rosihan Miftahul A

/ 111234029

6.

Taopik Ramdan A

/ 111234030

7.

Thomson Parulian S / 111234031

8.

Valianto

/ 111234032

PROGRAM STUDI TEKNIK PERANCANGAN & KONSTRUKSI MESIN


JURUSAN TEKNIK MESIN
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2012

A. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Melakukan uji keras makro dengan metoda Brinell, Rockwell, dan Vickers
2. Melakukan uji keras mikro dengan metoda Vickers

B. PERALATAN DAN BAHAN PRAKTIKUM


Alat yang digunakan sebagai berikut :
1. Alat uji kekerasan makro dan mikro
2. Indentor
3. Kunci L
4. Profil Proyektor
5. Kalibrator
Bahan yang diperlukan :
1. Spesimen uji dari logam (baja karbon, kuningan, alumunium) yang lunak
dan yang sudah dikeraskan
2. Kertas ampelas
3. Spidol permanen untuk penandaan specimen

C. LANGKAH KERJA DAN PROSEDUR PRAKTIKUM


Metoda yang digunakan pada pengujian keras

1. Metoda Brinell
Pengujian metode ini menggunakan identor yang berbentuk bola
dengan diameter yang digunakan kali ini adalah 2,5 mm dengan pemberian beban
sebesar 187,5 Kgf. Bahan yang diuji pada pengujian ini adalah carbon steel, brass,
dan alumunium yang dilakukan di tiga titik yang ditentukan, hal ini dilakukan
untuk memperoleh hasil yang lebih akurat. Pemberian beban dilakukan dengan
cara:

Beban minor (10 Kgf) tunggu sampai kurang lebih 10 detik

Beban utama (187,5 Kgf) tunggu sampi kurang lebih 20 detik

Setelah jarum pada mesin berhenti baru dibaca hasil pengujiannya

Rumus yang digunakan untuk menentukan harga kekerasan Brinell


adalah:
BHN

2F

D( D D 2 d 2 )

Rumus diatas didapat dari persamaan (Pembuktian Rumus):


D

Lling 4r 2 4

D 2

h
D 2
D

A hD
h

1
D
2

1 2 1 2
D d
2
2

1
D D2 d 2
2

BHN

BHN

BHN

F
E

A hD

1 D D 2 d 2 D
2

2F

D 2 d 2 D

Ket: F = Gaya yang digunakan (Kgf)


D = Diameter Identor (mm)
d = Diameter penetrasi (mm)
h = Tinggi / Kedalaman penetrasi
R = Jari-jari penetrator (mm)
2. Vickers
Pengujian ini menggunakan identor yang berbentuk piramid intan dengan dasar
berbentuk bujur sangkar dan sudut antara dua bidang miring yang berhadapan
sebesar 136 derajat. Cara yang di lakukan sama dengan metode Brinell, dengan
mengukur indentasi (bekas identor). Bahan yang diuji pada pengujian Vickers ini
adalah carbon steel, brass, dan alumunium yang dilakukan di tiga titik yang
ditentukan dengan tujuan agar diperoleh hasil yang lebih akurat.
Rumus untuk menentuan besarnya kekerasan dengan Vickers adalah:
VHN 1,854

F
d2

d1 d 2
2

Rumus diatas didapat dari (Pembuktian rumus):


at
A 4.luas 4

2
d 2
A41 1 d 2
2 2
4 sin 68 0

d2
A
2 sin 68 0

VHN

F
F
2
A d
2 sin 68 0
2 sin 68 0 F
d2

VHN 1,854

F
d2

Ket : F = Gaya yang digunakan (Kgf)


d 1, 2 Diagonal hasil penekanan (mm)

A = Luas permukaan
a = Alas (mm)
t = Tinggi (mm)

Prosedur pengujian kekerasan makro metoda Brinell dan Vickers:


1. Bersihkan Permukaan Spesimen dari kotoran dengan cara pengampelasan
2. Pilih indentor atau penetrator steel ball dengan diameter 2,5 atau 5 mm
untuk Brinell dan piramida intan untuk metoda Vickers
3. Dengan posisi tuas berada di posisi 1, pasang indentor pada tempatnya dan
kencangkan dengan kunci L dan gerakan tuas ke posisi 2
4. Pilih beban sesuai dengan metoda pengujian, dan jenis material yang di uji
5. Letakkan benda uji keras pada tempatnya
6. Posisikan penetrator dan benda uji dengan benar
7. Berikan beban awal 10 Kgf, dengan menggerakkan tuas dari posisi 2 ke
posisi 3 secara perlahan.
8. Gerakkan posisi tuas dari posisi 3 ke posisi 4 dan tunggu beberapa detik
hingga jarum penunjuk skala diam (10-15 detik)
9. Kembalikan tuas secara bertahap kembali pada posisi 1
10. Ukur bekas indentasi dengan profil proyektor
11. Ulangi langkah pengujian tersebut 3 kali untuk masing-masing specimen.

Prosedur pengujian kekerasan mikro Vickers :


1. Persiapkan specimen uji keras mikro dalam kondisi yang sudah
dipreparasi secara metalografi. Spesimen yang digunakan adalah material
baja karbon rendah yang telah mengalami proses surface hardening (as
carburized)
2. Sebelum pengujian kekerasan, specimen harus di etching terlebih dahulu
untuk memunculkan struktur mikro
3. Lakukan pengujian kekerasan terhadap jarak dari permukaan dan
kekerasan untuk masing-masing fasa ferit dan perlit.
3. Rockwell
Pengujian kekerasan dengan menggunakan metode Rockwell ini
didasarkan pada prinsip mengukur kedalaman bekas penekanan. Cara pengujian
ini sama dengan pengujian Brinell dan Vickers yaitu dengan pemberian beban
minor (10 Kgf) terlebih dahulu ditunggu selama kurang lebih 10 detik kemudian
skla di-set pada titik acuan nol. Setelah itu baru diberi baben mayor/beban utama
(100 Kgf) pembacaan skala ditunggu selama kurang lebih 20 detik setelah jarum
skala berhenti. Bahan yang diuji pada pengujian Rockwell ini adalah carbon steel,
brass dan alumunium yang dilakukan di 3 titik.
Prosedur pengujian kekerasan makro Rockwell
1. Bersihkan Permukaan Spesimen dari kotoran dengan cara pengampelasan
2. Pilih indentor atau penetrator steel ball dengan diameter 2,5 atau 5 mm
untuk Brinell dan piramida intan untuk metoda Vickers
3. Dengan posisi tuas berada di posisi 1, pasang indentor pada tempatnya dan
kencangkan dengan kunci L dan gerakan tuas ke posisi 2
4. Pilih beban sesuai dengan metoda pengujian, dan jenis material yang di uji
5. Letakkan benda uji keras pada tempatnya
6. Posisikan penetrator dan benda uji dengan benar
7. Berikan pembebanan minor dengan cara memindahkan tuas dari posisi 2
ke posisi 3
8. Lakukan setting pada dial indicator hardness Rockwell dengan
menempatkan jarum penunkuk yang panjang tepat diangka nol sesuai
dengan jenis skala Rockwell yang digunakan (B atau C)
9. Gerakkan posisi tuas dari posisi 3 ke posisi 4 untuk pembebanan mayor
dan tunggu beberapa detik hingga jarum penunjuk skala diam (10-15
detik)
10. Kembalikan posisi tuas kembali ke posisi 3, catat angka kekerasan sesuai
skala Rockwell B atau C

11. Kembalikan posisi tuas dari posisi 3 ke posisi 2 untuk pengujian


berikutnya
12. Ulangi langkah pengujian tersebut 3 kali untuk masing-masing specimen.

D.

DATA HASIL PRAKTIKUM

Pengujian

Nama metode pengujian : Vickers


Jenis identor : Kerucut intan 130

1
2
3
1
2
3
1
2
3

Dameter Identasi
Bahan

Carbon
Steel

Brass

Al

Beban
(kgf)

Identor

187,5

Kerucut
intan 1300

187,5

187,5

d1 (mm)

0,692
0,687
0,673
Rata - rata
0,8
Kerucut
0,731
intan 1300
0,741
Rata - rata
1,074
Kerucut
1,179
intan 1300
1,105
Rata - rata

d2 (mm)

drata-rata
(mm)

VHN

0,71
0,708
0,705

0,701
0,6975
0,689

707,42
714,53
732,27
718,07
540,46
652,33
531,15
574,64
268,43
269,14
263,54
267,03

0,804
0,729
0,877

0,802
0,73
0,809

1,202
1,094
1,192

1,138
1,1365
1,1485

Nama metode pengujian : Brinell


Jenis identor : Steel Ball
Diameter bola baja
2,5
(indentor) [mm]

mm

Pengujian

Dameter Identasi
Bahan

Beban
(kgf)

Identor

1
2
3

Carbon
Steel

187,5

Steel Ball

1
2
3

Brass

187,5

1
2
3

Al

d1 (mm)

d2 (mm)

0,625
0,785
0,619

0,642
0,807
0,613

Steel Ball

0,671
0,678
0,659

Steel Ball

1,04
1,029
1,038

187,5

drata-rata
(mm)

0,6335
0,796
0,616
Rata - rata
0,678
0,685
0,7065
0,735
0,686 0,6725
Rata - rata
1,048
1,056
1,04
1,051
1,024
1,01
Rata - rata

Metoda Pengujian : Rockwell


Jenis Indentor : Steel Ball
Ukuran Indentor : 1/16 inch
Pengujian
1
2
3
Pengujian
1
2
3
Pengujian
1
2
3

Bahan

Beban (kgf)

Indentor

Carbon Steel
100
Rata Rata
Bahan
Beban (kgf)

Steel Ball

Carbon Steel
100
Rata Rata
Bahan
Beban (kgf)

Carbon Steel
100
Rata Rata

Indentor

Steel Ball
Indentor

Steel Ball

HRB
72
62
66
66,67
HRB
62
60
60
61,33
HRB
45,7
44,8
47
45,83

BHN
585,45
367,16
619,76
524,12
509,87
468,78
518,40
499,02
207,46
210,83
217,80
212,03

Metoda Pengujian : Micro Vickers


Jenis Indentor : Diamond Cone
Ukuran Indentor : 136 derajat
Spesimen Uji : As Carburized Low Carbon Steel

Nama Fasa
Kekerasan (VHN)
Rata - rata (VHN)

Pengukuran Kekerasan Fasa - Fasa Baja Karbon


Ferit
Perlit
135,5
122,4 112,5
265,8
220
123,46
235,43

220,5

E. PEMBAHASAN / ANALISIS
Pengujian kekerasan dengan metoda makro Rockwell menunjukkan bahwa
spesimen yang diuji dapat langsung terhitung kekerasannya dengan cara
menghitung rata-rata dari ketiga titik yang ditekan oleh indentor steel ball 1/16.
Ini terlihat pada ketiga bahan yang diuji yaitu carbon steel dengan rata-rata
kekerasan 66.67 HRB, Brass (kuningan) dengan rata-rata kekerasan 61,33 HRB
dan Alumunium dengan rata-rata kekerasan 45.83 HRB.
Pengujian kekerasan dengan metoda makro Brinell dilakukan dengan cara
menekan benda kerja dengan menggunakan indentor steel ball 2,5 mm. Kemudian
didapatlah nilai d1 dan d2 dengan menggunakan profil projektor. Nilai dari d1 dan
d2 berbeda-beda menurut bahan yang di uji. Contohnya carbon steel dengan nilai
d1= 0,625mm dan d2=0,642mm menghasilkan d rata-rata= 0,6335 sehingga akan
mendapatkan nilai kekerasan sebesar 585,45 BHN, sedangkan Brass (kuningan)
dengan nilai d1= 0,671mm dan d2= 0,685mm menghasilkan d rata-rata= 0,678
sehingga nilai kekerasan yang didapatkan 509,87 BHN. Kemudian alumunium
dengan d1=1,040mm dan d2=1.056mm menghasilkan d rata-rata= 1,048 sehingga
nilai kekerasan yang didapat 207,46 BHN
Pengujian kekerasan dengan metoda makro Vickers dilakukan dengan cara
menekan benda kerja dengan menggunakan indentor intan bersudut 1360 dan
diberikan beban sebesar 187,5 Kgf. Kemudian didapatlah nilai d1 dan d2 dengan
menggunakan profil projektor. Nilai dari d1 dan d2 berbeda-beda menurut bahan
yang di uji. Contohnya carbon steel dengan nilai d1= 0,692mm dan d2=0,710mm
menghasilkan d rata-rata= 0,701 sehingga akan mendapatkan nilai kekerasan
sebesar 707,42 VHN, sedangkan Brass (kuningan) dengan nilai d1= 0,800mm
dan d2= 0,804mm menghasilkan d rata-rata= 0,802 sehingga nilai kekerasan yang
didapatkan 540,46 VHN. Kemudian alumunium dengan d1=1,074mm dan
d2=1.202mm menghasilkan d rata-rata= 1,138 sehingga nilai kekerasan yang
didapat 268,43 VHN
Pengujian kekerasan dengan metoda mikro Vickers dilakukan dengan cara
menekan benda kerja dengan menggunakan indentor diamond cone yang bersudut
1360. Metoda mikro Vickers ini berbeda dengan metoda makro yang lainnya,
perbedaannya terletak pada alat yang digunakan, metoda mikro Vickers
menggunakan mikroskop sebagai alat ujinya untuk mengetahui kekerasan dari
bahan yang di uji. Bahan yang diuji adalah as carburized low carbon steel.
Pertama, kami menguji kekerasan pada struktur mikro pada fasa ferit.
Dihasilkan data kekerasannya kemudian dihitunglah rata-ratanya dengan nilai
rata-rata 123,46 VHN, kemudian kami menguji kekerasan pada struktur mikro
pada fasa perlit. Dihasilkan data kekerasannya kemudian dihitung rata-ratanya
dengan nilai rata-rata 235,43 VHN.

F. KESIMPULAN
Pengujian makro.
Dari ketiga metoda yang telah kami uji kekerasannya, ternyata bahan alumunium
lebih lunak dari carbon steel dan brass.
Pengujian mikro
Dari pengujian mikro Vickers kami mengetahui bahwa fasa perlit lebih keras
daripada fasa ferit,

G. PUSTAKA
H. LAMPIRAN