Anda di halaman 1dari 27

PROPOSAL

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN


KETUBAN PECAH DINI (KPD) DI RSUD
Dr. M. YUNUS BENGKULU

OLEH :

SANTI SAPITRI
NPM 1226030113

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
TRI MANDIRI SAKTI
BENGKULU
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indikator keberhasilan pembangunan kesehatan khususnya pelayanan
kebidanan dalam suatu negara atau daerah adalah dengan melihat angka
kematian ibu atau maternal mortality rate. Program prioritas yang dilakukan
oleh pemerintah dalam menunjang pembangunan kesehatan selama 5 tahun
kedepan (2010-2015). Seperti diera gloalisasi dunia, insiden Angka Kematian
Ibu (AKI) masih cukup tinggi dikutip dari penelitian World Health
Organization (WHO) tahun 2010 yaitu sebesar 10.000.000 jiwa pertahun.
Sehingga menjadi perhatian khusus bagi negara-negara di dunia untuk
melakukan upaya penurunan mortalitas morbilitas Angka Kematian Ibu (AKI)
(Depkes RI,2010).
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia pada tahun 2010 tercatat
sebanyak 240 per 100.000 kelahiran hidup, pada tahun 2011 tercatat 380 per
100.000 kelahiran hidup. Sedangkan pada tahun 2012 tercatat per 100.000
kelahiran hidup. Dibandingkan dengan Philipina 170 per 10.000 kelahiran
hidup, Vietnam 160 per 100.000 kelahiran hidup , Malaysia 39 per 100.000
kelahiran hidup dan Singapura yang hanya 6 per 100.000 kelahiran hidup
(SDKI,2010).
Angka Kematian Ibu (AKI) di propinsi Bengkulu pada tahun 2010 tercatat
sebanyak 115,2 per 100.000 kelahiran hidup, pada tahun 2011 tercatat
sebanyak 127 per 100.000 kelahiran hidup, pada tahun 2012 tercatat sebanyak

136 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan pada tahun 2013 sebesar 139 per
100.000 kelahiran hidup, peningkatan ini bukan hanya terjadi di propinsi
Bengkulu melainkan diseluruh wilayah Indonesia hal ini disebakan dengan
adanya program Jaminan Pemeliharaan Persalinan dimana semua persalinan
dapat terdata di fasilitas kesehatan yang ada.
Berdasarkan data yang diperoleh dari rekam medik rumah sakit M. Yunus
Bengkulu pada tahun 2012 dari 1865 ibu bersalin terdapat 464 orang ibu
dengan KPD, sedangkan pada tahun 2013 terdapat sebanyak 439 orang ibu
yang mengalami KPD, dan pada tahun 2014 terdapat sebanyak 210 orang ibu
yang mengalami KPD, ini lebih tinggi dibanding dengan rumah sakit
Bhayangkara Bengkulu yang hanya terdapat 26 orang yang mengalami KPD
pada tahun 2014.
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum waktunya
melahirkan atau sebelum inpartu. pada pembukaan < 4 cm (fase laten).hal ini
dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya
melahirkan. KPD preterm adalah KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu.
KPD yang memanjang adalah KPD yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum
waktunya melahirkan ( Taupan Nugroho,2012).
Faktor faktor yang berhubungan dengan KPD yang akan diteliti disini
adalah umur ibu, paritas dan kehamilan ganda. Faktor umur mempunyai
pengaruh sangat erat dengan perkembangan alat-alat reproduksi wanita,
dimana reproduksi sehat merupakan usia yang paling aman bagi seorang
wanita untuk hamil dan melahirkan. Umur yang terlalu muda (< 20 tahun )

atau terlalu tua ( > 35 tahun ) mempunyai resiko yang lebih besar untuk
melahirkan bayi yang kurang sehat. ( Wiknjosastro H, 2006 ).
Paritas adalah jumlah kehamilan yang diakhiri dengan kelahiran janin
yang memenuhi syarat untuk melangsungkan kehidupan atau pada usia
kehamilan lebih dari 28 minggu dan berat badan janin mencapai lebih dari
1000 gram. Frekuensi melahirkan yang sering dialami oleh ibu merupakan
suatu keadaan yang dapat mengakibatkan endometrium menjadi cacat dan
sebagai akibatnya dapat terjadi komplikasi dalam kehamilan. ( varney,2010).
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui lebih jauh lagi tentang
faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Ketuban Pecah Dini di
RSUD Dr.M.Yunus Bengkulu.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka rumusan masalahnya adalah
apakah ada faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian KPD di ruang
kebidanan RS Dr.M.Yunus Bengkulu ?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1

Tujuan Umum
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mempelajari faktorfaktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian KPD di RS
Dr.M.Yunus Bengkulu.

1.3.2

Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :
1) Gambaran gameli pada ibu hamil yang melahirkan dengan KPD di
RS Dr.M.Yunus Bengkulu.
2) Gambaran umur pada ibu hamil yang melahirkan dengan KPD di
RS Dr.M.Yunus Bengkulu.
3) Gambaran paritas pada ibu hamil yang melahirkan dengan KPD di
RS Dr.M.Yunus Bengkulu.
4) Gambaran KPD di RS Dr.M.Yunus Bengkulu.
5) Hubungan Gameli dengan KPD di RS Dr.M.Yunus Bengkulu.
6) Hubungan umur dengan KPD di RS Dr.M.Yunus Bengkulu.
7) Hubungan paritas dengan KPD di RS Dr.M.Yunus Bengkulu.

1.4 Manfaat penelitian


1.4.1

Bagi Akademik
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah bahan
kepustakaan dan pengetahuan bagi mahasiswi Jurusan Kebidanan
STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu.

1.4.2

Bagi RS Dr.M.Yunus Bengkulu


Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi dan masukan
bagi pihak rumah sakit terutama bagi tenaga kesehatan yang
memberikan asuhan secara langsung pada ibu serta pasien kebidanan
terutama yang berhubungan dengan KPD, Gameli, Paritas dan umur
ibu.

1.4.3

Bagi Peneliti
Sebagai penerapan ilmu yang telah di peroleh dibangku
perkuliahan dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam
merenanankan dan melaksanakan penelitian.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Ketuban Pecah Dini


1. Pengertian
Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya ketuban sebelum
waktunya melahirkan/sebelum inpartu, pada pembukaan < 4 cm (fase
laten). Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum
waktunya melahirkan. KPD preterm adalah KPD sebelum usia kehamilan
37 minggu. KPD yang memanjang adalah KPD yang terjadi lebih dari 12
jam sebelum waktunya melahirkan. (Taupan Nugroho,2012).
Ketuban pecah dini (KPD) adalah keadaan pecahnya selaput
ketuban sebelum persalinan. (Sarwono Prawihardjo,2008). Ketuban pecah
dini adalah pecahnya ketuban sebelum in partu, yaitu bila pembukaan
primi kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm. (Sarwono
prawirohardjo,2008). Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban
sebelum terdapat tanda-tanda persalinan dan ditunggu satu jam sebelum
dimulainya tanda-tanda persalinan (Manuaba,2010).
Ketuban pecah dini bisa menyebabkan persalinan berlangsung
lebih lama dari keadaan normal , dapat menyebabkan infeksi adalah
bahaya yang seris yang mengancam ibu dan anak. Ketuban pecah dini
pada umur kehamilan lebih dini biasanya disertai dengan periode laten

lebih panjang, pada kehamilan aterm periode laten 24 jam pada 90%
pasien (Sarwono prawihardjo,2008).
Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan masalah penting dalam
obstetri berkaitan dengan penyulit kelahiran prematur dan terjadinya
infeksi korioamnionitis sampai sepsis yang meningkatkan mordibitas dan
mortalitas perinatal dan menyebabkan kematian infeksi ibu. Penanganan
ketuban pecah dini memerlukan pertimbangan usia gestasi, adanya infeksi
pada komplikasi ibu dan janin, dan adanya tanda-tanda persalinan
(Pudiastuti,2012).
2. Etiologi
Etiologi ketuban pecah dini (KPD) masih belum diketahui dan tidak
dapat ditentukan secara pasti. Beberapa laporan menyebutkan faktor
faktor yang berhubungan dengan KPD , namun faktor mana yang lebih
berperan sulit diketahui. Kemungkinan yang menjadi faktor predisposisi
adalah :
a. Faktor infeksi
Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban asenderen
dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan
terjadinya KPD.
b. Serviks yang inkompetensia, kanalis servikalis yang selalu terluka oleh
karena kelainan pada servik uteri ( akibat persalinan,curetage)
c. Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan (
overdistensi uterus ) misalnya trauma, hidramnion, gameli.

d. Kelainan letak
Kelainan letak misalnya sungsang / letak lintang, menyebabkan tidak
ada bagian terendah yang menutupi pintu atas panggul ( PAP ) yang
dapat menghalangi tekanan terhadap membran bagian bawah.
e. Keadaan sosial ekonomi
1) Faktor golongan darah
Golongan darah

ibu dan anak yang tidak sesuai dapat

menimbulkan kelemahan bawaan termasuk kelemahan jaringan


kulit ketuban.
2) Faktor multi graviditas, merokok, perdarahan antepartum
3) Faktor disproporsi antara kepala janin dan panggul janin.
4) Defisiensi gizi dari tembaga atau asam askorat ( vitamin C ).
3. Patofisiologi
Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini dapat berlangsung
sebagai berikut (Ida Gde Manuaba,2010) : selaput ketuban tidak kuat
sebagai akibat kurangnya jaringan ikat san vaskularisasi, bila terjadi
pembukaan serviks maka selaput ketuban sangat lemah dan mudah pecah
dengan mengeluarkan air ketuban.
Ketuban pecah dini berhubungan dengan kelemahan menyeluruh
membran fetal akiat kontraksi uteri dan peregangan berulang. Membran
yang mengalami rupture premature ini tampak memiliki defekfokal
dinding kelemahan menyeluruh. Daerah dekat pecahnya membran ini
disebut Restricted zone of etreme altere morphology yang ditandai

dengan adanya pembengkakan dan kerusakan jaringan kolagen fibrilar


pada lapisan kompakta, firoblast maupun spongiosa. Daerah ini akan
muncul sebelum ketuban pecah dini dan merupakan daerah reakpoint
awal. Patogenesis terjadinya ketuban pecah dini secara singkat adalah
akibat adanya penurunan kandungan kolagen dalam membran sehingga
memicu terjadinya ketuban pecah dini dan ketuban pecah dini preterm
terutama pada pasien resiko tinggi ( Cunningham,2005 ).
Ketuban pecah dini disebabkan kuman dari vagina masuk kedalam
rongga amniom sehingga terjadi infeksi intra uterin, yang dapat
mengakibatkan korioamnionitis , metritis setelah melahirkan (Mercer
etal,2007).
4. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala ketuban pecah dini (KPD) menurut Taufan Nugroho
(2012) adalah sebagai berikut :
a. Tanda yang terjadi adalah keluarnya airan ketuban merembes melalui
vagina.
b. Aroma air ketuban berbau amis dan tidak seperti bau amoniak,
mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri
pucat dan bergaris warna darah.
c. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi
sampai kelahiran. Tetapi bila anda duduk dan berdiri, kepala janin
yang

sudah

terletak

dibawah

biasanya

menyumbat kebocoran untuk sementara.

mengganjal

atau

10

d. Demam, bercak vagina yang banyak , nyeri denyut jantung janin


bertambah cepat merupakan tanda tanda infeksi yang terjadi.
5. Diagnosis
Menegakkan diagnosa KPD secara tepat sangat penting karena diagnosa
yang positif palsu berarti melakukan intervensi seperti melahirkan bayi
terlalu awal atau melakukan seksiosesaria yang sebetulnya tidak ada
indikasinya, sebaliknya diagnosa yang negatif palsu berarti akan
membiarkan ibu dan janin mempunyai resiko infeksi yang akan
mengancam kehidupan janin, ibu atau keduanya. Oleh karena itu
diperlukan diagnosa yang cepat dan tepat (Nugroho,2010). Diagnosa KPD
ditegakkan dengan cara :
a. Anamnesa
Penderita merasa asah pada vagina atau mengeluarkan airan yang
banyak secara tiba-tiba dari jalan lahir. Cairan berbau khas dan perlu
juga diperhatikan warna keluarnya cairan tersebut, his belum teratur
atau belum ada, dan belum ada pengeluaran lendir darah.
b. Inspeksi
Pengamatan dengan mata biasa, akan tampak keluarnya cairan dari
vagina, bila ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban masih banyak,
pemeriksaan ini akan lebih jelas.
c. Pemeriksaan dengan spekulum
Pemeriksaan dengan spekulum pada KPD akan tampak keluar cairan
dari ostium uteri eksternum (OUE), kalau belum juga tampak keluar,

11

fundus uteri ditekan, penderita diminta batuk , mengejan atau


mengadakan maneuver valsava atau bagian terendah digoyangkan,
akan tampak keluar cairan dari ostium uteri dan terkumpul pada fornik
anterior.
d. Pemeriksaan dalam
Didalam vagina didapati cairan dan selaput ketuban sudah tidak ada
lagi. Mengenai pemeriksaan dalam vagina dengan touher perlu
dipertimbangkan, pada kehamilan yang kurang bulan yang belum ada
persalinan tidak perlu diadakan pemeriksaan dalam, karena pada waktu
pemeriksaan dalam jari pemeriksa akan mengakumulasi segmen bawah
rahim dengan flora vagina yang normal. Mikroorganisme tersebut
biasanya dengan cepat menjadi pathogen. Pemeriksaan dalam vagina
hanya dilakukan kalau KPD yang sudah dalam persalinan atau yang
dilakukan

induksi

persalinan

dan

diatasi

sedikit

mungkin

(Nugroho,2010).
e. Pemeriksaan penunjang
1) Pemeriksaan laboratorium
a) Cairan yang keluar dari vagina perlu di periksa : warna,
konsentrasi, bau dan PH-nya.
b) Cairan yang keluar dari Vagina ini ada kemungkinan air
ketuban, urine atau sekret vagina.
c) Sekret vagina ibu hamil PH : 4-5, dengan kertas nitrazin tidak
berubah warna, tetap kuning.

12

d) Tes lakmus (tes nitrazin), jika kertas lakmus merah berubah


menjadi biru menunjukan adanya air ketuban (alkalis). pH air
ketuban 7-7,5. Darah dan infeksi vagina dapat menghasilkan
tes yang positif palsu.
e) Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban pada
gelas

objek

dan

dibiarkan.

Pemeriksaan

mikroskopik

menunjukan gambaran daun pakis.


2) Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
a) Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan
ketuban dalam vakum uteri.
b) Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit.
Namun

sering

terjadi

kesalahan

pada

penderita

oligohidramnion.
6. Komplikasi
Komplikasi yang paling sering terjadi pada KPD sebelum usia
kehamilan 37 minggu adalah sindrom distress pernafasan, yang terjadi
pada 10-40 % bayi baru lahir. Resiko infeksi meningkat pada kejadian
KPD, semua ibu hamil dengan KPD prematur sebaiknya dievaluasi untuk
kemungkinan terjadinya korioamnionitis (radang pada korion dan
amnion), selain itu kejadian prolaps atau keluarnya tali pusat dapat terjadi
pada KPD.
Resiko kecacatan dan kematian janin meningkat pada KPD preterm,
hipoplasia paru merupakan komplikasi fatal yang terjadi pada KPD

13

preterm. Kejadian hampir mencapai hampir 100% apabila KPD preterm


ini terjadi pada usia kehamilan kurang dari 23 minggu.
1) Infeksi intrauterine
2) Tali pusat menumbung
3) Prematuritas
7. Penanganan
Beberapa langkah penanganan ketuban pecah dini menurut (Taufan
Nugroho,2012) adalah sebagai menurut :
a. Konservatif
1) Rawat di rumah sakit
2) Beri antibiotika
Bila ketuban pecah > 6 jam berupa : ampisilin 4 x 500 mg atau
gentamyin 1 x 80 mg.
3) Umur kehamilan < 32-34 minggu : dirawat selama air ketuban
masih keluar atau sampai air ketuban tidak keluar lagi.
4) Bila usia kehamilan 32-37 minggu, belum inpartu , tidak ada
infeksi , tes busa negatif : beri deksametason, observasi tanda
tanda infeksi dan kesejahteraan janin. Terminasi pada kehamilan
37 minggu.
5) Jika usia kehamilan 32-37 minggu, sudah inpartu , tidak ada
infeksi, berikan tokolitik (salbutamol), deksametason,dan induksi
sesudah 24 jam.

14

6) Jika usia kehamilan 32-37 minggu ada infeksi , beri antibiotika dan
lakukan induksi.
7) Nilai

tanda-tanda

infeksi

(suhu,lekosit,tanda-tanda

infeksi

intrauterin).
b. Aktif

Kehamilan > 37 minggu, induksi dengan oksitosin, bila gagal


seksio sesarea. Dapat pula diberikan misoprostol 50 g
intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali.

Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis tinggi,dan


persalinan diakhiri: a. bila skor pelvik < 5, lakukan pematangan
serviks, kemudian induksi. Jika tidak berhasil, akhiri persalinan
dengan seksio sesarea; b. bila skor pelvik > 5, induksi persalinan,
partus perpaginam.

Tabel 1 : Penatalaksanaan Ketuban Pecah Dini


KETUBAN PECAH
37 minggu

< 37 minggu
Infeksi

Tidak ada infeksi

Berikan penisilin, Amoksisilin


gentamisin

infeksi

+ Berikan penisilin, Lahirkan bayi

dan eritromisin untuk gentamisin

metronidazol

7 hari

Lahirkan bayi

Steroid

Tidak ada infeksi

metronidazol
untuk Lahirkan bayi

pematangan paru

dan Berikan penisilin


atau ampisilin

15

ANTIBIOTIKA SETELAH PERSALINAN


Profilaksis
Stop antiiotik

infeksi
Lanjutkan
24

setelah

Tidak ada infeksi


untuk Tidak perlu antibiotik

48

jam
bebas

panas

2.2 Faktor faktor yang diteliti yang berhubungan dengan Ketuban Pecah
Dini ( KPD )
1. Kehamilan Ganda (Gamelli)
a. Pengertian
Kehamilan ganda ialah kehamilan dengan 2 janin atau lebih.
Kehamilan ganda termasuk dalam kehamilan resiko tinggi terhadap ibu
dan janin karena kematian prinatal 3-5 kali lebih tinggi dari kehamilan
tunggal (Achmad, 2012).
b. Jenis jenis kehamilan kembar
Jenis jenis kehamilan kembar ada beberapa jenis :
1) Kehamilan kembar monozigotik
Merupakan kehamilan kembar yang berasal dari satu ovum
sehingga disebut juga hamil kembar identik atau hamil kembar
homolog hamil kembar uniovuler. Karena berasal dari satu ovum,
hamil kembar ini mempunyai ciri sebagai berikut :jenis kelamin
sama, wajah sama, bisa juga terjadi kembar siam (Manuaba,2010).

16

2) Kehamilan kembar Dizigotik


Memiliki ciri sebagai berikut : jenis kelamin dapat sama atau
berbeda dan mempunyai 2 plasenta, 2 amnion, 2 korion.
c. Diagnosis hamil kembar
Untuk dapat menegakkan diagnosa kemungkinan kehamilan
kembar haruslah diperhatikan keadaan sebagai berikut :
1) Besarnya ukuran perut melebihi umur kehamilan
2) Besarnya rahim bertambah lebih cepat dari biasanya
3) Bertambahnya berat badan ibu hamil lebih besar
4) Dapat diraba banyak bagian kecil janin
5) Dapat diraba tiga bagian besar janin dan teraba dua balotemen
6) Sering disertai hamil dengan hidramnion
d. Penanganan persalinan Hamil kembar
Pertolongan persalinan hamil kembar dapat dilakukan operasi
persalinan primer apabila berhadapan dengan : hamil kembar dengan
primi lintang, prolapsus funikuli, plasenta previa, dua bagian janin
masuk bersamaan pada pintu atas panggul (Manuaba,2012).
e. Hubungan gameli dengan ketuban Pecah Dini
Gameli

atau

kehamilan

lebih

dari

satu

janin

dapat

menyebabkan terjadinya peregangan yang berlebihan pada selaput


ketuban yang biasanya terisi oleh satu janin namun pada keadaan
gamelli terisi oleh dua atau lebih dari satu janin sehingga memberikan
tekanan, dan berat yang lebih pada selaput ketuban, sehingga mudah

17

menyebabkan terjadinya selaput ketuban robek, dan air ketuban keluar


atau merembes sebelum terjadi masa persalinan (Mohtar,2005).
2. Umur
a. Pengertian
Umur ibu saat melahirkan yang dinyatakan dalam tahun
kalender, umur bertambah sejalan dengan perkembangan biologis
organ organ tubuh manusia yang pada usia tertentu mengalami
perubahan. Umur ibu pada saat hamil merupakan salah satu faktor
yang menentukan tingkat resiko kehamilan dan persalinan. Umur yang
di anggap berisiko adalah umur dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun.
Faktor yang mempunyai pengaruh sangat erat dengan perkembangan
alat-alat reproduksi wanita dimana reproduksi sehat merupakan usia
yang paling aman bagi seorang wanita untuk hamil dan melahirkan
yaitu 20-35 tahun, dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia
aman untuk kehamilan dan melahirkan adalah 20-30 tahun
(Wiknjosastro,2008). Sedangkan umur ibu pada saat melahirkan
dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun erisiko untuk melahirkan anak
yang tidak sehat. Umur dibawah 20 tahun alat alat reproduksinya
belum begitu sempurna untuk menerima keadaan janin, sementara
umur yang lebih dari 35 tahun da sering melahirkan, fungsi alat
reproduksinya telah mengalami kemunduran (Wiknjosastro,2006).

18

b. Hubungan umur dengan kejadian ketuban pecah dini


Usia ibu hamil terlalu muda (< 20 tahun ) dan terlalu tua ( > 35
tahun ) mempunyai resiko yang lebih besar untuk melahirkan bayi
kurang sehat. Hal ini dikarenakan pada umur dibawah 20 tahun, dari
segi biologis fungsi reproduksi seorang wanita belum berkembang
dengan sempurna untuk menerima keadaan janin dan segi psikis belum
matang dalam menghadapi tuntunan beban moril, mental dan
emosional, sedangkan pada umur diatas 35 tahun dan sering
melahirkan, fungsi reproduksi seorang wanita sudah mengalami
kemunduran atau degenerasi dibandingkan fungsi reproduksi normal
sehingga kemungkinan untuk terjadinya komplikasi pasca persalinan
terutama Ketuban Pecah Dini.
3. Paritas
a. Pengertian
Paritas adalah jumlah kehamilan yang diakhiri dengan
kelahiran janin yang memenuhi syarat untuk melangsungkan
kehidupan atau pada usia kehamilan lebih dari 28 minggu dan berat
badan janin mencapai lebih dari 1000 gram. Frekuensi melahirkan
yang sering dialami oleh ibu merupakan suatu keadaan yang dapat
mengakibatkan endometrium menjadi cacat dan sebagai akibatnya
dapat terjadi komplikasi dalam kehamilan (Varney,2008).

19

b. Pengelompokan Paritas
1) Primipara (paritas1) yaitu wanita yang telah melahirkan seorang
anak, ukup besar untuk hidup didunia luar ( matur atau prematur).
2) Multipara (Paritas 2-3) adalah wanita yang telah melahirkan tiga
orang anak yang cukup besar untuk hidup didunia luar (Matur atau
Prematur).
3) Grandemultipara ( Paritas 5) adalah wanita yang telah
melahirkan tiga orang anak atau lebih yang cukup besar untuk
hidup didunia luar (matur atau prematur).
c. Hubungan paritas dengan kejadian Ketuban Pecah Dini
Penyebab KPD belum diketahui secara pasti, namun menurut
Sarwono Prawirohardjo kemungkinan yang menjadi faktor predisposisi
adalah faktor multigraviditas/paritas. (Prawirohardjo, 2010 ).

20

2.3 Kerangka Konseptual


Variabel independen

Variabel Dependen

Gamelli
Ketuban Pecah
Umur

Dini (KPD)

Paritas

Bagan 2. Kerangka Konseptual


Keterangan :

diteliti

2.4 Definisi Operasional


Membatasi ruang lingkup atau pengertian dari variabel yang diamati
maka diberi batasan atau definisi operasional. Definisi operasionan bermanfaat
untuk mengarahkan pengukuran atau pengamatan terhadap variabel yang
diteliti serta pengembangan instrument. Definisi operasionan untuk penelitian
ini mencakup variabel independen (Gamelli, Umur dan Paritas) dan variabel
dependen ( KPD ), dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

21

Tabel 2 : Definisi Operasional


No

Variabel

Definisi Operasional

Cara ukur

Alat

Hasil ukur

ukur
1

Gameli

Kehamilan dimana

Melihat

terdapat dua janin atau diagnosis yang


lebih embrio atau

telah ditegakkan

janin sekaligus sesuai

oleh dokter pada

yang tercatat dalam

medial Record

Skala
ukur

Check

0 (Ya)

list

1 ( Tidak )

Nominal

kartu status ibu


bersalin.
2

Umur

Umur terakhir yang

Melihat

Check

0 (Ya)

dicapai oleh seorang

diagnosis yang

list

1 ( Tidak )

ibu sampai saat

telah ditegakkan

bersalin .

oleh dokter pada

Nominal

medial Record
3

paritas

KPD

Frekuensi kehailan

Melihat

Check

0 (Ya)

dan persalinan yang

diagnosis yang

list

1 ( Tidak )

pernah dialami oleh

telah ditegakkan

ibu , yang tercatat

oleh dokter pada

dalam kartu.

medial Record

pecahnya selaput

Melihat

Check

0 (Ya)

ketuban secara

diagnosis yang

list

1 ( Tidak )

spontan pada saat

telah ditegakkan

belum inpartu, bila

oleh dokter pada

diikuti satu jam

medial Record

kemudian tidak timbul


tanda-tanda awal
persalinan sesuai yang
tercatat dalam kartu
status ibu.

Nominal

Nominal

22

2.5 Hipotesis
H01

: Tidak ada hubungan gamelli dengan KPD di ruang CI kebidanan


RSUD Dr.M.Yunus Bengkulu.

Ha1

: Ada hubungan gamelli dengan KPD di ruang CI kebidanan


RSUD Dr.M.Yunus Bengkulu.

H02

: Tidak ada hubungan umur dengan KPD di ruang CI kebidanan


RSUD Dr.M.Yunus Bengkulu.

Ha2

: Ada hubungan umur dengan KPD di ruang CI kebidanan RSUD


Dr.M.Yunus Bengkulu.

H03

: Tidak ada hubungan paritas dengan KPD di ruang CI kebidanan


RSUD Dr.M.Yunus Bengkulu.

Ha3

: Ada hubungan paritas dengan KPD di ruang CI kebidanan


RSUD Dr.M.Yunus Bengkulu.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Tempat/Lokasi dan waktu penelitian


Tempat penelitian adalah ruang bersalin CI kebidanan RSUD M. Yunus
Bengkulu, waktu penelitian rencananya akan dilakukan mulai Juni-Juli.

3.2 Desain penelitian


Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode
survey analitik dengan jenis pendekatan cross sectional yaitu peneliti mengukur
variabel secara bersamaan dan data yang diperoleh menggambarkan kondisi yang
terjadi pada saat penelitian dilaksanakan (Notoatmodjo,2010). dimana variable
independen (Gameli, paritas dan umur). Dan variable dependen (KPD)
diobservasi sekaligus pada waktu yang sama.

3.3 Populasi dan sampel


3.3.1

Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek atau yang diteliti. Populasi
dalam penelitian ini adalah ibu ibu yang bersalin dengan KPD pada
tahun 2014 di RSUD Dr.M.Yunus Bengkulu jumlah populasi ini
dengan rincian 210 ibu.

23

24

3.3.2

Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang mengalami KPD
pada tahun 2014 di RSUD Dr.M.Yunus Bengkulu , sampel yang
diinginkan 35 orang. Teknik pengambilan simple random sampling
(acak sederhana) (Notoatmodjo,2010).

Rumus : n = 1+( 2 )
210

n = 1+210(0,12)
210

n = 1+2,10
210

n = 3,10
= 35 orang.
Sehingga jumlah sampel pada penelitian ini adalah 35 orang.

3.4 Teknik pengumpulan data


1. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan
menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Medical Record RSUD
Dr.M.Yunus Bengkulu dari Januari-Desember 2014 dengan menggunakan
format pengumpulan data.
2. Pengolahan data
Data yang telah dikumpulkan diolah secara komputerisasi dengan bantuan
komputer melalui beberapa tahap pengerjaan sebagai berikut :
a. Editing
Data diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan kelengkapan data
yang diperoleh, kemudian untuk memudahkan pengecekan data yang

25

diperlukan guna mencapai tujuan yang benar-benar sesuai dengan apa


yang diharapkan yaitu data telah diisi dengan baik dan benar.
b. Coding
Langkah langkah menterjemahkan data yang dikumpulkan
menggunakan huruf dari angka agar lebih mudah dan sederhana.
1) 0 (ya)
2) 1 (tidak)
c. Entry Data
Setelah dilakukan pengkodean, data dimasukkan ke Masing masing
variable.
d. Processing Coding
Setelah semua format pengumpulan data diperiksa dan telah melewati
pengkodean, maka langkah selanjutnya adalah memproses data agar
dapat dianalisa dengan cara memasukkan data format pengumpulan
data ke komputer, sesuai dengan kode yang telah diberikan 0 jika (ya),
1 jika (tidak).
e. Cleaning Data
Sebelum melakukan analisis, data yang sudah dimasukkan dilakukan
pengecekan, pembersihan jika ditemukan kesalahan pada entry data.

26

3.5 Teknik Analisis Data


Data data yang sudah diolah akan dianalisis dengan cara :
a. Univariat
Dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi masing masing variable
penelitian, baik variabel independen maupun variabel dependen.
b. Bivariat
Guna melihat factor factor yang berhubungan dengan kejadian KPD,
data dianalisis dengan menggunakan uji statistik X2 (Chi Square) dengan
tingkat kepercayaan 95% dengan = 0,05. Untuk mengetahui keeratan
hubungan digunakan uji statistik Contingency Coefficient(C).