Anda di halaman 1dari 13

Pengertian

Merupakan massa yang padat dengan ketebalan yang berbeda-beda, yang disebabkan oleh sel tubuh
yang yang mengalami transformasi dan tumbuh secara autonom lepas dari kendali pertumbuhan sel
normal, sehingga sel tersebut berbeda dari sel normal dalam bentuk dan strukturnya. Secara patologi
kelainan ini mudah terkelupas dan dapat meluas ke retroperitonium, dapat terjadi obstruksi ureter atau
vena kava inferior. Massa jaringan fibrosis mengelilingi dan menentukan struktur yang di bungkusnya
tetapi tidak menginvasinya.
Bagian terbesar dari tumor abdomen terdiri dari neuroblastoma, tumor Wilms, teratoma, tumor ovarium,
limfoma abdomen, hepatoma dan lainlain. Pada umumnya anak dengan tumor abdomen hampir tidak
memberikan keluhan apabila masih dini, bahkan tidak jarang keluhan tidak atau belum timbul walaupun
tumor telah dapat diraba. Hal ini mungkin karena sifat rongga perut yang yang longgar, sehingga bila
ada massa di dalamnya, dapat tumbuh sampai cukup besar tanpa mengganggu organ di sekitarnya.
Gejala-gejala umum yang disebabkan oleh adanya kanker seperti lesu, lemah, badan makin kurus,
keringat berlebih, demam, pucat dan rasa nyeri dalam perut, perlu mendapatkan perhatian seksama
meskipun gejala seperti tersebut di atas dapat dijumpai pula pada berbagai penyakit infeksi kronis yang
masih banyak terdapat di Indonesia.
Biasanya adanya tumor dalam abdomen dapat diketahui setelah perut tampak membuncit dan keras
ataupun pada saat anak dimandikan. Apabila telah diketahui ada tumor dalam abdomen, selanjutnya
dilakukan pemeriksaan fisik dengan hati-hati dan lembut untuk menghindari trauma berlebihan yang
dapat mempermudah terjadinya tumor pecah ataupun metastasis. Ditentukan apakah letak tumornya
intraperitoneal atau retroperitoneal. Tetapi pada tumor yang terlalu besar sulit menentukan letak tumor
secara pasti. Demikian pula bila tumor yang berasal dari rongga pelvis telah mendesak ke rongga
abdomen.
Bagian- bagian dari tumor abdomen:
Neuroblastoma
Diagnosis dini tumor ini sulit. Sebagian besar datang dalam stadium lanjut sehingga diagnosis lebih
mudah ditegakkan tetapi angka kematiannya tinggi.
Tumor ini paling banyak berasal dari kelenjar adrenal dan gejala yang ditimbulkan merupakan akibat
dilepaskannya metabolit katekolamin secara berlebihan yaitu berupa hipertensi, kemerahan (flushing),
keringat yang berlebihan dan demam. Bila tumor telah membesar menyebabkan perasaan tidak nyaman
dan penuh dalam perut disertai penurunan berat badan sampai failure to thrive. Ditemukannya
benjolan-benjolan subkutis terutama di daerah kepala atau proptosis dan ekimosis periorbita,
merupakan gambaran penyakit yang lanjut atau metastasis.
Kadar vanillyl mandelic acid (VMA) ialah suatu derivat katekolamin biasanya meningkat dan dapat
ditemukan dalam urin penderita.
Pemeriksaan foto polos abdomen tidak jarang dapat ditemukan tanda-tanda perkapuran dalam massa
tumor dan pada pielografi intravena biasanya sistem pelviokalises masih baik hanya letaknya berubah.
Pemeriksaan USG dan CT scan dapat lebih mengetahui perluasan tumor dan metastasis.
Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan histopatologis tumor, kadang-kadang diperlukan
pemeriksaan imunohistokimia seperti neurofilament, synaptophysin dan neuron specific enolase (NSE)
Pada stadium lanjut dapat ditemukan kelompok-kelompok metastasis neuroblastoma dalam sumsum
tulang.

Nefroblastoma (Tumor Wilms)


Tumor ini berasal dari parenkim ginjal, oleh karena itu bila telah menyebar dapat menimbulkan
hematuria. Disamping itu dapat disertai hipertensi karena tumor ini dapat merangsang aktifitas renin.
Gejala tersebut dapat disertai nyeri, demam ataupun kadang-kadang anemia atau gejala tumor
abdomen umumnya.
Tumor Wilms disebut dalam kepustakaan dapat disertai aniridia dan hemihipertrofi, walaupun keadaan
tersebut sangat jarang. Pada pielografi intravena biasanya ditemukan gambaran sistem pelviokalises
yang rusak atau gambar hidronefrosis dan tidak jarang gambaran sekresi ginjal tidak tampak.
Pada stadium lanjut dapat ditemukan gambaran metastasis dalam paru. Ultrasonografi dan CT scan
walaupun tidak mutlak tetapi sangat membantu menegakkan diagnosis dan juga mencari metastasis.
Diagnosis pasti ditentukan dengan pemeriksaan histopatologi dari ginjal yang berisi tumor yang telah
diangkat pada laparatomi eksplorasi.
Limfoma Abdomen

Limfoma abdomen dapat timbul dari kelenjar getah bening di hati, limpa dan usus. Apabila timbul di hati
atau limpa akan menyebabkan hepatomegali atau splenomegali atau keduanya. Tetapi bila timbulnya di
usus, maka massa tumor dapat menyebabkan obstruksi usus atau sebagai leading point untuk
terjadinya intususepsi. Gejala yang dapat timbul ialah nyeri disertai pembengkakan perut dan perubahan
kebiasaan buang air besar serta gejala obstruksi usus serta mual dan muntah. Perdarahan saluran cerna
jarang terjadi apalagi perforasi usus. Biasanya pasien dengan gejala seperti tersebut di atas datang pada
ahli bedah. Pemeriksaan radiologik yang diperlukan ialah barium meal terutama bila obstruksinya
parsial. Dapat pula dilakukan pemeriksaan USG usus.

Teratoma
Tumor yang berasal dari sel germinativum ini dapat timbul di manamana. Tumor yang asalnya dari
rongga abdomen hanya sekitar 1-2% dan biasanya letaknya retroperitoneal. Kira-kira 29% teratoma
berasal dari ovarium. Teratoma retroperitoneal harus dibedakan dengan tumor Wilms, neuroblastoma
atau rhabdomiosarkoma.
Selain ditemukan massa tumor dalam abdomen yang biasanya cukup besar, untuk teratoma matur, pada
pemeriksaan foto polos abdomen dapat ditemukan gambaran gigi, tulang dan lain-lain.
Rhabdomiosarkoma
Umumnya sebagian tumor ini berasal dari rongga pelvis, tetapi bila sudah besar dapat mendesak ke
rongga abdomen sehingga secara klinis sukar dibedakan asalnya.
Tumor ini dapat memberikan gejala hematuria, sekret berdarah ataupun obstruksi saluran kemih. Pada
anak perempuan tumor dapat keluar melalui vagina khususnya jenis botryoid, sehingga diagnosis
menjadi lebih mudah.
Pemeriksaan penunjang lain untuk tumor ini tidak banyak memberikan bantuan kecuali pemeriksaan
histopatologis dan imunohistokimia seperti vimentin, actin, myosin dan desmin.
Penyebab terjadinya tumor abdomen:
Penyebab terjadinya tumor karena terjadinya pembelahan sel yang abnormal. Perbedaan sifat sel tumor
tergantung dari besarnya penyimpangan dalam bentuk dan fungsi autonominya dalam pertumbuhan,
kemampuannya mengadakan infiltrasi dan menyebabkan metastasis.
Banyak kondisi yang dapat menimbulkan abdomen akut. Secara garis besar, keadaan tersebut dapat
dikelompokkan dalam lima hal, yaitu :
1. Proses peradangan bakterial kimiawi;
2. Obstruksi mekanis : seperti pada volvulus, hernia, atau perlengketan;
3. Neoplasma/tumor : karsinoma, polipus, atau kehamilan ektopik;
4. Kelainan vaskuler : emboli, tromboemboli, perforasi, dan fibrosis;
5. Kelainan kongenital.
Adapun penyebab abdomen akut tersering adalah :
a. Kelainan traktus gastrointestinal : nyeri non-spesifik, appendisitis, infeksi usus halus dan usus besar,
hernia strangulata, perforasi ulkus peptik, perforasi usus, divertikulitis Meckel, sindrom Boerhaeve,
kelainan inflamasi usus, sindrom Mallory Weiss, gastroenteritis, gastritis akut, adenitis mesenterika.
b. Kelainan pankreas : pankreatitis akut
c. Kelainan traktus urinarius : kolik renal atau ureteral, pielonefritis akut, sistitis akut, infark renal.
d. Kalinan hati, limpa, dan traktus biliaris : kolesistitis akut, kolangitis akut, abses hati, ruptur tumor
hepar, ruptur spontan limpa, infark limpa, kolik bilier, hepatitis akut.
e. Kelainan ginekologi : kehamilan ektopik terganggu, tumor ovarium terpuntir, ruptur kista folikel
ovarium, salpingitis akut, dismenorea, endometriosis.
f. Kelainan vaskuler : ruptur aneurisma aorta dan viseral, iskemia kolitis akut, trombosis mesenterika.
g. Kelainan peritoneal : abses intraabdomen, peritonitis primer, peritonitis TBC.
h. Kelainan retroperitoneal : perdarahan retroperitoneal.
MANIFESTASI KLINIS
Keluhan yang menonjol adalah nyeri perut. Adapun jenis nyeri perut terdiri dari :
a) Nyeri Viseral
Terjadi bila terdapat rangsangan pada organ atau struktur dalam rongga perut. Peritonium visceral yang
menyelimuti organ perut dipersarafi oleh sistem saraf otonom dan tidak peka terhadap rabaan atau
pemotongan. Akan tetapi bila dilakukan regangan organ atau terjadi kontraksi yang berlebihan pada otot
yang menyebabkan iskhemia akan timbul nyeri. Pasien biasanya tidak dapat menunjukkan secara tepat

letak nyeri. Nyeri visceral disebut juga sebagai nyeri sentral.


Penderita memperlihatkan pola yang khas sesuai dengan persarafan organ embrional yang terlibat.
Saluran cerna yang berasal dari usus depan (foregut) menyebabkan nyeri di ulu hati atau epgastrium.
Saluran cerna yang berasal dari usus tengah (midgut) menyebabkan nyeri di sekitar umbilikus. Bagian
saluran cerna yang berasal dari usus belakang (hindgut) menyebabkan nyeri di perut bagian bawah.
Demikian juga nyeri dari buli-buli atau rektosigmoid. Karena tidak disertai rangsang peritonium nyeri ini
tidak dipengaruhi gerakan sehingga penderita dapat aktif bergerak.
Persarafan sensorik organ perut :
Organ atau struktur Saraf Tingkat persarafan
Bagian tengah diafragma n. frenikus C3-5
Tepi diafragma, lambung, pankreas, kandung empedu, usus halus Pleksus seliakus Th. 6-9
Apendiks, kolon proksimal, dan organ panggul Pleksus mesenterikus Th. 10-11
Kolon distal, rektum, ginjal, ureter, dan testis n. splanknikus kaudal Th. 11-L1
Buli-buli, rektosigmoid Pleksus hipogastrik S2-S3
b) Nyeri Somatik
Nyeri somatik terjadi karena rangsangan pada bagian yang dipersarafi oleh saraf tepi, dan luka pada
dinding perut. Nyeri dirasakan seperti ditusuk atau disayat, dan pasien dapat menunjukkan secara tepat
letaknya dengan jari. Rangsang yang menimbulkan nyeri ini berupa rabaan, tekanan, rangsang kimiawi
atau proses radang.
Gesekan antara visera yang meradang menimbulkan rangsang peritoneum dan menyebabkan nyeri.
Perdangannya sendiri maupun gesekan antar kedua peritoneum menyebabkan perubahan intensitas
nyeri. Gesekan inilah yang menjelaskan nyeri kontralateral pada apendisitis akut.
Letak nyeri somatik :
Letak Organ
Abdomen kanan atas Kandung empedu, hati, duodenum, pankreas, kolon, paru, miokard
Epigastrium Lambung, pankreas, duodenum, paru, kolon
Abdomen kiri atas Limpa, kolon, ginjal, pankreas, paru
Abdomen kanan bawah Apendiks, adneksa, sekum, ileum, ureter
Abdomen kiri bawah Kolon, adneksa, ureter
Suprapubik Buli-buli, uterus, usus halus
Periumbilikal Usus halus
Pinggang/punggung Pankreas, aorta, ginjal
Bahu Diafragma
1. Letak Nyeri Perut
Nyeri viseral dari suatu organ biasanya sesuai letaknya dengan asal organ tersebut pada masa
embrional. Sedangkan letak somatik biasanya dekat dengan organ sumber nyeri sehingga relatif mudah
menentukan penyebabnya.
2 .Sifat Nyeri
A. Nyeri Alih
Nyeri alih terjadi jika suatu segmen persarafan melayani lebih dari satu daerah. Misalnya, pada
kolesistitis akut, nyeri dirasakan di daerah ujung belikat. Pada abses di bawah diafragma atau
rangsangan karena radang atau trauma pada permukaan atas limpa atau hati juga dapat
mengakibatkan nyeri di bahu.
B. Nyeri Radiasi
Nyeri radiasi adalah nyeri yang menyebar di dalam sistem atau jalur anatomi yang sama. Misalnya kolik
ureter atau kolik pielum ginjal, biasanya dirasakan sampai ke alat kelamin luar pada wanita atau testis
pada pria.
C. Nyeri Proyeksi
Nyeri proyeksi adalah nyeri yang disebabkan oleh rangsangan saraf sensorik akibat cedera atau
peradangan saraf. Misalnya nyeri perifer setempat pada herpes zoster. Radang saraf ini pada herpes
zoster dapat menyebabkan nyeri hebat di dinding perut sebelum gejala atau tanda herpes zoster
menjadi jelas.
D. Hiperestesi
Hiperestesi atau hiperalgesi sering ditemukan di kulit jika ada peradangan pada rongga di bawahnya.
Pada gawat perut tanda ini sering ditemukan pada peritonitis setempat maupun peritonitis umum.
Nyeri yang timbul pada pasien dengan gawat abdomen dapat berupa nyeri yang terus menerus
(kontinyu) atau nyeri yang bersifat kolik.
E. Nyeri Kontinyu

Nyeri akibat rangsangan pada peritoneum parietale akan dirasakan terus menerus karena berlangsung
terus, misalnya pada reaksi radang. Perdarahan di saluran cerna tidak menimbulkan nyeri.
F. Nyeri Kolik
Kolik merupakan nyeri viseral akibat spasme otot polos organ berongga dan biasanya disebabkan oleh
hambatan pasase dalam organ tersebut.
G. Nyeri Iskemik
Merupakan tanda adanya jaringan yang terancam nekrosis. Lebih lanjut akan tampak tanda intoksikasi
umum karena resorbsi toksin dari jaringan nekrosis.
H. Nyeri Pindah
Kadang nyeri berubah sesuai dengan perkembangan patologi. Misalnya pada permulaan apendisitis,
sebelum radang mencapai permukaan peritoneum, nyeri viseral dirasakan sekitar pusat disertai rasa
mual sebab apendiks termasuk usus tengah. Setelah radang terjadi di seluruh dinding peritoneum,
terjadi nyeri akibat rangsangan peritoneum yang merupakan nyeri somatik. Saat ini nyeri dirasakan
tepat pada peritoneum yang meradang. Jika terjadi apendisitis gangrenosa, nyeri berubah lagi menjadi
nyeri iskemik yang hebat, menetap dan tidak menyurut.
Pencegahan
Pencegahan dilalukan berdasarkan fakta epidemologi terutama factor penyebab yaitu dengan
memberikan penyuluhan kepeda masyarakat maupun perorangan.
1. Pencegahan primer dimaksudkan untuk menghilangkan fakor penyebab masalah yang nyata .
Dalam gaya hidup adalah kebiasaan merokok sehingga yang penting sekali ialah mencegah remaja
mulai merokok dan mencegah adanya perokok pasif, masalah kelebihan makanan, pajangan sinar ultra
violt dan rotgen.
2. Pencegahan sekunder merupakan panapisan pada kelompok tertentu yang berisiko tinggi
Terhadap keganasan tersebut.
Penapisan ini bertitik tolak pada anggapan bahwa jika diagnosa ditegakkan dan terapi langsung
diberikan, maka hasil penanganan lebih baik ketimbang hasil pengobatan pada tingkat penyakit yang
telah menyebabkan seseorang mencari pengobatan.
PEMERIKSAAN PADA PASIEN TUMOR ABDUMEN
Berbagai pemeriksaan penunjang perlu pula dilakukan. Pemeriksaan darah tepi dan laju endap darah
masih tetap diperlukan untuk menentukan apakah tumor tersebut memang ganas dan apakah tumor
telah mengganggu sistem hematopoiesis, seperti perdarahan intra tumor atau metastasis ke sumsum
tulang dan lain-lain.
Kemudian dilakukan pemeriksaan foto polos abdomen dan khusus untuk tumor retroperitoneal
diperlukan pemeriksaan pielografi intravena. Selanjutnya pemeriksaan ultrasonografi dan atau CT-scan
dilakukan sesuai sarana dan prasarana. Adakalanya pemeriksaan ini juga dapat membantu menentukan
tumor itu ganas, yaitu bila ditemukan tidak adanya batas antara tumor dan jaringan sekitarnya yang
berarti tumor telah melakukan penyusupan atau mengadakan destruksi jaringan sekitarnya atau adanya
pembesaran kelenjar getah bening dan metastasis di tempat lain.
Untuk tumor yang diketahui menghasilkan produk metabolit tertentu atau marker, perlu diperiksa
kadarnya, sebaiknya sebelum dilakukan pengobatan untuk menunjang diagnosis. Pemeriksaaan ini
diulang secara berkala untuk menilai keberhasilan pengobatan dan kemungkinan residif.
Selanjutnya penderita dipersiapkan sebaik-baiknya untuk menjalani laparatomi eksplorasi. Saat itu
ditentukan apakah tumor dapat diangkat seluruhnya atau sebagian atau hanya dapat dilakukan biopsi.
Keterangan ini diperlukan untuk tindakan selanjutnya. Bila tumor dapat diangkat seluruhnya maka
stadium tetap, tetapi bila tumor hanya dapat diangkat sebagian (debulking) atau tumor pecah selama
operasi (spill), maka stadium dinaikkan setingkat. Untuk tumor yang hanya dapat dibiopsi, biasanya
dilanjutkan dengan kemoterapi atau radiasi dahulu dan setelah tumor mengecil dilakukan re-laparatomi.
Salah satu pemeriksaanyan adalah:
1.Anamnesis
Pada anamnesis penderita dengan gawat abdomen ditanya terlebih dahulu permulaan nyerinya (kapan
mulai, mendadak atau berangsur), letaknya (menetap, pindah atau beralih), keparahannya dan sifatnya
(seperti ditusuk, tekanan, terbakar, irisan, bersifat kolik), perubahannya (bandingkan dengan
permulaan), lamanya, apakah berkala, dan faktor apakah yang mempengaruhinya (adakah yang
memperingan atau memberatkan seperti sikap tubuh, makanan, minuman, nafas dalam, batuk, bersin,
defekasi, miksi).

Harus ditanyakan apakah pasien pernah nyeri seperti ini.


Muntah sering ditemukan pada penderita gawat perut. Pada obstruksi usus tinggi muntah tidak akan
berhenti, malahan biasanya bertambah hebat. Sembelit (konstipasi) didapatkan pada obstruksi usus
besar dan pada peritonitis umum.
Nyeri tekan didapatkan pada letak iritasi peritonium. Jika ada peradangan peritonium setempat
ditemukan tanda rangsang peritonium yang sering disertai defans muskuler. Pertanyaan mengenai
defekasi, miksi, daur menstruasi dan gejala lain seperti keadaan sebelum diserang tanda gawat perut,
harus dimasukkan dalam anamnesis.
2 Pemeriksaan Fisik
Langkah pemeriksaan fisik penderita gawat perut :
1. Umum:
- inspeksi umum
- tanda sistemik
- suhu badan (rektal dan aksiler)
2. Abdomen:
- Inspeksi: Perut yang distensi dengan bekas operasi dapat memberikan petunjuk adanya
perlengketan usus.
Abdomen yang berkontraksi di daerah skafoid terjadi pada pasien perforasi ulkus.
Peristaltik usus yang terlihat pada pasien yang kurus menunjukkan adanya obstruksi usus.
- Auskultasi:
Bising usus yang meningkat dengan kolik terdengar pada pasien obstruksi usus halus bagian tengah
dan awal pankreatitis akut. Suara tersebut berbeda dengan bising hiperperistaltik bernada tinggi yang
tidak berhubungan dengan nyeri tekan pada gastroenteritis, disentri, dan kolitis ulseratif fulminan.
Bising usus yang menurun, kecuali suara yang tidak teratur atau lemah, menandakan terjadinya
obstruksi atau peritonitis difus.
- Nyeri batuk:
Pasien diminta untuk batuk dan menunjukkan daerah yang paling nyeri. Iritasi peritonel dapat
diyakinkan dengan pemeriksaan ini tanpa harus menimbulkan nyeri pada pasien untuk mencari nyeri
lepas. Tidak seperti nyeri parietal pada peritonitis, kolik adalah nyeri viseral dan jarang diperberat
dengan inspirasi dalam atau batuk.
- Perkusi:
Terdapatnya nyeri pada perkusi yang berlokasi sama dengan nyeri lepas, menunjukkan iritasi
peritoneal dan nyeri parietal.
Pada perforasi, udara bebas akan berkumpul di bawah diafragma dan menghilangkan pekak hati.
Timpani di sekitar garis tengah pada abdomen yang distensi menunjukkan adanya udara yang
terperangkap pada usus yang berdistensi.
Cairan bebas dalam peritoneal dapat ditemukan dengan shifting dullness positif.
- Palpasi: Nyeri yang menunjukkan adanya inflamasi peritoneal mungkin adalah hal terpenting yang
ditemukan pada pasien dengan abdomen akut.
Nyeri berbatas tegas ditemui pada kolesistitis akut, apendisitis, divertikulitis dan salpingitis akut.
Bila ada nyeri difus tanpa penekanan harus dicurigai adanya gastroenteritis atau proses inflamasi usus
tanpa peritonitis lainnya.
Massa intraabdomen kadang-kadang ditemukan dengan melakukan palpasi dalam. Lesi superfisial,
seperti kantung empedu yang membengkak atau abses apendiks sering menimbulkan nyeri dengan
batas tegas. Dengan tanda Murphy (palpasi pada daerah subkostal kanan pada saat pasien melakukan
inspirasi dalam) dapat ditemukan adanya radang akut kantung empedu.
Tanda illiopsoas : paha diekstensikan secara pasif atau secara aktif melawan tahanan. Uji ini positif
pada abses di daerah psoas yang berasal dari abses perinefrik atau perforasi penyakit Crohn.
Tanda obturator : nyeri pada tungkai fleksi saat dilakukan rotasi internal atau eksternal.
Nyeri ketok di bawah iga menunjukkan adanya inflamasi pada diafragma, hepar, limpa, atau jaringan
penunjangnya.
Nyeri pada sudut kostovertebral sering terjadi pada pielonefritis akut.
- Pemeriksaan cincin inguinal dan femoral.
- Pemeriksaan colok dubur.
Tanda pemeriksaan fisik pada berbagai gambaran gawat perut :

Keadaan Tanda klinik penting


Awal perforasi saluran cerna atau saluran lain Perut tampak cekung, tegang; bunyi usus kurang aktif,
pekak hati hilang, nyeri tekan, defans muskuler
Peritonitis Penderita tidak bergerak, bunyi usus hilang, nyeri batuk, nyeri gerak, nyeri lepas, defans
muskuler, tanda infeksi umum, keadaan umum merosot
Massa infeksi atau abses Massa nyeri (abdomen, pelvik, rektal), nyeri tinju, uji lokal (psoas), tanda
umum radang.
Obstruksi usus Distensi perut; peristalsis hebat (kolik usus) yang tampak dinding perut terdengar
(borborigmi), dan terasa (oleh penderita yang bergerak); tidak ada rangsangan peritoneum
Ileus paralitik Distensi, bunyi peristalsis kurang atau hilang, tidak ada nyeri tekan lokal
Iskemia/strangulasi Distensi tidak jelas (lama), bunyi usus mungkin ada, nyeri hebat sekali, nyeri tekan
kurang jelas, jika kena usus mungkin keluar darah dari rektum, tanda toksis
Perdarahan Pucat, syok, mungkin distensi, berdenyut jika aneurisma aorta, nyeri tekan lokal pada
kehamilan ektopik, cairan bebas (pekak geser), anemia
Proses patologik yang mengakibatkan gawat abdomen :
Penyebab Contoh.
1. Radang Appendisitis akut
2. perforasi apendiks
3. Perforasi tukak lambung
4. perforasi usus tifus
5. pankreatitis akut
6. kolesistitis akut
7. adneksitis akut
8. leus obstruktif Hernia inkarserata
9. Volvulus usus
10. Iskemia Hernia strangulata
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan antara lain pemeriksaan darah, urine, dan feses. Sedangkan
pemeriksaan radiologis adalah foto polos dada, foto polos abdomen, angiografi, pemeriksaan dengan
kontras, ultrasonografi (USG), CT-Scan, endoskopi, dan parasintesis.
Pada foto polos abdomen , gambaran gas difus dengan udara mencapai ampula rekti menunjukkan
adanya ileus paralitik, khususnya bila bising usus menghilang. Distensi usus yang berisi gas terjadi pada
obstruksi usus. Air fluid level terjadi pada obstruksi usus halus bagian distal. Distensi sekum dengan
usus halus yang mengalami dilatasi terjadi pada obstruksi usus besar.
DIAGNOSIS
Nyeri Sentral
Jika terdapat nyeri sentral hebat terpusat di perut dapat dipikirkan kemungkinan tahap awal obstruksi
usus halus, apendisistis, dan pankreatitis walaupun yang terakhir ini jarang ditemukan. Jika sewaktu
pengamatan terjadi perkembangan klinis seperti kenaikan suhu, muntah, atau nyeri tekan lokal,
diagnosis akan lebih jelas.
Bila nyeri sentral hebat diikuti shok, harus dipikirkan volvulus usus halus,kehamilan ektopik yang
terganggu, pankreatitis akut, oklusi koroner jantung, oklusi vena mesenterika, atau aneurisma yang
robek atau pecah.
Bila ditemukan defans muskuler, perlu dipikirkan perforasi tukak peptik atau perforasi saluran cerna.
Kolik
Nyeri ini disertai muntah dan distensi yang makin besar tapi tanpa defans muskuler yang jelas mungkin
disebabkan oleh obstruksi usus halus.
Nyeri Lokal dan Rangsang Peritoneum Lokal
Nyeri setempat disertai nyeri tekan dan defans muskuler di tempat nyeri banyak penyebabnya
tergantung letak nyeri.
Obstruksi Usus
Obstruksi usus halus menyebabkan nyeri kolik dengan muntah hebat, distensi perut, dan bunyi
peristalsis tinggi. Pada penderita ini harus dipikirkan adanya hernia strangulata. Muntah menonjol pada
obstruksi tinggi.
Volovulus usus halus jarang ditemukan, biasanya pada anamnesis didapatkan nyeri yang bermula akut,
tidak berlangsung lama, menetap, disertai muntah hebat dan pada palpasi teraba massa yang nyeri dan
bertambah besar. Biasanya penderita jatuh ke dalam syok.
Ileus obstruksi usus besar agak sering menyebabkan serangan kolik yang tidak terlalu hebat. Muntah

tidak menonjol, tetapi distensi tampak jelas. Penderita tidak dapat defekasi atau flatus, dan bila
penyebabnya volvulus sigmoid perut dapat besar sekali. Bila pada colok dubur teraba massa di rektum
atau terdapat darah dan lendir, maka itu membantu diagnosis kemungkinan karsinoma rektum.
Perforasi
Perforasi tukak peptik ditandai oleh perangsangan peritoneum yang mulai di epigastrium dan meluas ke
seluruh peritoneum akibat peritonitis generalisata. Perforasi ileum pada tifus biasanya terjadi pada
penderita yang demam kurang lebih dua minggu disertai nyeri kepala, batuk, dan malaise yang disusul
oleh nyeri perut, nyeri tekan, defans muskuler, dan keadaan umum yang merosot.
Kolitis
Kolitis amuba ditandai dengan kolitis hebat dengan pengeluaran lendir dan darah melalui anus disertai
tanda perforasi.
Trauma
Trauma dapat mengakibatkan ruptur organ perut dengan perdarahan dan perforasi usus.
Organ Urogenital
Gawat perut dapat disebabkan oleh kelainan organ kelamin dan saluran kemih. Radang akut (pielitis)
atau pienefros atau kolik ureter (batu atau gumpalan darah) menyebabkan tanda yang mirip gawat
perut. Gawat perut dengan penderita yang langsung kolaps disebabkan oleh nyeri yang hebat. Sifat
nyeri, cara timbulnya pada permulaan, dan perjalanan selanjutnya penting untuk menegakkan
diagnosis. Nyeri yang timbul mendadak dan tidak tertahankan mungkin merupakan kolik ureter.
Sumber Nyeri : Organ atau Sistem Kelainan
Saluran cerna Apendisitis akut
Perforasi tukak peptic
Perforasi usus karena tifus
Obstruksi usus halus atau usus besar
Hernia inkarserata
Volvulus usus
Gastroenteritis
Kandung/saluran empedu Kolesistitis akut
Kolangitis akut
Kolik empedu
Hati, pankreas, dan limpa Abses hati
Hepatitis akut
Pankreatitis akut
Ruptur limpa
Saluran kemih Kolik ureter
Pielonepritis akut
Alat kelamin dalam Kehamilan ektopik terganggu
Puntiran kista ovarium
Ruptur kista folikel ovarium
Salpingitis akut (PID)
Abses tubo-ovarial endometriosis
DIAGNOSIS BANDING
Kelainan organ dalam yang tidak memerlukan tindak bedah kadang mencemaskan karena dapat timbul
tiba-tiba dan menyebabkan keadaan umum merosot cepat. Yang terkenal ialah gastroenteritis akut,
pnemonia akut, infeksi virus akut antara lain demam berdarah dengue.
Diagnosis banding gawat perut juga termasuk kelainan ekstraabdomen yang menyebabkan nyeri di
abdomen seperti kelainan di toraks misalnya penyakit jantung, paru atau pleura, kelainan neurogen,
kelainan metabolik dan keracunan. Pada keadaan ini gejala dan tanda umum dan nyeri perut sering
cukup jelas tetapi pada pemeriksaan perut tidak ditemukan kelainan. Nyeri tekan perut kontralateral
atau nyeri lepas mustahil disebabkan oleh kelainan di toraks.
Kadang sukar membedakan kelainan akut di perut yang disertai nyeri perut dengan kelainan akut di
toraks yang menyebabkan nyeri perut. Umumnya pada anamnesis nyata bahwa penyakit organ toraks
tidak didahului atau disertai dengan mual atau muntah. Kelainan perut umumnya tidak mulai dengan
panas tinggi atau menggigil (kecuali pada pielitis dan tifus), sedangkan panas tinggi dengan gigilan
lazim ditemukan sebagai tanda awal pada kelainan akut toraks. Pada pemeriksaan perut pun tidak
ditemukan tanda rangsangan peritoneum.

Kelainan ekstra abdomen yang menyebabkan nyeri perut :


Letak/keadaan Penyebab
Toraks (nyeri alih) kardiopulmoner Infark jantung
Perikarditis akut
Pleuritis akut/pneumonia/empyema
Pneumotoraks/embolus paru
Neurogenik Tumor sumsum belakang
Tekanan pada (akar) saraf interkostal
Herpes zoster
Kelainan endokrin/metabolik Hiperglikemia diabetes (ketoasidosis)
Uremia
Intoksikasi Sengatan serangga
Obat-obatan
timah
Hematom sarung m. rectus abdomen. Dan Lain-lain
Perbedaan tanda dan gejala gawat perut dan kelainan paru/pleura akut
1.Tanda/gejala Abdomen Toraks
2.Anamnesis Sebelum tanda awal
3.Nafsu makan Turun 4.Bisa Kolik Mungkin Tidak
5.Diare Mungkin Tidak
6.influenza Tidak Sering
7.Infeksi jalan napas Tidak Biasa
Permulaan:
a. Panas tinggi Tidak Biasa
b. Gigilan Tidak Biasa
c. Mual/muntah Biasa, Tidak/jarang
d. Nyeri perut pindah ke bawah Mungkin Tidak
Pemeriksaan fisik :
Penampilan wajah
Dari bagian Pipi
Normal/pucat Merah
Cuping hidung Tenang Bergerak sesuai dengan gerak napas
Herpes pada bibir Jarang atau Mungkin sekali
Penampilan kulit
Suhu dingin Mungkin panas
Kelembaban, Mungkin lembab Mungkin kering
Rasio denyut nadi/pernapasan Tidak tentu Mengurang
Dinding perut Mungkin tegang atau Jarang tegang
Nyeri bahu Sering ada Diatas atau dibawah klavikula
Uji tertentu
Illiopsoas Mungkin posistif atau Selalu negatif
Obturator Jarang positif atau Selalu negatif
Nyeri testis Dapat ditemukan dan Selalu negatif
Colok dubur Dapat ditemukan kelainan tertentu dan Selalu negatif
Pemeriksaan toraks Ronki mungkin ada pada kelainan perut atas Sesuai dengan kelainan paru atau
pleura
PEMERIKSAAN PENUNJANG
-

Uji dubur digital


X ray
Sigmoidoscope
Fiber optik plexible scope
Ultra sonografi.
Laboratorium.

Konsep Keperawatan Perioperatif


Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi
keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien. Istilah perioperatif adalah suatu
istilah gabungan yang mencakup tiga fase pengalaman pembedahan, yaitu: preoperative phase,
intraoperative phase dan post operative phase. Masing- masing fase di mulai pada waktu tertentu dan
berakhir pada waktu tertentu pula dengan urutan peristiwa yang membentuk pengalaman bedah dan
masing-masing mencakup rentang perilaku dan aktivitas keperawatan yang luas yan dilakukan oleh
perawat dengan menggunakan proses keperawatan dan standar praktik keperawatan. Disamping
perawat kegiatan perioperatif ini juga memerlukan dukungan dari tim kesehatan lain yang berkompeten
dalam perawatan pasien sehingga kepuasan pasien dapat tercapai sebagai suatu bentuk pelayanan
prima.
Berikut adalah gambaran umum masing-masing tahap dalam keperawatan perioperatif
Fase pra operatif dimulai ketika ada keputusan untuk dilakukan intervensi bedah dan diakhiri ketika
pasien dikirim ke meja operasi. Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup
penetapan pengkajian dasar pasien di tatanan klinik ataupun rumah, wawancara pra operatif dan
menyiapkan pasien untuk anstesi yang diberikan dan pembedahan.
Fase intra operatif dimulai ketika pasien masuk atau dipindah ke instalasi bedah dan berakhir saat
pasien dipindahkan ke ruang pemulihan. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan mencakup
.Pemasangan IV cath, pemberian medikasi intaravena, melakukan pemantauan kondisi fisiologis
menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. Contoh : memberikan
dukungan psikologis selama induksi anstesi, bertindak sebagai perawat scrub, atau membantu mengatur
posisi pasien d atas meja operasi dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesimetrisan tubuh.
Fase pasca operatif dimulai dengan masuknya pasien ke ruang pemulihan (recovery room) dan berakhir
dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik atau di rumah. Lingkup aktivitas keperawaan mecakup
renatang aktivitas yang luas selama periode ini. Pada fase ini fokus pengkajian meliputi efek agen
anstesi dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. Aktivitas keprawatan kemudian berfokus
pada peningkatan penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan, perawatan tindak lanjut dan
rujukan yang penting untuk penyembuhan dan rehabilitasi serta pemulangan.
Contoh Aktivitas Keperawatan dalam Peran Perawat Perioperatif
FASE PRAOPERATIF
FASE INTRAOPERATIF
FASE POSTOPERATIF
Pengkajian:
Rumah/Klinik:
1. Melakukan pengkajian perioperatif awal
2 .Merencanakan metode penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan pasien
3. Melibatkan keluarga dalam wawancara.
4. Memastikan kelngkapan pemeriksaan pra operatif
5 Mengkaji kebutuhan klien terhadap transportasi dan perawatan pasca operatif
Unit Bedah :
1. Melengkapi pengkajian praoperatif
2. Koordianasi penyuluhan terhadap pasien dengan staf keperawatan lain.
3. Menjelaskan fase-fase dalam periode perioperatif dan hal-hal yang diperkirakan terjadi.
4. Membuat rencana asuhan keperawatan
Ruang Operasi :
1. Mengkaji tingkat kesadaran klien.
2. Menelaah ulang lembar? observasi pasien (rekam medis)
3. Mengidentifikasi pasien
4. Memastikan daerah pembedahan
Perencanaan :
1. Menentukan rencana asuhan
2. Mengkoordinasi pelayanan dan sumber-sumber yang sesuai (contoh: Tim Operasi)
Dukungan Psikologis :
1. Memberitahukan pada klien apa yang terjadi
2. Menentukan status? psikologis
3. Memberikan isyarat sebelumnya tentang rangsangan yang merugikan, seperti : nyeri.
4. Mengkomunikasikan status emosional pasien pada anggota tim kesehatan yang lain yang berkaitan.

Safety Managenent :
1. Atur posisi klien :
a. Kesejajaran fungsional
b.Pemajanan area pembedahan
c. Mempertahankan posisi sepanjang prosedur operasi
2. Memasang alat grounding ke pasien
3. Memberikan dukungan fisik
4. Memastikan bahwa jumlah spongs, jarum da instrumen tepat.
Pemantauan Fisiologis :
1. Melakukan balance cairan
2. Memantau kondisi cardiopulmonal
3. Pemantauan terhdap perubahan vital sign
Dukungan Psikologis (sebelum induksi dan bila pasien sadar)
1 . Memberikan dukungan emosional pada pasien
2. Berdiri di dekat klien dan memberikan sentuhan selama prosedur induksi
3. Mengkaji status emosional klien
4. Mengkomunikasikan status emosional klien kepada tim kesehatan.
Penatalaksanaan Keperawatan :
1. Melakukan prosedur keselamatan bagi klien
2. Mempertahankan lingkugan aseptik dan terkontrol
3. Mengelola sumber daya manusia secara efektif.
Komunikasi dari Informasi Intra operatif :
1. Menyebutkan nama pasien
2 .Menjelaskan jenis pembedahan yang dilakukan
3. Menggambarkan faktor-faktor intraoperatif, meliputi pemasangan drain atau kateter, kekambuhan
peristiwa-peristiwa yang tidak diperkirakan.
4. Menjelaskan pembatasan fisik dan keterbatasan fisik yang dialami pasien.
5. Menerangkan gangguan akibat pembedahan
6. Melaporkan tingkat kesadaran praoperatif klien
7. Mengkomunikasikan tentang peralatan yang diperlukan.
Pengkajian Pasca operatif di Rocovery Room :
1. Menentukan respon segera pasien terhadap pembedahan
Unit Bedah :
1 . Mengevaluasi efektivitas dari asuhan keperawatan di ruang operasi.
2. Menentukan tingkat kepuasan pasien
3. Mengevaluasi produk-produk yang digunakan pada pasien di ruang operasi.
4. Menetukan status psikologi pasien
5. Membantu dalam perencanaan pemulangan
Rumah/Klinik :
1. Kaji persepsi pasien tentang pembedahan dalam kaitannya dengan agen anastesi, damapak pada
citra tubuh, penyimpangan dan immobilisasi
2. Tentkan persepsi keluarga tentang pembedahan.
TAHAPAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF
Keperawatan perioperatif dibagi menjadi 3 tahapan, yaitu :
a. Keperawatan Pre Operatif
Keperawatan pre operatif merupakan tahapan awal dari keperawatan perioperatif. Kesuksesan tindakan
pembedahan secara keseluruhan sangat tergantung pada fase ini. Hal ini disebabkan fase ini merupakan
awalan yang menjadi landasan untuk kesuksesan tahapan-tahapan berikutnya. Kesalahan yang
dilakukan pada tahap ini akan berakibat fatal pada tahap berikutnya. Pengakajian secara integral dari
fungsi pasien meliputi fungsi fisik biologis dan psikologis sangat diperlukan untuk keberhasilan dan
kesuksesan suatu operasi.
PERSIAPAN KLIEN DI UNIT PERAWATAN
I. PERSIAPAN FISIK
Persiapan fisik pre operasi yang dialami oleh pasien dibagi dalam 2 tahapan, yaitu :
a. Persiapan di unit perawatan

b. Persiapan di ruang operasi


Berbagai persiapan fisik yang harus dilakukan terhadap pasien sebelum operasi antara lain :
a. Status kesehatan fisik secara umum
Sebelum dilakukan pembedahan, penting dilakukan pemeriksaan status kesehatan secara umum,
meliputi identitas klien, riwayat penyakit seperti kesehatan masa lalu, riwayat kesehatan keluarga,
pemeriksaan fisik lengkap, antara lain status hemodinamika, status kardiovaskuler, status pernafasan,
fungsi ginjal dan hepatik, fungsi endokrin, fungsi imunologi, dan lain-lain. ?Selain itu pasien harus
istirahat yang cukup, karena dengan istirahat dan tidur yang cukup pasien tidak akan mengalami stres
fisik, tubuh lebih rileks sehingga bagi pasien yang memiliki riwayat hipertensi, tekanan darahnya dapat
stabil dan bagi pasien wanita tidak akan memicu terjadinya haid lebih awal.
b. Status Nutrisi
Kebutuhan nutrisi ditentukan dengan mengukur tinggi badan dan berat badan, lipat kulit trisep, lingkar
lengan atas, kadar protein darah (albumin dan globulin) dan keseimbangan nitrogen. Segala bentuk
defisiensi nutrisi harus di koreksi sebelum pembedahan untuk memberikan protein yang cukup untuk
perbaikan jaringan. Kondisi gizi buruk dapat mengakibatkan pasien mengalami berbagai komplikasi
pasca operasi dan mengakibatkan pasien menjadi lebih lama dirawat di rumah sakit. Komplikasi yang
paling sering terjadi adalah infeksi pasca operasi, dehisiensi (terlepasnya jahitan sehingga luka tidak
bisa menyatu), demam dan penyembuhan luka yang lama. Pada kondisi yang serius pasien dapat
mengalami sepsis yang bisa mengakibatkan kematian.
c. Keseimbangan cairan dan elektrolit
Balance cairan perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan input dan output cairan. Demikaian juga
kadar elektrolit serum harus berada dalam rentang normal. Kadar elektrolit yang biasanya dilakuakan
pemeriksaan diantaranya dalah kadar natrium serum (normal : 135 -145 mmol/l), kadar kalium serum
(normal : 3,5 ? 5 mmol/l) dan kadar kreatinin serum (0,70 ? 1,50 mg/dl). Keseimbangan cairan dan
elektrolit terkait erat dengan fungsi ginjal. Dimana ginjal berfungsi mengatur mekanisme asam basa dan
ekskresi metabolit obat-obatan anastesi. Jika fungsi ginjal baik maka operasi dapat dilakukan dengan
baik. Namun jika ginjal mengalami gangguan seperti oliguri/anuria, insufisiensi renal akut, nefritis akut
maka operasi harus ditunda menunggu perbaikan fungsi ginjal. Kecuali pada kasus-kasus yang
mengancam jiwa.
d. Kebersihan lambung dan kolon
Lambung dan kolon harus di bersihkan terlebih dahulu. Intervensi keperawatan yang bisa diberikan
diantaranya adalah pasien dipuasakan dan dilakukan tindakan pengosongan lambung dan kolon dengan
tindakan enema/lavement. Lamanya puasa berkisar antara 7 sampai 8 jam (biasanya puasa dilakukan
mulai pukul 24.00 WIB). Tujuan dari pengosongan lambung dan kolon adalah untuk menghindari
aspirasi (masuknya cairan lambung ke paru-paru) dan menghindari kontaminasi feses ke area
pembedahan sehingga menghindarkan terjadinya infeksi pasca pembedahan. Khusus pada pasien yang
menbutuhkan operasi CITO (segera), seperti pada pasien kecelakaan lalu lintas. Maka pengosongan
lambung dapat dilakukan dengan cara pemasangan NGT (naso gastric tube).
e. Pencukuran daerah operasi
Pencukuran pada daerah operasi ditujukan untuk menghindari terjadinya infeksi pada daerah yang
dilakukan pembedahan karena rambut yang tidak dicukur dapat menjadi tempat bersembunyi kuman
dan juga mengganggu/menghambat proses penyembuhan dan perawatan luka. Meskipun demikian ada
beberapa kondisi tertentu yang tidak memerlukan pencukuran sebelum operasi, misalnya pada pasien
luka incisi pada lengan. Tindakan pencukuran (scheren) harus dilakukan dengan hati-hati jangan sampai
menimbulkan luka pada daerah yang dicukur. Sering kali pasien di berikan kesempatan untuk mencukur
sendiri agar pasien merasa lebih nyaman.
Daeran yang dilakukan pencukuran tergantung pada jenis operasi dan daerah yang akan dioperasi.
Biasanya daerah sekitar alat kelamin (pubis) dilakukan pencukuran jika yang dilakukan operasi pada
daerah sekitar perut dan paha. Misalnya : apendiktomi, herniotomi, uretrolithiasis, operasi pemasangan
plate pada fraktur femur, hemmoroidektomi. Selain terkait daerah pembedahan, pencukuran pada
lengan juga dilakukan pada pemasangan infus sebelum pembedahan. ?
f. Personal Hygine
Kebersihan tubuh pasien sangat penting untuk persiapan operasi karena tubuh yang kotor dapat
merupakan sumber kuman dan dapat mengakibatkan infeksi pada daerah yang dioperasi. Pada pasien
yang kondisi fisiknya kuat diajurkan untuk mandi sendiri dan membersihkan daerah operasi dengan lebih
seksama. Sebaliknya jika pasien tidak mampu memenuhi kebutuhan personal hygiene secara mandiri
maka perawat akan memeberikan bantuan pemenuhan kebutuhan personal hygiene.
g. Pengosongan kandung kemih

Pengosongan kandung kemih dilakukan dengan melakukan pemasangan kateter. Selain untuk
pengongan isi bladder tindakan kateterisasi juga diperluka untuk mengobservasi balance cairan.
h. Latihan Pra Operasi
Berbagai latihan sangat diperlukan pada pasien sebelum operasi, hal ini sangat penting sebagai
persiapan pasien dalam menghadapi kondisi pasca operasi, seperti : nyeri daerah operasi, batuk dan
banyak lendir pada tenggorokan.
Latihan yang diberikan pada pasien sebelum operasi antara lain :
1. Latihan Nafas Dalam
Latihan nafas dalam sangat bermanfaat bagi pasien untuk mengurangi nyeri setelah operasi dan dapat
membantu pasien relaksasi sehingga pasien lebih mampu beradaptasi dengan nyeri dan dapat
meningkatkan kualitas tidur. Selain itu teknik ini juga dapat meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi
darah setelah anastesi umum. Dengan melakukan latihan tarik nafas dalam secara efektif dan benar
maka pasien dapat segera mempraktekkan hal ini segera setelah operasi sesuai dengan kondisi dan
kebutuhan pasien.
Latihan nafas dalam dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
Pasien tidur dengan posisi duduk atau setengah duduk (semifowler) dengan lutut ditekuk dan perut
tidak boleh tegang.
Letakkan tangan diatas perut
Hirup udara sebanyak-banyaknya dengan menggunakan hidung dalam kondisi mulut tertutup rapat.
Tahan nafas beberapa saat (3-5 detik) kemudian secara perlahan-lahan, udara dikeluarkan sedikit demi
sedikit melalui mulut.
Lakukan hal ini berulang kali (15 kali)
Lakukan latihan dua kali sehari praopeartif.
2. Latihan Batuk Efektif
Latihan batuk efektif juga sangat diperlukan bagi klien terutama klien yang mengalami operasi dengan
anstesi general. Karena pasien akan mengalami pemasangan alat bantu nafas selama dalam kondisi
teranastesi. Sehingga ketika sadar pasien akan mengalami rasa tidak nyaman pada tenggorokan.
Dengan terasa banyak lendir kental di tenggorokan. Latihan batuk efektif sangat bermanfaat bagi pasien
setalah operasi untuk mengeluarkan lendir atau sekret tersebut.
Pasien dapat dilatih melakukan teknik batuk efektif dengan cara :
Pasien condong ke depan dari posisi semifowler, jalinkan jari-jari tangan dan letakkan melintang diatas
incisi sebagai bebat ketika batuk.
Kemudian pasien nafas dalam seperti cara nafas dalam (3-5 kali)
Segera lakukan batuk spontan, pastikan rongga pernafasan terbuka dan tidak hanya batuk dengan
mengadalkan kekuatan tenggorokan saja karena bisa terjadi luka pada tenggorokan.
Hal ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan, namun tidak berbahaya terhadap incisi.
Ulangi lagi sesuai kebutuhan.
Jika selama batuk daerah operasi terasa nyeri, pasien bisa menambahkan dengan menggunakan bantal
kecil atau gulungan handuk yang lembut untuk menahan daerah operasi dengan hati-hati sehingga
dapat mengurangi guncangan tubuh saat batuk.
3. Latihan Gerak Sendi
Latihan gerak sendi merupakan hal sangat penting bagi pasien sehingga setelah operasi, pasien dapat
segera melakukan berbagai pergerakan yang diperlukan untuk mempercepat proses penyembuhan.
Pasien/keluarga pasien seringkali mempunyai pandangan yang keliru tentang pergerakan pasien setelah
operasi. Banyak pasien yang tidak berani menggerakkan tubuh karena takut jahitan operasi sobek atau
takut luka operasinya lama sembuh. Pandangan seperti ini jelas keliru karena justru jika pasien selesai
operasi dan segera bergerak maka pasien akan lebih cepat merangsang usus (peristaltik usus) sehingga
pasien akan lebih cepat kentut/flatus. Keuntungan lain adalah menghindarkan penumpukan lendir pada
saluran pernafasan dan terhindar dari kontraktur sendi dan terjadinya dekubitus. Tujuan lainnya adalah
memperlancar sirkulasi untuk mencegah stasis vena dan menunjang fungsi pernafasan optimal.
Intervensi ditujukan pada perubahan posisi tubuh dan juga Range of Motion (ROM). Latihan perpindahan
posisi dan ROM ini pada awalnya dilakukan secara pasif namun kemudian seiring dengan bertambahnya
kekuatan tonus otot maka pasien diminta melakukan secara mandiri.
Status kesehatn fisik merupakan faktor yang sangat penting bagi pasien yang akan mengalami
pembedahan, keadaan umum yang baik akan mendukung dan mempengaruhi proses penyembuhan.
Sebaliknya, berbagai kondisi fisiologis dapat mempengaruhi proses pembedahan. Demikian juga faktor
usis/penuaan dapat mengakibatkan komplikasi dan merupakan faktor resiko pembedahan. Oleh karena

itu sangatlah penting untuk mempersiapkan fisik pasien sebelum dilakukan pembedahan/operasi.
Faktor resiko terhadap pembedahan antara lain :
1. Usia
Pasien dengan usia yang terlalu muda (bayi/anak-anak) dan usia lanjut mempunyai resiko lebih besar.
Hal ini diakibatkan cadangan fisiologis pada usia tua sudah sangat menurun . sedangkan pada bayi dan
anak-anak disebabkan oleh karena belum matur-nya semua fungsi organ.
2. Nutrisi
Kondisi malnutris dan obesitas/kegemukan lebih beresiko terhadap pembedahan dibandingakan dengan
orang normal dengan gizi baik terutama pada fase penyembuhan. Pada orang malnutisi maka orang
tersebut mengalami defisiensi nutrisi yang sangat diperlukan untuk proses penyembuhan luka. Nutrisinutrisi tersebut antara lain adalah protein, kalori, air, vitamin C, vitamin B kompleks, vitamin A, Vitamin
K, zat besi dan seng (diperlukan untuk sintesis protein).
Pada pasien yang mengalami obesitas. Selama pembedahan jaringan lemak, terutama sekali sangat
rentan terhadap infeksi. Selain itu, obesitas meningkatkan permasalahan teknik dan mekanik. Oleh
karenanya dehisiensi dan infeksi luka, umum terjadi. Pasien obes sering sulit dirawat karena tambahan
beraat badan; pasien bernafas tidak optimal saat berbaaring miring dan karenanya mudah mengalami
hipoventilasi dan komplikasi pulmonari pascaoperatif. Selain itu, distensi abdomen, flebitis dan
kardiovaskuler, endokrin, hepatik dan penyakit biliari terjadi lebih sering pada pasien obes.
3. Penyakit Kronis
Pada pasien yang menderita penyakit kardiovaskuler, diabetes, PPOM, dan insufisiensi ginjal menjadi
lebih sukar terkait dengan pemakian energi kalori untuk penyembuhan primer. Dan juga pada penyakit
ini banyak masalah sistemik yang mengganggu sehingga komplikasi pembedahan maupun pasca
pembedahan sangat tinggi.
4. Ketidaksempurnaan respon neuroendokrin
Pada pasien yang mengalami gangguan fungsi endokrin, seperti dibetes mellitus yang tidak terkontrol,
bahaya utama yang mengancam hidup pasien saat dilakukan pembedahan adalah terjadinya
hipoglikemia yang mungkin terjadi selama pembiusan akibat agen anstesi. Atau juga akibat masukan
karbohidrat yang tidak adekuart pasca operasi atau pemberian insulin yang berlebihan. Bahaya lain yang
mengancam adalah asidosis atau glukosuria. Pasien yang mendapat terapi kortikosteroid beresiko
mengalami insufisinsi adrenal. Pengguanaan oabat-obatan kortikosteroid harus sepengetahuan dokter
anastesi dan dokter bedahnya.?
5. Merokok
Pasien dengan riwayat merokok biasanya akan mengalami gangguan vaskuler, terutama terjadi
arterosklerosis pembuluh darah, yang akan meningkatkan tekanan darah sistemiknya. ?
6. Alkohol dan obat-obatan
Individu dengan riwayat alkoholic kronik seringkali menderita malnutrisi dan masalah-masalah sistemik,
sperti gangguan ginjal dan hepar yang akan meningkatkan resiko pembedahan. Pada kasus kecelakaan
lalu lintas yang seringkali dialami oleh pemabuk. Maka sebelum dilakukan operasi darurat perlu
dilakukan pengosongan lambung untuk menghindari asprirasi dengan pemasangan NGT.