Anda di halaman 1dari 34

TUGAS TERSTRUKTUR

PERENCANAAN AGROINDUTRI PETERNAKAN


Proyeksi Usaha Ayam Kampung Super Setya Farm Selama 10 Tahun
Di Kabupaten Purworejo

NAMA : PRASETYO
NIM : P2DA 14 010

MAGISTER ILMU PETERNAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2015

I.

Dimasa

mendatang,

PENDAHULUAN

kebutuhan

konsumsi

daging

ayam

kampung

diperkirakan akan semakin meningkat, baik di perkotaan maupun di pedesaan.


Perbaikan perekonomian nasional yang terus berlangsung, dan dengan elastisitas
yang semakin tinggi, akan menyebabkan konsumsi daging ayam kampung
semakin tinggi. Apabila dibandingkan dengan negara lain, tingkat konsumsi
daging ayam kampung di Indonesia masih rendah. Hal ini membuka peluang bagi
pemasaran daging ayam kampung secara nasional. Jumlah penduduk di Indonesia
yang lebih dari 225 juta jiwa dengan pertumbuhan di atas 1,5% merupakan
potensi pasar domestik yang luar biasa.
Populasi ayam kampung bertambah dalam lima tahun terakhir dari populasi
sekitar 285 juta ekor dengan rataan peningkatan sekitar 3.94%. pada tahun 2011,
2012, dan 2013 berturut turut meningkat dari 264 juta, 274 juta dan 285 juta ekor
dengan produksi daging sebesar 264.493 ton, 267.493 ton dan 319.599 ton
(Ditjennak, 2014). Hal ini menggambarkan bahwa komoditas ayam kampung
berkembang dengan baik.
Dilandasi oleh kebutuhan gizi yang baik dan rasa nikmat, masyarakat kita
terbiasa menyertakan daging ayam kampung dalam menu makanan harian.
Keperluan ini tidak hanya satu atau dua orang saja, tetapi banyak anggota
keluarga. Kebutuhan dalam jumlah besar terhadap daging ayam kampung ini akan
menghasilkan permintaan yang lebih besar (Rasyaf, 2010). Kontribusi daging
ayam dalam konsumsi daging nasional, untuk daging ayam ras (67%), daging
ayam lokal (23%), sedangkan kontribusi telur ayam ras (91.82%) dan telur ayam
lokal (2.83%) dalam konsumsi telur nasional. Produksi daging nasional tahun
2012 sebesar 2.700.000 ton yang terdiri dari daging ayam ras (49%), daging sapi
(18%), daging unggas lokal (11%), daging babi (8%), daging kambing dan domba
(4%), daging kerbau (1%), dan daging lainnya (2%) (Ditjennak, 2014).
Keunggulan ayam kampung, mempunyai produksi daging dengan rasa dan
tekstur yang khas, dan khasiat telur yang spesifik dan biasa digunakan untuk
campuran minuman jamu tradisional. Selain itu ayam kampung tahan terhadap
beberapa jenis penyakit (Sunarto dkk., 2004). Ayam kampung merupakan unggas

yang mempunyai kelebihan pada daya adaptasi, karena mampu menyesuaikan diri
dengan berbagai situasi, kondisi lingkungan dan perubahan iklim serta cuaca
setempat
Masalah utama dalam pengembangan ayam kampung adalah rendahnya
produktivitas. Salah satu faktor penyebabnya adalah sistem pemeliharaan yang
masih bersifat tradisional, jumlah pakan yang diberikan belum mencukupi dan
pemberian pakan yang belum mengacu kepada kaidah ilmu nutrisi (Gunawan,
2002; Zakaria 2004a), Maka dari itu, diperlukan suatau perencanaan usaha untuk
meningkatkan populasi maupun produktivitas dari ayam kampung.

II.

LINGKUNGAN USAHA PETERNAKAN

2.1 Faktor Makro


Perencanaan sebuah usaha, khususnya peternakan dipengaruhi oleh dua
faktor lingkungan, yaitu faktor lingkungan makro dan juga faktor lingkungan
mikro. Faktor lingkungan makro merupakan faktor-faktor yang berkaitan dengan
daerah atau lingkungan akan dijalankannya usaha tersebut. Faktor makro terdiri
dari beberapa aspek, antara lain klimatik, edafik, biotik, teknologi, ekonomi
finansial, sosial budaya dan kebijakan umum pemerintah.
Berdasarkan hal tersebut, perlu diketahui kondisi daerah perencanaan
usaha yang akan dijalankan. Setya Farm merupakan suatu perusahaan peternakan
yang bergerak dalam bidang pemeliharaan ayam kampung. Setya Farm berada di
Kecamatan

Banyuurip,

Kabupaten

Purworejo, secara

geografis

berada

pada 109o 47 28 Bujur timur, 110o 08 20 Bujur Timur, 7o 32 Lintang Selatan,


sampai dengan 7o 54 Lintang selatan, dengan luas wilayah 1.034,81752 km2,
terdiri dari 494 desa. Peta Topografis daerah Kabupaten Purworejo sebagian besar
adalah dataran rendah di bagian tengah dan selatan, meliputi Kecamatan Butuh,
Grabag, Kutoarjo, Bayan, Banyuurip, Ngombol, Purwodadi, Bagelen, Banyuurip
dan Purworejo. Dataran tinggi di sisi utara dan sisi timur meliputi Kecamatan
Bruno, Bener, Kaligesing, dan sebagian wilayah Kecamatan Pituruh, Kemiri,
Gebang, Loano dan Bagelen.Kabupaten Purworejo berbatasan dengan Kabupaten
Magelang dan Wonosobo, disebelah timur berbatasan dengan Daerah Istimewa
Yogyakarta, dataran rendah disisi barat berbatasan dengan Kabupaten Kebumen
dan sebelah selatan Samudera Indonesia.
Keadaan rupa bumi (topografi) daerah Kabupaten Purworejo secara umum
dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Bagian selatan merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian antara 0
25 meter di atas permukaan air laut.
2. Bagian utara merupakan daerah berbukit-bukit dengan ketinggian antara 25
1050 meter di atas permukaan air laut.
Kondisi kemiringan lereng atau kelerengan di Kabupaten Purworejo dapat
dibedakan sebagai berikut :

1. Kemiringan 0 2% meliputi bagian selatan dan tengah wilayah Kabupaten


Purworejo,
2. Kemiringan 2 15% meliputi sebagian Kecamatan Kemiri, Bruno, Bener,
Loano, dan Bagelen,
3. Kemiringan 15 40% meliputi bagian utara dan timur wilayah Kabupaten
Purworejo,
4. Kemiringan > 40% meliputi sebagian Kecamatan Bagelen, Kaligesing, Loano,
Gebang, Bruno, Kemiri, dan Pituruh.
Jenis tanah di Kabupaten Purworejo terdiri dari tanah konsosiasi alluvial
hidromorf; konsosiasi alluvial kelabu;Asosiasi gley humus dan alluvial
kelabu;komplek latosol coklat tua,latosol coklat kemerahan dan litosol; Asosiasi
latosol coklat kemerahan dan latosol coklat tua ; komplek latosol merah
kuning,latosol coklat tua dan litosol; konsosiasi regosol coklat; konsosiasi regosol
kelabu. Posisi ketinggian Kabupaten Purworejo berkisar antara 0 meter sampai
325 meter diatas permukaan laut. Secara umum Kabupaten Purworejo mempunyai
iklim tropis dengan dua musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau yang
datang setiap enam bulan silih berganti. Suhu rata-rata 20C 32C. Sedangkan
kelembaban rata-rata antara 70 90% dengan curah hujan tertinggi pada bulan
Desember sebesar 9.291 mm, diikuti bulan Januari sebesar 7.849 mm (BPS
Kabupaten Purworejo, 2013)

2.2 Faktor Mikro


Ayam kampung merupakan hewan vertebrata yang termasuk dalam kelas Aves
dengan ordo Galliformes dan spesies Gallus domesticus. Ayam kampung atau sering
disebut ayam bukan ras (buras) merupakan salah satu ternak unggas yang banyak
dipelihara terutama di daerah pedesaan, karena selain dagingnya enak dimakan, telur
ayam kampung juga sangat diminati orang karena kandungan proteinnya. Keberadaan
ayam kampung sebagai penghasil telur dan daging dapat menambah pendapatan
keluarga. Selain itu, ayam kampung juga memiliki fungsi strategis dalam pemenuhan
pangan dan gizi masyarakat petani (Aswanto, 2010)
Lain halnya dengan pernyataan tersebut, usaha pemeliharaan ayam kampung
yang dilaksanakan oleh Setya Farm dilakukan secara intensif. Pemeliharaan secara
intensif dibutuhkan beberapa aspek, agar usaha yang dilaksanakan dapat berjalan dan

memperoleh keuntungan. Aspek penting dalam pemeliharaan ayam kampung antara


lain adalah, pemilihan bibit, manajemen pakan, perkandangan, pengendalian penyakit
dan tenaga kerja yang dibutuhkan.

a)

Pemilihan Bibit
Bibit mempunyai kontribusi sebesar 30% dalam keberhasilan suatu usaha

peternakan. Bibit ayam kampung (DOC) dapat diperoleh dengan cara : membeli
DOC ayam kampung langsung dari pembibit, membeli telur tetas dan
menetaskannya sendiri, atau membeli indukan untuk menghasilkan telur tetas
kemudian ditetaskan sendiri baik secara alami atau dengan bantuan mesin penetas.
Secara singkat DOC ayam kampung yang sehat dan baik mempunyai kriteria
sebagai berikut : dapat berdiri tegap, sehat dan tidak cacat, mata bersinar, pusar
terserap sempurna, bulu bersih dan mengkilap, tanggal menetas tidak lebih lambat
atau cepat. DOC pada peternakan Setya farm direncanakan akan membeli dari
pembibit Trias Farm Bogor.

b)

Manajemen Pakan
Faktor pakan mempunyai kontribusi sebesar 70% dalam keberhasilan suatu

usaha. Pakan untuk ayam kampung pedaging sebenarnya sangat fleksibel dan
tidak serumit jika beternak ayam pedaging, petelur atau puyuh sekalipun. Bahan
pakan yang bisa diberikan antara lain : konsentrat, pabrik buatan Charoen
Pokphand. Aspek terpenting dalam menyusun atau memberikan ransum adalah
kita tetap memperhatikan kebutuhan nutrisi ayam kampung yaitu protein kasar
(PK) sebesar 23% dan energi metabolis (EM) sebesar 3000 Kkal/kg. Iskandar et
al. (1998) melaporkan bahwa kebutuhan protein ayam kampung pedaging adalah
15% pada umur 0-6 minggu dan 19% pada umur 6-12 minggu dengan energi
metabolis 2900 kkal/kg. Pakan Konsentrat direncanakan akan memakai pakan
konsentrat BR 511 bravo buatan Charoen Phokphand Jaya Farm.
Jumlah pakan yang diberikan sesuai tingkatan umur adalah sebagai berikut :
1. 7 gram/per hari sampai umur 1 minggu
2. 19 gram/per hari sampai umur 2 minggu
3. 34 gram/per hari sampai umur 3 minggu

4. 47 gram/per hari sampai umur 4 minggu


5. 58 gram/per hari sampai umur 5 minggu
6. 66 gram/per hari sampai umur 6 minggu
7. 72 gram/per hari sampai umur 7 minggu
8. 74 gram/per hari sampai umur 8 minggu
Sedangkan air diberikan secara ad libitum (tak terbatas) dan pada tahap-tahap
awal pemeliharaan perlu dicampur dengan vitamin+antibiotika.

c)

Manajemen Kandang
Syarat kandang yang baik : jarak kandang dengan permukiman minimal

250m, tidak lembab, sinar matahari pagi dapat masuk dan sirkulasi udara cukup
baik. Sebaiknya lokasi yang agak rindang dan terhalangi oleh bangunan atau
tembok lain agar angin tidak berhembus langsung ke dalam kandang.
Penyucihamaan kandang dan peralatannya dilakukan secara teratur sebagai usaha
biosecurity

dengan

menggunakan

desinfektan

yang

tepat

dan

tidak

membahayakan bagi ternak itu sendiri. Banyak pilihan jenis desinfektan yang
ditawarkan oleh berbagai produsen pembuatan obat.
Ukuran kandang : tidak ada ukuran standar kandang yang ideal, akan tetapi
ada anjuran sebaiknya lebar kandang antara 4-8 m dan panjang kandang tidak
lebih dari 70 m. Yang perlu mendapat perhatian adalah daya tampung atau
kapasitas kandang. Tiap meter persegi sebaiknya diisi antara 45-55 ekor DOC
ayam kampung sampai umur 2 minggu, kemudian jumlahnya dikurangi sesuai
dengan bertambahnya umur ayam. Bentuk kandang yang dianjurkan adalah
bentuk postal dengan lantai yang dilapisi litter yang terdiri dari campuran sekam,
serbuk gergaji dan kapur setebal 15 cm. Model atap monitor yang terdiri dari
dua sisi dengan bagian puncaknya ada lubang sebagai ventilasi dan bahan atap
menggunakan genteng atau asbes.
Pemeliharaan ayam kampung di bagi dalam dua fase yaitu fase starter (umur
1-4 minggu) dan fase finisher (umur 5-8 minggu). Pada fase starter biasanya
digunakan kandang bok (dengan pemanas) bisa bok khusus atau juga kandang
postal yang diberi pagar. Suhu dalam kandang bok biasanya berkisar antara 30-

32C. Pada fase finisher digunakan kandang panggung kombinasi slat seperti
model pemeliharaan ayam broiler.
d)

Pengendalian Penyakit
Dalam usaha ternak ayam yang sangat penting diperhatikan oleh para

peternak adalah pengendalian penyakit, sebab ada beberapa jenis penyakit apabila
sudah menyerang akan menimbulkan kematian yang cukup tinggi terutama
penyakit tetelo (Newcastle Deaseaes) dan penyakit flu burung. Kedua penyakit ini
belum ada pengobatannya, yang ada baru vaksinnya, sehingga kedua penyakit ini
dalam usaha ternak perlu dilakukan pencegahan.
Dalam usaha ternak ayam buras biasanya tingkat kematian tertinggi terjadi
pada anak ayam. Untuk menekan tingkat kematian ayam buras terutama kematian
anak ayam buras dalam kandang indukan maka perlu diperhatikan tentang
kebersihan, tidak lembab, pakan dan air minum tidak tercampur kotoran dan
vaksinasi. Obat yang digunakan direncanakan merk Therapy buatan PT Medion.
Vaksin yang digunakan yaitu Medivac ND dan vaksin Gumboro

e. Tenaga Kerja
Rasyaf (2004) menyatakan bahwa peternakan ayam ras pedaging mempunyai
kesibukan yang temporer terutama pagi hari dan pada saat ada tugas khusus
seperti vaksinasi. Oleh karena itu, di suatu peternakan dikenal beberapa jenis
tenaga kerja, antara lain: tenaga kerja tetap, tenaga kerja harian, dan tenaga kerja
harian lepas dan kontrak. Umumnya tenaga kerja tetap adalah staf teknis atau
peternak itu sendiri, karena sifatnya sebagai tenaga kerja atau karyawan bulanan,
maka gaji mereka dimasukkan ke dalam biaya tetap peternakan dan bukan biaya
variabel. Menurut Fadillah (2004), untuk peternakan dengan skala 4.000 ekor
diperlukan tenaga kerja berilmu peternakan dan terampil (terbiasa bekerja di
peternakan) dan satu tenaga kerja kasar harian untuk pekerjaan seperti vaksinasi,
tangkap ayam, membersihkan brooder (tempat indukan), menjual ayam, dan
sebagainya. Pada peternakan Setya Farm pemilik sebagai konsultan, dan memiliki
1 manager farm serta baberapa tenaga kasar.

f. Bahan Penunjang (sekam, listrik, dan bahan bakar)


Menurut Abidin (2002), cahaya terbaik bagi pertumbuhan ayam adalah
bersumber dari cahaya matahari, yang secara langsung membantu membentuk
vitamin D di dalam tubuh ayam dan secara tidak langsung membantu ayam dalam
menemukan pakan dan minum di dalam kandang. Pada malam hari atau jika
cuaca sedang gelap, dibutuhkan sumber cahaya buatan baik berupa listrik maupun
lampu minyak. Selanjutnya, Fadillah (2004), mengatakan bahwa intensitas cahaya
pada malam hari yang diperlukan dari lampu harus setara dengan satu lampu
bohlam 150 watt untuk luas lantai 93 m2. Selama masa pemeliharaan awal (21
hari) per 1.000 ekor bibit ayam dibutuhkan gas LPG 50 kg sebanyak 5-7 tabung,
minyak tanah 100-120 liter dan batu bara 100-130 kg. Menurut Fadillah (2004),
sekam berperan penting dalam pemeliharaan ayam ras pedaging, terutama ayam
yang dipelihara di dalam kandang postal (sistem liter). Sekam berfungsi sebagai
tempat tidur, tempat istirahat, dan tempat beraktivitas ayam serta tempat
menampung kotoran yang dikeluarkan ayam. Sekam harus selalu dijaga agar tetap
kering, tidak basah dan menggumpal.

2.3. Ancaman Usaha

Secara umum pelaksanaan pengembangan usaha peternakan ayam kampung


tidak memiliki kendala yang rumit. Kendala yang mungkin ada adalah mengenai
penyebaran yang belum merata di beberapa daerah terutama penghasil DOC ayam
kampung super. Namun berdasarkan perizinan dan peraturan pemerintah daerah
pembangunan peternakan tidak terjadi hambatan bahkan diberi dukungan penuh
terkait dengan kebutuhan protein hewani yang semakin meningkat dan tingkat
konsumsi masyarakat yang tinggi akan dagiang ayam kampung. Budaya dan mata
pencaharian masyarakat juga sangat mendukung dengan dunia peternakan.
Perkembangan teknologi juga telah menjadi pemecahan masalah bagi limbah
peternakan. Saat ini limbah peternakan tidak lagi menjadi masalah, justru menjadi
pendapatan tambahan bagi peternak. Ancaman penyakit cukup banyak
berkembang, masalah penyakit dapat diantisipasi oleh adanya obat-obatan, vaksin,
vitamin dan lain-lain. Ancaman yang muncul lainya adalah produktivitas yang
kurang optimal dari ayam kampung.

III.

SATUAN TERNAK (ST) DAN KOEFISIEN TEKNIS (KT)

3.1.Satuan Ternak
Satuan Ternak (ST) adalah ukuran yang digunakan untuk menghubungkan
berat badan ternak dengan jumlah makanan ternak yang dimakan. Jadi ST
memiliki arti ganda, yaitu ternak itu sendiri atau jumlah makanan ternak yang
dimakannya. Mula-mula ST digunakan pada ternak pemamah biak (rumninansia)
untuk mengetahui daya tampung suatu padang rumput terhadap jumlah ternak
yang dapat dipelihara dengan hasil rumput dari padang rumput tersebut. Namun
penggunaan ST kini juga pada jenis ternak lainnya. Manfaat Satuan Ternak (ST)
yaitu :
a) Untuk mengetahui potensi ternak suatu daerah
b) Untuk memproduksi kebutuhan makanan
c) Sebagai standart untuk pertukaran ternak

3.2. Penggunaan Satuan Ternak


Penggunaan satuan ternak pada ternak unggas baik broiler maupun petelur
terbatas pada beberapa unsur masukan, yaitu kandang, tenaga kerja, obatan dan
kebutuhan kecil lain-lainnya. Unsur masukan dan keluaran lainnya dihitung atas
dasar penggunaan koefisien teknis. Dari uraian di atas ternyata, bahwa parameter
satuan ternak tidak dapat digunakan untuk menghitung semua komponen masukan
dan keluaran ternak omnivora, karena ST berasal mula dari cara menghitung daya
tampung makanan ternak di suatu padang pengembalaan untuk ternak pemakan
rumput dan hijauan. Tapi ST sendiri adalah satu dari sekian banyak koefisien
Teknis yang dikelompokkan secara tersendiri. Untuk semua perhitungan masukan
dan keluaran, biasanya digunakan satuan ternak dan koefisien teknis secara
bersama-sama.

3.3. Koefisien Teknis


Sistem

pengukuran

memerlukan

patokan-patokan

tertentu.

Untuk

menghitung suatu besaran yang bersifat linear, luas bidang, besaran volume atau
jumlah berat, diperlukan angka standar, yang mematuhi kaidah-kaidah yang sudah
ditentukan, yang dipilih, disebut koefisien teknis (KT), dan dapat berbentuk
persentase (%), ukuran linear (m, cm), ukuran berat (kg, ton), ukuran volume (1,
cc), ukuran luas (m2, Ha), ukuran waktu (jam, hari, minggu, bulan, tahun), rasio
antara sumber daya (feed-Egg Ratio, Gainfeed Ratio). Di dalam menghitung
produksi, KT sangat diperlukan.
Di dalam bidang peternakan, semua jenis koefisien teknis dapat
dikelompokkan ke dalam lima kelompok, yaitu :
a) Koefisien Teknis yang berhubungan dengan masukan, misalnya Satuan Ternak
dan tingkat penggunaan sumber daya untuk masukan.
b) Koefisien Teknis yang berhubungan dengan reproduksi, misalnya angka
kelahiran, service per conception pada kawin suntik.
c) Koefisien Teknis yang berhubungan dengan produksi, misalnya pertambahan
berat badan harian, produksi susu rata-rata per ekor per hari, produksi telur
rata-rata per ekor perhari.
d) Koefisien Teknis yang berhubungan dengan rasio sumber daya, misalnya ; sex
ratio, feed egg ratio, feed-gain, bull-cow ratio.
e) Koefisien Teknis yang berhubungan dengan sifat teknis non biologis, misalnya
depresiasi tahunan, umur mesin, pemakaian bahan bakar.

3.4. Nilai dan Penggunaan Satuan Ternak


Satuan ternak digunakan disamping untuk menghitung daya tampung
makanan ternak suatu padang rumput atau daya tampung sisa hasil usaha tani
suatu areal tanah pertanian terhadap jumlah ternak, dapat juga digunakan untuk
perhitungan berbagai masukan dan keluaran fisik. Dengan demikian biaya
masukan dan penerimaan dapat pula diperhitungkan. Masukan fisik misalnya,
rumput, hijauan dan makanan ternak lainnya, luas kancang, luas padang rumput,
jumlah air minum, obat, perkawinan ternak dan tenaga buruh. Output fisik
misalnya, jumlah pupuk kandang, jumlah berat badan dan tenaga kerja ternak.

Satuan ternak memiliki nilai yang berbeda pada setiap jenis ternak dan
setiap tingkat umur ternak. Satuan ternak digunakan untuk menyetarakan ternak
pada satu satuan yang sama sehingga dapat mempermudah dalam perhitungan,
estimasi dan proyeksi yang akan diberlakukan pada ternak itu sendiri. Nilai satuan
ternak setiap komoditas ternak dan pada tingkat umur ternak dapat dilihat pada
table 1 di bawah ini.
Tabel 1. Nilai Satuan Ternak

Sumber : Direktorat Peternakan. 1997

IV.

PROYEKSI FISIK DAN FINANSIAL

4.1 Komponen Fisik dan Faktor Waktu


Koefisien teknis dalam perencanaan usaha pemeliharaan ayam kampung
Setya Farm antara lain :
1. Ayam yang dipelihara : 100.000 ekor dalam 1 periode pemeliharaan (DOC
jantan) yaitu periode pemeliharaan selama 2 bulan, istirahat kandang 7
hari, 1 tahun 5x siklus produksi
2. Masa/Periode pemeliharaan : 2 bulan, istirahat kandang 7 hari
3. Pakan yang diberikan :
Jumlah pakan yang diberikan sesuai tingkatan umur adalah sebagai berikut :
7 gram/per hari sampai umur 1 minggu
19 gram/per hari sampai umur 2 minggu
34 gram/per hari sampai umur 3 minggu
47 gram/per hari sampai umur 4 minggu
58 gram/per hari sampai umur 5 minggu
66 gram/per hari sampai umur 6 minggu
72 gram/per hari sampai umur 7 minggu
74 gram/per hari sampai umur 8 minggu

4. Bobot akhir : 1 kg/ekor (pemeliharaan 2 bulan), lalu dijual


5. Mortalitas : 5 % setiap pemeliharaan tiap 1250 ekor
6. Kebutuhan pakan : Konsentrat 100%
7. Kebutuhan kandang : 1 m2/20 ekor

4. 1. Proyeksi Usaha Tahun ke-0 sampai tahun ke 10

4. 2. Komponen Finansial Dan Faktor Waktu


4.3. Biaya Investasi Dan penyusutan
INVESTASI

Banyaknya
(Unit)

luas (m2)

Satuan

a. Kandang
b. Kantor (pemasaran dan penjualan)

16
2

325
200

m2
m2

Rp
Rp

100,000.00
750,000.00

Rp
Rp

520,000,000.00
300,000,000.00

c. Gudang
d. Ruang Karyawan
e pagar
f tempat parkir

2
1
1
1

200
90
10000
100

m2
m2
m2
m2

Rp
Rp
Rp
Rp

750,000.00
750,000.00
25,000.00
100,000.00

Rp
Rp
Rp
Rp

300,000,000.00
67,500,000.00
250,000,000.00
10,000,000.00

25,000.00
30,000.00
50,000.00
20,000.00
50,000.00
15,000.00
2,000.00
20,000.00
500,000.00
500,000.00
10,000.00
1,000,000.00

Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp

125,000,000.00
150,000,000.00
250,000,000.00
1,000,000.00
500,000.00
2,400,000.00
4,000,000.00
100,000,000.00
8,000,000.00
10,000,000.00
20,000,000.00
100,000,000.00

No
1

Item

Jumlah

Pendirian bangunan

Peralatan
a. tempat pakan
b. tempat minum
c. Box plastic ayam panen
d. ember, sapu
e. sekop
f. lampu
g. kabel
h. Terpal
i. timbangan
j. pompa air + tangki air
k. selang air
l. perlengkapan brooder
Peralatan Kantor
a. Meja dan kursi

5000
5000
5000
50
10
160
2000
5000
16
20
2000
100

unit
unit
unit
unit
unit
unit
m2
m2
unit
m
m
unit

10

unit

Rp

1,000,000.00

Rp

10,000,000.00

4
4

unit
unit

Rp
Rp

4,000,000.00
500,000.00

Rp
Rp

16,000,000.00
2,000,000.00

4
2
4

unit
unit
unit

Rp
Rp
Rp
Rp

150,000,000.00
75,000,000.00
20,000,000.00
3,076,400,000.00

Rp
Rp
Rp

600,000,000.00
150,000,000.00
80,000,000.00

b. Komputer
c. Printer
4

Harga

Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp

Kendaraan
Truk Box
Pick up
Sepeda motor
Total Investasi

PENYUSUTAN

No
1

Item

Daya Tahan

Nilai Baru

Nilai Sisa

Penyusutan

Pendirian bangunan
a. Kandang
b. Kantor (pemasaran dan penjualan)

10
10

Rp
Rp

520,000,000.00
300,000,000.00

Rp
Rp

42,000,000.00

Rp
Rp
Rp
Rp

100,000,000.00 Rp
50,000,000.00 Rp
50,000,000.00 Rp
30,000,000.00 Rp
100,000,000.00 Rp
5,000,000.00 Rp

c. Gudang
d. Ruang Karyawan
e pagar
f tempat parkir

10
10
10
10

Rp
Rp
Rp
Rp

300,000,000.00
67,500,000.00
250,000,000.00
10,000,000.00

Peralatan
a. tempat pakan

10

Rp

125,000,000.00

Rp

50,000,000.00 Rp

7,500,000.00

b. tempat minum
c. Box plastic ayam panen
d. ember, sapu

10
10
10

Rp
Rp
Rp

150,000,000.00
250,000,000.00
1,000,000.00

Rp
Rp
Rp

7,500,000.00
20,000,000.00

Rp

500,000.00

Rp

75,000,000.00 Rp
50,000,000.00 Rp
500,000.00 Rp
10,000.00 Rp

e. sekop

10

f. lampu

10

Rp

2,400,000.00

Rp

140,000.00

Rp

4,000,000.00

Rp

1,000,000.00 Rp
2,000,000.00 Rp

g. kabel

10

h. Terpal

10

Rp

100,000,000.00

Rp

5,000,000.00

10

Rp

8,000,000.00

Rp

50,000,000.00 Rp
4,000,000.00 Rp

i. timbangan
j. pompa air + tangki air

10

Rp

10,000,000.00

Rp

700,000.00

k. selang air

10

Rp

20,000,000.00

Rp

3,000,000.00 Rp
10,000,000.00 Rp

1,000,000.00

l. perlengkapan brooder

10

Rp

100,000,000.00

Rp

60,000,000.00 Rp

4,000,000.00

a. Meja dan kursi

10

Rp

10,000,000.00

Rp

1,500,000.00

Rp

850,000.00

b. Komputer
c. Printer

10
10

Rp
Rp

16,000,000.00
2,000,000.00

Rp
Rp

4,000,000.00
500,000.00

Rp
Rp

1,200,000.00
150,000.00

Kendaraan
Truk Box
Pick up
Sepeda motor

10
10
10

Rp
Rp
Rp
Rp

600,000,000.00
150,000,000.00
80,000,000.00
3,076,400,000.00

Rp
Rp
Rp

25,000,000.00
25,000,000.00
3,750,000.00
15,000,000.00
500,000.00

50,000.00
49,000.00
200,000.00
400,000.00

Peralatan Kantor

400,000,000.00 Rp
50,000,000.00 Rp
40,000,000.00 Rp
Rp

20,000,000.00
10,000,000.00
4,000,000.00
193,989,000.00

4.4 Biaya Tetap

JUMLAH TENAGA KERJA DAN BALAS JASA


No

Jabatan

1
2
3
4
5
6
7
8
10
11
12

Director (owner)
Kepala Peternakan
Kepala Pemasaran
Acounting
Admin
spv kandang
Manager
karyawan produksi
karyawan pemasaran
karyawan bahan baku
Satpam
Total

Jumlah (orang)
1
1
1
1
1
1
32
1
1
2
42

Jumlah Upah/Bulan
(Rp)
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp

3,000,000.00
3,000,000.00
1,500,000.00
1,200,000.00
1,500,000.00
2,500,000.00
1,200,000.00
1,200,000.00
1,200,000.00
1,200,000.00

Total Balas Jasa (perbulan) Total Balas Jasa (pertahun)


Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp

3,000,000.00
3,000,000.00
1,500,000.00
1,200,000.00
1,500,000.00
2,500,000.00
38,400,000.00
1,200,000.00
1,200,000.00
2,400,000.00
55,900,000.00

Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp

36,000,000.00
36,000,000.00
18,000,000.00
14,400,000.00
18,000,000.00
30,000,000.00
460,800,000.00
14,400,000.00
14,400,000.00
28,800,000.00
670,800,000.00

BIAYA TETAP
Cicilan Bank

No
1
2
3
4
5
6
7
7

Item
Penyusutan
Gaji karyawan
Cicilan bank
Pajak
Pemeliharaan kandang
Pemeliharaan kendaraan
pajak pph
CSR
Total Biaya Tetap

Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp

Penyusutan
193,989,000.00
670,800,000.00
56,750,000.00
36,000,000.00
16,000,000.00
10,000,000.00
25,000,000.00
25,000,000.00
1,033,539,000.00

Hutang
Bunga
Jangka waktu
cicilan/bln
cicilan/th

Rp
13.50%
120
Rp
Rp

500,000,000.00
Bulan
4,729,166.67
56,750,000.00

4.5. Biaya Variabel


BIAYA VARIABEL

No
Item
1 Bahan Baku
a. DOC
b. Pakan
c. broder + keswan

Jumlah (perhari)
1389
3665
1600

2 Transportasi
a. truk
b. pic up
c. motor
3 Listrik
TOTAL

Nilai

Pertahun

ekor/hari
kg/hari
1000 rupiah/ekor

Rp
Rp
Rp

7,000.00
7,500.00
1,000.00

360
360
360

liter/hari
liter/hari
liter/hari
/bulan

Rp
Rp
Rp

6,700.00
7,600.00
7,600.00

360
360
360
bulan

Jumlah

Nilai

Total

500,000 Rp
1,319,500 Rp
576,000 Rp

3,500,000,000.00
9,896,250,000.00
576,000,000.00

67000.00
Rp
76000.00
Rp
30400.00
Rp
192,000,000.00

448,900,000.00
577,600,000.00
231,040,000.00

Rp 13,972,250,000.00

Rp

10
10
4
16,000,000.00

12

Rp

TOTAL

Rp
Rp

1,257,540,000.00
192,000,000.00

Rp 15,421,790,000.00

4.6. Analisa Cash Flow

CASH FLOW USAHA SETYA FARM 10 TAHUN DENGAN ESTIMASI PRODUKSI YANG STATIS

Cash Flow

ayam 1 kg

Bunga Deposito
Total In flow

0
0

Investasi
Biaya tetap
Biaya variabel
Total Out Flow
Selisih/benefit

18,050,000,000.00
43,750,000
18,093,750,000.00

20,486,750,000
49,437,500
20,536,187,500.00

23,150,027,500
55,864,375
23,205,891,875.00

3,076,400,000
0
0
Rp
1,033,539,000
0
Rp 15,421,790,000
3,076,400,000
16,455,329,000.00
3,076,400,000
1,638,421,000.00

0
1,167,899,070
17,426,622,700.00
18,594,521,770.00
1,941,665,730.00

0
1,319,725,949
19,692,083,651.00
21,011,809,600.10
2,194,082,274.90

Tahun Ke
5
In flow
26,159,531,075
29,560,270,115
63,126,744
71,333,220
26,222,657,818.75
29,631,603,335.19
Cash Flow
0
0
1,491,290,322
1,685,158,064
22,252,054,525.63
25,144,821,613.96
23,743,344,848.11
26,829,979,678.37
2,479,312,970.64
2,801,623,656.82
4

10

33,403,105,230
80,606,539
33,483,711,768.76

37,745,508,910
91,085,389
37,836,594,298.70

42,652,425,068
102,926,490
42,755,351,557.53

48,197,240,327
116,306,933
48,313,547,260.01

54,462,881,569
131,426,835
54,594,308,403.81

0
1,904,228,613
28,413,648,423.78
30,317,877,036.56
3,165,834,732.21

0
2,151,778,332
32,107,422,718.87
34,259,201,051.31
3,577,393,247.39

0
2,431,509,516
36,281,387,672.32
38,712,897,187.98
4,042,454,369.55

0
2,747,605,753
40,997,968,069.72
43,745,573,822.41
4,567,973,437.60

0
3,104,794,501
46,327,703,918.79
49,432,498,419.33
5,161,809,984.48

4.6. NERACA KEUANGAN PT SETYA FARM

Asset
Aktiva Lancar (Current Asset)
ayam siap jual
Rp
18,050,000,000.00
Deposito
Rp
500,000,000.00
Aktiva Menengah (Intermediet Asset)
peralatan kandang Rp
297,500,000.00
Peralatan kantor
Rp
6,500,000.00
Aktiva Tetap (Fixed Asset)
Bangunan
Rp
1,120,000,000.00
Kendaraan
Rp
830,000,000.00
Total Asset
Rp
20,804,000,000.00

Liquiditas
Solvabilitas
Rasio Modal bersih
D/E ratio

Liability
Hutang lancar (Current Liability )
Biaya produksi Rp
16,455,329,000.00
Hutang tengah (Intermediet Liability)
Bank
Rp
500,000,000.00
Modal sndiri
Rp
500,000,000.00
Jangka Panjang (Long Term Debt)
0
Total Liability Rp
Net Worth
Rp

1.13 TOTAL ASET


100
1.191842331 HUTANG LANCR
34.910658

17,455,329,000.00
3,348,671,000.00

22160000000
18849579000

V.

KELAYAKAN USAHA

Studi kelayakan proyek atau usaha adalah tentang dapat tidaknya suatu
proyek dilaksanakan, biasanya proyek investasi dilaksanakan dengan berhasil
(Husnan dan Suwarsono, 2000). Menentukan layak atau tidaknya suatu proyek
atau usaha harus dilihat dari berbagai aspek. Setiap aspek untuk dikatakan layak
harus memiliki suatu standar tertentu. Namun penilaian tidak hanya dilakukan
pada hanya satu aspek saja. Penilaian untuk menentukan kelayakan harus
didasarkan kepada seluruh aspek yang akan dinilai, tidak berdiri sendiri. Jika ada
aspek yang kurang layak akan diberikan beberapa saran perbaikan sehingga
memenuhi kriteria yang layak. Namun, apabila tidak dapat memenuhi kriteria
tersebut sebaiknya jangan dijalankan (Keown, et all. 2001). Menurut Husnan dan
Suwarsono (2000) secara umum aspek-aspek yang diteliti dalam studi kelayakan
usaha meliputi aspek pasar, aspek teknis, aspek finansial, aspek manajemen, aspek
hukum, aspek ekonomi, dan aspek sosial.

5.1 Analisa Pasar dan Pemasaran


5.1.1 Segmentasi Pasar
Segmentasi pasar adalah pengelompokkan pasar menjadi kelompokkelompok konsumen yang homogen, dimana tiap kelompok (bagian) dapat dipilih
sebagai pasar yang dituju (ditargetkan) untuk pemasaran suatu produk.
Segmentasi pasar (marketing segmentation) merupakan suatu langkah awal
pemasaran (marketing) untuk membagi-bagi berbagai macam konsumen yang ada
di pasar dan memilih salah satu bagian dari segmen tersebut yang akan dijadikan
target pemasaran (Marketing Target). Kelompok sasaran masyarakat umum yang
berada dalam wilayah pemasaran dan dalam memasarkan ayam kampong dapat
dibagi menjadi tiga kelas sebagai berikut.
a. Konsumen utama
Merupakan kelompok konsumen yang membeli ternak dalam bentuk DOC
yang kemudian akan digemukkan/dipelihara.

b. Konsumen menengah
Merupakan konsumen yang membeli ternak untuk dijual kembali ke
konsumen yang lainnya baik Pullet atau afkir.
c. Konsumen biasa
Merupakan kelompok konsumen yang membeli ternak untuk memenuhi
kebutuhan sendiri, baik untuk acara keagamaan, kelahiran atau yang lainya.

5.1.2 Lembaga Pemasaran


Lembaga pemasaran adalah pihak yang menjalankan fungsi-fungsi
pemasaran.Lembaga ini dapat terdiri dari perorangan atau pun kelompok. Di mana
masing-masing lembaga pemasaran tersebut dapat menjalanjan salah satu atau
pun beberapa tugas sekaligus. Lembaga pemasaran dalam usaha ini dibagi
menjadi dua kelompok yaitu sebagai berikut.
1. Pedagang perantara,
a. Produsen, sebagai pembuat dan penyalur.
b. Pedangan besar, sebagai penjual barang dalam partai besar.
c. Pengecer, sebagai penjual barang kepada konsumen.

Perantara agen, yaitu lembaga pemasaran yang melaksanakan perdagangan


dengan menyediakan jasa/fungsi khusus yang berhubungan dengan penjualan dan
distribusi barang tetapi tidak berhak memiliki barang tersebut

5.2 Analisa Finansial


Analisis kelayakan finansial dilakukan untuk menentukan apakah suatu
usaha dari segi finansial layak atau tidak untuk dijalankan. Analisis kelayakan
finansial usaha peternakan ayam kampong oleh PT. Setya Farm, Purworejo
dilakukan dengan mengkaji aspek finansial. Aspek-aspek finansial menggunakan
kriteria-kriteria analisis investasi yaitu, Net Present Value (NPV), Internal Rate
Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Break Event Point (BEP), dan

Payback Period (PP). Untuk menganalisis kriteria-kriteria tersebut digunakan


suatu metode perhitungan atau yang sering disebut arus kas (cash flow). Cash flow
disusun untuk menunjukan perubahan kas selama satu periode tertentu serta
memberikan alasan mengenai perubahan kas tersebut dengan menunjukan dari
mana sumber-sumber kas dan penggunaannya. Lebih sederhanannya cash flow
bertujuan untuk mengetahui besarnya manfaat yang diterima dan biaya yang
dikeluarkan dalam proyek atau usaha yang dijalankan oleh oleh PT. Setya Farm,
Purworejo
Berikut ini rincian kondisi Finansial PT Setya Farm :
A.

Biaya Investasi
Biaya investasi awal perusahaan sebesar Rp 3,076,400,000 dan memiliki

biaya penyusutan per tahunnya sebesar Rp193,989,000.00 dengan rincian yang


tertera pada Lampiran .
B.

Struktur Finansial
Modal perusahaan untuk investasi didapat dari hutang bank dan modal

pribadi. Perusahaan meminjam uang ke bank sebesar Rp 500.000.000. dengan


bunga 13,5%. Pinjaman beserta bunganya dibayar dalam waktu 10 tahun.

Estimasi Penjualan
Ayam kampong yang dijual pada perusahaan ini harganya berdasarkan harga

pasar dan berdasar bobot ayam (1 kg, yaitu Rp.38.000,00).


Nilai penjualan per tahun sebesar Rp18,050,000,000.00

Estimasi Biaya Produksi


Biaya produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan ini terdiri dari biaya tetap

dan biaya variabel. Biaya tetap yang dikeluarkan per tahun adalah sebesar

Rp1,033,539,000.00 dan biaya variabel yang dikeluarkan per tahun adalah


sebesar Rp15,421,790,000.00 per tahunnya.

Cash Flow
Rincian cash flow dimana mencakup pengeluaran dan penerimaan dari

kegiatan bisnis peternakan ayam ini tertera pada Lampiran .

Proyeksi Neraca Untung Rugi


Jumlah penerimaan lebih besar dari biaya-biaya yang dikeluarkan setiap

tahunnya . Proyeksi neraca untung rugi PT. Setya Farm ini tertera pada Lampiran

Kriteria Investasi
Kriteria investasi disesuaikan dengan nilai NPV, IRR, B/C, dan PBP.

Berdasarkan hasil analisis finansial didapatkan hasil sebagai berikut;

Net Present Value (NPV)


Net Present Value (NPV) suatu proyek atau usaha adalah selisih antara nilai
sekarang (present value) manfaat dengan arus biaya. NPV juga dapat diartikan
sebagai nilai sekarang dari arus kas yang ditimbulkan oleh investasi. Menurut
Keown (2001), Net Present Value diartikan sebagai nilai bersih sekarang arus kas
tahunan setelah pajak dikurangi dengan pengeluaran awal. Dalam menghitung
NPV perlu ditentukan tingkat suku bunga yang relevan. Kriteria investasi
berdasarkan NPV yaitu:
1. NPV = 0, artinya proyek tersebut mampu mengembalikan persis sebesar
modal sosial Opportunities cost faktor produksi normal. Dengan kata
lain, proyek tersebut tidak untung dan tidak rugi.
2. NPV > 0, artinya suatu proyek sudah dinyatakan menguntungkan dan
dapat dilaksanakan.
3. NPV < 0, artinya proyek tersebut tidak menghasilkan nilai biaya yang
dipergunakan. Dengan kata lain, proyek tersebut merugikan dan
sebaiknya tidak dilaksanakan.

NPV yang didapat pada usaha peternakan Setya Farm yaitu sebesar Rp.
27,730,585,865 sehingga usaha tersebut dikatakan Go.

Cara mencari Discount faktor :

NPV total penerimaan

= total penerimaan tahun ke t x discount faktor

NPV total biaya

= total biaya tahun ke t x discount faktor

NPV pendapatan

= pendapatan tahun ke t x discount faktor atau


(NPVtotal penerimaan NPV total biaya)

Nilai net present value (NPV) = total NPV pendapatan investasi


= Rp 17,228,998,376 - Rp 3,076,400,000
= Rp 14,152,598,376
Net Persent Pendapatan Usaha.
NET PRESENT VALUE

Tahun ke
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Tingkat Bunga 13.5%


Kas Bersih
Df 13.5%
3,076,400,000
1
1,638,421,000
0.881057269
1,851,415,730
0.776261911
2,092,099,775
0.683931199
2,364,072,746
0.602582554
2,671,402,203
0.530909739
3,018,684,489
0.467761885
3,411,113,472
0.412125009
3,854,558,224
0.363105735
4,355,650,793
0.319916947
4,921,885,396
0.281865151
NPV

PV Kas Bersih
3,076,400,000
1,443,542,731
1,437,183,512
1,430,852,307
1,424,548,993
1,418,273,447
1,412,025,546
1,405,805,169
1,399,612,195
1,393,446,503
1,387,307,972
17,228,998,376

Berdasarkan hasil perhitungan dan persamaan nilai rupiah di masa sekarang


dan yang akan datang pada table di atas, dapat dinyatakan bahwa NPV usaha
Peternakan PT. Setya Farm lebih besar dari 0, yang artinya layak untuk
dilaksanakan sampai 10 tahun kedepan.

International Rate Ratio (IRR)


IRR adalah tingkat diskonto yang dapat membuat manfaat sekarang netto
dari arus manfaat netto tambahan atau arus uang tambahan sama dengan nol atau
dengan kata lain bahwa tingkat IRR merupakan tingkat bunga maksimum yang
dapat dibayar oleh proyek sehubungan dengan sumberdaya yang digunakan.
Biasanya hasilnya dibandingkan dengan bunga deposito yang sedang berlaku.
= 1 1

P1

= tingkat bunga satu


P2

= tingkat bunga dua

C1

= NPV 1(bernilai +)

C2

= NPV 2 (bernilai -)

Perhitungan Internal Rate Return Usaha


INTERNAL RATE RETURN
13.5

Tahun ke
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Kas Bersih
3,076,400,000
1,638,421,000
1,851,415,730
2,092,099,775
2,364,072,746
2,671,402,203
3,018,684,489
3,411,113,472
3,854,558,224
4,355,650,793
4,921,885,396
NPV

Df 13.5%
1
0.881057269
0.776261911
0.683931199
0.602582554
0.530909739
0.467761885
0.412125009
0.363105735
0.319916947
0.281865151

15

PV Kas Bersih
3,076,400,000
1,443,542,731
1,437,183,512
1,430,852,307
1,424,548,993
1,418,273,447
1,412,025,546
1,405,805,169
1,399,612,195
1,393,446,503
1,387,307,972
17,228,998,376

Df 15%
1
0.869565217
0.756143667
0.657516232
0.571753246
0.497176735
0.432327596
0.37593704
0.326901774
0.284262412
0.247184706

PV Kas Bersih
3,076,400,000
1,424,713,913
1,399,936,280
1,375,589,562
1,351,666,265
1,328,159,026
1,305,060,608
1,282,363,902
1,260,061,921
1,238,147,800
1,216,614,795
16,258,714,071.53

=
13,5 Rp.

17,228,998,376

,
.

IRR = 40.13 %
Kisaran bunga deposito setiap bank berbeda dan IRR hasil perhitungan
usaha PT. Setya Farm menunjukkan angka 40.13 % artinya diatas rata-rata
bunga deposito yaitu 8,75 %. Hal tersebut menunjukkan bahwa modal usaha yang
dilimpahkan pada usaha dapat dikelola dengan baik atau dengan kata lain lebih

baik digunakan sebagai modal usaha dibandingkan dengan di depositokan ke


bank.
Benefit/Cost Ratio (B/C)
Analisis manfaat-biaya merupakan analisis yang digunakan untuk
mengetahui besaran keuntungan/kerugian serta kelayakan suatu proyek. Analisis
ini memperhitungkan biaya serta manfaat yang akan diperoleh dari pelaksanaan
suatu program. Perhitungan manfaat serta biaya ini merupakan satu kesatuan yang
tidak dapat dipisahkan.
Perhitungan Benefit/Cost Ratio
B/C pertahun
Tahun ke
0.469461058
0.099567806
0.099567806
0.099567806
0.099567806
0.099567806
0.099567806
0.099567806
0.099567806
0.099567806
0.099567806
0.107403954 TOTAL

B/C

B/C RASIO
PV Cost
0
3076400000
1
14498087225
2
14434218999
3
14370632131
4
14307325382
5
14244297517
6
14181547307
7
14119073531
8
14056874969
9
13994950409
10
13933298646
145216706114.66

PV Benefit
1444250000
1443542731
1437183512
1430852307
1424548993
1418273447
1412025546
1405805169
1399612195
1393446503
1387307972
15596848376

= Rp 155.968.483.76
Rp. 145.216.706.114
= 0,10
Berdasarkan perhitungan B/C diketahui bahwa usaha PT. Setya Farm ini

feasible (lebih dari 1) , artinya layak diaksanakan. Artinya setiap peengeluaran


uang sebesar Rp 1, mendapat keuntungan Rp 0,10. (Layak)

Perhitungan Return/ Cost Rasio (R/C)

Tahun ke

TOTAL

R/C

R/C RASIO
PV Cost
PV Penerimaan
R/C prtahun
0
3076400000
3076400000
1
1
14498087225
15941629956
1.099567806
2
14434218999
15871402511
1.099567806
3
14370632131
15801484438
1.099567806
4
14307325382
15731874375
1.099567806
5
14244297517
15662570964
1.099567806
6
14181547307
15593572854
1.099567806
7
14119073531
15524878700
1.099567806
8
14056874969
15456487164
1.099567806
9
13994950409
15388396912
1.099567806
10
13933298646
15320606617
1.099567806
145216706114.66 159369304490.82
1.097458473

= Rp 159.369.304.490
Rp. 145.216.706.114
= 1,09

Berdasarkan perhitungan R/C diketahui bahwa usaha PT. Setya Farm ini feasible
(lebih dari 1) , artinya layak diaksanakan. Artinya Setiap Pengeluaran uang sebsar
Rp 1, akan mendapatkan uang kembali (penerimaan atau Revenue) sebesar Rp
1,09 rupiah.
Pay Back Pheriod (PBP)
Merupakan tekhnik perhitungan yang digunakan untuk mengetahui berapa
lama modal yang ditanamkan akan kembali. Berdasarkan perhitungan analisis
finansial, usaha PT.Setya Farm dapat menguntungkan jika dijalankan dan
mampu bersaing ditengah-tengah maraknya perindustrian pepeternakan ayam
kampung.
=

Perhitungan PBP (Tingkat Bunga 13,5%)


PAY BACK PHERIOD

Tahun ke
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Kas Bersih
3,076,400,000
1,443,542,731
1,631,203,286
1,903,176,257
2,210,505,714
2,557,788,000
2,950,216,984
3,393,661,735
3,894,754,304
4,460,988,908
5,100,834,009

=4+

Df 13.5%

1
0.881057269
0.776261911
0.683931199
0.602582554
0.530909739
0.467761885
0.412125009
0.363105735
0.319916947
0.281865151

PV Kas Bersih
3,076,400,000
1,443,542,731
1,631,203,286
1,843,259,714
2,082,883,476
2,353,658,328
2,659,633,911
3,005,386,319
3,396,086,541
3,837,577,791
4,336,462,904

Nilai Kumulatif
3,076,400,000
1,443,542,731
3,074,746,018
4,918,005,731
7,000,889,208
9,354,547,536
12,014,181,447
15,019,567,766
18,415,654,307
22,253,232,098
26,589,695,002

Rp. 3,076,400,000 Rp. 7,000,889,208


Rp. 9,354,547,536 Rp 7,000,889,208

= 2.33

Berdasarkan hasil perhitungan diketahui bahwa investasi dapat dikembalikan


dalam kurun waktu 2.33 tahun, atau investasi dapat kembali dalam waktu 2 tahun
4 bulan.
Break Event Point (BEP)
Break event point adalah suatu keadaan dimana dalam suatu operasi perusahaan
tidak mendapat untung maupun rugi/ impas (penghasilan = total biaya). Tujuan
dari analisis break event point yaitu untuk mengetahui pada volume penjualan
atau produksi berapakah suatu perusahaan akan mencapai laba tertentu. BEP
terdiri dari BEP dalam produk dan BEP dalam rupiah.
Biaya variabel satuan =

Rp15,421,790,000.00

= Rp32,466.93 / kg (ekor)

BEP dalam produk

Rp1,033,539,000.00

= 186.793 ekor

BEP dalam Rupiah =

/
/

,
,

.
.

= Rp7,098,131,028.34
BEP Dalam waktu = Rp7,098,131,028.34 dicapai dalam waktu 4 tahun
Berdasarkan perhitungan diatas, BEP rupiah dicapai pada tingkat
penerimaan Rp7,098,131,028.34 dan BEP produk yang dihasilkan akan mencapai
186.793 ekor. Artinya apabila perusahaan menjual ayam dalam jumlah sebanyak
itu maka perusahaan berada pada titik impas, artinya tidak untung dan tidak pula
mengalami kerugian. BEP dalam waktu dicapai pada waktu 4 tahun ( PV
penerimaan di tahun ke 4).
Menghitung Liquiditas
Berikut ini kondisi Aset dan Hutang PT Setya Farm :
Asset
Aktiva Lancar (Current Asset)
ayam siap jual
Rp
18,050,000,000.00
Deposito
Rp
500,000,000.00
Aktiva Menengah (Intermediet Asset)
peralatan kandang
Rp
297,500,000.00
Peralatan kantor
Rp
6,500,000.00
Aktiva Tetap (Fixed Asset)
Bangunan
Rp
1,120,000,000.00
Kendaraan
Rp
830,000,000.00
Total Asset
Rp
20,804,000,000.00

Liquiditas
Solvabilitas
Rasio Modal bersih
D/E ratio

Liability
Hutang lancar (Current Liability )
Biaya produksi Rp
16,455,329,000.00
Hutang tengah (Intermediet Liability)
Bank
Rp
500,000,000.00
Modal sndiri
Rp
500,000,000.00
Jangka Panjang (Long Term Debt)
0
Total Liability
Net Worth

1.13 TOTAL ASET


100
1.191842331 HUTANG LANCR
34.910658

Rp
Rp

17,455,329,000.00
3,348,671,000.00

22160000000
18849579000

Liquiditas adalah kemampuan usaha (perusahaan membayar kewajibankewajiban finansial setiap saat atau menutup hutang-hutangnya dalam jangka
pendek tanpa mengganggu jalanya perusahaan.

Jika RJP >1 berarti hutang dapat dibayar (memiliki uang tunai)
RJP =1 berarti kekayaan sama dengan hutang
RJP < 1 berarti perusahaan tidak dapat membayar hutang dan harus
Menjual asset.

Rentang RJP yang baik adalah 1> RJP 2


Liquiditas =
= Rp18,550,000,000.00
Rp16,455,329,000.00
= 1.13
Berdasarkan

hasil

perhitungan

liquiditas

perusahaan

Setya Farm

mempunyai kemampuan yang cukup tinggi untuk mengembalikan utang


perusahaan ke Bank. Setya Farm memiliki kemampuan untuk membayar hutang
dan memiliki uang tunai.

Menghitung Solvabilitas
Solvabilitas adalah perhitungan yang membandingkan antara modal
pribadi dan modal pinjaman dalam persen. Bila solvabilitas 100% maka modal
yang digunakan seluruhnya dari modal probadi. Sebaliknya jika solvabilitas 0%
maka modal seluruhnya berasal dari pinjaman. Solvabilitas yang cukup baik
adalah diatas 50%.
Solvabilitas = (500.000,000/500.000,000) x100 %
= 100 %
Berdasarkan perhitungan solvabilitas diketahui

bahwa

solvabilitas

perusahaan berada pada posisi yang aman (>=50%). modal pribadi yang ada di

perusahaan namun masih dapat membayar hutang dan usaha ini dan usaha ini
menguntungkan.

Menghitung Rasio Modal Bersih


Rasio modal bersih adalah perhitungan yang memberikan gambaran
kedudukan liquiditas dan solvabilitas usaha atau dapat dikatakan menunjukkan
kelestarian usaha. Jika hasil perhitungan > dari 1 maka usaha dapat dikatakan
lestari.

Modal Bersih = Total Asset


Total Liability
=

Rp 20,804,000,000.00
Rp17,455,329,000.00

= 1,19

Dari Rasio Modal Bersih yang diperoleh, terlihat PT Setya Farm memiliki
kondisi yang sehat dan stabil dari sisi asset yang dimilki dibanding hutang
perusahaan.

KESIMPULAN

Usaha atau proyeksi usaha peternakan ayam kampung dikatakan layak


untuk dilaksanakan, dengan indikator :
NPV usaha peternakan ayam kampung selama 10 tahun adalah
Rp14,152,598,376 dengan B/C ratio sebesar 0,10, R/C sebesar 1.09 (lebih dari 1)
dan nilai IRR 40,11 % (lebih besar dari bunga deposito 8.75%). Usaha layak
dilaksanakan setelah tahun ke 2, dengan Pay Back period 2,33. Pay back period
setelah tahun ke 2, hal ini bisa terjadi karena jumlah nilai investasi mula-mula
sebesar Rp 3,076,400,000 dan pendapatan sudah mencapai Rp. 4,918,005,731
pada tahun ketigas, Pay Back Period di capai antara tahun kedua dan ketiga,
tepatnya pada waktu 2 tahun lebih 4 bulan. Usaha sudah layak dilaksanakan dari
awal tahun kedua. BEP dicapai pada harga Rp32,466.93 / kg (ekor dan pada
penerimaan Rp7,098,131,028.34 yang dicapai dengan kapasitas produksi 186.793
ekor. BEP dicapai dalam waktu 4 tahun setelah perusahaan aktif beroprasi. Dari
sisi kondisi perusahaan, maka perusahaan ini sehat dengan kemampuab
mengembalikan hutang yang kuat, terlihat dari Liquiditas 1,13 dan solvabilitas
100 persen. Perusahaan ini dikatakan layak untuk dijalankan dan
diproyeksikan mampu memberi keuntungan dimas datang.

REKOMENDASI

Rekomendasi yang dapat penulis sampaikan adalah pantau terus harga


pasar agar di dalam penentuan harga jual tidak mengalami kesalahan yang
berujung pada kerugian.
Perbaiki performans usaha dari aspek produksi dengan memperbaiki
manajemen angka FCR turunkan dari 2,77. Karena FCR memiliki peran yang
besar terkait biaya pakan.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z. 2002. Meningkatkan Produktivitas Ayam Ras Pedaging. Agromedia


Pustaka. Jakarta.
Aswanto, 2010. Beternak Ayam Kampung. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian.
Kalimantan Barat.
Badan Pusat Statistik. 2013. Laporan Hasil Sensus Pertanian tahun 2013. [www.
purworejokab.bps.go.id. Diakses 10 Desember 2014].
Direktorat Jenderal Peternakan. 2014. Data Satatistik Populasi Ternak.
[www.ditjenak.go.id. diakses 20 Desember 2014]
Direktorat Peternakan. 1997. Usaha Peternakan, Perencanaan Usaha, Analisa
Dan Pengelolaan. Direktorat Jenderal Peternakan RI. Jakarta.
Fadillah, R. 2004. Panduan Mengelola
Komersial.Agromedia Pustaka. Jakarta.

Peternakan

Ayam

Broiler

Gittinger. 1986. Analisa Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. UI-Press. Jakarta

Gunawan. 2002. Evaluasi Model Pengembangan Usaha Ternak Ayam Buras dan
Upaya Perbaikannya . (disertasi). Bogor. Institut Pertanian Bogor.
Husnan, Suad dan Suwarsono. 2000. Studi Kelayakan Proyek. Unit.Penerbit dan
Pencetak AMP YKPN. Yogyakarta.
Iskandar, S., D. Zainuddin, S. Sastrodihardjo, T. Sartika, P. Stiadi Dan T. Sutanti.
1998. Respon pertumbuhan ayam kampung dan ayam silangan pelung terhadap
ransum berbeda kandungan protein. JITV, 3:1-14. Puslitbang Peternakan,
Bogor.
Keown, et all. 2001. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Salemba Empat. Jakarta

Rasyaf, M. 2004. Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya. Jakarta Residu.


Penebar Swadaya. Jakarta.
Rasyaf, M. 2010. Manajemen Peternakan Ayam Kampung. Yogyakarta: Kanisius

Sunarto, Hesti N., Delly N. & Dwi S. Y. 2004. Petunjuk Pengembangan Ayam
Buras di BPTU Sembawa, Dirjen Bina Produksi Peternakan Balai
Pembibitan Ternak Unggul Sapi Dwiguna dan Ayam Departemen Pertanian.
Sembawa

Zakaria, S. 2004a. Pengaruh luas kandang terhadap produksi dan kualitas telur
ayam buras yang dipelihara dengan system litter. Bulletin Nutrisi dan
Makanan Ternak 5(1); 1-11.