Anda di halaman 1dari 80

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas izin-Nya tugas
elemen mesin roda gigi ini dapat saya selesaikan dengan baik.
Berdasarkan kurikulum yang dilaksanakan di INSTITUT TEKNOLOGI
MEDAN ( ITM ), untuk mengambil tugas sarjana harus menyelesaikan beberapa
tugas, diantaranya tugas roda gigi yang saya kerjakan ini.
Kemudian saya menyadari dalam penulisan dan penyusunan masih banyak
kekurangan, oleh sebab itu saya mengucapkan terima kasih kepada bapak
Ir. K. OPPUSUNGGU selaku dosen pembimbing yang telah memberikan
pengarahan dalam penyelesaian dan penyusunan tugas roda gigi ini, sehingga dapat
terselesaikan.
Akhirnya saya mengucapkan Alhamdulillah dan berterima kasih kepada
Allah, karena ridho-Nya saya dapat menyelesaikan tugas rancangan roda gigi ini, tak
lupa saya mengucapkan terima kasih kepada rekan rekan yang telah membantu
saya baik dalam memperoleh informasi dan literatur yang dipakai, sehingga tugas
roda gigi ini terselesaikan.
Demikian laporan ini saya tulis dengan harapan laporan ini dapat berguna
bagi penulis khususnya dan bagi mahasiswa mahasiswa teknik mesin pada
umumnya. Akhir kata saya ucapkan Terimakasih.
Wassalam.

Medan, 11 Juni 2013

Yoghi

Andre

Ovane

Nim : 11202225

Yoghi Andre Ovane

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................... i


DAFTAR ISI ........................................................................ ii
GAMBAR ASEMBLING ................................................... iv
KETERANGAN GAMBAR ............................................... vi
CARA KERJA RODA GIGI ............................................... vii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................... 10
1.1 Latar Belakang ....................................................... 10
1.2 Tujuan .................................................................... 11
1.3 Batasan Masalah .................................................... 11
BAB II LANDASAN TEORI .............................................. 12
2.1 Pengertian Roda Gigi ............................................ 12
2.2 Fungsi Transmisi Roda Gigi ................................. 12
2.3 Prinsip Kerja ......................................................... 12
2.4 Nama Bagian Roda Gigi ....................................... 12
2.5 Klasifikasi Roda Gigi ........................................... 15

Yoghi Andre Ovane

ii

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

2.6 Perbandingan putaran Roda Gigi ....................... 19


2.7 Pemilihan Bahan Roda Gigi .................................. 20
BAB III PERANCANGAN POROS .................................... 21
3.1 Penentuan Daya Perancangan ................................ 21
3.2 Analisa Beban ........................................................ 22
3.3 Pemilihan Bahan Poros .......................................... 23
3.3.1 Pemilihan Bahan Poros Output ................. 23
3.3.2 Pemilihan Bahan Poros Perantara ............ 25
3.4 Perancanaan Diameter Poros ..............................

26

3.4.1 Perencanaan Diameter Poros Output ........ 26


3.4.2 Perencanaan Diameter Poros Perantara .... 27
3.5 Pemeriksaan Kekuatan Poros ................................ 29
3.5.1 Pemeriksaan Kekuatan Poros Output ......... 30
3.5.2 Pemeriksaan Kekuatan Poros Perantara .... 30
BAB IV PERANCANGAN RODA GIGI............................. 32
4.1 Analisa Perhitungan Roda Gigi Pada Kecepatan I 32
4.2 Analisa Perhitungan Roda Gigi Pada Kecepatan II 39
4.3 Analisa Perhitungan Roda Gigi Pada Kecepatan III44
4.4 Analisa Perhitungan Roda Gigi Pada Kecepatan IV49
Yoghi Andre Ovane

iii

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

BAB V PERANCANGAN SPLINE DAN NAAAF ........... 54


5.1 Perancangan Spline ................................................ 55
5.1.1 Pemilihan Bahan Spline ............................. 55
5.1.2 Perancangan Spline pada Poros Output ..... 55
5.1.3 Perancangan Spline pada Poros Perantara . 57
5.2 Perancangan Naaf .................................................. 58
5.2.1 Pemilihan Bahan Naaf ............................... 59
5.2.2 Perancangan Naaf Pada Poros Input .......... 59
5.2.3 Perancangan Naaf Pada Poros Output ....... 60
5.2.4 Pemeriksaan Kekuatan Naaf ...................... 60
BAB VI PERANCANGAN BANTALAN ........................... 62
6.1 Perancangan Bantalan Pada Poros Input ................ 62
6.2 Perancangan Bantalan Pada Poros Output ............. 67
BAB VII PELUMASAN ...................................................... 70
BAB VIII KESIPULAN DAN SARAN ............................... 75
8.1 Kesimpulan ............................................................ 75
8.2 Saran ....................................................................... 81
LITERATURE

Yoghi Andre Ovane

iv

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

GAMBAR ASSEMBLING

Yoghi Andre Ovane

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

KETERANGAN GAMBAR

No

Nama Bagian

Main Shaft First

Main Shaft Second

Main Shaft Third

Main Shaft Fourth

Poros Input Shaft

Poros Output Shaft

Yoghi Andre Ovane

Jumlah

vi

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Spline

Counter Shaft First

Counter Shaft Second

10

Counter Shaft Third

11

Counter Shaft Fourth

12

Baut Pengikat

13

Bantalan Poros Output Shaft

14

Bantalan Poros input Shaft

15

Rumah Transmisi Roda Gigi

CARA KERJA RODA GIGI

Pada posisi Netral


Putaran dari poros engkol diteruskan ketransmisi melalui system kopling ke
poros input, pada transmisi putaran pada poros input tidak berhubungan
dengan roda gigi yang ada pada poros output.

Kecepatan I
Bila pemindah daya (perseneling) ditekan kedepan maka garpu pemindah
gigi akan menggerakkan pinion A kemudian pinion B bergerak kekiri dan
menyatu dengan pinion A sehingga putaran pada poros input (2) diteruskan
ke gear (H) sehingga putaran poros input diteruskan ke poros output.

Yoghi Andre Ovane

vii

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Kecepatan II
Untuk kecepatan dua pemindah daya ditekan kedepan maka garpu pemindah
gigi akan menggerakkan pinion (B) kekanan bersama sama dengan pinion
(C) dan menyatu dengan gear (G) sehingga putaran poros input diteruskan
keporos output.

Kecepatan III
Untuk kecepatan tiga, pemindah daya ditekan kedepan maka garpu pemindah
akan menggerakkan pinion (C) kekanan dan menggerakkan gear (F) maka
putaran poros input diteruskan keporos output.

Kecepatan IV
Untuk kecepatan empat, pemindah daya ditekan kedepan, garpu pemindah
gigi akan menggerakkan pinion (C) kekanan dan menyatu dengan pinion
(D), dan pinion (D) akan menggerakkan gear (E), dan putaran poros input
diteruskan keporos output, dan pada posisi tersebut kendaraan dalam
keadaanTOPGEAR.

Yoghi Andre Ovane

viii

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang.
Setiap mesin dirancang dan dibuat untuk memberikan fungsi fungsi tertentu

tertentu yang dapat meringankan pekerjaan manusia. Untuk dapat memberikan fungsi
tersebut, sebuah mesin memerlukan kerjasama dari berbagai komponen yang bekerja
menurut suatu mekanisme. Sebagai penggerak dari mekanisme tersebut dapat digunakan
tenaga hewan atau manusia secara langsung jika mesinnya sederhana, tetapi karena
berbagai alasan, sebagian besar mesin menggunakan motor penggerak (engine) yang bisa
berupa motor bakar maupun motor listrik. Motor motor tersebut pada umumnya
memberikan daya dalam bentuk putaran pada sebuah poros, yang disebut poros
penggerak, yang selanjutnya akan diteruskan ke seluruh komponen dalam mekanisme.
Sebagai penyambung antara poros penggerak dan poros yang digerakkan maka
digunakan kopling dalam operasinya.
Salah satu sistem transmisi adalah roda gigi, yang secara umum digunakan untuk
memindahkan atau meneruskan daya dan putaran poros. Dengan adanya roda gigi dapat
dinaikkan atau diturunkan jumlah putaran poros pada poros keluaran dengan jalan
mengatur rasio roda gigi.
Di luar cara transmisi di atas, ada pula cara lain untuk meneruskan daya, yaitu
dengan sabuk atau rantai. Namun demikian, transmisi roda gigi mempunyai keunggulan
dibandingkan dengan sabuk atau rantai karena lebih ringkas, putaran lebih tinggi dan
tepat, dan daya lebih besar. Kelebihan ini tidak selalu menyebabkan dipilihnya roda gigi
di samping cara yang lain, karena memerlukan ketelitian yang lebih besar dalam
pembuatan, pemasangan maupun pemeliharaannya. Pemakaian roda gigi sebagai alat
transmisi telah menduduki tempat terpenting di segala bidang selama 200 tahun terakhir
ini. Penggunaaannya dimulai dari alat pengukur yang kecil dan teliti seperti jam tangan,
sampai roda gigi reduksi pada turbin besar yang berdaya hingga puluhan megawatt.

Yoghi Andre Ovane

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

1.2. Tujuan
Adapun Tujuan tugas rancangan roda gigi ini adalah:
1. Agar mahasiswa memahami hal-hal utama yang harus diperhatikan terutama
prinsip kerja dan merancang bagian-bagian dari sistem transmisi roda gigi (gear
box).
2. Agar mahasiswa memahami berbagai hubungan karakteristik bahan dan sifat yang
dibutuhkan untuk digunakan dalam merancang suatu sistem transmisi roda gigi
(gear box).
1.3. Batasan Masalah
Dalam tugas rancangan roda gigi ini dibatasi pada perencanaan sistem roda gigi
(gear box) untuk kenderaan roda dua jenis Yamaha Jupiter MX 135 LC dengan ketentuan
sebagai berikut:
Daya

N = 11,33 HP

Putaran

= 8500 rpm

Perancangan meliputi perhitungan komponen komponen utama sistem roda gigi


menentukan dan memilih bahan yang sesuai disertai dengan gambar kerja dan detail.

Yoghi Andre Ovane

10

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1

Pengertian Roda Gigi


Transmisi dengan system roda gigi adalah berfungsi untuk meneruskan daya dan

putaran dari poros penggerak ke poros yang digerakkan.


2.2

Fungsi Transmisi Roda Gigi

Disamping fungsi utama sebagai penerus daya dan putaran, transmisi roda
gigi juga mempunyai fungsi lain, yaitu :

Memungkinkan dapat diperolehnya perbedaan putaran dan daya yang di


inginkan, dengan adanya perbedaan reduksi roda gigi.

Memungkinkan kendaraan dapat bergerak mundur tanpa mengubah arah


perputaran mesin, yaitu dengan adanya roda gigi perantara.

Memungkinkan kendaraan atau unit system yang akan digerakkan dapat


berhenti sementara, walaupun mesin tetap beroperasi, yaitu dengan adanya
netral pada roda gigi.

2.3

Prinsip Kerja

Untuk mendapatkan putaran yang lebih besar, maka dibuat perbandingan


reduksi roda gigi, yaitu roda gigi yang berdiameter kecil digerakkan oleh
roda gigi yang lebih besar.

Untuk memperoleh putaran yang lebih kecil maka roda gigi penggerak
berdiameter kecil dan yang digerakkan berdiameter lebih besar dari roda gigi
penggerak.

2.4. Nama-Nama Bagian Roda Gigi dan Ukurannya


Adapun nama nama bagian utama roda gigi diberikan dalam gambar 2.1.

Yoghi Andre Ovane

11

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Gambar 2.1 : Nama nama bagian roda gigi


Keterangan gambar di atas sebagai berikut:
1. Diameter jarak bagi (d dalam mm) adalah lingkaran khayal yang menggelinding
tanpa slip.
2. Ukuran gigi dinyatakan dengan jarak bagi lingkar (t dalam mm) yaitu jarak bagi
antara profil dua gigi yang berdekatan. Jika jumlah roda gigi adalah z maka:
t

d
z

[Lit.

214]
Modul merupakan hasil bagi diameter dengan jumlah gigi:
m

d
z

[Lit. 7 hal. 214]

Maka hubungan modul dan jarak bagi lingkar adalah:


t=m

[Lit. 7 hal. 214]

3. Jarak bagi diametral adalah jumlah gigi per inchi diameter jarak bagi lingkar.

Yoghi Andre Ovane

12

11202225

hal.

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI


z
DP
d (dalam inchi )

[Lit.

hal.

215]

sehingga hubungan modul dan DP adalah:


m

25,4
DP

[Lit. 7 hal. 215]

4. Pada roda gigi luar, bagian gigi di luar lingkarang jarak bagi disebut kepala dan
tingginya disebut tinggi kepala atau addendum yang biasanya sama dengan modul
dalam mm atau 1/DP dalam inchi.
h kepala m
h kepala

mm
[Lit.

1
mm
DP

hal.

215]
5. Bagian gigi di sebelah dalam lingkaran jarak bagi disebut kaki dan tingginya disebut
tinggi kaki atau dedendum yang besarnya:
h kaki m C k
h kepala

mm
[Lit. 7 hal. 215]

1
C k mm
DP

6. Ck adalah kelonggaran puncak yaitu celah antara lingkaran kepala dan lingkaran kaki
dari gigi pasangannya
7. Pada lingkaran diameter jarak bagi terdapat tebal gigi dan celahnya yaitu setengah
jarak bagi lingkar.
t m

2
2

2 DP

mm
[Lit. 7 hal. 215]

inchi

Yoghi Andre Ovane

13

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

8. Titik potong antara profil gigi dengan lingkaran jarak bagi disebut titik jarak bagi.
Sudut yang dibentuk garis normal pada kurva bentuk profil pada jarak bagi dengan
garis singgung lingkaran jarak bagi (juga pada titik jarak bagi) disebut sudut tekanan.
Roda gigi yang mempunyai sudut tekanan yang sama besar serta proporsinya seperti
diuraikan di atas disebut roda gigi standar. Roda gigi ini dapat saling bekerja sama
tanpa dipengaruhi oleh jumlah giginya. Sehingga dapat pula disebut roda gigi yang
dapat dipertukarkan.
2.5

Klasifikasi Roda Gigi


Roda gigi dapat diklasifikasikan menurut letak poros dan bentuk jalur gigi, roda
gigi dengan poros sejajar adalah roda gigi dimana gigi giginya pada dua bidang
silinder yang disebut jarak bagi, kedua bidang silinder tersebut bersinggungan dan
satu menggelinding pada bagian yang lain dengan sumbu tetap sejajar.
a. Roda Gigi Lurus

Gbr 2.2 Roda gigi lurus


Roda gigi lurus merupakan roda gigi yang paling besar dengan jalur jalur
giginya sejajar dengan poros dan penggunaannya hanya dapat untuk
mentransmisikan putaran dan daya pada sumbu sejajar.
b. Roda Gigi Miring
Roda gigi miring mempunyai jalur gigi yang berbentuk ulir pada silinder jarak
bagi pada roda gigi miring ini jumlah pasangan gigi yang saling membuat
kontak adalah lebih besardari roda gigi lurus, sehingga pemindah momen atau

Yoghi Andre Ovane

14

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

putaran melalui gigi tersebut dapat berlangsung dengan halus. Sifat ini sangat
baik untuk mentransmisikan putaran tinggi dan besar.

Gbr 2.3 Roda gigi miring


c. Roda Gigi Miring Ganda
Pada roda gigi miring ganda, gaya aksial yang timbul pada gigi yang
mempunyai alur yang berbentuk V tersebut akan saling meniadakan. Dengan
roda gigi ini perbandingan reduksi, kecepatan keliling dan daya yang diteruskan
dapat diperbesar tapi pembuatannya sangat sukar.

Gbr 2.4 Roda gigi miring ganda


d. Roda Gigi Kerucut

Yoghi Andre Ovane

15

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Roda gigi kerucut lurus dengan roda gigi lurus adalah yang paling mudah dibuat
dan sering dipakai. Tetpi roda gigi ini sangat berisik karena perbandingan
kontaknya sangat kecil, juga konstruksinya tidak memungkinkan untuk
memasang bantalan pada ujung porosnya.

Gbr 2.5 Roda gigi kerucut


e. Roda Gigi Cacing Silindris
Roda gigi ini dapat memindahkan daya dan putaran yang mempunyai reduksi
yang besar dan pada umumnya roda gigi ini dipakai untuk beban yang sangat
besar.

Gbr 2.6 Roda gigi cacing silindris


g. Roda Gigi Cacing Globoid

Yoghi Andre Ovane

16

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Roda gigi ini mempunyai fungsi yang sama dengan roda gigi cacing silindris.
Bedanya hanya pada system perbandingan kontak yang lebih besar, akibat
mempunyai alur cacing selubung ganda.

Gbr 2.7 Roda gigi cacing globoid


h. Roda Gigi Hipoid
Roda gigi ini hanya digunakan pada roda gigi differensial auto mobil. Roda gigi
ini mempunyai jalur gigi berbentuk spiral pada bidang kerucut yang simbolnya
bersilang dan pemindahan gaya pada permukaan berlangsung secara meluncur
dan menggelinding.

Gbr 2.8 Roda gigi cacing hipoid


i. Roda gigi dalam

Yoghi Andre Ovane

17

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Dipakai jika diigini alat transmisi dengan ukuran kecil dengan perbandingan
reduksi besar, karena piyon terletak didalam roda gigi seperti terlihat pada
Gambar 2.9 dibawah ini.

Gambar 2.9 Roda gigi dalam


2.6

Perbandingan Putaran dan Perbandingan Roda Gigi.


Jika perputaran roda gigi yang berpasangan dinyatakan dengan n 1 (rpm) pada

poros penggerak dan n2 (rpm) pada poros yang digerakkan, diameter jarak bagi d 1 dan d2
dalam mm dan jumlah gigi z1 dan z2, maka perbandingan putaran adalah :
u

n 2 d1 m z1 z1 1

n1 d 2 m z 2 z 2 i

[Lit. 7 hal. 216]

Dimana i adalah perbandingan jumlah gigi pada roda gigi 2 (digerakkan) terhadap roda
gigi 1 (penggerak / pinyon).
Pada roda gigi lurus standar i = 4 5 atau hingga 7 jika dengan perubahan kepala.
Pada roda gigi miring dan miring ganda dapat mencapai 10. Roda gigi dipakai untuk
reduksi jika u < 1 atau i > 1 dan juga menaikkan putaran jika u > 1 atau i < 1.
Jarak sumbu poros a (mm) dan diameter lingkaran jarak bagi d 1 dan d2 dalam mm
dapat dinyatakan sebagai berikut:

Yoghi Andre Ovane

18

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

d1 d 2 m z1 z 2

2
2
2a
d1
1 i
2ai
d2
1 i
a

2.7

[Lit. 7 hal. 216]

Pemilihan Roda Gigi


Dalam hal ini jenis roda gigi yang dirancang adalah, roda gigi lurus, dimana
ketentuan lain diambil dari beberapa buku yang memuat perencanaan dan elemen
mesin.
Pada roda gigi lurus diperoleh beberapa keuntungan, yaitu :

Gaya aksial sejajar dengan sumbu poros selingan, kemungkinan meluncur


lebih mudah.

Penggantian kecepatan pada transmisi lebih cepat dan mudah dibandingkan


dengan roda gigi miring, roda gigi cacing, dan lainnya.

Biaya pembuatan relatif murah dan ekonomis.

Yoghi Andre Ovane

19

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

BAB III
PERANCANGAN POROS

Gambar 3.1. Poros


Poros (keseluruhannya berputar) adalah untuk mendukung suatu momen putar
dan mendapat tegangan puntir atau tegangan puntir dan lentur.
Menurut arah memanjangnya (longitudinal) maka dibedakan poros yang bengkok
(poros engkol) terhadap poros lurus biasa, sebagai poros pejal atau poros berlubang,
keseluruhannya rata atau dibuat mengecil. Menurut penampang melintangnya disebutkan
sebgai poros bulat dan poros profil (contohnya dengan profil alur banyak dan profil K). di
samping itu dikenal juga poros engsel, poros teleskop, poros lentur dan lain lain.
Persyaratan khusus terhadap disain dan pembuatan adalah sambungan dari poros
dan naaf dan dari poros dengan poros.
Pembuatan poros sebagai berikut. Sampai diameter 150 mm adalah dari baja bulat
(St42, St50, St70 dan baja campuran) yang diputar, dikupas atau ditarik. Dari lebih tebal
ditempa menjadi jauh lebih kecil. Poros beralur diakhiri dengan penggosokan, dan dalam
hal dikehendaki bulatan yang tepat. Tempat bantalan dan peralihan menurut persyaratan
diputar halus, digosok, dipoles, dicetak dan pada pengaretan tinggi kemudian dikeraskan.
3.1

Penentuan Daya Perancangan.

Yoghi Andre Ovane

20

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Poros yang akan dirancang adalah poros transmisi yang digunakan untuk
mentransmisikan daya dan putaran sebesar:
N 11,33HP
11,33 746 W
8452 W

Penentuan daya rencana diperoleh dari rumus


Pd f c N

dimana :

[Lit. 7 hal. 7]

Pd = daya rencana (W)


fc = faktor koreksi
N = daya nominal keluaran motor penggerak (W).

Ada beberapa jenis faktor koreksi sesuai dengan daya yang akan ditransmisikan
sesuai dengan Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Jenis jenis faktor koreksi berdasarkan daya yang akan ditransmisikan
Daya yang Akan Ditransmisikan

fc

Daya rata-rata yang diperlukan

1,2 - 2,0

Daya maksimum yang diperlukan

0,8 - 1,2

Daya normal

1,0 - 1,5

Sumber: Dasar Pemilihan dan Perancangan Elemen Mesin, Sularso & Kiyokatsu Suga, Hal. 7

Untuk merancang poros, daya yang ditransmisikan sesuai dengan brosur kenderaan
merupakan daya maksimum mesin, dari harga fc pada tabel 3.1. diperoleh faktor koreksi
0,8 1,2. Disini dipilih faktor koreksi sebesar ( 1,2 ) yang merupakan harga terbesar
sehingga daya recana yang dipakai pada perancangan lebih besar sehingga rancangan
akan memilki dimensi yang lebih besar dan akan benar benar aman. Selain itu juga
dapat mengimbangi kerugian kerugian yang terjadi akibat gesekan. Maka:
Pd 1,2 8,452 kW
10,1426 kW
10142,6 W .

Yoghi Andre Ovane

21

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

3.2 Analisa Beban.


Dengan adanya daya dan putaran, maka poros akan mendapat beban berupa momen
puntir dan momen lentur. Oleh sebab itu dalam penentuan ukuran-ukuran utama dari
poros akan dihitung berdasarkan beban puntir serta kemungkinan-kemungkinan
kejutan/tumbukan dalam pembebanan, seperti pada saat motor mulai berjalan.
Besarnya momen punter ( torsi ) yang dikerjakan pada poros dapat dihitung dari

T 9,55

Pd
n

[joseph,hal 55]

dimana:
T = Torsi (Nmm)
Pd = daya rencana (W)
n

= putaran (rpm).

Untuk daya rencana Pd = 10142,6 kW dan putaran n = 8500 rpm, maka Torsinya adalah:
10142,6
8500
11,39 N .m

T 9,55

1161,05 kg.mm

3.3

Pemilhan Bahan Poros.

3.3.1

Pemilihan Bahan Poros Output.


Poros untuk mesin umum biasanya dibuat dari baja karbon yang difinis dingin

(disebut bahan S-C) yang dihasilkan dari ingot yang di-kill (baja yang dideoksidasikan
dengan ferrosilikon dan dicor, kadar karbon terjamin). Jenis-jenis baja S-C beserta sifatsifatnya dapat dilihat pada Tabel 3-2.

Yoghi Andre Ovane

22

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Tabel 3-2 Batang baja karbon yang difinis dingin (Standar JIS)
Lambang

Perlakuan Panas
Dilunakkan

S35C-D

Tanpa dilunakkan
Dilunakkan
Tanpa

S45C-D

dilunakkan
Dilunakkan
S55C-D

Tanpa dilunakkan

Diameter

Kekuatan Tarik

Kekerasan

(mm)
20 atau kurang

(kg/mm2)
58 79

HRC (HRB)
(84) 23

HB
-

21 80
20 atau kurang

53 69
63 82

(73) - 17
(87) - 25

144 - 216
-

21 80
20 atau kurang

58 72
65 86

(84) - 19
(89) - 27

160 - 225
-

21 80
20 atau kurang

60 76
71 91

(85) - 22
12 - 30

166 - 238
-

21 80
20 atau kurang

66 81
72 93

(90) - 24
14 - 31

183 - 253
-

21 80
20 atau kurang

67 83
80 101

10 - 26
19 - 34

188 - 260
-

21 80
75 91
16 - 30
Sumber : Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin, Sularso dan Kiyokatsu Suga, halaman 330

213 - 285

Dalam perancangan poros output ini dipilih bahan S 45 C-D tanpa dilunakkan dan
diperkirakan diameternya < 20 mm maka kekuatan tariknya diambil 81

kg/mm 2.

tegangan geser ijin untuk bahan ini dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut:
a

B
Sf 1 Sf 2

[Lit. 7 hal. 8]

dimana:
a = tegangan geser ijin bahan (kg/mm2)
B = kekuatan tarik bahan (kg/mm2)

Yoghi Andre Ovane

23

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Sf1 = faktor keamanan untuk batas kelelahan puntir yang harganya 5,6 untuk
bahan S-F dan 6,0 untuk bahan S-C
Sf2 = faktor keamanan akibat pengaruh konsentrasi tegangan seperti adanya
alur pasak pada poros, harganya 1,33,0
Dari data di atas untuk bahan S-C dipilih harga Sf1 = 6,0 dan harga Sf2 = 1,5
karena terdapat alur spline pada poros. Maka diperoleh:

81
6,0 1,5

9 kg / mm 2

3.3.2

Pemilihan Bahan Poros Perantara

Poros perantara dibuat bersatu dengan roda gigi perantara sehingga, dalam
memilih bahan untuk poros ini kita ambil dari tabel bahan roda gigi sebagai berikut:
Tabel 3.3. Tegangan lentur diijinkan pada bahan roda gigi

Kelompok bahan

Besi cor

Baja cor
Baja karbon untuk
konstruksi mesin

Baja

paduan

dengan
pengerasan kulit

Baja khrom nikel

Lambang
bahan

Kekuatan tarik
2

B (kg/mm )

Kekerasan
(Brinnel)

FC 15
FC 20
FC 25
FC 30
SC 42
SC 46
SC 49
S 25 C
S 35 C
S 45 C

15
20
25
30
42
46
49
45
52
58

140 160
160 180
180 240
190 240
140
160
190
123 183
149 207
167 229
400
(dicelup

S 15 CK

50

dingin

SNC 21

80

minyak)
600
(dicelup

SNC 22

100

SNC 1
SNC 2
SNC 3

75
85
95
18
35 60

Perunggu
Logam delta

Yoghi Andre Ovane

24

air)
212 255
248 302
269 321
85
-

lentur

yang

dijinkan

HB

dingin

Tegangan

dalam

dalam

a (kg/mm2)
7
9
11
13
12
19
20
21
26
30
30
35 40
40 55
35 40
40 60
40 60
5
10 20

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI


Perunggu

fosfor

(coran)
Perunggu

nikel

19 30

80 100

57

64 90
180 260
20 30
(coran)
Damar phenol, dll
35
Sumber : Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin, Sularso dan Kiyokatsu Suga, halaman 241

Dari tabel 3.3. kita pilih bahan poros perantara dari baja paduan dengan
pengerasan kulit jenis SNC 21 dengan kekuatan tarik 80 kg/mm 2. Dari data sebelumnya
untuk bahan S-C dipilih faktor keamanan Sf1 = 6,0 dan Sf2= 1,5 karena roda gigi
perantara dibentuk pada poros perantara ini. Maka tegangan geser ijin bahan adalah:
a

3.4

80
8,888 kg / mm 2
6,0 1,5

Perancangan Diameter Poros.


Pada perancangan roda gigi ini (dengan memperhatikan gambar assembly roda gigi)

terdapat poros input, poros output dan poros perantara. Poros input merupakan poros
yang berhubungan dengan kopling secara langsung. Sehingga poros input ini telah
dirancang pada tugas rancang kopling. Pada tugas rancang ini akan dirancang poros
output dan poros perantara saja.
3.4.1

Perancangan Diameter Poros Output.


Pada poros ini terjadi tegangan geser dan diharapkan tegangan geser yang terjadi

lebih kecil dari tegangan geser ijin bahan. Dimana tegangan geser yang timbul adalah:

16 T

dp

K t Cb

[Lit. 7 hal. 8]

dimana:
dp = diameter poros (mm)
Kt = faktor koreksi terhadap momen puntir yang besarnya:
1,0 jika beban dikenakan halus
1,0 1,5 jika terjadi sedikit kejutan atau tumbukan
1,5 3,0 jika beban dikenakan dengan kejutan atau tumbukan

Yoghi Andre Ovane

25

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Cb = faktor koreksi untuk kemungkinan terjadinya beban lentur harganya


berkisar 1,2 2,3
T = momen puntir yang ditransmisikan (kgmm).
Dari data data yang diperoleh di atas maka diambil harga faktor koreksi momen
puntir Kt =1,2 karena poros akan mendapat kejutan atau tumbukan. Faktor koreksi
terhadap beban lentur diambil Cb = 1,3, karena pada poros output akan dipasang roda
gigi output yang menyebabkan poros mengalami beban lentur. Sehingga diameter poros
dapat dicari sebagai berikut:

a a
16 T

Kt C a
b

o
3

do

16 T

do 3

Kt C

16 1161,05 1,2 1,3

d o 10,08 mm

Maka, dipilih diameter poros output 11 mm.


Jika momen rencana dari poros adalah T = (kg.mm), dan diameter poros adalah d o
adalah (mm), maka gaya tangensial F(kg) pada permukaan poros adalah ;
F

3.4.2

d o 2
1161,05
211,1 kg.
11 2

Perancangan Diameter Poros Perantara.


Ukuran poros perantara diperoleh dengan menggunakan persamaan yang sama

dengan persamaan yang dipakai pada poros output. Hanya saja pada perancangan ini
faktor keamanan yang diambil berbeda. Dari pemilihan bahan sebelumnya poros
perantara ini dibuat dari bahan baja paduan dengan pengerasan kulit jenis S 15 CK

Yoghi Andre Ovane

26

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI


2

dimana tegangan geser ijin 5,208 kg/mm . Faktor koreksi terhadap beban lentur Cb
diambil 1,2 agar poros aman terhadap kemungkinan terjadinya beban lentur dari roda gigi
perantara yang terdapat pada poros ini dan faktor keamanan Kt diambil 1,4 karena poros
mungkin akan mendapat kejutan.
Maka dengan membandingkan tegangan geser ijin bahan dan tegangan geser yang
timbul pada poros akan diperoleh:
a a
16 T

Kt C a
b

P
3

dP

16 T

dp 3

Kt C

16 1161,05 1,2 1,4

8,888

d P 10,37 mm

Maka dipilih diameter poros perantara sebesar 11,2 mm.


Jika momen rencana dari poros adalah T = (kg.mm), dan diameter poros adalah d o
adalah (mm), maka gaya tangensial Ft (kg) pada permukaan poros adalah ;
F

d o 2
1161,05
207,3 kg .
11,2 2

Tabel 2.2 Diameter poros

Yoghi Andre Ovane

(satuan : mm)

27

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

10

*22,4

40

24
11( diambil)
4,5

25

*11,2(diambil) 28
12

*12,5

*5,6

14

42
45

30
*31,5

48

32

50

35

55

*35,5

56

(15)
16

16

38

60

(17)
*6,3

18

100

*224

(105)

240

110

250

420

260

440

*112

280

450

120

300

460

*315

480

125

320

500

130

340

530

140

*355

560

150

360

160

380

600

170
63

180

19

190

20

200

22

400

65

70

*7,1

71

630

220

75
8

80
85

90
95

3.5 Pemeriksaan Kekuatan Poros.


Pemeriksaan kekuatan poros dilakukan dengan membandingkan tegangan geser
yang timbul pada poros dan tegangan geser ijin dari bahan poros. Yaitu tegangan geser
yang timbul tidak boleh melebihi tegangan geser ijin bahan agar poros aman saat
dioperasikan.

Yoghi Andre Ovane

28

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

3.5.1

Pemeriksaan Kekuatan Poros Output.


Diameter poros output yang dipilih adalah 11 mm, dengan tegangan geser ijin

bahan sebesar 7,656 kg/mm2. Torsi T = 1161,05 kg.mm, faktor keamanan Kt = 2,0 dan
faktor koreksi beban lentur Cb = 2,1. Maka tegangan geser yang timbul adalah:

a

16 T

K Cb
t

16 1161,05 1,2 1,3

113

6,93 kg mm 2

Tampak bahwa tegangan geser yang timbul lebih kecil dari tegangan geser ijin
bahan atau
a ( 6,93 kg/mm2 )

< a ijin ( 9 kg/mm2 )

sehingga poros output aman dari tegangan yang terjadi.


3.5.2

Pemeriksaan Kekuatan Poros Perantara.


Diameter poros perantara yang dipilih adalah 11,2 mm, dengan tegangan geser ijin

bahan sebesar 8,888 kg/mm2. Torsi T = 1161,05 kg.mm, faktor keamanan


Kt = 1,2 dan faktor koreksi beban lentur Cb = 1,4. Maka tegangan geser yang
timbul adalah:

16 T

K Cb
t

16 1161,05 1,2 1,4

11,2 3

7,074 kg mm 2

Tampak bahwa tegangan geser yang timbul lebih kecil dari tegangan geser ijin
bahan atau :
a ( 7,074 kg/mm2 ) < a ijin ( 8,888 kg/mm2 )
sehingga poros perantara aman dari tegangan yang terjadi.

Yoghi Andre Ovane

29

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

BAB IV
PERANCANGAN RODA GIGI
4.1

Analisa Perhitungan Roda Gigi Pada Kecepatan I.


A. Perhitungan Modul.

Yoghi Andre Ovane

30

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Pada kecepatan I direncanakan jumlah gigi zA = 20 gigi, maka modulnya dapat


dihitung :
m

T
1,57 xxCxz

dimana,
m = modul
z = Jumlah gigi

= koef. Pemasangan
C = konstanta bahan
T = Torsi rencana (1161,05 kg.mm).
Bahan roda gigi yang digunakan adalah Baja S 45 dengan konstanta bahan C = 60
kg/cm2 dan koefisien pemasangan =30 (Dengan kolager dst).
Tabel 4.1: Harga konstanta dari bahan
Bahan
C (kg/cm2)
Besi tuang Bt 18
25
Besi tuang Bt 26
35
Besi tuang Bt 52
35 65
Baja st 34
55
Baja st 45
60
Baja st 50
70
Baja st 60
85
Baja st 70
100

Tabel 4.2 : Faktor Ketelitian Pemasangan Roda Gigi

Cara Pemasangan
Dengan kolager dst

0 sampai 30

Pemasangan teliti

0 sampai 25

Pemasangan biasa

0 sampai 15

Tabel 4.3: Harga modul standart (JIS B 1701 1973)

Yoghi Andre Ovane

31

(satuan : mm)
11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Seri
Ke - 1

Seri
Ke - 2

Seri
Ke - 3

Seri
Ke - 1

0,1

Seri
Ke - 2

Seri
Ke - 3

3,5
0,15

0,25

0,35

0,45

0,2

3,75
4,5

0,3

5,5

0,4

6,5
7

0,5

9
0,55

10

0,6

0,65

11

0,7
0,75

12
14

0,8

16
0,9

18

1
1,25
1,5

20
22
25
1,75

28

32
2,25

36

2,5

40
2,75

45

3
0,325

50

1161,05
1,57 x30 x 0,6 x 20

2,0

1,25

diambil m = 1,25 (sesuai dengan tabel modul)

Ratio transmisi direncanakan (i) = 2,25 sehingga jumlah gigi pada gear H adalah:
zH i x zA
zH 2,25 x 20
zH 45 buah.

Yoghi Andre Ovane

32

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Gambar 4.1 : transmisi roda gigi pada kecepatan I.


B. Dimensi roda gigi pada kecepatan I :
Pinion A.
a. Diameter Pitch (DpA)

= zA x m
= 20 x 1,25
= 30 mm

b. Diameter Luar (DoA)

= DpA + (2 x m)
= 30 + (2 x 1,25)
= 32,5 mm

c. Diameter Kaki (DiA)

= DpA (2 x 1,25 x m)
= 30 (2 x 1,25 x 1,25)
= 26,1875 mm

Gear H.
a. Diameter Pitch (DpH)

= zH x m
= 45 x 1,25
= 56,25 mm

b. Diameter Luar (Do H)

= Dp H + (2 x m)
= 56,25 + (2 x1,25)

Yoghi Andre Ovane

33

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

= 58,75 mm
c. Diameter Kaki (Di H)

= Dp H (2 x 1,25 x m)
= 56,25 (2 x 1,25 x 1,25)
= 53,125 mm

C. Untuk tebal, lebar dan tinggi pinion dan gear direncanakan sama, yaitu :
Lebar gigi (b)

= cxm

# c = (6 10), diambil 8

= 8 x 1,25
= 10 mm
Tinggi kepala addendum (ha) = m=1,25
Tinggi kaki deddendm (hf)

= 1,25 x m
= 1,25 x 1,25
= 1,5625 mm
= 0,5 x x 1,25

Tebal gigi (t)

= 1,9625 mm
D. Tegangan tegangan yang terjadi :
Pinion A.
Tegangan lentur yang terjadi adalah :
t

6 Ft h
b t2

[Lit. 7 hal. 239]

Dimana :
t =

tegangan lentur yang terjadi (kg/mm2)

Ft =

gaya tangensial pada roda gigi (kg)

tinggi gigi (mm)

= h = ha+ hf=1,25+1,5625=1,81 mm.


b

lebar sisi roda gigi (didapat 10 mm)

tebal gigi (didapat 1,9625 mm)

Yoghi Andre Ovane

34

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI


Selanjutnya akan dihitung kecepatan keliling dari roda gigi dengan menggunakan
persamaan sebagai berikut:

. D p A. ni
60000

[Lit. 7 hal. 238]

dimana :
V

kecepatan keliling (m/s)

D pA

diameter poros input (mm)

ni

putaran poros input (rpm)

Maka diperoleh kecepatan keliling sebagai berikut:


V

30 8500

60000
13,345 m s

Besarnya gaya tangensial yang dialami roda gigi adalah:

Ft

102 Pd
V

[Lit. 7 hal. 238]

dimana:
Ft =

gaya tangensial roda gigi (kg)

Pd =

daya perancangan (kW)

V =

kecepatan keliling (m/s)

Sehingga diperoleh gaya tangensial sebagai berikut:


102 10,1426
13,345
77,52 kg

Ft

Maka tegangan lentur yang terjadi adalah :


t

6 77,52 1,81
10 1,9625

21,85 kg mm 2

Tegangan geser yang terjadi (g ) :

Yoghi Andre Ovane

35

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI


F
a
A

A Luas Penampang bxh

77,52 kg
10mm x 1,81mm

4,28 kg / mm 2 .

Gear H.
Tegangan lentur yang terjadi adalah :
t

6 Ft h
b t2

[Lit. 7 hal. 239]

Dimana :
t =

tegangan lentur yang terjadi (kg/mm2)

Ft =

gaya tangensial pada roda gigi (kg)

tinggi gigi (mm)

= h = ha+ hf=1,25+1,5625=1,81 mm.


b

lebar sisi roda gigi (didapat 10 mm)

tebal gigi (didapat 1,9625 mm)


Selanjutnya akan dihitung kecepatan keliling dari roda gigi dengan menggunakan

persamaan sebagai berikut:

. D p . ni
60000

[Lit. 7 hal. 238]

dimana :
V

kecepatan keliling (m/s)

Dp

diameter roda gigi (mm)

ni

putaran poros input (rpm)

Maka diperoleh kecepatan keliling sebagai berikut:


V

.56,25 8500

60000
25,02 m s

Besarnya gaya tangensial yang dialami roda gigi adalah:

Ft

102 Pd
V

[Lit. 7 hal. 238]

dimana:

Yoghi Andre Ovane

36

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI


Ft =

gaya tangensial roda gigi (kg)

Pd =

daya perancangan (kW)

V =

kecepatan keliling (m/s)

Sehingga diperoleh gaya tangensial sebagai berikut:


102 10,1426
25,02
41,34 kg

Ft

Maka tegangan lentur yang terjadi adalah :


t

6 41,34 1,81
10 1,9625

11,65 kg mm 2

Tegangan geser yang terjadi (g ) :


a

F
A

41,34 kg
10mm x 1,81mm

A Luas Penampang bxh

2,283 kg / mm 2 .

E. Pemeriksaan Kekuatan Roda Gigi Pada Kecepatan I.


Pemeriksaan dilakukan dengan membandingkan antara tegangan yang terjadi
dengan tegangan izin bahan roda gigi tersebut. Apabila bahan roda gigi S45 dengan
Tegangan Lentur izinnya adalah 30 kg/mm2, maka :
b 30 kg / mm 2
2

Dari perhitungan sebelumnya didapat b terjadi = 21,85 kg mm , maka


b (30 kg mm 2 )

b ( 21,85 kg mm 2 )

sehingga konstruksi roda gigi aman terhadap tegangan lentur yang terjadi :

Yoghi Andre Ovane

37

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

sedangka Tegangan geser yang diizinkan pada roda gigi ini adalah ;
a 0,8 x b
0,8 x 30 kg mm 2
24 kg mm 2 .
2

Dari perhitungan sebelumnya didapat a terjadi = 4,28 kg mm , maka


a ( 24 kg mm 2 )

a ( 4,28 kg mm 2 ) ,

sehingga konstruksi roda gigi aman terhadap tegangan geser yang terjadi.
4.2

Analisa Perhitungan Roda Gigi Pada Kecepatan II.


A. Perhitungan Modul.
Pada kecepatan II direncanakan jumlah gigi zB = 27 gigi, maka modulnya dapat

dihitung :

1161,05
1,57 x 25 x 0,6 x 27

1,825

1,22

diambil m = 1,25 (sesuai dengan tabel modul)

Perhitungan ini berdasarkan pada kecepatan I, sehingga :


a

m( zA zH )
2
1,25( 20 45)
2

= 40,625 mm
Maka jumlah gigi pada gear G :
ax 2

zG

zB

40,625 x 2
27
1,25

38 buah

Yoghi Andre Ovane

38

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Gambar 4.2 : transmisi roda gigi pada kecepatan II


B. Dimensi Roda Gigi Pada Kecepatan II :
Pinion B :
a. Diameter Pitch (DpB)

= zB x m
= 27 x 1,25
= 33,75 mm

b. Diameter Luar (DoB)

= DpB + (2 x m)
= 33,75 + (2 x1,25)
= 36,25 mm

c. Diameter Kaki (DiB)

= DpB (2 x 1,25 x m)
= 33,75 (2 x 1,25 x 1,25)
= 30,625 mm

Gear G
a. Diameter Pitch (DpG)

= zG x m
= 38 x 1,25
= 47,5 mm

b. Diameter Luar (DoG)

= DpG + (2 x m)
= 47,5 + (2 x1,25)
= 50 mm

c. Diameter Kaki (DiG)

= DpG (2 x 1,25 x m)
= 47,5 (2 x 1,25 x 1,25)

Yoghi Andre Ovane

39

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

= 44,375 mm
d . Maka ratio transmisi (i )

38
27

= 1,407
C. Untuk tebal, lebar dan tinggi pinion dan gear direncanakan sama, yaitu :
Lebar gigi (b)

= cxm

# c = (6 10), diambil 8

= 8 x 1,25
= 10 mm
Tinggi kepala addendum (ha) = m=1,25
Tinggi kaki deddendm (hf)

= 1,25 x m
= 1,25 x 1,25
= 1,5625 mm
= 0,5 x x 1,25

Tebal gigi (t)

= 1,9625 mm

D. Tegangan tegangan yang terjadi :


Tegangan lentur yang terjadi adalah :
t

6 Ft h
b t2

[Lit. 7 hal. 239]

Dimana :
t =

tegangan lentur yang terjadi (kg/mm2)

Ft =

gaya tangensial pada roda gigi (kg)

tinggi gigi (mm)

= h = ha+ hf=1,25+1,5625=1,81 mm.


b

lebar sisi roda gigi (didapat 10 mm)

tebal gigi (didapat 1,9625 mm)


Selanjutnya akan dihitung kecepatan keliling dari roda gigi dengan menggunakan

persamaan sebagai berikut:

Yoghi Andre Ovane

40

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

D p B ni
60000

[Lit. 7 hal. 238]

dimana :
V

kecepatan keliling (m/s)

D pB

diameter jarak bagi input (mm)

ni

putaran poros input (rpm)

Maka diperoleh kecepatan keliling sebagai berikut:


V

33,75 8500

60000
15,01 m s

Besarnya gaya tangensial yang dialami roda gigi adalah:

Ft

102 Pd
V

[Lit. 7 hal. 238]

dimana:
Ft =

gaya tangensial roda gigi (kg)

Pd =

daya perancangan (kW)

V =

kecepatan keliling (m/s)

Sehingga diperoleh gaya tangensial sebagai berikut:


102 10,1426
15,01
68,92 kg

Ft

Maka tegangan lentur yang terjadi adalah :


t

6 68,92 1,81
10 1,9625

19,43 kg mm 2

Tegangan geser yang terjadi (g ) :


a

F
A

68,92 kg
10mm x 1,81mm

A Luas Penampang bxh

3,8 kg / mm 2 .

Yoghi Andre Ovane

41

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

E. Pemeriksaan Kekuatan Roda Gigi Pada Kecepatan II.


Pemeriksaan dilakukan dengan membandingkan antara tegangan yang terjadi
dengan tegangan izin bahan roda gigi tersebut.
Apabila bahan roda gigi S45 dengan Tegangan Lentur izinnya adalah 30 kg/mm2,
maka :
b 30 kg / mm 2
2

Dari perhitungan sebelumnya didapat b terjadi = 19,43 kg mm , maka


b (30 kg mm 2 )

b (19,43 kg mm 2 )

sehingga konstruksi roda gigi aman terhadap tegangan lentur yang terjadi.
Sedangkan Tegangan geser yang diizinkan pada roda gigi ini adalah ;
a 0,8 x b
0,8 x 30 kg mm 2
24 kg mm 2 .
2

Dari perhitungan sebelumnya didapat a terjadi = 3,8 kg mm , maka


a (24 kg mm 2 )

a (3,8 kg mm 2 ) ,

sehingga konstruksi roda gigi aman terhadap tegangan geser yang terjadi.
.
4.3

Analisa Perhitungan Roda Gigi Pada Kecepatan III.


A. Perhitungan Modul.
Pada kecepatan III direncanakan jumlah gigi zB = 30 gigi, maka modulnya dapat

dihitung :
m

1161,05
1,57 x30 x 0,6 x30

1,369

1,11

diambil m = 1,25 (sesuai dengan tabel modul)

Perhitungan ini berdasarkan pada kecepatan I, sehingga :


a

m( zA zH )
2
1,25( 20 45)
2

Yoghi Andre Ovane

42

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

= 40,625 mm
Maka jumlah gigi pada gear G :
ax 2

zF

zC

40,625 x 2
30
1,25

35 buah

Gambar 4.3 : transmisi roda gigi pada kecepatan III


B. Dimensi Roda Gigi Pada Kecepatan III :
Pinion C :
a. Diameter Pitch (DpC)

= zC x m
= 30 x 1,25
= 37,5 mm

b. Diameter Luar (DoC)

= DpC + (2 x m)
= 37,5 + (2 x1,25)
= 40 mm

Yoghi Andre Ovane

43

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

c. Diameter Kaki (DiC)

= DpC (2 x 1,25 x m)
= 37,5 (2 x 1,25 x 1,25)
= 34,375 mm

Gear F
a. Diameter Pitch (DpF)

= zF x m
= 35 x 1,25
= 43,75 mm

b. Diameter Luar (DoF)

= DpF + (2 x m)
= 43,75 + (2 x1,25)
= 46,25 mm

c. Diameter Kaki (DiF)

= DpF (2 x 1,25 x m)
= 43,75 (2 x 1,25 x 1,25)
= 40,625 mm

d . Maka ratio transmisi (i )

35
30

= 1,16.
C. Untuk tebal, lebar dan tinggi pinion dan gear direncanakan sama, yaitu :
Lebar gigi (b)

= cxm

# c = (6 10), diambil 8

= 8 x 1,25
= 10 mm
Tinggi kepala addendum (ha) = m=1,25
Tinggi kaki deddendm (hf)

= 1,25 x m
= 1,25 x 1,25

Tebal gigi (t)

= 1,5625 mm
= 0,5 x x 1,25
= 1,9625 mm

D. Tegangan tegangan yang terjadi :


Tegangan lentur yang terjadi adalah :

Yoghi Andre Ovane

44

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

6 Ft h
b t2

[Lit. 7 hal. 239]

Dimana :
t =

tegangan lentur yang terjadi (kg/mm2)

Ft =

gaya tangensial pada roda gigi (kg)

tinggi gigi (mm)

= h = ha+ hf=1,25+1,5625=1,81 mm.


b

lebar sisi roda gigi (didapat 10 mm)

tebal gigi (didapat 1,9625 mm)


Selanjutnya akan dihitung kecepatan keliling dari roda gigi dengan menggunakan

persamaan sebagai berikut:

D p B ni
60000

[Lit. 7 hal. 238]

dimana :
V

kecepatan keliling (m/s)

D pC

diameter jarak bagi input (mm)

ni

putaran poros input (rpm)

Maka diperoleh kecepatan keliling sebagai berikut:


V

37,5 8500

60000
16,68 m s

Besarnya gaya tangensial yang dialami roda gigi adalah:

Ft

102 Pd
V

[Lit. 7 hal. 238]

dimana:
Ft =

gaya tangensial roda gigi (kg)

Pd =

daya perancangan (kW)

V =

kecepatan keliling (m/s)

Sehingga diperoleh gaya tangensial sebagai berikut:


102 10,1426
16,68
62,02 kg

Ft

Yoghi Andre Ovane

45

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI


Maka tegangan lentur yang terjadi adalah :
t

6 62,02 1,81
10 1,9625

17,48 kg mm 2

Tegangan geser yang terjadi (g ) :


a

F
A

62,02 kg
10mm x 1,81mm

A Luas Penampang bxh

3,42 kg / mm 2 .

E. Pemeriksaan Kekuatan Roda Gigi Pada Kecepatan III.


Pemeriksaan dilakukan dengan membandingkan antara tegangan yang terjadi
dengan tegangan izin bahan roda gigi tersebut.
Apabila bahan roda gigi S45 dengan Tegangan Lentur izinnya adalah 30 kg/mm2,
maka :
b 30 kg / mm 2
2

Dari perhitungan sebelumnya didapat b terjadi = 17,48 kg mm , maka


b (30 kg mm 2 )

b (17,48 kg mm 2 )

sehingga konstruksi roda gigi aman terhadap tegangan lentur yang terjadi.
Sedangkan Tegangan geser yang diizinkan pada roda gigi ini adalah ;
a 0,8 x b
0,8 x 30 kg mm 2
24 kg mm 2 .
2

Dari perhitungan sebelumnya didapat a terjadi = 3,42 kg mm , maka


a (24 kg mm 2 )

a (3,42 kg mm 2 ) ,

Yoghi Andre Ovane

46

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

sehingga konstruksi roda gigi aman terhadap tegangan geser yang terjadi.

4.4

Analisa Perhitungan Roda Gigi Pada Kecepatan IV.


A. Perhitungan Modul.
Pada kecepatan IV direncanakan jumlah gigi zD = 32 gigi, maka modulnya dapat

dihitung :
m

1161,05
1,57 x30 x 0,6 x32

1,283

1,08

diambil m = 1,25 (sesuai dengan tabel modul)

Perhitungan ini berdasarkan pada kecepatan I, sehingga :


a

m( zA zH )
2
1,25( 20 45)
2

= 40,625 mm
Maka jumlah gigi pada gear D :
ax 2

zE

zD

40,625 x 2
32
1,25

33 buah

Yoghi Andre Ovane

47

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Gambar 4.4: transmisi roda gigi pada kecepatan III


B. Dimensi Roda Gigi Pada Kecepatan IV :
Pinion D :
a. Diameter Pitch (DpD)

= zD x m
= 32 x 1,25
= 40 mm

b. Diameter Luar (DoD)

= DpD + (2 x m)
= 40 + (2 x1,25)
= 42,5 mm

c. Diameter Kaki (DiD)

= DpD (2 x 1,25 x m)
= 40 (2 x 1,25 x 1,25)
= 36,875 mm

Gear E
a. Diameter Pitch (DpE)

= zE x m
= 33 x 1,25
= 41,25 mm

b. Diameter Luar (DoE)

= DpE + (2 x m)
= 41,25 + (2 x1,25)
= 43,75 mm

c. Diameter Kaki (DiE)

= DpE (2 x 1,25 x m)
= 43,75 (2 x 1,25 x 1,25)
= 40,625 mm

d . Maka ratio transmisi (i )

33
32

= 1,03.

Yoghi Andre Ovane

48

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

C. Untuk tebal, lebar dan tinggi pinion dan gear direncanakan sama, yaitu :
Lebar gigi (b)

= cxm

# c = (6 10), diambil 8

= 8 x 1,25
= 10 mm
Tinggi kepala addendum (ha) = m=1,25
Tinggi kaki deddendm (hf)

= 1,25 x m
= 1,25 x 1,25
= 1,5625 mm
= 0,5 x x 1,25

Tebal gigi (t)

= 1,9625 mm
D. Tegangan tegangan yang terjadi :
Tegangan lentur yang terjadi adalah :
t

6 Ft h
b t2

[Lit. 7 hal. 239]

Dimana :
t =

tegangan lentur yang terjadi (kg/mm2)

Ft =

gaya tangensial pada roda gigi (kg)

tinggi gigi (mm)

= h = ha+ hf=1,25+1,5625=1,81 mm.


b

lebar sisi roda gigi (didapat 10 mm)

tebal gigi (didapat 1,9625 mm)


Selanjutnya akan dihitung kecepatan keliling dari roda gigi dengan menggunakan

persamaan sebagai berikut:

D p ni
60000

Yoghi Andre Ovane

[Lit. 7 hal. 238]

49

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI


dimana :
V

kecepatan keliling (m/s)

Dp

diameter jarak bagi input (mm)

ni

putaran poros input (rpm)

Maka diperoleh kecepatan keliling sebagai berikut:


V

40 8500

60000
16,68 m s

Besarnya gaya tangensial yang dialami roda gigi adalah:

Ft

102 Pd
V

[Lit. 7 hal. 238]

dimana:
Ft =

gaya tangensial roda gigi (kg)

Pd =

daya perancangan (kW)

V =

kecepatan keliling (m/s)

Sehingga diperoleh gaya tangensial sebagai berikut:


102 10,1426
16,68
62,02 kg

Ft

Maka tegangan lentur yang terjadi adalah :


t

6 62,02 1,81
10 1,9625

17,48 kg mm 2

Tegangan geser yang terjadi (g ) :


a

F
A

62,02 kg
10mm x 1,81mm

A Luas Penampang bxh

3,42 kg / mm 2 .

Yoghi Andre Ovane

50

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

E. Pemeriksaan Kekuatan Roda Gigi Pada Kecepatan IV.


Pemeriksaan dilakukan dengan membandingkan antara tegangan yang terjadi
dengan tegangan izin bahan roda gigi tersebut.
Apabila bahan roda gigi S45 dengan Tegangan Lentur izinnya adalah 30 kg/mm2,
maka :
b 30 kg / mm 2
2

Dari perhitungan sebelumnya didapat b terjadi = 17,48 kg mm , maka


b (30 kg mm 2 )

b (17,48 kg mm 2 )

sehingga konstruksi roda gigi aman terhadap tegangan lentur yang terjadi.
Sedangkan Tegangan geser yang diizinkan pada roda gigi ini adalah ;
a 0,8 x b
0,8 x 30 kg mm 2
24 kg mm 2 .
2

Dari perhitungan sebelumnya didapat a terjadi = 3,42 kg mm , maka


a (24 kg mm 2 )

a (3,42 kg mm 2 ) ,

sehingga konstruksi roda gigi aman terhadap tegangan geser yang terjadi.

Yoghi Andre Ovane

51

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

BAB V
PERANCANGAN SPLINE DAN NAAF
5.1. Perancangan Spline.
Pada dasarnya fungsi spline adalah sama dengan pasak, yaitu meneruskan daya dan
putaran dari poros ke komponen-komponen lain yang terhubung dengannya, ataupun
sebaliknya. Perbedaannya adalah spline menyatu atau menjadi bagian dari poros
sedangkan pasak merupakan komponen yang terpisah dari poros dan memerlukan alur
pada poros untuk pemasangannya. Selain itu jumlah spline pada suatu konstruksi telah
tertentu berdasarkan standar SAE, sedangkan jumlah pasak ditentukan sendiri oleh
perancangnya. Hal ini menyebabkan pemakaian spline lebih menguntungkan dilihat dari
segi penggunaannya karena sambungannya lebih kuat dan beban puntirnya merata di
seluruh bagian poros dibandingkan dengan pasak yang akan menimbulkan konsentrasi
tegangan pada daerah di mana pasak dipasang.
Untuk pemakaian spline pada kenderaan bermotor, mesin perkakas dan mesin
produksi, perhitungannya dilakukan berdasarkan standar dari SAE (Society of Automotive
Engineering). Simbol simbol yang digunakan dalam satandarisasi ini adalah sebagai
berikut:

Gambar 5.1. Spline

Yoghi Andre Ovane

52

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Dimana:

D = diameter luar spline


d

= diameter dalam spline

= tinggi spline

w = lebar spline
L = panjang spline
Ukuran spline untuk berbagai kondisi operasi telah ditetapkan dalam standar SAE
dan dapat dilihat pada Tabel 5.1 berikut ini.
Tabel 5.1. Spesifikasi spline untuk berbagai kondisi operasi (standar SAE)
Number
of
Splines
4
6
10
16

Permanent Fit
H
0,075D
0,050D
0,045D
0,045D

D
0,850D
0,900D
0,910D
0,910D

To Slide When not

To

Slide

When

Under Load
H
D
0,125D
0,750D
0,075D
0,850D
0,070D
0,860D
0,070D
0,860D

Under Load
h
d
0,100D
0,800D
0,095D
0,810D
0,095D
0,810D

All Fits
w
0,241D
0,250D
0,156D
0,098D

Sumber : Kents, Mechanical Engineering Handbook, Halaman 15-15

5.1.1. Pemilihan Bahan Spline.


Karena spline menyatu dengan poros maka bahan spline sama dengan bahan
poros. Sehingga spline pada poros output juga terbuat dari bahan baja karbon S 45 C-D
dengan tegangan geser ijin 9 kg/mm2 sedangkan spline pada poros perantara juga terbuat
dari baja paduan SNC 21 dengan tegangan geser ijin 8,888 kg/mm2.
5.1.2. Perancangan Spline Pada Poros Output.
Spline pada poros output menghubungkan sincronizer dengan poros output.
Sincronizer akan meluncur pada spline pada poros output saat dilakukan pertukaran
kecepatan. Maka untuk semua spline pada poros output ini dipilih dari tabel 5.1. yaitu to
slide under load dengan jumlah spline 6 buah. Berikut ini adalah ukuran ukuran utama
spline pada poros ini.
Karena spline disini merupakan alur dalam maka diameter luar spline adalah
diameter poros output atau D = 11 mm. Maka diameter dalam spline adalah:

Yoghi Andre Ovane

53

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

d 0,810 D
0,810 11
8,91 mm
9 mm

Tinggi spline adalah:


D d 11 9

2
2
1 mm

Lebar spline adalah:


w 0,156 D
0,156 11
1,716
2 mm

Maka jari jari rata rata spline adalah:


D d 11 9

4
4
5 mm
5 mm

rm

[Lit. 1 hal. 24]

Besarnya gaya yang bekerja pada spline diperoleh dari:


F

T
rm

[Lit.7 hal. 59]

di mana:
T = momen puntir yang bekerja pada poros, dari perhitungan pada Bab 3
diperoleh sebesar 1161,05 kg.mm
F = gaya yang bekerja pada spline (kg)
rm = jari-jari rata-rata spline (mm).
Maka diperoleh:
F

1161,05
232,21 kg
5

Yoghi Andre Ovane

54

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Didalam perencanaan roda gigi ini, untuk panjang dari spline tidak dihitung
karena roda gigi ini dipakai untuk transmisi kenderaan sepeda motor jadi, panjang spline
harus sesuai dengan panjang sinkronisasi antara roda gigi yang terpasang di poros spline
tersebut.
5.1.3. Perancangan Spline Pada Poros Perantara.
Spline pada poros perantara ini meneruskan putaran dari poros perantara ke roda
gigi perantara mundur dan roda gigi perantara 5. Pada saat beroperasi tidak ada
pergeseran (slide) yang terjadi pada spline. Untuk itu dari tabel 5.1. dipilih spline jenis
permanent fit dengan jumlah spline 6 buah. Berikut adalah ukuran ukuran utama
spline pada poros perantara ini.
Karena spline di sini merupakan alur dalam maka diameter luar spline adalah
diameter poros perantara. Pada bagian spline ini, diameter poros perantara telah dihitung,
dan ukuran yang diperoleh sebesar D = 11,2 mm. Maka diameter ini yang menjadi
diameter luar spline. Sehingga diperoleh ukuran ukuran utama sebagai berikut:
d 0,810 D
0,810 11,2
9,07
9,1 mm

Tinggi spline adalah:


Dd
11,2 9,1

2
2
1,05 mm

Lebar spline adalah:


w 0,156 D
0,156 11,2
1,74
1,75 mm

Maka jari jari rata rata spline adalah:

Yoghi Andre Ovane

55

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI


D d 11,2 9,1

4
4
5 mm

rm

Besarnya gaya yang bekerja pada spline:


F

T
1161,05

rm
5

232,21 kg

Didalam perencanaan roda gigi ini, untuk panjang dari spline tidak dihitung
karena roda gigi ini dipakai untuk transmisi kenderaan sepeda motor jadi, panjang spline
harus sesuai dengan panjang sinkronisasi antara roda gigi yang terpasang di poros spline
tersebut.
5.2. Perencanaan Naaf.
Naaf dan spline merupakan bagian yang saling berkecocokan tetapi berbeda
bagian. Spline berupa tonjolan atau bukit pada sisi poros dan naaf merupakan pasangan
dari bentuk tonjolan atau bukit tersebut. Sama seperti spline, naaf juga ada pada poros
output dan pada porors perantara.
Adapun simbol simbol yang dipakai dalam perancangan naaf ini adalah:

Gambar 5.2. Naaf


Dimana:

D = diameter luar naaf


d

= diameter dalam naaf

w = lebar gigi naaf


h

= tinggi gigi naaf

L = panjang naaf

Yoghi Andre Ovane

56

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

5.2.1. Pemilihan Bahan Naaf.


Pada poros output, naaf dibentuk pada sincronizer. Maka bahan naaf sama dengan
bahan dari sincronizer yaitu dari bahan yang sama dengan roda gigi yaitu baja paduan S
45 C dengan tegangan geser ijin 9 kg/mm2 dan tegangan tumbuk ijin sebesar 10,416
kg/mm2. Naaf pada poros perantara dibentuk pada roda gigi perantara maka bahannya
juga dari bahan yang sama dengan roda gigi perantara yakni baja paduan SNC 21.
5.2.2. Perancangan Naaf Pada Poros Input
Karena naaf bercocokan dengan spline, maka ukuran ukuran utama spline
langsung dipakai sebagai ukuran naaf. Maka:
Jumlah naaf

: i = 6 buah

Diameter luar naaf

: D = 11 mm

Diameter dalam naaf

: d = 9 mm

Tinggi naaf

: h = 1 mm

Jari jari rata rata naaf

: rm = 5 mm

Panjang naaf

: L = sesuai dengan lebar roda gigi ; 10 mm

Gaya yang bekerja pada naaf

: F = 232,21 kg

Sedangkan lebar naaf dapat diperoleh dari:


w

D i w spline

[Lit. 8 hal. 15]

dimana:
w

= lebar naaf (mm)

= diameter luar spline atau naaf (mm)

wspline = lebar spline (mm)


i

= jumlah gigi spline atau naaf

Maka diperoleh:
w

11 6 2

6
3,75 mm

5.2.3. Perancangan Naaf Pada Poros Output.

Yoghi Andre Ovane

57

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Pada poros perantara ini, naaf berkecocokan dengan spline sehingga ukuran
ukuran utama naaf diambil dari ukuran ukuran spline, maka:
Jumlah naaf

: i = 6 buah

Diameter luar naaf

: D = 11,2 mm

Diameter dalam naaf

: d = 9,1 mm

Tinggi naaf

: h = 1,05 mm

Jari jari rata rata naaf

: rm = 5 mm

Panjang naaf

: sesuai dengan lebar roda gigi ; L = 10 mm

Gaya yang bekerja pada naaf

: F = 232,21 kg

Sedangkan lebar naaf dapat diperoleh sebagai berikut:


D i wspline
i

11,2 6 1,75

6
4,11 mm

5.2.4. Pemeriksaan Kekuatan Naaf


Pemeriksaan kekuatan naaf dilakukan pemeriksaan terhadap tegangan geser dan
tegangan tumbuk. Pemeriksaan dilakukan dengan membandingkan tegangan yang timbul
dengan tegangan ijin bahan. Dimana tegangan geser atau tumbuk yang timbul pada naaf
tidak boleh melebihi tegangan geser dan tumbuk ijin bahan naaf.
Pemeriksaan kekuatan naaf pada sincronizer dilakukan sebagai berikut. Tegangan
geser yang timbul pada naaf adalah:
a

F
323,21

i wL
6 3,75 10

1,436 kg mm

[Lit. 7 hal. 25]

Tampak bahwa tegangan geser dan tumbuk yang timbul, jauh lebih kecil dari
tegangan geser dan tegangan tumbuk ijin bahan naaf
( a a 1,436 kg mm 2 9 kg mm 2 )

Maka naaf yang dirancang pada poros input cukup aman terhadap tegangan yang
terjadi.

Yoghi Andre Ovane

58

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Pemeriksaan kekuatan naaf pada roda gigi output dilakukan sebagai berikut.
Tegangan geser yang timbul pada naaf:
a

F
323,21

iwL
6 4,11 10

[Lit. 7 hal. 25]

1,31 kg mm 2

Tampak bahwa tegangan geser dan tumbuk yang timbul, jauh lebih kecil dari
tegangan geser dan tegangan tumbuk ijin bahan naaf
( a a 1,31 kg mm 2 8,888 kg mm 2 )

Maka naaf yang dirancang pada poros output cukup aman terhadap tegangan yang
terjadi.

BAB VI
PERANCANGAN BANTALAN
Bantalan adalah elemen mesin yang menumpu poros sehingga putaran dan gerak bolak
baliknya berlangsung dengan halus, aman dan tahan lama. Bantalan yang akan dirancang pada

Yoghi Andre Ovane

59

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI


perancangan ini adalah bantalan yang terpasang pada poros output (poros output) dan poros
perantara
6.1. Perancangan Bantalan Pada Poros Input.
Bantalan yang digunakan untuk mendukung poros output adalah bantalan bola radial
beralur dalam baris tunggal (single row deep groove radial ball bearing), sebanyak dua buah
yang diletakkan pada ujung dan pada poros antara roda gigi input mundur dengan roda gigi
output 1 (dapat dilihat pada gambar assembly roda gigi). Bantalan bola radial ini dipilih karena
ketahanan bantalan ini dalam menahan beban radial dan putaran tinggi.
Pada poros output ini bantalan menerima beban berupa beban radial dan aksial. Tetapi
beban aksial yang terjadi pada bantalan nilainya sangat kecil yang muncul pada saat pemindahan
kecepatan oleh tuas persnelling, sehingga dapat dikatakan beban aksialnya adalah nol. Pada poros
output terdapat beban berupa massa dari roda gigi roda gigi output yang terpasang pada poros
ini. Massa dari roda gigi output masing masing dihitung sebagai berikut:
Beban massa dari roda gigi dihitung dengan persamaan:

D d b
4

[Lit. 7 hal. 108]

dimana:
M =

beban massa roda gigi (kg)

D =

diameter jarak bagi roda gigi (mm)

diameter poros (mm)

lebar roda gigi (mm)

massa jenis roda gigi dimana untuk bahan baja harganya adalah 7,6510 -6
kg/mm3

Maka:
o

Massa roda gigi input A

30 2 112 10 x7,65 10 6
4
0,046 kg

MA

Massa roda gigi input B

Yoghi Andre Ovane

60

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

33,75 2 112 10 x 7,65 10 6


4
0,06 kg

MB

Massa roda gigi input C

37,5 2 112 10 x 7,65 10 6


4
0,077 kg

MC

Massa roda gigi inputD

40 2 112 10 x7,65 10 6
4
0,088 kg

MD

Massa total roda gigi adalah:


M total M A M B M C M D
0,046 0,06 0,077 0,088
0,271 kg

Beban akibat gaya tangensial diperoleh dengan persamaan sebagai berikut:


Ft F tan

[Lit. 7 hal. 135]

dimana:
Ft =

beban akibat gaya tangensial (kg)

gaya tangensial maksimum yang terjadi pada roda gigi dimana pada Bab 4

diperoleh gaya tangesial maksimum terjadi pada kecepatan mundur sebesar 77,52
kg
=

sudut tekan roda gigi yakni sebesar 20

Maka diperoleh:
Ft 77,52 tan 20
28,21 kg

Maka beban radial total dapat diperoleh dengan persamaan sebagai berikut:
Fr M 2 Ft

0,2712 28,212
28 kg

Yoghi Andre Ovane

61

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI


Beban ekivalen diperoleh dengan:
[Lit. 7 hal. 135]

P X Fr Y Fa

X =

beban ekivalen (kg)


faktor radial, untuk bantalan bola radial beralur dalam baris tunggal besarnya
adalah 0,6

Fr =

gaya radial total yaitu sebesar 28 kg

Y =

faktor aksial, untuk bantalan bola radial beralur dalam baris tunggal besarnya
adalah 0,5

Fa =

gaya aksial, untuk bantalan pendukung poros ini besarnya adalah 0 karena tidak
ada gaya aksial yang dibebankan pada bantalan ini.

Maka diperoleh:
P 0,6 28 0,5 0
17,3 kg

Besar basic static load rating adalah sebanding dengan beban ekivalen, sehingga
diperoleh:
C0 P
17,3 kg

Besar basic dynamic load rating dapat diperoleh dari persamaan:

C PL

[Lit. 7 hal. 134]

dimana:
C =

basic dynamic load rating (kg)

beban ekivalen yaitu sebesar 17,3 kg

umur bantalan yang dinyatakan dalam juta putaran. Dalam rancangan ini kita
rencanakan 5000 juta putaran

Maka diperoleh:

C 17,3 5000
295,82 kg

Jadi dari perhitungan di atas diperoleh data sebagai berikut:

Yoghi Andre Ovane

62

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI


Diameter lubang=diameter poros

: 11 mm

Basic static load rating

: C0 17,3 kg

Dynamic load rating

: C 295,82 kg

Bantalan yang sesuai dengan kriteria di atas dapat dipilih dari tabel 6.1. berikut ini.

Tabel 6.1. Bantalan bola alur dalam


C0/Fa
Fa/VFr e

Fa/VFr > e

10

15

20

25

0,56

1,26

1,49

1,64

1,76

1,85

0,35

0,29

0,27

0,25

0,24

Gambar 6.1 : bantalan

Nomor bantalan

Jenis

Dua

terbuka

sekat

6000
6001
6002
6003
6004
6005
6006
6007
6008

6001ZZ
6002ZZ
6003ZZ
6004ZZ
6005ZZ
6006ZZ
6007ZZ
6008ZZ

Ukuran luar
Dua

Kapasitas
nominal

sekat

tanpa

kontak

6001V V
6002V V
6003V V
6004V V
6005V V
6006V V
6007V V
6008V V

Yoghi Andre Ovane

dinamis
spesifik C
(kg)

10
12
15
17
20
25
30
35
40

26
28
32
35
42
47
55
62
68

63

8
8
9
10
12
12
13
14
15

0,5
0,5
0,5
0,5
1
1
1,5
1,5
1,5

360
400
440
470
735
790
1030
1250
1310

Kapasitas
nominal
statis
spesifik C0
(kg)
196
229
263
296
465
530
740
915
1010

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI


6009
6010

6009ZZ
6010ZZ

6009V V
6010V V

45
50

75
80

16
16

1,5
1,5

1640
1710

1320
1430

6200
6201
6202
6203
6204
6205
6206
6207
6208
6209
6210

6200ZZ
6201ZZ
6202ZZ
6203ZZ
6204ZZ
6205ZZ
6206ZZ
6207ZZ
6208ZZ
6209ZZ
6210ZZ

6200V V
6201V V
6202V V
6203V V
6204V V
6205V V
6206V V
6207V V
6208V V
6209V V
6210V V

10
12
15
17
20
25
30
35
40
45
50

30
32
35
40
47
52
62
72
80
85
90

9
10
11
12
14
15
16
17
18
19
20

1
1
1
1
1,5
1,5
1,5
2
2
2
2

400
535
600
750
1000
1100
1530
2010
2380
2570
2750

236
305
360
460
635
730
1050
1430
1650
1880
2100

6300
6301
6302
6303
6304
6305
6306
6307

6300ZZ
6301ZZ
6302ZZ
6303ZZ
6304ZZ
6305ZZ
6306ZZ
6307ZZ

6300V V
6301V V
6302V V
6303V V
6304V V
6305V V
6306V V
6307V V

10
12
15
17
20
25
30
35

35
37
42
47
52
62
72
80

11
12
13
14
15
17
19
20

1
1,5
1,5
1,5
2
2
2
2,5

635
760
895
1070
1250
1610
2090
2620

365
450
545
660
785
1080
1440
1840

6308
6309
6310

6308ZZ
6309ZZ
6310ZZ

6308V V
6309V V
6310V V

40
45
50

90
100
110

23
25
27

2,5
2,5
3

3200
4150
4850

2300
3100
3650

Sumber: Dasar Pemilihan dan Perancangan Elemen Mesin, Sularso & Kiyokatsu Suga, Hal. 212

Dari tabel 6.1. dipilih bantalan bola radial beralur dalam baris tunggal jenis terbuka
nomor terbuka dengan nomor bantalan 6000 yang mempunyai karakteristik sebagai berikut:
Diameter luar

: D = 26 mm

Diameter lubang

: d = 10 mm

Lebar

: b = 8 mm

Basic static load rating

: C0 = 196 kg

Basic dynamic load rating

: C = 360 kg

6.2. Perancangan Bantalan Pada Poros Output.


Bantalan yang digunakan untuk mendukung poros perantara dipilih bantalan bola radial
beralur dalam baris tunggal sebanyak dua buah yang diletakkan pada ujung poros dan pada poros
antara roda gigi perantara mundur dengan roda gigi perantara 5 (dapat dilihat pada assembly roda
gigi).

Yoghi Andre Ovane

64

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI


Pada poros perantara ini terdapat beban berupa massa dari roda gigi perantara yang terdapat
pada poros perantara. Beban massa masing masing roda gigi perantara dapat dihitung sebagai
berikut:
o

Massa roda gigi output E

41,25 2 11,2 2 10 x7,65 10 6


4
0,094 kg

ME

Massa roda gigi output F

43,75 2 11,2 2 10 x 7,65 10 6


4
0,1 kg

MF

Massa roda gigi output G.

47,5 2 11,2 2 10 x 7,65 10 6


4
0,12 kg

MG

Massa roda gigi output H.

56,25 2 11,2 2 10 x 7,65 10 6


4
0,18 kg

MH

Massa total roda gigi adalah:


M total M E M F M G M H
0,94 0,1 0,12 0,18
1,34 kg

Beban akibat gaya tangensial pada poros perantara ini sama dengan yang diperoleh
sebelumnya pada poros utama. Sehingga:
Ft = 28,21 kg
Maka beban radial total diperoleh dengan persamaan:

Yoghi Andre Ovane

65

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI


Fr M Ft
2

1,34 2 28,212
26,56 kg

Beban ekivalen diperoleh dengan:


P X Fr Y Fa

[Lit. 7 hal. 135]

dimana tidak ada gaya aksial yang bekerja pada bantalan sehingga F a = 0. Maka diperoleh:
P (0,6 26,56) (0,5 0)
15,936 kg

Besar basic static load rating adalah sebanding dengan beban ekivalen, sehingga
diperoleh:
C0 P
15,936 kg

Besar basic dynamic load rating dapat diperoleh sebagai berikut:

C 15,936 5000
272,5 kg

Jadi dari perhitungan di atas diperoleh data sebagai berikut:


Diameter lubang = diameter poros

: d = 11,2 mm

Basic static load rating

: C0 15,936 kg

Dynamic load rating

: C 272,5 kg

Dari tabel 6.1. dipilih bantalan bola radial beralur dalam baris tunggal jenis terbuka
nomor terbuka dengan nomor bantalan 6000 yang mempunyai karakteristik sebagai berikut:
Diameter luar

: D = 26 mm

Diameter lubang

: d = 10 mm

Lebar

: b = 8 mm

Basic static load rating

: C0 = 196 kg

Basic dynamic load rating

: C = 360 kg

Yoghi Andre Ovane

66

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

BAB VII
PELUMASAN
Pelumasan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam merawat elemen
Pelurnasan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam merawat elemen - elemen
mesin, khususnya roda gigi agar elemen elemen mesin tersebut mempunyai umur yang
lebih lama dan dapat beroperasi dengan baik. Pelumasan berfungsi untuk mengurangi
kontak langsung (gesekan) antara elemen mesin yang saling berkaitan / berhubungan
langsung serta mengurangi panas yang timbul akibat adanya gesekan.
Ada 5 (lima) jenis pelumasan yang sering dijumpai dalarn kehidupan sehari - hari, yaitu
a. Hidrodinamika.
b. Flidrostatika.
c. Elastohjdrodinamika.
d. Batas (Boundary).
e. Lapisan padat tipis (Solid film).

Yoghi Andre Ovane

67

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Untuk menentukan pelumas yang sesuai untuk digunakan pada roda gigi, hartis
terlebih dahulu diketahui temperatur kerja pada roda gigi. Panas yang timbul pada roda
gigi disebut kalor masuk (km).
km

= Ng x 632 kkal/h.

Dimana:
Ng = Daya gesek (0,66 F{p/Dk).
Maka:
km

= 0,66Hp/Dk x 632 kkal/h.


= 417,12 kkal/h.

Kalor masuk sama dengan kalor keluar (km = ki), maka ki = 417,12 kkal/h.
Koefisien perpindahan panas (a) didapat dan kecepatan keliling rata - rata (vm).
Vm

V1 V 2
2

14.65 43.96
2

= 58.6 m/s
Harga perpindahan panas () tergantung pada kecepatan rata-rata (Vm), dengan
demikian didapat harga () dengan cara interpolasi.
Tabel 5.1. Harga perpindahan panas dengan faktor perpindahan panas

Interpolasi untuk kecepatan rata-rata dan faktor perpindahan panas :


Vm

50

125

Yoghi Andre Ovane

68

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

60

138
125
125 138

50 58.61
=
50 60

125
13

- 0.861

125-

= -0.861 (-13)

125-

= -11.1193

= -11.193 125

= -136.193

= -11.193 125

= 136.193 kkal/m2

Maka :
t

km

= Ag x

Dimana :
t

= kenaikan temperatur

Km

= kalor masuk (417.12 kkal/h)

Ag

= luas bidang gesek

= faktor perpindahan panas (136.193 kkal/m2h0C)

Ag

Maka :

=
=

(d2)2 - (d1)2
(10.5)2 - (12.25)2
(982)

= 76.93 cm
= 0.769 m2
Sehingga :
t

417.12

= 0.769 x 136.139 .
= 3.98 0C

Yoghi Andre Ovane

69

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Untuk menentukan jenis pelumasan yang digunakan dapat diperoleh dengan


menghitung spesifikasi grafit minyak pelumas dengan menggunakan persamaan :
Pt

= Go 0.00035 (tk-G0) (gr/cm3)

Dimana :
Pt

= spesifikasi minyak pelumas

G0

= spesifikasi minyak pelumas pada suhu 0C (0.85 0.890)


= 0.890 diambil

Maka :
Pt

= 0.890 0.00035 (33.98 0.890)


= 29.33 gr/cm3

Harga viskositas absolut minyak pelumas :


v

= Z x 10-3 (Cp)

dimana :
Z

= university viscosity

= Pt 0.22 x Tk x

180
Tk

= 29.33 0.22 x 33.98 x

180
Tk

= 1161.468 Cp
Maka :
V

= 1161.468 Cp x 10-3
= 11.61 Cp

Jadi viskositas absolut minyak pelumas dan temperatur pada roda gigi adalah :
v = = 11.61 Cp
Tk

= 33.98 0C

Yoghi Andre Ovane

70

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Tabel 5.2. Grafik Viskositas Suhu dalam Satuan si.

Yoghi Andre Ovane

71

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Dari hasil perhitungan diatas didapat SAE yang pantas untuk digunakna adalah
SAE 30 dimana viskositas absolut pelumas (v) = 11.61 Cp dan temperatur kerja (Tk) =
33.980C

BAB VIII
KESIMPULAN DAN SARAN

Yoghi Andre Ovane

72

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

8.1. Kesimpulan
Dari hasil analisa yang didapat pada perencanaan roda gigi lurus untuk kendaraan
sepeda motor Honda Revo jenis bebek 4 tak ini,maka dapat disimpulkan ukuran-ukuran
utama dan bahan yang digunakan yaitu:

Jenis Kendaraan

: YAMAHA JUPITER MX

Daya ( P )

: 11,33 PS

Putan ( n )

: 8500 rpm

Transmissi

: 4 Kecepatan Rotary.

Pola Pengoperasian

:N1234N

1. Poros

Bahan poros

Momen torsi/rencana

: 1333,80 kg.mm.

Diameter poros ( ds )

: 16 mm.

Tegangan gezer izin ( a )

Tegangan geser yang terjadi ( g ) : 2,01 kg/mm.

Kekuatan tarik ( b )

2.

: S 45 C.

: 8,888 kg/mm.

: 81 kg/mm.

Spline
Bahan spline

: S 45 C.

Lebar spline ( b )

: 1,05 mm.

Panjang spline ( 1 )

: 9 mm.

Diameter minimum (da )

:11,2 mm.

Lebar alur ( w )

: 8,96 mm.

Tinggi alur ( h )

: 1 mm.

Jari jari rata rata

: 5 mm.

Gaya gesek izin ( a )

: 5,166 kg/mm,

Gaya geser yang terjadi ( k )

: 2,735 kg/mm.

Gaya tangensial ( F )

Yoghi Andre Ovane

: 166,72 kg.

73

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Kekuatan tarik ( b )

: 62 kg/mm.

3. Roda Gigi
a. Roda Gigi Kecepatan I.

Pinion 2.
: 14 buah

Jumlah gigi ( z)

Diameter lingkaran bagi (do)

: 35 mm.

Diameter lingkaran kepela (dk)

: 40 mm.

Diameter lingkaran dasar (dg)

: 32,88 mm.

Jarak bagi (to)

:7,85 mm.

Jarak bagi normal (te)

: 7,37 mm.

Lebar gigi (b)

: 22,5 mm.

Tebal kaki gigi (ip)

: 5,625 mm.

Tebal gigi (h)

: 5,625 mm.

Kecepan keliing (V)

: 15,56 m/s.

Gaya tangensial (Ft)

: 76,30 kg.

Tegangan lentur yang terjadi (b) : 4,65 kg/mm.


Tegangan geser izin (a)

: 5,16 kg/mm.

Tegangan geser yang terjadi (g) : 0,1586 kg/mm


Gear 15.
Jumlah gigi (z)

: 42 buah.

Diameter lingkaran bagi (do)

: 105 mm.

Diameter lingkaran kepala (dk)

: 110 mm.

Diameter lingkaran dasar (dg)

: 98,66 mm.

Jarak bagi (to)

: 7,85 mm.

Jarak bagi normal (te)

: 7,37 mm.

Lebar gigi (b)

: 20 mm.

Tebal kaki gigi (ip)

: 5,625 mm.

Yoghi Andre Ovane

74

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Tebal gigi (h)

: 5,625 mm.

Kecepan keliling (V)

: 46,70 m/s.

Gaya tangensial (Ft)

: 25,42 kg.

Tegangan lentur yang terjadi (b) : 1,355 kg/mm.


Tegangan geser izin (a)

: 5,166 kg/mm.

Tegangan geser yang terjadi (g)

: 0,0647 kg/mm.

b. Roda Gigi Kecepatan II.


Pinion 3.
Jumlah gigi (z)

: 18 buaah.

Diameter lingkaran bagi (do)

: 45 mm.

Diameter lingkaran kepalaa (dk) : 50 mm.


Diameter lingkaran dasar (dg)

: 42,28 mm.

Jarak bagi (to)

: 7,85 mm.

Jarak bbagi normal (te)

: 7,37 mm.

Ebar gigi (b)

: 20 mm.

Tebal kaki gigi (ip)

: 5,625 mm.

Tebal gigi (h)

: 5,625 mm.

Kecepatan keliling (V)

: 20,01 m/s

Gaya tangensial (Ft)

: 63,01 kg

Tegangan lentur yang terjadi (b) : 3,36 kg/mm.


Tegfangan geser izin (a)

: 5,16 k/mm.

Teganan geser yang terjadi (g)

: 0,15 kg/mm.

Gear 13
Jumlah gigi (z)

: 38 buah.

Diameter lingkaran bagi (do)

: 95 mm.

Diameter lingkaran kepala (dk)

: 100 mm.

Diameter lingkaran dasar (dg)

: 89,27 mm.

Yoghi Andre Ovane

75

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Jarak bagi (to)

: 7,85 mm.

Jarak bagi norml (te)

: 7,37 mm.

Lebar gigi (b)

: 20 mm.

Tebal kaki gigin (ip)

: 5,625 mm.

Tebal gigi (b)

: 5,625 mm.

Kecepatan keliling (V)

: 42,25 m/s.

Gaya tangensial (Ft)

: 28,10 kg.

Tegangan lentur yang terjadi (b) : 1,49 kg/mm.


Tegangan geser izin (a)

: 4,33 kg/mm.

Tegangan geser yang terjadi (g) : 0,071 kg/mm.


c. Roda Gigi Kecepatan III
Pinion 4
Jumlah gigi (z)

: 22 buah.

Diameter lingkaran bagi (do)

: 55 mm.

Diameter lingkaran kepala (dk)

: 60 mm.

Diameter lingkaran dasar (dg)

: 51,68 mm.

Jarak bagi (to)

: 7,85 mm.

Jarak bagi normal

: 7,37 mm.

Lebar gigi (b)

: 20 mm.

Tebal kaki gigi (ip)

: 5,625 mm.

Tebal gigi (h)

: 5,625 mm.

Kecepatan keliling (V)

: 24,46 m/s.

Gaya tangensial

: 48,18 kg.

Tegangan lentur yang terjadi(b) : 1,89 kg/mm.


Tegangan geser izin (g)

Yoghi Andre Ovane

76

: 4,33 kg/mm.

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Tegangan geser yang terjadi (g) : 0,12 kg/mm.

Gear 12.
Jumlah gigi (z)

: 34 buah.

Diameter lingkaran bagi (do)

: 85 mm.

Diameter lingkaran kepala (dk)

: 90 mm.

Diameter lingkaran dasar (dg)

: 79,87 mm.

Jarak bagi (to)

: 7,85 mm.

Jarak bagi normal (te)

: 7,37 mm.

Lebar gigi (b)

: 20 mm.

Tebal kaki gigi (ip)

: 5,625 mm.

Tebal gigi (h)

:5,625 mm.

Kecepatan keliling (V)

: 42,25 m/s.

Gaya tangensial (Ft)

: 28,10 kg.

Tegangan lentur yang terjaadi(b)


Tegangan geser izin

: 1,22 kg/mm.
: 4,33 kg/mm.

Tegangan geser yang terjadi (g) :0,071 kg/mm.


d. Roda Gigi Kecepatan IV
Pinion 5
Jumlah gigi (z)

: 25 buah.

Diameter lingkaran bagi (do)

: 65 mm.

Diameter lingkaran kepala (dk)

: 70 mm.

Diameter lingkaran dasar (dg)

: 61,08 mm.

Yoghi Andre Ovane

77

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Jarak bagi (to)

: 7,85 mm.

Jarak bagi normal (te)

: 7,37 mm.

Lebar gigi (b)

: 20 mm.

Tebal kaki gigi (ip)

: 5,625 mm.

Tebal gigi (h)

: 5,625 mm.

Kecepatan keliling

: 28,91 m/s.

Gaya tangensial (Ft)

: 41,6 kg.

Tegangan lentur yang terjadi(b) : 0,12 kg/mm2.


: 4,33 kg/mm2.

Tegangan geser izin (a)

Tegangan geser yang terjadi (g) : 0,104 kg/mm2.


Gear 11.
Jumlah gigi (z)

: 30 buah.

Diameter lingkaran bagi (do)

: 75mm.

Diameter lingkaran kepala (dk)

: 80 mm.

Diameter lingkaran dasar (dg)

: 70,47 mm.

Jarak bagi (to)

: 7,85 mm.

Jarak bagi normal (te)

: 7,37 mm.

Lebar gigi (b)

: 20 mm.

Tebal kaki gigi (ip)

: 5,625 mm.

Tebal gigi (h)

: 5,625 mm.

Kecepatan keliling (V)


Gaya tangensial (FT)

: 33,6 m/s.
: 35,58 kg.

Tegangan lentur yang terjadi (b)

Yoghi Andre Ovane

78

: 0,106 kg/mm.

11202225

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

Tegangan geser izin (a)

: 4,33 kg/mm.

Tegangan geser yang terjadi (g) : 0,090 kg/mm.


4. Bantalan
Jenis bantalan

: bantalan bola

Gaya radial bantalan (Fr)

: 130,51 kg.

Beban ekivalen dinamis (Pr)

: 87,802 kg.

Beban nominal spesifik (C)

: 342,432 kg.

Factor pemakaian (fh)

: 2,46 kg.

Factor putaran (fn)

: 0,63.

Spesifikasi bantalan
Nomor bantalan

: 6003

Diameter luar bantalan

: 35 mm.

Diameter dalam bantalan

: 17 mm.

Lebar bantalan

: 10 mm.

Radius tepi bantalan

: 0,5 mm.

5. Pelumasan
Kalor masuk (km)

: 417,12 kkl/h.

Kecepatan keliling (Vm)

: 58,61 m/s.

Koefisien perpindahan panas ()

: 136,193 kkal/m2h0C.

Kenaikan temperature (t)

: 3,980 C

Temperature kerja (Tk)

: 29,33 gr/cm3.

Viskositas absoulud minyak pelumas (v) : 11,61 Cp.

Yoghi Andre Ovane

79

11202225

Jenis pelumas yang digunakan

TUGAS RANCANGAN RODA GIGI

: SAE 30.

8.2 Saran
Adapun yang dapat penulis sampaikan pada kesempatan ini yaitu
penulis menyarankan agr dalam penulisan perancangan roda gigi ini
didukung dengan pengujian dan pengenalan dalam komponen
komponen didalam laboraturium, sehingga hasil yang diperoleh lebih
baik dan lebih akurat. Dengan demikian penuulis akan lebih
memahami karya tulis yang telah dibuat.
DAFTAR PUSTAKA
1. Sularso,Kiyokatsu Suga, Dasar dasar Perencanaan Dan
Pemilihan Elemen Mesin, Penerbit Pradia Pramita,Jakarta 1985.
2. Josep E. Sigley,Larry D Gandi Harahap,Perencanaan Teknik
Mesin,Jilid II, Edisi 4,Jakarta 1994.
3. Unar Sukrisno,Perencanaan Elemen Mesin,Edisi 2, Jakarta 1986
4. Ir. Jack Stolk, Ir. C. Kross,Elemen mesin, Elemen Konstruksi
Bangunan Mesin, Penerbit Erlangga, Edisi 21, Jakarta 1986.

Yoghi Andre Ovane

80

11202225