Anda di halaman 1dari 26

LOMBA RANCANGAN BISNIS

YOUTH AGROTECHNOPRENEURSHIP COMPETITION 2012

Rainbow Dogadu (Dodol Garut Madu): Usaha Modifikasi Pangan


Tradisional Alternatif Camilan Sehat Menarik Anti Diabetes dan Penyakit
Degeneratif

Diusulkan oleh :
1
2
3

Deny Prasetyawan
Septian Suhandono
Nisa Mawadaturrohmah

Agribisnis2011/ H34110013
Ilmu Gizi 2009/ I14090007
Ilmu Gizi 2011/ I14110049

INSTITUT PERTANIAN BOGOR


BOGOR
2012

Ringkasan Eksekutif
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, bahwa 177 juta
penduduk dunia mengindap diabetes melitus atau biasa disingkat DM. Jumlah ini
akan meningkat hingga melebihi 300 juta pada tahun 2025. Angka ini akan terus
merangkak begitu juga yang terjadi di negara berkembang. Menurut PERKENI
(2002) penderita DM di Indonesia prevalensinya menacapai 1,5 - 2,3 % dari
jumlah penduduk Indonesia dan pada tahun 2020 diperkirakan angka tersebut
akan meningkat menjadi 4% atau setara dengan 7 juta penderita.
Bila tidak dilakukan upaya perubahan pola hidup sehat para penderita.
Menurut survey yang dilakukan oleh WHO, Indonesia menempati urutan ke-4
terbesar dalam jumlah penderita DM dengan pravalensi 8,6% dari total penduduk,
sedangkan urutan diatasnya India, Cina dan Amerika Serikat. Temuan tersebut
semakin membuktikan bahwa penyakit diabetes mellitus merupakan masalah
kesehatan yang sangat serius (Depkes RI 2009). Penanganan yang paling tepat
adalah menormalkan dan mengendalikan kadar glukosa darah. Apabila kadar
glukosa darah tidak dikendalikan pada pada tahap dini akan menurunkan status
antioksidan tubuh dan bila kondisi ini terus menerus berlangsung akan
mrnimbulkan berbagai penyakit degeneratif (Szalecky et al., 1999).
Diabetes Mellitus (DM) atau kencing manis terjadi karena adanya
gangguan pada pankreas yang menghasilkan insulin. Padahal insulin dibutuhkan
untuk memasukkan glukosa darah ke dalam sel. Dengan keadaan ini maka kadar
glukosa darah orang diabetes sangat tinggi. Diabetes sebenarya dapat dihindari
dengan pola makan dan kebiasaan hidup yang baik. Indonesia memiliki banyak
potensi pangan yang dapat menanggulangi penyakit diabetes seperti madu. Dalam
The Journal of Medical Food, Waili et. al. (2004) melaporkan penelitian tentang
efek madu terhadap glukosa plasma, C-reactive protein (CRP), dan lipid darah
pada orang yang sehat, pasien diabetes, dan orang yang kelebihan lipid.
Madu kaya dengan peptide dan karbohidrat kompleks yang membutuhkan
proses enzimatik agar dapat dibakar sebagai energi. Ini membuat madu menjadi
sejenis gula yang slow release atau memiliki indeks glikemik rendah hingga tidak
memberatkan

kerja

insulin.

Selain

itu,

kandungan

bermacam-macam

nutraceuticals yang terdapat di dalam madu (lactic, succinic, citric, malic acid,

dan sebagainya) mampu mencegah terjadinya acetonemia (peninggian kadar


aseton dalam darah) dan mengurangi jumlah gula dalam urin.
Penggunaan madu sebagai bahan pangan penanggulangan diabetes dan
penyakit degeneratif sebagai turunannya harus memiliki inovasi pengolahan
sehingga memiliki daya terima yang baik. Madu dalam bentuk dasar berbentuk
cairan semi kental yang kurang memiliki kepraktisan dalam aspek konsumsi.
Menurut Taoukis et. al. (1999) bentuk pangan cairan kental (gel) memiliki
akseptibilitas yang paling rendah dibanding bentuk pangan lainnya yakni IMF
(Intermediate Moisture Food) maupun batang (bars).
Indonesia memiliki kekayaan pangan tradisional yang sangat perlu
untuk diperkenalkan ke massa yang lebih luas. Inovasi pangan tradisional seperti
dodol yang sudah familiar di Indonesia merupakan sebuah terobosan baru dalam
mengkonsumsi madu. Manfaat di dalam madu dalam proses pengolahan dodol
tidak terdegradasi karena nutraceutical yang terdapat dalam madu merupakan
bahan tahan panas. Hal ini akan meningkatkan akseptibilitas dalam penggunaan
sisi fungsionalitas madu. Dogadu (Dodol Garut Madu) merupakan inovasi dodol
dengan madu sebagai humektan utama sebagai bahan pangan fungsional
menanggulangi diabetes mellitus dan penyakit lainnya.
Dalam arus globalisasi yang cepat, pesatnya kemajuan komunikasi, ilmu
dan teknologi, jenis makanan suatu bangsa secara leluasa masuk ke suatu negara
lain tak kenal garis perbatasan. Karena alasan tersebut suatu bangsa yang maju
harus memiliki konsep kulinernya sendiri dengan mengedepankan rasa yang khas
(Winarno 2004). Dogadu hadir di tengah masyarakat Indonesia yang juga
diharapkan mampu menambah kekayaan kuliner Indonesia dengan berbagai
inovasi nya.
Proses komersialisai merupakan cara terbaik untuk mengembangkan
produk Dogadu (Dodol Garut Madu) sebagai pangan lokal fungsional. Bisnis
yang dibangun oleh CV. Kelapa Ceria sebagai pemegang lisensi Dogadu
merupakan prospek usaha yang menguntungkan serta kegunaannya sangat
ditunggu oleh masyarakat luas khususnya untuk penderita diabetes dan penyakit
degeneratif lainnya.

Nyemil tapi tanpa rasa bersalah!

Target yang disasar oleh CV. Kelapa Ceria adalah masyarakat luas dan
penderita diabetes serta penyakit degeneratif lainnya sebagai sasaran utama.
Pemasaran yang dilakukan secara promosi langsung melalui promosi di media
elektronik dan media cetak, direct selling, pendirian kemitraan merupakan strategi
yang cukup penting untuk memasarkan Dogadu. Analisis ekonomiyang dilakukan
menunjukkan bahwa usaha produksi Dogadu oleh CV. Kelapa Ceria
menghasilkan rasion R/C sebesar 2,17 sehingga layak untuk dilaksanankan.

1. Tujuan
Tujuan dari perusahaan adalah setiap titik produksi menjual 2000 kg
produk pangan lokal fungsional berbentuk batang ready to eat yang tersebar di
seluruh Indonesia dengan bahan baku potensi lokal per bulan dengan jumlah
omset per bulan rata-rata sebesar Rp. 100. 000. 000,- dan menguasai 100% pangsa
pasar pangan tradisional fungsional di Indonesia dan dunia pada 2018.

2. Profil Perusahaan
1. Pernyataan Visi dan Misi
Visi perusahaan Kelapa Ceria adalah menjadi perusahaan industri pangan
dan gizi kelas dunia yang fokus kepada pemenuhan produk pangan fungsional
yang berbasis sumber daya lokal.
2. Kepemilikan Usaha
CV. Kelapa Ceria merupakan perusahaan industri pangan dan gizi yang
fokus untuk pemenuhan produk pangan fungsional yang berbasis sumber daya
lokal yang dimiliki oleh sekelompok mahasiswa. Pemenuhan target produk akan
dialakukan kerja sama dengan berbagai perusahaan industri yang bergerak dalam
bidang pangan dan gizi serta berbagai perusahaan yang berminat menjadi investor
dalam mengembangkan produk ini.
3. Struktur Organisasi Perusahaan
Struktur organisasi yang diterapkan perusahaan adalah struktur organisasi
lini. Dalam struktur tersebut, setiap orang menerima satu perintah dari satu orang
dan bertanggung jawab dengan perintah tersebut. Skema struktur organisasi lini

Nyemil tapi tanpa rasa bersalah!

ditunjukan pada gambar 1.

Gambar 1. Struktur Organisasi Perusahaan


4. Logo Perusahaan

Gambar 2. Logo Dogadu

3. Perencanaan Pabrik

1. Lokasi dan Fasilitas Perusahaan


Lokasi Produksi untuk tahap awal adalah di pabrik milik C. V Kelapa
Ceria yang berlokasi di Tanah Baru, Bogor. Perkembangan usaha dan kuantitas
produksi akan turut memengaruhi lokasi produk. Setelah berhasil dikembangkan
di Kota Bogor tahap ke depan lokasi akan berkembang mulai dari kota Garut
sebagai kota yang terkenal dengan pangan lokal dodol yang akan menjadi icon
Dogadu (Dodol Garut Madu) dan akan berkembang ke kota lainnya seluruh
Indonesia.

Nyemil tapi tanpa rasa bersalah!

Lokasi produksi ini telah memiliki syarat utama tempat produksi yakni,
srategis, masih memungkinkan untuk dilakukan pengembangan bangunan,
memiliki drainase dan pengolahan limbah yang memadai, serta telah memiliki
alat-alat dasar dari produksi pangan lokal fungsional seperti mesin penepung,
mesin pembuat , mesin pengering, mesin pembuat santan, mesin pengaduk dan
mesin pengepak.

2. Kapasitas produksi
Pabrik beroperasi pada skala menengah-besar dengan kapasitas 2000 kg
pangan tradisional perbulan. Waktu produksi selama 8 jam perhari dan selama 24
hari perbulan. Langkah kedepan akan terdapat setiap titik produksi di setiap
daerah di Indonesia untuk membantu menyediakan alternatif camilan bagi
masyarkat secara luas dan khusunya penderita diabetes serta penyakit degeneratif.

3. Konsep produk
Dogadu merupakan akronim dari Dodol Garut Madu. Bentuk pangan ini
terklasifikasi ke dalam Intermediate Moisture Food (IMF) atau pangan semi
basah. Ciri utama pangan ini adalah menggunakan humektan yang akan menjaga
aw dalam taraf dimana mikroorganisme dalam kurun waktu tertentu tidak dapat
tumbuh namun tetap memiliki palatabilitas tinggi.
Selain itu pangan ini untuk meningkatkan akseptibilitas menggunakan
pewarna alami. Pewarna alami yang digunakan adalah daun suji untuk warna
hijau, kulit manggis untuk warna merah, kunyit untuk warna kuning, warna dasar
gelatinisasi untuk cokelat. Penggunaan pewarna alami ini selain meningkatkan
ketertarikan konsumen juga sebagai pengaya kandungan senyawa bioaktif dalam
produk.
Ini merupakan sebuah inovasi pangan tradisional dodol garut. Dodol garut
ini berbahan baku utama tepung beras seperti layaknya dodol garut lain.
Perbedaan Dogadu sebagai dodol garut yang menggunakan humektan madu.
Penggunaan humektan madu secara teknis memperkaya rasa dan meningkatkan
palatibilitas dari produk. Selain itu penggunaan madu akan memberikan sisi
fungsionalitas kepada dodol garut dalam menanggulangi penyakit diabetes

Nyemil tapi tanpa rasa bersalah!

mellitus dan penyakit degeneratif lainnya. Hal ini dikarenakan madu memiliki
memiliki Indeks Glikemik (IG) rendah yakni 45 sehingga tidak memberikan
dampak negatif kepada penderita Diabetes Mellitus. Selain itu, akan ada dampak
positif yang diberikan kepada penderita gangguan pencernaan karbohidrat.
Pangan lokal tradisional dodol garut melalui olahan inovatif ini juga akan
terangkat popularitasnya. Hal ini jelas menguntungkan mengingat industri pangan
tradisional akan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan banyak.
Keunggulan produk pangan lokal yang dapat dijadikan sebagai pilihan makanan
yang jelas berfungsi untuk menanggulangi penyakit diabetes mellitus dan
penyakit degeneratif lainnya. Jelas pula dampak lanjut dari produk Dogadu ini
adalah naiknya Indeks Pembangunan Manusia wilayah Garut. Secara tidak
langsung ini merupakan sebuah solusi untuk pengangguran wilayah Garut.
Tabel 3. Kandungan Gizi Dogadu (1 Takaran Saji 15 g)
Kandungan Gizi dan
Kuantitas
Kebutuhan Persen
Energi
Persajian
Harian
AKG
1 Energi (kkal)
77,3
2200
3%
2 Protein (g)
0,2
50
0%
3 Karbohidrat (g)
9,2
130
7%
4 Lemak (g)
2,1
60
4%
5 Serat Makanan (g)
0,1
30
0%
6 Vit. A (RE)
213
500
43%
7 Vit. D (g)
0
5
0%
8 Vit. E (mg)
0
15
0%
9 Vit K (g)
0
55
0%
10 Tiamin (mg)
0
1
0%
11 Riboflavin (mg)
0
1,1
0%
12 Niasin (mg)
0
14
0%
13 Magnesium (mg)
0
240
0%
14 Fluor (mg)
0
2,5
0%
15 Besi (mg)
0
26
0%
16 Iodium (g)
0
150
0%
17 Seng (mg)
0
9,3
0%
18 Mangan (mg)
0
1,8
0%
19 Selenium (g)
0
30
0%
20 Air (ltr)
0,02
2
0%
Sumber: Analisis Proksimat Laboratorium Analisis Gizi Makro dan Mikro
No

Hasil analisis gizi yang didapat menunjukkan bahwa Dogadu memiliki zat
gizi yang lengkap dari segi zat gizi makro. Zat gizi makro didapat dari beras dan
humektan yang digunakan Zat gizi mikro didapat dari humektan dan bahan

Nyemil tapi tanpa rasa bersalah!

tambahan pangan yang digunakan. Jika dibandingkan dengan angka kebutuhan


gizi, maka kandungan gizi yang tersedia memang masih jauh dari kebutuhan
sehari karena memang Dogadu bukan makanan pokok melainkan hanya sebagai
selingan atau snack bagi masyarakat secara umum dan khususnya bagi penderita
diabete mellitus dan penyakit degeneratif lainnya.
Tabel 2. Lokasi Pengembangan Dogadu
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

Daerah
Sumatera bagian utara
Sumatera bagian
Riau dan Kepulauan Riau
Sumatera bagian Selatan
Jawa bagian barat
Jawa bagian tengah
Jawa bagian timur
Bali dan Nusa
tenggara
Kalimantan
bagian barat
Kalimantan
bagian Timur
Sulawesi bagian
selatan
Sulawesi bagian
tengah
Sulawesi bagian
utara
Daerah Maluku,
Ternate, Tidore
Papua bagian
barat
Papua bagian
timur

Pengurus
Kelapa Ceria kantor cabang Padang
Kelapa Ceria kantor cabang Jambi
Kelapa Ceria kantor cabang Bangka
Kelapa Ceria kantor cabang Bandar Lampung
Kelapa Ceria kantor cabang Jakarta
Kelapa Ceria kantor cabang Semarang
Kelapa Ceria kantor cabang Surabaya
Kelapa Ceriakantor cabang Mataram
Kelapa Ceria kantor cabang Pontianak
Kelapa Ceria kantor cabang Kutai
Kelapa Ceria kantor cabang Makassar
Kelapa Ceria kantor cabang Palu
Kelapa Ceria kantor cabang Manado
Kelapa Ceria kantor cabang Ambon
Kelapa Ceria kantor cabang Sorong
Kelapa Ceria kantor cabang Jayapura

4. Perlengkapan Produksi
Produksi pangan lokal fungsional dilakukan dengan menggunakan seperti
mesin pengering untuk beras yang digunakan untuk sebagai baku, mesin
penggiling beras untuk memproses adonan menjadi (Intermediate Moisture Food)
IMF, mesin pengering sebagai pengatur kadar air (Aw), mesin pembuat santan
dan mesin pengepak dan labelling yang digunakan untuk mengemas produk.
Penyediaan mesin dengan cara membeli dari pemasok dengan bantuan dana dari

Nyemil tapi tanpa rasa bersalah!

Kementerian Perdagangan dan Industri Kreatif. Penggunaan mesin ini ditujukan


untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam produksi pangan tradisional
lokal Indonesia.

5. Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan adalah tepung beras yang masing-masing
menyusun komposisi sebesar 60% dari produk, madu sebesar 20 %, bahan
tambahan pangan sebesar 12% serta minyak nabati sebesar 8%. Presentasi bahan
tersebut merupakan presentasi berat kering dari bahan yang sudah siap olah.
Penggunaan bahan-bahan tersebut merupakan sebuah upaya untuk
meningkatkan potensi lokal fungsional dari daerah Garut. Seiring semakin
bertambah cabang dari pabrik CV. Kelapa Ceria di tiap kota yang tersebar di
Indonesia maka akan ada penambahan cabang produksi. Penyesuaian ini dapat
dilakukan agar setiap daerah di Indonesia bisa mengonsumsi produk Dogadu.

6. Proses Produksi Dogadu (Dodol Garut Madu)


Produk dibuat menggunakan metode pembuatan dodol garut seperti biasa.
Namun dalam penggunaan humektan digunakan madu, bukan gula merah seperti
biasanya. Formulasi yang digunakan dalam penentuan humektan adalah antara
bahan baku dan humektan adalah 3:1 Berikur rincian dan alur produksi dalam
produksi dogadu.
a. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan terdiri atas bahan utama dan bahan pendukung.
Bahan utama adalah tepung beras. Bahan pendukung yang digunakan adalah
madu, kelapa, minyak kelapa sawit, margarin, gliserol, sorbitol dan garam. Bahan
kimia yang digunakan adalah CMC (Carboxyl Methyl Cellulose), kalium karbonat
(K2CO3) sodium tripolifosfa. Bahan kimia yang digunakan untuk analisis
proksimat adalah akuades, HCl 0,01N atau 0,02 N, K2SO4, HgO, H2SO4, H2BO3
indikator metil merah 2%, NaOH-Na2S2O3, Na2CO3, dietil eter dan heksana.
Alat-alat yang akan digunakan dalam penelitian ini meliputi kompor gas,
panci penggorengan, sendok, piring, pengaduk kayu, aw-meter merk Shibaura
Electronics Co. Ltd tipe WA-360, neraca analitik, cawan aluminium, waring

Nyemil tapi tanpa rasa bersalah!

10

blender, cawan porselen, alumunium foil, desikator, inkubator suhu 30oC dan
37oC, oven vakum, labu Kjeldahl, labu takar, pipet, tanur, alat destilasi, buret,
soxhlet, water bath, refluks, kertas saring dan alat-alat gelas lainnya yang
mendukung penelitian.
b. Tahap Pembuatan Tepung Beras
Proses pengolahan IMF dimulai dengan mempersiapkan bahan-bahan
utamanya yakni tepung beras dan bahan tambahan pangan. Proses pembuatan
tepung beras dilakukan terlebih dahulu karena tepung beras memiliki umur
simpan yang relatif lebih lama dibanding bahan-bahan utama lainnya. Pembuatan
tepung beras dimulai dengan sortasi dan pembersihan beras pipilan. Ini ditujukan
untuk menghilangkan kotoran serta pipilan beras yang tidak layak untuk
penepungan.
Beras
Pengeringan 1-2 jam,
suhu 50oC
Penggilingan
Pengeringan sampai
kadar air 15%-18%
Pengayakan dengan
ayakan 50 mesh
Tepung Beras
Formulasi tepung beras
Pencampuran
Humektan, Garam,
Air, dan Formula

Madu

Gambar 4. Pembuatan tepung bahan baku utama


Beras yang telah disortasi dijemur di bawah sinar matahari selama 4-6 jam
sampai kering. Kemudian setelah itu dilakukan penggilingan atau penepungan
dengan menggunakan alat penepungan Wiley Mill, lalu dilakukan pengayakan

Nyemil tapi tanpa rasa bersalah!

11

dengan menggunakan ayakan 60 mesh untuk mendapatkan tepung beras. Proses


pembuatan tepung beras dapat dilihat di gambar 4.
c. Pembuatan Santan
Santan merupakan cairan berwarna putih yang diperoleh dari pengepresan
daging kelapa segar dengan atau tanpa penambahan air. Santan yang dibuat dalam
pembuatan merupakan santan dengan penambahan air. Sebagian besar bahanbahan yang dapat larut pada air dalam daging kelapa banyak terdapat dalam
santan. Pemerasan santan dilakukan dua tahap yakni pemerasan dengan air panas
dan dengan air dingin.
Pemerasan kelapa yang pertama menggunakan air panas untuk memeras
kelapanya. Penggunaan air panas yang bersuhu sekitar 40oC ini dimaksudkan
untuk lebih mempermudah pengambilan santan. Penggunaan air panas bertujuan
untuk menggumpalkan protein yang terdapat pada dinding sel bahan dan untuk
memecahkan dinding sel tersebut sehingga mudah ditembus oleh minyak atau
lemak yang terkandung di dalamnya.
Pemerasan kedua dilakukan dengan menggunakan air dingin untuk
digunakan sebagai campuran dalam adonan. Sebelum digunakan, santan disaring
terlebih dahulu secara bertahap yakni pertama menggunakan saringan kasar lalu
selanjutnya saringan halus. Air yang ditambahkan saat pemerasan tidak terlalu
banyak. Hal ini bertujuan memperoleh santan yang cukup kental untuk dibuat
mata ula.
d. Pembuatan Adonan
Adonan merupakan tepung beras perasan kedua dan bahan tambahan
pangan. Pencampuran dilakukan dengan menggunakan mesin pengaduk adonan
(mixer) apabila dalam skala besar (lebih dari 20 kg). Pembuatan adonan dalam
skala kecil (kurang dari 20 kg) diaduk dengan tangan. Lama pengadukan dengan
menggunakan mixer dengan massa adonan 20 kg adalah 5 menit.
Pada saat pencampuran, santan ditambahkan sedikit demi sedikit. Dengan
penambahan bertahap adonan dapat tercampur lebih baik dan kemungkinan
terjadinya gumpalan-gumpalan tepung yang tidak teraduk dapat dihindari. Dengan
penambahan santan, tepung beras dan tepung kedelai akan menyerap air dan

Nyemil tapi tanpa rasa bersalah!

12

mengembang. Jumlah air yang diserap oleh adonan menurut Fennema (1996)
mencapai 30 persen.
Hal ini pati tidak melarut secara dispersi molekuler, tetapi dianggap bahwa
air

masuk

di

antara

bagian-bagian

pati,

sedangkan

Winarno

(1996)

mengemukakan bahwa penyerapan air dilakukan oleh granula pati. Tepung beras
berasal dari beras pipilan yang sudah direndam untuk memudahkan pembuangan
pericarp. Selanjutanya beras digiling dengan tujuan memecahkan pericarp beras.
Kehalusan tepung beras sekitar sehalus 80 mesh.

e. Pengolahan Lemak dan Minyak


Lemak yang dipergunakan dalamuntuk pangan tradisional haruslah lemak
nabati. Penggunaan lemak nabati, dalam hal ini minyak goreng, dimaksudkan agar
yang dihasilkan tidak cepat tengik. Minyak goreng mengandung asam lemak
jenuh yaitu asam lemak laurat. Pembuatan bahan campuran digunakan adonan
minyak dan mentega dilumerkan sehingga akan memudahkan dalam proses
pencampuran adonan.
f. Pembuatan Mata Ula
Mata ula merupakan santan hasil perasan yang telah mengalami
pemanasan dan mempunyai warna keabu-abuan. Mata ula adalah sumber rasa dan
aroma yang khas pada . Pembentukan flavor bau khas minyak kelapa timbul
karena terbentuknya gugus nonilmetilketon. Proses pemanasan pembuatan mata
ula rata-rata mencapai suhu 90oC. Hal ini akan mengakibatkan protein yang
terkandung dalam santan mengalami penggumpalan. Terjadinya penggumpalan
karena mantel air yang melingkupi molekul-molekul protein akan tertarik dan
akhirnya minyak/lemak dalam santan mengalami oksidasi dan minyak/lemak
tersebut juga mengekstraksi zat warna yang terdapat dalam santan sehingga mata
ula berwarna gelap keabu-abuan.
g. Pengadukan
1. Pengadukan I
Dalam skala adonan kecil (kurang dari 20 kg), pengadukan pertama
dimulai dengan memasukan adonan ke dalam wajan yang telah berisi mata ula.
Pengadukan ini berlangsung kira-kira 20 sampai 35 menit, tergantung dari jenis

Nyemil tapi tanpa rasa bersalah!

13

tungku yang dipergunakan. Pada saat pemasukan adonan, suhu mata ula rata-rata
mencapai 90oC. Panas dari mata ula masih dapat mengakibatkan adonan
mengalami proses gelatinisasi. Menurut Whistler et al. (1996) di dalam Fennema
(1996), pati pada temperatur tinggi mengalami proses gelatinisasi. Selama proses
gelatinisasi berlangsung granula pati akan mengembang.
Viskositas buburan selama pengadukan I semakin meningkat. Dengan
adanya panas, hampir semua air terdapat dalam granula adonan keluar dan terjadi
pengembangan yang akhirnya membentukyang kental. Menurut Whistler et al.
(1996) di dalam Fennema (1996), viskositas yang tinggi merupakan akibat dari
aliran kuat yang dihasilkan oleh granula yang mengembang. Waktu pemasakan
bubur berkisar dari 20 sampai 35 menit. Lamanya waktu pemasakan dipengaruhi
oleh tinggi rendahnya suhu gelatinisasi. Adonan yang digunakan dalam
pembuatan beras memiliki suhu gelatinisasi yang tinggi sehingga membutuhkan
waktu yang lama.
2. Pengadukan II
Pengadukan kedua merupakan proses pemasakan terhadap madu sebagai
humektan. Proses pengadukan kedua membutuhkan suhu yang tinggi yakni 95100oC. Tingginya suhu ini akan menyebabkan terjadinya peristiwa karamelisasi
dan mengakibatkan perubahan warna menjadi kecoklatan. Proses karamelisasi
diawali dengan pemecahan molekul sukrosa menjadi glukosa dan fruktosan.
Menurut Whistler et al. (1996) di dalam Fennema (1996), timbulnya warna pada
proses karamelisasi disebabkan oleh konjugasi rantai ganda yang menyerap
cahaya dan memproduksi warna.
3. Pengadukan III
Pengadukan ketiga dilakukan setelah minyak atau mentega yang telah cair
dicampurkan dalam adonan. Minyak dan mentega yang ditambahkan ini bersuhu
sekitar 200oC. Penambahan ini berupaya untuk meningkatkan plastisitas Dogadu .
Selain itu, penambahan minyak atau mentega akan menimbulkan rasa gurih,
meningkatkan flavor khas , dan menambah kalori Dogadu.
4. Pewarnaan
Menambah nilai jual dari produk dogadu ini ditambahkan pewarna alami
agar terlihat lebih menarik konsumen. Pewarna alami yang digunakan adalah daun

Nyemil tapi tanpa rasa bersalah!

14

suji untuk warna hijau, kulit manggis untuk warna merah, kunyit untuk warna
kuning, warna dasar gelatinisasi untuk cokelat. Penggunaan pewarna alami ini
selain meningkatkan ketertarikan konsumen juga sebagai pengaya kandungan
senyawa bioaktif dalam produk.

7. Tata Letak Pabrik


Ruang produksi membutuhkan tata letak yang sesuai sehingga proses
produksi berjalan dengan efisien dan terjamin bersih. Untuk memenuhinya,
terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan diantaranya runtutan proses dari
tempat penyimpanan bahan baku hingga pengemasan dilakukan searah,
perputaran bahan yang masuk terpisah dengan perputaran produk yang keluar,
pemilihan

gudang

yang

sesuai

sehingga

menghindari

resiko

kontaminasi,memisahkan ruang produksi dengan ruang pembersihan. Berdasarkan


aspek tersebut, maka dapat visualisasikan gambaran tata letak pabrik pembuatan
Dogadu yang akurat.

Gambar 4. Tata letak pabrik pengolahan pangan lokal fungsional Dogadu dari
CV. Kelapa Ceria

4. Aspek Pemasaran
1.

Pemasaran

a.

Gambaran Umum Rencana Usaha

Nyemil tapi tanpa rasa bersalah!

15

Pembuatan Dogadu akan diarahkan pada konsep industri padat karya


dengan topangan industri besar. Hal ini akan dimulai dari suplai bahan baku yang
akan didapatkan langsung dari potensi lokal setempat. Penggunaan tenaga kerja
pada proses pengolahan dodol, madu, dan bahan lainnya, sampai ke produksi
Dogadu itu sendiri. Setelah itu pemasaran pun akan melibatkan tenaga kerja.
Konsep demikian akan membuat industri pembuatan Dogadu akan mampu
menyerap tenaga kerja yang dapat mengurangi beban pengangguran. Selain itu
industri Dogadu cukup prospektif karena tidak membutuhkan alat dan bahan yang
rumit sehingga sangat mudah diaplikasikan dalam skala menengah sampai rumah
tangga. Penerapan ini tentunya akan meningkatkan tambahan penghasilan
masyarakat melalui konsep usaha kecil menengah (UKM). Metode pelaksanaan
dalam program ini meliiputi lima tahapan. Secara bagan dapat dilihat pada
Gambar.

Gambar 5. Tahapan Pelaksanaan Usaha


b.

Tren dan Pertumbuhan Industri


Gaya hidup masyarakat yang tidak sehat, meningkatnya angka obesitas,

serta ancaman serangan penyakit degeneratif di usia muda menjadikan kebutuhan

Nyemil tapi tanpa rasa bersalah!

16

akan makanan yang mencegah serta mengobati hal-hal tersebut amat dibutuhkan.
Pemenuhan kebutuhan penganan yang praktis, enak, dan sudah dikenal
masyarakat luas menjadi nilai tambah bagi Dogadu. UKM (Unit Kegiatan Mikro)
yang terintegrasi merupakan suatu konsep usaha yang sedang dikembangkan
Indonesia mengingat banyaknya jumlah masyarakat Indonesia sehingga
perlu ada kemandirian dalam berusaha. Sektor industri kerakyatan termasuk di
dalamnya UKM, terbukti tetap bisa bertahan di tengah krisis global yang
berlangsung beberapa tahun silam. Hal ini menunjukkan bahwa sektor industri
kreatif kerakyatan memiliki ketahanan yang cukup baik dan dapat berkembang
bila dapat disinergiskan dan terintegrasi satu sama lain.

c.

Gambaran Pasar
Pemasaran untuk produk Dogadu ini dikhususkan untuk bahan pangan

sumber daya lokal secara umum dalam ranah yang lebih luas produk Dogadu
dapat digunakan sebagai cemilan sehat yang aman dikonsumsi bagi penderita
Diabetes dan penyakit degeneratif lainnya serta umumnya bagi masyarakat
sekitar. Selain secara khusus untuk cemilan sehat, Dogadu juga dapat dijadikan
bahan pangan darurat karena sifatnaya yang memiliki Indeks Glikemik rendah
sehingga tidak cepat menaikkan gula darah.
Tabel 4. Pangsa Pasar Produk
No

Target

Khusus

Umum

Spesifikasi
Masyarakat Diabetes dan Gangguan
Pencernaan Gula
Khusus Pengungsi bencana alam
Masyarakat kerawanan pangan
Peneliti lepas-alam liar
Pendaki gunung (penjelajah)
TNI tugas lapang
Total

Kuantitas

PERKENI (2010)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) 2010-fluktuatif

Badan Ketahanan Pangan (BKP) 2010

Tim Survei REI Outdoor Gear 2004

Komando Rayon Militer Bogor 2011

Nyemil tapi tanpa rasa bersalah!

21. 000. 0001


14. 800. 0002
36. 100. 0003
156. 0004
40. 0005
60. 0006
72. 156. 000

17

d. Target Konsumsi
Tahap pengembangan awal, Dogadu dikonsepkan sebagai cemilan sehat
dan bergizi yang dapat dikonsumsi dalam segala kondisi, dengan target pasar dari
anak-anak sampai orang tua. Seiring dengan pengembangan inovasi Dogadu akan
disasarkan ke rumah sakit, puskesmas, dan posyandu serta pusat-pusat kesehatan
masyarakat lainnya. Selain itu target konsumsi akan dipasarkan ke pasar
internasional juga setelah mapan di pasar nasional.
e.

Strategi Pemasaran

1.

Promosi Langsung
Promosi dilakukan dengan menyebarkan pamflet dan leaflet ke sentra-

sentra jajanan yang ada di wilayah Jabodetabek. Penyebarannya dilakukan secara


rutin ke tempat-tempat yang strategis kemudian diaudiensikan secara langsung
kepada para peserta. Ikut serta dalam event acara talkshow wirausaha maupun
pangan sehat perlu dilakukan untuk dapat memberikan penjelasan lebih terperinci
tentang produk Dogadu.

Gambar 6. Alat Pemasaran Dogadu Langsung


2.

Promosi melalui Media Elektronik


Promosi dilakukan dengan menggunakan facebook, twitter, e-mail,

mailing list yahoo, dan jejaring sosial lainnya. Promosi diarahkan pada grup-grup
yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat terutama yang peduli dengan
penyakit diabetes dan penyakit degeneratif lainnya. Promosi melalui siaran radio

Nyemil tapi tanpa rasa bersalah!

18

yang mengulas dialog interaktif mengenai pangan dan kesehatan. Promosi juga
dilakukan melalui forum Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
3.

Promosi melalui media cetak


Promosi dilakukan dengan memasukkan tulisan mengenai Dogadu pada

rubrik kesehatan maupun pangan, guna memberikan penjelasan secara ilmiah dan
segmentasi pasar penghubungnya. Tulisn secara ilmiah ini terkait dengan klaim
kesehatan yang diberikan oleh Dogadu.
4.

Direct Selling
Penjualan dilakukan secara langsung oleh tim promosi. Penjualan secara

langsung ini akan ditujukan secara khusus ke sentra-sentra jajanan tradisional


serta jika sudah berkembang akan menargetkan rumah sakit maupun puskesmas
sebagai pangan lokal fungsional yang menyehatkan. Untuk kalangan masyarakat
luas,Dogadu dapat dikonsumsi sebagai pangan praktis lokal yang sehat.
5.

Kemitraan
Dalam pengembangan produk Dogadu ke depannya, akan dijalin

kemitraan dengan suatu desa, di mana di desa tersebut akan merangkul petani
yang mampu memberikan pasokan bahan baku, para pekerja yang akan
melakukan proses pengolahan bahan baku menjadi produk Dogadu lalu akan
dibuka suatu koperasi unit Dogadu yang akan memasarkan produk usaha desa
setempat termasuk Dogadu.
f.

Peluang Usaha Jangka Panjang


Usaha ini diharapkan dapat menjadi suatu pusat usaha pangan olahan

Usaha Kecil Mikro (UKM) yang terintegrasi untuk meningkatkan pemanfaatan


produk unggulan daerah setempat. Inovasi yang berkaitan dengan formulasi, cita
rasa, dan kreativitas pemasaran akan ditingkatkan sehingga produk tetap dapat
bersaing.
Penggunaan kemasan yang ramah lingkungan juga akan menjadi fokus
kajian sehingga produk ini memiliki tingkat keamanan pangan yang baik dari sisi
kemasan dan mengurangi pencemaran lingkungan. Terkait bahan baku yang
digunakan yakni madu dan dodol, harus tetap dijaga jumlah pasokan dan
kualitasnya, sehingga pengolahan makanan ini dapat dilakukan dengankontinu
untuk dipasarkan dengan harga yang cukup terjangkau.

Nyemil tapi tanpa rasa bersalah!

19

Selanjutnya akan diadakan pengembangan pada pangan tradisional lain


seperti pada jenang, kerupuk, bandrek yang juga akan mengembangkan sisi
fungsionalitas.

Sehingga

produsen

memang

benar-benar

fokus

pada

pengembangan modifikasi pangan tradisional fungsional.


Pangan
Tradisional

Modern-Tradisional

Modifikasi

Fungsional-ModernTradisional

Eksplorasi

Gambar 7. Pengembangan Usaha Jangka Panjang


g.

Tujuan Jangka Panjang


Untuk ke depan produk Dogadu ini diharapkan dapat menjadi salah satu

pangan tradisional pilihan utama yang menyehatkan. Selain itu, dapat pula masuk
menjadi salah satu cemilan wajib bagi penderita diabetes dan menjadi menu
cemilan di rumah sakit-rumah sakit nasional. Artinya pengembangan skala
industri yang lebih besar perlu tetap dilakukan dengan menekankan konsep UKM
yang mandiri dan terintegrasi. Skala industri yang lebih besar dengan produksi
yang stabil dan kontinyu akan meningkatkan pemasaran di tingkat nasional
maupun internasional.
Usaha pangan tradisional Dogadu ini diharapkan dapat mengangkat
kembali citra dodol sebagai pangan tradisional yang sehat bagi setiap lapisan
umur. Selain itu dapat pula menjadi pilihan utama bagi para penderita DM dan
mengobati penyakit degeneratif lainnya.
h.

Strategi Pemasaran Jangka Panjang


Strategi pemasaran jangka panjang akan lebih luas lagi dengan perbaikan

kualitas, perbanyakan kuantitas, dan perbaruan inovasi produk. Pemasaran


dilakukan dengan berbagai cara yang bervariasi, inovasi menjadi kunci utama
strategi pemasaran ke depannya, yakni inovasi di cita rasa dan kemasan. Media
elektronik dan cetak akan menjadi penekanan media promosi.
i.

Evaluasi Resiko
Pada tahap awal pengembangan usaha kuantitas produksi belum terlalu

tinggi. Hal ini mengingat skala usaha yang dilakukan baru tingkat laboratorium
ataupun usaha kecil rumahan, mengingat target pasar masih sempit. Oleh karena

Nyemil tapi tanpa rasa bersalah!

20

itu, resiko terjadinya kerugian masih belum terlalu besar. sebagai kontrol, setiap
kali dilakukan satu kaliproses produksi, maka akan dilakukan pengecekan kualitas
produk. Dalam manajemen organisasi, juga akan dibentuk tim quality control
untuk melakukan evaluasi kinerja praktisi terkait penjualan dan pemasaran.
Pengembangan yang akan dilakukan dengan tingkat mitra akan sedikit
mengandung resiko di bagian pengolahan, perlu adanya pelatihan bersama terkait
pembuatan dan formulasi. Usaha Dogadu ini memiliki resiko yang mengarah pada
dua aspek, positif dan negatif. Respon positif yang akan muncul bila usaha
Dogadu terlaksana adalah:
1.

Penigkatan nilai tambah madu dan dodol sendiri menjadi bahan pangan
jajanan tradisional dengan khasiat kesehatan yang cukup tinggi.

2.

Menyerap tenaga kerja karena memakai sistem kemitraan melalui UKM.

3.

Membantu pemerintah dalam memopulerkan jajanan tradisional fungsional


berupa dodol

4.

Mengaplikasikan sinergitas ilmu antara mahasiswa, mitra (masyarakat), dan


pemerintah

5.

Mendapatkan keuntungan bersama dalam usaha bersama.


Kemungkinan respon kurang mendukung bila produk Dogadu terlaksana

ialah audiensi di awal untuk menjalin kemitraan, mahasiswa harus lebih


mengagendakan waktunya untuk mengontrol langsung mitra usaha pembuatan
terkait manajerial dan pengelolaan. Formulasi yang kurang tepat akan
memberikan banyak pengaruh pada produk, usaha ini bersifat kemitraanmaka
keseragaman produk agak sulit untuk diupayakan sehingga perlu pemantauan
yang cukup baik. Strategi pemasaran harus dilakukan dengan cerdas agar bisa
bersaing dengan produk yang sudah bermerk.
j.

Pesaing dan Peluang Pasar


Sampai saat ini belum ada produsen jajanan tradisional yang secara

gamblang mengarahkan produksinya ke produksi jajanan tradisional fungsional.


Selama ini produsen jajanan tradisional hanya berfokus pada produksi jajanan
tradisional sebagai oleh-oleh khas dari suatu daerah tertentu tanpa memberikan
perhatian khusus kepada aspek kesehatannya.

Nyemil tapi tanpa rasa bersalah!

21

6. Finansial dan Ekonomi

Pengembangan Dogadu dalam bentuk agroindustri pangan tradisional


membutuhkan analisis kelayakan pengembangan usaha. Kriteria kelayakan
pengembangan usaha digunakan dalam rangka mencari ukuran menyeluruh
tentang baik tidaknya suatu usaha atau proyek. Kriteria tersebut dapat juga
digunakan sebagai ukuran apakah suatu usaha layak dijalankan (Kadariyah et al.
1978). Analisis aspek finansial dapat didekati dengan perhitungan Break Event
Point (BEP), Benefit Cost Ratio (BCR) dan Pay Back Periode (PBP).
1. Asumsi Umum
Aspek finansial merupakan aspek yang sangat penting dalam penyusunan
rencana bisnis. Tujuan analisis aspek finansial adalah untuk mengetahui prospek
usaha. Variabel ukuran yang digunakan dalam perhitungan adalah biaya usaha
melalui perbandingan pengeluaran dan laba perusahaan. Analisis finansial
memerlukan beberapa asumsi diantaranya:
a. Analisis finansial dilakukan selama periode 1 tahun
b. Analisis finansial hanya ditujukan pada 1 pabrik produksi awal yakni
berlokasi di Garut
c. Penetapan harga jual per takaran saji adalah Rp 4.000/buah dengan netto
100 g
d. Perhitungan dilakukan berdasarkan harga konstan
e. Satuan waktu analisis adalah dalam tahun, dengan satu tahun operasi sama
dengan 12 bulan, satu bulan sama dengan 24 hari.
f. Proyek dimulai pada tahun 0 dan mulai berproduksi pada tahun 0 pula
g. Jumlah produksi tiap tahun memenuhi 100% kapasitas produksi.
h. Semua produk diasumsikan habis terjual.
i. Modal usaha yang digunakan 100% milik pribadi dan investor dari
Kementeruian Perdagangan dan Ekonomi Kreatif tanpa meminjam ke
pihak bank
j. Discount faktor sebesar 13%

Nyemil tapi tanpa rasa bersalah!

22

k. Perusahaan dikenakan pajak penghasilan yang besarnya ditetapkan sebesar


10% untuk keuntungan 25-50 juta, 15% untuk keuntungan 50- 100 juta
dan 30% untuk keuntungan diatas 100 juta.

2. Kebutuhan Modal Investasi


Modal awal (Start Up Cost) diperlukan pada saat mendirikan usaha.
Modal awal dibagi menjadi modal total investasi dan modal kerja selama periode
tertentu. Modal total investasi terdiri atas investasi alat, instalasi utilitas, dan biaya
perijinan. Modal kerja merupakan kebutuhan modal yang disesuaikan dengan
kebijakan perusahaan. Modal kerja dihitung dari variabel biaya bahan produksi,
biaya operasional pabrik, dan biaya operasional kantor. Besarnya modal awal
yang dibutuhkan Rp44.063.500,- meliputi modal total investasi sebesar
Rp7.463.500,- dan modal kerja satu tahun sebesar Rp36.600.000,-

3. Pembiayaan Usaha
Sumber

pembiayaan

usaha

berasal

dari

dana

hibah

sebesar

Rp.15.000.000,- dan penghimpunan biaya dari investor sebesar Rp. 37.299.000,-.


Produsen dalam jangka waktu 1 tahun awal tidak meminjam dana dari bank.

4. Harga Pokok Produksi


Harga pokok produksi (HPP) adalah harga produk per kemasan sebelum
ditambah dengan persentase laba yang diinginkan. HPP dihitung dari variabel
pembelian bahan baku, pembiayaan energi, dan gaji tenaga kerja. Berdasarkan
analisis harga harga pokok produksi Dogadu adalah Rp1835,- per 100g netto.
a) Bahan Baku dan Energi
Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan produk pangan tradisional
yang meliputi tepung beras, madu, dan bahan-bahan lain selama 1 tahun adalah
sebesar Rp19.200.000,-.
b) Biaya
Sumber energi proses produksi seluruhnya memanfaatkan energi listrik.
Pembiayaan energi telah termasuk ke dalam biaya sewa yaitu sebesar Rp.3.000
000,- per tahun.

Nyemil tapi tanpa rasa bersalah!

23

c) Gaji Tenaga Kerja


Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk usaha ini adalah 2 orang. Gaji
Tenaga Kerja yang terlibat dan dibayar oleh produsen per tahun adalah sebesar
Rp.12.000.000,-.

5. Proyeksi Penjualan
Penjualan diasumsikan memiliki harga jual yang tetap netto per 100g
Dogadu yang ready to eat adalah Rp4000,-.

6. Analisis Keuangan
a) Laba Rugi
Perkiraan rugi-laba dibuat berdasarkan rencana pemasaran. Perkiraan
rugilaba digunakan sebagai indikasi provitabilitas suatu usaha. Produksi tiap tahun
direncanakan sebesar 95% dari kapasitas produksi maksimum. Dari kondisi ini,
proyeksi penerimaan keuntungan juga diharapkan maksimum dari tahun pertama
hingga tahun berikutnya.
b) Aliran Kas
Aliran kas dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah aliran kas
awal (initial cash flow). Aliran kas awal adalah pengeluaran yang digunakan
untuk membuat gagasan usaha menjadi nyata. Aliran kas awal total sebesar
Rp.37.299.000,-. Bagian kedua adalah aliran kas operasi (Operationan Cash
Flow). Aliran kas operasi merupakan aliran masuk dari penjualan produk dan
aliran biaya produksi, pemeliharaan alat, dan biaya-biaya yang dikeluarkan selama
perusahaan beroperasi. Aliran kas terminal adalah sisa kas yang ada pada saat
proyek berakhir. Aliran kas terminal terdiri dari nilai sisa (salvage value), aktiva
tetap, dan pengembalian (recovery) modal kerja.
c) Analisis Rasio
Proyek investasi dapat menarik investor jika dapat memberi gambaran
laba yang besar di tiap tahun produksi. Disamping itu, proyek usaha harus
benarbenar dapat dieralisasikan. Untuk melihat kondisi tersebut, diperlukan
analisisrasio yang meliputi Net Present Value (NPV), Break Even Point (BEP),
Internal Rate of Return (IRR), Pay Back Period, dan Net Benefit/Cost Ratio.

Nyemil tapi tanpa rasa bersalah!

24

i) Net Present Value (NPV)


Net Present Value (NPV) adalah perbedaan antara nilai sekarang (present
value) dari manfaat dan biaya. NPV menggambarkan kas yang tersedia pada saat
akan mengembalikan dana investasi. Usaha yang laba ditandai dengan nilai NPV
positif. Nilai NPV usaha diproyeksikan sebesar Rp. 66.110.985,- dengan discount
rate sebesar 13%.
ii) Pay Back Period
Pay Back Period adalah jangka waktu investasi yang telah ditanam dapat
dikembalikan dengan menggunakan penerimaan bersih yang diterima setiap
tahun. Pay Back Period usaha yang dijalankan diproyeksikan selama 6 bulan.
iii) Internal Rate of Return (IRR)
Internal Rate of Return (IRR) di definisikan sebagai tingkat suku bungan
maksimum dimana perusahaan dalam kondisi impas (Break Even). Nilai IRR
yang lebih besar dari suku bunga bank maksimum yang digunakan menandakan
usaha layak untuk dilakukan begitu pula sebaliknya. IRR usaha yang akan
dijalankan sebesar 408,1%. Nilai tersebut lebih besar dari tingkat suku bunga
bank maksimum yang diterapkan sebesar 15%.
iv) Break Even Point (BEP)
Break Even Point adalah suatu kondisi produksi perusahaan belum
mendapatkan laba, tetapi juga tidak mengalami kerugian. Pada titik ini,
pengeluaran usaha sama dengan pemasukan penjualan. Jumlah produk yang
diperlukan untuk menuju titik BEP memiliki adalah 11.015 buah.
v) Net Benefit/Cost Ratio (B/C)
Net Benefit/Cost Ratio diproyeksikan dengan membandingkan nilai laba
bersih dengan biaya yang digunakan untuk menghasilkan produk. Suatu usaha
dikatakan layak secara finansial bila nilai B/C lebih besar dari satu. Nilai B/C
yang lebih besar dari satu mengindikasikan bahwa usaha dapat diteruskan. Akan
tetapi bila nilainya lebih kecil dari satu maka sebaiknya proyek tidak dilaksanakan
karena tidak menguntungkan. Nilai B/C usaha diproyeksikan sebesar 2,17
sehingga belum ditemukan alasan untuk ragu terhadap realisasi usaha.

Nyemil tapi tanpa rasa bersalah!

25

7. Aspek Yuridis

1. Badan Usaha
Landasan hukum suatu badan usaha dipengaruhi oleh jenis badan usaha
yang didirikan. Dalam memilih jenis badan usaha yang akan didirikan, terdapat
beberapa hal yang musti diperhatikan diantaranya :
a. Ukuran besar kecilnya perusahaan
b. Jenis perusahaan
c. Pembagian laba yang diinginkan
d. Resiko yang ditangggung.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka usaha pembuatan pangan
tradisional Dogadu oleh produsen berbentuk UKM atau PIRT.
2. Perizinan
Untuk dapat mendirikan suatu industri, minimal diperlukan ijin-ijin dan
persyaratan yuridis sebagai berikut:
a. Persetujuan prinsip mendirikan industri dari kantor walikota
b. Surat Ijin Umum Perusahaan (SIUP) dari Dinas Perindustrian dan
Perdagangan
c. Tanda Daftar Perusahaan (TPP) dari kantor Walikota
d. Akta pendirian perusahaan dari notaris
Ijin lain yang diperlukan sesuai prosedur pengurusan ijin di BAPPEDA
Tk. II Kabupaten Bogor dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten
Bogor adalah :
a. Ijin Mendirikan Bangunan (IMB)
b. Ijin Gangguan
c. Ijin Usaha Perdagangan
d. NPWP dari Departemen Keuangan
Pembentukan payung hukum melalui pengurusan ijin usaha merupakan
faktor yang sangat berpengaruh terhadap calon investor. Usaha yang telah
memiliki payung hukum dapat meningkatkan kepercayaan invertor terhadap
keamanan uang yang telah dikeluarkan untuk investasi.

Nyemil tapi tanpa rasa bersalah!

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2009. Diabetes mellitus masalah kesehatan masyarakat yang serius.
http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=94
2 [10 April 2009]
Fennema, O. R. 1996. Food Chemistry. 3rd Ed. Marcel Dekker, Inc., New York.
Kadariyah, Asia., Ahmad Baiquni, Seno Hartono. 1978. Rancangan bisnis pada
proyek skala industri. IPB Press. Bogor.
PERKENI. 2002. Petunjuk Praktis Pengelolaan Diabetes Mellitus Tipe 2. PB.
PERKENI. Jakarta.
Szalecky, E. et al. 1999. Alterations in enymatic antioxidants defense in diabetes
mellitus- a rational approach. Postgrad Med J. 75 : 13-17
Taoukis, P.S., W. M. Breene, T. P. Labuza. 1999. Intemediate Moisture Food.
Paper No. 14,969 of The Scientific Journal Series of the Minnesota
Agricultural Experiment Station. Departement of Food Science and
Nutrition, Minnesota.
Winarno, F. G. 2004. Keamanan Pangan. M-BRIO press Bogor.
Winarno. 1996. Teknologi Pangan dan Gizi. PT Gramedia Pustaka. Jakarta.