Anda di halaman 1dari 7

BAB II

TINJAUAN TEORITIS
A. Definisi Sehat jiwa
Kesehatan jiwa adalah bagian integral dari kesehatan dan merupakan kondisi
yang memungkinkan perkembangan fisik, mental dan sosial individu secara optimal,
dan yang selaras dengan perkembangan orang lain. Seseorang yang sehat jiwa
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Merasa senang terhadap dirinya serta
a. Mampu menghadapi situasi
b. Mampu mengatasi kekecewaan dalam hidup
c. Puas dengan kehidupannya sehari-hari
d. Mempunyai harga diri yang wajar
e. Menilai dirinya secara realistis, tidak berlebihan dan tidak pula merendahkan
2. Merasa nyaman berhubungan dengan orang lain serta
a. Mampu mencintai orang lain
b. Mempunyai hubungan pribadi yang tetap
c. Dapat menghargai pendapat orang lain yang berbeda
d. Merasa bagian dari suatu kelompok
e. Tidak "mengakali" orang lain dan juga tidak membiarkan orang lain
"mengakah" dirinya
3. Mampu memenuhi tuntutan hidup serta
a. Menetapkan tujuan hidup yang realistis
b. Mampu mengambil keputusan
c. Mampu menerima tanggungjawab
d. Mampu merancang masa depan
e. Dapat menerima ide dan pengalaman baru
f. Puas dengan pekerjaannya
Untuk mencapai jiwa yang sehat diperlukan usaha dan waktu untuk
mengembangkan dan membinanya. Jiwa yang sehat dikembangkan sejak masa bayi
hingga dewasa, dalam berbagai tahapan perkembangan. Pengaruh lingkungan
terutama keluarga sangat penting dalam membina jiwa yang sehat.
Salah satu cara untuk mencapai jiwa yang sehat adalah dengan penilaian diri
yaitu bagaimana seseorang melihat dirinya yang berkaitan erat dengan cara berpikir,
cara berperan, dan cara bertindak. Penilaian diri seseorang positif apabila seseorang
cenderung:
1.
2.
3.
4.
5.

Menemukan kepuasan dalam hidup


Membina hubungan yang erat dan sehat
Menetapkan tujuan dan mencapainya
Menghadapi maju mundurnya kehidupan
Mempunyai keyakinan untuk menyelesaikan masalah

Penilaian diri seseorang negatif apabila seseorang cenderung:

1.
2.
3.
4.

Merasa hidup ini sulit dikendalikan


Merasa stres
Menghindari tantangan hidup
Memikirkan kegagalan

Beberapa upaya untuk membangun penilaian diri:


1. Seseorang harus jujur terhadap diri sendiri.
2. Berupaya mengenali diri sendiri dan belajar menerima semua kekurangan dan
kelebihannya.
3. Bersedia memperbaiki diri sendiri untuk mengatasi kekurangannya
4. Menetapkan tujuan dan berusaha mencapainya dengan tidak membandingkan diri
sendiri dengan orang lain
5. Selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik sesuai dengan kemampuan, tetapi
tidak boleh memaksakan diri.
B. Ciri-Ciri Gangguan Psikososial
1. Cemas
2. Khwatir berlebihan
3. Takut
4. Mudah tersinggung
5. Sulit konsentrasi, dan kecewa
6. Bersifat ragu-ragu/ merasa rendah diri
7. Pemarah dan agresif
8. Reaksif fisik: jantung berdebar-debar

Sehat jiwa
Pikiran logis
Persepsi akurat
Emosi konsisten

Masalah psikososial
Pikiran kadang menyimpang
Ilusi
Reaksi emosional

Gangguan jiwa
Waham
Halusinasi
Ketidak
mampuan

Prilaku sesuai
Hubungan sosial memuaskan

Prilaku kadang tidak sesuai


Menarik diri

mengendalikan emosi
Ketidak teratiran
Isolasi sosial

C. Pencegahan Asuhan Keperawatan Jiwa


Tingkat pencegahan ini membantu memelihara keseimbangan yang terdiri dari
penjegahan primer, sekunder, dan tersier.
1. Pencegahan Primer
Terjadi sebelum sistem bereaksi terhadap stessor, meliputi: promosi kesehatan
dan mempertahankan kesehatan. Pencegahan primer mengutamakan pada
pengutan dengan cara mencegah stress dan mengurangi faktor-faktor resiko.

Intervensi dilakukan jika resiko atau masalah sudah diidentifikasi tapi sebelum
reaksi terjadi. Strategi mencakup: pendidikan kesehatan, olahraga dan perubahan
gaya hidup.Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah :
a. Memberikan pendidikan yang dilakukan adalah :
1) Pendidikan menjadi orang tua
2) Pendidikan tentang perkembangan anak sesuai dengan usia
3) Memantau dan menstimulasi perkembangan
4) Mensosialisasi anak dengan lingkungan
b. Pendidikan kesehatan mengatasi stress :
1) Stress pekerjaan
2) Stress perkawinan
3) Stress sekolah
4) Stress pascabencana
c. Program dukungan sosial diberikan pada anak yatim piatu, individu yang
kehilangan pasangan, kehilangan pekerjaan, kehilangan rumah/ tempat
tinggal, yang semuanya ini mungkin terjadi akibat bencana. Beberapa
kegiatan yang dilakukan adalah :
1) Memberikan informasi tentang cara mengatasi kehilangan.
2) Menggerakan dukungan masyarakat seperti menjadi orang tua asuh bagi
anak yatim piatu.
3) Melatih keterampilan sesuai dengan keahliaan masing-masing untuk
mendapatkan pekerjaan.
4) Mendapatkan dukungan pemerintah dan LSM (Lembaga Survei
Masyarakat) untuk memperoleh tempat tinggal.
d. Program pencengahan penalahgunaan obat sering digunakan secagai kopoing
untuk mengatasi masalah. Kegiatan yang dilakukan :
1) Pendidikan kesehatan telatih koping positif untuk mengatasi stress
2) Latihan asertif yaitu mengungkapkan keinginan dan perasaan tanpa
menyakiti orag lain.
3) Latihan Afirmasi : dengan menguatkan aspek-aspek positif yang ada pada
diri seseorang.
e. Program pencengahan bunuh diri. Bunuh diri merupakan salah satu cara
penyelesaian masalah oleh individu yang mengalami keputusasaan. Oleh
karna itu dilakukan program :
1) Memberikan informasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat
tentang tanda-tanda bunuh diri
2) Menyediakan lingkungan yang aman untuk mencengah bunuh diri
3) Melatih keterampilan koping yang adaptif
2. Pencegahan Sekunder
Meliputi berbagai tindakan yang dimulai setelah ada gejala dari stressor.
Pencegahan sekunder mengutamakan pada penguatan, mengurangi reaksi dan

meningkatkan faktor-faktor resisten sehingga melindungi struktur dasar melalui


tindakan-tindakan yang tepat sesuai gejala. Tujuannya adalah untuk memperoleh
kestabilan sistem secara optimal dan memelihara energi. Jika pencegahan
sekunder ini tidak berhasil dan rekostitusi tidak terjadi maka struktur dasar tidak
dapat

mendukung

sistem

dan

intervensi-intervensinya.

Aktivitas

pada

pencegahan sekunder adalah:


a. Menemukan kasus sedini mungkin dengan cara memperoleh informasi dari
berbagai sumber seperti masyarakat, tim kesehatan lain, dan penemuan
langsung.
b. Melakukan penjaringan kasus dengan melakukan langkah- langkah sebagai
berikut:
1) Melakukan pengkajian dua menit untuk memperoleh data fokus pada
semua pasien yang berobat ke puskemas dengan keluhan fisik ( format
terlampir pada modul pencatatan dan pelaporan).
2) Jika ditemukan tanda- tanda yang berkaitan dengan kecemasaan dan
depresi maka lanjutkan pengkajian dengan menggunakan pengkajian
keperawatan kesehatan jiwa.
3) Mengumuman kepada masyrakat tentang gejala dini gangguan jiwa ( di
tempat- tempat umum).
4) Memberikan pengobatan secara cepat terhadap kasus baru yang
ditemukan sesuai dengan standar pendelegasian program pengobatan
( bekerja sama dengan dokter) dan memonitor efek samping pemberian
obat, gejala, dan kepatuhan pasien minum obat.
5) Bekerja sama dengan perawat komunitas dalam pemberian obat lain yang
dibutuhkan pasien untuk mengatasi gangguan fisik yang dialami ( jika
ada gangguan fisik yang memerlukan pengobatan).
6) Melibatkan keluarga dalam pemberian obat, mengajarkan keluarga agar
melaporkan segera kepada perawat jika ditemukan adanya tanda- tanda
yang tidak biasa, dan menginformasikan jadwal tindak lanjut.
7) Menangani kasus bunuh diri dengan menempatkan pasien ditempat yang
aman,

melakukan

pengawasan

ketat,

menguatkan

koping,

dan

memerlukan rujukan jika mengancam keselamatan jiwa. Menempatkan


pasien yang aman sebelum dirujuk dengan menciptakan lingkunagn yang
tenang, dan stimulus yang minimal.
8) Melakukan terapi modalitas yaitu berbagai terapi keperawatan untuk
membantu pemulihan seperti terapi aktivitas kelompok , terapi keluarga,
dan terapi lingkungan.

9) Memfasilitasi self-help group ( kelompok pasien, kelompok keluarga,


atau kelompok masyarakat pemerhati) berupa kegiatan kelompok yang
membahas masalah- masalah yang tekait dengan kesehatan jiwa dan cara
penyelesaiannya.
10) Menyediakan Hotline Service untuk intervensi krisis yaitu pelayanan
dalam 24 jam melalui telepon berupa pelayanan konseling.
11) Melakukan tindak lanjut ( follow-up) dan rujukan kasus.
3. Pencegahan Tersier
Dilakukan setelah sistem ditangani dengan strategi-strategi sekunder, pencegaan
tersier difokuskan pada perbaikan kembali ke arah stabilitas sistem klien secara
optimal. Tujuan utamanya adalah untuk memperkuat resistansi terhadap stressor
untuk mencegah reaksi timbul kembali atau regresi, sehingga dapat
mempertahankan energi. Aktivitas pada pencengahan tersier meliputi:
a. Program dukuangan sosial dengan menggerakan sumber-sumber di
masyarakat seperti sumber-sumber pendidikan, dukungan masyarakat
(tetangga, teman dekat, tokoh masyarakat) dan pelayanan terdekat yang
terjangkau masyarakat. Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah :
1) Pendidikan kesehatan tentang perilaku dan sikap masyarakat terhadap
penerimaan pasien gangguan jiwa
2) Penjelasan tentang pentingnya pemanfaatan pelayanan kesehatan dalam
penanganan pasien yang mengalami kekambuhan
b. Program rehabilitasi untuk memperdayakan pasien dan keluarga hingga
mandiri berfokus pada kekuatan dan kemapuan pasien dan leluarga degan
cara:
1) Meningkatkan kempuan koping yaitu belajar mengungkapkan dan
menyelesaikan masalah dengan cara yang tepat.
2) Mengembangkan sistem pendukung dengan memberdayakan keluarga
dan masyarakat.
3) Menyediakan pelatihan

kemampuan

dan

potensi

yang

perlu

dikembangkan oleh pasien, keluarga dan masyarakat agar pasien


produktif kembali.
4) Membantu pasien dan keluarga merencanakan dan mngambil keputusan
untuk dirinya.
c. Program sosialisasi
1) Membuat tempat pertemuan untuk sosialisasi
2) Mengembangkan keterampilan hidup (aktivitas hidup sehari-hari atau
ADL, pengelolaan rumah tangga, mengembangkan hobby)

3) Program rekreasi seperti nonton bersama, jalan santai, pergi ke tempat


rekreasi
4) Kegiatan sosial dan keagamaan (arisan bersama, pengajian, majlis talim,
kegiatan adat)
d. Program mencengah stigma. Stigma merupakan anggapan yang keliru dari
masyarakat terhadap gangguan jiwa. Oleh karna itu, perlu diberikan program
mencengah stigma untuk menghindari isolasi dan deskriminasi terhadap
pasien gangguan jiwa. Beberapa kegiatan yang dilakukan yaitu :
1) Memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat tentang kesehatan
jiwa dan gangguan jiwa, serta tentang sikap dan tindakan menghargai
pasien gangguan jiwa
2) Melakukan pendekatan pada tokoh masyarakat atau orang yang
berpengaruh dalam rangka mensosialisasikan kesehatan jiwa dan
gangguan jiwa
D. Perbedaan Keperawatan Komprehensif, Holistik dan Paripurna
1. Keperawatan Komprehensif
Pelayanan Keperawatan Komprehensif adalah pelayanan yang di fokuskan
pada pencengahan primer pada anggota masyarakat yang sehat jiwa, pencengahan
sekunder pada anggota masyarakat yang mengalami masalah psikososial (resiko
gangguan jiwa) dan pencengahan tersier pada pasien gangguan jiwa dengan
proses pemulihan
2. Keperawatan Holistik
Betty Neuman (dalam, Marriner- Tomey, 1994) mengubah istilah holistik
menjadi wholistik yang makna dan pengertiannya sama, yaitu memandang
manusia (klien) sebagai suatu keseluruhan yang bagian-bagiannya saling
mempengaruhi dan berinteraksi secara dinamis.\
Bagian-bagian tersebut meliputi fisiologis, psikologis, sosiokultural dan
spiritual. Perubahan istilah tersebut untuk meningkatkan pemahaman terhadap
manusia secara keseluruhan. Kozier (1995), mengemukakan bahwa dalam
holistik, memandang semua kehidupan organisme sebagai interaksi. Gangguan
pada satu bagian akan mengganggu sistem secara keseluruhan. Dengan kata lain
adanya gangguan pada salah satu bagian akan menimbulkan dampak pada
keseluruhan.
Erikson, Tomlin

dan

Swain

(dalam

Marriner-Tomey,

1994)

juga

mengemukaka tentang holism, yang memandang bahwa manusia adalah individu


secara keseluruhan yang terdiri dari banyak subsistem yang saling ketergantungan
dan tidak dapat. Holistik berkaitan dengan kesejahteraan (wellness) yang diyakini

mempunyai dampak terhadap status kesehatan manusia. Anspaugh (dalam


Kozier, 1995) menyatakan bahwa untuk mencapai kesehatan dan kesejahteraan,
ada lima dimensi yang saling terkait dan ketergantungan dan dimiliki oleh tiap
individu, yaitu:
a. Dimensi fisik
Kemampuan seseorang dalam melakukan aktivitas sehari-hari, pencapaian
kehehatan, memelihara nutrisi secara adekuat dan berat badan ideal, terhindar
dari ketergantungan obat dan alkohol atau rokok serta secara umum
melakukan kebiasan hidup positif.
b. Dimensi sosial
Terkait dengan kemampuan seseorang berinteraksi secara baik dengan orang
lain dan lingkungan, membina dan memelihara keakraban dengan orang lain
serta menghargai dan toleransi terhadap kepercayaan yang berbeda.
c. Dimensi emosional
Menekankan bahwa individu memiliki kemampuan untuk menghadapi stres
dan mengekspresikan emosi dengan baik. Kesejahteraan emosional, bila dapat
mengenal, menerima dan mengekspresikan perasaan dan kekurangan orang
lain.
d. Dimensi intelektual
Terkait dengan kemampuan seseorang untuk belajar dan menggunakan karier.
Kesejahteraan intelektual meliputi usaha meneruskan pertumbuhan dan
belajar menghadapi masalah baru secara efektif.
3. Keperawatan Paripurna
Pelayanan Keperawatan Paripurna adalah pelayanan pada semua jenjang
pelayanan yaitu dari pelayanan kesehatan jiwa spesialis, pelayanan kesehatan
jiwa integrative dan pelayanan kesehatan jiwa yang bersumber daya masyarakat.
Pemberdayaan seluruh potensi dan sumber daya yang ada di masyarakat di
upayakan agar terwujud masyarakat yang mandiri dari memelihara kesehatannya.
Pelayanan keperawatan paripurna akan di urai lebih mendalam dalam modul
pengorganisasian masyarakat. Pelayanan kesehatan diberikan seacra terus
menerus (continuity of care) dari kondisi sehat sampai sakit dan sebaliknya, baik
di rumah maupun di rumah sakit, (dimana saja orang berada), dari dalam
kandungan ampai lanjut usia