Anda di halaman 1dari 32

1.

Laporan Praktikum Desain Tekstil 1


2. Dekomposisi Kain
3.
4. Anyaman Polos. Anyaman Keper, Anyaman Satin, dan Anyaman
Cele
5.
6. Disusun oleh:
7.

Nama

: Gina Puspitasari

8.

NRP

: 13020039

9.

Grup/Jurusan

: K 2/Kimia Tekstil

10.

Dosen/Asisten

: Dra. Ae Kusna

11.

A.I Makki, S.ST.,M.T.

12.
Elika M.I.
13.

14.

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL


15.

BANDUNG
16.
17.

2014

18.

19.
20.I.Maksud dan Tujuan
21. Maksud dan tujuan dari praktikum ini adalah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Untuk mengetahui jenis-jenis anyaman.


Untuk mengetahui arah lusi dan pakan pada masing-masing anyaman.
Untuk mengetahui tetal lusi dan pakan pada masing-masing anyaman.
Untuk mengetahui mengkeret lusi dan pakan pada masing-masing anyaman.
Untuk mengetahui nomor benang lusi dan pakan pada masing-masing anyaman.
Untuk mengetahui berat kain.
Untuk mengetahui selisih berat hasil penimbangan dengan hasil perhitungan.

22.
23.II.TEORI DASAR
24. 2.1 Kain Tenun
25.

Kain tenun salah satu jenis tekstil yang tertua di dalam sejarah pakaian manusia.

Bahkan kata tekstil sendiri, berasal dari kata kerja bahasa Latin, texere, yang artinya
menenun. Kata tekstil menurut arti sekarang adalah berarti kain (fabric).
26.

Arti kata design yang digunakan dalam tekstil, mempunyai perbedaan sedikit

dengan arti umum yang biasa digunakan untuk istilah itu. Dalam tekstil, arti design
adalah sama dengan pattern atau pola atau figure, pola mana senantiasa diulangi baik ke
arah vertikal maupun ke arah horizontal didalam kain.
27.

Tekstil design dapat dibagi jadi 2 golongan yaitu :


28. structural design
29. surface design, untuk design ini ada juga yang menyebutnya applied
30. 2.2 Anyaman
31. Anyaman kain tenun adalah silangan antara benang lusi dan benang pakan
sehingga terbentuk kain tenun. sedangkan kain lusi adalah benang yang sejajar
dengan panjang kain tenun dan biasanya digambarkan ke arah vertikal, dan
benang pakan adalah benang yang sejajar dengan lebar kain digambarkan
horizontal. ada beberapa anyaman kain tenun mulai kain tenun polos, anyaman
keper (twill) dan anyaman satin (satine). Untuk membedakan jenis-jenis kain
tenun ini cukup mudah

32.

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10. 11. 12.

33. Kain Tenun Anyaman Polos


34.
1. kain tenun polos memiliki pola
11, untuk melihat kain tersebut

17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

tenun polos atau tidak tinggaal

13. 14. 15. 16.


melihat secara terawang

apakah kain tersebut berpola 11,


35. Kain Anyaman Keper

25.

26.

27.

28.

29.

30.

31.

32.

atau 22, dan seterusnya

36.
37. 2. kain Keper berpola 21, 32 dan seterusnya oleh karenanya terlihat struktur
benang miring kekiri jika dilihat kainnya, hal ini menimbulkan efek pada kain
lebih bertampak mengkilat
38.
39.
40. Kain Tenun Anyaman Satin
41. 3.Satin adalah
dengan dengan
serat filamen
khas permukaan
licin. Bagian
permukaan satin
dan tidak
biasanya dipakai

37. jenis kain yang ditenun


menggunakan teknik
42.
sehingga memiliki ciri

33.

34.

35.

36.

38.

39.

40.

41.

43.

44.

45.

46.

47.

48.

49.

50.

51.

52.

53.

54.

55.

56.

57. mengkilap,kain ini

yang mengkilap dan


dalam atau belakang
sebaliknya tidak licin
pada kain-kasin tipis,

karena serat yang digunakan adalah serat filamen sama halnya dengan keper
polanya
42.
43.
44.

45.
46.
47.

ANYAMAN POLOS
48.

Nama lain yang biasanya digunakan adalah anyaman blacu, plat, tabby, taffeta,

plain.
49.
-

Ciri-ciri dan karakteristik anyaman polos

Anyaman polos adalah anyaman yang paling sederhana, paling tua dan paling
50.

banyak dipakai.

Mempunyai raport yang paling kacil dari semua jenis anyaman.

Bekerjanya benang-benang lusi dan pakan paling sederhana, yaitu 1-naik, 151.

turun.

Ulangan raport; kearah horizontal (lebar kain) atau kearah pakan, diulangi
52.

sesudah 2 helai pakan. Kearah vertikal atau kearah lusi, diulangi sesudah 2 helai

lusi.
-

Jumlah silangan paling banyak diantara jenis anyaman yang lain.

Jika faktor-faktor lainnya sama, maka anyaman polos mengakibatkan kain


53.

menjadi; paling kuat daripada dengan anyaman lain dan letak benang lebih teguh

atau tak mudah berubah tempat.


-

Anyaman polos paling sering dikombinasikan dengan faktor-faktor kontruksi


54.
-

kain yang lain daripada jenis anyaman yang lainnya.

Tetal lusi dan pakan mempunyai pencaran (range) yang lebih besar daripada
55.

dalam anyaman lain(10 hl/ 200 hl/). Demikianpum perpencaran berat kain

adalah lebih besar daripada dalam anyaman lain (0,25 oz/yds2 52 oz/yds2).
-

Anyaman polos lebih sesuai untuk diberi rupa yang lain dengan jalan
56.

mengadakan ubahan-ubahan desain, baik struktur maupun surface desain

dibanding dengan anyaman lainnya.


-

Pada umumnya penutupan kainnya (fabric cover) berkisar pada 25%-75%

Dapat dipakai untuk kain yang jarang dan tipis dengan hasil yang memuaskan

57.
-

daripada pakai anyaman lain.

Anyaman polos untuk kain padat biasanya menggunakan benang pakan yang lebih besar
daripada benang lusinya.
58.
59.
60.

ANYAMAN KEPER
61.

Nama lain dari anyaman keper yang banyak digunakan yaitu; twill (USA), drill

(inggris), koper (jerman).


62.

Ciri-ciri dan karakteristik anyaman keper

Anyaman keper adalah anyaman dasar yang kedua

Pada permukaan kain terlihat garis miring atau rips miring tidak putus-putus.

Jika arah garis miring berjalan dari kanan bawah kekiri atas, disebut keper kiri.
63.

Sedangkan jika sebaliknya maka disebut keper kanan.

Garis miring yang dibentuk oleh benang lusi disebut keper efek lusi atau keper
64.

lusi. Sedangkan sebaliknya disebut efek pakan.

Garis miring membentuk sudut 45o terhadap garis horizontal.

Appearance kain pada pada permukaan atas dan bawah berlainan.

Jika raport terkecil dari anyaman keper = 3 helai lusi dan 3 helai pakan, disebut
65.

keper 3 gun.

Biasanya dibuat dalam kontruksi padat.

Dalam kondisi sama, kekuatan kain dengan anyaman polos lebih besar dari
66.

pada kekuatan kain dengan anyaman keper.

Pada umumnya tetal benang dibuat lebih tinggi daripada dalam anyaman
67.

polos.

Pengaruh arah twist benang sangat besar terhadap kenampakan garis miring.

Besarnya sudut garis miring dipengaruhi oleh perbandingan tetal lusi dan
68.

pakan.

Garis miring dengan sudut >45o, disebut keper curam (steep twill).
69.

70.

ANYAMAN SATIN
71.

Nama lain biasanya disebut sateen, istilah umum untuk kain katun dengan

anyaman satin 5 gun atau 8 gun disebut satin pakan.


72.

Satinet istilah yang dipakai untuk kain imitasi sutera misalnya dari bahan katun

yang dimerser. Satin istilah yang umum dipakai pada kain-kain satin yang dibuat dari sutera
filamen atau benang sintetis filamen. Satinettes, dibuat dari benang lusi kapas dan benang
pakan wol. Satijn de chine, dibuat dari benang sutera alam dengan tetal sedang, belakangan
dibuat juga dari benang rayon.
73.

Ciri-ciri dan karakteristik anyaman satin

Adalah anyaman dasar ketiga

Dalam 1 raport anyaman, banyak benang lusi = banyak pakan

Hanya menonjolkan salah satu efek baik itu lusi atau pakan pada permukaan
74.

kain

Pada anyaman satin dengan efek lusi disebut satin lusi dengan jumlah tetal lusi
75.

> dari pada tetal pakan. Dan berlaku sebaliknya untuk satin pakan

Suatu garis tidak begitu tampak menonjol seperti pada anyaman keper

Anyaman satin dapat digolongkan dalan 2 golongan yaitu satin teratur (paling
76.

sedikit 5 gun) dan satin tak teratur (paling sedikit 4 gun)

Anyaman sating kurang baik untuk kain dengan kontruksi terbuka dan jarang

Untuk kain padat anyaman satin lebih sesuai daripada keper

Kombinasi faktor-faktor kontruksi kain lebih sedikit digunakan dalam


77.

anyaman satin daripada dalam anyaman keper

Setiap benang lusi dalam satu raport hanya mempunyai satu titik silang.
78.
79.

ANYAMAN CELE KOTAK-KOTAK


80. Merupakan turunan dari anyaman polos tak langsung. Turunan anyaman polos

adalah anyaman polos yang diperpanjang efek lusinya atau pakannya, atau diperpanjang
kedua duanya. Untuk arah perpanjangannya benang ke arah vertikal disebut perpanjangan
efek lusi, sedangkan perpanjangan benang ke arah horizontal disebut perpanjangan efek
pakan.

81.

Turunan anyaman polos mencakup dua bagian, yaitu :

1. Turunan anyaman polos langsung


82. Yang termasuk turunan anyaman polos langsung adalah :
a.

Perpanjangan efek lusi

83.

Anyaman disebut rusak lusi, cannele lusi, atau rib lusi.

84.

Perpanjangan teratur. Perpanjangan efek lusi ini terjadi karena pada setiap mulut
lusi diluncurkan dua atau lebih benang pakan.

85.

Perpanjangan tidak teratur. Anyaman ini sama seperti yang telahdiuraikan diatas,
tetapi perpanjangan efek lusi tidak tetap besarnya.

86.

Rusak lusi (cannele lusi) diperkuat. Untuk menghindari tertumpuknya benang


benang pakan yang terletak bebas, maka cannele dapat diperkuat. Dikatakan
diperkuat karena rusak lusi yang terlalu lebar akan mengakibatkan letak benang
kurang teguh.

b.

Perpanjangan efek pakan

87.

Anyaman disebut rusak pakan, cannele pakan, inslag ribs, inslag cannele atau weft
ribs.

c.

Perpanjangan efek lusi dan efek pakan

88.

Anyaman jenis ini mempunyai beberapa nama yaitu anyaman natte, anyaman
panama, anyaman metting, anyaman polos rangkap, anyaman basket, anyaman
hopsack.

d.

Anyaman panama tidak teratur

89.

Jika kotak kotak pada anyaman panama tidak sama besar, maka anyaman
disebut anyaman tidak teratur. Anyaman ini diperoleh dengan perpanjangan efek lusi
dan efek pakan.

e.

Anyaman panama diperkuat

f.

Anyaman panama diperkuat dengan ubanan design.

90.

Anyaman panama diperkuat mempunyai tujuan :

Mengubah design

Untuk memperoleh susunan kain yang lebih teguh jika dibandingkan


91.

g.

dengan anyaman panama yang biasa.

Hopsack tiruan

92.
2. Turunan anyaman polos tidak langsung

93.

Yang termasuk turunan anyaman polos tisak langsung

Cannele selang seling

Cannele pakan selang seling

Ayaman cannele kotak kotak

Anyaman huckback

Kombinasi panama cannele

Anyaman biji jelai (barley corn weaves)

Anyaman berlubang (ajour)

Anyaman berbutir (crepe)


94.

III.
ALAT DAN BAHAN
95.
1. Kain Contoh dengan anyaman Polos, Keper, Satin dan Cele
2. Lup
3. Gunting
4. Penggaris
5. Timbangan
6. Jarum
96.
IV.
CARA KERJA
97.
I.
Anyaman pada kain polos, keper dan satin
1. Tentukan arah lusi dan arah pakan. Beri tanda panah ke arah lusi.
2. Hitung tetal Lusi dan tetal Pakan dengan menggunakan Lup.
3. Kain contoh ditimbang 10 x 10 cm lalu timbang.
4. Ambil 10 helai benang lusi dan 10 helai benang pakan, lalu timbang 10 helai
benang lusi dan pakan tersebut.
5. Hitung panjang 10 helai benang lusi dan 10 helai benang pakan tersebut.
6. Hitung mengkeret Lusi dan Pakan
PbPk
M=
x 100
98.
Pb
99.
7. Hitung nomor Lusi dan Pakan.

100.
Nm=

Panjang(mtr)
Berat (gram)

101.
102.

103.
104.

Ne1 = 0,59 x Nm
Tex=

1000
Nm

105.

Td=

9000
Nm

8. Hitung berat kain secara teoritis/m2


a. Dengan penimbangan
106. Berat kain/m2 = Berat contoh x 100 = B1
107.
b. Dengan perhitungan
1. Panjang seluruh benang lusi dalam 1 m2 kain dibagi dengan Nm lusi
108.
hl
100
Tetal
x 100 x
x 100
cm
100ML
109.
=B 2
Nm Lusi x 100

( )

2. Idem untuk benang pakan = B3


3. Berat kain/m2 = B2 + B3 = B4
110.
111.
112.
c. Hitung selisih berat hasil penimbangan (Bk) dengan hasil perhitungan (Bb)
113.
BbBk
x 100
114.
Bb

II.

9. Gambar anyaman dan rencana tenun


115.
Anyaman pada kain cele
1. Tentukan arah lusi dan pakan. Beri tanda panah ke arah lusi.
2. Hitung banyaknya benang/rapot dengan menggunakan lup.
3. Hitung tetal lusi dan pakan dengan menggunakan lup.
4. Hitung jumlah lusi/meter = 100 x tetal lusi/cm = hl/meter
116. Jumlah pakan/meter = idem
5. Hitung jumlah rapot lusi dan pakan.
117.
Jumlah benang Lusi/meter
= rapot
118.
Jumlah benang/rapot
119. Idem untuk pakan
120.
6. Hitung sisa benang lusi dan pakan.
121.
122. Sisa Benang Lusi = Jumlah benang lusi/meter ( benang lusi/rapot x
rapot utuh)
123.
Sisa benang pakan = idem
124.
7. Hitung jumlah masing-masing warna/meter lusi dan pakan.
8. Hitung berat kain 10 x 10 cm
9. Ambil 10 helai benang lusi dan 10 helai benang pakan lalu timbang. Hitung
panjang masing-masing helai benang lusi dan pakan tersebut.
10. Hitung mengkeret lusi dan pakan

125.
M=

126.

PbPk
x 100
Pb

11. Hitung nomor benang lusi dan pakan.

127.
Nm=

Panjang(mtr)
Berat (gram)

128.
129.

130.

Ne1 = 0,59 x Nm
Tex=

1000
Nm

131.
132.
Td = 9 x Tex
12. Hitung berat masing-masing warna arah lusi/m2.
hl

133.

100

Warna m x 100 x 100ML


Nm Lusi x 100

= gram

134. Idem untuk pakan


13. Hitung berat benang lusi seluruhnya.
135. A+B+C = X gram/m
136. Idem untuk pakan = Y gram/m
137.
14. Hitung berat kain.
138. X+Y=gram/m2
139.
15. Hitung selisih berat
140.

BbBk
x 100
Bb

16. Gambar anyaman dan rencana tenun.


141.
142.
V.

DATA PRAKTIKUM DAN PERHITUNGAN


143.

ANYAMAN PADA KAIN POLOS


144.
1. Tetal
145.

Tetal Lusi ( helai/inchi )


147.
102
149.
100

146.

Tetal Pakan ( helai /inchi)


148.
52
150.
52

151.
153.
155.
158.

101
101
100

152.
154.
156.
159.

52
52
52
260

157.
504

160.
161.
100,8
162.
52
x
163.
2. Berat kain contoh 10x10 cm
= 1,07 gram
3. Berat 10 helai lusi
= 15 mg = 0,015 gram
164.
Berat 10 helai pakan
= 22,5 mg = 0,0225 gram
165.
166.
167.
168.
4. Panjang benang diluruskan
169. Lusi
1. 10,2 cm
2. 10,2 cm
3. 10,3 cm
4. 10,3 cm
5. 10,2 cm
6. 10,3 cm
7. 10,3 cm
8. 10,3 cm
9. 10,3 cm
10. 10,3 cm
170. = 102,6 cm
171.
= 1,026 m
102,6
X =
10

172.

= 10,26

173. Pakan
1. 10,4 cm
2. 10,5 cm
3. 10,4 cm
4. 10,5 cm
5. 10,6 cm
6. 10,5 cm
7. 10,5 cm
8. 10,5 cm
9. 10,7 cm
10. 10,6 cm
174. = 105,2 cm
175.
= 1,052 m
105,2
X =
176.
= 10,52 cm
10

cm
177.
5. Mengkeret Benang
178.
179.

Lusi
M=

182.
183.

PbPk
x 100
Pb

184.

180.

10,2610
x 100
10,26

181.
186.
6. Penomoran Benang

= 2,53 %

185.

Pakan
M=

PbPk
x 100
Pb
10,5210
x 100
10,52

= 4,94 %

187.

Lusi
Panjang(mtr)
Nm=
Berat (gram)

188.

189.

1,026
0,015

190.
= 68,4
191.
192. Ne1 = 0,59 x Nm Lusi
193.
= 0,59 x 68,4
194.
= 40,35
195.
1000
Tex=
196.
Nm Lusi

197.
198.

201.
202.

204.

205.

9000
Td=
Nm Lusi

9000
68,4

= 131,57

213.
214.
216.

217.
218.

222.
8. Gramasi Perhitungan
223. 1. Lusi
hl
100
Tetal
x 100 x
x 100
cm
100ML
224.
=B 2
Nm Lusi x 2,54 x 100

( )

225.

100
x 100
1002,53
=B 2
68,4 x 2,54 x 100

226.
1. Pakan

1034164,358
=59,52=B 2
17373,6

1,052
0,0225

1000
46,75

= 21,39

215.

219.
7. Gramasi Penimbangan
220.
221.
Berat kain/m2 = 1,07 x 100 = 107 gram/m2

100,8 x 100 x

Pakan
Panjang(mtr)
Nm=
Berat (gram)

206.
= 46,75
207.
208. Ne1 = 0,59 x Nm Pakan
209.
= 0,59 x 46,75
210.
= 27,58
211.
1000
Tex=
212.
Nm Pakan

= 14,61

199.
200.

1000
68,4

203.

Td=

9000
Nm Pakan
9000
46,75
= 192,51

Tetal
227.

100
x 100
( cmhl ) x 100 x 100Mp
=B 3
Nm Pakan x 2,54 x 100

100
x 100
1004,94
=B 3
46,75 x 2,54 x 100

52 x 100 x
228.

229.

547022,9
=B 3
11874,5

230. 46,06 = B3
231.
2. Berat kain/m2 = B2 + B3 = 59,52 + 46,06 = 105,58 gram (B4)
232.
9. Selisih berat hasil penimbangan (Bk) dengan hasil perhitungan (Bb)
BbBk
x 100
233.
Bb
234.

107105,58
x 100
107

235. = 1,327 %
236.
237.
238.
239.
240.
241.
242.
243.
244.
245.
246.
10. Gambar anyaman ( 1 / 1 )
58.

59.

60.

247.
61.

62.

63.

64.

248.
65.

Keterangan:

66.

67.

68.

69.

70.

71.

72.

73.
251.

252.

11. Sample kain

249.

= benang lusi

250.

= benang pakan

253.
254.
255.
256.
257.
258.
259.
260.
261.
262.
ANYAMAN PADA KAIN KEPER
1. Tetal
263.

Tetal Lusi ( helai/inchi )


265.
68
267.
69
269.
68
271.
68
273.
67
276.
340

264.

Tetal Pakan ( helai /inchi)


266.
44
268.
44
270.
44
272.
44
274.
44
277.
220

275.

278.
279.
68
280.
x
281.
2. Berat kain contoh 10x10 cm = 3,90 gram
3. Berat 10 helai lusi
= 90 mg = 0,09gram
282. Berat 10 helai pakan
= 89 mg = 0,089 gram
283.
4. Panjang benang diluruskan
284.
285. Lusi
1. 11,3 cm
2. 11,5 cm
3. 11,4 cm
4. 11,3 cm
5. 11,3 cm
6. 11,4 cm
7. 11,3 cm
8. 11,3 cm
9. 11,3 cm

289. Pakan
1. 10,8 cm
2. 10,9 cm
3. 10,8 cm
4. 10,8 cm
5. 10,8 cm
6. 10,9 cm
7. 10,7 cm
8. 10,8 cm
9. 10,8 cm

44

10. 11,4 cm
286. = 113,5 cm
287.
= 1,135 m
113,5
X =
288.
= 11,35 cm
10

10. 10,9 cm
290. = 108,2 cm
291.
= 1,082 m
108,2
X =
292.
= 10,82 cm
10

293.
5. Mengkeret Benang
294.
295. Lusi
296.
297.
M=

302.

Pakan

303.
PbPk
x 100
Pb

304.
305.

298.
299.
11 , 3510

x 100
11 , 35
300.
301.

PbPk
x 100
Pb

M=

10,8210
x 100
10,82

306.
307.

= 7,57 %

= 11,89%

308.
6. Penomoran Benang
309.
310.

Lusi

311.

312.

328.

Panjang( mtr)
Nm=
Berat (gram)

1,135
0,09

313.
= 12,61
314.
315. Ne1 = 0,59 x Nm Lusi
316.
= 0,59 x 12,61
317.
= 7,43
318.
1000
Tex=
319.
Nm Lusi

320.
321.

322.

1000
12,61

= 79,3

Pakan

329.

Nm=

330.

Panjang(mtr)
Berat (gram)
1,082
0,089

331.
= 12,15
332.
333. Ne1 = 0,59 x Nm Pakan
334.
= 0,59 x 12,15
335.
= 7,16
336.
1000
Tex=
337.
Nm Pakan

338.
339.

340.

1000
12,15

=82,3

323.
324.

325.

Td=

9000
Nm Lusi

341.
342.

9000

12,61

343.

326.
327.

Td=

9000
Nm Pakan
9000
12,15

344.
= 713,7

345.
346.
347.
348.

349.
350.
351.
352.
353.
354.
355.
7. Gramasi Penimbangan
356.
357.
Berat kain/m2 = 3,90 x 100 = 390 gram/m2
358.
8. Gramasi Perhitungan
a. Lusi
hl
100
Tetal
x 100 x
x 100
cm
100ML
359.
=B 2
Nm Lusi x 2,54 x 100

( )

100
x 100
10011,89
=B2
12,61 x 2,54 x 100

68 x 100 x
360.

361.

771762,56
=240,9=B 2
3202,94

362.
b. Pakan
Tetal
363.

100
x 100
( cmhl ) x 100 x 100Mp
=B 3
Nm Pakan x 2,54 x 100

= 740,74

100
x 100
1007,57
=B 3
12,15 x 2,54 x 100

44 x 100 x
364.

365.

476035,9
=154,2=B 3
3086,1

366.
c. Berat kain/m2 = B2 + B3 = 240,9 + 154,2 = 395,1 gram (B4)
367.
9. Selisih berat hasil penimbangan (Bk) dengan hasil perhitungan (Bb)
BbBk
x 100
368.
Bb
369.

395,1390
x 100
395,1

370. = 1,29 %
371.
10. Anyaman
372.
373.374.375.376.377.378.379.
380.381.382.383.384.385.386.
387.388.389.390.391.392.393.
394.395.396.397.398.399.400.
401.402.403.404.405.406.407.
408.409.410.411.412.413.414.
415.416.417.418.419.420.421.
422.

11.
423.
424.
425.
426.
427.
428.
429.
430.
431.
432.

Sample kain

433.
434.

ANYAMAN PADA KAIN SATIN


435.
1. Tetal
436.

Tetal Lusi ( helai/inchi )


438.
268
440.
269
442.
268
444.
270
446.
269
449.
1344

437.

Tetal Pakan ( helai /inchi)


439.
95
441.
96
443.
96
445.
95
447.
96
450.
478

448.

451.
452.
268,8
453.
x
454.
2. Berat kain contoh 10x10 cm = 1,06 gram
3. Berat 10 helai lusi
= 8,5 mg = 0,0085 gram
455. Berat 10 helai pakan
= 14 mg = 0,014 gram
456.
4. Panjang benang diluruskan
457. Lusi
1) 10,3 cm
2) 10,2 cm
3) 10,2 cm
4) 10,3 cm
5) 10,3 cm
6) 10,3 cm
7) 10,4 cm
8) 10,2 cm
9) 10,4 cm
10) 10,4 cm
458. = 103 cm
459.
= 1,03 m
103
X =
460.
10 = 10,3 cm

95,6

461. Pakan
1. 10,3 cm
2. 10,4 cm
3. 10,4 cm
4. 10,2 cm
5. 10,2 cm
6. 10,3 cm
7. 10,4 cm
8. 10,3 cm
9. 10,4 cm
10. 10,2 cm
462. = 103,1 cm
463.
= 1,031 m
103,1
X =
464.
= 10,31 cm
10

465.
5. Mengkeret Benang
466.
467.

Lusi

468.
469.

473.
M=

PbPk
x 100
Pb

Pakan

474.
475.

M=

PbPk
x 100
Pb

470.
471.
472.

10,310
x 100
10,3

476.

10,3110
x 100
10,31

477.
= 2,91 %

478.

= 3,006 %

479.
6. Penomoran Benang
480.

Lusi

481.

482.

496.

Panjang(mtr)
Nm=
Berat (gram)

1,03
0,0085

483.
= 121,17
484.
485. Ne1 = 0,59 x Nm Lusi
486.
= 0,59 x 121,17
487.
= 71,49
488.
1000
Tex=
489.
Nm Lusi

490.
491.

492.
493.

494.
495.

1000
121,17

497.

Nm=

498.

506.
507.

9000
Td=
Nm Lusi
9000
121,17

= 74,27

509.

510.
511.

516.
8. Gramasi Perhitungan
a. Lusi
517.

100
x 100
( cmhl ) x 100 x 100ML
=B 2
Nm Lusi x 2,54 x 100

1,031
0,014

1000
73,64

= 13,57

508.

512.
513.
7. Gramasi Penimbangan
514.
515.
Berat kain/m2 = 1,06 x 100 = 106 gram/m2

Tetal

Panjang(mtr)
Berat (gram)

499.
= 73,64
500.
501. Ne1 = 0,59 x Nm Pakan
502.
= 0,59 x 73,64
503.
= 43,44
504.
1000
Tex=
505.
Nm Pakan

= 8,25

Pakan

Td=

9000
Nm Pakan
9000
73,64
= 122,21

100
x 100
1002,91
=B 2
121,17 x 2,54 x 100

268,8 x 100 x
518.

2768565,2
=89,95=B2
30777,2

519.
520.
b. Pakan

Tetal
521.

100
x 100
( cmhl ) x 100 x 100Mp
=B 3
Nm Pakan x 2,54 x 100

100
x 100
1003,006
=B 3
73,64 x 2,54 x 100

95,6 x 100 x
522.

985627,97
=52,69=B 3
18704,56

523.

524.
c. Berat kain/m2 = B2 + B3 = 89,95 + 52,69 = 142,64 gram (B4)
525.
9. Selisih berat hasil penimbangan (Bk) dengan hasil perhitungan (Bb)
BbBk
x 100
526.
Bb
142,64106
x 100
142,64

527.

528. = 25,68 % %
529.
530.
531.
532.
533.
10. Anyaman
534. 5 gun v 2
74.

75.

76.

77.

78.

79.

80.

81.

82.

83.

84.

85.

86.

87.

88.

89.

90.

91.

92.

93.

94.

95.

96.

97.

98.

541.

535.
536.
537.
538.
539.
540.

11. Sample Kain

542.
543.
544.
545.
546.
547.
548.
549.
550.
551.
552.

ANYAMAN KAIN CELE/KOTAK-KOTAK


553.
1. Tetal
554.
555.

Tetal Lusi ( helai/inchi )


557.
73
559.
72
561.
73
563.
72
565.
72
568.
363

556.

Tetal Pakan ( helai /inchi)


558.
55
560.
54
562.
54
564.
55
566.
53
569.
271

567.

570.
571.
72,6
572.
x
573.
2. Berat kain contoh 10x10 cm = 1,02 gram
3. Berat 10 helai lusi
= 19,5 mg = 0,0195 gram
574. Berat 10 helai pakan
= 20 mg = 0,020 gram
575.
4. Panjang benang diluruskan
576.
577.
578.
579.
580.
581.

Lusi
10,2 cm
10,3 cm
10,2 cm
10,2 cm
10,3 cm

590.
591.
592.
593.
594.
595.

Pakan
10,4 cm
10,3 cm
10,3 cm
10,4 cm
10,4 cm

54,2

582.
583.
584.
585.
586.
587.
588.
589.

10,3 cm
10,3 cm
10,4 cm
10,2 cm
10,3 cm
= 102,7 cm
= 1,027 m
102,7
X =
= 10,27 cm
10

596.
597.
598.
599.
600.
601.
602.
603.

10,4 cm
10,4 cm
10,3 cm
10,4 cm
10,3 cm
= 103,6 cm
= 1,036 m
103,6
X =
= 10,36 cm
10

612.

Pakan

604.
5. Mengkeret Benang
605.
606.

Lusi
M=

607.

PbPk
x 100
Pb

M=

613.

608.

PbPk
x 100
Pb

614.

609.
610.
611.

10,2710
x 100
10,27

615.

10,3610
x 100
1 0,36

616.
= 2,62 %

617.

= 3,47 %

618.
6. Penomoran Benang
619.

Lusi

635.

620.

Nm=

621.

Panjang(mtr)
Berat (gram)

636.

Nm=

1,027
0,0195

637.

622.
= 52,67
623.
624. Ne1 = 0,59 x Nm Lusi
625.
= 0,59 x 52,67
626.
= 31,07
627.
1000
Tex=
628.
Nm Lusi

629.
630.

631.

Pakan

1000
52,67

= 18,98

Panjang(mtr)
Berat (gram)
1,036
0,020

638.
= 51,8
639.
640. Ne1 = 0,59 x Nm Pakan
641.
= 0,59 x 51,8
642.
= 30,56
643.
1000
Tex=
644.
Nm Pakan

645.
646.

647.

1000
51,8

= 19,3

632.

633.
634.

Td=

9000
Nm Lusi

648.

9000
52,67

649.

= 170,87

Td=

650.

651.
652.
7. Gramasi Penimbangan
653.
654.
Berat kain/m2 = 1,02 x 100 = 102 gram/m2
655.
8. Gramasi Perhitungan
d. Lusi
Tetal
656.

100
x 100
( cmhl ) x 100 x 100ML
=B 2
Nm Lusi x 2,54 x 100

100
x 100
1002,62
=B 2
52,67 x 2,54 x 100

72,6 x 100 x
657.

658.

745532,96
=55,72=B 2
13378,18

659.
e. Pakan
Tetal
660.

100
x 100
( cmhl ) x 100 x 100Mp
=B 3
Nm Pakan x 2,54 x 100

100
x 100
1003,47
=B 3
51,8 x 2,54 x 100

54,2 x 100 x
661.

662.

561483,47
=42,67=B 3
13157,2

663.
f. Berat kain/m2 = B2 + B3 = 55,72 + 42,67 = 98,39 gram (B4)
664.
9. Selisih berat hasil penimbangan dengan hasil perhitungan
BbBk
x 100
665.
Bb
666.
667.

10298,39
x 100
102
= 3,61 %

9000
Nm Pakan
9000
51,8
= 173,74

668.
669.
670.
671.
10. Anyaman
672.
99.

100.

101.

102.

103.

104.

105.

106.

107.

108.

109.

110.

111.

112.

113.

114.

115.

116.

117.

118.

119.

120.

679.
11. Sample Kain

680.
681.
682.
683.
684.
685.
686.
687.
688.
689.

690.
691.
692.
693.
694.
695.
696.

121.

122.

123.

673.
674.
675.
676.
677.
678.

697.
P
utih
126. K
unin
g
128. B
701.iru P
130. K
utih
unin
703. C
gokla
132. P
t
705.utihP
134. K
utih
unin
707. C
gokla
136. P
t
709.utihP
138. k
utih
unin
711. H
gijau
140. B
713. P
iru
utih
142. K
715. C
unin
okla
gt
144. P
717. P
utih
utih
146. H
719. h
ijau
ijau
tua
721.
148. P
utih
150. K
unin
g
152. P
utih
154. K
unin
g
156. H
ijau
tua
158.
124.

125.

2 hl
127.

1. Menentukan rapot corak warna


698. Lusi
699.

2 hl
129.

700.

Pakan

4702.
hl
131.
2 hl
4704.
hl
6 hl
133.

2706.
hl
135.
2 hl
2708.
hl
2 hl
137.

2710.
hl
139.
2 hl
4712.
hl
10 hl
141.
714.
46 hl
hl
143.
716.
24 hl
hl
145.

718.
26 hl
hl
147.
720.
12
10 hl
hl
722.
149.
50
7 hlhe
151.
la
3 hl
i
153.

1 hl
155.

1 hl
157.

12 hl
159.

66
he
la
i

723.
724.

Susunan corak lusi

725.

Susunan corak pakan = 50 helai / raport

2. Jumlah helai benang per meter

= 66 helai / raport

726.

Jumlah benang lusi per meter

727.

72,6
0,0254

728.

= 2858 helai/m
Jumlah benang pakan per meter =

729.

54,2
0,0254

= 2134 helai/m

730.
3. Jumlah raport benang per meter
731.

Jumlah raport benang lusi per meter

732.

733.

Jumlah raport benang pakan per meter

jumlah helai benang lusi /m


jumlah helai 1 rapot
2858
66

= 43,3

2134
50

= 42,68

jumlah helai benang pakan/ m


jumlah helai pakan 1 rapot

734.

4. Sisa benang
Benang lusi
= 2858 - (66 x 43)
Benang pakan = 2134 - (50 x 42)

= 2858 2838 = 20 helai


= 2134 2100 = 34 helai

735.
5.

Jumlah masing-masing warna/m


Benang lusi
: Putih = (16 x 43 )
736.
helai

+ 6 helai

= 694 helai

Kuning= (18 x 43) + 10helai

784

737.

Biru = (8 x 43) + 4 helai

348

Hijau tua = ( 24 x 43 )

= 1032

helai
738.
Benang pakan

: Putih = (18 x 42)

739.

+ 12 helai

= 768 helai

Coklat= (12x 42) + 12 helai

516

helai
740.

Hijau = (20x 42) + 10

helai

850helai
741.
742.
6. Berat
Berat masing-masing warna arah lusi/m2
hl

743.

100

Warna m x 100 x 100ML


Nm Lusi x 100

= gram

100
1002,54 71208,7
=
52,67 x 100
5267

694 x 100 x
744.

Putih :

= 13,51 gram (A)

100
1002,54 80443,25877
=
52,67 x 100
5267

784 x 100 x
745.

Kuning:

= 15,27 gram (B)

100
1002,54 35706,9
=
567 = 6,77 gram (C)
52,67 x 100
5267

348 x 100 x
746.

Biru:

100
1002,54 105889,5
=
52,67 x 100
5267

1032 x 100 x
747.

748.
749.

Hijau tua:

= 19,98 gram (D)

750.
751.

Berat masing-masing warna arah pakan/m2


hl

752.

100

Warna m x 100 x 100Mp


Nm Pakan x 100

= gram

100
1003,47 10400 x 1,03
=
51,8 x 100
2854

768 x 100 x
753.

Putih :

100
1003, 47 80600 x 1,03
=
51,8 x 100
2854

= 3,75 gram (A)

516 x 100 x
754.

Coklat :

100
1003, 47 30000 x 1,03
=
51,8 x 100
2854

= 29,08 gram (B)

850 x 100 x
755.

Hijau :

= 10,82 gram (C)

756.
757.
758.
759.
VI.

DISKUSI
760.

761.

Dari hasil percobaan, terdapat beberapa hal yang dapat didiskusikan, yaitu:

1. Praktikan harus teliti saat menghitung tetal lusi dan tetal pakan pada kain.
2. Pada saat pemotongan dan penirasan harus hati-hati agar mendapatkan kain dengan
ukuran tepat 10 x 10 cm.
3. Menghitung panjang benangpun harus teliti agar mendapatkan hasil yang akurat pada
perhitungan.
4. Dalam menghitung tetal lusi dan tetal pakan harus teliti dan jangan sampai tertukar
antara lusi dan pakannya.
5. Pada anyaman cele yang mempunyai warna beragam, sangat dibutuhkan ketelitian
dalam membedakan warna baik itu warna muda maupun tua agar tidak didapatkan
perhitungan yang tidak tepat.
6. Dalam menentukan arah lusi kita bisa melakukannya dengan beberapa cara yang
salah satunya dengan melihat arah sisiran kain dan pinggir kain, atau dengan meraba

permukaan kain yang terhalus, bisa juga dengan melihat sudut kemiringan anyaman
yang < 450, atau jika bahan itu merupakan kain cele maka kita melihatnya dari garis
kotak yang terpanjang.
7. Selisih berat antara perhitungan dengan penimbangan yang terlalu besar, maka hal itu
berarti ada beberapa hal yang kurang tepat. Semisalnya dalam penimbangan yang
kurang teliti, perhitungan tetal yang tidak tepat, dalam memotong bahan ukuran
10x10 cm yang tidak tepat, dan ketika menghitung panjang benang setelah pelurusan
yang kurang teliti, sehingga akibatnya dalam perhitungan selisih berat akan
menghasilkan selisih yang cukup besar.
8. Untuk mempermudah menggambar anyaman satin maka kita harus mengetahui
dahulu angka loncatnya, sehingga setelah diketahui angka loncatnya maka
menggambar anyaman satin dapat dengan mudah dilakukan. Sedangkan untuk
menggambar anyaman keper maka untuk mempermudah menggambarnya kita
terlebih dahulu harus mengetahui arah kemiringannya, setelah arah kemiringan
diketahui maka kita bisa dengan mudah membentuk anyamannya.
762.
763.
764.
VII.

KESIMPULAN
765.

766.

Dari hasil yang telah didapat, maka dapat diambil sebuah kesimpulan atas data

pengamatan tentang dekomposisi kain, antara anyaman polos, anyaman keper, anyaman
satin, maupun anyaman cele.
767.

1. Anyaman Polos

768.

Massa kain 10x10 cm

= 1,07 gram

769.

Rata-rata tetal:

lusi
770.

pakan = 52 helai/inch

771.

Mengkeret:

lusi

772.

Nomor benang lusi:

773.

Nomor benang pakan:

= 100,8 helai/inch

= 2,53%

dan

pakan = 4,94%

Nm = 68,4

dan

Ne1 = 40,35

Nm = 46,75

dan

Ne1 = 27,58

774.

Cara penimbangan

775.

Cara perhitungan

776.

Selisih Berat

= 107 gram
= 105,58 gram
= 1,327%

777.
778.

2. Anyaman Keper

779.

Massa kain 10x10 cm

= 3,90 gram

780.

Rata-rata tetal:

lusi
781.

pakan = 44 helai/inch

782.

Mengkeret:

lusi

783.

Nomor benang lusi:

784.

Nomor benang pakan:

785.

Cara penimbangan

786.

Cara perhitungan

787.

Selisih Berat

= 68 helai/inch

= 11,89%

dan

pakan = 7,57%

Nm = 12,61

dan

Ne1 = 7,43

Nm = 12,15

dan

Ne1 = 7,16

= 390 gram
= 395,1 gram
= 1,29 %

788.
789.

3. Anyaman Satin

790.

Massa kain 10x10 cm

= 1,06 gram

791.

Rata-rata tetal:

lusi
792.

pakan = 95,6 helai/inch

793.

Mengkeret:

lusi

794.

Nomor benang lusi:

795.
796.

Nomor benang pakan:


Cara penimbangan

= 268,8 helai/inch

= 2,91%

dan

pakan = 3,006%

Nm = 121,17

dan

Ne1 = 71,49

Nm = 73,64

dan

Ne1 = 43,44

= 106 gram

797.

Cara perhitungan

798.

Selisih Berat

= 142,64 gram
= 25,68%

799.
800.

4. Anyaman Cele

801.

Massa kain 10x10 cm

= 1,02 gram

802.

Susunan corak:

lusi

803.

= 66 helai/raport

Pakan = 50 helai/raport

804.

Rata-rata tetal:

lusi
805.

pakan = 54,2 helai/inch

806.

Mengkeret:

lusi

807.

Nomor benang lusi:

808.

Nomor benang pakan:

809.

Cara penimbangan

810.

Cara perhitungan

811.

Selisih Berat

812.
813.
814.
815.

= 72,6 helai/inch

= 2,62%

dan

pakan = 3,47%

Nm = 52,67

dan

Ne1 = 31,07

Nm = 51,8

dan

Ne1 = 30,56

= 102 gram
= 98,39 gram
= 3,61%

816.

DAFTAR PUSTAKA

817.
818.
http://nadyalestari.blogspot.com/2011/04/anyaman-tekstil.html . Diunduh
tanggal 28 Desember 2014.
819.
820.
821. http://fiktea-taufik.blogspot.com/2011/07/jenis-anyaman-pada-kaintenun.html. Diunduh tanggal 28 Desember 2014 .
822.
823.

Anda mungkin juga menyukai