Anda di halaman 1dari 12

PANDUAN

BUDIDAYA TALAS SATOIMO


(TALAS JEPANG)

dalam rangka

PEMBINAAN KEBUN INTI DAN PLASMA

Oleh :

CV. AGRO LAWU INTERNATIONAL

Cipanas, 1 Mei 2013


(Jawa Barat)

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Satoimo
(Talas
Jepang)
nama
latinnya
adalah Colocasia
esculenta var. Antiquorum yang banyak dibudidayakan di daerah Sub Tropis,
seperti China Selatan, Jepang Selatan dan Vietnam Utara.
Konsumsi Satoimo terbesar di dunia khususnya untuk makanan pokok (sebagai
pengganti kentang) adalah negara Jepang dengan tingkat permintaan sebesar
360.000 ton per tahun. Sedangkan permintaan dalam bentuk lain adalah
tepung / Powder sebagai bahan baku makanan kesehatan, dan industri farmasi.
Salah satu pemasok Satoimo terbesar ke Jepang adalah China ( 55 %) dalam
bentuk Satoimo Frozen. Dan saat ini komoditi Satoimo mulai dikembangkan secara
komersial di Indonesia, khususnya di P. Jawa. Hal ini disebabkan karena setelah
diuji coba rasa (taste) Satoimo yang dari Indonesia sangat disukai oleh orang
Jepang demikian pula Satoimo ini di Indonesia dapat ditanam sepanjang musim,
sehingga pihak Jepang telah melakukan kerjasama dengan Indonesia dalam
penyediaan bahan baku baik untuk Frozen maupun tepung.
Oleh karena itu, dengan permintaan Satoimo yang cukup besar ini perlu adanya
perluasan wilayah penanaman komoditi Satoimo tersebut untuk dapat mencukupi
kebutuhannya.
Untuk Pengembangan dengan Pola Inti Plasma tersebut, haruslah dibuat
suatu Panduan Teknis Budidaya Satoimo agar hasil yang diharapkan nantinya
sesuai yang diharapkan (standard) baik untuk Kebun Inti dan Plasma.
B. Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan penyusunan Panduan Budidaya Satoimo ini adalah untuk
mempermudah para Growers(Pembudidaya) bisa melaksanakan budidaya tanaman
Satoimo secara benar dan sesuai yang diinginkan oleh pihak Buyer (Pembeli),
karena teknis budidaya sangat mempengaruhi terhadap hasil produksi baik kuantitas
maupun kualitas produk.
II. PEMILIHAN LOKASI
Pemilihan lokasi untuk budidaya Satoimo sangatlah menentukan dalam keberhasilan
usaha ini. Karena bila salah memilih lahan yang tidak sesuai dengan kebutuhan
Komoditi Satoimo ini menjadi fatal untuk langkah selanjutnya & bisa dipastikan akan
menuai kegagalan. Oleh karenanya perlu kecermatan dan dipatuhi syarat-syaratnya
dari kebutuhan Satoimo tersebut.

Ada beberapa persyaratan yang harus dipatuhi dalam memilih lokasi :


A. FAKTOR NON TEKNIS
Aspek non teknis yang dimaksud adalah tidak berhubungan langsung dengan
pertumbuhan tanaman, tapi sangatlah mendukung terhadap kebehasilan usaha ini,
yaitu :
1. Status Lahan
Status Lahan harus jelas sehingga suatu usaha akan berjalan dengan lancar tanpa
gangguan. Karena ketidak jelasan status lahan akan mengakibatkan konflik dengan
pihak lain.
2. Sumber Daya Manusia
Selain dari kecocokan lahan untuk tanaman, perlu di perhatikan di lokasii tersebut
terhadap ketersediaan tenaga kerja yang akan membantu keberhasilan usaha ini.
Karena bila kurang atau sulit mendapatkan Tenaga Kerja maka akan mengganggu
terhadap jadwal waktu/target waktu kegiatan. Bila diambil dari lain tempat perlu
diperhitungkan terhadap biaya yang akan timbul.
3. Aksesibilitas ( Keterjangkauan )
Aksesibilitas lokasi lahan perlu dipertimbangkan jauh dekatnya dari angkutan dan
ketersediaan sarana prasarana yang tentunya akan sangat menghambat terhadap
proses kegiatan usaha ini. Baik dalam target waktu maupun biaya yang akan di
keluarkan.
B. FAKTOR TEKNIS
Faktor teknis dalam pemilihan lokasi untuk budidaya tanaman Satoimo ini harus
diperhatikan dengan seksama, yang meliputi :
1. Kondisi tanah yang diinginkan
Tanah harus memiliki struktur remah, galuh berpasir, drainase baik sepanjang tahun,
banyak mengandung bahan organic ( humid acid, fluvic acid humin, humate,
precursor phytohormon, dan precursor phytohormon cytokinin, yaitu trytophan dan
adesine ). pH tanah : 5,5 -7,0 dengan kelembaban tanah : 50 %-65 %
2. Kondisi iklim yang diinginkan.
Temperatur 15 35 C dan minimum 15 C.
Cahaya matahari yang diperlukan untuk menyinari tanaman Satoimo mutlak 10 jam.
3. Air

Satoimo (Talas Jepang) membutuhkan banyak air untuk pembentukan umbi yang
baik. Kekurangan air mengakibatkan penurunan hasil produksi yang sangat berarti
di dalam target produksi dalam tonase yang diharapkan. Untuk itu sebaiknya
sebelum merencanakan penanaman, terlebih dahulu mencarikan tempat yang
system irigisi / pengadaan air tidak terputus walaupun pada musim kemarau. Hal ini
sangat penting. Dengan kata lain disini kelembapan tanah perlu dijaga dengan
benar.
Untuk sementara waktu dari dasar pengamatan dilapangan air yang diperlukan guna
mencapai kelembaban tanah yang stabil antara 50 % - 65 % adalah 0,5 liter per
tanaman per pohon per hari disaat musim kemarau yang tinggi.
Sistem irigasi dapat menggunakan beberapa metode yaitu :

Sistem buka tutup selokan parit dari sumber utama seperti sungai/kali, lebih
dikenal dengan istilah sistem Leb

Sistem pengairan Springkel dengan air bertekanan yang disalurkan melalui


pipa-pipa dan disebarkan halus seperti hujan buatan secara merata diatas
permukaan daun jatuh ke permukaan tanah.

Sistem irigasi Tube dengan mendistribusikan air bertekanan merata yang


disalurkan melalui pipa-pipa dan selang Hoyu Tube disebarkan sekitar bawah
daun ke permukaan tanah.

4. Perkiraan Cuaca.
Perlunya mendapatkan informasi perkiraan/ramalan cuaca untuk periode 12 bulan
mendatang sebelum kita berbudidaya adalah sangat berguna sekali dalam
perencanaan awal, guna untuk mengambil keputusan perencanaan pada kegiatan
budidaya pertanian khususnya Talas Satoimo.
Kebijakan / keputusan pada management yang telah diambil sangat sulit untuk
diubah apabila adanya penyimpangan yang terlalu jauh disaat pelaksanaan telah
dijalankan. Informasi tentang Ramalan cuaca dapat diperoleh pada Lembaga BMG
bagian Klimatologi bila sangat diperlukan.

III. PERSEMAIAN
Persemaian perlu dipersiapkan dengan seksama agar menghasilkan bibit yang
berkualitas dan sehat, dengan prosedur sebagai berikut :

1. Untuk bibit satu 1 ha (25.000 umbi) dibutuhkan lahan persemaian sekitar 200
m2.
2. Dibuat bedengan dengan ukuran lebar 1,5 m dan panjang sesuai kondisi
lahan.
3. Bedengan dicangkul dan digemburkan serta ditambahkan pasir / arang
sekam bakar secukupnya/kompos agar tanah menjadi porous dan tidak
terlalu lengket.
4. Sebelum disemai bedengan tersebut di air sampai lembab.
5. Benih atau Umbi Satoimo sebelum disusun didalam bedeng direndam
terlebih dahulu kedalam larutan pendawa tunas kadar 10 cc perliter air
(perangsang tunas) selama 30 menit dengan tujuan memacu pertumbuhan
tunas secara merata dan lebih cepat, sisa larutan dapat disiramkan ketanah
persemaian.
6. Letakan benih diatas tanah persemaian dengan cara calon tunas diletakkan
diatas.
7. Selanjutnya ditutupi tanah setinggi 1-2 cm.
8. Selanjutnya tanah persemaian ditutupi dengan jerami padi/alang-alang, untuk
menjaga kelembaban tanah juga menjaga terpaan air hujan secara langsung.
Bila perlu bedengan diberi naungan (Sharlon net) untuk mengurangi terik matahari
(musim panas) dan memecah air hujan (bila musim hujan)
Benih-benih yang sudah tumbuh bakal daun seperti kuncup tombak, siap untuk
dipindah ke lahan tanam.
IV. PEMBUATAN BOKASI
Bokasi/kompos organik adalah pupuk organik siap pakai untuk tanaman yang
sudah difermentasikan beberapa waktu ( 14 hari ).
Bahan Dasar Pembuatan Bokasi adalah sebagai berikut :
1. Pupuk kandang (Sapi/ Kelinci/ kambing) jangan dari kotoran ayam
2. Cacahan rumput atau buangan sisa-sisa sampah pasar,ranting-ranting, daundaun yang sudah dicacah terlebih dahulu.
3. Proponic decomposer.
Untuk pembuatan 1 ton Bokasi membutuhkan :
1.

Pupuk Kandang

: 750 kg

2.

Point 2 dari bahan dasar

: 250 kg

3.

Proponic

: 1 ltr

4.

Air

Proponic 1 liter dicampur dengan air 100 liter didalam tong plastic, aduk rata.

: 100 ltr

Bahan Bokasi tersebut diaduk secara merata dan setiap lapisan per 50 cm
diberi air larutan proponic sampai keadaan lembab, selanjutnya dibiarkan
selama 7 hari dibawah naungan atap jangan terkena hujan. Setelah 7 hari dibalik
balik merata dan biarkan selama 7 hari lagi setelah itu bokasi dapat diayak
untuk dipergunakan.

cirinya adalah pupuk kandang tersebut sudah tidak berbau seperti bau bahan
dasarnya.
V. PERSIAPAN LAHAN
A. Pembuatan dan Pengaturan Drainase
Sebelum tanah diolah perlu diperhatikan dan direncanakan dengan seksama dalam
hal pengaturan Drainase :
1. Pengaturan dan Pembuatan Drainase

a. Drainase Utama ( pembuangan air harus dalam )


b. Drainase Cabang ( saluran air antar petak tanaman )

2. Pengolahan Tanah

Sangatlah penting terhadap pertumbuhan tanaman dan tanah harus diolah


mengikuti prinsip-prinsip ekologi. Kegiatan pengolahan tanah yang dimaksud
meliputi :

Bajak dan Garu ; Dimaksudkan agar tanah menjadi gembur dan remah sehingga
tanaman akan tumbuh dengan baik. Bajak dan Garu inidapat dilakukan dengan
menggunakan sapi / kerbau atau dengan menggunakan traktor.

Pembuatan Guludan

Guludan tidak boleh terlalu tinggi. Karena pada Satoimo pertumbuhan


umbinya sebagian besar adalah keatas bukan kebawah, sehingga dalam masa
pemeliharaan membutuhkan pembubunan (ipuk) terhadap umbi yang tumbuh
diatas tanah.

Ukuran lebar guludan (L) = 20 cm dan panjang sesuai keadaan lahan, tinggi
(T) = 10 15 cm.

Tanah harus dicangkul secara matang untuk menghasilkan tanah yang


gembur dan rumputnya harus dibuang ditempat sampah yang nantinya dapat
dijadikan kompos.

Pembuatan Cemplongan.

Khusus untuk Satoimo pembuatan cemplongan harus dalam dan lebar


diperkirakan sekitar 30 x 30 cm, dengan kedalaman sekitar 20 25 cm (sampai
tanah yang keras) diperkirakan perkembangan umbi seluas cemplongan
tersebut.

Jarak tanam dari pinggir guludan 20 cm dan jarak antara tanaman dalam
larikan adalah 30 cm.

Pemberian Bokasi ( pupuk kandang ) dan Furadan

Pastikan pemberian bokasi atau pupuk kandang kedalam lubang tanam


dengan yang sudah matang.

Lubang tanam diberi Furadan (2,5 gr/ lubang ) + Bokasi sebanyak1,5


kg/lubang. Sehingga untuk 1 hektar membutuhkan 30 ton/ha ( populasi
tanaman = 20.000 tanaman).

Volume Bokasi yang diberikan sangat mempengaruhi terhadap hasil produksi


tanaman itu sendiri. Dengan demikian lahan pada cemplongan siap ditanami
Satoimo.

VI. PENANAMAN
Kegiatan penanaman jangan dianggap remeh, tapi mesti kita perhatikan tata cara
penanaman yang baik dan benar yang akan mempengaruhi terhadap kecepatan
pertumbuhan tanaman.

Prosedur Penanaman sbb :


1.

Sebelum ditanam guludan dilakukan pengairan ( leb ) terlebih dahulu sampai


jenuh air.

2.

Sebelum melakukan penanaman sebaiknya pekerja tanam diberi pengarahan


terlebih dahulu agar berhati-hati dalam melakukan penanaman.

3.

Bibit yang sudah siap tanam dari persemaian diangkut kelahan tanam dan
diletakkan didekat atau disamping lubang tanam.

4.

Sementara pekerja lainnya melakukan penanaman pada lubang tanam


secara hati-hati.

5.

Bokasi yang telah ditaruh dalam cemplongan haruslah yang benar-benar


sudah matang. Hal ini untuk menghindari busuk umbi dan akar.

Setelah ditanam sebaiknya diatas cemplongan diberi mulsa jerami padi, dengan
tujuan untuk menghambat pertumbuhan rumput/gulma dan menjaga kelembaban
tanah. Salain itu secara tidak langsung juga sebagai tambahan pupuk kompos
nantinya.
VII. PEMELIHARAAN
1. Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan Pupuk Kimia (NPK) dan pupuk cair organic pada
tanaman sebagai berikut :
Umur 5 hari setelah tanam :
Siram dengan pendawa tunas kadar 5 cc/liter air.
Berikan 50 cc larutan campuran untuk per satu tanaman
Umur 14 hari setelah tanam :
Urea 10 kg ditambah TSP 3 kg ditambah Kcl 2 kg dan Kno3 1kg, dicampur merata.
Campuran yang sudah rata dapat diberikan ketanaman satoimo dengan pemberian
pertanaman1 sendok teh.
Pemberian pupuk ini jangan disebar sebaiknya di taju 2 4 lubang dan mengelilingi
tanaman.
Pemberian Larutan pupuk organic pendawa subur pertumbuhan dengan kadar 5
cc/ltr air dilakukan dengan cara dikocor dan berikan 250 cc untuk per tanaman.

Umur 35 hari setelah tanam :


Lakukan kembali pemberian Larutan pupuk organic pendawa subur
pertumbuhan dengan kadar 5 cc/ltr air dilakukan dengan cara dikocor dan berikan
250 cc untuk per tanaman.
Umur 55 hari setelah tanam :
Urea 10 kg ditambah TSP 3 kg ditambah Kcl 2 kg dan Kno3 1kg, dicampur merata.
Campuran yang sudah rata dapat diberikan ketanaman satoimo dengan pemberian
pertanaman1 sendok teh.
Pemberian pupuk ini jangan disebar sebaiknya di taju 2 4 lubang dan mengelilingi
tanaman.

Pemberian Larutan pupuk organic pendawa subur pertumbuhan dengan kadar 5


cc/ltr air dilakukan dengan cara dikocor dan berikan 250 cc untuk per tanaman.
Umur 75 hari setelah tanam :
Pemberian Larutan pupuk organic pendawa subur pembuahan dengan kadar 10
cc/ltr air dilakukan dengan cara dikocor dan berikan 250 cc untuk per tanaman.
Umur 85 hari setelah tanam :
Pemberian Larutan pupuk organic pendawa subur pembuahan dengan kadar 10
cc/ltr air dilakukan dengan cara dikocor dan berikan 250 cc untuk per tanaman
Umur 95 hari setelah tanam :
Pemberian Larutan pupuk organic pendawa subur pembuahan dengan kadar 10
cc/ltr air dilakukan dengan cara dikocor dan berikan 250 cc untuk per tanaman
Kemudian tunggu hingga tanaman sampai pada masanya dapat di panen.
2. Pendangiran & Pembubunan ( Ipuk )
Kegiatan pendangiran dan pembubunan dilakukan pada saat tanaman berumur 2
bulan dan 3 bulan.
Sebelum dilakukan pembubunan sebaiknya dilakukan terlebih dahulu pemotongan
tunas baru yang tumbuh setelah tanaman berumur 4 bulan disekitar tanaman induk
saat pendangiran dan pembubunan (Pruning) dengan mengurangi energi makanan
untuk daun dialihkan ke pembentukan umbi.
3. Pengendalian HPT

Jenis penyakit yang sering menyerang pada tanaman satoimo :

Cabuk ( Myte )

Trip

Semut

Rayap

Ulat daun dan ulat umbi

Jamur ( Busuk Umbi )

Penyemprotan dengan fungisida & Insektisida secara berkala setiap bulan sekali
( umur 2 bln, 3 bln, 4 bln ).
VIII. ORGANISASI BUDIDAYA
Prinsip dasar dari Budidaya tanaman Satoimo adalah Bagaimana caranya tanaman
tumbuh subur dan sehat, yang akhirnya akan mendapatkan hasil yang optimal, baik
dari segi Kuantitas maupun Kualitas.
Untuk mendapatkan atau mencapai hal tersebut perlu adanya penataan SDM dalam
suatu Organisasi Budidaya yang mantap, sehingga mulai dari kegiatan Persiapan
lahan, Persemaian s/d Panen dan Pasca Panen akan berjalan sesuai yang
diharapkan.
Konsep dasarnya adalah bagaimana setiap tanaman mendapat perhatian &
penanganan yg seragam dan maksimal. Ini berarti harus dibuat analisis kemampuan
setiap Grower (Pembudi daya) memelihara tanaman tersebut.
Organisasi Budidaya yg mungkin sesuai & mudah diterapkan dilahan adalah sebagai
berikut :
Asumsi :

Seorang Koordinator mampu mengawasi & Bertanggung jawab untuk luasan


2 ha.

Seorang koordinator dibantu oleh staff Adm/ Umum / Kasir.

Koordinator membawahi 8 grower, masing-masing per ha adalah 4 grower.

Secara Teoritis, Organisasi Budidaya diatas sangat mudah, tapi dalam


pelaksanaanya membutuhkan SDM yang memadai, artinya perlu dicari orang yang
ingin bekerja tapi mau juga bekerja, sehingga perlu juga dilakukan seleksi terhadap
growers dan training dalam beberapa waktu.

ANALISA USAHA TALAS JEPANG


Perhitungan Biaya Produksi per hektar (10.000 m2) :
Biaya per pohon = Rp 2.700,Hasil produksi per pohon = 1,5 kg
Jumlah populasi tanaman per hektar = 20.000 pohon

Total biaya produksi per hektar : Rp 2.700 x 20.000 = Rp 54.000.000,-

Harga benih

: 37 % x Rp 54.000.000,- = Rp 19.980.000,

Sewa lahan per musim

:13 % x Rp 54.000.000,- = Rp 7.020.000,

Tenaga tanam & perawatan /Musim

: 3% x Rp 54.000.000,- = Rp 1.620.000,

Pupuk dan obat-obatan

: 30 % x Rp 54.000.000,- = Rp 16.200.00,

Panen dan pasca panen

: 12 % x Rp 54.000.000,- = Rp 6.480.000,-

Total biaya produksi (A) ................................................................ Rp 54.000.000,Harga jual per kg

Rp 4.000 ,-

Hasil produksi per hektar : 20.000 x 1,5 kg = 30.000 kg


Hasil panen dalam bentuk rupiah (B) 30.000 x Rp 4.000,- ..................... Rp
120.000.000,Pendapatan hasil usaha ( B - A )

Rp 66.000.000,-

Analisa Kelayakan usaha :


BEP Produksi ..............

54.000.000 : 4.000

= 13.500 kg.

BEP harga

54.000.000 : 30.000

= Rp 1.800,-/kg.

..............

R/C

.............. 120.000.000 : 54.000.000

= 2,23

B/C

..............

= 1.23

66.000.000 : 54.000.000

Waktu masa panen secara rata-rata berkisar 5 bulanan.


Untuk biaya produksi setiap masing masing wilayah pasti akan berbeda-beda
nilainya, tidak akan sama. Data Tahun 2013.