Anda di halaman 1dari 18

Respon dan Perubahan Perilaku pada Pasien

Penderita Kanker
Makalah ini untuk Memenuhi Tugas Bahasa Indonesia

DISUSUN OLEH :
HALIMAH
220110130017

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2013

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan Kehadirat Allah Swt. yang telah


melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami telah menyelesaikan
makalah dengan tema Peran Komunikasi Terapeutik dalam Penyembuhan
Pasien.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Bahasa Indonesia. Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak
mendapat kendala dan hambatan akan tetapi dengan bantuan dan
dukungan dari berbagai pihak kendala itu dapat teratasi. Oleh karena itu,
penulis mengucapkan terima kasih

kepada semua pihak yang telah

membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga amal perbuatan mereka


mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah Swt.
Dengan dapat diselesaikannya penulisan makalah ini, semoga
pengalaman ilmu dalam penyusunan makalah ini dicatat sebagai kebaikan
kita semua oleh Allah Swt. kritik dan saran dari pembaca akan kami terima
sebagai bahan perbaikan dalam penyusunan ke depan. Semoga makalah ini
dapat memberikan manfaat kepada kita semua.

Cimahi, 08 Desember 2013

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul...............................................................................................................

KATA PENGANTAR.....................................................................................................

DAFTAR ISI..................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN..............................................................................................

1.1 Latar Belakang Masalah.......................................................................................

1.2 Rumusan Masalah................................................................................................

1.3 Tujuan..................................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN...............................................................................................

2.1 Pengertian Komunikasi Terapeutik.......................................................................

2.2 Tujuan dilakukan Komunikasi Terapeutik............................................................

2.3 Karakteristik Pemberi Komunikasi Terapeutik.....................................................

2.4 Fase-fase dalam Hubungan Terapeutik.................................................................

2.5 Komponen Hubungan Terapeutik......................................................................... 12


2.6 Teknik Hubungan Terapeutik................................................................................ 12
2.7 Respon Pasien setelah melakukan Hubungan Terapeutik..................................... 15
BAB III PENUTUP........................................................................................................ 16
3.1 Simpulan.............................................................................................................. 16
3.2 Saran.................................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................... 17
LAMPIRAN................................................................................................................... 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Komunikasi merupakan aspek yang paling penting dalam segala hal. Tanpa
komunikasi, semua tak akan berjalan dengan baik, terutama dalam bidang
keperawatan. Seorang perawat harus memiliki keterampilan berkomunikasi yang
baik karena sangat di butuhkan dalam menciptakan hubungan yang baik antara
perawat dengan pasien. Komunikasi ini biasa disebut komunikasi terapeutik.
Kemampuan untuk membangun hubungan terapeutik merupakan salah satu
keterampilan yang paling penting yang dapat dikembangkan oleh perawat.
Hubungan ini merupakan keberhasilan intervensi pada pasien atau klien psikiatri
walaupun memang pennting bagi setiap spesialisasi keperawatan. Pelaksanaan
hubungan terapeutik dan komunikasi dalam hubungan tersebut berfunngsi sebagai
landasan pelaksanaan terapi dan keberhasilannya.
Komunikasi terapeutik merupakan suatu alat dalam melaksanakan suatu
asuhan keperawatan yang ditujukan untuk merubah perilaku klien yang bersifat
terapi. Komunikasi terapeutik digunakan oleh perawat yang memiliki pengaruh
sangat besar terhadap kesembuhan pasien dalam masalah psikologis.
Dalam bidang keperawatan, komunikasi penting untuk menciptakan
hubungan antara perawat dengan pasien, untuk mengenal kebutuhan pasien dan
menentukan rencana tindakan serta kerja sama dalam memenuhi kebutuhan
tersebut (Purwanto, 1994).
Banyak perawat yang hanya keluar-masuk kamar pasien untuk mengganti
infus, merawat luka, memberikan suntikan, memberikan obat dan menunggu
apabila ada panggilan dari pasien atau keluarga pasien. Dari hal tersebut bisa
terlihat bahwa komunikasi yang dilakukan perawat dengan pasien sangat minim.

Sebagai perawat harus pandai berkomunikasi, terutama dalam komunikasi


terapeutik karena komunikasi terapeutik itu sangat berpengaruh terhadap proses
penyembuhan dari penyakit yang sedang di derita oleh pasien.
Hubungan terapeutik berbeda dengan hubungan yang lain seperti hubungan
sosial atau hubungan intim dalam banyak hal karena hubungan terapeutik inni
berfokus pada kebutuhan, pengalaman, perasaan, dan ide dari pasien atau klien.
Dalam hubungan terapeutik ini, area kerja disepakati dan hasil akhir dievaluasi
secara

berkesinambungan.

Perawat

harus

menggunakan

keterampilan

berkomunikasi, kekuatan personal, dan pemahaman atas perilaku manusia untuk


berinteraksi dengan klien atau pasien.
Dalam hubungan terapeutik, parameternya jelas: berfokus pada kebutuhan
pasien atau klien bukan kebutuhan perawat. Seorang perawat tidak perlu
mengkhawatirkan apakah klien menyukainya atau berterima kasih kepada
perawat. Perawat harus bisa menjaga agar hubungan terapeutiknya tidak berubah
menjadi hubungan yang lebih sosial. Tingkat kesadaran diri perawat bisa
menguntungkan aau merugikan hubungan terapeutik tersebut.

1.2 Rumusan Masalah


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Apa yang dimaksud dengan Komunikasi Terapeutik?


Apa tujuan dari Komunikasi Terapeutik?
Apa saja karakteristik pemberi Komunikasi Terapeutik?
Fase apa saja yang dilalui ketika membangun Hubungan Terapeutik?
Komponen apa saja yang terdapat dalam membina Hubunngan Terapeutik?
Bagaimana teknik membina Hubungan Terapeutik?
Bagaimana pengaruh Komunikasi Terapeutik terhadap proses
penyembuhan pasien?

1.3 Tujuan

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui apa yang dirasakan oleh
pasien dalam keadaan menderita penyakit kanker dan mengetahui respon pasien
dalam komunikasi sehingga dapat terlihat apa yang akan terjadi setelah
dilakukannya komunikasi terapeutik. Selain itu juga untuk melatih agar seorang
perawat cepat memberikan respon yang terapeutik terhadap pasien dalam kondisi
apapun yang ditujukan untuk proses penyembuhan pasien dari kondisi tersebut.
Komunikasi ini juga untuk mengkaji persepsi pasien tentang penyakit tersebut.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Komunikasi Terapeutik


Komunikasi Terapeutik merupakan suatu interaksi interpersonal antara
perawat dengan pasien, yang selama berinteraksi berlangsung, perawat berfokus
pada kebutuhan khusus pasien untuk meningkatkan pertukaran informasi yang
efektif antara perawat dengan pasien.
Komunikasi Terapeutik juga merupakan suatu alat berkomunikasi dalam
melaksanakan asuhan keperawatan yang ditujukan untuk merubah perilaku pasien
yang bersifat terapi.
Ada juga definisi Komunikasi Terapeutik menurut para ahli, antara lain:
Komunikasi terapeutik merupakan proses pertukaran informasi atau proses
yang menimbulkan dan meneruskan makna atau arti (TAYLOR, 1983).
Komunikasi terapeutik merupakan proses penyampaian informasi, makna,
dan pemahaman dari pengirim pesan kepada penerima pesan (BURGESS, 1988).
Komunikasi terapeutik merupakan kegiatan mengajukan pengertian yang
didinginkan

dari

pengirim

informasi

kepada

penerima

informasi

dan

menimbulkan perubahan tingkah laku yang diinginkan dari penerima informasi


(YUWONO, 1985).
Komunikasi terapetik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni
dari penyembuhan. Hal yang menggambarkan bahwa dalam menjalani proses
komunikasi terapetik, seorang perawat melakukan kegiatan dari mulai
pengkajian, menentukan masalah keperawatan, menentukan rencana tindakan
keperawatan, melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan yang telah
direncanakan sampai pada evaluasi semuanya itu bisa dicapai dengan maksimal
apabila terjadi proses komunikasi yang efektif dan intensif (AS.HOMBY, 1974)
yang dikutip oleh (NURJANNAH, 2001).

2.2 Tujuan dilakukan Komunikasi Terapeutik


Berikut ini ada beberapa tujuan dari komunikasi terapeutik, antara lain:
1) Realisasi diri, penerimaan, dan peningkatan penghormatan diri.
2) Kemampuan membina hubungan interpersonal yang tidak superficial dan
saling bergantung kepada orang lain (hubungan terapeutik).

3) Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta


mencapai tujuan yang realistis.
4) Rasa identitas personal yang jelas dan peningkatan integritas diri.
5) Mengidentifikasi masalah pasien yang paling penting tepat pada waktunya
(tujuan yang berpusat pada pasien).
6) Mengkaji persepsi pasien tentang masalah penyakit yang sedang diderita.
7) Mengenali kebutuhan mendasar klien.
8) Memandu klien dalam mengidentifikasi cara pencapaian solusi yang
memuaskan yang dapat diterima secara sosial.
9) Membantu pasien untuk menjelaskan dan mengurangi beban perasaan dan
pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada
bila pasien percaya pada hal-hal yang diperlukan.
10) Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang
efektif dan mempertahankan kekuatan egonya.
11) Mempengaruhi orang lain, Lingkungan fisik, dan dirinya sendiri dalam hal
peningkatan kesehatan.
12) Mempererat hubungan atau interaksi antara klien dengan terapis (tenaga
kesehatan) secara professional dan proporsional dalam rangka membantu
menyelesaikan masalah klien.

2.3 Karakteristik Pemberi Komunikasi Terapeutik


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Mampu membangun hubungan saling percaya dengan pasien.


Cukup ekspretif dan tidak membingungkan.
Bersikap positif
Empati (memahami, memberi solusi, dan tindakan).
Mampu melihat permasalahan dari kacamata pasien.
Sensitif terhadap perasaan pasien.
Menerima pasien apa adanya.
Tidak mudah terpengaruh oleh pengalaman masa lalu.

2.4 Fase-fase dalam Hubungan Terapeutik

Peplau telah mempelajari dan menulis tentang proses interpersonal dan fase
hubungan perawat-klien. Hasil kerjanya telah memberi suatu model bagi
8

keperawatan yang dapat digunakan untuk memahami dan mendokumentasikan


kemajuan interaksi interpersonal. Model Peplau (1952) terdiri dari tiga fase:
orientasi, kerja, dan resolusi atau terminasi. Dalam kehidupan nyata, fase-fase ini
tidak saling terpisah secara jelas, melainkan saling bertumpang-tindih dan saling
berhubungan.

a. Fase Orientasi
Fase orientasi ini dimulai ketika perawat dan klien bertemu dan berakhir
ketika klien mulai mengidentifikasi masalah untuk dikaji. Selama fase orientasi
ini, perawat menetapkan peran, tujuan pertemuan, dan parameter pertemuan
selanjutnya, mengidentifikasi masalah klien, serta mengklarifikasi harapan.
Sebelum bertemu dengan klien, perawat harus melakukan hal penting,
seperti membaca latar belakang klien, mengetahui obat-obatan yang klien
gunakan, mengumpulkan karya tulis yang diperlukan, dan mengatur tempat
yang tenang, tersendiri, serta nyaman. Perawat harus mempertimbangkan
kekuatan dan keterbatasan dalam menangani klien.
Selama fase orientasi, perawat mulai membangun rasa percaya dengan
klien. Tanggung jawab perawat ialah membentuk lingkungan terapeutik yang
membantu membangun rasa percaya dan pengertian. Informasi tentang perawat
perlu diberikan pada saat fase ini: nama, alasan berada di unit tersebut, dn
tingkat pendidikan.
Perawat perlu mendengarkan dengan cermat riwayat, persepsi, dan
kesalahpahaman klien. Perawat harus mengatasi rasa gugupnya, bersikap
hangat, menunjukkan keahlian, serta bersikap pengertiian. Apabila pada awal
komunikasi dimulai dengan awal yang positf, maka hubungan tersebut lebih
cenderung berhasil dan mencapai tujuan yang ditetapkan (Forchuk, 1994a, b).

b. Fase Kerja
Fase kerja hubungan perawat-klien biasanya dibagi menjadi dua subfase:
identifikasi

masalah,

yakni

ketika

klien

mengidentifikasi

isu

atau

kekhawatiran yang menyebabkan masalah, dan eksploitasi, yakni ketika


perawat

memandu

klien

mengkaji

perasaan

dan

responsnya

serta

mengembangkan keterampilan koping yang lebih baik dan citra diri yang lebih
positif,

yang

mendorong

perubahan

perilaku,

serta

mengembangkan

kemandirian.
Rasa percaya yang dibangun antara perawat dengan klien pada saat ini
memmungkinkann masalah dikaji dan diatasi dalam batas aman hubungan.
Klien harus merasa bahwa perawat tidak menolaknya atau tidak kecewa jika
klien menceritakan pengalaman, isu, perilaku, dan masalahnya. Kadangkadang

klien menggunakan cerita yang menyakitkan hati perawat atau

perilaku buruknya untuk menguji perawat. Perilaku menguji ini menantang


perawat untuk tetap fokus dan tidak keluar bereaksi serta tidak keluar dari alur.
Perawat harus ingat bahwa klien yang mengkaji dan mengeksplorasi situasi
masalah dan hubungan. Seorang perawat tidak boleh bersikap menghakimi dan
berhenti untuk memberi nasihat, melainkan mengizinkan klien untuk
menganalisis situasi.
Tugas khusus dalam fase kerja:
1) Mempertahankan hubungan.
2) Mengumpulkan lebih banyak data.
3) Mengeksplorasi persepsi realitas.
4) Mengembangkan mekanisme koping positif.
5) Meningkatkan konsep diri positif.
6) Mendorong verbalisasi perasaan.
7) Memfasilitasi perubahan perilaku.
8) Mengatasi resistens
9) Mengevaluasi kemajuan dan mendefinisikan kembali tujuan jika
tepat.
10) Memberi kesempatan kepada klien untuk mempraktikkan perilaku
baru.
11) Meningkatkan kemandirian.

c. Fase Resolusi atau Terminasi


Fase terminasi atau fase resolusi merupakan tahap akhir hubungan
perawat-klien. Fase

ini dimulai ketika masalah klien sudah selesai dan

berakhir ketika hubungan tersebut berakhir. Baik perawat maupun klien sering
memiliki perasaan terhadap berakhirnya hubungan. Klien mungkin merasa
teerminai sebagai kehilangan yang segera terjadi.
Banyak klien yang mencoba untuk menghindari terminasi dengan bersikap
marah, seolah-olah masalah belum selesai. Perawat harus dapat mengakui

10

perasaan marah klien dan meyakinkan klien bahwa hal tersebut merupakan
respons normal trehadap berakhirnya suatu hubungan.

2.5 Komponen Hubungan Terapeutik

Dalam hubungan terapeutik, terdapat dua komponen: komponen hubungan


dan komponen essensial.
Komponen hubungan:1. Rasa saling percaya

7. Kesadaran diri

2. Kesesuaian

8. Penempatan diri

3. Perhatian yang tulus

9. Keyakinan

4. Empati

10. Pola berpikir

5. Penerimaan

11. Orientasi waktu

6. Penghargaan positif

12. Pengungkapan perasaan

Komponen essensial: 1. Kerahasiaan


2. Keterbukaan diri
3. Privasi dan Menghormati batasan
4. Sentuhan
5. Mendengar aktif dan observasi aktif

2.6 Teknik Hubungan Terapeutik

11

Ada beberapa teknik komunikasi terapeutik yang dapat digunakan oleh


perawat untuk membantu klien atau pasien merasa rileks dan diterima, siap untuk
mempelajari masalah, dan berfokus pada isu utama. Namun banyak taknik
nonterapeutik yang harus dihindari oleh seorang perawat.
1) Menerima : menunjukkan bahwa perawat mendengar dan bersedia
mendengarkan apa yang ingin klien katakan.
2) Mengkaji hubungan : mengeksplorasi hubungan klien dengan individu lain.
Meminta klien untuk menjelaskan hubungan antara dirinya dengan orang lain,
merupakan salah satu cara yang bermanfaat untuk mengumpulkan informasi.
3) Pertanyaan terbuka : menggunakan pertanyaan terbuka yang memberi
kesempatan kepada klien untuk mengajukan topik.
4) Validasi konsensual : dua individu atau lebih mencapai kesepakatan tentang
interpretasi suatu peristiwa, perilaku, atau isu.
5) Mendorong melakukan perbandingan : membantu klien memahami
dengan melihat persamaan dan perbedaan. Buat daftar lengkap berisi
persamaan kemudian perbedaan.
6) Mendorong menjelaskan persepsi

meminta

klien

menjelaskan

pendapatnya tentang suatu peristiwa atau pengalaman.


7) Mendorong melakukan evaluasi : meminta klien untuk menilai kualitas
pengalamannya (mendiskusikan satu pengalaman pada satu waktu).
8) Memfokuskan : mengarahkan pada satu poin yang penting.
9) Menyusun rencana tindakan : merencanakan penyelesaian masalah secara
tepat yang dilakukan langkah demi langkah. Selalu menggunakan kata benda
daripada kata ganti untuk mengklarifikasi individu yang terlibat.
10) Arahan umum : mendorong adanya kontinuitas.
11) Memberi pengakuan : pengakuan yang objektif.
12) Humor : humor yang tidak menyakitkan dapat membantu mengurangi
ansietas ringan sampaii sedang, memberi perspektif tentang peristiwa
kehidupan, dan mengurangi kesenjangan sosial. Klien tidak boleh tersakiti
oleh humor ini.
13) Melakukan observasi : menyatakan apa yang perawat lihat dalam
penampilan dan perilaku klien.
14) Menawarkan diri : memperkenalkan diri dan mengidentifikasi hubungan.
15) Menempatkan kejadian sesuai waktu atau berurutan : mengkaji kerangka
waktu dan urutan suatu kejadian sepanjang waktu.
16) Menyajikan realitas : memberi penjelasan yang realistis tentang hal yang
klien lihat atau dengar.

12

17) Refleksi : mengarahkan tindakan, pikiran, dan perasaan klien kembali kepada
klien.
18) Pengulangan pernyataan : mengulang isu utama yang diungkapkan.
19) Meminta klarifikasi : menghilangkan kebingungan terhadap peristiwa atau
individu. Gunakan kata benda yang sesuai daripada kata ganti yang
digunakan klien. Upayakan mengajukan pertanyaan yang spesifik sampai
informasi benar-benar dimengerti.
20) Diam : tidak adanya komunikas verbal memberi klien waktu untuk
menuangkan tindakan, pikiran, atau perasaan ke dalam kata-kata dan
memperlambat kecepatan interaksi. Beri klien waktu untuk mengembangkan
pemahaman.

Diam

tampak

bermanfaat

ketika

klien

tampak

mempertimbangkan apakah ia akan memberi informasi tambahan. Klien


dapat memerlukan izin yang tidak diungkapkan ini untuk memikkirkan
apakah ia akan memberi informasi tersebut. Sebaliknya, ansietas klien dapat
meningkat dengan diam dan klien mungkin mengungkapkan masalahnya
untuk memecah kesunyin tersebut.
21) Menganjurkan kolaborasi : menawarkan kerja sama dengan klien.
22) Meringkas : mengorganisasi isu utama yang telah didiskusikan.
23) Identifikasi tema : mengidentifikasi isu atau masalah yang terjadi berulang
kali.
24) Menerjemahkann dalam bentuk perasaan : berupaya menyatakan perasaan
klien yang hanya disampaikan secara tidak langsung.
25) Menyatakan hal yang tersirat dalam ucapan klien : menyatakan apa yang
telah dianjurkan atau ditunjukan.
26) Menyatakan keraguan : menanyakan realitas persepsi klien dengan hatihati.

2.7 Respon Pasien setelah melakukan Hubungan Terapeutik

Setelah melakukan hubungan terapeutik, pasien merasa lebih nyaman, tidak


gelisah, dan bersikap optimis. Selain itu, pasien juga menjadi bersikap seperti
biasanya normal. Paien menjadi lebih rajin beribadah, berdoa, dan iapun berusah
untuk cepat sembuh dari penyakitnya tersebut.

13

Ia menjadi tidak pernah menolak untuk makan, menjadi mau untuk


meminum obat, dan iapun tidak pernah menolak apa yang dikatakan oleh dokter
maupun perawatnya. Ia lebih sadar, sabar, dan tidak terlalu sering marah-marah
dalam penyakitnya tersebut.
Pasien tersebut juga memiliki semangat yang tinggi demi mencapai semua
cita-citanya untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Demikian pula dengan
perasaan kedua orang tuanya menjadi sangat senang karena melihat perubahan
yang begitu berarti dalam proses penyembuhan penyakitnya.

BAB III

PENUTUP

14

3.1 Simpulan

Komunikasi terapeutik ini tidak terlalu menyembuhkan penyakit. Namun,


komunikasi ini hanya dapat mengurangi beban dari pasien sehingga proses
penyembuhan dapat terjadi dengan cepat dan tanpa hambatan dari dalam diri
pasien. Rasa dan sikap optimis dari diri pasien juga dapat mempercepat proses
penyembuhan karena adanya motivasi untuk sembuh secara internal, dan
didukung dengan motivasi eksternal dari komunikasi terapeutik tersebut.

3.2 Saran
Sebaiknya komunikasi yang bersifat terapi ini tidak hanya dilakukan sekali
namun secara rutin, terjadwal, misalnya satu atau dua kali dalam satu minggu.
Karena apabila dilakukan secara rutin sebagai perawat bisa melihat perubahan
yang terjadi pada pasien. Selain itu juga proses penyembuhan pasien dapat lebih
cepat dan adanya motivasi yang tinggi dari eksternal yang menyebabkan
meningkatnya pula motivasi internal.

DAFTAR PUSTAKA

Bhayangkara, N. (2012). Tinjauan Pustaka Komunikasi Terapeutik


Perawat. 1.

15

Morisson, P., & Burnard, P. (2008). Caring & Communicating Hubungan Interpersonal dalam Keperawatan. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran- EGC.
Redhian, I. P. (2011). Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Pasien
Anak dan Orangtua. 2-5; 8-9.
Roatib, A., Suhartini, & Supriyadi. (2007). Hubungan Antara
Karakteristik Perawat dengan Motivasi Perawat Pelaksana. 2-3.
Sri Puji Lestari, S. N. (2010). Komunikasi Terapeutik. 1-28.
Videbeck, & L, S. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran-EGC.

LAMPIRAN

16

Seorang anak berusia 15 tahun menderita penyakit Kanker stadium lanjut.


Ia sudah divonis oleh dokter bahwa hidupnya tinggal sebentar lagi. Saya
mengajaknya untuk berkomunikasi. Saya melakukan Komunikasi Terapeutik.
Saya

: Selamat siang de.

Klien

: Selamat siang juga ka.

Saya

: Boleh saya menemani ade di sini?

Klien

: Iya boleh ka, silahkan.

Saya

: Ade ini kenapa? Apa yang ade rasakan sekarang? Saya lihat
ade tidak seperti biasanya."

Klien

: Gini saya, saya punya keinginan yang belum saya capai, saya
belum bisa membahagiakan kedua orang tua saya, saya ingin
sekali membiayai kedua orang tua saya untuk pergi haji. Namun,
dengan kondisi saya seperti ini bagaimana mungkin saya bisa
melaksanakannya.

Saya

: Ade tidak boleh pesimis seperti itu, ade harus optimis bahwa
ade akan sembuh sehingga ade bisa memenuhi semua keinginan
ade tersebut.

Klien

: Tapi saya saya tidak mungkin bisa memenuhi semua itu!

Saya

: Ade tidak boleh seperti itu, tim medis juga memberikan yang
terbaik untuk ade. Ade harus sabar ya.

Klien

: Tapi ka, penyakit saya ini sudah stadium lanjut!

Saya

: Iya saya tau de, tapi ade harus bisa nerima semua ini. Kasihan
sama orang tua ade yang sudah berusaha keras agar ade ini bisa
cepat sembuh, bisa bersama-sama lagi dalam keadaan sehat.

Klien

: Iya saya akan menerima semua ini dengan ikhlas, apapun


yang terjadi saya ikhlas.

17

Saya

: Yasudah de, bagaimana perasaan ade sekarang? Apakah sudah


nyaman?

Klien

: iya saya sekarang sudah agak nyaman, terima kasih semuanya


ka.

Saya

: Iya sama-sama, ada satu pesan dari saya ade jangan lupa
berdoa untuk kesembuhan ade, karena semua yang terjadi
berdasarkan keputusan Allah Swt.

Klien

: Iya saya akan selalu berdoa, kaka juga jangan lupa doain ade
agar cepat sembuh ya ka.

Saya

: Iya de, ya sudah sekarang saya tinggal dulu ya de.

Klien

: Iya ka.

18