Anda di halaman 1dari 5

Kajian Pustaka

Termoregulasi adalah suatu mekanisme makhluk hidup untuk mempertahankan


suhu interval agar berada didalam kisaran yang dapat ditolerlir. Suhu berpengaruh
kepada tingkat metabolime. Suhu yang tinggi akan menyebabkan aktivitas molekulmolekul semakin tinggi karena energi kinetiknya makin besar pula. Akan tetapi, kenaikan
aktivitas dengan metabolisme hanya akan bertambah seiring dengan kanikan suhu hingga
batas tertentu saja. Hal ini disebabkan metabolisme didalam tubuh diatur oleh enzim
(salah satunya) yang memiliki suhu optimum dalam bekerja. Jika suhu lingkungan atau
tubuh meningkat atau menurun drastis, enzim-enzim tersebut dapat terdenaturasi dan
kehilangan

fungsinya.

Pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), pengaturan cairan tubuh, dan eksresi adalah
elemen-elemen dari homoeostasis. Dalam termoregulasi dikenal adanya hewan berdarah
dingin (cold blood animal) dan hewan berdarah panas (warm blood animal). Namun
lebih dikenal dengan istilah eksoterm dan endoterm yang berhubungan dengan sumber
panas

utama

tubuh

hewan.

Endoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari hasil metabolisme. Suhu tubuh
hewan ini lebih konstan. Endoterm umum dijumpai pada kelompok burung (aves) dan
mamalia. Hewan endoterm disebut juga homoiterm, karena suhu tubuh hewan ini lebih
konstan. Pada hewan homoiterm suhunya lebih stabi, hal ini dikarenakan adanya reseptor
dalam otaknya sehingga dapat mengatur suhu tubuh. Suhu tubuh tergantung pada neraca
keseimbangan antara panas yang diproduksi atau diabsorpsi dengan panas yang hilang.
Eksoterm adalah hewan yang panas tubuhya berasal dari lingkungan (menyerap panas
lingkungan). Suhu tubuh hewan eksoterm cenderung berfluktuasi tergantung pada suhu
lingkungan. Hewan dalam kelompok ini adalah anggota invertebrata, ikan, amphibia, dan
reptilia.
Daphnia sp. termasuk dalam golongan udang-udangan, namun dalam proses
perkembangan belum lebih jauh. Lapisan luar mengalami molting atau ecdisis sebanyak
17 kali. Mulut Daphnia sp. terdiri dari satu labrum, satu pasang mandibula, satu buah
labium (Radiopoetro, 1977). Menurut Djarijah (1995) mengatakan bahwa Daphnia sp.
merupakan organisme yang termasuk keluarga besar phyllum Arthropoda, kelas
Crustacea. Ciri khas organisme tersebut adalah bentuknya gepeng ke samping
(memampat ke samping) dan beruas-ruas (Djarijah, 1995).

Menurut Waterman (1960) mengemukakan bahwa hewan kecil memiliki


frekuensi denyut jantung yang lebih cepat dari pada hewan dewasa baik itu pada suhu
atau temperatur panas, sedang, dingin, maupun alkoholik. Hal ini disebabkan adanya
kecepatan metabolik yang dimiliki hewan kecil tersebut. Mekanisme kerja jantung
Daphnia sp. berbanding langsung dengan kebutuhan oksigen per unit berat badannya
pada hewan-hewan dewasa. Daphnia sp. sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan
pada suhu 22 31 C dan pH 6,5 7,4 yang mana organisme ini perkembangan larva
menjadi dewasa dalam waktu empat hari (Djarijah, 1995).
Organisme ini dikenal oleh masyarakat pada umumnya disebut sebagai kutu air,
namun sebenarnya organisme ini termasuk dalam zooplankton. Jantung Daphnia
merupakan struktur globular anterodorsal badan. Kecepatan denyut jantungnya
dipengaruhi beberapa faktor antara lain suhu lingkungan. Suhu mempengaruhi proses
fisiologis organisme termasuk frekuensi denyut jantung. Penaikan ataupun penurunan
tersebut dapat mencapai dua kali aktivitas normal. Perubahan aktivitas akibat pengaruh
suhu. Aktivitas akan naik seiring dengan naiknya suhu sampai pada titik dimana terjadi
kerusakan jaringan, kemudian diikuti aktivitas yang menurun dan akhirnya terjadi
kematian. Pada suhu sekitar 10oC dibawah atau diatas suhu normal suatu jasad hidup
dapat mengakibatkan penurunan atau kenaikan aktivitas jasad hidup tersebut kurang
lebih dua kali pada suhu normalnya, sedangkan perubahan suhu yang tiba-tiba akan
mengakibatkan terjadinya kejutan atau shock biasanya dikaitkan dengan koefisien
aktivitas. Menurut Barness (1966) menyatakan bahwa denyut jantung Daphnia sp. pada
keadaan normal sebanyak 120 denyut per menit. Pada kondisi tertentu kecepatan ratarata denyut jantung Daphnia sp. ini dapat berubah-ubah disebabkan oleh beberapa faktor
misalnya denyut jantung lebih cepat pada waktu sore hari, pada saat densitas populasi
rendah, pada saat betina mengerami telur. Pada waktu temperatur turun maka laju
metabolisme turun dan menyebabkan turunnya kecepatan pengambilan oksigen. Menurut
Waterman (1960) pada lingkungan dengan suhu tinggi akan meningkatkan metabolisme
dalam tubuh sehingga laju respirasi meningkat dan berdampak pada peningkatan denyut
jantung

Daphnia

sp..

Pengaruh Suhu pada Faal Hewan


Ikan dan invertebrata (hewan avertebrata) yang hidup di perairan Arctic, hidup
pada kisaran suhu tubuh sekitar -2oC, sedangkan hewan yang hidup di padang pasir suhu

tubuhnya sekita +50oC. Beberapa makhluk hidup lain bahkan dapat hidup pada suhu
yang lebih ekstrim, sebagai contoh, telah diketahui cacing polychaeta hidup di lubang
laut dalam, pada suhu lebih dari 80oC. Umumnya hewan sangat mudah untuk menyerap
suhu lingkungan luarnya, tetapi burung dan mamalia mampu untuk mengatur suhu
tubuhnya dan menjaganya dari tingkat yang relatif konstan dan berbeda dengan suhu
lingkungan luarnya. Suhu sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup. Peningkatan
suhu dapat pula meningkatkan laju reaksi fisik dan kimia, contohnya adalah laju
metabolisme. Reaksi enzimatis sangat bergantung pada suhu karenanya aktivitas
metabolisme di berbagai jaringan atau organ bergantung pada kemampuan untuk
mempertahankan suhu yang sesuai pada tubuhnya.

Interaksi Pertukaran Suhu antara Hewan dan Lingkungannya


Hewan akan berinteraksi dengan suhu lingkungan terdekatnya, akan ada
pertukaran suhu diantar keduanya. Hewan mempunyai kemampuan untuk memanipulasi
pertukaran ini bagi kehidupannya, mengatur suhu tubuhnya dengan menambah dan
mengurangi kehilangan atau perolehan panas.
Konduksi
Konduksi panas adalah pemindahan panas antara dua bagian secara kontak fisik
langsung diantar keduannya. Panas akan mengalir mengikuti perbedaan suhu dari
wilayah yang bersuhu tinggi ke wilayah yang bersuhu lebih rendah. Laju pergerakan
panas ditentukan oleh beberapa faktor seperti wilayah terjadinya pergerakan panas,
perbedaan suhu awal antar dua wilayah, konduktivitas panas pada wilayah tersebut.
Konduktivitas panas adlah cara untuk mengeksresikan bagaimana mudahnya pergerakan
panas pada suatu wilayah.
Konveksi
Konveksi adalah perpindahan panas melalui pergerakan zat cair atau gas. Hal
inimerupakan salah satu cara meningkatkan kehilangan panas pada benda padat. Sebagai
contoh panas dapat hilang dari benda padat dan berubah menjadi gas. Pada saat gas
bergerak melewati benda padat, maka panas berpindah dari benda padat ke gas. Pada saat

gas yang terpanasi bergerak terus itu akan diganti dengan gas yang lebih dingin dan akan
lebih banyak gas berpindah dari benda padat ke gas. Konveksi dikatakan mempunyai
kekuatan jika gerakan benda cair atau gas dibantu kekuatan dari luar seperti angin.
Sebaliknya, konveksi tidak terjadi apabila tidak terdapat kekuatan dari luar.
Radiasi
Radiasi adalah perpindahan panas tanpa kontak langsung antar sumber panas
dengan daerah yang menerima panas. Hukum Stefan Boltzmann menyatakan bahwa
intensitas dari suatu benda sebanding dengan suhu permukaannya dipangkat empat.
Evaporasi
Ketika air menguap (evaporasi) terjadi perubahan bentuk (fase) dari bentuk cair
ke bentuk gas. Perubahan bentuk atau fase ini memerlukan sejumlah besar energi dalam
bentuk panas. Hal ini dikenbal sebagai panas penguapan. Oleh karena itu, evaporasi
dapat menyebabkan pendinginan. Jumlah panas yang diperlukan agar terjadi evaporasi
bergantung kepada suhu pada saat hal tersebut berlangsung. Bila suhu meningkat jumlah
energi panas yang diperlukan untuk mengubah air dari fase cair menjadi gas.

Kisaran Toleransi Suhu pada Daphnia sp.


Daphnia sp. sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pada suhu 22 31oC dan
pH 6,5 7,4 yang mana organisme ini perkembangan larva menjadi dewasa dalam waktu
empat hari (Djarijah, 1995). Lingkungan dengan suhu tinggi akan meningkatkan
metabolisme dalam tubuh sehingga laju respirasi meningkat dan berdampak pada
peningkatan denyut jantung Daphnia sp..
Daphnia magna lebih optimal. Daphnia hidup pada selang suhu 18-24C.
Daphnia membutuhkan pH yang sedikit alkalin, yaitu 6,7-8,2. Selain pH, faktor lain yang
berpengaruh terhadap kehidupan Daphnia magna adalah suhu. Suhu air sangat
mempengaruhi seluruh aktivitas dan proses reproduksi organisme akuatik termasuk
daphnia (OECD dalam Saeful, 2006).

Faktor yang mempengaruhi kerja denyut jantung Daphnia sp. adalah sebagai
berikut :
1. Aktivitas dan faktor yang mempengaruhi denyut jantung Daphnia sp. bertambah lambat
setelah dalam keadaan tenang.
2. Ukuran dan umur, dimana spesies yang lebih besar cenderung mempunyai denyut
jantung yang lebih lambat.
3. Cahaya, pada keadaan gelap denyut jantung Daphnia sp. mengalami penurunan
sedangkan pada keadaan terang denyut jantung Daphnia sp. mengalami peningkatan.
4. Temperatur, denyut jantung Daphnia sp. akan bertambah tinggi apabila suhu meningkat.
Pada lingkungan dengan suhu tinggi akan meningkatkan metabolisme dalam tubuh
sehingga laju respirasi meningkat dan berdampak pada peningkatan denyut jantung
Daphnia sp.
5. Obat-obat (senyawa kimia), zat kimia menyebabkan aktivitas denyut jantung Daphnia
sp. menjadi tinggi atau meningkat.

Daftar Pustaka:

Barness, R. D. 1966. Invertebrate Zoology. W. B. Sanders Company, Philadelphia : London


Djarijah, Abbas Siregar. 1995. Pakan Ikan Alami. Yogyakarta: Kanisius
Mustika, Vita. 2011. PROSES REGULASI DAN OSMOTIK PADA DAPHIA (online).
http://vitamustika.wordpress.com/praktikum-fisiologi-hewan/. Diakses tanggal 19
November 2014
Radiopoetro, dkk. 1977. Zoologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Saeful. 2009. Termoregulasi (online). http://anwarulah.blogspot.com/.
Diakses tanggal 19 November 2014
Waterman, T.H. 1960. The Physiology of Crustacean Volume : Metabolism
and Growth. Academic Press. New York.

Anda mungkin juga menyukai