Anda di halaman 1dari 2

Pembahasan

Praktikum kali ini mengenai monitoring populasi invertebrata. Populasi


invertebrata yang dimonitoring adalah populasi cacing yang berada di lokasi yang
berbeda. Dalam kegiatan praktikum ini menggunakan dua ketegori sampel tanah yang
berbeda, yaitu tanah pertanian dari ekosistem pertanian (cultivated) dan tanah
nocultivated misalnya tanah di lingkungan kampus yang tidak digunakan untuk
kegiatan pertanian. Kedua tanah yang berbeda tersebut memiliki kondisi yang
berbeda sehingga diduga akan mempengaruhi populasi cacing tanah. Adapun lokasi
yang ditetapkan yaitu lokasi 1 di Fakultas Teknik UNEJ dan lokasi 2 di gedung 3
FKIP. Lokasi 1 merupakan lahan bekas digunakannya lahan pertanian (cultivated)
sedangkan lokasi 2 merupakan lahan yang tidak digunakan sebagai lahan pertanian
(noncultivated). Lokasi 1 sebagai treatment artinya yang mendapat perlakuan dan
lokasi 2 sebagai kontrol artinya yang tidak mendapat perlakuan. Pengamatan ini
dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan lokasi terhadap densitas
cacing tanah.
Dalam praktikum monitoring populasi invertebrata ini menggunakan beberapa
alat, diantaranya meteran baju untuk mengukur luas lahan, tali rafia untuk membatasi
lahan yang telah diukur, canggul digunakan untuk menggali tanah, Soil tester
berfungsi untuk mengukur pH tanah dan kelembaban tanah, Hygrometer berfungsi
untuk mengukur kelembaban udara dan suhu, plastik berfungsi sebagai tempat cacing
tanah, pinset yang berfungsi untuk mengambil cacing, label yang berfungsi untuk
memberi tanda pada plastik (petak 1, petak 2 dan petak 3) dan penggaris untuk
mengukur panjang cacing, serta timbangan untuk mengukur berat cacing tanah yang
didapatkan.
Langkah pertama yang harus dilakukan dalam praktikum monitoring populasi
invertebrata yaitu pengambilan sampel tanah pada lokasi 1, lalu membuat ploting
tanah yang menjadi sampel seluas 1 x 1 meter, kemudian membagi plot tersebut
menjadi 9 petak. Dari 9 petak tersebut diambil 3 petak dari setiap baris. Setelah itu
mengukur densitas vegetasi dan jenis vegetasinya. Pengukuran dilakukan dengan
menghitung jumlah vegetasi per satu satuan luas yang menjadi sampel (3 petak yang
diambil). Kemudian menggali masing-masing petak dan menghitung jumlah cacing
yang ada pada masing-masing petak. Selama pengamatan juga dilakukan pengukuran
kelembaban tanah dan pH tanah menggunakan Soil tester. Dengan cara menancapkan
ujung alat runcing ke dalam tanah hingga sel-selnya terbenam dalam tanah dan
membiarkan beberapa saat. Kemudian lihat skala besar atau atas untuk menentukan

pH tanah. Dan menekan tombol yang berada disamping alat untuk menentukan
kelembaban tanah setelah dibiarkan beberapa saat dan melihat skala kecil/bawah
sebagai petunjuk kelembaban tanah. Selain itu juga dilakukan pengukuran suhu dan
kelembaban udara menggunakan hygrometer. Higrometer terdapat dua skala, yang
satu

menunjukkan

kelembaban

yang

satu

menunjukkan

temperatur.

Cara

penggunaannya dengan meletakkan di tempat yang akan diukur kelembabannya,


kemudian tunggu dan bacalah skalanya. skala kelembaban biasanya ditandai dengan
huruf h dan kalau suhu dengan derajat celcius. Langkah-langkah pertama sampai
akhir tersebut dilakukan kembali pada lokasi 2 yaitu di gedung 3 FKIP. Setelah
cacing didapatkan, cacing tanah diukur panjangnya dengan menggunakan penggaris
dan diukur juga berat badannya dengan menggunakan timbangan. Setelah itu
dimasukkan kedalam tabel dan dianalisis menggunakan spss.

Tanah pertanian merupakan tanah yang banyak mendapatkan pupuk yang


mengandung bahan organik dan memiliki tekstur tanah yang halus berupa lempung
ringan sehingga kecenderungan memiliki jumlah cacing yang lebih banyak
dibandingkan dengan tanah yang tanpa aerasi, tanpa pupuk, dan tanah liat atau
lempung berpasir seperti yang ada pada lahan pertanian. Keberadaan cacing tanah
dipengaruhi oleh bahan organik yang ada di dalam tanah. Jadi semakin banyak
tumbuhan yang ada di atas tanah maka humusnya akan semakin banyak sehingga
densitas cacing tanah yang ditemukan juga banyak.