Anda di halaman 1dari 6

Anak ayam broiler berumur sehari (Day Old Chicken = DOC)

berkualitas baik memberi banyak keuntungan pada usaha


budidaya ayam broiler.
Beberapa keuntungan memelihara DOC kualitas prima yaitu,
daya hidup tinggi, feed konversi lebih baik, pertambuhan berat
badan lebih baik. Dengan ketiga aspek tersebut, broiler komersial
berdampak terhadap nilai jual karena, biaya pakan lebih rendah,
panen sesuai target. Untuk breeding dan layer performance pullet
yang optimal menghasilkan periode produksi maksimal.
Dua hal mengukur kualitas DOC, secara kuantitatif dan
secara kualitatif dikutip dari poultryindonesia.com. Cara
kuantitatif, kualitas DOC diukur dari berat saat setelah menetas,
panjang anak ayam, berat sisa kuning telur (yolk) dan lain-lain.
Pengukuran qualitatif yakni kebersihan, kering, bebas dari
kotoran dan kontaminasi, mata jernih berbinar, bebas dari cacat,
pusar menutup lengkap dan bersih, tidak ada sisa kuning telur
pada area pusar.
Tubuh kuat terhadap sentuhan, tanpa ada tanda-tanda stress
seperti panting, tanggap dan tertarik pada kondisi lingkungan,
respon terhadap suara, konformasi normal dari kaki, tidak ada
merah (hock) dikaki, tidak ada bengkak, tidak ada luka dikulit,
paruh normal, tidak lembek dan kuku kuat.

Pengukuran kuantitatif bisa diukur dengan timbangan dan perlu


standarisasi. Kalau tidak akan bersifat subjektif, seperti
menggunakan pasgar score dengan nilai 010 dan Tona score
dengan nilai 0-100.
Penanganan Telur Tetas Ayam Broiler
Untuk mendapatkan DOC kualitas baik perlu penanganan
terhadap telur selama di hatchery :
1. Grading Telur
Tujuan grading yakni untuk mendapatkan dan menginkubasi telur
kualitas baik dengan beberapa cara.
Pertama, afkir dan buang telur yang tidak sesuai standar untuk
ditetas. Telur tidak standar yakni kotor, retak, kecil (sesuai standar
berat HE), sangat besar atau double yolk, kerabang jelek.
Kedua, simpan telur secara hati-hati ke dalam setter tray atau tray
transportasi dimana ujung yang tumpul berada di atas.
Ketiga, hati-hatilah selama proses grading, selama awal produksi
periksa berat dan seleksi hatching egg.

Keempat, simpan di ruang terpisah dimana temperature dan


kelembaban dikontrol.
Kelima, jaga ruang penanganan telur dalam keadaaan bersih dan
nyaman. Kontrol kutu di ruangan telur dengan cara memisah atau
tolak telur kotor dan buggy dari hatchery.
2. Fumigasi Telur
Tujuan fumigasi yakni menghilangkan atau mengurangi
kontaminan yang menempel pada permukaan telur agar tidak
terjadi penetrasi kedalam telur baik jamur maupun bakteri.
Fumigasi dilakukan harus sesuai dengan dosis yang dibutuhkan,
contoh : single, double, dan seterusnya.
3. Penyimpanan Telur
Menyimpan dan mengoleksi telur agar sesuai dengan kebutuhan
mesin atau permintaan dengan menjaga kualitas telur tetas
dengan kondisi ideal sesuai lama penyimpanan.
Mekanisme yang menyebabkan turunnya hasil penyimpanan
adalah sampai hari ini masih belum jelas, umumnya diketahui
bahwa viskositas albumen (tingginya albumen) menurun dan pH
albumen meningkat selama penyimpanan.
Perubahan dalam albumen tidak sesederhana yang digambar
untuk kualitas hatching egg dalam menghasilkan DOC berkualitas
prima. Kualitas telur terbaik terjadi pada saat hari dikeluarkan dari
induk dan berubah dalam kekentalan albumen dan pH yang
terjadi terutama selama 4 hari. Bagaimanapun, hatchability
tertinggi diproduksi dari telur yang disimpan selama 1-2 hari, dan
dari telur yang optimal kualitas albumen.

Pengaruh hatchability dan quality


Meskipun praktek di hatchery penyimpanan akan rusak setelah
lama penyimpanan lebih dari 7 hari, efek negatif harus dihindari
dari hari kedua dan seterusnya. A Norwegian mempelajari (2001)
pada hasil hatchability dari 112 flok Ross komersial 208 diungkap
bahwa faktor yang paling penting mempengaruhi hatchability
adalah preinkubasi penyimpanan telur. Persentasi hatchability
menunjukkan penurunan linear menurun dari hari kedua dan
seterusnya. Dimana telah diperkirakan 0,7% perhari setiap
penambahan penyimpanan.
Umur induk
Dimana terdapat pilihan, telur dari induk muda harus disimpan
dibanding yang tua, menurunnya dalam hatchability setelah
penyimpanan lebih besar pada telur lebih tua induknya.
Suhu penyimpanan
Setelah oviposisi, suhu dalam telur secara bertahap turun
dibawah fisiological zero yaitu suhu minimum dimana embrio
akan tumbuh kalau suhunya diatas fisiological zero. Suhu
dibawah point ini mempengaruhi karakteristik telur lain oleh
karena itu akan mempengaruhi kualitas telur tergantung dari
durasi penyimpanan.
Ketika telur disetting disimpan sampai 3 hari suhu harus 18-210
C. Dengan periode penyimpanan 4-7 hari, telur harus disimpan
antara 15-180 C. Ketika penyimpanan sampai 7 hari suhu harus
10-120 C.

Turning telur
Penelitian telah mengungkap bahwa turning telur dapat
memperbaiki hatchability setelah penyimpanan preinkubasi.
Dimana banyak data yang diteliti menyarankan bahwa metode ini
hanya berguna untuk penyimpanan yang lama, hasil terbaru
(2002) menggunakan telur ross 308 mengindikasikan bahwa
turning telur 4 kali perhari dibutuhkan untuk periode penyimpanan
7 hari.
Perlakuan preinkubasi
Penilitian telah mengindikasikan bahwa prewarming yang segera
sebelum memulai inkubasi dapat mengurangi turunnya
hatchability setelah penyimpanan. Selama periode prewarming ini
komponen suhu bervariasi pada telur menjadi homogen sebelum
awal inkubasi , yang mana terlihat menyebabkan lebih
seragamnya perkembangan awal embrio. Dalam penelitian ini,
telur di hangatkan pada suhu 20-250 C untuk beberapa jam (5-16
jam) sebelum inkubasi. Bagaimanapun, dampaknya hanya akan
tampak setelah penyimpanan yang lama. (lebih dari 14 hari).
Suhu inkubasi
Hasil terbaru dari penelitian pada telur kalkun mendemontrasikan
dampak positip pada meningkatnya suhu selama minggu pertama
dan kedua di inkubasi pada daya tetas telur yang disimpan. efek
pada perlakuan suhu inkubasi pada telur broiler secara langsung
di R & D. Pengukuran sebelumnya menyebutkan alat yang
memudahkan untuk menurunkan hilangnya hatchability dan chick
quality setelah penyimpanan pre inkubasi. Ditambah lagi, ada
beberapa metode yang terbukti efektif dalam kondisi experimen
[tapi sulit diaplikasikan di hatchery .

Posisi telur
Dampak positip pada penympanan telur yang disimpan dengan
posisi runcing diatas telah di tunjukkan terdahulu. Dengan cara ini
posisi sentral kuning telur (dan embryo) terjaga selama
penyimpanan. Di posisi ini, embrio terlihat lebih terlindungi dari
dehidrasi dan adhesi pada membran, yang mana hasilnya lebih
baik dalam bertahan selama penyimpanan.
Perlakuan pre warming di farm
Pemanasan sederhana telur yang segera setelah ovoposisi
sebelum penyimpanan menunjukan mengurangi hilangnya
hatchability yang disebabkan penyimpanan. Perlakuan ini
memperlihatkan kemajuan perkembangan embrio pada tahap
yang mana lebih baik dapat bertahan di periode penyimpanan.
Penelitian terbaru 2001 menggunakan telur breeder komersial,
pre warming HE pada suhu 37.5 C untuk periode 6 jam
meningkatkan hatchability yang disimpan relatif untuk kelompok
kontrol. Bagaimanapun peningkatan hanya menunjukkan pada
telur yang disimpan 14 hari. Pada telur yang disimpan untuk 4
hari tidak ada pengaruh setelah diteliti. Metode ini terlihat sedikit
cocok untuk telur dari kandang tua, pada saat telur mengandung
embryo yang siap kemajuan lebih ketahap pada saat ovoposisi.