Anda di halaman 1dari 10

Forensic

accounting & fraud


examination
Annisa Rachmasari
125020300111050

Error, Irregularities, corruption,


illegal act.,bribery
Error

Intentional error-kesalahan yang disengaja dengan


tujuan untuk menguntungkan diri sendiri.
Unintentional error-kesalahan yang dilakukan
secara tidak disengaja. Ex: salah menjumlah
Irregularities ( ketidakberesan)

Kesengajaan dalam menyajikan atau sengaja


menghilangkan suatu transaksi, kejadian, atau
informasi penting dari lap. keuangan

Corruption

Tindak kejahatan yang terorganisir dengan cara


mengambil sesuatu yang seharusnya bukan
haknya dan mengakibatkan kerugian orang
banyak
Illegal act.
Setiap tindakan yang berlawanan dengan hukum
untuk tujuan tertentu. Ex: menipu untuk
kuntungan pribadi/kelompok secara tidak fair
Bribery
Tindakan memberikan suatu imbalan yang
sebenarnya tidak diperbolehkan untuk
melancarkan suatu urusan

Perbandingan report to the nations


on occupational

menunjukkan distribusi pelaku penipuan berdasarkan tingkat


otoritas. 42%penipuan kerja yang dilakukan oleh pelaku
karyawan, 36% dilakukan oleh manajer dan sekitar 19%
dilakukan oleh pemilik / eksekutif. Distribusi kategori ini tetap
sangat konsisten dari tahun ke tahun.

Perkembangan perusahaan
sekuritas di indonesia
Dari110 perusahaan sekuritas, hanya separuhnyayang

mampu menaikkan laba. Separuhnya lagi masih harus


berjuangdalam kompetisi yang kian ketat.
Kondisi ekonomi globalyangkurang kondusifmemang
tidakberpengaruh langsung terhadapkegiatan
perusahaan sekuritas di pasar modal
Indonesia.Namun,krisis yang melanda Eropa dan
Amerika Serikat (AS) setidaknya menimbulkan
kekhawatiran kalangan investordi pasar modal dan
berpengaruh terhadap aktivitas bisnis perusahaan
sekuritas. Berdasarkan data Biro
RisetInfobank(birl),banyakperusahaan sekuritas
mengalami penurunan laba.

Kondisi integritas Indonesia yang


dikeluarkan KPK
Indeks Integritas Unit Layanan di Kementerian/Lembaga (7,22) pada

Tahun 2014 secara umum telah mencapai indeks di atas standar


minimal yang ditetapkan oleh KPK (6,00). Indeks ini terdiri dari indeks
pengalaman integritas (7,41) dan indeks potensi integritas (6,85).

Indeks Integritas tidak menunjukkan integritas Kementerian/Lembaga.

Meskipun indeks integritas sudah mencapai indeks 7,22, unit layanan


tetap perlu secara terus menerus melakukan perbaikan dan
berorientasi memberikan layanan maksimal bagi pengguna layanan
dengan cara:
1. Edukasi anti korupsi dan pengelolaan pengaduan masyarakat yang
lebih serius,
2. Mengkomunikasikan kepada pengguna layanan untuk memanfaatkan
sarana media yang ada baik saran dan pengaduan serta
mensosialisasikan anti korupsi dengan cara diucapkan oleh petugas
kepada pengguna layanan sebagai bentuk kampanye antikorupsi.

Perubahan SAS
SAS No. 53 tentang The Auditors Responsibility to Detect and

Report Errors and Irregularities, yaitu mengatur tanggung jawab


auditor untuk mendeteksi dan melaporkan adanya kesalahan
(error) dan ketidak beresan (irregularities).
SAS No. 55 tentang Consideration of Internal Control in a Financial
Statement Audit, yang merubah tanggung jawab auditor
mengenai internal control. Statement yang baru ini meminta agar
auditor untuk merancang pemahaman tentang pengendalian intern
yang memadai (internal control sufficient) dalam merencanakan
audit. SAS No. 55 kemudian diperbaharui dengan diterbitkan SAS
No. 78 pada tahun 1997, dengan mencantumkan definisi ulang
pengendalian intern (redefined internal control) dengan
memasukkan dua komponen yaitu lingkungan pengendalian
(control environment) dan penilaian risiko (risk assessment) yang
merupakan usulan dari the Treadway Commission.

SAS No. 61 mengatur tentang komunikasi antara auditor

dengan komite audit perusahaan (Communication with Audit


Committees). Auditor harus mengkomunikasikan dengan
komite audit atas beberapa temuan audit yang penting,
misalnya kebijakan akuntansi (accounting policy) perusahaan
yang signifikan, judgments, estimasi akuntansi (accounting
estimates), dan ketidaksepakatan manajemen dengan auditor.
Selain itu ASB pada Februari 1997 telah mengeluarkan SAS No.
82 yang berjudul Consideration of Fraud in a Financial
Statement Audit. Auditor harus bertanggung jawab untuk
mendeteksi dan melaporkan adanya kecurangan (fraud) yang
terjadi dalam laporan keuangan yang disusun oleh manajemen.
SAS no. 82 menyatakan bahwa setiap melakukan audit auditor
harus menilai risiko (assessment of risk) kemungkinan terdapat
salah saji material (material misstatement) pada laporan
keuangan yang disebabkan oleh fraud. SAS No. 82 akhirnya
diperbaharui melalui SAS No. 99 dengan judul yang sama dan
mulai diberlakukan efektif untuk audit laporan keuangan
setelah tanggal 15 Desember 2002, penerapan lebih awal
sangat dianjurkan. Auditor bertanggungjawab untuk
merencanakan dan melaksanakan audit guna mendapatkan